Minggu, 10 Maret 2013

Deretan Lentera-Lentera Pasrah

November 2004
“Nang kamu mbok ndak usah berangkat ngaji nang, wong diluar sedang hujan lebat gitu kok, besok kan ya masih ada hari tho?”
“ ya ndak bisa tho mak, aku kan sudah hafalin halaman 44, hari ini aku ujian mak, kalau bisa langsung naik jilid empat!”
“Iya tapi diluar sana petir menyambar-nyambar nang, apa kamu ndak takut kesambar? Kemarin kan tetangga kita ada yang mati kesambar petir ketika merumput disawah nang?”
“insyaallah ndak mak, kalau toh nanti aku kesambar, aku dalam perjalanan belajar, dan belajar itu ibadah mak, minta doanya mak, semoga hari ini aku lancar, amin!”
“ amin nang, hati-hati ya ini ada uang lebih kamu buat jajan ya nang? Nanti beli the hangat buat hangatin badan di warung!”
“Ndak ah mak, buat adek saja, kan masih butuh susu mak!”
“sudah, nanti dicarikan bapakmu uang lagi!”
Mak ku memasukkan uang limaratus rupiah bergambar  orang utan kekantong saku batikku sambil mengelus-elus kepalaku.  Akupun lekas berangkat menggunakan sepeda tua yang dibelikan bapak tempo hari, sepeda mini ini selalu menemaniku kemanapun aku berada, termasuk saat aku bersekolah di sekolah dasar maupun di taman pendidikan Qiroati. Sepedakupun terus ku kayuh ditengah-tengah sinar yang lebih menerangi darpiada matahari yang tertutup oleh awan hitam, beberapa detik kemudian gemuruh dari  langit pun datang menyemangati perputaran roda sepedaku, mungkin ketakutan yang sedang ku rasakan saat itu atau mulut yang tak berhenti menyebut namanya, yak arena ketakutan lagi akan bahaya petir. Sesampainya di kelas aku sedikit basah kuyub karena mantel pelindung hujanku pun ternyata telah berlubang, beberapa bulan yang lalu bapak pernah berjanji akan membelikan yang baru jika aku berhasil naik jilid lima, ya itulah salah satu semangatku menamatkan jilid empatku ini. Akupun duduk dibangku yang paling belakang bersama teman-teman yang lain, yang sedang menghafalkan juga untuk nantinya di uji Bu Rom didepan kebanyakan teman-temanku adalah teman satu kelas dan kakak kelas di Sekolah dasar. Hari itu Bu rom berhalangan hadir karena hujan yang sangat lebat, akhirnya tetap di ujikan oleh pak kepala sekolah TPQ yaitu Pak Imron Rosyadi Badri, giliranku majupun tiba, sungguh apa yang ada diotakku, semua yang sudah ku hafal hilang dan huruf-hurufnya kabur, tajuwidnya ndak pas, dan ndak lancar, akhirnya aku harus menggulang minggu depan untuk naik ke jilid lima sedangkan  teman-temanku sudah berhasil lulus dengan hasil L+, aku kecewa pada diriku sendiri. Mungkin benar kata mak, hari ini aku ndak usah berangkat. Aku menangis dihadapan mak walau uiaku sudah kelas empat sekolah dasar, aku meminta maaf didepannya Karena tidak menuruti kemauannya hari itu, coba saja kalau aku tadi nurut mak, pasti ndak gini jadinya, uang saku pun ku kembalikan pada mak karena aku gagal naik jilid.
Hari beranjak hari, sebelum aku ujian jilid aku juga harus menghafalkan beberapa surah pendek dan harus hafal, untuk itu aku minta diajarin mak, karena mak pandai membaca Al-Quran. Akupun diajari beberapa surah pendek oleh mak, dua hari menjelang ujian naik tingkat aku berangkat seperti biasa, kembali mak ku melarangku untuk berangkat karena adik badanya sangat panas, aku diminta untuk menemani adik dan menjaganya akan tetapi aku tidak mau, aku malahmarah-marak pada mak, dan al hasil semuanya diluar dugaan, inginya hafal beberapa surah yang di ujikan menguasai halaman empatpuluh empat dan menguasai jilid empat. Namun aku dikerjani oleh kakak kelas diniyah ku, ada selembar karung ghoni yang berisi bulu daun yang sangat gatal, yaitu tumbuhan rawe, rasanya sangat gatal ketika terkena kulit, sekujur tubuhkupun mendadak membengkak dan rasanya sangat panas, aku hanya bisa menangis dan akupun diantarkan pulang oleh dua orang temanku  mengaji, mak ku pun marah besar, aku dilarang sekolah ngaji selama beberapa hari sebelum aku memohon-mohon karena aku ingin ujian kenaikan jilid, disekolah pun aku diantar mak, mak marah-marah dengan bapak kepala sekolah karena aku di buat menderita oleh segelintir teman-temanku yang berniat iseng.
Akhirnya akupun menyelesaikan jilid empatku hari itu juga, sungguh senang rasanya. Akan tetapi teman-temanku sudah sampai jilid lima halaman sepuluhan, sementara aku baru mengawali dengan bismillahirohmannirohim di halaman pertama, semoga lancar, karena selepas pulang SD aku juga mempelajarinya. Dan Alhamdulillah hari tiu aku dapat L, akan kususul teman-temanku yang lain. Jika aku berhasil menyelesaikan jilid lima bapak kembali akan menhgadiahkanku sebuah sepeda baru. Dan akupun seangat dalam menjalani hari hariku dalam mengaji.
Tak terasa kelas lima sekolah dasar membuatku menjadi lelah dan gampang sakit, ini pengalaman pertamaku asma yang sedari kecil kambuh seperti ini, kambuh dengan parah, aku memang punya asma akan tetapi tak separah ini sebelumnya hingga beberapa bulan sekitar enam bulan aku harus berhenti dahulu dari sekolah ngaji dan fokus pada sekolah dasarku, tapi tinbul dalam benakku untuk melanjutkan mengajiku, akan tetapi aku tak sempat menamatkan jilid limaku aku sudah kelas enam sekolah dasar, akhirnya kupun keluar secara resmi dari madrasah tempatku menuntut ilmu agama, tempatku belajar membaca kitab selama ini, tetapi bapak tetap membelikaknku sepeda walau bukan yang baru. Akupun menyesal karena fisik ini tak mampu kupaksakan untuk menuntut dua ilmu secara bersamaan, mungkin itu hanya alam bawah sadarku yang mendoktrinku untuk merasakan ketidak kuatan ini, akan tetapi itu menjalar kea lam nyata. Ya Allah, aku akan belajar membaca ditempat lain, ridhoilah aku.amin

Februari 2006
Sudah saatnya ujian tiba, siapa yang tak ingin berhasil dan mencapai nilai memuaskan, pasti semua akan berusaha untuk mendapatkan hal tersebut, termasuk akuyang merelakan sekolah mengajiku ku tinggalkan demi fokus pada ujian nasional. Aku setiap malam bertahajud di rumah yang beralaskan tanah ini seraya terus memohon untuk mendapatkan hidayah dan kekuatan yang selama ini aku yakini ada. Ya, garis tanganku mungkin mampu ku genggam, namun ada beberapa garis yang tak mungkin bisa tergenggam sepenuhnya. Itulah kekuatanku sedari dulu. Penyakitku mungin terus-terusan kambuh hingga aku pernah empertanyakan keadilan, hingga aku pernah tidak mempercayainya hingga aku merasa aku adalah manusia paling tidak beruntung didunia. Namun semua salah, ketika apa yang ku harap itulah yang terjawab, maha besar kekuatannya dan aku mendapatkan salah satu tetesan embun paginya hari ini. Tepat dimana hari pengumuman kelulusanku waktu sekolah dasar.
Hingga beberapa bulan hampir enam bulan setelah itu aku sangat rajin beribadah, salat wajib tepat waktu seperti nazarku salat tahajud dan doa-doa serta dzikir yang terus mengalir dari dalam diriku. Menemani setiap detik nafas nafas dalam hidupku, termasuk ketika aku kembali medapatkan sepeda baru dan masuk di salah satu Sekolah menegah pertama terfaforit di daerahku, ketika berangkatpun ku awali dengan basmallah dan sepanjang perjalanan mulut ini tak berhenti berdzikir, saat pulang pun ku akhiri dengan hamdallah. Menjelang waktu duhur pun aku pergi ke musola, akan tetapi beberapa bulan hampir setahun dari aku bernadzar semua buyar, hampir aku tak pernah salat dalam seharian, seperti orang yang liar, apalagi dengan kehidupan disekitarku yang mengiming-imingiku dengan kehidupan yang indah, disinilah setan mulai merasuki tubuhku yang sekarang adalah tulang dan daging serta darah yang tak berarti apa-apa yang suatu saat bisa saja menjadi sampah yang lebih busuk dari sampah yang ada dipasar juwana yang aku lewati setiap pagi dan tengah hari, kini mulut-mulut dzikir tak lagi merapat dalam sanubariku, salat tak lagi menjadi penenangku, tahajud tak lagi menjadi petunjukku, semua telah tergantikan dengan handphone dan teman-teman yang mengajakku untuk bersenang-senang, hingga tak wajar tak ada prestasi yang kuraih ketika aku duduk dibangku sekolah menenggah pertama, bahkan sering sakit dan sering menempati ranging tengah-tengah bahkan bawah dan aku juga tak sempat belajar kitab dan maknanya yang dulu di sekolah dasar sudah kutarget aku mampu menghafalkan surah-surat pendek dan fasih dalam membaca ayat-ayat suci Allah. Nazarku terbengkalai.
Mei 2009
Tobat saat menjelang ujian nasional adalah salah satu hal yang sangat dinantikan saat itu, entah taubatan nasuha atau kan kembali lagi pada keburukan-keburukan yang telah dilakukan. Sekiranya lulus sekolah menengah pertama adalah sebuah hadiah yang tak pantas bagiku karena aku telah berbulan-bulan bertahun-tahun membengkalaikan nazarku. Maha  besar Allah yang masih memberiku sejuta kenikmatan ini. Aku sungguh mengalami goncangan mental dan menjadi sangat diam, sering aku perang batin ketika ada sesuatu yang sering berbisik kepadaku dan menakutiku. Aku butuh perlindungan, aku butuh naungan aku butuh tempat yang mampu menenaangkan aku lagi.
“ hai nang, apa kabar? Kok ndak pernah melirik musola lagi? Atau masjid? Kok ndak pernah pegang Quran lagi? Sekarang sudah semakin sombong ya? Sekarang sudah banyak maksiat ya? Sekarang sudah punya pacar ya? Sekarang sudah banyak sms an telepon-teleponan dan sekarang sudah punya motor ya? Setelah doa yang nang minta baru saja kemarin? Kurang apa coba baiknya Allah sama kamu? Kurang apa? Sekarang kamu sudah SMA nang, salat belum bisa, doa kunut saja ndak hafal, kemarin hafal, saat ujian saja? Iya? Halo? Memangnya kamu hidup saat ujian saja? Berapa kenikmatan yang kau dapatkan dan masih ingatkah nazarmu? Kamu akan celaka bila kamu terus terus seperti ini, kamu akan musnah tak berbekas kalau seperti ini terus nang, kamu bisa apa? Kemarin jatuh dari ajar naik motor, semua hancur, walau motor sekend tapi kamu menambah beban orang tuamu, makmu bapakmu!”
Rasanya tak mampu menjawab apa-apa atas semua pertanyaan ini, aku mulai mencoba mendekatkan diri lagi pada Allah dan masih berharap lading ampunannya masih boleh aku pijaki. Sekarang aku sudah beranjak dewasa, aku harus mulai menentukan apa tujuan hidupku, berkali-kali ikut seminar ikut motivasi akan tetapi semua nihil, ya Allah aku butuh ridhomu, bukankah engkau yang mampu, yang hanya mampu membuat anak usia dua bulan sudah bicara ingin masuk islam, bukankah engkau yang membuat anak usia tujuh tahun hafal ayatmu dan faham makna yang kau sampaikan padaku, dan saudara-saudaraku? Aku mohon berilah aku ini kekuatan seperti mereka, yang terus saja mencari ridhomu.
12 Juni 2012
Lamat hari detik menit dan seiring komponen waktu berdetak aku semakin jauh dari yang namanya Tuhan, aku semakin lupa siapa aku dan apa tujuanku diciptakan, namun aku sangat binggung karena aku masih dipercaya untuk mengemban amanah menjadi salah seorang ketuan dibeberapa ekstrakulikuler sekolah, ya aku juga berusaha menjadi salah satu murid yang aktif di sekolah, walau kadang hasil yang kudapat adalah rata-rata setara-rata teman sebiasanya dan sebisanya. Beberapa saat menjelang akhir dari semua masa kepemimpinanku alias aku bertobat karena akan melaksanakan ujian nasional di tingkat sekolah menengah atas menjadi agenda rutinku sejak 2006 2009 dan 2012.  Malam hari sebelum ujian nasional beberapa bulan sebelum ujian nasional dan sebelum sebelum dan sebelum aku meninggkatkan ibadahku dengan rajin salat wajib, tahajud dan berdoa tak lupa dzikir, ternyata aku masih diberi kenikmatan dan ketenangan yang dulu di sekolah dasar pernah aku dapatkan. Ini yang kucari selama hampir enam tahun.
Aku kembali melantunkan doa-doa pengharapan pada yang maha member harapan dan maha mengabulkannya. Aku kembali memohon dengan isak tangis agar aku bisa lulus ujian dan masuk diperguruan tinggi negeri pilihanku dengan keterangan sebagai pelamar bidik misi. Tak lupa aku juga belajar sedikit-sedikit menggunakan al Quran terjemahan untuk mendalami arti dari makna setiap ayat dalam kitab suci, akan tetapi aku belum fasih dalam membacanya, mungkin sudah lupa atau terlupakan atau sengaja terlupakan dan yah, kenyataanya aku sampai sekarang belum bisa mengaji. Luar biasanya lagi, keajaiban itu datang lagi dalam hidupku, aku lulus ujian dengan nilai yang rata-rata dan aku bisa diterima di PTN yang aku inginkan ditambah aku lulus bidik misi. Aku belakangan ini tak berani bernazar, karena nazarku waktu lulus SD belum bisa aku tepati menjelang aku kuliah. Sungguh ironi dan keji terhadap diri sendiri.
Aku hanya berdoa seraya pasrah mengharapkan sisa-sisa kasih sayang yang ada, ternyata kasih sayang yang Allah berikan bukan lagi hanya sekedar sisa, tai kasih sayang baru disetiap detiknya. Aku tak bisa berkata-kata.
 10 Februari 2013
Aku minta pada allah dan dikabulkan, lalu aku bernazar dan kadang kutepati dan kadang tidak, apa arti dari semua ini? Aku sangat lemah seketika aku didekap hangat sehangat pelukan dunia ini.
“Bertaubatlah karena pintunya masih terbuka lebar padamu!”
“ keinginanku seperti itu, tapi kadang hawa nafsu mengalahkan segalanya, lalu aku harus bagaimana?”
“ bukankah semua keturunan adam itu adalah tempatnya nafsu bersarang? Kecuali mereka yang mau mendekatkan dirinya! Kamu sudah pernah merasakan rasa dekat sedekat yang pernah kamu rasakan? Lalu kamu mau mensia-siakan kesempatan itu apakah kamu tidak mau setiap hari didekap iman?”
“Aku binggung, aku mau, akan tetapi?”
“Tetapi apa lagi? Mau ku ungkit-ungkit masa lalumu?”
“Kamu itu tiga tahun kemarin ngapain aja coba?”
“Aku kecewa berat sama kamu, tiga tahun yang lalu kamu bilang kamu akan bisa, terus sekarang kutagih janjimu kamu masih bilang “ dalam proses belajar?”
“Ndak bisa ya? Hu…kasihan deh kamu?”
“ baca aja ndak lancar gimana mau tau maknanya? Gimana mau tahu artinya? Ngayal aja kamu itu! Jagan ngayal deh”
“Dulu siapa yang marah ketika kamu keluar dari kehidupan itu dan memilih kehidupan yang sampai saat ini begitu banyak dimudahkan olehnya? Aku kan? Terus kamu bilang kamu sibuk menyelesaikan inilah itulah…terus kamu enam tahun yang lalu juga bilang “aku akan cari tempat yang lebih bisa mengajariku tentang hal itu.”
“Mana buktinya sekarang? Ha? Kamu itu pembohong kelas kakap!”
“Untung allah maha pengampun, tapi kamu kalau gini terus gebangetan banget deh rasanya!”
“Maaf”
“Apa kamu bilang?”
“Maaf? Sudah berapa ribu maaf kamu ucap kepadaku? Apalagi kepadaku? Sudah berapa ribu maaf yang kau ucapkan pada orang lain? Dan berapa juta maaf yang kamu ucapkan pada Allah? Mau tau? Ndak terhitung jumlahnya nang!”
“ apa maaf itu begitu murah ya bagimu? Maafmu sudah tiada artinya lagi buatku, entah apa karena aku sudah sering mendengar atau nadanya sumbang, aku sudah bosan dengan maafmu!”
“ kamu ndak ingat betapa gigihnya kamu berdoa?”
“ kamu nggak ingat betapa seriusnya kamu belajar mengaji, empat tahun ndak membekas apa-apa dibenakmu? Naudzubillah….nang-nang!”
“ya sudah lah sudah delapan belas tahun aku mendampingimu, kalau kamu begini aku ya tinggal ikut saja! Sekarang semua terserah kamu!”
“Kamu itu memang….se…!”
“Setiap hari dihantui perasaan cemas dan kemalasan adalah rasa yang tak bisa aku lawan, aku ingin selalu dalam perbaikan, akan tetapi tipu daya setan lebih dahsyat mengerogoti imanku. Ya rabb… ampuni aku!”

revisi : semarang 11 maret 2013
Mang gugun




Tidak ada komentar:

Posting Komentar