Rabu, 23 Mei 2012

cerpen 8

Bakaran
Buah pena : Mang Gugun


Ribuan pasang kelopak mata tertuju pada orang yang ada di televisi dengan kebahagiaan yang terpancar  dalam raut wajah kedua mempelai yang sedang melaksanakan akat nikah, “untung banget pasangan nganten iku, dino sakrale di ngeti wong sak ndonyo. Yo wajar lan pantes wae lah, wong keturunan  teko keraton Jogjakarta”  dari Bumi Bakaran seorang pemuda bernama Suro sedang melamun di pawon dekat tempat pembuatan batik. Beberapa senja berlalu mbaknya dilamar orang.
Sur, mbak arep ados dipik, tulong motif batike mbak diteruske.” Suara itu serentak memecah lamunan Suro yang sedang membayangkan dia adalah laki-laki yang berasal dari keluarga keraton dan sedang melakukuan akat nikah.
“ iyo mbak,” bergegas  ia duduk di depan kain yang masih suci, ia lukis harapan dan impian masa depan. Kain tersebut akan ia kenakan saat pernikahan mbaknya yang tinggal menghitung hari saja.
“bar mbak ados, ngko terno mbak nggu tuku pewarna yo sur!”
“menisan ngko mbak, jarene make kain ning pawon yo wes ntek kok.” Jawabnya sembari ia sedang membatik.
Suro adalah pemuda desa yang tampan, berkulit putih, berbadan tinggi dan tegap, serta agak mirip orang bule. Tak ada seorang wanita pun yang akan menolaknya jika ia menyatakan cinta, tapi semua berlwanan. Tak pernah ia sekalipun berkata cinta, tak seperti teman-teman sebayana yang gonta-ganti cinta, sejak SD, SMP, SMA, maupun mahasiswa, tak pernah ia jatuh cinta sekalipun. pemuda yang terkenal pendiam namun ramah ini menjadi kumbang Desa. Sehari-hari selepas ia merampungkan Kuliah D3 jurusan Bahasa dan Sastra Jawanya ia menunggui Galeri Batik milik bapaknya yang berada di tengah-tengah Pasar Selok. Sembari ia cuti kuliah karen keterbatasan biaya, ia bekerja di pabrik terasi milik pamannya.  Dengan tak kenal lelah malam harinya ia merampungkan kain batik untuk Pernikahan mbaknya dan membuat  motif baru yang akan ia coretkan pada kafan.
Bakat dan ketrampilannya menjahit juga tak diragukan lagi,  semua telah terwariskan secara turun temurun mulai dari Simbah, Bapaknya, Mbaknya sampai pada Suro. Di tanah kelahirranya ini lah dia belajar mengenai tata kehidupn dan mengasah semua keahliannya.
Akat Nikah pun akan segera di laksanakan, Suro bersama keluarga yang lain sibuk mengedarkan wewehan dan undangan kepada saudara dan tetangga sedesa. Tetangga-tetangga Suro pun berdatangan untuk ngalong di rumah, setelah nasi di dang, rempah di masak, ikan-ikan dan lauk sudah siap, semuanya di masukkan dalam satu wadah,” besek”, suasana rame yang berasal dari ibu-ibu yang ngalong sekaligus ngrumpi  pun menjadi ciri sendiri di desa yang sudah sejak lama terjadi sperti ini. Besek demi besek yang di apitnya di atas motor melalang buana menyusuri RT demi RT.  Rasa lelah terhapus demi kebahagiaan mbak yang selalu membuatnya tersenyum, melihat suro istirahat mbak suro pun duduk di smpingnya sembari berkata “ Sur-Sur, kapan koe seneng wong wadon?” Suro hanya tertawa ringa saat mbaknya itu terus mengodanya. “ mbuh mbak mbuh, ora ngerti opo iku tersno, ora  ono wong seng tak tersnani kok.”
“eh, hehehe... kapan nyusul mbak sur?” ini adalah satu-satunya petanyaan yang tak bisa ia jawab jika mengingat kepandain suro mencari alasan.
“kapan-kapan ah mbak, nglumpukno duit pek, jen iso koyok calon bojone mbak.”
“alasan kok ngono itu terus, ora kreatif kue sur,  e mbok deleng awkmu iku, mbarek-mbarek kok ra payu...!”
“e, ngenyek wong... deleng wingi, anake pak inggi nalamar aku reti gag kue mbak,hehehehe”
“ yo yo sur... teros kok mbok tolak lapo??? Itung jal, wong piro seng nglamar kue wes?
“Yo wes lah mbak, njaluke mbak pie saiki ?” Tanya Suro yang pasang muka murung tiap ditanya soal cinta mbaknya, yang membuat tidak teg juga jika melihatnya.
bar aku nikah tak kei wektu 3 sasi nggu luru calon bojo mu?”
“he??? Calon bojo, moh...ora sanggup aku mbak!”
“ yo sah, minimal pacar, gowo marak umak rene kudune, kenalnu aku”
“oke mbak, tak usahak ke, surpres pokoke...!”
Setelah selesai berbincang-bincang dengan mbak tercintanya, Suro pun kembali melanjutkan wewehnya yang tadi tertunda istirahat dan makan siang, sementara itu mbaknya Suro kembali ke kamar untuk istirahat.
“ayo kang mangkat... terakher iki, RT 7!”
Kehangatan suasna kakak adik yang terjalin hampir duapuluh delapan tahun ini membuat keluarga kecil Suro bahagia, kini kakak semata wayangnya harus pelan-pelan ia ikhlas kan menjadi milik orang lain.
βββ
Pagi buta ketika langit masih tampak kemerah merahan, dan suara kokok ayam yang sahut menyahut, di dalam rumah seketika terpecah oleh kesibukan persiapan pernikahan nanti siang,  mbak nya suro pun kelihatan bahagia, tak sabar ingin bertemu orang yang paling di sayang setelah tiga hari memang tidak di perbolehkan bertemu. Tetangga mulai berdatangan membantu mempersiapkan acara,  perias nganten  yang kebetulan adalah tetangga sendiri pun telah mempersiapkan segala sesutunya. Sound system telah terpasang rapi, istana sehari pun terhias dengan janur-janur yang masih tampak basah, kursi-kursi yang sedemikian rupa dengan ornamen khas istana pernikahan dengan warna padu membuat senyum Suro semakin melebar.
Terlihat Suro mondar-mandir lewat kamar rias dari mbaknya akhirnya ia di panggil oleh mbaknya.
“Sur-Sur, mbak deg-degan iki kepiye,  hehehe!”
“Oralah ngiming-ngimingi aku mbak, aku yo iso sok mben,eh mbak tak tingal dipik yo, ndang ados, jam wolu ning KUA, iku mas Andika wes teko marani kue mbak!”
kereta kencana warna putih pun dengan hiasan bungga di depan lampu dan janur di sela-selanya telah terparkir di depan lorong jalan rumah Suro, menanti pasangan muda mudi yang berniat dan berhajat baik hari itu. Selang beberapa waktu kedua Raja dan Ratu sehari pun masuk didalamnya, tampak dari dalam kaca berfilm tetangga-tetangga mengantar  dari pinggir jalan sembari melambaikan tanganya mengantar perjalanan yang bahagia.
Akat nikah di laksanakan di Masjid Besar Juwana dengan dihadiri oleh beberapa tetangga dan wali dari masing-masing mempelai, suasana hening ketika prosesi Ijab kabul di mulai. Mempelai laki-laki berjabat tangan dengan gemetaran dengan ayah Suro.
“Saya nikahkan dan kawinkan anak saya yang bernama Laida Niswana Wijayanti bin Surtoyo  dengan Andika Prastyo bin Agus beserta mas kawin emas seberat 5 gram dan uang tunai sebesar Sebelas Ribu Seratus Sebelas Rupiah dibayar tunai.”
“saya terima nikah dan kawinnya Laida Niswana Wijayanti bin Surtoyo  dengan  saya Andika Prastyo bin Agus dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
“bagaimana saksi, apakah sah ?”
“ sah...!”
“Alhamdulullahirabbil alamin,  baraukallah waminal rizki........”al fatehah!
Sebagai tanda bhakti pertama kepada Suaminya, mbak Laida mencium tangan dari Suaminya, begtu pula mas Andika mencium pipi kanan dan kiri serta kening dari mbak Laida.
Surat pernikahan secara agama dan hukum negara pun telah disahkan pada hari itu juga. Jumat, 11 November 2011. Kini keluarga baru pun telah lahir pada hari yang terbilang hari cantik dan ostimewa tentunyat. Putaran demi putaran roda dari kereta kencana pun menuju istana nan megah di rumah, disana tengah menunggu prajurit-prajurit pengawal raja dan ratu sehari dengan busana khas Jawa yang terbalut rapi nan elegan tanpa meningalkan kesederhanaan.
Acara reepsi pun di gelar, dengan adat Jawa kental dan masih tradisional, kedua mempelai yang duduk berdampingan dengan di temani oleh putri domas yang cantik-cantik pun sudah siap dengan serangkaian acaranya, alunan gamelan dan suara dari pembawa acara dalam pernikahan pun menyelesaikan satu demi satu prosesi yang sudah menjadi tradisi, tapi ada satu hal yang berbeda di Desa yang di tempati Suro ini, adat setempat menganjurkan pasangan pengantin yang dari atau keturunan Desa trsebut harus mengelilingi Punden dengan mengenakan baju pengantin, dengan maksud memint doa restu kepada sesepuh Desa.
Detik telah memutar bumi ini hingga tak terasa senja yang indah pun hadir kembali. Dari ufuk barat sampai ufuk timur terukir sejarah perjalanan baru kehidupan dua sejoli. Sementara tamu undangan dan tetangga-tetangga  masih banyak yang berdatngan dengan menbawa amplop yang berisi uang atau yang sering disebut Buoh, Suro menyandarkan sejenak kepalanya, berfikir dalam-dalam kapan ia bisa seperti mbaknya.
Janji adalah janji,  janji harus di tepati, usia Suro yang sudah dua puluh delapan tahun haruslah ia pikirkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar