KAU BUKAN DIA
BUAH PENA : MANG GUGUN
Kehidupan yang kita jalani mempunyai dua sisi yang sangat berkebalikan. Kebahagian dan kesedihan serta pertemuan dan perpisahan semua menyatu dalam sebuah perjalan hidup. Namaku diaz, dalam hidupku kualami berjuta misteri yang selalu tersimpan dalam otakku, Aku bahagia karena aku punya seorang teman, sahabat, sekaligus pacar yang sangat menyayangiku, Ines namanya, kisah kami berawal ketika kami dilahirkan dirumah sakit yang sama, Dan kini hampir 12 tahun kita bersama. Ayah dan ibu kami sudah sangat akrab layaknya keluarga besar yang bahagia.
Aku ingat saat aku ulang tahun yang ke-enam, Ines memberiku dua buah kalung berliontinkan di@in. Aku sangat senang menerimanya, saat itu kami berharap kami akan selalu bersama sampai dewasa dan sampai kita tua nanti. Dulu aku bersekolah di SD yang sama dengan Ines. Kami berangkat dan pulang bersama. Yang tak pernah bisa kulupa, aku pasti masih tidur ketika ines datang menjemput. “ Diaz.. bangun,bangun,bangun!” tiap pagi selama hamper enam tahun Ines selalu begitu. Bahkan kata – kata itu sering terngiang ditelingaku bila aku bangun dipagi hari. Jarak antara rumah dan sekolah kami tak terlalu jauh, kurang lebih 700 meter. Aku juga ingat, dulu aku pernah bersikap aneh selama tiga minggu. Itu semua disebabkan karena aku bertengkar dengan Ines. Tapi semua itu segera berakhir dan semua kembali normal, maklumlah keegoisan anak kecil.
Ujian, ujian, dan ujian, kaim sangat menanti hari itu. Kami selalu belajar bersama dirumahku, menurut kami ini lebih baik karena jika aku kesulitan maka Ines bisa membantuku dan sebaliknya. Hari yang kami tunggu tiba, kami sungguh semangat menyambutnya. Senjata yang diperlukan telah kami siapkan, dan sekarang kami siap bertempur. Hari demi hari berganti, ujian telah usai dan kini kami mengunggu hasil kerja keras kami selama ini. Aku sangat senang ketika sekolah kami menyatakan kami lulus dengan nilai yang cukup baik. Nilaiku 32,15 sedangkan Ines 33,80 dari empat mata pelajaran. Harus kuakui memang dia lebih jago dariku tapi aku akan terus mengejarnya sampai aku lebih hebat darinya.
Masa SD telah berlalu, kini kami harus berjalan dalam tingkatan yang baru. Pak Jendri, ayah Ines mendaftarkan kami disebuah SMP favorit. Alangkah bahagianya kami karena kami diterima diSMP itu. Masih seperti dulu, Ines selalu menjemputku tiap pagi dan kami berangkat bersama. Namun karena jaraknya cukup jauh jadi kami berangkat dan pulang mengendarai sepeda. 3 km kami tempuh setiap harinya, tapi jalan pegunungan yang indah membuat kami selalu gembira. Dikelas satu aku menjadi jawaranya, Ines di tempat ke dua dan teman – teman mengikuti di tempat selanjutnya.
Namun aku merasa ada yang aneh disini. Ada banyak hal yang berbeda akhir – akhir ini, perasaanku dan sikapku pada Ines semua ku rasa ada yang berbeda. Tapi aku tak tahu apa dan mengapa. Aku terus memikirkannya, bahkan pernah sampai terbawa mimpi. Aku coba memikirkan apa yang sebarnnya terjadi padaku, dan aku sadar aku jatuh cinta pada Ines. Tak jauh berbeda denganku Ines juga merasakan hal yang sama. Dikelas dua SMP aku putuskan untuk memacarinya dan semenjak itu pula kami semakin dekat dan kompak. Meski begitu prestasi kami tetap OK. Kami silih berganti menempati peringkat satu dan dua.
Unik! Banyak hal yang kami lewati bersama, senang, susah, ceria, marah, pernah juga bertengkar. Disuatu malam yang indah aku mengajak Ines pergi ke sebuah tempat yang indah. Letaknya tak begitu jauh, hanya 50 meter dari rumahku. Itulah bukit paling tinggi disana, juga merupakan bukit yang paling indah yang pernah aku datangi. Disana kami mengungkapkan janji, “ aku Diaz Sinaga dan aku Inesta Indri akan selalu bersama bintang malam sampai kapanpun. Malam semakin larut membuat kami harus segera pulang. Ingin aku bisa menghentikan waktu agar keindahan ini bissa kurasakan lebih lama lagi.
Tiap malam minggu kami selalu bersama, ntah itu dirumahku ataupun dirumahnya. Dimanapun tak masalah yang penting kami selalu bersama. Pada perjamuan ulang tahun ines yang ke – 12aku mengatakan pada semua orang yang ada disana aku sudah pacaran dengan Ines dan aku bermaksud serius dengannya. Ayah, ibu, om Jendri, budhe Ita, dek Yuli dan mas Dino mereka tertawa karenaku. Ines yang mndengar semua ini hanya tersipu malu. Kemudian ayah bilang padaku, “ eh Dias, lihat mas Dino ! mas kamu aja belum pernah bapak lihat dia bawa cewek, hehehe..” makan malam itu begitu indah dan terekam jelas dalam memoriku. Ini tak kan pernah ku lupa seumur hidupku.
Seperti biasa aku mengajak Ines ketempat yang paling indah. Kali ini aku mengajaknya ke tempat yang paling rendah, tepatnya dilereng. Disana kami menghabiskan waktu bersama sampai larut malam. Jarak rumah yang cukup jauh membuat kami harus segera pulang. Namun sebuah peristiwa yang tak ku inginkan terjadi. Kami mengalami kecelakaan. Lukaku tak begitu parah, tapi tidak dengan Ines. Dua minggu ia harus dirawat di unit gawat darurat sebuah rumah sakit sampai akhirnya dia harus pergi. Dia perig dan tak mungkin kembali, pergi untuk selamanya. Hujan air mata mengiringi pemakamannya. Aku dan semua orang yang menyayaginya hanya bisa mendo’akannya.
Ujian akhir sekolah ku lalui dengan beban yang begitu berat. Cita – citaku dan Ines untuk masuk SMA favorit hanya tinggal kenangan. Aku sungguh menyesal, begitu bodohnya aku harus mengajaknya ketempat itu dan harus membuatnya pergi untuk selamanya. Ujian usai namun aku tak mendaftar di SMA impian kami dulu. Aku takut akan semakin terpuruk jika aku masuk disana. Satu malam sbelum MOPDB aku bermimpi aneh. Aku bermimpi Ines mengatakan sesuatu padaku. “ Diaz, bangun bangun dari keterpurukanmu, aku akan kembali.” Begitu katanya. Aku terbangun, aku sungguh tak mengerti apa yang ia maksud.
Pertama masuk SMA aku menempati kela X-2. Pada saat MOPDB aku terlambat masuk, aku hanya bisa menunduk saat dimarahi habis – habisan di depan teman – teman baruku. Ketika aku mencoba melihat mereka kepalaku serasa berputar dan aku tak tahu lagi apa yang terjadi padaku. Itu karena aku melihat gadis yang mirip sekali dengan Ines. Mirip, mirip sekali mungkin 99,9%. Gadis itu bernama Elen. Kini aku baru mengerti inilah jawaban dari mimpiku itu. Tanpa piker panjang aku muli menyelidiki semua tentang Elen.
Ciri – ciri fisiknya sama dengan Ines. Hanya saja cara berjalannya berbeda dengan Ines. Satu lagi yang membuatku terkejut, tanda lahir (toh putih kecil) disebelah tangan kiri itu sama persis dengan punya Ines. Tanggal lahir mereka juga sama. Aku rasa ini bukan suatu kebetulan.
Saat ia mulai dekat denganku, aku mengajaknya ke rumah. Dia mengejutkan semua orang, bahkan ibuku pingsan dibuatnya. Saat ibuku bangun aku mulai menjelaskan semuanya pada ibu dan ayah. Keesokan harinya aku mengajak Elen ke rumah Ines. Budhe Ita yang membuka pintu lagsung memeluknya lama sekali. Tangisan budhe membuat Elen jadi ikut menangis. Kemudian aku jelaskan semuanya pada mereka. Kuceritakan pada Elen semua tentang aku dan alm. Ines. Foto – foto saat kami kecil dulu dan semua tentang kami. Elen pun tak sanggup menahan air matanya.
Di malam peringatan hari ulang tahun alm. Ines yang ke-15, kami mengundang Elen beserta keluarga. Karena saat itu ayah dan ibu Elen sedang diluar kota jadi Elen hanya datang sendiri. Kebetulan Elen juga ulang tahun hari itu. Aku mas Dino, dek Yuli dan orang tua kami memandang Elen tajam. Makan malam dan perayaan pun dimulai. Usai acara semua berkumpul diruang tamu rumah om Jendri. Satu per satu dari kami menceritakan semua tentang alm. Ines. Kebetualn Elen orangnya terbuka, jadi enak diajak bicara. Malam ini kau bertekad mengajak Elen ke tempat dimana aku dan Ines kecelakaan, juga bukit tempat kami mengucap janji. Elen hanya terharu dan meneteskan air matanya. Karena malam mingu aku dan Elen menginap dirumah om Jendri.
Minggu pagi pukul 08.00 kami ke makam Ines dengan membawa Elen. Usai berdo’a mereka pulang meninggalkan aku dan Elen. Aku memutuskan untuk menembaknya didepan makam Ines dan Elen pun menerimanya. Aku bahagia sekali diberi kesempatan seperti ini. Karena rumah kontrakan Elen berlawanan arah denganku maka aku haya sesekali saja menjemputnya. Di sekolah kami selalu bersama. Dia sama pandainya dengan alm. Ines, semua tentang ELen mengingatkanku pada Ines. Terkadang saat aku melamun dan Elen ada disampigku aku sering memannggilnya Ines. Aku bersyukur karena ia bisa mengerti.
Di kelas satu SMA Elen menjadi jawara 1 paralel, aku bangga padanya. Sedang aku peringkat 2 di kelas X-2 dan peringkat 10 paralel. Tiap malam minggu kami selalu pergi ke puncak dan belajar bersama.
Satu yang membuatku sedih. Ayah dan ibu ELen memindahkannyake SMA lain di luar pulau. Aku berusaha membujuk Elen agar ia membujuk orang tuanya untuk tetap tinggal disini. Bahkan aku menceritakan semuanya dan mengajak Elen tinggal dirumah om Jendri, namun orang tuanya tetap tidak setuju. Dengan berat hati aku melepaskan Elen. Tapi aku cukup senang karena kami dapat berkomunikasi dengan baik. Elen juga berjanji akan mengunjungiku tiap liburan. Aku datangi makam Ines dan aku bilang, “Dia pergi nes, aku sadar sekarang dia bukan kau. Elen bukan kau, bukan..!!” aku hanya bisa menangis, aku menangis.
BUAH PENA : MANG GUGUN
Kehidupan yang kita jalani mempunyai dua sisi yang sangat berkebalikan. Kebahagian dan kesedihan serta pertemuan dan perpisahan semua menyatu dalam sebuah perjalan hidup. Namaku diaz, dalam hidupku kualami berjuta misteri yang selalu tersimpan dalam otakku, Aku bahagia karena aku punya seorang teman, sahabat, sekaligus pacar yang sangat menyayangiku, Ines namanya, kisah kami berawal ketika kami dilahirkan dirumah sakit yang sama, Dan kini hampir 12 tahun kita bersama. Ayah dan ibu kami sudah sangat akrab layaknya keluarga besar yang bahagia.
Aku ingat saat aku ulang tahun yang ke-enam, Ines memberiku dua buah kalung berliontinkan di@in. Aku sangat senang menerimanya, saat itu kami berharap kami akan selalu bersama sampai dewasa dan sampai kita tua nanti. Dulu aku bersekolah di SD yang sama dengan Ines. Kami berangkat dan pulang bersama. Yang tak pernah bisa kulupa, aku pasti masih tidur ketika ines datang menjemput. “ Diaz.. bangun,bangun,bangun!” tiap pagi selama hamper enam tahun Ines selalu begitu. Bahkan kata – kata itu sering terngiang ditelingaku bila aku bangun dipagi hari. Jarak antara rumah dan sekolah kami tak terlalu jauh, kurang lebih 700 meter. Aku juga ingat, dulu aku pernah bersikap aneh selama tiga minggu. Itu semua disebabkan karena aku bertengkar dengan Ines. Tapi semua itu segera berakhir dan semua kembali normal, maklumlah keegoisan anak kecil.
Ujian, ujian, dan ujian, kaim sangat menanti hari itu. Kami selalu belajar bersama dirumahku, menurut kami ini lebih baik karena jika aku kesulitan maka Ines bisa membantuku dan sebaliknya. Hari yang kami tunggu tiba, kami sungguh semangat menyambutnya. Senjata yang diperlukan telah kami siapkan, dan sekarang kami siap bertempur. Hari demi hari berganti, ujian telah usai dan kini kami mengunggu hasil kerja keras kami selama ini. Aku sangat senang ketika sekolah kami menyatakan kami lulus dengan nilai yang cukup baik. Nilaiku 32,15 sedangkan Ines 33,80 dari empat mata pelajaran. Harus kuakui memang dia lebih jago dariku tapi aku akan terus mengejarnya sampai aku lebih hebat darinya.
Masa SD telah berlalu, kini kami harus berjalan dalam tingkatan yang baru. Pak Jendri, ayah Ines mendaftarkan kami disebuah SMP favorit. Alangkah bahagianya kami karena kami diterima diSMP itu. Masih seperti dulu, Ines selalu menjemputku tiap pagi dan kami berangkat bersama. Namun karena jaraknya cukup jauh jadi kami berangkat dan pulang mengendarai sepeda. 3 km kami tempuh setiap harinya, tapi jalan pegunungan yang indah membuat kami selalu gembira. Dikelas satu aku menjadi jawaranya, Ines di tempat ke dua dan teman – teman mengikuti di tempat selanjutnya.
Namun aku merasa ada yang aneh disini. Ada banyak hal yang berbeda akhir – akhir ini, perasaanku dan sikapku pada Ines semua ku rasa ada yang berbeda. Tapi aku tak tahu apa dan mengapa. Aku terus memikirkannya, bahkan pernah sampai terbawa mimpi. Aku coba memikirkan apa yang sebarnnya terjadi padaku, dan aku sadar aku jatuh cinta pada Ines. Tak jauh berbeda denganku Ines juga merasakan hal yang sama. Dikelas dua SMP aku putuskan untuk memacarinya dan semenjak itu pula kami semakin dekat dan kompak. Meski begitu prestasi kami tetap OK. Kami silih berganti menempati peringkat satu dan dua.
Unik! Banyak hal yang kami lewati bersama, senang, susah, ceria, marah, pernah juga bertengkar. Disuatu malam yang indah aku mengajak Ines pergi ke sebuah tempat yang indah. Letaknya tak begitu jauh, hanya 50 meter dari rumahku. Itulah bukit paling tinggi disana, juga merupakan bukit yang paling indah yang pernah aku datangi. Disana kami mengungkapkan janji, “ aku Diaz Sinaga dan aku Inesta Indri akan selalu bersama bintang malam sampai kapanpun. Malam semakin larut membuat kami harus segera pulang. Ingin aku bisa menghentikan waktu agar keindahan ini bissa kurasakan lebih lama lagi.
Tiap malam minggu kami selalu bersama, ntah itu dirumahku ataupun dirumahnya. Dimanapun tak masalah yang penting kami selalu bersama. Pada perjamuan ulang tahun ines yang ke – 12aku mengatakan pada semua orang yang ada disana aku sudah pacaran dengan Ines dan aku bermaksud serius dengannya. Ayah, ibu, om Jendri, budhe Ita, dek Yuli dan mas Dino mereka tertawa karenaku. Ines yang mndengar semua ini hanya tersipu malu. Kemudian ayah bilang padaku, “ eh Dias, lihat mas Dino ! mas kamu aja belum pernah bapak lihat dia bawa cewek, hehehe..” makan malam itu begitu indah dan terekam jelas dalam memoriku. Ini tak kan pernah ku lupa seumur hidupku.
Seperti biasa aku mengajak Ines ketempat yang paling indah. Kali ini aku mengajaknya ke tempat yang paling rendah, tepatnya dilereng. Disana kami menghabiskan waktu bersama sampai larut malam. Jarak rumah yang cukup jauh membuat kami harus segera pulang. Namun sebuah peristiwa yang tak ku inginkan terjadi. Kami mengalami kecelakaan. Lukaku tak begitu parah, tapi tidak dengan Ines. Dua minggu ia harus dirawat di unit gawat darurat sebuah rumah sakit sampai akhirnya dia harus pergi. Dia perig dan tak mungkin kembali, pergi untuk selamanya. Hujan air mata mengiringi pemakamannya. Aku dan semua orang yang menyayaginya hanya bisa mendo’akannya.
Ujian akhir sekolah ku lalui dengan beban yang begitu berat. Cita – citaku dan Ines untuk masuk SMA favorit hanya tinggal kenangan. Aku sungguh menyesal, begitu bodohnya aku harus mengajaknya ketempat itu dan harus membuatnya pergi untuk selamanya. Ujian usai namun aku tak mendaftar di SMA impian kami dulu. Aku takut akan semakin terpuruk jika aku masuk disana. Satu malam sbelum MOPDB aku bermimpi aneh. Aku bermimpi Ines mengatakan sesuatu padaku. “ Diaz, bangun bangun dari keterpurukanmu, aku akan kembali.” Begitu katanya. Aku terbangun, aku sungguh tak mengerti apa yang ia maksud.
Pertama masuk SMA aku menempati kela X-2. Pada saat MOPDB aku terlambat masuk, aku hanya bisa menunduk saat dimarahi habis – habisan di depan teman – teman baruku. Ketika aku mencoba melihat mereka kepalaku serasa berputar dan aku tak tahu lagi apa yang terjadi padaku. Itu karena aku melihat gadis yang mirip sekali dengan Ines. Mirip, mirip sekali mungkin 99,9%. Gadis itu bernama Elen. Kini aku baru mengerti inilah jawaban dari mimpiku itu. Tanpa piker panjang aku muli menyelidiki semua tentang Elen.
Ciri – ciri fisiknya sama dengan Ines. Hanya saja cara berjalannya berbeda dengan Ines. Satu lagi yang membuatku terkejut, tanda lahir (toh putih kecil) disebelah tangan kiri itu sama persis dengan punya Ines. Tanggal lahir mereka juga sama. Aku rasa ini bukan suatu kebetulan.
Saat ia mulai dekat denganku, aku mengajaknya ke rumah. Dia mengejutkan semua orang, bahkan ibuku pingsan dibuatnya. Saat ibuku bangun aku mulai menjelaskan semuanya pada ibu dan ayah. Keesokan harinya aku mengajak Elen ke rumah Ines. Budhe Ita yang membuka pintu lagsung memeluknya lama sekali. Tangisan budhe membuat Elen jadi ikut menangis. Kemudian aku jelaskan semuanya pada mereka. Kuceritakan pada Elen semua tentang aku dan alm. Ines. Foto – foto saat kami kecil dulu dan semua tentang kami. Elen pun tak sanggup menahan air matanya.
Di malam peringatan hari ulang tahun alm. Ines yang ke-15, kami mengundang Elen beserta keluarga. Karena saat itu ayah dan ibu Elen sedang diluar kota jadi Elen hanya datang sendiri. Kebetulan Elen juga ulang tahun hari itu. Aku mas Dino, dek Yuli dan orang tua kami memandang Elen tajam. Makan malam dan perayaan pun dimulai. Usai acara semua berkumpul diruang tamu rumah om Jendri. Satu per satu dari kami menceritakan semua tentang alm. Ines. Kebetualn Elen orangnya terbuka, jadi enak diajak bicara. Malam ini kau bertekad mengajak Elen ke tempat dimana aku dan Ines kecelakaan, juga bukit tempat kami mengucap janji. Elen hanya terharu dan meneteskan air matanya. Karena malam mingu aku dan Elen menginap dirumah om Jendri.
Minggu pagi pukul 08.00 kami ke makam Ines dengan membawa Elen. Usai berdo’a mereka pulang meninggalkan aku dan Elen. Aku memutuskan untuk menembaknya didepan makam Ines dan Elen pun menerimanya. Aku bahagia sekali diberi kesempatan seperti ini. Karena rumah kontrakan Elen berlawanan arah denganku maka aku haya sesekali saja menjemputnya. Di sekolah kami selalu bersama. Dia sama pandainya dengan alm. Ines, semua tentang ELen mengingatkanku pada Ines. Terkadang saat aku melamun dan Elen ada disampigku aku sering memannggilnya Ines. Aku bersyukur karena ia bisa mengerti.
Di kelas satu SMA Elen menjadi jawara 1 paralel, aku bangga padanya. Sedang aku peringkat 2 di kelas X-2 dan peringkat 10 paralel. Tiap malam minggu kami selalu pergi ke puncak dan belajar bersama.
Satu yang membuatku sedih. Ayah dan ibu ELen memindahkannyake SMA lain di luar pulau. Aku berusaha membujuk Elen agar ia membujuk orang tuanya untuk tetap tinggal disini. Bahkan aku menceritakan semuanya dan mengajak Elen tinggal dirumah om Jendri, namun orang tuanya tetap tidak setuju. Dengan berat hati aku melepaskan Elen. Tapi aku cukup senang karena kami dapat berkomunikasi dengan baik. Elen juga berjanji akan mengunjungiku tiap liburan. Aku datangi makam Ines dan aku bilang, “Dia pergi nes, aku sadar sekarang dia bukan kau. Elen bukan kau, bukan..!!” aku hanya bisa menangis, aku menangis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar