Uh… Pedasnya
panen kata: Mang Gugun
Terik sang surya yang mencoba menusuk-nusuk jaket yang melekat pada tubuhku yang terhempas jutaan kubik udara secara berlawanan arah, berangkat dari sebuah gubuk kecil menuju tempat dimana disana berkumpulah orang-orang yang hobi dan hoki menulis. FLP Pati ( Forum Lingkar Pena ) cabang Pati, sebuah forum kepenulisan yang ada di kabupaten Pati. Dari forum tersebut aku menjadi penasaran dan terus mencoba mempertontonkan tarian pena baruku di dalam kertas untuk mendramatisasi kehidupan.
Aku sendiri masih terlalu balita dalam hal kepenulisan sastra baaik fiksi maupun non fiksi, masih sedikit karya yang kini ku buat , awalnya mencoba-coba, “ sepertinya dibalik kertas ketikan itu ada kertas kosong!”. Aku tak tahu dan belum tahu apakah ini benar atau salah!” yang jelas aku sudah mulai bisa menulis. Kususun lagi paragrap demi paragrap hingga menghabiskan detak demi detak jam dinding kamarku dan sudah satu halaman kertas HVS ku tulis. Tapi, apakah ini yang dinamakan cerita pendek? Aku jarang sekali membaca cerpen karya-karya cerpenis yang sudah terkenal, atau sekedar membaca tentang cerpen di perpustakaan sekolah pun urung aku lakukan, waktuku terbuang untuk bermain dengan remaja seusiaku yang tak pernah ada dalam benak mereka untuk sekedar meluangkan detik waktunya menulis hal hal penting yang di alami pada hari tersebut.
Berminggu-minggu aku di ajak oleh Mbak Seli, pengalaman yang sungguh membuat aku menyesal dengan hari hariku sebelum hari ini, aku mulai membaca karya-karya dari teman-teman FLP Pati yang sekaligus itu menjadi inspirasi bagiku, Mas Barok selalu mengajariku banyak hal tentang menulis.
***
Beberapa jam sebelum kejadian itu. Ku tulis cerpen yang mungkin bukan pertama bagiku, tapi inilah karyaku yang pertama yang di bedah, judulnya “Fajar yang Berarti”. Lagi-lagi aku tinggal menulis saja apa yang ada di dalam kepalaku, sampai kotak ide di otakku pun kosong, Setelah itu aku mulai kurang semangat rasanya tak ada ide.
Perut ini terasa lapar malam itu, aku cari-cari makanan di pawon, ternyata tidak ada, di kulkas, juga tidak ada “hanya bongkahan es batu yang mengeras bagaikan inspirasiku yang semakin membeku”, tempat terakhir sebagai harapanku adalah di Rak makan, Alhamdulillah ku temukan juga makanan sebagai penganjal perutku malam itu, walau hanya tiga potong ketela rebus yang dimasak ibuku tadi sore, ku temukan lagi arem-arem yang masih hangat, kumakan saja dengan lahapnya, “satu gigit, dua gigit, tiga gigit……uuuh enaknya. Pada gigitan ke empat aku terkejut…rasa pedas menyerang tengorokanku, uuh pedas…….cabai rawit terselip diantara nikmatnya arem-arem itu. Aku pun lari tungganag-langgang dari kursi tempatku menikmati arem-arem tersebut, menuju kulkas, ku ambil morong yang terisi air yang suhunya sangat dingin, tanpa gelas akupun meminumnya. “masih…!”…uuuh pedas. Tiba tiba saja perutku bergejolak, sepertinya akan sakit, hehehehe…
Aku pun berlari menuju kamar mandi, capek rasannya bolak-balik di kamar mandi. Setelah agak lumayan sembuh, aku kembali ke meja belajar, ku lanjutkan tulisanku yang sempat terhenti, “oh tidak…” teapt di sebelah kiri nama penaku tai cicak hitam putih jatuh dari atap, “pertanda apa kah ini?” Dalam hatiku sudah tak enak, pasti akan terjadi sesuatu terhadap karya yang selalu di minta Mas Barok ini untuk di bedah esok saat “TELA BAKAR”(temu Latihan Bahas Karya) yang kebetulan besok siang di rumahku.
Sesegera ku sms dan meminta mbak seli untuk merentalkan karyaku tersebut, dan besok akan ku perbanyak untuk di bedah. Karena malam telah pekat, sunyi yang membelenggu gelap dengan suasana yang semakin dingin pun ku rasakan, aku pun menghentikan semua aktifitsaku dan berbaring di ranjangku kembali, berharap akan datangnya mimpi yang baik tentang bedah cerpen pertamaku ini. Akupun tak lupa berdoa pada sangh raja inspirasi, semoga besok adalah hari keberuntunganku.
***
Sekitar pukul 09.00 WIB semua persiapanku telah selesai, aku dan mbak seli pun beristirahat sebentar di tikar, kelihatannya dia sangat capek dengan semua persiapan ini, ku ambilkan segelas teh untuknya, dia pun menghabiskan seketika teh tersebut.
“capek ya mabk?” sembari ku minta gelas kosong dari tangannya.
“ah, nggak kok dek, sudah kamu sms semua temen-temen FLP?”
“tadi aku sudah sms mas Barok mbak, mas Ulin katanya juga akan dating, tapi aku kok deg-degan ya mbak?”
“tidak apa-apa dek, aku dulu juga seperti itu.”
“ lihat deh mbak, salah ketik semua, paragrafnya juga rancau kelihatanya mabk, nggak nyambung lagi!”
“nggak apa lah, siapin mentalmu aja, ntar kalo dikritik mas Ulin jangan marah ya, demi kebaikanmu kok, dia itu kritis banget, peka banget, dan pinter ngomong soal sastra!”
“iya mbak, kemarin waktu pertemuan minggu kemarin saja karya yang udah bagus, udah perfect aja dikritisi habis-habisan apa lagi punyaku ini mbak?”
“ positif thinking aja deh dek!”
“sana mandi dulu, nggak usah dipikirin yang lain-lain, lihat badanmu kotor semua!”
“oke deh mabk!”
***
Tiba saatnya pertemuan FLP Pati di rumahku dengan agenda TELA BAKAR karyaku, awalnya sangat senang tapi juga cemas, sekitar pukul 11.00 WIB acara dimulai, yang hadir hanya Aku, Mas Barok, Mas Ulin, dan Mbak Seli. Tak apa lah, yang penting ada mas Ulin. Acara pun dibuka oleh Mas Barok.
“ assalamualaikum warohmatullhi wabarokatu, alhamdulillahrabbil alamin, wabiinastain wa ala umuridunia wad din ama baatz, marilah kitasemua panjatkan puji syukur kepada Allah SWT karena pada kesempatan kali ini kita dapat berkumpul kembali dalam acara Temu Latihan Bahas Karya yang akan membedah cerpen milik Mang Gugun yang berjudul Fajar yang Berarti.se3belumnua marilah kita awali dengan bacaan basmalah bersama-sama.
“bismillahirahmanirahim…”
“Berikutnya langsung saja bedah karya yang dipimpin oleh mas Ulin. “
“assalamualaikum warohmatullahi wabarokatu, untuk mengawali bedah karya sebaiknya kita dengarkan secara singkat pokok atau resensi dalam cerpen yang berjudul Fajar yang Berarti oleh penulisnya.” Suara Mas Ulin yang begitu mencekam membuat tubuh ku sedikit gemetaran, akupun menjelaskan sedikit tentang cerpen yang ku buat.
Fajar yang Berarti
Oleh :Mang Gugun
Dari seuah kehidupan yang sederhana, seorang anak terlair kedalalam dunia ini dengan sejuta harapan dari orang tuanya, pasangan Sri Murti dan Suwijo yang menganugerahkan doa dalam sebuah nama Joko Susanto Noto Negoro.
”cah bagus kowe iki pangarepane bapak lan ibumu, muga-muga kowe dadi bocah sing migunani kanggo keluarga, agama, nusa, lan bangsa.”
“mari kita lanjutkan dengan reding text yang dimulai dari… penulisnya sendiri!”
Begitu seterusnya sampai pada kesempatan untuk mengomentari cerpen tersebut, aku semakin merasa mengecil bagai semut ketika Mas Ulin baru mengucap kata ”emmm… kalau menurut ku…” setelah sebelumnya hening sekitar lima menitan mas ulin pun tak bias menahan lagi, dengan sopan mwngomentari cerpenku, manum kesopanan itu ku rasa sangat pedas, lebih pedas dari pada arem-arem berisi cabai rawit yang kumakan tadi malam. Rasanya pengen melompat melewati genting dan terbang menuju langit lepas untuk mengambil titik-titik air dalam gumpalan awan untuk membasuh pikiranku.
Selesai dari pertemuan itu aku mulai introspeksi diri dan berusaha menciptakan karya-karya yang lebih baik lagi sampai sekarang ini. Benar kata Mbak Seli aku ingin menulis sampai nafas terakhirku.
Cerpen dari hasil bedah cerpen, oleh Mang Gugun nama pena dari Muharram Adruce Noor, difisi Fiksi FLP Cabang Pati periode 2011-2013.
panen kata: Mang Gugun
Terik sang surya yang mencoba menusuk-nusuk jaket yang melekat pada tubuhku yang terhempas jutaan kubik udara secara berlawanan arah, berangkat dari sebuah gubuk kecil menuju tempat dimana disana berkumpulah orang-orang yang hobi dan hoki menulis. FLP Pati ( Forum Lingkar Pena ) cabang Pati, sebuah forum kepenulisan yang ada di kabupaten Pati. Dari forum tersebut aku menjadi penasaran dan terus mencoba mempertontonkan tarian pena baruku di dalam kertas untuk mendramatisasi kehidupan.
Aku sendiri masih terlalu balita dalam hal kepenulisan sastra baaik fiksi maupun non fiksi, masih sedikit karya yang kini ku buat , awalnya mencoba-coba, “ sepertinya dibalik kertas ketikan itu ada kertas kosong!”. Aku tak tahu dan belum tahu apakah ini benar atau salah!” yang jelas aku sudah mulai bisa menulis. Kususun lagi paragrap demi paragrap hingga menghabiskan detak demi detak jam dinding kamarku dan sudah satu halaman kertas HVS ku tulis. Tapi, apakah ini yang dinamakan cerita pendek? Aku jarang sekali membaca cerpen karya-karya cerpenis yang sudah terkenal, atau sekedar membaca tentang cerpen di perpustakaan sekolah pun urung aku lakukan, waktuku terbuang untuk bermain dengan remaja seusiaku yang tak pernah ada dalam benak mereka untuk sekedar meluangkan detik waktunya menulis hal hal penting yang di alami pada hari tersebut.
Berminggu-minggu aku di ajak oleh Mbak Seli, pengalaman yang sungguh membuat aku menyesal dengan hari hariku sebelum hari ini, aku mulai membaca karya-karya dari teman-teman FLP Pati yang sekaligus itu menjadi inspirasi bagiku, Mas Barok selalu mengajariku banyak hal tentang menulis.
***
Beberapa jam sebelum kejadian itu. Ku tulis cerpen yang mungkin bukan pertama bagiku, tapi inilah karyaku yang pertama yang di bedah, judulnya “Fajar yang Berarti”. Lagi-lagi aku tinggal menulis saja apa yang ada di dalam kepalaku, sampai kotak ide di otakku pun kosong, Setelah itu aku mulai kurang semangat rasanya tak ada ide.
Perut ini terasa lapar malam itu, aku cari-cari makanan di pawon, ternyata tidak ada, di kulkas, juga tidak ada “hanya bongkahan es batu yang mengeras bagaikan inspirasiku yang semakin membeku”, tempat terakhir sebagai harapanku adalah di Rak makan, Alhamdulillah ku temukan juga makanan sebagai penganjal perutku malam itu, walau hanya tiga potong ketela rebus yang dimasak ibuku tadi sore, ku temukan lagi arem-arem yang masih hangat, kumakan saja dengan lahapnya, “satu gigit, dua gigit, tiga gigit……uuuh enaknya. Pada gigitan ke empat aku terkejut…rasa pedas menyerang tengorokanku, uuh pedas…….cabai rawit terselip diantara nikmatnya arem-arem itu. Aku pun lari tungganag-langgang dari kursi tempatku menikmati arem-arem tersebut, menuju kulkas, ku ambil morong yang terisi air yang suhunya sangat dingin, tanpa gelas akupun meminumnya. “masih…!”…uuuh pedas. Tiba tiba saja perutku bergejolak, sepertinya akan sakit, hehehehe…
Aku pun berlari menuju kamar mandi, capek rasannya bolak-balik di kamar mandi. Setelah agak lumayan sembuh, aku kembali ke meja belajar, ku lanjutkan tulisanku yang sempat terhenti, “oh tidak…” teapt di sebelah kiri nama penaku tai cicak hitam putih jatuh dari atap, “pertanda apa kah ini?” Dalam hatiku sudah tak enak, pasti akan terjadi sesuatu terhadap karya yang selalu di minta Mas Barok ini untuk di bedah esok saat “TELA BAKAR”(temu Latihan Bahas Karya) yang kebetulan besok siang di rumahku.
Sesegera ku sms dan meminta mbak seli untuk merentalkan karyaku tersebut, dan besok akan ku perbanyak untuk di bedah. Karena malam telah pekat, sunyi yang membelenggu gelap dengan suasana yang semakin dingin pun ku rasakan, aku pun menghentikan semua aktifitsaku dan berbaring di ranjangku kembali, berharap akan datangnya mimpi yang baik tentang bedah cerpen pertamaku ini. Akupun tak lupa berdoa pada sangh raja inspirasi, semoga besok adalah hari keberuntunganku.
***
Sekitar pukul 09.00 WIB semua persiapanku telah selesai, aku dan mbak seli pun beristirahat sebentar di tikar, kelihatannya dia sangat capek dengan semua persiapan ini, ku ambilkan segelas teh untuknya, dia pun menghabiskan seketika teh tersebut.
“capek ya mabk?” sembari ku minta gelas kosong dari tangannya.
“ah, nggak kok dek, sudah kamu sms semua temen-temen FLP?”
“tadi aku sudah sms mas Barok mbak, mas Ulin katanya juga akan dating, tapi aku kok deg-degan ya mbak?”
“tidak apa-apa dek, aku dulu juga seperti itu.”
“ lihat deh mbak, salah ketik semua, paragrafnya juga rancau kelihatanya mabk, nggak nyambung lagi!”
“nggak apa lah, siapin mentalmu aja, ntar kalo dikritik mas Ulin jangan marah ya, demi kebaikanmu kok, dia itu kritis banget, peka banget, dan pinter ngomong soal sastra!”
“iya mbak, kemarin waktu pertemuan minggu kemarin saja karya yang udah bagus, udah perfect aja dikritisi habis-habisan apa lagi punyaku ini mbak?”
“ positif thinking aja deh dek!”
“sana mandi dulu, nggak usah dipikirin yang lain-lain, lihat badanmu kotor semua!”
“oke deh mabk!”
***
Tiba saatnya pertemuan FLP Pati di rumahku dengan agenda TELA BAKAR karyaku, awalnya sangat senang tapi juga cemas, sekitar pukul 11.00 WIB acara dimulai, yang hadir hanya Aku, Mas Barok, Mas Ulin, dan Mbak Seli. Tak apa lah, yang penting ada mas Ulin. Acara pun dibuka oleh Mas Barok.
“ assalamualaikum warohmatullhi wabarokatu, alhamdulillahrabbil alamin, wabiinastain wa ala umuridunia wad din ama baatz, marilah kitasemua panjatkan puji syukur kepada Allah SWT karena pada kesempatan kali ini kita dapat berkumpul kembali dalam acara Temu Latihan Bahas Karya yang akan membedah cerpen milik Mang Gugun yang berjudul Fajar yang Berarti.se3belumnua marilah kita awali dengan bacaan basmalah bersama-sama.
“bismillahirahmanirahim…”
“Berikutnya langsung saja bedah karya yang dipimpin oleh mas Ulin. “
“assalamualaikum warohmatullahi wabarokatu, untuk mengawali bedah karya sebaiknya kita dengarkan secara singkat pokok atau resensi dalam cerpen yang berjudul Fajar yang Berarti oleh penulisnya.” Suara Mas Ulin yang begitu mencekam membuat tubuh ku sedikit gemetaran, akupun menjelaskan sedikit tentang cerpen yang ku buat.
Fajar yang Berarti
Oleh :Mang Gugun
Dari seuah kehidupan yang sederhana, seorang anak terlair kedalalam dunia ini dengan sejuta harapan dari orang tuanya, pasangan Sri Murti dan Suwijo yang menganugerahkan doa dalam sebuah nama Joko Susanto Noto Negoro.
”cah bagus kowe iki pangarepane bapak lan ibumu, muga-muga kowe dadi bocah sing migunani kanggo keluarga, agama, nusa, lan bangsa.”
“mari kita lanjutkan dengan reding text yang dimulai dari… penulisnya sendiri!”
Begitu seterusnya sampai pada kesempatan untuk mengomentari cerpen tersebut, aku semakin merasa mengecil bagai semut ketika Mas Ulin baru mengucap kata ”emmm… kalau menurut ku…” setelah sebelumnya hening sekitar lima menitan mas ulin pun tak bias menahan lagi, dengan sopan mwngomentari cerpenku, manum kesopanan itu ku rasa sangat pedas, lebih pedas dari pada arem-arem berisi cabai rawit yang kumakan tadi malam. Rasanya pengen melompat melewati genting dan terbang menuju langit lepas untuk mengambil titik-titik air dalam gumpalan awan untuk membasuh pikiranku.
Selesai dari pertemuan itu aku mulai introspeksi diri dan berusaha menciptakan karya-karya yang lebih baik lagi sampai sekarang ini. Benar kata Mbak Seli aku ingin menulis sampai nafas terakhirku.
Cerpen dari hasil bedah cerpen, oleh Mang Gugun nama pena dari Muharram Adruce Noor, difisi Fiksi FLP Cabang Pati periode 2011-2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar