aku
adalah sekar
Gadis
muda berparas laras
Rindu
akan masa dimana pejuang menjual darahnya
Aku
tumbuh diantara pohon pohon yang sudah tertata
Tak
seperti dahulu, ketika setiap nafas mereka rasakan adalah penderitaan
Aku
adalah sekar
Serindu
kartini itulah nama yang orang tuaku berikan
Aku
juga rindu wanita wanita pejuang
Bukan
hanya hidup megah diatas kepala raja raja
Bukan
hanya dengan mudah memperlihatkan paha apalagi dada
Aku
adalah rindu, serindu kartini
Yang
tak dengan mudah menjual harga diri
Akan
kutumpas semua penjajah
Akan
ku rampas kembali seluruh tanah yang telah terlepas
Akan
ku minta kembali wanita wanita pemberani maju demi hari
Rusak
bukan karena mati
Aku
tak mampu menahan rasa untuk menunjukkan apa yang ada dalam bahasa
Tapi
rindu akan keduniawian
Aku
akan membawa emas emas bekas itu kembali pulang
Ku
elap dengan kain perlahan
Agar
mereka menjadi karini, wanita pemberani masa kini
Aku
adalah seno
Kujemput
kau dengan mata mata nestapa
Bukan
aku merendahkan kau
Tapi
kau memang seperti anai anai
Berterbangan
tanpa busana
Aku
adalah parodi
Aku
adalah Serindu kartono
Tak
ada yang tau, siapa aku
Siapa
daku yang selalu mencoba mengerogoti waktu
Mencari
belahan dada dan rengangan paha
Bukan
maksudku nafsu
Tapi
wanita memang tak ada harta
Tak
ada harga
Ketika
wanita wanita itu bersenada sepekat berkata terpaksa
Aku
adalah durjana
Ketika
nafas mulai membekas seperti bongkahan asap kereta
Tak
kan kau temukan lagi mereka
Ketika
aku datang dengan segenap tahta
Karena
sesungguhnya aku adalah mulia tanpa celaka
Mereka
memang tiada lagi
Jika
hati sudah tak terlapisi besi
Dan
aku hanya tinggal gigit jari
Melihat
engkau dan wanita Nampak indah layaknya bidadari
Tema puisi ini adalah seorang
karini muda yang berjuang untuk membawa wanita wanita masa kini kembali ke
titahnya, menjaga kesucianya dan menjaga hijab(auratnya) dimana seorang karini
muda akan merubah semua wanita yang dia temuinya dengan jalan dakweah secara
perlahan. Sekar berasal dari akronim “serindu kartini” sedangkan seno berasal
dari akronim “serindu katono” yang merupakan tokoh pahlawan khayalan. Dalam
konteks ini seno adalah seorang laki laki yang wajar, seperti laki laik pada
umumnya. Walaupun dia beriman dan bertaqwa tetapi yang namanya nafsu pasti
datang. Seno mencari wanita wanita yang dengan mudah menjatuhkan harga dirinya
sendiri, akan tetapi dia akan sangat menghargai wanita yang menjaga hatinya
lisanya dan menjaga tubuhnya dari keterbukaan atau mengumbar aurat. Itulah
peran karini saat ini, bukan lagi menjadi pilar utama dari penyamaan derajat
kaum wanita. Karena wanita sudah disamakan derajatnya melalui perjuangan ibu
kita R.A kartini pada masa perjuangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar