Rabu, 23 Mei 2012

cerpenn

UCUN
By : Mang Gugun
    Detak jam terus menggelincir dari kiri ke kanan. Sang surya punpelanpelan naik satu tangga lebih tinggi di balik genting dan eternit. Siswa SMA N 1 Juwana sedang sibuk sendiri menghadapi kertas yang tertuliskan angka dan huruf yang berada di atas meja jati kokoh.
    Sunyi pun berlarut – larut menjadi sebuah suasana yang mencekam. Penuh rasa ketakutan, kegelisahan, dan prustasi, ketika satu soal saja tak berhasil ditaklukkan, apalagi jika teman soal yang lain pun tak mau mengalah untuk ditaklukkan.
    Terlihat hanya tangan – tangan yang sibuk ke sana ke mari. Sebentar – sebentar menari narikan pensilya, sebentar – sebentar dijatuhkan ke bawah dan tanpa disadari HP sudah ada digenggaman. Wajah cukup berkeringat, HP pun gemetaran seiring dengan tubuh yang entah mengapa juga gemetaran. Soal itu mungkin lebih serem dari ketika bertemu dengan setan,hantu dedemit, kuntilanak,ataupun makhluk halus yang lain.
    Ketika kepala mulai berputar dri peredarannya, pengawaspun menjadi sasaran utama tajamnya mata. Lirikan tajam pun diarahkan padaku,sambil berbisik sangat pelan,lebih pelan dari bunyi kentut yang ditahan
    “ Ssst... heh.. udah apa belum? Nomor 12? Cepat! ” seperti menodong seorang wanita lemah yang berjalan di gang yang sepi membawa uang yang sangat banyak. Ia sapa lagi dengan nada sedikit keras dari sebelumnya.
    “ Ssst... kamu dengar gak sih? Nomor 12? “ aku masih saja terdiam sembari menyusun angka – angka yang sedari tadi membuat kepalaku mumet.
    “ Whoy...! “ akhirnya ia berteriak kepadaku setalah beberapa kali tak ku hiraukan,  dan sontak sunyi pun pecah seperti gelas kaca tipis yang diisi air panas. Pengawas pun mulai menumjukkan taringnya. Mencoba meredam suara – suara tak penting yang akan mengganggu tidurnya.
    Sunyi kembali hadir dalam ruangan berukuran 100 m^2 ini, hanya desisan kipas angin tua yang terdenar sedari jam pertama dimulai prosesi UCUN. Angin semilir dari sebelah sawah pun pelan – pelan mengetuk pintu dan memasuki ruangan. Sejenak menggerakkan kertas – kertas soal yang sulit ditakklikkan.
    Dibalik kaca transparan ruang kelas kulihat sejenak hijaunya taman depan ruangan, mengalihkan sejenak pandangan pada dedaunan yang menhijau, berniat menyagarkan kembali otak kecil.
    Komat kamit dari salah satu seorang peserta UCUN di ruanganku tak luput menjadi perhatianku, “ Membaca soal, berdoa, atau membaca mantra? ” dalam benakku tertawa kecil di pojok
    Sejam berlalu baru satu soal yang berhasil aku jatuhkan K.O, sungguh ironi perjuanganku berangkat pagi pulang dini hari,seperti tiada guna, sempat berfikir dari lamunanku, sementara yang lain sibuk mengawasi pengawas yang kadang ketat kadang juga tidur.
    Tak terasa bel kurang lima menit membisingkan telinga danhati menjadi semakin resah. Lima puluh soal baru kuisi delapan soal, apa yang terjadi.
    Tanpa kusadari satu kelas berteriak “ JURUSSS!!!”, membangunkan pengawas yang kelihatan maupun yang tidak.

Cerita cinta UCUN. 27 maret 2012
Di ruangan eksekusi penuh
misteri SMA Negeri 1 Juwana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar