“Terukirindah kisah cinta kita, menjadi saksi pulangnya sang senja, mendawai rindu akankehadiranmu, kiniku sendiri ditemani bayang-bayangilusi… tanpamu!” lagu ciptaan kamiberdua saat menikmati senja.
“dimanasekarang kamu Di? Apa kabarmu, akumerindukanmu Di, sekarang kamu kerja jadi apa Di sudah punya istri belum? Sudahpunya anak belum?”
Rasarindu ini tak tertahan lagi, enam tahun Adi meninggalkanku tanpa jejak,berbagai fikiran negatif tentangnya pun terlontar dipikiranku yang semakinberkecambuk, kau tinggalkan kisah cinta kita, kau buat aku mengenal cinta,namun kau jatuhkan cinta itu. Semenjak kisah kita ketahuan oleh Abahnya Adi dialangsung dibuang keluar Jawa, entah aku tak tau dia ada dimana, mungkinhandphone dan laptopnya juga disita, sayang sekali dia tak tau alamat rumahkudisini, karena kami tak pernah mempersiapkan hal terburuk yang akan kami alami.Facebooknya juga sudah tidak pernah aktif, percuma aku menangis sambilmenuliskan beberapa kalimat harapan agar dia membalas di inboxnya, sungguh inibenar-benar diluar dugaanku. Ya Allah berilah aku pertanda akan kehadiranya,supaya hati ini tentram, dan bila dia jodohku yang engkau pilihkan untukkudekatkanlah dia, namun bila dia bukan jodohku segeralah hapus dia dariingatanku ya Allah. Amin
Mungkinini karena dosa-dosaku yang begitu tega membohongi Bundaku tercinta, aku memangbelum pernah membohongi Bundaku sebelumnya, makanya hari ini aku akan jujurpada bundaku. Sudah enam tahun dosa itu tak terkuak, sejak aku lulus SMA, luluskuliah S1, dan sekarang menjadi tenaga pendidik disalah satu Sekolah Dasar. Akumengajari murid-muridku untuk tidak berbohong, terutama pada kedua orang tuadan teman, tapi aku pernah berbohong, sungguh jangal rasanya bila ingat hal tersebut.
Senjapunkembali menyapa, Abah dan Bunda sedang duduk berdua di beranda rumah menikmatimasa-masa yang sangat mereka sukai, Abah begitu sayang dengan Bunda, begitupula dengan Bunda, begitu setia menemani Abah saat sakit, senang, sedih, dansaat-saat genting lainnya. Setiap bakdamagrib aku, Abah dan Bunda selalu membaca Al Qur’an hingga beberapa kali Khatam. Hatikupun merasa ingin untukmembangun keluarga yang seperti itu, tapi bersama Adi. Kudekati Abah dan Bundakudan duduk diantara meraka.
“Tumben Neng duduk bersama Abah dan Bunda? Ada apa Neng?”
“Ndak bund, Cuma pengen disini saja, menikmati senja bersama Abah dan Bunda!” LaluAbah mulai memancing-mancing aku untuk segera mengakhiri lajangku, itu yangselalu Abah katakana, membuat aku semakin tersiksa, kalau Bunda sih terserahaku kapan mau nikahnya.
“Neng, usia neng sekarang udah berapa?” Tanya Abah nyindir.
“Iya-iya Bah, Manisw tau, sudah saatnya kan?”
“ Bukan maksud Abah ngusir Neng dari sini, karena Nengkan tau sendiri, Bundamu sudah pengen sekali mengendong cucu, Neng kansatu-satunya harapan Abah dan Bunda!”
Iyamenag satu-satunya, karena aku memang tak punya kakak dan tak punya adik, entahapa pikiran Abah dan Bunda. Dulu ketika aku masih kelas satu SD sering bangetminta adik, bahkan aku ndak mau pulang saat tetanggaku yang kebetulan jugatemanku yang seumuranku punya adik, akusempat menginap beberapa bulan dirumah Rini, Rini adalah teman sekelaskusekaligus teman bermainku waktu SD tapi ketika SMP dan SMA kami tak pernah satusekolah lagi, namun tetap kami menjadi teman akrab, hal itu aku lakukan karenasaking pengenya punya adik, tapi apa, nihil. Sekarang apa? Aku semakin terpojokkalau seperti ini.
“ Lihat Neng, temenmu Rini sudah punya anak usiahampir dua tahun, sedangkan Neng? Nengbelum punya suami. Calon saja belum!“
“ Ya tapi kan itu pilihanya Rini Abah menikah muda, tohdia juga sudah siap, dia kan tubuhnya besar, la aku kan masih seperti anakkecil bah…! Belum siap!”
“ Dilamar sama beberapa orang saja malah ditolak, Abahmalu lo waktu kemarin kamu nolak anaknya guru Abah, tapi ya semua terserah Neng!Sebenarnya ada orang yang sedang kamu tunggu ya Neng?”
“Kok Abah tau bah? Manisw sekalian mau cerita deh sama Abah dan Bunda!”
“ Gini Bah, Bund, maaf ni ya sebelumnya, Abah sama Bundamasih ingat ndak waktu Manisw sering pulang agak sorean bahkan sampai malamkan?”
“ Yang mana ya Neng, Abah lupa?” tiba-tiba Abahmenjawab duluan, ya pantes lah Abah lupa, saat itu Abah masih sering tugas keluar kota.
“Bund? Ingat ndak Bunda sering memarahi Manisw saat itu?”
“Ya ingat, Neng tak suruh berhenti dari organisasi ekskul kan?”
“ Iya bund, tapi aku mau jujur ya sama Abah dan Bunda,tapi jangan marah ya?” mereka hanya mengangguk penasaran.
“ Gini Bah, Bund, duluwaktu ada murid baru disekolahku, namanya Adi, dia itu kharismatik banget, akujatuh hati pada pandangan pertama Bund, terus aku mulai berkenalan dengan diadan kami sering jalan berdua!”
“ La terus mana sekarang orangnya, suruh datang kesini,suruh melamarmu, atau kamu Abah nikahkan dengan anaknya Guru Abah!”
“ Sabar Bah, sabar, ceritanya belum selesai. Aku kandulu sering pulang larut kan, sebenernya itu ndak rapat tiap hari, aku jugandak pernah ikut apa-apa. Aku terpaksa bohong sama Bunda supaya aku bisamenikmati senja bersama Adi!”
Bundakupunmeneteskan air mata dan tak berkata apa-apa, lalu pergi dari tempat itu danmasuk kedalalm rumah, Abahpun kecewa dan akhirnya Abah marah.
“ Pokoknya mau ndak mau kamu harus nikah sama Hadi,putra Gurunya Abah. Tidak ada menolak, tidak ada tapi-tapian. Titik!”
Menyesalaku jujur sama Bunda, aku terpaksa menikah dengan pemuda yang tak pernahkukenal sebelumnya. Walau dia anak kyai besar, tapi aku tak cinta, cintakuhanya untuk Adi.
***
assalatu khairum minannaum… assalatu khairum minannaum…. suara khas adzan salat subuh itu menjadisaksiku saat dikamar, biasanya kamarku saat terdengar adzan berkumandang darimusola masih gelap, masih tidur bahkan aku, walau sudah dibangunin Abah dan Bundauntuk pergi musola, tapi tidak dengan pagi ini, aku sudah selesai mandi sedaritadi jam dua pagi dan melaksanakan serangkaian kegiatan yang sangatmenyenangkan, sebelum esok datang, menyenangkan bila calon suamiku adalah Adi.Tapi tidak kali ini, mungkin dia disana juga sudah menikah dengan wanitapilihan Abah dan Umminya, jadi inilah jalanku saat ini, dan aku harus kuat,doa-doaku yang panjang terjawab sudah hari ini dan seterusnya.
Aku akan melaksanakan Ijab Qobul sekaligus resepsi pernikahan denganlaki-laki yang tak pernah aku kenal bagaimana kepribadiannya dan aku belumakrab dengannya. Yang paling utama aku tak cinta.
Diluar kamar sudah lalu lalang saudara-saudara Abah dan Bunda yang sibukmempersiapkan semuanya. Suara check soundpun nyaring terdengar dari sini. Aku pasang wajah gembira dan senyum manis yangmempesona setiap mata yang melihat, hari ini aku terlihat cantik dengan gaunputih yang sangat indah berlapiskan butiran-butiran berlian. Segera kukenakansepatu hak tinggi sekitar lima centimeter dan selesailah riasan dikepalaku yangagak berat yang sedari tadi dipasangkan dikepalaku.
( “Adi, dimana kau berada, semoga kali ini kau hadir, aku tak akan lagimelarangmu datang kemari Di, dengarkan aku, datanglah dan bawa aku lari darisini, bukankah kau cinta padaku?”)
Akupun minta untuk ditiggal sendiri sebelum aku keluar dari kamar olehibu perias tua itu, aku hanya ingin memantapkan niatku beribadah tanpa terpaksahari ini.
“Di, maafkan aku harus menikah, aku tak tau kamu ada dimana? Aku jugatak tau kamu disana sudah beristri atau belum, sungguh aku bimbang Di, tanpaada kejelasan darimu, ini cincinmu masih kupakai kok Di, datang ya di, sebelumku lepaskan cincin ini, dulu kau pernah memasangkannya dijari manisku, tantekudi Jogja(Paris) saksinya Di, sekarangkamu dimana?”
Tiba-tiba bundakupun datang menagetkanku, sebelum detik ini bunda belum pernahmau bicara padaku, mungkin bunda marah padaku, ya aku tau kesalahanku amatfatal dimasa lalu, tapi setidaknya aku tak pantas mendapatkan ganjaran yangseperti ini atas perbuatanku.
“ Bund, maafkan Manisw, jika ini memang pilihan Abah dan Bunda, apa sihyang nggak buat Bunda kalau Manisw bisa lakukan, bunda tak perlu lagi meminta,Manisw tak akan lagi berbohong, Manisw sedih hari ini bund!”
Diusaplah air mata belas kasihanku yang mengalir melewati wajahku yangsekarang sudah agak tebal, Bundapun tak mengucap satu kata apa-apa, dia hanyatersenyum dan mengandeng tanganku menuju ruang tamu yang telah disulap menjadisangat megah dan indah, akupun mengikuti langkah bundaku menuruni anak tanggadan kulihat calon suamiku sudah disana. Menantiku dengan denuh gembira, akuharus menghapus air mata dan rasa sedihku, aku harus menunjukkan bahwa akugembira. abahku pun sudah ada disana tinggal aku yang siap atau tidak. Adi akuberharap kamu datang dan membatalkan pernikahan ini dengan satu kata, yaitu“tidak sah”
“ semua sudah siap? Pengantin laki-laki ulurkan tangan saudara!”
“bismillaahirrohmaanirroohiim,astagh firulloohal’adziim 3 x, asy hadu allaa ilaaha illallooh, wa asyhadu anna muhammadarrosuulullooh.
“ Saudara Hadi Sudipranoto bin Abdul Kodir, saya nikahkan dan sayakawinkan engkau dengan Maniswatun Khasannah, dengan mas kawin emas seberatduapuluh lima gram dan uang senilai dua puluh lima ribu dua rarus lima puluhrupiah, serta seperangkat alat salat dibayar tunai.”
“ Saya terima nikah dan kawinnya Maniswatun Khasannah binti Aji Sasongkodengan mas kwain tersebut, dibayar tunai.”
“apakah sah saudara-saudara sekalian?”
“ sah…!”
“alhamdulillahirobbil alamin…”
Kucium tangan suamiku yang telah sah dan ku beri dia senyuman hangatsebagai ucapan selamat datang dikehidupan rumah tangga kita yang baru padanya.Tak ada tanda-tanda Adi disini, aku harus melupakannya mulai detik ini dan saatini juga aku harus hilangkan nama itu dari otakku. Akupun menuju ke mobil untukproses resepsi dirumah Mas Hadi, suamiku. Sebelum aku masuk mobil aku lihatsekitar kanan kiriku apakah Adi ada disini atau tidak, hanya memastikan sekalilagi. Ternyata memang tak ada tanda-tanda kehadirannya disini.
Ketika aku berada dijalan, sesaat setelah keluar dari pintu gerbangrumahku, kulihat dua orang berjalan. yang perempuan berjubah membawa anak danlaki-laki berkumis dan berjamban seperti Adi, dan benar itu Adi. Subhanallah tampan sekali wajahnya, tapisiapa wanita disampingny? Dia datang terlambat ya Allah. Semoga itu istrinyatercinta. Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar