Senin, 29 April 2013

Sekar dan Seno


aku adalah sekar
Gadis muda berparas laras
Rindu akan masa dimana pejuang menjual darahnya
Aku tumbuh diantara pohon pohon yang sudah tertata
Tak seperti dahulu, ketika setiap nafas mereka rasakan adalah penderitaan
Aku adalah sekar
Serindu kartini itulah nama yang orang tuaku berikan
Aku juga rindu wanita wanita pejuang
Bukan hanya hidup megah diatas kepala raja raja
Bukan hanya dengan mudah memperlihatkan paha apalagi dada
Aku adalah rindu, serindu kartini
Yang tak dengan mudah menjual harga diri
Akan kutumpas semua penjajah
Akan ku rampas kembali seluruh tanah yang telah terlepas
Akan ku minta kembali wanita wanita pemberani maju demi hari
Rusak bukan karena mati
Aku tak mampu menahan rasa untuk menunjukkan apa yang ada dalam bahasa
Tapi rindu akan keduniawian
Aku akan membawa emas emas bekas itu kembali pulang
Ku elap dengan kain perlahan
Agar mereka menjadi karini, wanita pemberani masa kini

Aku adalah seno
Kujemput kau dengan mata mata nestapa
Bukan aku merendahkan kau
Tapi kau memang seperti anai anai
Berterbangan tanpa busana
Aku adalah parodi
Aku adalah Serindu kartono
Tak ada yang tau, siapa aku
Siapa daku yang selalu mencoba mengerogoti waktu
Mencari belahan dada dan rengangan paha
Bukan maksudku nafsu
Tapi wanita memang tak ada harta
Tak ada harga
Ketika wanita wanita itu bersenada sepekat berkata terpaksa
Aku adalah durjana
Ketika nafas mulai membekas seperti bongkahan asap kereta

Tak kan kau temukan lagi mereka
Ketika aku datang dengan segenap tahta
Karena sesungguhnya aku adalah mulia tanpa celaka

Mereka memang tiada lagi
Jika hati sudah tak terlapisi besi
Dan aku hanya tinggal gigit jari
Melihat engkau dan wanita Nampak indah layaknya bidadari


Tema puisi ini adalah seorang karini muda yang berjuang untuk membawa wanita wanita masa kini kembali ke titahnya, menjaga kesucianya dan menjaga hijab(auratnya) dimana seorang karini muda akan merubah semua wanita yang dia temuinya dengan jalan dakweah secara perlahan. Sekar berasal dari akronim “serindu kartini” sedangkan seno berasal dari akronim “serindu katono” yang merupakan tokoh pahlawan khayalan. Dalam konteks ini seno adalah seorang laki laki yang wajar, seperti laki laik pada umumnya. Walaupun dia beriman dan bertaqwa tetapi yang namanya nafsu pasti datang. Seno mencari wanita wanita yang dengan mudah menjatuhkan harga dirinya sendiri, akan tetapi dia akan sangat menghargai wanita yang menjaga hatinya lisanya dan menjaga tubuhnya dari keterbukaan atau mengumbar aurat. Itulah peran karini saat ini, bukan lagi menjadi pilar utama dari penyamaan derajat kaum wanita. Karena wanita sudah disamakan derajatnya melalui perjuangan ibu kita R.A kartini pada masa perjuangan.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar