Rabu, 23 Mei 2012

Dalam Diam Ku batin

Dalam Diam Ku batin

Ruang ujian masih tampak terkunci rapat
dengan gembok yang tampak kokoh
seketika pertanda bel di mulainya ukk berbunyi
deeeeet………
Pengawaspun berbondong bonding masuk ruangan
Masuk , masuk dan masuk
Seketika duduk dan tetaplah duduk tenang

Tergenggam kuat sebuah bolpoin dan kawan-kawannya
Soalpun kini tepat di depan mata
Siapkah aku melumpuhkannya???
Kusiapkan senjataku dan berdoa pada pencipta

Diam , diam dan diam
Semua menjadi patung bisu dalam ruang kesunyian
Hanya sesekali terdengar ocehan teman
Yang tak tahan dengan kediaman dan ketenangan

Lalu ku amati kawan-kawanku yang sedang perang
Di sebelahku tampak menundukkan kepala
Ku kira berdoa lagi , ternyata membuka pintu kecurangan
Di depan mejaku tangannya selalu dibawah
Ku kira panuan , ternyata asyik nyontek lewat HP

Ku pandang tepat dibawah gambar presiden
Tampak pengawas memperhatikanku dengan tajam
Di sebelahnya lagi terlihat sibuk sendiri membaca majalah

Kecurangan demi kecurangan ku temui
Kasihan , jika ku lihat dibelakangku itu
Mengerjakan soal dengan sungguh-sungguh
Berharap jadi nomor satu
Dengan segala daya dan usahanya
Adilkah ini???
Anda penentunya!!!

                            OLEH: MUHARRAM

Karena merapi

Karena merapi

Pagi ini aku menangis
Disekitar rumahku porak poranda
Bunga mawarku berselimut debu panas
Apa yang terjadi dengan kampungku tercinta

Sejauh mataku memandang
Sejauh itu pula air mataku menetes
Menjerit sekuat tenagaku
Ketika ku ketahui petaka ini
Ayah ibu pergi bersama merapi

Ya allah cobaan apa yang kau beri
Kuatkah diriku menerima semua ini
Badanku melemas di barak pengungsian
Aku masih hening terdiam terpaku
Belum mampu berkata kata

Melalui puisi ini aku bercerita
Dengarkan lah sahabat negriku
Perasaanku saat ini  seperti mati
Semangatku kemarin berbeda dengan esok
Namun aku tak boleh berhenti
                    Oleh: Muharram

manisw


MANISW

KAU TEMUKANKU DALAM KETERPURUKAN
TAWAMU MULAI MERASUKI TUBUHKU
 MEMBUATKU MERINDUKAN AKAN HADIRMU
MENGAPA SLALU AKU MEMIKIRKANMU

TAK PERNAH SEDIKITPUN TERLINTAS DALAM BENAKKU
TATAP MATAMU MEMBEKAS LAMA DI HATI YANG PILU
AKU HARUS JUJUR TENTANG SESUATU
AKU MULAI JATUH HATI PADAMU

BERAWAL DARI PERTEMUANKU DARI TEMAN MU
YANG SEBELUMNYA ADA RASAKU PADANYA
KAU MULAI MENGISI HARI HARIKU
KAU MANISW YANG KAN KU JAGA

TEMPATMU TERINDAH DI JIWA TERDALAM DI HATI
 TAK KAN KU BUAT SESUATU YANG MEMBUATMU MENANGIS
KARENA KAU TLAH MEMBUAT KU TERTAWA
KAU JAGA HATIKU KU JAGA HATIMU
SEMOGA TUHAN MEMBERI KITA JALAN YANG INDAH

BUAH PENA :MANISW

puisi indah

Impian Butin (Buruh Tinta)
Mang Gugun

Dengan tinta ku terlahir di Mata
Dengan tinta raga ini Hidup
Dengan tinta jiwa ini Menyala
Dengan tinta ku mulai seperti Penguasa
Dengan tinta ku sebar virus di Dunia
Dengan tinta ku gapai Impian
Dengan tinta ku bisa Makan
Dengan tinta ku ciptaIindah
Dengan tinta ku temui Damai
Dengan tinta ku nyatakan Rasa
Dengan tinta ku sapa Tuhan
Dengan tinta ku tulis Bahasa
Dengan tinta ku kabarkan Dunia
Dengan tinta ku satukan Perbedaan
Dengan tinta ku padamkan Api
Dengan tinta ku ciptakan Samudra
Dengan tinta ku bebas Berkata
Dengan tinta tak ada lagi Penjara
Dengan tinta  mulai Menua
Dengan tinta, ku telah Tiada
Dengan tinta tertulis Nisan
Dengan tinta nama ku Terjaga
Dengan tinta lenyaplah Kata
Dengan tinta tamatlah Drama
Wedarijaksa, 01 Juli 2010













Cerita Hidup si Poi
Mang Gugun

Dunia
Dunia, bolehkah ku bertanya
Dunia, pernah kau melihat ku?
Dunia, aku terlahir dalam gerobak sampah
Dunia, pernah kau dengar tangis jerit ku?
Dunia, haruskah ku percaya takdir?
Dunia, kau kejam padaku
Dunia, kenapa tawa ku tak pernah selepas mereka?
Dunia, nafasku adalah derita
Dunia?
Dunia…?

Dunia
Dunia, tidakkah kau mau berkata sedikitpun?
Dunia, dengarkan senja berbicara
Dunia, hanya dia yang temani ku dalam sengsara

Dunia
Dunia, ku juga ingin seperti mereka!
Dunia, ku ingin seragam itu membungkus kebodohanku
Dunia, ku juga ingin masa depan yang cerah
Dunia, apakah kau tahu apa cita-citaku?
Dunia, kata rambu-rambu lalu lintas aku harus jadi presiden!
Dunia, ku kais kepingan logam dari balik kaca berjalan
Dunia, ku punguti sampah ibukota

Dunia
Dunia, ku kabarkan keluh kesaku
Dunia, lihat mereka!
Dunia, mengapa mereka tertawa
Dunia, mereka menggusur kardusku
Dunia, mereka semena-mena
Dunia, apa lagi yang kucari?
Dunia, ku mulai tak bedaya
Dunia, ku tak mau sandiwara
Dunia,  tunjukkan keadilanmu
Dunia, bukan seperti ini
Dunia membawa senja pergi dari ubun-ubunku
Wedarijaksa, 01 Juli 2010
Mang Gugun adalah nama pena dari Muharram Adruce Noor siswa kelas XII IPS 3 SMA Negeri 1 Juwana yang beralamatkan di Ds. Bangsal Rejo 05/01, Wedarijaksa, Pati, Jawa Tengah




Tugu Tani

Tugu Tani

Petani Indonesia, 2012

Surya mulai menyerang dinding malam yang dingin
Membangunkan pengkokok dari jerami kegelapan
Menyuarakan aungan pertanda sang pembajak sudah harus ada di garis start
Turun keladang untuk membelainya
semangat muncul dari hati yang terasa masih sunyi
Membawa sepucuk angan dan mimpi
Memendam kerinduan pada kejayaan

Sinarnya memerah mewarnai atap bumi
Cangkul mulai diturunkan dari pundak perkasa
Crok…crok…crok…
Suara berirama indah yang menyulap rerumputan menjadi parit kecil
Sang pembawa berkah mengalir melunakkan keras kepalanya tanah lahan
Luka hari kemarin akan terbayar
Luka hati kemarin adalah kenangan
ketika mata hanya memandang hijaunya daun padi dan kuningnya gabah tua
di sepanjang pematang tampak senyum kegembiraan
panen raya 2012, meninggalkan puso tahun kemarin

petani Indonesia, 2112

fajar masih menjadi saksi bisu
lahan yang dulu hijau nan permai
kini berubah jadi pemukiman tempat anak cucu adam bertahan
tinggallah sebuah tugu yang bertahan
tugu Tani tua  yang hampir roboh
sejarah peradaban pertanian masa lampau penuh kejayaan
yang kini Tugu tinggallah Tugu
cerita tentang hijaunya daun padi hanya tergambar buram dalam relief

tak ada lagi ayah yang mengajak anak putranya pergi ke ladang
tak ada lagi ibu yang menggandeng putrinya mengantarkan rantang

kini hanya ada ayah yang mengajak anaknya ke pelabuhan
menanti padi dari negeri seberang datang
dan ibu yang duduk manis bersama putrinya di teras
menunggu ayah pulang

Tugu Tani, sejarah kejayaan petani Indonesia

Dikarang oleh Mang Gugun nama pena dari Muharram Adruce Noor, siswa SMA Negeri 1 juwana, Pati, Jawa Tengah, kelas XII IPS 3. Pemimpin redaksi Majalah Sekolah “ANTENA”. Dengan email :adrucenoor@yahoo.com/fb : muharram adruce noor. No HP : 089636441300








jargon smanju

SMA Negeri  1 Juwana

Siapkan dirimu menuju cita-cita
Majukan negerimu banggakan sekolahmu
Acungkan  jempol bagi yang masih berusaha

Negara ini butuh kita kawan
Engkaulah harapan masa depan
Genggam tangamu saudara sudaraku
Embun kan slalu sejukkan kita
Raptkan barisan dan katakanlah
Ini lah aku anak garuda juwana

1    kan tekat demi satu hakikat

Junjung tinggi kehormatanmu
Unggulkan pribadimu dengan prestasi
Wujudkan impianmu dalam tekat bersatu
Angkat topimu untuk kawan yang telah berprestasi
Nan bahagia bila engkau berusaha
Arahkan perhatianmu pada Negara, buat smanju bangga   


                OLEH : MUHARRAM

cerpenn

UCUN
By : Mang Gugun
    Detak jam terus menggelincir dari kiri ke kanan. Sang surya punpelanpelan naik satu tangga lebih tinggi di balik genting dan eternit. Siswa SMA N 1 Juwana sedang sibuk sendiri menghadapi kertas yang tertuliskan angka dan huruf yang berada di atas meja jati kokoh.
    Sunyi pun berlarut – larut menjadi sebuah suasana yang mencekam. Penuh rasa ketakutan, kegelisahan, dan prustasi, ketika satu soal saja tak berhasil ditaklukkan, apalagi jika teman soal yang lain pun tak mau mengalah untuk ditaklukkan.
    Terlihat hanya tangan – tangan yang sibuk ke sana ke mari. Sebentar – sebentar menari narikan pensilya, sebentar – sebentar dijatuhkan ke bawah dan tanpa disadari HP sudah ada digenggaman. Wajah cukup berkeringat, HP pun gemetaran seiring dengan tubuh yang entah mengapa juga gemetaran. Soal itu mungkin lebih serem dari ketika bertemu dengan setan,hantu dedemit, kuntilanak,ataupun makhluk halus yang lain.
    Ketika kepala mulai berputar dri peredarannya, pengawaspun menjadi sasaran utama tajamnya mata. Lirikan tajam pun diarahkan padaku,sambil berbisik sangat pelan,lebih pelan dari bunyi kentut yang ditahan
    “ Ssst... heh.. udah apa belum? Nomor 12? Cepat! ” seperti menodong seorang wanita lemah yang berjalan di gang yang sepi membawa uang yang sangat banyak. Ia sapa lagi dengan nada sedikit keras dari sebelumnya.
    “ Ssst... kamu dengar gak sih? Nomor 12? “ aku masih saja terdiam sembari menyusun angka – angka yang sedari tadi membuat kepalaku mumet.
    “ Whoy...! “ akhirnya ia berteriak kepadaku setalah beberapa kali tak ku hiraukan,  dan sontak sunyi pun pecah seperti gelas kaca tipis yang diisi air panas. Pengawas pun mulai menumjukkan taringnya. Mencoba meredam suara – suara tak penting yang akan mengganggu tidurnya.
    Sunyi kembali hadir dalam ruangan berukuran 100 m^2 ini, hanya desisan kipas angin tua yang terdenar sedari jam pertama dimulai prosesi UCUN. Angin semilir dari sebelah sawah pun pelan – pelan mengetuk pintu dan memasuki ruangan. Sejenak menggerakkan kertas – kertas soal yang sulit ditakklikkan.
    Dibalik kaca transparan ruang kelas kulihat sejenak hijaunya taman depan ruangan, mengalihkan sejenak pandangan pada dedaunan yang menhijau, berniat menyagarkan kembali otak kecil.
    Komat kamit dari salah satu seorang peserta UCUN di ruanganku tak luput menjadi perhatianku, “ Membaca soal, berdoa, atau membaca mantra? ” dalam benakku tertawa kecil di pojok
    Sejam berlalu baru satu soal yang berhasil aku jatuhkan K.O, sungguh ironi perjuanganku berangkat pagi pulang dini hari,seperti tiada guna, sempat berfikir dari lamunanku, sementara yang lain sibuk mengawasi pengawas yang kadang ketat kadang juga tidur.
    Tak terasa bel kurang lima menit membisingkan telinga danhati menjadi semakin resah. Lima puluh soal baru kuisi delapan soal, apa yang terjadi.
    Tanpa kusadari satu kelas berteriak “ JURUSSS!!!”, membangunkan pengawas yang kelihatan maupun yang tidak.

Cerita cinta UCUN. 27 maret 2012
Di ruangan eksekusi penuh
misteri SMA Negeri 1 Juwana

Mengheningkan Ciptalah PANCASILA

Mengheningkan Ciptalah PANCASILA

Pancasila dasar negriku
Rakyat adil makmur sentosa
Pribadi bangsaku
Ayo maju maju
Ayo maju maju……….

Sebuah lagu tentang pancasila
Yang kini hampir telah kita lupa
Kata para pejuang pancasila dasar Negara
Kata para pemenang pancasila pribadi bangsaku

Tapi apa yang terjadi???
Tapi apa yang kita lihat kini

Marilah sejenak merenungkan diri
Apakah perbuatan kita sudah seperti pancasila
Kurasa mustahil
Generasi penerus bangsa tanpa tatanan
Yang mengharapkan tahta dan kejayaan

Kata Bung Karno “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”
Tapi tampaknya kita acuh taj acuh dengan itu
Semangat orang-orang yang sadar
Terkalahkan oleh jutaan hati yang semakin pudar
Mereka anggap kami orang gila
Sedangkan mereka orang waras

Katakan ayo maju maju
Ayo maju maju………..
Mari warga SMANJU yang berilmu
Tunjukkan bahwa kau setuju
Pancasila dasar Negaramu

                                                                           OLEH : MUHARRAM

senja

Senja jangan Pergi

Aku takut
Senjaku hilang karena kata kata
Aku tak mau senjaku pergi
Ketika aku baru dating dan mencari
Aku takut kehilangan senja
Ketika gelap mulai menyapa

Semua yang kurasa menguras habis hatiku
Mengapa seluruh fikiranku di kuasai senja

Setiap mentari mulai condong
Kucari keindahan senjaku
Setiap sore kupandangi senja di kaki langit yang memerah
Tanpa terasa senja pun menghantui
Hari hariku gelap malmku dan cerah pagiku

Senja jangan pergi
Aku hanya takut esokku tak kan melihatmu
lagi

                                                                                             Oleh :Mang Gugun

Selamat Pagi Senja

Mata mata mulai mencari
Jiwa jiwa yang ku dapati
Hati hati ini serasa berdiri
Rasa rasa yang kian pasti
Menjadikan Senja kukenang sampai ini

Ketika malam tiba
Tak ku mengerti apa yang terjadi
Pertemuan itu membekaskan senbuah rasa
Hingga aku terlelap jauh pergi
Dan terjaga

Pagi kini ku dapati
Tapi senja masih jelas di mata mata hari
Tak mau pergi tak bisa hilang
Ku putuskan untuk tetap berediri
Dan menyambutmu
Meski bulan indah masih dibelakangku
Selamat pagi senja
Selamat datang di kehidupanku
                                                                                         Oleh :Mang Gugun

Senja Senja senja

Senja senja senja
Aku tak sedang bermain kata kata
Yang kurangkai indah
Berkat otak dan tngan ku yang terampil
Dalam bekerja sama

Senja senaja senja
Aku tak lagi mempermainkan hati
Hati seorang wanita
Karena dihatiku wanita adalah tahta
Tahta teritinggi menuju surga

Senja senja senja
Aku hanya bermaksud mengutarakan hatiku
Yang kian hari kian tak mampu untuk bersembunyi lagi

Senja senja senja
Kini ku tlah menanti bulan
Apakah kau masih mampu bertahan
Menungguku………….?




                                                                              Oleh :Mang Gugun


Ketika senja memaksaku


Apa yang harus ku perbuat
Ketika dering handphoneku berdering
Membuat gemetar jantungku semakin cepat

Rasanya aku lebih kecil dari seekor semut
Ketika damai senja mulai menghampiri
Aku takut
Aku takut
Aku tetap takut
Ketika senja mulai mendesak hatiku yang sesak
Akan berita yang masih tersembunyi

Malam itu senja datang dan mengungkap semua
Semua
Dan semua

Ketika senja memaksaku untuk berkata jujur
Malam itu lagi lagi senja hadir
Dan aku tak kuasa





                                                                                             Oleh :mang Gugun

puisi 1

UNTUKMU IBUKU

DENGANMU PAGIKU  TERASA INDAH
BERSAMAMU KUBELAJAR HIDUP
DALAM SULIT ENGKAU ADA
SAAT KU BAHAGIA ENGKAU INGATKANKU

KINI WAKTU PUN BERLALU
KAU TETAP  TEMANIKU TEGAR
TEMPAT HATIN INI BERSANDAR
KAU CINTA YANG TAK KAN PUDAR

OH IBU KAU ISTIMEWA BAGI NAFASKU
DEMI KAU KU RELA  MELAKUKAN
APAPUN  UNTUK INDAHNYA SEMYUMAN
AGAR KAU TETAP DISINI TEMANIKU

YA ALLAH KUATKANLAH  JIWANYA
BERIBU HORMATKU PADANYA
YA ALLAH TEGARKANLAH  HATINYA
AGAR TAK PERNAH PUTUS ASA
CINTAMU KUKENAG SEPANJANG MASA


                                                             OLEH : MUHARRAM

puisi 1

UNTUKMU IBUKU

DENGANMU PAGIKU  TERASA INDAH
BERSAMAMU KUBELAJAR HIDUP
DALAM SULIT ENGKAU ADA
SAAT KU BAHAGIA ENGKAU INGATKANKU

KINI WAKTU PUN BERLALU
KAU TETAP  TEMANIKU TEGAR
TEMPAT HATIN INI BERSANDAR
KAU CINTA YANG TAK KAN PUDAR

OH IBU KAU ISTIMEWA BAGI NAFASKU
DEMI KAU KU RELA  MELAKUKAN
APAPUN  UNTUK INDAHNYA SEMYUMAN
AGAR KAU TETAP DISINI TEMANIKU

YA ALLAH KUATKANLAH  JIWANYA
BERIBU HORMATKU PADANYA
YA ALLAH TEGARKANLAH  HATINYA
AGAR TAK PERNAH PUTUS ASA
CINTAMU KUKENAG SEPANJANG MASA


                                                             OLEH : MUHARRAM

puisi 1

UNTUKMU IBUKU

DENGANMU PAGIKU  TERASA INDAH
BERSAMAMU KUBELAJAR HIDUP
DALAM SULIT ENGKAU ADA
SAAT KU BAHAGIA ENGKAU INGATKANKU

KINI WAKTU PUN BERLALU
KAU TETAP  TEMANIKU TEGAR
TEMPAT HATIN INI BERSANDAR
KAU CINTA YANG TAK KAN PUDAR

OH IBU KAU ISTIMEWA BAGI NAFASKU
DEMI KAU KU RELA  MELAKUKAN
APAPUN  UNTUK INDAHNYA SEMYUMAN
AGAR KAU TETAP DISINI TEMANIKU

YA ALLAH KUATKANLAH  JIWANYA
BERIBU HORMATKU PADANYA
YA ALLAH TEGARKANLAH  HATINYA
AGAR TAK PERNAH PUTUS ASA
CINTAMU KUKENAG SEPANJANG MASA


                                                             OLEH : MUHARRAM

puisi

SELAMAT DATANG BULETINKU 
Mang gugun

Senja pergi tibalah sang fajar
Mewarnai langit serupa belang
Hati ini serasa akan berkibar
Bulletin tela bakar segera dating

Ujung pena berusaha melukiskan senja
Menghapuskan kata-kata yang menyela
Di sini adalah kumpulan calon raja
Penembus ruang dalam cakrawala

Fajar pergi eloklah mentari
Cahaya penetu dalam mencari tahta
Tintapu mengisi kosongnya diari
Melukiskan rasa melalui kata

Pena tua memasuki peti
Pena mudamerangkai aksi
Dengarkanlah penulis muda FLP Pati
Bulletin kita marilah di isi

Wedarijaksa, 2 Maret 2012

cerpen 8

Bakaran
Buah pena : Mang Gugun


Ribuan pasang kelopak mata tertuju pada orang yang ada di televisi dengan kebahagiaan yang terpancar  dalam raut wajah kedua mempelai yang sedang melaksanakan akat nikah, “untung banget pasangan nganten iku, dino sakrale di ngeti wong sak ndonyo. Yo wajar lan pantes wae lah, wong keturunan  teko keraton Jogjakarta”  dari Bumi Bakaran seorang pemuda bernama Suro sedang melamun di pawon dekat tempat pembuatan batik. Beberapa senja berlalu mbaknya dilamar orang.
Sur, mbak arep ados dipik, tulong motif batike mbak diteruske.” Suara itu serentak memecah lamunan Suro yang sedang membayangkan dia adalah laki-laki yang berasal dari keluarga keraton dan sedang melakukuan akat nikah.
“ iyo mbak,” bergegas  ia duduk di depan kain yang masih suci, ia lukis harapan dan impian masa depan. Kain tersebut akan ia kenakan saat pernikahan mbaknya yang tinggal menghitung hari saja.
“bar mbak ados, ngko terno mbak nggu tuku pewarna yo sur!”
“menisan ngko mbak, jarene make kain ning pawon yo wes ntek kok.” Jawabnya sembari ia sedang membatik.
Suro adalah pemuda desa yang tampan, berkulit putih, berbadan tinggi dan tegap, serta agak mirip orang bule. Tak ada seorang wanita pun yang akan menolaknya jika ia menyatakan cinta, tapi semua berlwanan. Tak pernah ia sekalipun berkata cinta, tak seperti teman-teman sebayana yang gonta-ganti cinta, sejak SD, SMP, SMA, maupun mahasiswa, tak pernah ia jatuh cinta sekalipun. pemuda yang terkenal pendiam namun ramah ini menjadi kumbang Desa. Sehari-hari selepas ia merampungkan Kuliah D3 jurusan Bahasa dan Sastra Jawanya ia menunggui Galeri Batik milik bapaknya yang berada di tengah-tengah Pasar Selok. Sembari ia cuti kuliah karen keterbatasan biaya, ia bekerja di pabrik terasi milik pamannya.  Dengan tak kenal lelah malam harinya ia merampungkan kain batik untuk Pernikahan mbaknya dan membuat  motif baru yang akan ia coretkan pada kafan.
Bakat dan ketrampilannya menjahit juga tak diragukan lagi,  semua telah terwariskan secara turun temurun mulai dari Simbah, Bapaknya, Mbaknya sampai pada Suro. Di tanah kelahirranya ini lah dia belajar mengenai tata kehidupn dan mengasah semua keahliannya.
Akat Nikah pun akan segera di laksanakan, Suro bersama keluarga yang lain sibuk mengedarkan wewehan dan undangan kepada saudara dan tetangga sedesa. Tetangga-tetangga Suro pun berdatangan untuk ngalong di rumah, setelah nasi di dang, rempah di masak, ikan-ikan dan lauk sudah siap, semuanya di masukkan dalam satu wadah,” besek”, suasana rame yang berasal dari ibu-ibu yang ngalong sekaligus ngrumpi  pun menjadi ciri sendiri di desa yang sudah sejak lama terjadi sperti ini. Besek demi besek yang di apitnya di atas motor melalang buana menyusuri RT demi RT.  Rasa lelah terhapus demi kebahagiaan mbak yang selalu membuatnya tersenyum, melihat suro istirahat mbak suro pun duduk di smpingnya sembari berkata “ Sur-Sur, kapan koe seneng wong wadon?” Suro hanya tertawa ringa saat mbaknya itu terus mengodanya. “ mbuh mbak mbuh, ora ngerti opo iku tersno, ora  ono wong seng tak tersnani kok.”
“eh, hehehe... kapan nyusul mbak sur?” ini adalah satu-satunya petanyaan yang tak bisa ia jawab jika mengingat kepandain suro mencari alasan.
“kapan-kapan ah mbak, nglumpukno duit pek, jen iso koyok calon bojone mbak.”
“alasan kok ngono itu terus, ora kreatif kue sur,  e mbok deleng awkmu iku, mbarek-mbarek kok ra payu...!”
“e, ngenyek wong... deleng wingi, anake pak inggi nalamar aku reti gag kue mbak,hehehehe”
“ yo yo sur... teros kok mbok tolak lapo??? Itung jal, wong piro seng nglamar kue wes?
“Yo wes lah mbak, njaluke mbak pie saiki ?” Tanya Suro yang pasang muka murung tiap ditanya soal cinta mbaknya, yang membuat tidak teg juga jika melihatnya.
bar aku nikah tak kei wektu 3 sasi nggu luru calon bojo mu?”
“he??? Calon bojo, moh...ora sanggup aku mbak!”
“ yo sah, minimal pacar, gowo marak umak rene kudune, kenalnu aku”
“oke mbak, tak usahak ke, surpres pokoke...!”
Setelah selesai berbincang-bincang dengan mbak tercintanya, Suro pun kembali melanjutkan wewehnya yang tadi tertunda istirahat dan makan siang, sementara itu mbaknya Suro kembali ke kamar untuk istirahat.
“ayo kang mangkat... terakher iki, RT 7!”
Kehangatan suasna kakak adik yang terjalin hampir duapuluh delapan tahun ini membuat keluarga kecil Suro bahagia, kini kakak semata wayangnya harus pelan-pelan ia ikhlas kan menjadi milik orang lain.
βββ
Pagi buta ketika langit masih tampak kemerah merahan, dan suara kokok ayam yang sahut menyahut, di dalam rumah seketika terpecah oleh kesibukan persiapan pernikahan nanti siang,  mbak nya suro pun kelihatan bahagia, tak sabar ingin bertemu orang yang paling di sayang setelah tiga hari memang tidak di perbolehkan bertemu. Tetangga mulai berdatangan membantu mempersiapkan acara,  perias nganten  yang kebetulan adalah tetangga sendiri pun telah mempersiapkan segala sesutunya. Sound system telah terpasang rapi, istana sehari pun terhias dengan janur-janur yang masih tampak basah, kursi-kursi yang sedemikian rupa dengan ornamen khas istana pernikahan dengan warna padu membuat senyum Suro semakin melebar.
Terlihat Suro mondar-mandir lewat kamar rias dari mbaknya akhirnya ia di panggil oleh mbaknya.
“Sur-Sur, mbak deg-degan iki kepiye,  hehehe!”
“Oralah ngiming-ngimingi aku mbak, aku yo iso sok mben,eh mbak tak tingal dipik yo, ndang ados, jam wolu ning KUA, iku mas Andika wes teko marani kue mbak!”
kereta kencana warna putih pun dengan hiasan bungga di depan lampu dan janur di sela-selanya telah terparkir di depan lorong jalan rumah Suro, menanti pasangan muda mudi yang berniat dan berhajat baik hari itu. Selang beberapa waktu kedua Raja dan Ratu sehari pun masuk didalamnya, tampak dari dalam kaca berfilm tetangga-tetangga mengantar  dari pinggir jalan sembari melambaikan tanganya mengantar perjalanan yang bahagia.
Akat nikah di laksanakan di Masjid Besar Juwana dengan dihadiri oleh beberapa tetangga dan wali dari masing-masing mempelai, suasana hening ketika prosesi Ijab kabul di mulai. Mempelai laki-laki berjabat tangan dengan gemetaran dengan ayah Suro.
“Saya nikahkan dan kawinkan anak saya yang bernama Laida Niswana Wijayanti bin Surtoyo  dengan Andika Prastyo bin Agus beserta mas kawin emas seberat 5 gram dan uang tunai sebesar Sebelas Ribu Seratus Sebelas Rupiah dibayar tunai.”
“saya terima nikah dan kawinnya Laida Niswana Wijayanti bin Surtoyo  dengan  saya Andika Prastyo bin Agus dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
“bagaimana saksi, apakah sah ?”
“ sah...!”
“Alhamdulullahirabbil alamin,  baraukallah waminal rizki........”al fatehah!
Sebagai tanda bhakti pertama kepada Suaminya, mbak Laida mencium tangan dari Suaminya, begtu pula mas Andika mencium pipi kanan dan kiri serta kening dari mbak Laida.
Surat pernikahan secara agama dan hukum negara pun telah disahkan pada hari itu juga. Jumat, 11 November 2011. Kini keluarga baru pun telah lahir pada hari yang terbilang hari cantik dan ostimewa tentunyat. Putaran demi putaran roda dari kereta kencana pun menuju istana nan megah di rumah, disana tengah menunggu prajurit-prajurit pengawal raja dan ratu sehari dengan busana khas Jawa yang terbalut rapi nan elegan tanpa meningalkan kesederhanaan.
Acara reepsi pun di gelar, dengan adat Jawa kental dan masih tradisional, kedua mempelai yang duduk berdampingan dengan di temani oleh putri domas yang cantik-cantik pun sudah siap dengan serangkaian acaranya, alunan gamelan dan suara dari pembawa acara dalam pernikahan pun menyelesaikan satu demi satu prosesi yang sudah menjadi tradisi, tapi ada satu hal yang berbeda di Desa yang di tempati Suro ini, adat setempat menganjurkan pasangan pengantin yang dari atau keturunan Desa trsebut harus mengelilingi Punden dengan mengenakan baju pengantin, dengan maksud memint doa restu kepada sesepuh Desa.
Detik telah memutar bumi ini hingga tak terasa senja yang indah pun hadir kembali. Dari ufuk barat sampai ufuk timur terukir sejarah perjalanan baru kehidupan dua sejoli. Sementara tamu undangan dan tetangga-tetangga  masih banyak yang berdatngan dengan menbawa amplop yang berisi uang atau yang sering disebut Buoh, Suro menyandarkan sejenak kepalanya, berfikir dalam-dalam kapan ia bisa seperti mbaknya.
Janji adalah janji,  janji harus di tepati, usia Suro yang sudah dua puluh delapan tahun haruslah ia pikirkan.

cerpen 8

Bakaran
Buah pena : Mang Gugun


Ribuan pasang kelopak mata tertuju pada orang yang ada di televisi dengan kebahagiaan yang terpancar  dalam raut wajah kedua mempelai yang sedang melaksanakan akat nikah, “untung banget pasangan nganten iku, dino sakrale di ngeti wong sak ndonyo. Yo wajar lan pantes wae lah, wong keturunan  teko keraton Jogjakarta”  dari Bumi Bakaran seorang pemuda bernama Suro sedang melamun di pawon dekat tempat pembuatan batik. Beberapa senja berlalu mbaknya dilamar orang.
Sur, mbak arep ados dipik, tulong motif batike mbak diteruske.” Suara itu serentak memecah lamunan Suro yang sedang membayangkan dia adalah laki-laki yang berasal dari keluarga keraton dan sedang melakukuan akat nikah.
“ iyo mbak,” bergegas  ia duduk di depan kain yang masih suci, ia lukis harapan dan impian masa depan. Kain tersebut akan ia kenakan saat pernikahan mbaknya yang tinggal menghitung hari saja.
“bar mbak ados, ngko terno mbak nggu tuku pewarna yo sur!”
“menisan ngko mbak, jarene make kain ning pawon yo wes ntek kok.” Jawabnya sembari ia sedang membatik.
Suro adalah pemuda desa yang tampan, berkulit putih, berbadan tinggi dan tegap, serta agak mirip orang bule. Tak ada seorang wanita pun yang akan menolaknya jika ia menyatakan cinta, tapi semua berlwanan. Tak pernah ia sekalipun berkata cinta, tak seperti teman-teman sebayana yang gonta-ganti cinta, sejak SD, SMP, SMA, maupun mahasiswa, tak pernah ia jatuh cinta sekalipun. pemuda yang terkenal pendiam namun ramah ini menjadi kumbang Desa. Sehari-hari selepas ia merampungkan Kuliah D3 jurusan Bahasa dan Sastra Jawanya ia menunggui Galeri Batik milik bapaknya yang berada di tengah-tengah Pasar Selok. Sembari ia cuti kuliah karen keterbatasan biaya, ia bekerja di pabrik terasi milik pamannya.  Dengan tak kenal lelah malam harinya ia merampungkan kain batik untuk Pernikahan mbaknya dan membuat  motif baru yang akan ia coretkan pada kafan.
Bakat dan ketrampilannya menjahit juga tak diragukan lagi,  semua telah terwariskan secara turun temurun mulai dari Simbah, Bapaknya, Mbaknya sampai pada Suro. Di tanah kelahirranya ini lah dia belajar mengenai tata kehidupn dan mengasah semua keahliannya.
Akat Nikah pun akan segera di laksanakan, Suro bersama keluarga yang lain sibuk mengedarkan wewehan dan undangan kepada saudara dan tetangga sedesa. Tetangga-tetangga Suro pun berdatangan untuk ngalong di rumah, setelah nasi di dang, rempah di masak, ikan-ikan dan lauk sudah siap, semuanya di masukkan dalam satu wadah,” besek”, suasana rame yang berasal dari ibu-ibu yang ngalong sekaligus ngrumpi  pun menjadi ciri sendiri di desa yang sudah sejak lama terjadi sperti ini. Besek demi besek yang di apitnya di atas motor melalang buana menyusuri RT demi RT.  Rasa lelah terhapus demi kebahagiaan mbak yang selalu membuatnya tersenyum, melihat suro istirahat mbak suro pun duduk di smpingnya sembari berkata “ Sur-Sur, kapan koe seneng wong wadon?” Suro hanya tertawa ringa saat mbaknya itu terus mengodanya. “ mbuh mbak mbuh, ora ngerti opo iku tersno, ora  ono wong seng tak tersnani kok.”
“eh, hehehe... kapan nyusul mbak sur?” ini adalah satu-satunya petanyaan yang tak bisa ia jawab jika mengingat kepandain suro mencari alasan.
“kapan-kapan ah mbak, nglumpukno duit pek, jen iso koyok calon bojone mbak.”
“alasan kok ngono itu terus, ora kreatif kue sur,  e mbok deleng awkmu iku, mbarek-mbarek kok ra payu...!”
“e, ngenyek wong... deleng wingi, anake pak inggi nalamar aku reti gag kue mbak,hehehehe”
“ yo yo sur... teros kok mbok tolak lapo??? Itung jal, wong piro seng nglamar kue wes?
“Yo wes lah mbak, njaluke mbak pie saiki ?” Tanya Suro yang pasang muka murung tiap ditanya soal cinta mbaknya, yang membuat tidak teg juga jika melihatnya.
bar aku nikah tak kei wektu 3 sasi nggu luru calon bojo mu?”
“he??? Calon bojo, moh...ora sanggup aku mbak!”
“ yo sah, minimal pacar, gowo marak umak rene kudune, kenalnu aku”
“oke mbak, tak usahak ke, surpres pokoke...!”
Setelah selesai berbincang-bincang dengan mbak tercintanya, Suro pun kembali melanjutkan wewehnya yang tadi tertunda istirahat dan makan siang, sementara itu mbaknya Suro kembali ke kamar untuk istirahat.
“ayo kang mangkat... terakher iki, RT 7!”
Kehangatan suasna kakak adik yang terjalin hampir duapuluh delapan tahun ini membuat keluarga kecil Suro bahagia, kini kakak semata wayangnya harus pelan-pelan ia ikhlas kan menjadi milik orang lain.
βββ
Pagi buta ketika langit masih tampak kemerah merahan, dan suara kokok ayam yang sahut menyahut, di dalam rumah seketika terpecah oleh kesibukan persiapan pernikahan nanti siang,  mbak nya suro pun kelihatan bahagia, tak sabar ingin bertemu orang yang paling di sayang setelah tiga hari memang tidak di perbolehkan bertemu. Tetangga mulai berdatangan membantu mempersiapkan acara,  perias nganten  yang kebetulan adalah tetangga sendiri pun telah mempersiapkan segala sesutunya. Sound system telah terpasang rapi, istana sehari pun terhias dengan janur-janur yang masih tampak basah, kursi-kursi yang sedemikian rupa dengan ornamen khas istana pernikahan dengan warna padu membuat senyum Suro semakin melebar.
Terlihat Suro mondar-mandir lewat kamar rias dari mbaknya akhirnya ia di panggil oleh mbaknya.
“Sur-Sur, mbak deg-degan iki kepiye,  hehehe!”
“Oralah ngiming-ngimingi aku mbak, aku yo iso sok mben,eh mbak tak tingal dipik yo, ndang ados, jam wolu ning KUA, iku mas Andika wes teko marani kue mbak!”
kereta kencana warna putih pun dengan hiasan bungga di depan lampu dan janur di sela-selanya telah terparkir di depan lorong jalan rumah Suro, menanti pasangan muda mudi yang berniat dan berhajat baik hari itu. Selang beberapa waktu kedua Raja dan Ratu sehari pun masuk didalamnya, tampak dari dalam kaca berfilm tetangga-tetangga mengantar  dari pinggir jalan sembari melambaikan tanganya mengantar perjalanan yang bahagia.
Akat nikah di laksanakan di Masjid Besar Juwana dengan dihadiri oleh beberapa tetangga dan wali dari masing-masing mempelai, suasana hening ketika prosesi Ijab kabul di mulai. Mempelai laki-laki berjabat tangan dengan gemetaran dengan ayah Suro.
“Saya nikahkan dan kawinkan anak saya yang bernama Laida Niswana Wijayanti bin Surtoyo  dengan Andika Prastyo bin Agus beserta mas kawin emas seberat 5 gram dan uang tunai sebesar Sebelas Ribu Seratus Sebelas Rupiah dibayar tunai.”
“saya terima nikah dan kawinnya Laida Niswana Wijayanti bin Surtoyo  dengan  saya Andika Prastyo bin Agus dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
“bagaimana saksi, apakah sah ?”
“ sah...!”
“Alhamdulullahirabbil alamin,  baraukallah waminal rizki........”al fatehah!
Sebagai tanda bhakti pertama kepada Suaminya, mbak Laida mencium tangan dari Suaminya, begtu pula mas Andika mencium pipi kanan dan kiri serta kening dari mbak Laida.
Surat pernikahan secara agama dan hukum negara pun telah disahkan pada hari itu juga. Jumat, 11 November 2011. Kini keluarga baru pun telah lahir pada hari yang terbilang hari cantik dan ostimewa tentunyat. Putaran demi putaran roda dari kereta kencana pun menuju istana nan megah di rumah, disana tengah menunggu prajurit-prajurit pengawal raja dan ratu sehari dengan busana khas Jawa yang terbalut rapi nan elegan tanpa meningalkan kesederhanaan.
Acara reepsi pun di gelar, dengan adat Jawa kental dan masih tradisional, kedua mempelai yang duduk berdampingan dengan di temani oleh putri domas yang cantik-cantik pun sudah siap dengan serangkaian acaranya, alunan gamelan dan suara dari pembawa acara dalam pernikahan pun menyelesaikan satu demi satu prosesi yang sudah menjadi tradisi, tapi ada satu hal yang berbeda di Desa yang di tempati Suro ini, adat setempat menganjurkan pasangan pengantin yang dari atau keturunan Desa trsebut harus mengelilingi Punden dengan mengenakan baju pengantin, dengan maksud memint doa restu kepada sesepuh Desa.
Detik telah memutar bumi ini hingga tak terasa senja yang indah pun hadir kembali. Dari ufuk barat sampai ufuk timur terukir sejarah perjalanan baru kehidupan dua sejoli. Sementara tamu undangan dan tetangga-tetangga  masih banyak yang berdatngan dengan menbawa amplop yang berisi uang atau yang sering disebut Buoh, Suro menyandarkan sejenak kepalanya, berfikir dalam-dalam kapan ia bisa seperti mbaknya.
Janji adalah janji,  janji harus di tepati, usia Suro yang sudah dua puluh delapan tahun haruslah ia pikirkan.

cerpen 7

Fajar yang Berarti
Oleh :Mang Gugun

Dari seuah kehidupan yang sederhana, seorang anak terlair kedalalam dunia ini dengan sejuta harapan dari orang tuanya, pasangan Sri Murti dan Suwjo memberi nama ia Joko Susanto Noto Negoro.”cah bagus kowe iki pangarepane bapak lan ibumu,mugo mugo koe dadi bocah sing migunani kanggo keluargo,agomo,nuso lan bangsa.”
Sejak kecil joko selalu diasuh dan dibesarkan oleh mereka meski dalam kemiskinan.tempat tinggal yang kumuh di pesisir Jakarta, hidup di pinggir bantaran sungai  menjadi pilihan mereka,karena didaerah saslnya sudah tak mungkin merekabisa bertahan hidup.
Joko sering sakit sakitan,ayahnya seorang petani, beliau mengajarkan betul betul arti hidup dan kedisiplinan.Perjuangan hidup Joko di mulai dari ia bersekolah di TK.Jiwa kepemimpinan yqang diajarkan ayahnya ,membuat ia dipilih oleh guru untuk menjadi ketua kelas, waktu pun banyak beralu ayahnya masih sanggup mensekolahkan joko hingga SD meski kadang imereka tak bisa makan,karena biaya sekolah yang mahal.
Joko adalah anak yang disiplin,pekerja keras,untuk membantu orang tuanya mencukupi kebutuhan sehari hari & sekolahnya.ia berjualan Koran di lampu merah selepas ia pulang dari sekolah ,sore harinya ia menambil pakaian kotor untuk di cuci dan diserahkan kembali dalam keadaan bersih.hampir tidak ada waktu  untuk joko bermain dengan teman temannya.setiap hari membantu orang tuanya dan malamnya ia belajar.
Mungkin jalan hidup joko terlalu berat untuk anak seusianya,tapi joko menjalaninya dengan senang, system religi kuat yang diajarkan orang tuanya membuat ia selalu optimis dalam menjalani hidup ini.sebagai seoranganak ia juga masih belum terlalu mengkontrol emosinya.tiap ada temannya yang menganggu ia terkadang berlebihan dalam menaggapinya.
sebenarnya joko adalah anak pendiam dalam pergaulannya, tapi pada saat mengikuti pelajaran ia tergolong anak yang aktif.ia sangat pandai dalam bermain sepak bola,suatu hari pada hari minggu seperti biasa ia harus membantu ayahnya disawah.tetapi saat itu ada pelatihan sepak bola junior disekolahnya.dengan berat hati ia harus meninggalkan latihan itu,sebagai anak kecil ia hanya bisa cemberut sambil mencabuti rumput rumput,sembari memandanggi ayahnya,sambil berharap dapat izin untuk latihan  dari ayahnya.
Joko menjadi murit yang diperhatikan di sekolahnya,ia selslu mendapat  peringkat satu.ia bercita cita menjadi presiden dimassa yang akan dating.saat ia kelas 3 SD ia ingin sekali punta televisi,ia ingin mendenagrkan dan melihat berita berita tentang kenegaraan dan nasional.berbeda dengan teman teman sebayanya yang gemar melihat kartun.dengan kerja keras dan susah payah, mencuci piring di warug warung,akhirnya ia dapat sebuah televise hitam putih.ia sangat senang sekali bisa melihat tayangan tayangan di televisi.
Prestasi joko semakin meningkat, dalam sebuah perlombaan tingkat SD dalam bidang matematika ai mendapat juara pertama menakalahkan pesaing pesakngnya se kabupaten. Ia pun mendapat beasiswa dari sekolahnya.
Saat 17 Agustus, bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia yang ke 60, di sekolah jko diadakan bergagai lomba ,joko sangat antusias sekali dengan kegiatan kegiatan itu.ia bermimpi suatu saat nanti bisa mengikuti upacara kemerdekaan di istana Negara.waktu itu mustahil baginya,tapi ia tetap optimis bisa mewjudkan cita citanya itu.saat hari libur joko diajak jalan jalan oleh ayahnya. Karena ia anak satu satunya,ia sangat disayanggi oleh ayahnya.
Seperit biasa ia pergi kesekolah, disebuah jalan ia menemukan sebuah dompet tebal berwarna hitam dengan uang seratus ribuan yang banyak sekali,dan beberapa surat berharga. joko membawa dan menaruhnya kedalamtas.dalam hatinya ia bergejolak,mengembalikan dompet ini atau memakinya.saat itu ia ingin sekali mempunyai sebuah sepeda igar ia tidak capek jalan kaki berangkat ke sekolahnya,setelah 3 hari difikir fakir ia memutuskan untuk mengkembalikan dompet trsebut. Pada hari sabtu sepulang sekolah ia mencari alamat yang tertera di sebuah kartu nama itu.ia memakai beberapa uang untuk ongkos, ia bertekat untuk mengembalikan dompet tersebut pada pemiliknya, selang dua jam ia sampai pada alamat yang dicari, sebuah rumah besar dengan pagar yang tinggi ada dihadapanya, ia dihampri seorang satpam “ ada apa dek?” cari siapa” joko menjawab” apa benar ini rumah pak budianto?” satpam menjawab” benar, adek ini siapa? Ada perlu apa? Kebetulan saat itu pak budi dan anaknya keluar rumah dan ingin jogging di sore hari, setelah bertemu dan menjelaskan semua, pak budi mengajak joko untuk masuk ke rumah dan membatalkan joggingnya, pak budi sangat berterima kasih pada pak joko karena surat-surat pentingnya sudah ditemukan, bukan hanya itu.
Joko juga berbincang-bincang dengan anak pak budi, nisa namanya, ia juga kelas 4 sd sama separti joko, ia diberi berbagai buku pelajaran yang dimiliki nisa, selain itu pak budi juga memberi ongkos untuk pulang bahkan nisa membujuk ayahnya untuk mengantar joko pulang, pak budi juga membuka pintunya lebar-lebar pada joko bila ingin bermain / belajar kelompok.
Suatu ketika ia berniat  belajar kelompok dengan nisa dengan sepeda yang dibelikan pak budi ia ingin kerumah nia, tapi ia tidak diperbolehkan ayahnya “jangan bergaul dengan anak kaya ko”! selama ini joko selalu menuruti kata-kata orang tuanya harus membantah pertamakalinya, ia pergi ke rumah nisa, sejak nisa beljar bersama joko prestasi nisa semakin meningkat. Pertemanan joko dan nisa pun semakin akrab, dulunya nisa yang sekolah di sd faforit yang elite, pindah ke sekolahnya joko, dan disana nisa belajar banyak dari joko, pak budi pun sangat berterimakasih pada joko, karenanya nis abisa memperoleh peringkat 3 besar di kelasnya, persahabatan joko dan nisa semakin akrab, saat istirahat nisa sering bebagi bekal dengan joko, saat mengerjakan pr mereka selalu bersama, walaupun semakin bergulir, joko pun merasakan ada rasa yang sebelumnya belum pernah dirasakannya, nisa punmerasakan hal itu, rasa kagum diantara mereka semakin kompak dan selalu bersama.
Tak terasa waktu cepat berlalu,banyak  kejadian yang tak terlupakan diantara mereka, kini ujian telah tiba ,mereka mengerjakan soal ujian dengan tenang,tiga hari berlalu, UN pun selesa,tingal menyelesaikan ujian sekolah dan menunggu hasil  UN, dua minggu berlalu, hasil yang mereka peroleh sesuai dengaan apa yang mereka harapkan.joko NIM nya 27,95 sementara nisa NIM nya 27,15, mereka merayakan kelulusannya di warteg pinggir kota,dengan memesan dua buah martabak special dan es degan.
 mereka manghabiskan  waktu seharian disebuah taman kota, hingga lupa waktu, sore hari setelah mereka pulang joko diundang untuk makan malam beserta keluarganya sebagai ucapan terimakasih atas bantuan dari joko, makan malam itu benar-benar berkesan bagi joko dan keluarganya, karena itu makan malam pertama mereka di rumah orang kaya dan mewah.
Hal yang tidak diinginkan joko terjadi, ia dan keluarganya terkena penggusuran rumah guna memperbaiki bantaran sungai, sebenarnya pak budi sudah menawarkan untuk sekeluarga joko untuk tinggal dirumahnya, tapi pak wijo lebih memilih pulang kampong ke yogyakarta akhirnya joko terpisah dari nisa.sebenarnya mereka tak ingin berpisah,joko menangis dalam perjalanan,ia bersama keluarganya pulang kampong ke rumah neneknya,dan tak akan kembali lagi ke Jakarta.impiannya ingin mengikuti upacara kemerdekaan di istana Negara pun semakin mustahil untuk terwujud.
Selang waktu joko mendaftar di SMP yang cukup faforit di kampong halamannya,dengan nilainya dan berbagai prestasinya itu ia dibebaskan dari dana bulanan sekolah,dan bila berprestasi lagi pihak sekolah akan memberi beasiswa padanya,joko sedih karena televise dan sepeda pemberian ayah nisa harus terjual demi mendaftaran ia di SMP tersebut.saat itu bulan agustus ,SMP joko akan menseleksi siswa siswi kelas 1 dan 2 untuk mengikuti lomba sains hari kemerdekaan.
Joko dengan antusias mengikuti audisi lomba tersebut,akhirnya ia terpilih dan mewakili SMP nya dalam bdang Matematika,setelah 10 hari pembinaan,joko dikirim SMP faforit di jogjakarta ntuk mengikuti lomba disana,dengan bangga ia membawa pulang medali juara dua,iapun sangat bergembira,pihak sekolah pun berterima kasih pada joko ,dan ia juga terkejut ketika mendapat pengumuman bahwa ia akan dikirim ke Jakarta untuk mewakilijogjakarta di tingkat Nasional,joko pun lebih terkejut ketika tahu hadiahnya adalah mengikuti upacara kemerdekaan di istana Negara. Joko pun belajar lebih giat untuk mrwujudkan cita citanya tersebut.
Saat perlombaan ia bertemu nisa,iapun sangat bahagia,nisa sebagai wakil dari Jakarta.sebelum perlombaan dimulai mereka berbincang bincang terlebih dahulu,perlombaan pun dimulai,joko,nisa, dan 30 perwakilan dari masing masing propinsi pun mengikutinya dengan semangat dan sunguh sunguh.selelah sore tiba pengimuman pun dibacakan oleh dewanjuri, saat itu adalah saat saat yang menegangkan bagi srmua pesertaketika sampai di juara dua nama nisa affianti pun disebut, tapi joko masih harap harap cemas,saat pengumuman jawaranya ”dan yang terbaik seluruh Indoneasia adalah…nomor peserta 006-07-12 dari jogjakartaJoko susanto notonegoro...”joko pin diam tak bergerak,karena tak percaya akan hal ini,nisa pun memeluknya dan memberi ucapan selamat padanya.
Joko,nisa,dan juara lainnyadijamu oleh mentri pendidikan pada malam hariya,mereka mendapat sejumlah piagam dan beasisaswa  dari Negara. Joko dan nisa pun harus terpisah untuk sementara waktu,karena mereka harus pulang membawa prestasinya ke sekolah masing masing sebekum besuk ,ereka mengikuti upacara di istana negara.
Sore itu 16  agustus  joko dijemput oleh mobil yang akan membawanya di sebuah penginapan,mereka  semua sudah membayangkan apa yang akan terjadi esok,semalaman mereka semua tidak tidur,melewatkan waktu dengan berbincang bincang dan saling berkenalan.terdengar percakapan nisa dan joko”nis,aku senang sekali,impian kita dulu di lampu merah kota Jakarta akhirnya terwujud,aku juga ko,seneng banget.”
Detik demi detik puun berlalu,waktu itu pukul 04.00,mereka semua bangun dan sholat bagi yang muslim,dan bersiap siapmenuju istana,joko lembali berkata”fajar yang indah banget.” Setiba mereka di istana Negara,mereka telah duisiapkan tempat duduk khusus bagi mereka,Upacara berlangsung khitmat,nisa dan joko sangat senag sekali.

cerpen 6

GUA HARAM
OLEH : MANG GUGUN

Gemuruh langkah kaki ku dengar dari balik kulit dan ari-ari yang sampai saat ini membuatku bertahan hidup dalam dunia yang sempit. Teriakan-teriakan itu semakin jelas dan membuatku marah besar, tapi itu akan menambah derita ibu yang telah manangis darah. Mungkin ibu belum tahu bahwa aku sudah tahu apa yang telah terjadi didunia lain dari duniaku.
Gubuk reot yang ditempati nenek dan ibuku yang terbuat dari bambu pun siap mengahanguskan kami, jika dalam hitungan kesepuluh dari teriakan langkah kaki yang kudengar. Kami belum keluar juga, tangis dari ibu dan nenek pun semakin kudengar mengeras seperti hatinya, disaat yang bersamaan suara lelaki tua yang lantang menghentikan kegaduhan dan mengembalikan  kesunyian  malam. Akupun kembali tenang dan tak menendang-nendang perut ibuku lagi.
“Niken….. metu, minggat o seko kampong iki, usir…!, iyo usir…! Syara teriakan secara bersamaan menghancurkan lagi kesunyian malam itu.
Tenang-tenang, sedoyo rencang-rencang, nopo rencang-rencang mboten gadah welas asih , Niken lan mbok Marni neng njero ngantos nangis, mung tiang kalih sedoyonipun tiang estri, nopo atine panjenengan sampun mboten wonten? Sampun-sampun, sumonggo dipungkasani masalah niki kanti ati kang adem. niken nggih mbotem purun ngalami kedaden kaya niki.
Itulah sedikit kata yang kudengar. Setelah itu keadaan menjadi hening, aku anak yang tidak diharapkan, tidak diimpikan, tidak seharusnya ada diperut ibuku sekarang.  Sembilan bulan yang lalu aku masih ada di dunia arwah, bersama calon bayi yang lain, menanti giliran untuk masuk kedalam raga yang tersusun dari segumpal darah, segumpal daging, dan segumpal zat yang mengeras seperi batu (tulang). Sistem yang sangat canggih, teratur, rapi dan maha dashyat lah yang mengatur semua hidup dan kehidupan.
Sembilan bulan yang lalu, Niken ibuku dilamar oleh orang yang sangat dia cintai, pemuda yang fasih menerangkan kitab yang selelu ia pegang setiap harinya, disegani diantara pesohor umatnya. Namun kejadian tak terduga menimpa ayah yang biadab dan ibu yang lemah, setan telah membantu membuat dan memproses calon ragaku, hingga empat bulan aku dikirim oleh system masuk ke raga yang hina itu.
Setelah ketahuan menghamili ibu tanpa ikatan yang sah, ayah dihukum adat yang ada di kampung. Ditelanjangi diarak keliling kampung dan dengan sadisnya dicambuk besi, dicambuk rantai, api yang panas menghancurkan tubuhnya. Rasa kesakitan dan jeritpun membelah keheningan kampung itu.
Ibu yang tak kuasa menemani ayah pingsan berkali-kali, hingga sampailah ibu di tempat pembakaran ayah yang telah disiapkan warga kampung sebelumnya, kakek dan nenek dari ayah, nenek dari ibu, serta ibu menyaksikan betapa kejamnya hukum adat yang menghanguskan ayah hingga menjadi debu. Setelah api hampir padam, dan jeritan itu tak terdengar lagi, bau dari jasad manusia yang terbakar, tumbukan kayu kembali dilemparkan pada kobaran api. Selanjutnya kakek dan nenek dari ayah, ikut masuk hidup-hidup kedalam api itu.
Sekali lagi itulah kejamnya adat di kampung. Tradisi demi nama baik keluarga di kampung yang menghidupi  ibu hingga berdiri di depan debu ayah. Aku selalu bertanya Tanya, kapan aku akn keluar dari dunia yang sempit ini. Agar aku bias membalaskan semua kekejaman yang mereka lakukan.
Ribuan orang mulai meninggalkan tempat ini, hanya tinggallah aku, ibu, dan nenekku yang semakin menciut hatinya.  Yang terjadi hanyalah diam, hening dan rasa tak percaya.
“mak, ken ewes rak due panggonan nggu ngeub, terus arep nang ndi mak? Ucap ibu dengan bibir kaku dan masih gemetaran yang ku dengar dari balik kulit perut ibuku.
“wes, tinggalno wae kampong iki nduk, ayo ndang lunggo, gelak masyarakan berubah pikiran ngobong kene urip-urip.

cerpen 5

Jadilah Siti Nurbaya
Buah pena : Mang Gugun

Namaku Siti, saat ini aku duduk di kelas dua SMA, aku adalah siswi yang cukup cantik dan berprestasi disekolahku, aku selama sekolah mendapatkan beasiswa karena memenangkan lomba dan membawa sekolahku harum di manca Nasional, padahal SMAku ini SMA terpencil dan tak terjamah tehnologi,ya, desa yang kutinggalipun jauh dari manger bingar kota seperti di Jakarta yang kulihat dari balik layar hitam putih milik ketua RT desaku yang jaraknya 2 km dari rumahku.
            Namun setelah aku mendapat uang-uang pembinaan dari hasil lomba-lombaku seperangkat komputer dan TV 14 inchi berwarna kubawa kerumah, setiap hari kini aku tiada waktu tanpa belajar, karena dengan belajar salah satu pandanganku adalah memperoleh kekayaan.
            Pada suatu hari Bapakku yang sehat, tiba-tiba pulang dibopong beberapa teman kerjanya. Beliau jatuh dari pohon karet setinggi 13 meter, pekerjaan bapakku mencari karet dihutan belakang rumahku, dua hari setelah bapak sakit, beliau meninggal dunia, dan itu yang membuat aku terpuruk sehingga tidak masuk sekolah selama 4 hari, yang kulakukan hanya menangis, menangs dan menangis.
            Ditengah penatnya kehidupanku didesa, aku selalu ditemani oleh bambang, namanya Bambang Waluyo, ia adalah teman kecilku nonton TV, karena dua adalah anak dari ketua RT desaku Bambang juga menjadi menjadi temanku berangkat dan pulang sekolah, kami berdua naik sepeda tua milik Ayah Bambang, yang kurang lebih jarak dari sekolah kerumah kami sekitar 7 km.
            Kini yang membuatku sedih adalah rumah yang selama dua puluh tahun kutempati dari sejak lahir sampai saat ini disita oleh orang suruhan juragan Nur. Dia adalah janda yang masih cantik dan kaya raya didesaku karena hutang-hutang Bapak kepadanya banyak dan tak mungkin terbayar.
            Akupun bersama Ibuku kini tinggal dirumah Bambang, menumpang dirumah orang itu tidak enak sekali, tapi inilah kenyataan hidup, satu minggu aku tinggal dirumah Pak RT aku tak bisa tidur, Ibuku membantu Ibunya Bambang untuk memasak dan tak lama kemudian Ibuku dapat pekerjaan menunggui sawah bersama buruh Pak RT yang lainnya.
            Satu bulan dirumah Pak RT, rasanya aku sudah mulai nyaman, apalagi setiap malam Bambang selalu mengajakku belajar bersama dilantai atas rumahnya, dari sana terlihat jelas bintang-bintang dan bulan yang menjadi temankita belajar setiap hari.
            Namun lain disekolah lain dirumah, Bambang sekarang sudah “agak jutek”, meski kita sering dan selalu berangkat sekolah bersama, pulangpun bersama, tapi Bamnbang sekarang sudah punya cewek, yang ia kejar sejak kelas dua SMA. Kini belajarku terganggu, aku sering bertengkar mulut dengan Bambang.
            Bahkan dia pernah menghujatku”kamu ini siapa sih sit, mengatur-atur hidupku, kamu disini hanya menumpang!” saat aku mengingatkan dia untuk ibadah, itulah yang membuatku sakit hati dan tak pernah melupakan kejadian tersebut.
            Malam itu tak beberepa lamma setelah kata-kata itu kelur hujan angin sangat deras datang, padahal aku tidak berada dirumah yang kutempati sat itu, aku berlari menuju selatan yaitu menuju sungai tempat kita bermain saat pulang dari sekolah.
            Akupun duduk dengan air mat yang erus menerus mengalir sehinga air dari langitpun ikut menetes, dan angin-anginpun silih berkejaranm berusaha mendinginkan hatiku yang sangat panas.
Rambut,wajah,baju dan tubuhku tak ada yang kering, basah kuyup, dari rumah Bambang mencariku kesana kemar, hingga ia menemukanku tergeletak dipinggir sungai, terdengar lirih dari telingaku. Sebelum ia temukanku, “sit,bangun!””siti…..!” aku yang tak kuat dibopong oleh Bambang dan dibawa pulang.
            Setelah aku tersadar, Ibuku ada disampingku, Ayah dan Ibu Bambang juga terlihat disebelah tempatku berrbaring, tapi Bambang tak menampkkan batang hidungnya ketika aku tersadar.
            “Sit, ada apa?” tadi Bambang membawamu drai luar sana kehujanan?” Tanya Ibuku dengan sura khasnya yang lembut dan lirih.
            “Aku tidak ada apa-apa bu, tadi aku bermain di sungai dan kehujanan disana, lalu Bambang membawaku pulang.
***
            Tanpa kusadari waktupun cepat berlalu, setelah dua puluh tiga tahun aku dan Bambang baru mendapat ijazah SMA, setelah lulus ibuku membicarakan pertunanganku dengan Bambang diam-diam dan tanpa sepengetahuan kami.
            Bambang adalah sosok pemuda ganteng, soleh, menjadi kumbang desa, dan calon pemimpin desa dimasa depan, ia sudah kuanggap sebagai kakak terbaikku, ia tak pernah macam-macam denganku ia sopan sekali denganku, tapi aku tak tahu apa itu arti cinta, karena selama dua puluh tiga tahun aku hidup, tak ada pengalamanku tentang cinta, tapi aku pasti beruntung jika menjadi istri Bambang, karena sudah lebih dari selusin gadis-gadis cantik di RTku yang melamar Bambang ditolaknya semua.
            Akupun berusaha mandiri, aku tak ingin menggantungkan semua beban hidupku pada Pak RT, dan ibu, aku mencari pekerjaan dirumah anak juragan Nur sebagai pembuat roti di antar oleh Bambang.
            Oh iya, sekarang aku dan Bambang sudah bertunangan, cincin perak turun-temurun dari Pak RT dan Bu RT telah melingkr dijariku dan jari Bambang, rencana pernikahan kamipun telah ditentukan.
            Tapi semuanya menjadi kesedihan ketika sore itu hujan deras turun. Aku tak bisa pulang kerumah, dan Bambangpun sedang sakit, akhirnya aku menginap dirumah jugn Nur yaitu mas Bosiw, atu mas Waluyo, ia dalah bos yang terkenal nakal dan suka meuu bekerja di yang telah lebih dulnggoda karyawan-karyawannya, bahkan dari cerita Wati, teman baruku yang telah lebih dulu bekerja di Pabrik roti, bahw semua wanita disini sudah tidak perawan.
            Sore itu rencananya aku mau mengundurkan diri tetapi nasib melayang menimpaku, malam aku tidur ditempar tidur nan megah, ku kunci semua pintu dan jendela kamar trsebut, karena kata Wati  kamar itulah tempat hilangnya keperawanan lebih dari 50 wanit, aku tidur dengn peraaan gelisah, aku berharap Bambang menjemputku setelah hujan reda.
            Saat aku kelelahan dan pulas Mbok Ranti mengantarkan teh hangat kekamarku setekah aku minum akupun tertidur pulas, dan setelah matahari tampak dari jendela, aku sudah dalam kedaan telanjang bulat, dan disebelahku tidurlah Mas Waluyo yaitu Bosku, benar kata Wati. Aku hanya bisa menangis, saat ia mendengarkan tangisanku ia terbangun, sekali lagi ia memaksaku untuk melayani nafsu birahinya, aku yang seorang wanita, tak mampu berbuat apa-apa, dengan terpaksa pagi itu aku merengek kesakitan lagi. “Ya ALLAH, inilah nasib hidupku’ disela-sela rasa sakit yang kurasakan akupun menonjok muka dari Mas Waluyo, tapi aku ditampar sehingga aku tak berdaya, dengan sadar dan mata terbuka ia mencabukku dengan seluruh tenaga dan nafsunya.
            Akupun tak kuat lagi, aku pingsan lagi, aku pingsan lagi, dan setelah aku terbangun aku sudah dalam keadaan wangi berbusana lengkap lagi, karena sebelumnya telah dimandikan Mbok Ranti.
Aku tak berani berbicara pada Bambang, pukul Sembilan pagi ia menjemputku, aku hanya diam dibelakang boncengan sepedanya.
            Keesokan harinya aku bekerj seperti biasa, aku ceritakan semua yang kualami ini pada Wati, ternyata hal itu juga terjadi beberapa bulan yang lalu padanya, aku bekerja dengan penuh beban dan lamunanku, hingga sorepun datang, aku tak menungu jemputan Bambang, tapi langsung pulang dan jalan kaki, meski jauh, tapi aku lebih memilih kecapekan dari pada harus menyerahkan diriku pada iblis yang telah menodaiku dengan sadis.
Setelah aku sampai rumah ternyata Bambang menjemputku, dan ia sampai malam belum kembali juga, aku takut terjadi apa-apa padanya, katena yang jaga siang itu  adalah juragan Nur, aku takut Bambang mengalami nasib sama seperti karyawan laki-laki yang lain di Pabrik itu, apalagi dengan taktik yang sudh disusun rapi. Dan Bambangpun seorang pemuda yang polos dan tak tahu apa-apa, dengan kebaikan seseorang ia akan percaya. Aku ingin menyusulnya, tapi jalan menuju Pabrik itu cukup jauh dan ketika malam hari tak ada penerangannya.
Kisah Bambang serupa dengan kisahku dan kisah pemuda-pemuda yang bekerja di Pabrik tersebut, ad yang dengan suka rela melayani juragan Nur, tapi ada juga yang berhasil meloloskan diri dengan dicekoki sage, Banbang melayani juragan Nur dengan tanpa sadarkan diri.
***
Tiga bulan berselang akupun ketahuan hamail, dan Bambangpun ketahuan menghamili juragan Nur, aku yang harus terpaksa melepas harapanku untuk menikah dan hidup bahagia dengan Bambang, dinikahi Mas Waluyo, dan Bambng menikahi juragan Nur, Ayah dan Ibu kami sebelumnya menentang keras, tapi nasi sudah menjadi bubur.
***
Kurang lebih Sembilan bulan anakku lahir dimuka bumi ini, kuberi nama Teguh Waluyo, agar menjadi peneguh dipernikahanku yang tidak pernah bahagia. Anak dari Bambangpun menyusul, yang membuatku terkejut adalah Siti Nurbaya, ‘Siti” itu namaku,”Nur” itu nama juragan Nur,”Ba”itu dari kependekan Bambang”Ya”itu nama suamiku yaitu Waluyo, jadilah Siti Nurbaya.

cerpen 4

KAU BUKAN DIA
BUAH PENA : MANG GUGUN

Kehidupan yang kita jalani mempunyai dua sisi yang sangat berkebalikan. Kebahagian dan kesedihan serta pertemuan dan perpisahan semua menyatu dalam sebuah  perjalan  hidup. Namaku diaz, dalam hidupku kualami berjuta misteri yang selalu tersimpan dalam otakku, Aku bahagia karena aku punya seorang teman, sahabat, sekaligus pacar yang sangat menyayangiku, Ines namanya, kisah kami berawal ketika kami dilahirkan  dirumah sakit yang sama, Dan kini hampir 12 tahun kita bersama. Ayah dan ibu kami sudah sangat akrab layaknya keluarga besar yang bahagia.
Aku ingat saat aku ulang tahun yang ke-enam, Ines memberiku dua buah kalung berliontinkan di@in. Aku sangat senang menerimanya, saat itu kami berharap kami akan selalu bersama sampai dewasa dan sampai kita tua nanti. Dulu aku bersekolah di SD yang sama dengan Ines. Kami berangkat dan pulang bersama. Yang tak pernah bisa kulupa, aku pasti masih tidur ketika ines datang menjemput. “ Diaz.. bangun,bangun,bangun!” tiap pagi selama hamper enam tahun Ines selalu begitu. Bahkan kata – kata itu sering terngiang ditelingaku bila aku bangun dipagi hari. Jarak antara rumah dan sekolah kami tak terlalu jauh, kurang lebih 700 meter.  Aku juga ingat, dulu aku pernah bersikap aneh selama tiga minggu. Itu semua disebabkan karena aku bertengkar dengan Ines. Tapi semua itu segera berakhir dan semua kembali normal, maklumlah keegoisan anak kecil.
Ujian, ujian, dan ujian, kaim sangat menanti hari itu. Kami selalu belajar bersama dirumahku, menurut kami ini lebih baik karena jika aku kesulitan maka Ines bisa membantuku dan sebaliknya. Hari yang kami tunggu tiba, kami sungguh semangat menyambutnya. Senjata yang diperlukan telah kami siapkan, dan sekarang kami siap bertempur. Hari demi hari berganti, ujian telah usai dan kini kami mengunggu hasil kerja keras kami selama ini. Aku sangat senang ketika sekolah kami menyatakan kami lulus dengan nilai yang cukup baik. Nilaiku 32,15 sedangkan Ines 33,80 dari empat mata pelajaran. Harus kuakui memang dia lebih jago dariku tapi aku akan terus mengejarnya sampai aku lebih hebat darinya.
Masa SD telah berlalu, kini kami harus berjalan dalam tingkatan yang baru. Pak Jendri, ayah Ines mendaftarkan kami disebuah SMP favorit. Alangkah bahagianya kami karena kami diterima diSMP itu. Masih seperti dulu, Ines selalu menjemputku tiap pagi dan kami berangkat bersama. Namun karena jaraknya cukup jauh jadi kami berangkat dan pulang mengendarai sepeda. 3 km kami tempuh setiap harinya, tapi jalan pegunungan yang indah membuat kami selalu gembira. Dikelas satu aku menjadi jawaranya, Ines di tempat ke dua dan teman – teman mengikuti di tempat selanjutnya.
Namun aku merasa ada yang aneh disini. Ada banyak hal yang berbeda akhir – akhir ini, perasaanku dan sikapku pada Ines semua ku rasa ada yang berbeda. Tapi aku tak tahu apa dan mengapa. Aku terus memikirkannya, bahkan pernah sampai terbawa mimpi. Aku coba memikirkan apa yang sebarnnya terjadi padaku, dan aku sadar aku jatuh cinta pada Ines. Tak jauh berbeda denganku Ines juga merasakan hal yang sama. Dikelas dua SMP aku putuskan untuk memacarinya dan semenjak itu pula kami semakin dekat dan kompak. Meski begitu prestasi kami tetap OK. Kami silih berganti menempati peringkat satu dan dua.
Unik! Banyak hal yang kami lewati bersama, senang, susah, ceria, marah, pernah juga bertengkar. Disuatu malam yang indah aku mengajak Ines pergi ke sebuah tempat yang indah. Letaknya tak begitu jauh, hanya 50 meter dari rumahku. Itulah bukit paling tinggi disana, juga merupakan bukit yang paling indah yang pernah aku datangi. Disana kami mengungkapkan janji, “ aku Diaz Sinaga dan aku Inesta Indri akan selalu bersama bintang malam sampai kapanpun. Malam semakin larut membuat kami harus segera pulang. Ingin aku bisa menghentikan waktu agar keindahan ini bissa kurasakan lebih lama lagi.
Tiap malam minggu kami selalu bersama, ntah itu dirumahku ataupun dirumahnya. Dimanapun tak masalah yang penting kami selalu bersama.  Pada perjamuan ulang tahun ines yang ke – 12aku mengatakan pada semua orang yang ada disana aku sudah pacaran dengan Ines dan aku bermaksud serius dengannya.  Ayah, ibu, om Jendri, budhe Ita, dek Yuli dan mas Dino  mereka tertawa karenaku. Ines yang mndengar semua ini hanya tersipu malu. Kemudian ayah bilang padaku, “ eh Dias, lihat mas Dino ! mas kamu aja belum pernah bapak lihat dia bawa cewek, hehehe..” makan malam itu begitu indah dan terekam jelas dalam memoriku. Ini tak kan pernah ku lupa seumur hidupku.
Seperti biasa aku mengajak Ines ketempat yang paling indah. Kali ini aku mengajaknya ke tempat yang paling rendah, tepatnya dilereng. Disana kami menghabiskan waktu bersama sampai larut malam. Jarak rumah yang cukup jauh membuat kami harus segera pulang. Namun sebuah peristiwa yang tak ku inginkan terjadi.  Kami mengalami kecelakaan. Lukaku tak begitu parah, tapi tidak dengan Ines. Dua minggu ia harus dirawat di unit gawat darurat sebuah rumah sakit sampai akhirnya dia harus pergi. Dia perig dan tak mungkin kembali, pergi untuk selamanya. Hujan air mata mengiringi pemakamannya. Aku dan semua orang yang menyayaginya hanya bisa mendo’akannya.
Ujian akhir sekolah ku lalui dengan beban yang begitu berat. Cita – citaku dan Ines untuk masuk SMA favorit hanya tinggal kenangan. Aku sungguh menyesal, begitu bodohnya aku harus mengajaknya ketempat itu dan harus membuatnya pergi untuk selamanya. Ujian usai namun aku tak mendaftar di SMA impian kami dulu. Aku takut akan semakin terpuruk jika aku masuk disana. Satu malam sbelum MOPDB aku bermimpi aneh. Aku bermimpi Ines mengatakan sesuatu padaku. “ Diaz, bangun bangun dari keterpurukanmu, aku akan kembali.” Begitu katanya. Aku terbangun, aku sungguh tak mengerti apa yang ia maksud.
Pertama masuk SMA aku menempati kela X-2. Pada saat MOPDB aku terlambat masuk, aku hanya bisa menunduk saat dimarahi habis – habisan di depan teman – teman baruku. Ketika aku mencoba melihat mereka kepalaku serasa berputar dan aku tak tahu lagi apa yang terjadi padaku. Itu karena aku melihat gadis yang mirip sekali dengan Ines. Mirip, mirip sekali mungkin 99,9%. Gadis itu bernama Elen. Kini aku baru mengerti inilah jawaban dari mimpiku itu. Tanpa piker panjang aku muli menyelidiki semua tentang Elen.
Ciri – ciri fisiknya sama dengan Ines. Hanya saja cara berjalannya berbeda dengan Ines. Satu lagi yang membuatku terkejut, tanda lahir (toh putih kecil) disebelah tangan kiri itu sama persis dengan punya Ines. Tanggal lahir mereka juga sama. Aku rasa ini bukan suatu kebetulan.
Saat ia mulai dekat denganku, aku mengajaknya ke rumah. Dia mengejutkan semua orang, bahkan ibuku pingsan dibuatnya. Saat ibuku bangun aku mulai menjelaskan semuanya pada ibu dan ayah. Keesokan harinya aku mengajak Elen ke rumah Ines. Budhe Ita yang membuka pintu lagsung memeluknya lama sekali. Tangisan budhe membuat Elen jadi ikut menangis. Kemudian aku jelaskan semuanya pada mereka. Kuceritakan pada Elen semua tentang aku dan alm. Ines. Foto – foto saat kami kecil dulu dan semua tentang kami. Elen pun tak sanggup menahan air matanya.
Di malam peringatan hari ulang tahun alm. Ines yang ke-15,  kami mengundang Elen beserta keluarga. Karena saat itu ayah dan ibu Elen sedang diluar kota jadi Elen hanya datang sendiri. Kebetulan Elen juga ulang tahun hari itu. Aku mas Dino, dek Yuli dan orang tua kami memandang Elen tajam. Makan malam dan perayaan pun dimulai. Usai acara semua berkumpul diruang tamu rumah om Jendri. Satu per satu dari kami menceritakan semua tentang alm. Ines. Kebetualn Elen orangnya terbuka, jadi enak diajak bicara.  Malam ini kau bertekad mengajak Elen ke tempat dimana aku dan Ines kecelakaan, juga bukit tempat kami mengucap janji. Elen hanya terharu dan meneteskan air matanya. Karena malam mingu aku dan Elen menginap dirumah om Jendri.
Minggu pagi pukul 08.00 kami ke makam Ines dengan membawa Elen. Usai berdo’a mereka pulang meninggalkan aku  dan Elen. Aku memutuskan untuk menembaknya didepan makam Ines dan Elen pun menerimanya. Aku bahagia sekali diberi kesempatan seperti ini. Karena rumah kontrakan Elen berlawanan arah denganku maka aku haya sesekali saja menjemputnya. Di sekolah kami selalu bersama. Dia sama pandainya dengan alm. Ines, semua tentang ELen mengingatkanku pada Ines. Terkadang saat aku melamun dan Elen ada disampigku aku sering memannggilnya Ines. Aku bersyukur karena ia bisa mengerti.
Di kelas satu SMA Elen menjadi jawara 1 paralel, aku bangga padanya. Sedang aku peringkat 2 di kelas X-2 dan peringkat 10 paralel. Tiap malam minggu kami selalu pergi ke puncak dan belajar bersama.
Satu yang membuatku sedih. Ayah dan ibu ELen memindahkannyake SMA lain di luar pulau. Aku berusaha membujuk Elen agar ia membujuk orang tuanya untuk tetap tinggal disini. Bahkan aku menceritakan semuanya dan mengajak Elen tinggal dirumah om Jendri, namun orang tuanya tetap tidak setuju. Dengan berat hati aku melepaskan Elen. Tapi aku cukup senang karena kami dapat berkomunikasi dengan baik. Elen juga berjanji akan mengunjungiku tiap liburan. Aku datangi makam Ines dan aku bilang, “Dia pergi nes, aku sadar sekarang dia bukan kau. Elen bukan kau, bukan..!!” aku hanya bisa menangis, aku menangis.

cerpen 3

KISAH lan CINTAKU ning JURNALISTIK
Oleh :Mang Gugun

  “Teeet…..” suara bel saat jam istirahat, waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB, semua teman temanku di kelas XI IPS 5 berhamburan keluar kelsa untuk makan dan jajn di kopersai atau kantin sekolah, sementara aku sendiri masih sibuk mengerjakan tugas.
“assalamualaikum warohmatullahi wabarokatu, pengumuman, bagi anggota tim  ekstra Jurnalistik nanti sepulang sekolah harap berkumpul di joglo.” Terdengar suara itu di speaker kelasku. “Jurnalistik, apa itu ya…?”aku sepertinya tertarik untuk mengikutinya, dalam batinku terus bertanya tanya, sepulang sekolah aku pun mengikuti acara tersebut.
Saat aku melihat di joglo mereka di  binbing oleh ibu  Jumiti yang juga guruku bahasa Indonesia , aku pun mengikuti ekstrakulikuler tersebut, sebelumnya aku sudah kenal dengan salah satu anggota jurnalistik, yaitu mbak Sely Indraswari, yang sering ku pangil mbak Sely, saat aku baru saja masuk aku di percaya untuk mengikuti lomba membuat mading yang bertema Pemuda ngerti pajak,Tax For Student 2010, Kanwil DJP Jateng 1 dan KPP  Pratama, tanggal 22 juli 2010. Dan akhirnya SMANJU mendapat juara dua, aku senang sekali rasanya, aku bahkan dapat bisaisiwa selama dua bulan dan piala Pertamaku yang masuk Rmah.
Karena kelsa tiga sudah pasti di sibukkan dengan persiapan persiapan ujian maka ada perekrutan anggota baru dari kelas satu, tapi ada kelas tiga yang masih aktif untuk mengajari kami semua agar mengerti dan selalu membimbing kami, aku pun semakin mengenal banyak teman di Jurnalistik, mengenal lebih dekat kakak kakak-kelas adik-adik kelas. Lebih akrab dan seperti sudara sendiri rasanya,pertemuan pertemuan setiap hari sabtu rasanya begitu melekat di hatiku.
Agenda jurnalistik setiap  bulan adalah membuat mading sesuai dengan tema yang menyangkut bulan itu, kebetulan aku di percaya oleh teman teman untuk menjadi pim.red. anggota 1 mading, dan mbak Sely pim.red. anggota 2 mading. Setiap bulan aku dan teman teman yang lain menyalurkan karya karya terbaik dari kami untuk sahabat mading SMANJU.
Tak ku sangka akupun merasa begitu naymannya di jurnalistik, saat ku sadar ternyata aku adalah satu satunya cowok yang ikut jurnalistik, aku pun mengajak Widi dan mas Alfian untuk bergabung, dan Imam adik kelsaku pun juga bergabung disitu,seneng deh…, aku banyak temannya.
Hubungan ku dengan mbak sely pun semakin dekat, kami sudah seperti adik kakak beneran. Aku sering di bangga banggakan di depan semua teman temannya,”aku pun takut jika kelak aku mengecewakannya,bagaimana rasanya yah…. Semoga tidak pernah terjadi. Amin….”
Semua berjalan lancer sebelum aku berkenelen dengan Mu’ah Saroh Suprihatin, dia adalah wanita yang pernah mengisi hatiku, dia manis, imut, manja, pengertian, dan lucu. Aku mulai jatuh hati dengannya, satu minggu aku PDKT dengannya,belum sampai jadian aku sudah bertengkar dengannya karena sesuatu.Sebelum peristiwa itu aku, mbak Sely dan Mu’ah ditraktir bu Jum karena telah membantu beliau, kami pun membeli bakso berasma di pasar Juwana.dia lucu makanya,hehehe
Tak ku sangka bicaranya sekasar itu padaku, aku sekarang baru tahu sifat aslinya orang yang kusayangi seperti itu, setelah aku terlanjr cinta dengannya dengan berat hait aku harus melepsanya pelan pelan,. Aku pun malah terlibat masalah dengan mbak Tika ismayanti, seorang idolaku di jurnalistik karena ketangkasan tanganya yang menghasilkan  karena aku memang merasa tidak cocok dengan Mu’ah. Sampai saat ini aku masih diam tanpa kata saat aku bertemu dengannya di jurnalistik.
Tidak lama berselang, dari tugas demi tugasku aku pun mengenal Narsiki, gadis cantik berkerudung yang tampak solihah  yang membuat hatiku terpikat dan aku mulai bisa melupakan Mu’ah, hal itu mulai diketahui Mu’ah, hal hal yang tidak ku inginkan pun mulai terjadi satu per satu, dan membuatku terrpuruk,
Aku mulai mengecewakan mbak Sely, mbak Tika, dan diriku sendiri, mbak tika mulai tak akrab denganku, padahal sebelumnya aku ingin di ajari tentang bakatnya mengambar.aku terlibat pertengkaran kata kata dengannya walau hanya lewat SMS.aku kecewa sekali dengan kejadian itu, isi SMS  itu tidak mencerminkan aku banget. Bahkan masalah ini sampai ku adukan ke mbak Sely, dia membelaku habis habisan di depan mbak Tika.
Hubunganku dengan mbak tika dan Mu’ah pun semakin tidak harmonis sekali,aku berusaha lebih dekat dengan narsiki ,tapi aku mengalami kebingungan sendiri, pelan tapi pasti aku pun melupakan mu’ah.
Aku bahkan sampai main kerumahnya,aku ngobrol dengannya, bahkan aku mengungkapkan isi hatiku didepan rumahnya, tapi dia tidak memberikan jawaban apapun seperti mengantung harapanku padanya, aku ditolak oleh Narsiki,huh….,tak apalah mungkin belum jodohku. setelah kejadian itu aku malah terlibah pertengkaran yang sebenarnya tidak ku inginkan dengannya, lagi lagi aku tidak bisa mengendalikan emosiku saat aku berkomunikasi lewat SMS,  rasanya aku tidak jentel sekali, aku masih berusaha medekati narsiki hingga seorang Adit dating,ia mengacaukan perjuanganku,heheh,itu menurutku. Tahu tidak….aku bahkan sampai membuatkan dia sebuah lirik lagu yang berjudul namanya sendiri, yang sampai saat ini masih ku cari satu per satu nada yang tepat agar terbentuk sebuah lagu yang indah.
Mbak Sely pun merasa kecewa banget dengan sikap sikapku yang mulai banyak tidak bisa ku pertangung jawabkan, aku sering ngomong ‘A’ tapi tak berapa lama aku ganti ngomong ‘B’ dan aku juga bingung,hal itu masih terjadi berkali kali padaku sampai saat  ini.
Begiti sama seperti yang dulu ku dengan Mu’ah nasip kisah perjunagnku dengan Narsiki, lam kelamaan aku mulai mengetahui sikap sikap yang tidak ku harapkan dari mereka. “manusia memang tidak ada yang sempurna, tidak ada……tidak hanya dilihat dari penampilan luarnya saja, karena sekarang sesuatu yang indah pun menipu.” Dari kisahku itu aku dapat banyak manfaat berharga yang membuatku semakin kuat menghadapi hidup ini.
Tanpa kusadari saat saat aku bersedih, saat aku terpuruk, saat aku gelisah, dan saat aku menangis, ada seseorang yang selalu perhatian denganku selain mbak Sely, dia adalah temanku jurnalistik juga yang sebelumnya aku kenal dia dari seorang Tika Fitria. Namanya Ida Sri Wijayanti, semangat semagat yang ia kirimkan padaku walau hanya lewat SMS membuatku sedikit bertanya Tanya, kenapa dia perhatian denganku?
Aku pun menceritakan hal ini pada mbak Sely, “ mbak, aku ingin serius kali ini, sepertinya dia ada rasa denganku,mungkin pelan pelan aku akan menyukai dia mbak, tapi sepertinya ia sudah bosen dengan semua kata kataku yang berulang kali aku bilang seperti itu pada beberapa orang yang ku suka tapi akhirnya seperti itu terus.
Seiring berjalanya waktu biar hanya aku dan Ida yang tahu kisahku ini, biarlah ku sandarkan Cinta Kilat ku ini padanya.
Kini aku dengan masalah masalahku dan teman tenam jurnalistik harus fokus dengan pembuatan majalah ANTENA edisi ke tiga hingga sampai saat ini berhasil di terbitkan. Aku Bangga……Thanks for All.
Sukses selalu tim jurnalistik SMANJU…..

cerpen 2

Kujaga Kesuciannya
Oleh : Mang Gugun

            Saat semuanya mengejar matahari yang kian mendekati bumi, aku terdiam sembari duduk disini, melihat semuanya berlarian. Aku masih terlalu kecil utuk ikut rombongan mereka. Aku selalu membayangkan saat-saat aku mampu berdiri dan mengikuti mereka, dan aku terpacu untuk belajar dan mempelajari arti yang sebenarnya yang masih kucari dalam hidupku ini.
            Aku hidup diantara keluargaku yang religius. Kkekku, ayahku, ibuku, dan kakak perempuanku selalu mengajariku belajar ilmu agama, agama Islam, itulah kepercayaan yang kami anut sejak lahir. Agama Islam bagi kami bukan hanya kewajiban yang untuk kami anut, tapi menjadi kebutuhan dasar hidup bagi kami. Saat aku belajar puasa, aku punya pengalaman yang indah dan sedikit konyol. Saat usiaku sembilan tahun aku berpuasa seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku belajar puasa sejak umur empat tahun. Saat itu aku ketahuan kakakku minum es di dalam kamar saat kakakku berniat membangunkanku untuk salat jama’ah dzuhur.
            “Kreek…” suara desah pintu kamarku….Lalu,
            “Eh, Gugun. Kamu ketahuan nggak puasa. Ayo…!!!”
            “Jangan diteruskan. Taruh minuman kamu. Tak bilangin ayah lhooo!!!”
            Aku terkejut sekalidan ketakutan,”Ampun Kak,. Jangan bilangin ke siapa-siapa ya?”
            “Aku janji akan melakukan apapun yang mbak perintahkan.”
            “Yang bener?” sahutnya.
            “Ya, nanti setelah salat dzuhur kamu datang ke rumah kakak, lalu bereskan kamar kakak, cuci piring di dapur dan setelah itu langsung tidur.”
            Aduuuuhhhh.
            Aku dikerjain kakakku habis-habisan. Saat itu juga aku kapok untuk membatalkan puasaku. Selain itu, kakekku juga pernah bercerita kepadaku
“Gun, biarpun semua orang didunia initidak bisa melihat perbuatanmu, tapi ada yang melihatmu di atas sana, yaitu Tuhanmu, Allah SWT, jadi kamu harus adil dan jujur meski tidak ada orang yang melihatmu. Kamu kan sudah belajar Al Qur’an, kamu tahukan? Allah itu Maha apa……?”
            “Allah memiliki 99 Asmaul Husna kek, salah satunya Maha Melihat lagi Maha Mendengar.”
            “Nah, cucuku pintar sekarang, semoga Allah selalu melindungimu nak. Amiiinnnn.”
            Sejak itu selalu berhati-hati untuk bertindak, tapi karena aku masih anak kecil, aku tetap banyak melakukan kesalahan-kesalahan.
Aku juga punya pengalaman saat aku salat tarawih saat bulan puasa karena siangnya aku sibuk bermain bersama teman-teman dari sehabis subuh sampai siang hari. Aku sangat capek sekali. Aku mau tidur siang itu, tapi aku disuruh membantu kakakku untuk beres-beres rumah.
            “Gun, dari mana? Dari tadi pagi kakak lihat kamu tidak ada di rumah? Jangan-jangan…??”
            “Jangan-jangan apa, Kak?”
            “Kamu nggak puasa, ya?”
            “ Yeee…. Aku masih puasa.” jawabku.
            “Kok masih seger. Biasanya jam segini kamu sudah ada di kamar dan tidur.”
            “Ya ini mau tidur, Kak. Aku capek. Tadi aku jalan-jalan sama dengan Nailun dn temen-temannya.”
            “Hayo… siapa Nailun?” tanya kakakku curiga.
            “Cuma temanku kok, Kak. Udah ah aku mau tidur.”
            “Eits… jangan tidur dulu. Kamu tadi malam janji dengan Bapak dan Ibu untuk membantu membersihkan rumah kan…!”
            “Aduh…. Kali ini saja ya, Kak. Aku dah ngantuk dan capek nih……!”
            “Owww, ya udah nanti tak bilangin bapak supaya tidak usah membelikan baju barumu dulu.”
            “Ya ya ahh.. trus aku harus ngapain?” jawabku kesal.
“Kamu bersihin jendela dan nyapu. Kalau udah selesai, bilang sama kakak. Nanti kakak yang ngepel.    Oke?”
            Huft.. apes banget aku. Dikerjain lagi kakakku.
Setelah jam 4 sore, selesai salat Asar, aku mandi. Karena kecapekan, aku langsung tidur. Dan aku bangun saat buka, ALHAMDULILLAH. Setelah salat Maghrib aku masih merasa capek. Aku istirahat sebentar. Setelah itu, aku pergi ke masjid untuk salat Isya’ dan tarawih. Aku ketiduran saat salat tarawih sampai selesai. Hehehe… Bapakku membiarkanku tidur, begitu juga ibu dan kakakku.
Saat lebaran tiba aku senang sekali. Malam harinya aku mengikuti takbir keliling desa dengan membawa mainan besar dari kertas Koran yang kami buat sebelum lebaran. Aku membawa sebuah kembang api besar yang sangat indahyang dibelikan oleh bapaknya Nailun. Aku, Nailun, dan teman-teman yang keliling desa. Setelah acara selesai, Kepala desa mengumumkan pemenang lomba arak-arakan keliling desa. Sayang, kami tidak mendapat juaranya. Setelah selesai, kami semua kembali ke masjid dengan rasa lelah, tapi menyenangkan. Aku dan Nailun menyalakan kembag api sepanjang perjalanan.
            “Wah, seru banget…” ujar aku dan Nailun bersamaan.
            Setelah sampai di masjid, kami mengumandangkan takbir Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laila hailallah huallahu Akbar. Allahu Akbar walillahilham sampai larut malam. Karena aku masih kecil dan pengeras suara (mic) di masjid Cuma ada tiga, aku rebutan dengan Taufiq. Heheheh….
            Pagi kami semua melaksanakan salat Idul Fitri dengan mata memerah dan rasa ngantuk karena semalam takbiran bersama Nailun dan teman-teman yang lain. Setelah kami selesai salat Idul Fitri, rombongan kami keliling desa untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan.
            “Huuuuffffttttt….”
            Kami semua kekenyangan karena setiap datang ke rumah tetangga, kami selaul disuguhi makan dan minum. Dan yang tak lupa adalah angpao. Hehehe…Setelah seharian kami berkeliling, kami semua beristirahat di rumah Nailun sambil nonton TV dan tiduran di depan TV. Senang sekali rasanya hari itu.
            Itulah salah satu cerita masa kecilku bersama Nailun. Indah yach… Saat aku beranjak remaja, aku harus menjalankan ibadah sunah, yaitu dikhitan.
            “Aduh.”
            Aku sempat tak mau dikhitan, tapi aku malu juga. Karena semua teman-temanku yang lain sudah pada dikhitan. Rasanya sedikit sakit. Hampir satu minggu aku tak bisa berlarian bermain bersama Nailun dan teman-teman yang lain.
            Waktu benar-benar tak terasa. Banyak hal yang telah Alaah berikan kepadaku. Kesempatan belajar hidup ini begitu indah. Tak terasa aku sudah kelas VIII SMP. Bersama Nailun, setelah salat Subuh aku selalu belajar bersama. Sebelum kami berangkat sekolah, kebetulan jarak rumahku dengan rumah Nailun tak begitu jauh. Hanya sekitar 30 meter. Kami selalu berangkat sekolah bersama. Kalau bulan Puasa aku dan Nailun naik bus. Jarak rumah kami dengan sekolah cukup jauh, kurang lebih 7 km. Saat istirahat, kami biasanya pergi ke perpustakaan sekolah bersama. Sayangnya, sewaktu SMP aku tidak pernah sekelas dengan Nailun. Tapi, aku seneng. Setiap ada ulangan di kelasnya dan di kelasku belum ada ulangan aku selalu diberi tahu soalnya dan diajari. Begitupun sebaliknya. Ya itulah gunanya sehabat. Tapi, bukan berguna dalam itu juga. Berguna dalam kehidupan ini lah.
Saat kami SMA, kebetuln kami masih satu sekolahan. Tapi, seperti di SMP juga, kami tidak pernah sekelas. Aku merasakan jarak persahabatan kita semakin merenggang. Ya, aku tahu penyebabnya. Nailun sekarang  sudah menjadi gadis remaja yang cantik. Pokoknya berbeda dengan yang dulu. Huhuhuhuhhu….
            “Nai, kamu sekarang tambah cantik saja. Apalagi dengan jilbabmu itu, aku jadi terpesona. Hehehehe…”
            ”Ah, kamu, Gun. Darimana kamu? Sekarang sudah pandai merayu nih…?”
            “Hehehe… Nggak, Nai. Beneran!!!!”
            “Ya, terima kasih, Gun. Alhamdulillah Allah memberiku rupa seperti ini. Ya… Aku syukuri. Kamu juga. Ayo bilang alhamdulillah. Hehehe…
            “Aku pernah bilang itu saat aku belajar di rumah, Nai. Benar-benar aku bingung banget. Aku meminta petunjuk kepada Allah SWT.”
           
            “Ya Allah, apa yang terjadi dalam hidupku ini. Rasa apa yang Kau beri ini, Ya Allah?” kataku dalam hati.
            Aku tahu aku suka Nailun, tapi aku belum mau mengungkapkan isi hatiku padanya. Aku takut bila sudah pacaran nanti aku bisa jadi seperti teman-temanku yang lain. Tak punya aturan !!!!!
            Aku menceritakan ini ke kakakku. Ia mengajariku banyak hal tentang pacaran dimana aku tak boleh lama memandangnya, tak boleh memegang tangannya, tak boleh menyentuh. Aku hanya boleh merasakan hal yang indah saat aku di dekatnya. Kakakku juga mengajari tentang adat berpacaran secara Isami. Hehehe… Aneh-aneh saja.  Tapi, kata kakekku, pacaran itu setelah menikah. Aduuuuhhhh…. Aku jadi bingung.
            Pada waktu masuk sekolah pertama kali setelah liburan, aku bernia menembak Nailun. Tapi, aku merasa deg-degan karena aku takut cintaku ditoak oleh Nailun. Dengan perasaan takut dan ragu, aku melangahkan kakiku ke kelasnya dan mengajaknya ke suatu tempat.
            “Gun, ada sih kamu mengajakku ke sini?” Tanya Nailun
            “Nai, ak mencintaimu. Rasa ini diberikan Allah kepadaku untukmu. Maukah kamu menjadikan aku pacarmu?” kataku dengan perasaan deg-degan.
            Nailun terdiam sejenak. Mungkin ia sedang memikirkan sesuatu.
            “Nai….?”
            Kemudian ia bergumam sembari tersenyum dan berkata,”H’m..”
            “Alhamdulillah Ya Allah. Akhirnya aku diterima, Nai!!!”
            Di kelas 2 SMA aku dan Nailun resmi berpacaran. Aku dan dia selalu bersama. Kujaga dia. Setelah selesai pembelajaran kami salat Dzuhur di mushola sekolah bersama. Gaya berpacaran kami berbeda dengan teman-teman seusia kami. Aku tak pernah menyentuhnya sedikitpun sebelum kami menikah nanti. Amiiiinnnn…. Aku menerapkan apa yang diajarkan kakakku dan aku selalu ingat Allah agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kami inginkan. Rasanya indah sekali jatuh cintaitu. Pengalaman yang takkan pernah aku lupakan. Semoga hubunganku dan Nailun selalu indah. Dan semoga takdir Allah pada kami akan bahagia. Amiiiiinnnnn… Aku cinta Allah SWT.
 

cerpen 1

Piano rumah tua
Oleh : mang Gugun

Ketika malam datang hampir semua orang tidak mungkin berani lewat di depan rumah tua itu, jalan depan rumah yang begitu gelap karena lampu pinggir jalan ynag entah mengapa kadang hidup kadang mati. Rumah bercat putih yang warnanya sudah kusam dan berlumut itu memang sangat megah di jalan Bangsal, tapi rumah itu sudah lama tidak berpenghuni  sekitar empat tahun yang lalu. Seluruh keluaraga beserta pembantu rumah itu di rampok dan dibunuh secara tragis.
Desas-desus yang beredar dari tetangga baruku, setiap hari Rabu pasti arwah mereka bergentayangan di sekitar rumah. Menurut kesaksian Bang Tigor tukang sate di komplek itu juga pernah bertemu dengan yang punya rumah pada suatu malam. Saat berkeliling di komplek 13 itu ada anak kecil berusia sekitar 13 tahun memesan sate 50 tusuk untuk dimakan di tempat dan 100 tusuk  untuk keluarganya. Baru  saja Bang Tigor berbalik badan, namun anak itu memesan kembali 50 tusuk sate, karena saking senangnya ia pun melayani tanpa rasa curiga. Setelah kembali menyajikan sate baru Bang Tigor menyadari ada hal aneh yang sedang terjadi, Bang Tigor pun berbalik badan, baru 3 kali melangkah anak itu memesan kembali 50 tusuk sate untuk kedua kalinya. Kini sate Bang Tigor pun habis diborong anak tersebut, diakhir gigitannya anak tersebut  menyerahkan 5 lembar uang 50 ribuan dan masuk ke rumah tersebut.
Dengan sangat heran ia membawa pulang gerobak satenya  beserta uang Rp. 250.000,00. sampai saat ini uang tersebut masih di simpan olehnya. Kesaksian Bang Tigor  di kuatkan oleh Pak Kusadi, setealah ia mangakal di perempatan jalan Bangsal 13 seharian penuh dan tidak ada yang menumpang becaknya. Sampai larut malam mangkal di pos becak tersebut , akhirnya sekitar pukul 21.00 WIB seorang ibu tua meminta untuk di anatarkan di Gang jalan 13 yaitu rumah No.50 di peremuahan itu.
Setelah sampai Si ibu tersebut tanpa berkata-kata, beliau menyerahkan dua lembaran uang 50.000 pada Pak Kusadi. Dan masuk rumah yang dianggap warga sekitar  angker. Di siang hari juga begitu, tak ada seorangpun yang berani untuk memasuki rumah itu, bahkan warga sudah meningikan pagar dan di tutup rapat dengan seng agar rumah tersebut tidak begitu tampak dari luar.
***
Saat ibuku berrencana pindah dari perumahan yang lama, tepatnya di perum Bahari Setya, karena disana terkena rob air laut, kebetulan ada orang yang menawarkan rumah diperumahan Bangsal 13 yang lebih megah dari perumahanku sebelumnya dan harganyapun lebih murah. Keluargaku langsung saja setuju dengan penawaran tersebut. Ya, rumah yang berada di jalan Bangsal 13 nomor 49, tepatnya sebelah rumah kosong yang kata tetangga baruku itu angker, nah desas desus terakhir di dalam rumah itu setiap malam rabu pukul 13.00 – 01.00 WIB sering terdengar suara piano yang alunannya sangat indah. Aku yang dirumah baruku hanya tinggal dengan kakak perempuanku, bi Ima, dan pak Tejo pembantu keluarga kami, karena Ayah dan Ibu  sering keluar kota dan belum pernah bermalam dirumah baruku, kami pun sering mendengar suara - suara piano yang mengalun indah di telinga kami ketika terbangun dari tidur.
Aku, kakak, bi Ima, dan pak Tejo merasa ketakutan, kami pun tidur di satu kamar karena saking takutnya. Siang hari sepulang sekolah, aku dan kakakku bermaksud ingin memasuki rumah tersebut, tapi datanglah pak Wisnu yang melarang kami masuk
“eh eh eh….kalian mau kemana?”
“anu pak, mau masuk rumah tua itu.” Sahut kakaku
“jangan! Kalian tahu tidak rumah itu sangat berbahaya, kucing masuk saja tak pernah keluar lagi nak!”
“ngomong-ngomong kalian ini warga baru ya?”
“iya pak, kami baru pindah satu minggu yang lalu!” kataku
“saya pak wisnu, ketua RT di sini, segera laporan ya, dan ingat! Jangan pernah masuk rumah itu, mengerti kalian?”
“baik pak!”
 Sore hari ketika sedang sepi, kami memutuskan masuk lewat pagar belakang yang terbuat dari kayu yang sudah lapuk, di dalam ruangan rumah itu tampak bersih, seperti ada yang merawatnya, terlihat hanya sedikit debu dan ruangannya pun tertata rapi, bahkan salah satu lampu ruang tamu menyala, aku heran dengan hal ini, kakakku pun merasa aneh jikalau rumah ini dikatakan angker, luarnya memang sudah jelek sekali, tapi didalamnya masih bagus. Sofa – sofa dan perabotan yang diselimuti kain putihpun menjadi pemandangan disetiap sudut ruangan itu. Foto keluarga yang semuanya tewas terbunuh juga masih terpampang di dinding ruang nonton TV dengan ukuran yang lumayang besar.
Tapi satu hal yang dari tadi kami cari, Piano, ya... piano itu belum juga aku temukan, karena waktu sudah hampir maghrib aku dan kakakku memutuskan untuk menghidupkan bolam yang ada dirumah itu, memang lampu teras sudah padam, tapi lampu dalam rumah masih bagus semua. Air juga mengalir di kran, WC juga sangat terawat, aku dan kakakku memutuskan untuk salat maghrib di rumah tua itu, setelah selesai salat, malah terdengar suara dentingan piano di ruang sebelah musola, aku dan kakakku pun ketakutan, dengan rasa penasaran akhirnya langkah demi langkahpun kami sampai didepan pintu besar yang kuno yang terbuat dari kayu dan berukir indah. Dengan rasa takut kamipun membuka pintu besar itu.
“ Dag Dig Dug Derr..”jantungkupun serasa copot ketika mendapati seorang anak kecil dengan kepala gundul memainkan piano, ketika ia menolehkan kepalanya kepada kami, dan kakakku pun menjerit sekuat tenaga dan berlari menuju pintu belakang.
Sementara aku dan kakaku masih berlari ketekutan suara piano itu masih terdengar dengan jelas di telinga, rasa ketakutan semakin besar ku rasakan.
“aduh gimana ni kak?”
“gimana apanay?, sudah jangan takut, kakak malah tambah mern=inding tau!diem.....”
“kita pulang aja yuk ah kak, aku sudah hampir mati berdiri di sini.”
“loh, tadi siapa yang minta kesini?, kakak nggak mau pulang dulu, masih penasaran tau, Tapi disini emang aneh!”
“makanya ayo cepat keluar kak... aku takut banget!”
“bukan Nin, tapi seoertinya rumah ini ada yang menghuni kok.”
“tuh kan kakak malah membuatku semakin takut.”
“bukan itu maksudku, maksud kakak penghuninya itu hidup.”
“ha? Kakak, serius deh jangan bercanda mulu, masa’setan kok hidup.”
“udah deh kak, apapun dan siapapun yang ada disini, anterin aku keluar sebelum aku mati berdiri disini.”
“ hust…jangan sembarangan bicara.”
Saat kami sampai di pintu belakang yang dekat dapur, kami malah bertemu dengan ibu-ibu tua yang rambutnya sudah beruban dan memakai baju putih, kamipun tak kuasa menahan rasa takut ini.
“aaaaa.....aaa...aaa...aaa...!”kamipun menjerit sekuat tenaga dan pingsan di tempat. Setelah itu kami tidak tahu apa-apa lagi. Tiba-tiba saja saat kami tersadar kami sudah berada di kasur yang empuk, dan ketika pendengaran kami mulai berfungsi kembali, suara piano itu masih terdengar semakin  jelas. Dan ketika kami benar-benar terbangun, disebelahku ada ibu-ibu tua itu lagi serta di pojok kamar tersebut ada seorang anak kecil yang berkepala gundul yang masih memainkan piano. Tanpa pikir panjang kamipun kompak pura –pura pingsan, tapi kami malah merasa ketakutan.
“dag dig dug der....1...2...3...aaaaa...aaa!”
Kami menjerit sekuat tenaga, lari dari kasur itu menuju pintu keluar dari kamar tersebut. kami coba buka daun pintu yang terbuat dari marmer tersebut.
“mati.....!”
“ kenapa kak?”
Pintunya terkunci, kami sangat takut, mau pingsan lagi juga sudah tidak bisa, bulu kuduk kami semakin merinding ketika teerdengar suara yang pelan.
“Tenang nak, tenang, Kamu membuat ibu kaget saja.” Tanpa pikir lagi akupun pura-pura pinsang lagi dan terletak di depan pintu aku mencoba memakai logikaku dalam pingsan, kakakku masih pingsan disini, aku semakin “mati” ketika aku diseret anak kecil itu menujun ke atas kasur lagi, tapi tangannya hangat seperti orang hidup, tangan ibu itu juga hangat.
Akhirnya dengan rasa takut aku beranikan diri melihat mereka dan kubuka mataku...
“tenang nak, ada apa? Kalian kok takut, tenang!”ibu itu berusaha menyentuhku “ jangan sentuh aku jangan sentuh aku jangan sentuh aaaaa ...!”
“mbak, saya dan ibu saya ini bukan hantu yang dibicarakan orang-orang, saya ini manusia biasa, lihat kaki saya dan ibu saya menempel di lantai!”
“mbak tidak usah takut!”
            Akhirnya dengan pelan-pelan nafasku yang ngos-ngosan mulai teratur  kembali, akupun minum segelas air putih yang diberikan olehnya dan kakakku belum juga sadar, ternyata dari tadi dia juga pura-pura pingsan. Aduh apes banget!
            Akupun membangunkan kakakku yang tadi juga sudah mendengar pembicaraan kami, kakakku bertanya-tanya , setelah dijelaskan akhirnya kami tahu sesuatu yang aneh, lucu…ia adalah Unis anak dari Bu Kamti yang rumahnya dibelakang rumah mewah tersebut, sudah hampir tiga tahun  mereka bolak-balik di rumah mewah itu tanpa sepengetahuan para warga di jalan bangsal 13 tersebut. dengan waktu berfikir yang sedikit lama, karena rasa ketakutan yang masih ada aku dan kakakku malah tertawa sendiri bila ingat tingkah kita semalaman ini. Unis dan Bu Kamti pun juga tertawa.
            Sebagai hadiah dari ketakutan kami tadi, Unis memainkan sebuah permainan piano yang ia sudah mahir, sebagai penghibur dan penenang hati kami. Alunan iramanya sangat padu dan indah, jarinya menari-nari di atas tune yang ia pencet satupersatu.
            Nah.., dari luar , Pak Kani dan Pak Wakit yang malam itu beronda keliling melewati rumah tua ini, mendengar Unis memainkan piano, mereka lari terbirit-birit dan ketakutan yang saat itu yang kulihat dari rumah tua ini.
            Sebagai pengalaman, hal ini tak terlupakan, jailnya kami berdua, kami tidak memberitahu siapapun tentang hal ynag kami alami. Setiap aku mendengar ada suara jejak kaki yang laritunggang langgang ketika mendengar permainan piano Unis, aku dan kakakku tertawa terbahak-bahak dalam kamarku di rumah no empatpuluh Sembilan  jalan Bangsal tigabelas.