Jadilah Siti Nurbaya
Buah pena : Mang Gugun
Namaku Siti, saat ini aku duduk di kelas dua SMA, aku adalah siswi yang cukup cantik dan berprestasi disekolahku, aku selama sekolah mendapatkan beasiswa karena memenangkan lomba dan membawa sekolahku harum di manca Nasional, padahal SMAku ini SMA terpencil dan tak terjamah tehnologi,ya, desa yang kutinggalipun jauh dari manger bingar kota seperti di Jakarta yang kulihat dari balik layar hitam putih milik ketua RT desaku yang jaraknya 2 km dari rumahku.
Namun setelah aku mendapat uang-uang pembinaan dari hasil lomba-lombaku seperangkat komputer dan TV 14 inchi berwarna kubawa kerumah, setiap hari kini aku tiada waktu tanpa belajar, karena dengan belajar salah satu pandanganku adalah memperoleh kekayaan.
Pada suatu hari Bapakku yang sehat, tiba-tiba pulang dibopong beberapa teman kerjanya. Beliau jatuh dari pohon karet setinggi 13 meter, pekerjaan bapakku mencari karet dihutan belakang rumahku, dua hari setelah bapak sakit, beliau meninggal dunia, dan itu yang membuat aku terpuruk sehingga tidak masuk sekolah selama 4 hari, yang kulakukan hanya menangis, menangs dan menangis.
Ditengah penatnya kehidupanku didesa, aku selalu ditemani oleh bambang, namanya Bambang Waluyo, ia adalah teman kecilku nonton TV, karena dua adalah anak dari ketua RT desaku Bambang juga menjadi menjadi temanku berangkat dan pulang sekolah, kami berdua naik sepeda tua milik Ayah Bambang, yang kurang lebih jarak dari sekolah kerumah kami sekitar 7 km.
Kini yang membuatku sedih adalah rumah yang selama dua puluh tahun kutempati dari sejak lahir sampai saat ini disita oleh orang suruhan juragan Nur. Dia adalah janda yang masih cantik dan kaya raya didesaku karena hutang-hutang Bapak kepadanya banyak dan tak mungkin terbayar.
Akupun bersama Ibuku kini tinggal dirumah Bambang, menumpang dirumah orang itu tidak enak sekali, tapi inilah kenyataan hidup, satu minggu aku tinggal dirumah Pak RT aku tak bisa tidur, Ibuku membantu Ibunya Bambang untuk memasak dan tak lama kemudian Ibuku dapat pekerjaan menunggui sawah bersama buruh Pak RT yang lainnya.
Satu bulan dirumah Pak RT, rasanya aku sudah mulai nyaman, apalagi setiap malam Bambang selalu mengajakku belajar bersama dilantai atas rumahnya, dari sana terlihat jelas bintang-bintang dan bulan yang menjadi temankita belajar setiap hari.
Namun lain disekolah lain dirumah, Bambang sekarang sudah “agak jutek”, meski kita sering dan selalu berangkat sekolah bersama, pulangpun bersama, tapi Bamnbang sekarang sudah punya cewek, yang ia kejar sejak kelas dua SMA. Kini belajarku terganggu, aku sering bertengkar mulut dengan Bambang.
Bahkan dia pernah menghujatku”kamu ini siapa sih sit, mengatur-atur hidupku, kamu disini hanya menumpang!” saat aku mengingatkan dia untuk ibadah, itulah yang membuatku sakit hati dan tak pernah melupakan kejadian tersebut.
Malam itu tak beberepa lamma setelah kata-kata itu kelur hujan angin sangat deras datang, padahal aku tidak berada dirumah yang kutempati sat itu, aku berlari menuju selatan yaitu menuju sungai tempat kita bermain saat pulang dari sekolah.
Akupun duduk dengan air mat yang erus menerus mengalir sehinga air dari langitpun ikut menetes, dan angin-anginpun silih berkejaranm berusaha mendinginkan hatiku yang sangat panas.
Rambut,wajah,baju dan tubuhku tak ada yang kering, basah kuyup, dari rumah Bambang mencariku kesana kemar, hingga ia menemukanku tergeletak dipinggir sungai, terdengar lirih dari telingaku. Sebelum ia temukanku, “sit,bangun!””siti…..!” aku yang tak kuat dibopong oleh Bambang dan dibawa pulang.
Setelah aku tersadar, Ibuku ada disampingku, Ayah dan Ibu Bambang juga terlihat disebelah tempatku berrbaring, tapi Bambang tak menampkkan batang hidungnya ketika aku tersadar.
“Sit, ada apa?” tadi Bambang membawamu drai luar sana kehujanan?” Tanya Ibuku dengan sura khasnya yang lembut dan lirih.
“Aku tidak ada apa-apa bu, tadi aku bermain di sungai dan kehujanan disana, lalu Bambang membawaku pulang.
***
Tanpa kusadari waktupun cepat berlalu, setelah dua puluh tiga tahun aku dan Bambang baru mendapat ijazah SMA, setelah lulus ibuku membicarakan pertunanganku dengan Bambang diam-diam dan tanpa sepengetahuan kami.
Bambang adalah sosok pemuda ganteng, soleh, menjadi kumbang desa, dan calon pemimpin desa dimasa depan, ia sudah kuanggap sebagai kakak terbaikku, ia tak pernah macam-macam denganku ia sopan sekali denganku, tapi aku tak tahu apa itu arti cinta, karena selama dua puluh tiga tahun aku hidup, tak ada pengalamanku tentang cinta, tapi aku pasti beruntung jika menjadi istri Bambang, karena sudah lebih dari selusin gadis-gadis cantik di RTku yang melamar Bambang ditolaknya semua.
Akupun berusaha mandiri, aku tak ingin menggantungkan semua beban hidupku pada Pak RT, dan ibu, aku mencari pekerjaan dirumah anak juragan Nur sebagai pembuat roti di antar oleh Bambang.
Oh iya, sekarang aku dan Bambang sudah bertunangan, cincin perak turun-temurun dari Pak RT dan Bu RT telah melingkr dijariku dan jari Bambang, rencana pernikahan kamipun telah ditentukan.
Tapi semuanya menjadi kesedihan ketika sore itu hujan deras turun. Aku tak bisa pulang kerumah, dan Bambangpun sedang sakit, akhirnya aku menginap dirumah jugn Nur yaitu mas Bosiw, atu mas Waluyo, ia dalah bos yang terkenal nakal dan suka meuu bekerja di yang telah lebih dulnggoda karyawan-karyawannya, bahkan dari cerita Wati, teman baruku yang telah lebih dulu bekerja di Pabrik roti, bahw semua wanita disini sudah tidak perawan.
Sore itu rencananya aku mau mengundurkan diri tetapi nasib melayang menimpaku, malam aku tidur ditempar tidur nan megah, ku kunci semua pintu dan jendela kamar trsebut, karena kata Wati kamar itulah tempat hilangnya keperawanan lebih dari 50 wanit, aku tidur dengn peraaan gelisah, aku berharap Bambang menjemputku setelah hujan reda.
Saat aku kelelahan dan pulas Mbok Ranti mengantarkan teh hangat kekamarku setekah aku minum akupun tertidur pulas, dan setelah matahari tampak dari jendela, aku sudah dalam kedaan telanjang bulat, dan disebelahku tidurlah Mas Waluyo yaitu Bosku, benar kata Wati. Aku hanya bisa menangis, saat ia mendengarkan tangisanku ia terbangun, sekali lagi ia memaksaku untuk melayani nafsu birahinya, aku yang seorang wanita, tak mampu berbuat apa-apa, dengan terpaksa pagi itu aku merengek kesakitan lagi. “Ya ALLAH, inilah nasib hidupku’ disela-sela rasa sakit yang kurasakan akupun menonjok muka dari Mas Waluyo, tapi aku ditampar sehingga aku tak berdaya, dengan sadar dan mata terbuka ia mencabukku dengan seluruh tenaga dan nafsunya.
Akupun tak kuat lagi, aku pingsan lagi, aku pingsan lagi, dan setelah aku terbangun aku sudah dalam keadaan wangi berbusana lengkap lagi, karena sebelumnya telah dimandikan Mbok Ranti.
Aku tak berani berbicara pada Bambang, pukul Sembilan pagi ia menjemputku, aku hanya diam dibelakang boncengan sepedanya.
Keesokan harinya aku bekerj seperti biasa, aku ceritakan semua yang kualami ini pada Wati, ternyata hal itu juga terjadi beberapa bulan yang lalu padanya, aku bekerja dengan penuh beban dan lamunanku, hingga sorepun datang, aku tak menungu jemputan Bambang, tapi langsung pulang dan jalan kaki, meski jauh, tapi aku lebih memilih kecapekan dari pada harus menyerahkan diriku pada iblis yang telah menodaiku dengan sadis.
Setelah aku sampai rumah ternyata Bambang menjemputku, dan ia sampai malam belum kembali juga, aku takut terjadi apa-apa padanya, katena yang jaga siang itu adalah juragan Nur, aku takut Bambang mengalami nasib sama seperti karyawan laki-laki yang lain di Pabrik itu, apalagi dengan taktik yang sudh disusun rapi. Dan Bambangpun seorang pemuda yang polos dan tak tahu apa-apa, dengan kebaikan seseorang ia akan percaya. Aku ingin menyusulnya, tapi jalan menuju Pabrik itu cukup jauh dan ketika malam hari tak ada penerangannya.
Kisah Bambang serupa dengan kisahku dan kisah pemuda-pemuda yang bekerja di Pabrik tersebut, ad yang dengan suka rela melayani juragan Nur, tapi ada juga yang berhasil meloloskan diri dengan dicekoki sage, Banbang melayani juragan Nur dengan tanpa sadarkan diri.
***
Tiga bulan berselang akupun ketahuan hamail, dan Bambangpun ketahuan menghamili juragan Nur, aku yang harus terpaksa melepas harapanku untuk menikah dan hidup bahagia dengan Bambang, dinikahi Mas Waluyo, dan Bambng menikahi juragan Nur, Ayah dan Ibu kami sebelumnya menentang keras, tapi nasi sudah menjadi bubur.
***
Kurang lebih Sembilan bulan anakku lahir dimuka bumi ini, kuberi nama Teguh Waluyo, agar menjadi peneguh dipernikahanku yang tidak pernah bahagia. Anak dari Bambangpun menyusul, yang membuatku terkejut adalah Siti Nurbaya, ‘Siti” itu namaku,”Nur” itu nama juragan Nur,”Ba”itu dari kependekan Bambang”Ya”itu nama suamiku yaitu Waluyo, jadilah Siti Nurbaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar