GUA HARAM
OLEH : MANG GUGUN
Gemuruh langkah kaki ku dengar dari balik kulit dan ari-ari yang sampai saat ini membuatku bertahan hidup dalam dunia yang sempit. Teriakan-teriakan itu semakin jelas dan membuatku marah besar, tapi itu akan menambah derita ibu yang telah manangis darah. Mungkin ibu belum tahu bahwa aku sudah tahu apa yang telah terjadi didunia lain dari duniaku.
Gubuk reot yang ditempati nenek dan ibuku yang terbuat dari bambu pun siap mengahanguskan kami, jika dalam hitungan kesepuluh dari teriakan langkah kaki yang kudengar. Kami belum keluar juga, tangis dari ibu dan nenek pun semakin kudengar mengeras seperti hatinya, disaat yang bersamaan suara lelaki tua yang lantang menghentikan kegaduhan dan mengembalikan kesunyian malam. Akupun kembali tenang dan tak menendang-nendang perut ibuku lagi.
“Niken….. metu, minggat o seko kampong iki, usir…!, iyo usir…! Syara teriakan secara bersamaan menghancurkan lagi kesunyian malam itu.
Tenang-tenang, sedoyo rencang-rencang, nopo rencang-rencang mboten gadah welas asih , Niken lan mbok Marni neng njero ngantos nangis, mung tiang kalih sedoyonipun tiang estri, nopo atine panjenengan sampun mboten wonten? Sampun-sampun, sumonggo dipungkasani masalah niki kanti ati kang adem. niken nggih mbotem purun ngalami kedaden kaya niki.
Itulah sedikit kata yang kudengar. Setelah itu keadaan menjadi hening, aku anak yang tidak diharapkan, tidak diimpikan, tidak seharusnya ada diperut ibuku sekarang. Sembilan bulan yang lalu aku masih ada di dunia arwah, bersama calon bayi yang lain, menanti giliran untuk masuk kedalam raga yang tersusun dari segumpal darah, segumpal daging, dan segumpal zat yang mengeras seperi batu (tulang). Sistem yang sangat canggih, teratur, rapi dan maha dashyat lah yang mengatur semua hidup dan kehidupan.
Sembilan bulan yang lalu, Niken ibuku dilamar oleh orang yang sangat dia cintai, pemuda yang fasih menerangkan kitab yang selelu ia pegang setiap harinya, disegani diantara pesohor umatnya. Namun kejadian tak terduga menimpa ayah yang biadab dan ibu yang lemah, setan telah membantu membuat dan memproses calon ragaku, hingga empat bulan aku dikirim oleh system masuk ke raga yang hina itu.
Setelah ketahuan menghamili ibu tanpa ikatan yang sah, ayah dihukum adat yang ada di kampung. Ditelanjangi diarak keliling kampung dan dengan sadisnya dicambuk besi, dicambuk rantai, api yang panas menghancurkan tubuhnya. Rasa kesakitan dan jeritpun membelah keheningan kampung itu.
Ibu yang tak kuasa menemani ayah pingsan berkali-kali, hingga sampailah ibu di tempat pembakaran ayah yang telah disiapkan warga kampung sebelumnya, kakek dan nenek dari ayah, nenek dari ibu, serta ibu menyaksikan betapa kejamnya hukum adat yang menghanguskan ayah hingga menjadi debu. Setelah api hampir padam, dan jeritan itu tak terdengar lagi, bau dari jasad manusia yang terbakar, tumbukan kayu kembali dilemparkan pada kobaran api. Selanjutnya kakek dan nenek dari ayah, ikut masuk hidup-hidup kedalam api itu.
Sekali lagi itulah kejamnya adat di kampung. Tradisi demi nama baik keluarga di kampung yang menghidupi ibu hingga berdiri di depan debu ayah. Aku selalu bertanya Tanya, kapan aku akn keluar dari dunia yang sempit ini. Agar aku bias membalaskan semua kekejaman yang mereka lakukan.
Ribuan orang mulai meninggalkan tempat ini, hanya tinggallah aku, ibu, dan nenekku yang semakin menciut hatinya. Yang terjadi hanyalah diam, hening dan rasa tak percaya.
“mak, ken ewes rak due panggonan nggu ngeub, terus arep nang ndi mak? Ucap ibu dengan bibir kaku dan masih gemetaran yang ku dengar dari balik kulit perut ibuku.
“wes, tinggalno wae kampong iki nduk, ayo ndang lunggo, gelak masyarakan berubah pikiran ngobong kene urip-urip.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar