Tetes demi tetes airmengalir memasuki gelas kosong yang terbuat dari kaca, putih, bening tanpa adayang ditutup-tutupi, kutuangkan air bersuhu tinggi dan “pyarrr!” gelas ituawalnya retak lalu pecah menjadi dua bagianyang memisahkan sisi-sisi yang sebelumnya menyatu. Aku memang ceroboh, itumemang sifatku sejak kecil.
Kuambil lagi satu gelasterahir yang terbuat dari atom, kutuangkan air jernih dari kendi, airnya sangatdingin, namun sayang warnanya kenapa jadi hijau. Ketika kutumpahkan airtersebut ternyata bening kembali, lalu kucampur dengan beberapa daun teh yang mengeringdan kutambah sedikit gula. Itulah aku yang sekarang. Aku adalah air dan wadahakan menentukanku dan nasibku, warna adalah kenyataan yang ada. Hari ini Abahnya suamiku datang kerumah barukami.
“ Sudah tiga harihubungan pernikahan kita Mas? Kenapa Mas belum mau juga menyentuhku? Mas kansuka denganku, Mas kan menaruh rasa denganku semenjak Manisw diajak Abah ke rumahMas waktu itu, mas minta nomer HPku melalui sepucuk surat? Mas masih ingat?”
“ Masih Dek, iya Masmemang suka, sayang sama Adek, cinta sama Adek, tapi adeknya seperti menolakkehadiran Mas disini, Mas menunggu saat yang tepat!”
“ Sejak awal kalau Maniswmenolak Manisw ndak akan mau nikah sama Mas, Manisw akan kabur dari rumah Mas!Cinta kan bisa hadir seiring berjalanya waktu, sayangkan bisa datang jika Masbisa membuatnya! Manisw sudah sah menjadi istri Mas kan? Meski Manisw belumcinta dab sayang sama Mas!”
“ Mas tau kamu adalaki-laki lain kan yang kamu cinta? Makanya Mas tidak memberanikan diri untukmelakukan itu padamu!”
“ Lalu bagaimana nantijika Abahnya Mas tanya soal itu pada kita Mas?”
“ Jawab saja sudah!Lagipula kenapa Abah Tanya-tanya?”
“ Ndak, Manisw ndak mauberbohong lagi Mas! Manisw takut kualat!”
“ Iya, kebohonganmumembawamu menikah denganku! Iya kan?”
“ Sudah-sudah, ndakakan ada habisnya jika Mas debat terus, tiga hari kita nikah, tiga hari kitadebat!” Akupun segera menuju ruang tamu untuk menyuguhkan secangkir teh manisyang hangat kepada Abah mertuaku. Mempersilahkannya meminum dengan sopan danbersikap lemah lembut seperti wayang yang harus bergerak dengan naskah yangditulis sutradaranya, ini perintah suamiku, aku harus menurutinya, dan aku jugatak mau berbohong.
Untung Abah mertuakutak menanyakan bagaimana keadaan kita, jadi aku tak perlu memakan buahsimalakama untuk kedua kalinya. Abah kesini hanya untuk mendoakan kita danmemberi nasehat-nasehat membangun rumah tangga yang baik dan benar meski belumada cinta dan kasih sayang, Abah mungkin sudah tau apa yang terjadi pada kami,dengan hanya melihat sorot mataku yang mungkin bagian inilah bagian antipenipuan. Abahpun tak berlama-lama disini dan segera pulang, selanjutnya masihbanyak dari keluargaku maupun keluarga suamiku yang datang kerumah kami untukmember ucapan selamat dan doa-doa yang membuat kami supaya merasa mantap.Akupun hanya tersenyum gembir ketika tamu-tamu datang. Tapi tidak denganhatiku. Ya, hari ini hari ketiga pernikahanku dengan mas Hadi, anak dari gurubesar Abahku.
“ Dek, Mas mau bicarasama adek, kita kan menikah secara baik-baik, bila adek ndak suka, kita bisabatalkan pernikahan ini kok, daripada adek menderita seperti ini!” itulah percakapan Mas Hadi yang selaludiucap dalam kamar kami, malam ini dia ulang lagi dan aku sudah ndak tahandengan kata-kata itu, tiga hari semenjak malam pertama dia mengatakan itu terus,aku merasa jadi tak berbakti dan tak berguna, kali ini aku peringatkan dia.
“ Mohon maaf ya Mas,bukan maksud Manisw sepertyi itu pada Mas, Manisw masih cinta sama laki-lakilain, memang! Manisw masih tak percaya dengan pernikahan kita, memang! TapiManisw menghargai mas! Sebagai suami Manisw! Mohon maaf jika Manisw membentakmas! Malam ini Manisw tak mau berdebat dengan mas! Manisw capek, Manisw mautidur, kalau Mas ndak mau menyentuh Manisw malam ini, mungkin besok Manisw akanpulang kerumah Abah dan Bunda saja!”
Suamikupun serbabinggung, akupun binggung, tapi malam ini dia tak juga menyentuhku, jengkelrasanya, sudah jelas-jelas aku istrinya, tapi kenapa aku diperlakukan sepertiini. Malam ini dia hanya berani mencium keningku, setelah itu dia tidur di sofakamar seperti biasa.
Keesokan harinya akumemutuskan untuk pulang, sebelum pulangpun kami berdebat, sungguh aku takmenyangka menjalani keluarga yang seperti ini, aku tak mau mengecewakan Abahdan Bunda, aku juga tak mau pernikahanku gagal, karena dalam hidupku tak akanpernah ada pernikahan kedua, ketiga dan seterusnya.
“ Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh!” tiba-tiba sajaterdengar suara orang datang pagi-pagi kerumah kami.
“Waalaikumsalam!” kamipun menjawab dengan kompak, ndaksopan banget orang itu, jam tujuh belum ada sudah datang. Segera Mas Hadimembukakan pintu dan aku menuju dapur untuk mempersiapkan pembuatan teh.Walaupun kami sebelumnya debat, tapi kami mencoba kompak jika ada tamu. MasHadi pun kedapur, kutanya siapa yang datang dia tak menjawab, dan aku dimintamembuat dua cangkir kopi setelah itu dia minta aku untuk bersama-sama disana.Aku semakin penasaran. Mungkinkah Adi.? Ya, setelah aku sampai diruang tamu,itu Adi dan perempuan yang empat hari lalu aku temui dijalan saat aku beradadidalam mobil pengantin.
“ Alhamdulillah sekarang Manisw sudah berkeluarga ya, dengan suamiyang tampan, ganteng dan soleh. Apakabar Bapak? Manisw? Sehat-sehat semua kan?”
“ Alhamdulillah beginilah Pak, mohon maaf Bapak dan Ibu ini siapanyaistri saya?” suamiku penasaran dengan kedatangan Adi, dan aku deg-deganmelihatnya sedekat ini lagi setelah perpisahan enam tahun silam.
“ itu Adi Mas, orangyang selama ini aku cintai!” akupun tinggal menjawab saja dengan jujur apa yangaku rasakan, sepontanitas banget aku menjawabnya. Suamiku sepertinya agak kagetdan berdebar jantungnya. Terlihat dari genggaman tanganya pada tanganku.
“subhanallah, akhirnya kitadipertemukan juga disini Pak!”
“Istri saya seringdebat masalah ini, ternyata Bapak orangnya, masyaallahluar biasa Bapak!” entak menyindir atau memuji. Tapi Adi sekarang sudah berubahdrastis, dia memakai kain jubah dan sorban dikepalanya, kumis dan jenggot yangpanjang beserta seorang perempuan bercadar dan seorang anak kecil.
“ hehehehe, Bapak bisasaja, nama saya Adi pak, temannya Manisw waktu SMA, hehehe ya seperti inilahkeadaan saya!”
“ keadaan Bapakbagaimana? Bisa diperjelas Pak?”
“ Sudah hampir enamtahun saya mencari cara untuk pulang ke Pati, sampai-sampai saya prustasi,karena Ayah saya tidak merestui saya pulang ke Jawa sebelum saya rampungkanhajat saya. Dan ternyata waktu kemarin saya datang kerumah Manisw, disana sudahada pesta pernikahan yang sangat bahagia! Sekali lagi saya ucapkan selamat ataspernikahan yang kalian bangun, semoga syakinah, mawadah, warohmah, danbarakallah dunia akherat pak! Amin ya Allah”
“ Sebenarnya pernikahankami ini tidak berjalan harmonis Pak, istri saya selalu mengajak saya debatsetiap malam karena menunggu Bapak datang mungkin! Kalau memang berkenan, sayaserahkan Manisw pada Bapak” akupun terkejut mendengar perkataan dari suamikuitu. Ndak biasanya dia pasrah.
“ Astagfirullah bukan pak! Alhamdulillahsaya ikhlas dengan apa yang terjadi, ini semua sudah kehendakNYA, jadi kalausaya menjadi penghambat rumah tanga ini saya mohon maaf beserta keluarga saya!Kedatangan saya kesini juga bermaksud ingin memantapkan hati Manisw supayamenjalin rumah tangga yang baik dan benar dengan Bapak. Amin.!”
“Adi, kalau boleh tau,Ibu disampingmu yang membawa anak itu siapa ya Di? Mohon maaf bu!” akupunpenasarandan bertanya langsung.
“ Manisw, didepansuamimu ini saya mau meluruskan beberapa hal, pertama jangan karena saya, kamujadi tidak patuh dengan suamimu, dan Bapak, juga harus menjadi suami yang baikbagi wanita secantik Manisw Pak, yang kedua memang kedatangan saya ke Jawa inibersama kakak saya tercinta ingin melamar Manisw, ternyata sudah didahuluiorang, hehehe. Yang ketiga juga saya mau bercerita pada Manisw bahwa mobil yangpernah mencoba menyerempetmu dulu saat masih SMA, itu mobil yang saya kendaraisaat itu. Saya mohon maaf. Hanya tiga perkara ditambah doa dari saya semogakeluarga kalian bahagia yang saya bawa kemari!”
Akupun menangisseketika itu didepan suamiku dan Adi, rasanya jadi tak tentu dan tak karuan,suamiku hanya menunduk kebawah dan pasrah sementara aku terus menangis danperlahan berbunyi tangisanku ini. Diusaplah air mataku oleh kakaknya Adi yangkebetulan berada disebelahku persis.
“ sudahlah, semua sudahmenjadi kehendak Allah, kita tetap bisa bersaudara untuk saat ini danseterusnya. Kalau masalah cinta dan sayang bisa di sesuaikan dengan kondisi,saya rasa terlalu lama saya menganggu disini, saya terus pamit pulang saja,Manisw tau rumah saya yang di sini, Kapan-kapan suamimu ajak mapir ya?” sepertinyaAdi menahan tangis. “ wasalamualaikumwarohmatullahi wabarokatuh!”
“( ya allah mungkin diabukan jodohku didunia ini, tapi persatukanlah hamba dengan Adi di akherat nantijika itu memang takdir untuk hamba.amin)” doa itu melepas kepergian Adi darirumah kami. Akupun seketika bersujud kepada suamiku beberapa saat setelah semuanyamenjadi tenang dan hening.
“ Mas Manisw ndak jadipulang kerumah Bunda, Manisw minta maaf ya Mas, Manisw empat hari ini memarahimas terus dan berusaha ceria padahal ceemberut, Manisw masih cinta dengan Adi Mas.Manisw masih sayang, beri Manisw kesempatan untuk mencintai dan menyayangi Mas!”
“ Aku juga minta maaf,sekarang semua sudah jelas kan, apa alasan utamaku tidak menggaulimu, karenaaku menunggu perkataan ikhlas dari masa lalumu yang memang sama-sama masihcinta denganmu dipagi ini.” Diapun mencium keningku dan memelukku hangat untukpertama kalinya. “Alhamdulillah….!”
“ Mas tadi agak cemburuya? Hehehehe!” kugoda suamiku untuk pertama kalinya ya allah. Alhamdulillahsemoga hati ini ikhlas menjalainkehidupan ini.
***
“Bismillahirohmanirohim….”Kamipunsekarang berusaha saling mengakrabkan diri, aku ndak terpaksa lagi dengan pernikahanini, karena Adi sering beberapa kali datang kesini dan meyakinkanku bahwa akuharus berjuang, aku dan suamikupun beberapa kali datang kerumahnya. Senangrasanya bisa bersaudara dengan Adi. Oh iya aku dan Mas Hadi sekarang sudahdikaruniai seorang Putra, Namanya “Erza Maharda Putra” yang berumur dua tahunsetengah, Adi kemarin juga baru saja melangsungkan pernikahannya dengan wanitapilihan ayahnya, jadi aku dan Adi sama-sama pernikahan model “Sitinurbaya”. Barakallah. Semoga apa yang kulakukan dengan suamiku Mas Haditercinta dan tersayang diridhai Allah. aminya rabbal alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar