Kujaga Kesuciannya
Oleh : Mang Gugun
Saat semuanya mengejar matahari yang kian mendekati bumi, aku terdiam sembari duduk disini, melihat semuanya berlarian. Aku masih terlalu kecil utuk ikut rombongan mereka. Aku selalu membayangkan saat-saat aku mampu berdiri dan mengikuti mereka, dan aku terpacu untuk belajar dan mempelajari arti yang sebenarnya yang masih kucari dalam hidupku ini.
Aku hidup diantara keluargaku yang religius. Kkekku, ayahku, ibuku, dan kakak perempuanku selalu mengajariku belajar ilmu agama, agama Islam, itulah kepercayaan yang kami anut sejak lahir. Agama Islam bagi kami bukan hanya kewajiban yang untuk kami anut, tapi menjadi kebutuhan dasar hidup bagi kami. Saat aku belajar puasa, aku punya pengalaman yang indah dan sedikit konyol. Saat usiaku sembilan tahun aku berpuasa seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku belajar puasa sejak umur empat tahun. Saat itu aku ketahuan kakakku minum es di dalam kamar saat kakakku berniat membangunkanku untuk salat jama’ah dzuhur.
“Kreek…” suara desah pintu kamarku….Lalu,
“Eh, Gugun. Kamu ketahuan nggak puasa. Ayo…!!!”
“Jangan diteruskan. Taruh minuman kamu. Tak bilangin ayah lhooo!!!”
Aku terkejut sekalidan ketakutan,”Ampun Kak,. Jangan bilangin ke siapa-siapa ya?”
“Aku janji akan melakukan apapun yang mbak perintahkan.”
“Yang bener?” sahutnya.
“Ya, nanti setelah salat dzuhur kamu datang ke rumah kakak, lalu bereskan kamar kakak, cuci piring di dapur dan setelah itu langsung tidur.”
Aduuuuhhhh.
Aku dikerjain kakakku habis-habisan. Saat itu juga aku kapok untuk membatalkan puasaku. Selain itu, kakekku juga pernah bercerita kepadaku
“Gun, biarpun semua orang didunia initidak bisa melihat perbuatanmu, tapi ada yang melihatmu di atas sana, yaitu Tuhanmu, Allah SWT, jadi kamu harus adil dan jujur meski tidak ada orang yang melihatmu. Kamu kan sudah belajar Al Qur’an, kamu tahukan? Allah itu Maha apa……?”
“Allah memiliki 99 Asmaul Husna kek, salah satunya Maha Melihat lagi Maha Mendengar.”
“Nah, cucuku pintar sekarang, semoga Allah selalu melindungimu nak. Amiiinnnn.”
Sejak itu selalu berhati-hati untuk bertindak, tapi karena aku masih anak kecil, aku tetap banyak melakukan kesalahan-kesalahan.
Aku juga punya pengalaman saat aku salat tarawih saat bulan puasa karena siangnya aku sibuk bermain bersama teman-teman dari sehabis subuh sampai siang hari. Aku sangat capek sekali. Aku mau tidur siang itu, tapi aku disuruh membantu kakakku untuk beres-beres rumah.
“Gun, dari mana? Dari tadi pagi kakak lihat kamu tidak ada di rumah? Jangan-jangan…??”
“Jangan-jangan apa, Kak?”
“Kamu nggak puasa, ya?”
“ Yeee…. Aku masih puasa.” jawabku.
“Kok masih seger. Biasanya jam segini kamu sudah ada di kamar dan tidur.”
“Ya ini mau tidur, Kak. Aku capek. Tadi aku jalan-jalan sama dengan Nailun dn temen-temannya.”
“Hayo… siapa Nailun?” tanya kakakku curiga.
“Cuma temanku kok, Kak. Udah ah aku mau tidur.”
“Eits… jangan tidur dulu. Kamu tadi malam janji dengan Bapak dan Ibu untuk membantu membersihkan rumah kan…!”
“Aduh…. Kali ini saja ya, Kak. Aku dah ngantuk dan capek nih……!”
“Owww, ya udah nanti tak bilangin bapak supaya tidak usah membelikan baju barumu dulu.”
“Ya ya ahh.. trus aku harus ngapain?” jawabku kesal.
“Kamu bersihin jendela dan nyapu. Kalau udah selesai, bilang sama kakak. Nanti kakak yang ngepel. Oke?”
Huft.. apes banget aku. Dikerjain lagi kakakku.
Setelah jam 4 sore, selesai salat Asar, aku mandi. Karena kecapekan, aku langsung tidur. Dan aku bangun saat buka, ALHAMDULILLAH. Setelah salat Maghrib aku masih merasa capek. Aku istirahat sebentar. Setelah itu, aku pergi ke masjid untuk salat Isya’ dan tarawih. Aku ketiduran saat salat tarawih sampai selesai. Hehehe… Bapakku membiarkanku tidur, begitu juga ibu dan kakakku.
Saat lebaran tiba aku senang sekali. Malam harinya aku mengikuti takbir keliling desa dengan membawa mainan besar dari kertas Koran yang kami buat sebelum lebaran. Aku membawa sebuah kembang api besar yang sangat indahyang dibelikan oleh bapaknya Nailun. Aku, Nailun, dan teman-teman yang keliling desa. Setelah acara selesai, Kepala desa mengumumkan pemenang lomba arak-arakan keliling desa. Sayang, kami tidak mendapat juaranya. Setelah selesai, kami semua kembali ke masjid dengan rasa lelah, tapi menyenangkan. Aku dan Nailun menyalakan kembag api sepanjang perjalanan.
“Wah, seru banget…” ujar aku dan Nailun bersamaan.
Setelah sampai di masjid, kami mengumandangkan takbir Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laila hailallah huallahu Akbar. Allahu Akbar walillahilham sampai larut malam. Karena aku masih kecil dan pengeras suara (mic) di masjid Cuma ada tiga, aku rebutan dengan Taufiq. Heheheh….
Pagi kami semua melaksanakan salat Idul Fitri dengan mata memerah dan rasa ngantuk karena semalam takbiran bersama Nailun dan teman-teman yang lain. Setelah kami selesai salat Idul Fitri, rombongan kami keliling desa untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan.
“Huuuuffffttttt….”
Kami semua kekenyangan karena setiap datang ke rumah tetangga, kami selaul disuguhi makan dan minum. Dan yang tak lupa adalah angpao. Hehehe…Setelah seharian kami berkeliling, kami semua beristirahat di rumah Nailun sambil nonton TV dan tiduran di depan TV. Senang sekali rasanya hari itu.
Itulah salah satu cerita masa kecilku bersama Nailun. Indah yach… Saat aku beranjak remaja, aku harus menjalankan ibadah sunah, yaitu dikhitan.
“Aduh.”
Aku sempat tak mau dikhitan, tapi aku malu juga. Karena semua teman-temanku yang lain sudah pada dikhitan. Rasanya sedikit sakit. Hampir satu minggu aku tak bisa berlarian bermain bersama Nailun dan teman-teman yang lain.
Waktu benar-benar tak terasa. Banyak hal yang telah Alaah berikan kepadaku. Kesempatan belajar hidup ini begitu indah. Tak terasa aku sudah kelas VIII SMP. Bersama Nailun, setelah salat Subuh aku selalu belajar bersama. Sebelum kami berangkat sekolah, kebetulan jarak rumahku dengan rumah Nailun tak begitu jauh. Hanya sekitar 30 meter. Kami selalu berangkat sekolah bersama. Kalau bulan Puasa aku dan Nailun naik bus. Jarak rumah kami dengan sekolah cukup jauh, kurang lebih 7 km. Saat istirahat, kami biasanya pergi ke perpustakaan sekolah bersama. Sayangnya, sewaktu SMP aku tidak pernah sekelas dengan Nailun. Tapi, aku seneng. Setiap ada ulangan di kelasnya dan di kelasku belum ada ulangan aku selalu diberi tahu soalnya dan diajari. Begitupun sebaliknya. Ya itulah gunanya sehabat. Tapi, bukan berguna dalam itu juga. Berguna dalam kehidupan ini lah.
Saat kami SMA, kebetuln kami masih satu sekolahan. Tapi, seperti di SMP juga, kami tidak pernah sekelas. Aku merasakan jarak persahabatan kita semakin merenggang. Ya, aku tahu penyebabnya. Nailun sekarang sudah menjadi gadis remaja yang cantik. Pokoknya berbeda dengan yang dulu. Huhuhuhuhhu….
“Nai, kamu sekarang tambah cantik saja. Apalagi dengan jilbabmu itu, aku jadi terpesona. Hehehehe…”
”Ah, kamu, Gun. Darimana kamu? Sekarang sudah pandai merayu nih…?”
“Hehehe… Nggak, Nai. Beneran!!!!”
“Ya, terima kasih, Gun. Alhamdulillah Allah memberiku rupa seperti ini. Ya… Aku syukuri. Kamu juga. Ayo bilang alhamdulillah. Hehehe…
“Aku pernah bilang itu saat aku belajar di rumah, Nai. Benar-benar aku bingung banget. Aku meminta petunjuk kepada Allah SWT.”
“Ya Allah, apa yang terjadi dalam hidupku ini. Rasa apa yang Kau beri ini, Ya Allah?” kataku dalam hati.
Aku tahu aku suka Nailun, tapi aku belum mau mengungkapkan isi hatiku padanya. Aku takut bila sudah pacaran nanti aku bisa jadi seperti teman-temanku yang lain. Tak punya aturan !!!!!
Aku menceritakan ini ke kakakku. Ia mengajariku banyak hal tentang pacaran dimana aku tak boleh lama memandangnya, tak boleh memegang tangannya, tak boleh menyentuh. Aku hanya boleh merasakan hal yang indah saat aku di dekatnya. Kakakku juga mengajari tentang adat berpacaran secara Isami. Hehehe… Aneh-aneh saja. Tapi, kata kakekku, pacaran itu setelah menikah. Aduuuuhhhh…. Aku jadi bingung.
Pada waktu masuk sekolah pertama kali setelah liburan, aku bernia menembak Nailun. Tapi, aku merasa deg-degan karena aku takut cintaku ditoak oleh Nailun. Dengan perasaan takut dan ragu, aku melangahkan kakiku ke kelasnya dan mengajaknya ke suatu tempat.
“Gun, ada sih kamu mengajakku ke sini?” Tanya Nailun
“Nai, ak mencintaimu. Rasa ini diberikan Allah kepadaku untukmu. Maukah kamu menjadikan aku pacarmu?” kataku dengan perasaan deg-degan.
Nailun terdiam sejenak. Mungkin ia sedang memikirkan sesuatu.
“Nai….?”
Kemudian ia bergumam sembari tersenyum dan berkata,”H’m..”
“Alhamdulillah Ya Allah. Akhirnya aku diterima, Nai!!!”
Di kelas 2 SMA aku dan Nailun resmi berpacaran. Aku dan dia selalu bersama. Kujaga dia. Setelah selesai pembelajaran kami salat Dzuhur di mushola sekolah bersama. Gaya berpacaran kami berbeda dengan teman-teman seusia kami. Aku tak pernah menyentuhnya sedikitpun sebelum kami menikah nanti. Amiiiinnnn…. Aku menerapkan apa yang diajarkan kakakku dan aku selalu ingat Allah agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kami inginkan. Rasanya indah sekali jatuh cintaitu. Pengalaman yang takkan pernah aku lupakan. Semoga hubunganku dan Nailun selalu indah. Dan semoga takdir Allah pada kami akan bahagia. Amiiiiinnnnn… Aku cinta Allah SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar