Bulan sabit malam yangmasih samar dipojok langit menemaniku dalam kegembiraan sekaligus kesedihan yang baru saja kudapat beberapa waktu yanglalu setelah senja berlalu. Senja yangsangat indah pikirku, namun tak bertahan lama, sebenarnya aku ingin menikmatisenja lebih lama, mungkin 12 jam atau 24 jam. Apakah bisa? Hal itu mustahil,karena senja hanya diberi waktu sejenak untuk muncul dan menghilang. Aku sukasenja sejak aku mengenal Adi. Dia juga punya banyak sekali foto tentang senjadi galerinya, Adi juga seorang fotografer, mungkin masih amatiran, tapi hasiljepretanya sungguh luar biasa, aku sering menikmatinya di akun flickrmiliknya.
Senja memberiku berjutainspirasi, karena aku sering menghabiskan senja bersama Adi yang masihberseragam sekolah, lalu kami pulang kerumah masing-masing. Ya itulah rutinitaskami setiap hari selama beberapa bulan ini, bundaku mulai curiga padaku, akupunharus pandai-pandai beralasan, sungguh ini sangat tidak aku inginkan,membohongi bundaku sendiri demi rasaku pada Adi.
“jam segini anak bundaselalu baru pulang? Sudah salat asar tadi sayang?” setiba dirumah setelahmengetuk pintu dan mengucapkan salam itulah yang selalu bunda ucapkan setiaphari, mungkin kali ini sudah jengkel.
“sudah bunda Alhamdulillah. Tepat waktu, berjamaah,dan di shaff pertama dimasjid sekolah!”
“masih sering rapat ya? rapat apa tho?”
Aku sedikit berfikirulang untuk menjawab pertanyaan bundaku kali ini, wajahnya serem dan melototpadaku, sepertinya bunda marah besar kali ini. “ rapat kegiatan buat besokbund, itu rapat mau mengadakan kemah.”
“ bunda boleh mintasesuatu nggak sama neng Manisw?”
“boleh kok bund, apasaja yang bunda minta insya allah Manisw Turutin kalau Manisw bisa bund!”sepertinya bunda memintaku untuk berhenti dari organisasi yang selama ini tidakpernah aku ikuti, aku memang nakal sekarang.
“ neng nggak usah ikutorganisasi itu lagi ya neng, Bunda cemasin neng, setiap hari jam segini barupulang, jalanan sudah sepi, apalagi neng jalan kaki lagi? Ya neng ya? Nengsaying kan sama bunda?”
Akupun segera mendekatibundaku dan memeluknya. “Kalau itu yang bunda mau, besok aku akan langsungberhenti bund, maafin Manisw ya bund, sudah bikin bunda kawatir setiapharinya.!”
Bunda pun mengencangkanpelukanya padaku dan berkata. “ anak bunda nggak boleh nakal, nggak bolehbohong dan nggak boleh manja ya? Sana ganti baju dan istirahat sayang!”
“ baik bund…!”
Akupun melepaspelukanku dan menuju kamarku dilantai dua, saat menaikki tangga kepalakupusing, tiba-tiba air mata ini menetes, sunnguh tega aku membohongi bunda. Aku pun tak lantas ganti baju, aku sudahnggak kuat, kepalaku pusing dan suhutubuhku meningkat, sepertinya aku terlalu banyak membohongi bunda, dan hal itumenjadi beban yang selama ini ku alami. Akupun tertidur pulas hingga akudibangunkan bunda.
“ Neng, bangun neng,sana mandi terus salat! Sudah mau magrib lo?”
“ iya bund, sepertinyaaku nggak enak badan!”
Bundakupun memegangikeningku, memegang leherku dan mengecek denyut nadiku. “ mungkin neng kecapekandan banyak pikiran? Apa yang neng pikirkan? Pasti soal organisasi tadi ya?Gimana kemahnya neng?”
“ ndak kok bund, hehehe…! Manisw sudahmemutuskan untuk tidak mengikuti organisasi itu lagi bund! Tadi neng sudah SMSpak ketuanya supaya neng berhenti selamanya!”
“ ya sudah, neng mandiya, sebentar lagi waktu magrib!”
Akupun segera menujukekamar mandi, kubasuh mukaku dan mandi, selepas mandi aku langsung menujumusola seperti biasa bersama abah dan bunda. Aku sedari tadi tak memeganghandphoneku, kemarin saja aku ke musola bawa handphone. Selepas salat magrib kuambil HPku dari almari tempatku menyimpanya, takut dilihat bunda sehingga akuumpetin ditempat yang aman didalam lemari, banyak sekali SMS yang masuk danPanggilan Tak Terjawab. 23 SMS masuk dan 8 panggilan tak terjawab, semua dariAdi.
“assalamualaikumManisw, lagi apa? Kok nggak balas?”
“sudah mandi belum? Eh senjanya baguslo, ditemani sama bulan sabit, maaf bila menganggu Manisw, tapi setidaknya akudikasih kabar dong kamu lagi ngapain?” Dan seterusnya, dia mencemaskanku, tapiaku mencemaskan diriku sendiri yang selalu harus berbohong pada bunda.
“maaf ndak ngabarinkamu Di, tadi badanku drop, tadi aku istirahat, iya tadi sebelum aku tidur jugalihat senja dibalik jendela.” Danseterusnya kubalaslah satu per satu SMS darinya. Aku harus menghentikan semuaini.
***
“ Assalamualaikummanisw, nanti sepulang sekolah aku ingin bicara denganmu, boleh minta waktunyakan?” HPku bergetar dalam sakuku ketika jam terahir hampir usai. Hari ini pelajaranyaagak santai, tadi pagi bersih-bersih dan persiapan Ulangan kenaikan besoksiang. Mulai dari membersihkan kaca jendela, membersihkan papan tulis, menyapudan mengepel lantai, menyapu langit-langit kelas, hingga kelas tampak bersihdan kinclong.
“ oh iya Di, aku jugamau bicara banyak padamu! Ketemuan dimana?”
“ di taman kota sepertibiasa!”
“ tapi jangan lama-lamaya di, aku lagi nggak enak badan kok!”
“ teang saja, hehehepaling sepuluh sampai limabelas menit doing kok kali ini, aku juga ada urusandirumah!”
Akupun menantinya ditamansekitar jam tiga sore sepulang sekolah, dedaunan seolah menyapa, dan bicara denganku“ wah sang pendusta datang menemui pangeranya ini, sementara sang bundanyamenunggu kedatanganya dengan cemas didepan rumah.” Ranting pun menyaut, “ eh iya nih, ada nengcantik yang datang sepeerti biasa dengan sejuta kebahagiaan dan kesedihan.”Lalu batang pohon pun membelaku “ sudah jangan dihina terus, neng Manisw sedangmenuju kedewasaan, dia juga bisa berfikir kok sekarang, mana yang baik dan manayang benar!” tau ah, kepalaku pusing. Aku melamun jauh dan merenungkan apa yangdikatakan benda-benda sekitarku.
“ hey? “ suara itumengagetkanku, tak biasanya dia menyuarakan itu, biasanya didahului dengansalam!
“kok melamun aja Maniswmelamun apa? Maaf agak lama tadi aku beli bensin dipom! Oh iya kamu sudah lamanggak disini? Maaf banget!”
“banyak banget bukan maaf banget, aku mau jawab yang manadulu? Hehehehe”
“ iya, kamu nggak enakbadan, to the point aja, aku maubicara padamu Manisw, aku dulu apa kamu dulu nih? Hehehe”
“ ya udah kamu dulu ajadeh!” akupun menyuruhnya bicara duluan, rasanya senang sekali bisa bertemudengan dia lagi, bisa melihat wajahnya, tapi aku juga sedih, bundaku menunggukudirumah.
“ begini Manisw, aku sudahbeberapa bulan ini kenal denganmu, aku juga merasa nyaman denganmu, namun akutahu ini adalah hal yang tak mungkin bisa kita lakukan!”
“tunggu-tunggu,emangnya kita mau ngapain Di?” aku jadi semakin deg-degan.
“ sebentar, inipembukaanya belum selesai, hehehe. Aku lanjutin ya?”
“iya silahkan saja Di,cepet jangan buat aku semakin penasaran!”
“ aku suka padamuManisw!”
“Deg-deg-deg-deg-degdeg-deg……….(haberhenti?) deg-deg-deg deg...”
“Alhamdulillah…nyalalagi jantungku.” Rasanya tak bisa bergerak dan tak bisa ngomong. Bukan yangpertama ini ada seorang lelaki yang menyatakan cinta padaku, tapi kali inibegitu mengena dan membuatku mematung.
“kenapa kau Manisw?Jangan bilang serangan jantung! Hehehe”
Aku masih terdiam danmenunduk, ku keluarkan botol air mineral dari dalam tasku yang kebetulan sudahhabis. Dia tawarkan padaku sebotol air yang dia bawa, segera ku minum setelahmengucap basmallah. Angin seketikamenghembus dan menerbangkan dedaunan yang kering, berserakan ditanah, sepertidalam film-film drama romantis korea. Aku tak kan menjawab dan menanggapipernyataanya ini, karena akan semakin menyiksaku, tapi aku juga suka denganmuAdi, andai aku bisa mengungkapkanya, mungkin suatu saat aku akanmengunggkapkannya.
“tak perlu ku jawabkan? Karena kamu sudah tahu jawabanya Di?”
“aku tak memintamuuntuk berpacaran denganku Manisw, karena keluargakupun tak kan pernahmenyetujinya dan aku pasti langsung diusir dan dipondokkan lagi ditempat yangsebelumnya belum pernah ku tinggali, aku juga pernah suka dengan seorang gadiswaktu aku kelas satu SMA, ketika Romo dan Ummiku tau, aku langsung dipindahkanditempat yang jauh dan aku tersiksa walau aku suka dengan lingkungan pondok.”
“Iya, kau sudah pernahbercerita banyak tentang itu padaku!”
“sekarang giliranku, kamutahu kan kalau aku sering berbohong pada bundaku, gara-gara kita seringmenikmati senja bersama, aku kemarin malam sudah bilang kalau aku sudahberhenti dari organisasi, jadi aku tidak bisa menemanimu, dengan berat hati akuharus segera pulang setelah selesai les, kamu juga supaya tidak ketahuan orangtua kamu, lanjutkan saja ngajimu, bulatkan tekatmu mengafal Al Qur’an. Aku akansangat bangga bila kamu menjadi hafidz“
“ kulanjutkan, jangandipotong dulu, jadi kita tetep bisa berteman seperti biasa, dan kta buktikansiapa yang lebih jago dalam bidang akademik, dan aku juga tetap minta diajarinngaji sama kamu, jadi kita bisa bersama sebentar ketika masih disekolah, mulaihari ini kita tak akan ada momen melihat senja lagi!”
“untuk sore ini saja?Terahir kalinya? Bolehkah?”
“tetap tidak boleh! Akusudah berjanji dengan bundaku!”
Akupun menjadi bimbang ketika dia terusmembujukku untuk melihat senja sore ini, ya allah, apakah yang kulakukan inibenar? Izinkan aku melihat senja dengannya sore ini, untuk yang terahir kalinyaya allah, buat supaya bunda tidak marah padaku.
Akupun pulang terlalupetang lagi kali ini. Pasti bunda marah, dan benar, aku dibentak bunda untukpertama kalinya, mungkin wujud rasa sayangnya padaku. Kujelaskan pada bunda,ini yang terahir bund, tadi perpisahan dengan teman-teman sambil ku teteskanair mata ini.
“ (bund ini terahirkali aku menipu bunda, tak akan ku ulangi lagi dosaku selama ini mulai besokbund, suatu saat aku akan memberitahukan pada bunda tentang semua ini.amin!)”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar