Piano rumah tua
Oleh : mang Gugun
Ketika malam datang hampir semua orang tidak mungkin berani lewat di depan rumah tua itu, jalan depan rumah yang begitu gelap karena lampu pinggir jalan ynag entah mengapa kadang hidup kadang mati. Rumah bercat putih yang warnanya sudah kusam dan berlumut itu memang sangat megah di jalan Bangsal, tapi rumah itu sudah lama tidak berpenghuni sekitar empat tahun yang lalu. Seluruh keluaraga beserta pembantu rumah itu di rampok dan dibunuh secara tragis.
Desas-desus yang beredar dari tetangga baruku, setiap hari Rabu pasti arwah mereka bergentayangan di sekitar rumah. Menurut kesaksian Bang Tigor tukang sate di komplek itu juga pernah bertemu dengan yang punya rumah pada suatu malam. Saat berkeliling di komplek 13 itu ada anak kecil berusia sekitar 13 tahun memesan sate 50 tusuk untuk dimakan di tempat dan 100 tusuk untuk keluarganya. Baru saja Bang Tigor berbalik badan, namun anak itu memesan kembali 50 tusuk sate, karena saking senangnya ia pun melayani tanpa rasa curiga. Setelah kembali menyajikan sate baru Bang Tigor menyadari ada hal aneh yang sedang terjadi, Bang Tigor pun berbalik badan, baru 3 kali melangkah anak itu memesan kembali 50 tusuk sate untuk kedua kalinya. Kini sate Bang Tigor pun habis diborong anak tersebut, diakhir gigitannya anak tersebut menyerahkan 5 lembar uang 50 ribuan dan masuk ke rumah tersebut.
Dengan sangat heran ia membawa pulang gerobak satenya beserta uang Rp. 250.000,00. sampai saat ini uang tersebut masih di simpan olehnya. Kesaksian Bang Tigor di kuatkan oleh Pak Kusadi, setealah ia mangakal di perempatan jalan Bangsal 13 seharian penuh dan tidak ada yang menumpang becaknya. Sampai larut malam mangkal di pos becak tersebut , akhirnya sekitar pukul 21.00 WIB seorang ibu tua meminta untuk di anatarkan di Gang jalan 13 yaitu rumah No.50 di peremuahan itu.
Setelah sampai Si ibu tersebut tanpa berkata-kata, beliau menyerahkan dua lembaran uang 50.000 pada Pak Kusadi. Dan masuk rumah yang dianggap warga sekitar angker. Di siang hari juga begitu, tak ada seorangpun yang berani untuk memasuki rumah itu, bahkan warga sudah meningikan pagar dan di tutup rapat dengan seng agar rumah tersebut tidak begitu tampak dari luar.
***
Saat ibuku berrencana pindah dari perumahan yang lama, tepatnya di perum Bahari Setya, karena disana terkena rob air laut, kebetulan ada orang yang menawarkan rumah diperumahan Bangsal 13 yang lebih megah dari perumahanku sebelumnya dan harganyapun lebih murah. Keluargaku langsung saja setuju dengan penawaran tersebut. Ya, rumah yang berada di jalan Bangsal 13 nomor 49, tepatnya sebelah rumah kosong yang kata tetangga baruku itu angker, nah desas desus terakhir di dalam rumah itu setiap malam rabu pukul 13.00 – 01.00 WIB sering terdengar suara piano yang alunannya sangat indah. Aku yang dirumah baruku hanya tinggal dengan kakak perempuanku, bi Ima, dan pak Tejo pembantu keluarga kami, karena Ayah dan Ibu sering keluar kota dan belum pernah bermalam dirumah baruku, kami pun sering mendengar suara - suara piano yang mengalun indah di telinga kami ketika terbangun dari tidur.
Aku, kakak, bi Ima, dan pak Tejo merasa ketakutan, kami pun tidur di satu kamar karena saking takutnya. Siang hari sepulang sekolah, aku dan kakakku bermaksud ingin memasuki rumah tersebut, tapi datanglah pak Wisnu yang melarang kami masuk
“eh eh eh….kalian mau kemana?”
“anu pak, mau masuk rumah tua itu.” Sahut kakaku
“jangan! Kalian tahu tidak rumah itu sangat berbahaya, kucing masuk saja tak pernah keluar lagi nak!”
“ngomong-ngomong kalian ini warga baru ya?”
“iya pak, kami baru pindah satu minggu yang lalu!” kataku
“saya pak wisnu, ketua RT di sini, segera laporan ya, dan ingat! Jangan pernah masuk rumah itu, mengerti kalian?”
“baik pak!”
Sore hari ketika sedang sepi, kami memutuskan masuk lewat pagar belakang yang terbuat dari kayu yang sudah lapuk, di dalam ruangan rumah itu tampak bersih, seperti ada yang merawatnya, terlihat hanya sedikit debu dan ruangannya pun tertata rapi, bahkan salah satu lampu ruang tamu menyala, aku heran dengan hal ini, kakakku pun merasa aneh jikalau rumah ini dikatakan angker, luarnya memang sudah jelek sekali, tapi didalamnya masih bagus. Sofa – sofa dan perabotan yang diselimuti kain putihpun menjadi pemandangan disetiap sudut ruangan itu. Foto keluarga yang semuanya tewas terbunuh juga masih terpampang di dinding ruang nonton TV dengan ukuran yang lumayang besar.
Tapi satu hal yang dari tadi kami cari, Piano, ya... piano itu belum juga aku temukan, karena waktu sudah hampir maghrib aku dan kakakku memutuskan untuk menghidupkan bolam yang ada dirumah itu, memang lampu teras sudah padam, tapi lampu dalam rumah masih bagus semua. Air juga mengalir di kran, WC juga sangat terawat, aku dan kakakku memutuskan untuk salat maghrib di rumah tua itu, setelah selesai salat, malah terdengar suara dentingan piano di ruang sebelah musola, aku dan kakakku pun ketakutan, dengan rasa penasaran akhirnya langkah demi langkahpun kami sampai didepan pintu besar yang kuno yang terbuat dari kayu dan berukir indah. Dengan rasa takut kamipun membuka pintu besar itu.
“ Dag Dig Dug Derr..”jantungkupun serasa copot ketika mendapati seorang anak kecil dengan kepala gundul memainkan piano, ketika ia menolehkan kepalanya kepada kami, dan kakakku pun menjerit sekuat tenaga dan berlari menuju pintu belakang.
Sementara aku dan kakaku masih berlari ketekutan suara piano itu masih terdengar dengan jelas di telinga, rasa ketakutan semakin besar ku rasakan.
“aduh gimana ni kak?”
“gimana apanay?, sudah jangan takut, kakak malah tambah mern=inding tau!diem.....”
“kita pulang aja yuk ah kak, aku sudah hampir mati berdiri di sini.”
“loh, tadi siapa yang minta kesini?, kakak nggak mau pulang dulu, masih penasaran tau, Tapi disini emang aneh!”
“makanya ayo cepat keluar kak... aku takut banget!”
“bukan Nin, tapi seoertinya rumah ini ada yang menghuni kok.”
“tuh kan kakak malah membuatku semakin takut.”
“bukan itu maksudku, maksud kakak penghuninya itu hidup.”
“ha? Kakak, serius deh jangan bercanda mulu, masa’setan kok hidup.”
“udah deh kak, apapun dan siapapun yang ada disini, anterin aku keluar sebelum aku mati berdiri disini.”
“ hust…jangan sembarangan bicara.”
Saat kami sampai di pintu belakang yang dekat dapur, kami malah bertemu dengan ibu-ibu tua yang rambutnya sudah beruban dan memakai baju putih, kamipun tak kuasa menahan rasa takut ini.
“aaaaa.....aaa...aaa...aaa...!”kamipun menjerit sekuat tenaga dan pingsan di tempat. Setelah itu kami tidak tahu apa-apa lagi. Tiba-tiba saja saat kami tersadar kami sudah berada di kasur yang empuk, dan ketika pendengaran kami mulai berfungsi kembali, suara piano itu masih terdengar semakin jelas. Dan ketika kami benar-benar terbangun, disebelahku ada ibu-ibu tua itu lagi serta di pojok kamar tersebut ada seorang anak kecil yang berkepala gundul yang masih memainkan piano. Tanpa pikir panjang kamipun kompak pura –pura pingsan, tapi kami malah merasa ketakutan.
“dag dig dug der....1...2...3...aaaaa...aaa!”
Kami menjerit sekuat tenaga, lari dari kasur itu menuju pintu keluar dari kamar tersebut. kami coba buka daun pintu yang terbuat dari marmer tersebut.
“mati.....!”
“ kenapa kak?”
Pintunya terkunci, kami sangat takut, mau pingsan lagi juga sudah tidak bisa, bulu kuduk kami semakin merinding ketika teerdengar suara yang pelan.
“Tenang nak, tenang, Kamu membuat ibu kaget saja.” Tanpa pikir lagi akupun pura-pura pinsang lagi dan terletak di depan pintu aku mencoba memakai logikaku dalam pingsan, kakakku masih pingsan disini, aku semakin “mati” ketika aku diseret anak kecil itu menujun ke atas kasur lagi, tapi tangannya hangat seperti orang hidup, tangan ibu itu juga hangat.
Akhirnya dengan rasa takut aku beranikan diri melihat mereka dan kubuka mataku...
“tenang nak, ada apa? Kalian kok takut, tenang!”ibu itu berusaha menyentuhku “ jangan sentuh aku jangan sentuh aku jangan sentuh aaaaa ...!”
“mbak, saya dan ibu saya ini bukan hantu yang dibicarakan orang-orang, saya ini manusia biasa, lihat kaki saya dan ibu saya menempel di lantai!”
“mbak tidak usah takut!”
Akhirnya dengan pelan-pelan nafasku yang ngos-ngosan mulai teratur kembali, akupun minum segelas air putih yang diberikan olehnya dan kakakku belum juga sadar, ternyata dari tadi dia juga pura-pura pingsan. Aduh apes banget!
Akupun membangunkan kakakku yang tadi juga sudah mendengar pembicaraan kami, kakakku bertanya-tanya , setelah dijelaskan akhirnya kami tahu sesuatu yang aneh, lucu…ia adalah Unis anak dari Bu Kamti yang rumahnya dibelakang rumah mewah tersebut, sudah hampir tiga tahun mereka bolak-balik di rumah mewah itu tanpa sepengetahuan para warga di jalan bangsal 13 tersebut. dengan waktu berfikir yang sedikit lama, karena rasa ketakutan yang masih ada aku dan kakakku malah tertawa sendiri bila ingat tingkah kita semalaman ini. Unis dan Bu Kamti pun juga tertawa.
Sebagai hadiah dari ketakutan kami tadi, Unis memainkan sebuah permainan piano yang ia sudah mahir, sebagai penghibur dan penenang hati kami. Alunan iramanya sangat padu dan indah, jarinya menari-nari di atas tune yang ia pencet satupersatu.
Nah.., dari luar , Pak Kani dan Pak Wakit yang malam itu beronda keliling melewati rumah tua ini, mendengar Unis memainkan piano, mereka lari terbirit-birit dan ketakutan yang saat itu yang kulihat dari rumah tua ini.
Sebagai pengalaman, hal ini tak terlupakan, jailnya kami berdua, kami tidak memberitahu siapapun tentang hal ynag kami alami. Setiap aku mendengar ada suara jejak kaki yang laritunggang langgang ketika mendengar permainan piano Unis, aku dan kakakku tertawa terbahak-bahak dalam kamarku di rumah no empatpuluh Sembilan jalan Bangsal tigabelas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar