Rabu, 04 Desember 2013

Resensi Dua Darah


Sebuah Novel singkat pertama karya Muharram Adruce Noor dengan nama pena Mang Gugun. Novel ini dipersembahkan untuk seluruh warga Indonesia pada umumnya dan pada seorang yang sepesial dihati yang sedang menantiku penuh cemas, serta keluarga yang ada disana bapak, Emak serta kedua adikku yang mulai tumbuh dewasa Yussa dan Nurul Aida.  Tujuan utama pembuatan novel ini  adalah dakwah melalui media sastra. Penulis menceritakan kisah-kisah perjuangan hidup dengan bahasa keseharian yang ringan. Terinspirasi pada kisah kisah yang pernah didengar dibaca dan dirasakan oleh penulis.
Terdiri dari 15 bagian dari sisi kehidupan mulai dari munculnya tokoh pertama seorang pria tampan yang bernama Andi lulusan sarjana muda di universitas ternama di Indonesia bidang arsitektur yang menikah dengan gadis cantik bernama Andriena peraih kejuaraan modeling tingkat nasiolan yang berakhir dengan pernikahan. Keduanya menikah dengan bahagia serta dikaruniai  seorang anak putera bernama aren yang sangat lucu dan menggemaskan.  Saat masa kehamilan sang isteri Andi selalu menyayangi lebih daripada sebelumnya. Setiap harinya sepulang kerja pryoek Andi selalu menyempatkan waktu pulang. Walaupun jarak Jakarta Semarang harus ditempuh Andi setiap harinya dengan Mobil Picanto merah kesukaan Andi.
Saat usia kehamilan tua Andi memutuskan untuk mengajak isterinya ke kampung halamanya Karena takut tak ada yang mengurusi. Dirumah asalnya semarang dia masih punya orang tua yang lengkap. Mungkin ayah bunda Andi bisa membantu memberikan pengarahan pada isterinya.
Saat kelahiran Andi sangat cemas dan panik, karena sudah dua hari sang jabang bayi tak mau keluar dari rahim isterinya. Akihirnya pilihan terahir operasi sesar pun dijalani dengan penuh pengambilan risiko yang tinggi, Andi takut jika terjadi apa apa dengan sang isteri dan anaknya. Hingga kelap kelip lampu merah di UGD pun berhenti. Tim dokter bersalin dan pembantu dokter membawa angin duka dengan raut wajah penuh tangis. “ mohon maaf pak, kami hanya berhasil menyelamatkan bayi bapak!” seraya ibu dari Andriena  pun pingsan melihat anaknya meninggal dalam proses persalinan yang pertama. Andi tak bisa berbuat apa-apa kecuali menggengam  erat selonjor besi penyangga tempat duduk dengan erat dan mata yang lama tertutup. Tak berpikir panjang seluruh keluargapun masuk ruangan kecuali Andi yang masih Hilang akal sehatnya.
Ketika semua masih dalam keadaan berduka Andi mau tak mau harus membesarkan Aren sendirian dengan segala kesibukannya. Tak terpikir olehnya saat itu mencari isteri lagi. Karena sungguh cinta Andi terhadap almarhum isterinya sangat dalam. Jika ia mau kenapa tidak, is masih muda. Rumah hampri disetiap kota besar di jawa ada semua. Proyek dan tendernya berhasil dimana mana. Akan tetapi tak ada niatan mencari isteri lagi. Mumpung Aren masih kecil.
Dengan diberi air susu botolan Aren balita tak mau meminumnya hingga akhirnya dia kurus. Bobot kelahiranya yang mencapai  4,3 kg  kini semakin  susut jika dibandingkan dengan tambahnya usia. Ada seorang tetangga rumah orang tua Andi yang juga sedang melahirkan seorang bayi. Akhirnya dengan dibantu dalam urusan keunagan. Keluarga itu mau menyusuhi Aren kecil.
Dalam kehidupan Aren ia tak pernah menemukan kasih sayang seorang ibu, hingga timbul desakan oleh orang tua almarhum mantan isterinya untuk menikahi adik dari almarhum isterinya yaitu indri yang wajahnya hampir mirip dengan almarhum isterinya. Ketika Aren berusia empat tahun Indri baru saja menyelesaikan studinay dibidang Riset dan Pangan di Den Haag Belanda, sebulan di Indonesia Indri kemudian menikah dengan Andi  atas persetujuan kedua orang tua. Akhirnya sekarang Aren pun mempunyai seorang ibu, yang menyayangi Aren walau bukan ibunya sendiri.
Kehidupan rumah tangga Andi dan Indri adik dari almarhum isterinya sangat bahagia, dua tahun menikah Aren memiliki adik yang bernama Cindi, ketika itu Aren berusia enam tahun. Aren sangat menyayangi Cindi walau dia tak tahu bahwa itu bukan adik kandungnya. Setiap hari bersama Indri Cindi dan Aren kini jalan jalan di sebuah taman di “ kota delta mas”  Bekasi. Kini mereka dari semarang pindah ke Bekasi karena Mengikuti proyek yang sedang dijalankan oleh ayah dari Aren dan cindi.
Sampai diusia dewasa mereka berdua adalah kakak adik yang sangat tidak akur, setiap hari selalu bertengkar gara gara masalah sepele seperti rebutan Chanel televise, rebutan kamar mandi, padahal dalam rumah ada enam kamar mandi sampai rebutan motor untuk berangkat sekolah atau kuliahnya Aren, padahal ada mobil dan beberapa motor matik di garasi. Hingga akirnya Andi memindahkan kembali Aren ke semarang karena mereka berdua tidak pernah akur.
Dalam sebuah cengkrama malam Andi bersama indri sebelum tidur seperti biasa menikmati secangkir teh hijau hangat.  Indri memulai perbincangan malam itu. Indri mengatakan bahwa dia dan Alm. Andriena (isteri pertama Andi) memang sedari dulu juga tak pernah akur, makanya dia disekolahkan Alm. Ayahnya ke belanda sedangkan kakaknya menjadi model. Setiap apa-apa pasti selalu rebutan. Akan tetapi saat mereka jauh beberapa hari sempat saling kangen dan menangis menggunakan kecanggihan teknologi hinga bisa berkomunikasi langsung dua arah melalui vidieo. Hingga beberapa bulan kemudian ia di kabari bahwa ia akan menikah dengan Andi, seorang pemuda lulusan Arsitekutr. Yang sekarang juga menjadi isteri Indri. Akhirnya mereka bernostagia sambil memadu kasih, tangispun terpecah di masing masihg dua orang yang saling berusaha menemukan cinta ini. Karena saat malam itu juga mereka jujur rumah tangga yang sudah dibangun selama 15 tahun ini belum ada cinta sepenuhnya . Andi masih sangat mencintai Alm.Isterinya. Indri juga demikian harus terpisah dengan warga keturunan Indonesia yang tinggal dan menetap di Belanda. Esok paginya mereka pergi ke makam Alm. Andriena ibu dari Aren. Aren selama ini tak tahu bahwa ibu kandungnya sudah tidak ada.  Andi dan Indri pun mengajak cindi. Cindi merasa kebingungan karena sebelumnya belum pernah menengok makam ini, walau makam ini berada disebelah makam kakeknya. “almarhum Andriena siapa mah?” Cindi merasa aneh dan bertanya-tanya akan tetapi orang tuanya hanya berlalu sembari meneteskan air mata.
Setelah cindi Lulus kuliah akhirnya Aren menikah dengan gadis semarang, yang menjadi seorang direktur di salah satu bank muamalah di Semarang. Pernikahan mereka Berlangsung tanpa sepengetahuan kedua belah pihak orang tua, karena orang tua dari gadis yang bernama Hasari telah tiada, sedangkan Andi dan Indri sedang kebelanda untuk urusan Pekerjaan. Mereka pun menikah dengan di saksikan oleh wali dari kedua belah pihak, dengan mengabari Ayah dan ibunya yang ada di belanda melalui telekonfren, pernikahan mereka bisa disaksikan oleh Cindi Andi dan Inri dari belanda.
Tak disadari waktu cepat berlalu, pernikahan mereka hampir memasuki usia setahun setengah, Hasari kini mengandung anak dari buah cintanya dengan Aren. Akan tetapi beberapa kali mengalami sebuah keanehan terhadap kandunganya. Berbagai alternative dn pengobatan medis pun telah dilakukan untuk mengetahui apa keanehan yang tejadi pada calon cucu dari Andi dan indri, akan tetapi tidak ada jawaban. Hingga prosesi kelahiran pun terjadi, Andi bersama Aren saling memelukkan tubuhnya ketiang sangga ruang depan UGD mereka melakukan hal yang sama, hal itu membuat Indri dan cindi heran, mereka melakukan hal yang sama disaat saat yang genting, Andi teringa duapuluh delapan tahun yang lalu dia berada diruang yang sama dengan perasaan yang sama menantikan kelahiran seorang  anak pertama.  Kini anaknya Aren juga harus merasakan hal yang sama. Doa doa terus mereka panjatkan. “ ya allah, kau boleh mengambil isteriku duapuluh delapan tahun lalu, tapi jangan pada cucuku atau menantuku” itulah yang terus dibatin oleh Andi, yang kini rambutnya memutih namun ketampanannya masih tetap terpancar.
Disaat bel ruang UGD berbunyi tanda selesai operasi, dua lelaki anak bapak itu langsung lari kearah pintu dan Andi melihat ekspresi yang sama dengan dokter yang sama seperti duapuluh delapan tahun silam, Andi sudah berkecil hati. “ selamat pak, kami berhasil menyelamatkan anak dan isteri bapak!” Aren langsung menuju ke tempat isterinya dan Andi menegadahkan tanganya tepat didada dan menasuh dimuka sembari berkata “ terimakasih ya allah!”
Namun  Hasari masih menangis sedari tadi, karena anaknya tak mau membuka mata dan menanggis. Hasari takut jika anaknya cacat. Kemudia seorang wanita paruh baya datang menjenguk Hasari dan terkejut melihat yang ada disini seperti perkumpulan orang yang sedang memainkan drama.
Ibu Ipah namanya, beliau bertanya kepada Andi siapa ayah dari anak yang dibopong Hasari. Dijawablah dengan penuh kesedihan Aren. Lalu beliau mengucap dengan lantang, terkutuklh kalian berdua. Sesungguhnya kalian ini adalah sedarah. Almarhum ibumu Ren, dia telah tiada semenjak kamu lahir disni, duapuluh delapan tahun silam, dan kamu sedari usia dua minggu sampai usia empat tahun disusui oleh ibunya Hasari, kalian seharusnya tak boleh menikah, atau akan terjadi malapetaka yang akan datang. Serentak keadaan didalam ruangan itupun menjadi panas dan tak karuan. Andi merasakan pemnyesalan yang begitu dalam bersama istrinya dan Cindi, Karena tak hadir langsung di pernikahan yang sacral itu. Nasi sudah menjadi bubur, beliau berpesan setelah ini beliau harap Aren dan Hasari segera bercerai. Akan tetapi mereka sudah saling cinta.

Semarang, 1 juni 2013

untukmu pengemis kecil tiada dosa

masih kutatap mata ini
mata ini didalam kaca yang basah penuh air mata
air mata turun dari langit hitam selimuti mimpi mimpi anak jalanan
anak jalanan masih sangup berkeliaran
berkeliaran menantang dingin yang menusuk tulang
mereka adalah tulang tulang penghidup bapak ibunya
bapak ibunya tega melepas diri tiada basa basi
soal basi makanan tiap hari ekonomi jangan ditanya lagi
lagi lagi mata masih mau menetes
menetes kan rindu ini salah siapa
siapa siapa saja yang tak punya malu demi uang yang masih dibelenggu
sungguh nista sungguh dusta sungguh tak berdaya

disudut sana digendong anak balita
menjerit seolah tiada yang mampu menenangkan
hanya berteman seorang pria kecil belum genap giginya
aduh kasian aduh kasian
tertelan hujan katanya sudah biasa
hanya tawa kecil yang penuh ketulusan
ketika limaratusan menelapak ditangan
apalagi jikadisambut dengan penuh keramahan
sunguh bahagia dia hari ini

lidah oh lidah lidah
banyak gunjing sana sini gunjing kayak anjing
mereka tak tau kerasnya hidup yang terus meredup
putih merah tak pernah dia kenal apalagi makan bangku sekolah
hanya tetes air mata yang sesegera diusap
dari pipi yang kini penuh asap
ketika melihat anak ibu bergandeng penuh syahdu
aduh kasihan aduh kasihan aduh duh malang
nasipmu memang seperti palang kereta
nasipmu memang harus terlindas roda bus kota
nasipmu memang harus jadi peminta minta
nasipmu memang tiada cita cita
nasipmu memang sudah menjadi bertia
sekedar berita
yang tiada tanggap dari aparat negara
aduh kasian duh duh kasian
hidup tanpa pekerjaan yang membanggakan.

inspired by Terboyo. terminal bus semarang

Gara-Gara “Akulah Kembang Desa dari Blora”

“buka pintunya kang sinah mau masuk kang,sinah mau bicara sama akang, akang jangan marah ya, ndak usah dengerin omonganya ibu, ibu memang gitu ceplas ceplos kang. Buka dong kang!”

“ sudah kalau ndak mau bukain ya udah suruh dia pergi saja memangnya ini rumah dia, ini rumah kamu nduk!”
“Ibu, jangan ngomong seperti itu kasihan mas Parman, biar bagaimanapun dia suami aku bu!”
Akupun terkaget melihat mas Parman membanting pintu kamar kami dan meninggalkan rumah beranjak langkah seribu menuju pintu luar, aku berusaha menahan langkahnya namun aku tak sekuat dan sekeras batu, suamiku pergi meninggalkanku dengan perasaan marah dan dendam, sudah sejak mas Parman di PHK dari kerjaanya di kota ibuku sering sinis dan memarahi mas Parman. Padahal sebelumnya ibuku begitu gambar gembor membanggakan suamiku didepan semua warga desa karena hanya dialah yang berpendidikan tinggi dan mampu bekerja dikota karena dia dari kota juga. Keadaan memprihatinkan memang terjadi didesaku, desa Dalangan kecamatan Todanan kabupaten Blora. tak hanya desaku, tiga desa berturut-turut didaerah puncak ini juga belum teraliri oleh listrik, yang ada hanya di desa menggunakan disel ketika ada pertandingan bulu tangkis atau sepak bola.
Puncaknya pada hari ini, ketika keluarga kami sudah hampir kehabisan uang untk biaya kehidupan sehari-hari dan persediaan kebutuhan pokok mulai menipis, tak jarang anakku dan mas Parman jadi sasaran keganasan ibuku yang sifat aslinya keluar.
Hari gelap, sepertinya langit akan meruntuhkan bangunannya dan menumpahkan semua material lunak jika terkena tubuh ini, aku sangat cemas mas Parman pergi kemana, untuk mencapai kekota hanya ada sepeda tua milik Almarhum Bapakku yang terkuci gembok dengan tiang rumah yang terbuat dari kayu pohon kelapa.  Ndak mungkin mas Parman pulang ke rumahnya karena untuk sampai kesana dibutuhkan waktu kurang lebih empat jam. Dan tak mungkin mas Parman kembali kerumahnya. Aku semakin cemas ketika petir-petir menunjukkan taringnya yang tajam dan runcing sehingga pohon-pohon terkoyak merebah ketika disambutnya.  Mas semoga mas cepat kemabali karena aku sangat mencemaskan keadaannya, sementara anakku yang baru berusia satu tahun lebih sedikit masih tertidur pulas, aku cemas di beranda rumah, ibu juga sepertinya tanpa dosa, padahal rumahku dulunya dari kayu reot sekarang sudah dibangun mas Parman bagus, berkreamik dan tembok, hanya dapurnya saja yang masih seperti rumah yang dulu.
Hal ini jauh berbeda ketika aku datang kerumah mas Parman di kota, dia anak orang kaya, dia akan orang serba kecukupan. Mau minta apa saja pasti dipenuhi, memilih wanita siapa saja pasti dilamarkan, kecuali aku, wanita yang dia cintai, itu kata mas Parman padaku ketika berusaha meyakinkanku. Aku menolak keras, karena dulu aku hanyalah seorang anak dari desa yang nyasar ke kota kebetulan dia temukan aku kebinggungan. Aku sempat ,merasa ketakutan ketika dia mendekati aku dan menyentuh pundakku dan menanyakan padaku sedang apa disini dan mencari siapa. Aku masih ingat masa-masa itu.

***
Saat saat dimana bahagia datang melanda kehidupanku, tak pernah kusangka aku mendapatkan seorang suami yang tampan lagi kaya. Kata tetangga-tetangga sih barokah namanya, ada yang bilang beruntung tanggal lahirnya/wetonya dan lain-lain. Saat itu aku baru saja datang ke kota turun disebuah terminal Terboyo Semarang dengan maksud mengambil buku ceritaku yang kemudian termuat dalam sebuah penerbitan ternama. Aku harus mengambil buku dan honorku di kantornya. Akan tetapi seumur-umur yang namanya kota semarang saja aku hanyabisa aku lihat dan dengar dari televisi dan radio. Keluargaku belum pernah sebelumnya ada  yang datang ke semarang.
Kami bertemu dijalan dekat toko buku Gramedia Semarang saat aku  menangis dipinggir jalan depan Gramedia. Mas Parman turun dari mobil BMW  berwarna merah tua dengan jas hitam dan celana hitam dan sepatu yang mengkilap tak ketinggalan dasi datik warna cokelat yang semakin menambah kegagahn suamiku itu.
“ sedang apa mbak disini, kok sendirian, dari tadi saya perhatikan mbak kebinggungan?” dia mendekati dan bertanya padaku. Akupun sempat takut dan mencoba lari, tapi aku terdiam dahulu sebelum dia bereaksi lebih. Aku takut jika aku diculik seperti yang ditelevisi-televisi itu.
“ ini ada sedikit uang untuk beli makan!” aku dikira pengemis, karena memang pakaianku saat itu seperti orang-orang lain yang berprofesi sebagai pengemis.
“kurang ajar kamu ya, kamu pikir saya serendah itu apa? Kamu mau membeli saya dengan duapuluh ribu?” aku nyolot dan meninggikan badanku kehadapannya.
“ bukan begitu mbak, maaf jika…”
“jika apa? Kamu piker saya pengemis? Peminta-minta, bukan pak! Saya memang dari desa, tapi saya tak serendah itu!”
Diapun meninggalkan saya yang sendirian ini kembali masuk mobil dan memarkirkan mobilnya di dalam, diapun masuk Gramedia. Aku masih merasa ketakutan, mau beranjak dari tempat rasanya sangat berat. Aku tak punya  saudara dan tak tahu arah disini. Mau makan juga aku mengandalkan uang honor tulisanku yang sampai saat ini belum kutemukan juga kantornya. Tak terasa akupun terlelap dalam teriknya matahari yang menunjukkan suhu 42 derajat celcius yang kulihat didekat kantor pos pengamanan polisi yang terpampang diatas lampu lalu lintas. Akupun mulai kelaparan ketika terjaga, namun tak ada uang sedikitpun yang ku kantongi. Mungkin jika aku menrima uang dari orang tadi aku bisa makan siang. Tak lemas lunglai seperti ini. Ketika aku kembali terbangun, matahari sudah condong dan suhu sudah tak sepanas tadi siang. Sepertinya hari mulai gelap. Aku harus segera menemukan kantor itu atau pulang saja, itu yang ada dalam pikiranku. Ku tengok parkiran mobil masih terlihat banyak mobil. Kuamati mobil-mobil itu ternyata masih ada mobil yang tadi. Kuharap diamau membantuku untuk kali ini saja. Kutunggu dia sampai keluar dari Gramedia. Agak lama. Akan tetapi penantianku terkabul juga. Aku segera mendekat kea rah pintu mobilnya sebelum dia membuka pintu mobilnya dan pergi.
“mohon maaf mas, menganggu sebentar!” sapaku pelan dengan wajah tertunduk.
“ kamu kan yang tadi pagi. Mau apa kamu?” sahutnya dengan nada keras.
“ saya mau minta bantuan boleh mas?” dengan nada merengek dan memelas.
“ minta bantuan apa? Kamu pengemis kan? Pengemis saja sombong!” dia semakin mengeraskan suaranya. Lalu kuinjak kakinya dan masuk kedalam mobilnya. Karena kurasa dia adalah seorang lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Yah hanya filing. Semoga saja benar.
“ hey, keluar kamu dari mobilku. Jangan-jangan kamu wanita gila? Pengemis? Keluar kamu!” aku tak mau keluar dan hanya terdiam serta menanggis. Seketika banyak yang memperhatikan dan diapun masuk mobil dengan diam serta mulai menjalankan mobilnya, aku sangat takut. Tapi entahlah. Apapun yang terjadi padaku. Ini lebih baik darpiada harus berdirian yang tak tahu sampai kapan aku didepan Gramedia.
“ kamu itu sebenarnya mau apa dari saya? Mbak? Tadi pagi kamu marah-marah pada saya dan saat ini kamu menumpang dimobil saya dan saya tak tahu harus berbuat apa pada kamu!” akupun hanya terdiam dan tak berkata apa-apa sambil terus menutup wajah dengan kedua tangan karena dari tadi dia memperhatikanku dari sepion.
“ kalau kamu ndak mau jawab tak turunin disini loh mbak?” aku melihat disekeliling sepertinya serem, jalanan tampak sepi dan hanya bongkahan batu batu jalanan kota yang mulai tergenang air serta gedung gedung besar yang catnya mulai kusam bahkan banyak tembok yang kulitnya hancur.
“dimana aku ini, kalau aku diturunin disini bisa mati aku!” (dalam batin)
“ mbak, tolong jawab pertanyaan saya, karena tidak mungkin anda saya bawa pulang! Saya masih banyak tugas dan urusan. Tolong mengerti saya, lagipula saya tidak kenal siapa mbak dan darimana mbak! Oke?”
“ mas tolong bantu saya ke alamat ini!” saya mulai angkat bicara dan menyodorkan alamat penerbitan itu kepadanya yang sedang menyetir pelan-pelan.
“ ada urusan apa mbak dengan alamat ini, itu kantor saya dan saya pemiliknya!”
“ alhamduilillahirobbil alamin… akupun kegirangan dalam mobil dan seperti diselamatkan oleh spiderman dalam sebuah gedung yang hampir roboh karena kebakaran. Hehehe
“ begini pak, nama saya Sinah pak, Sinah Ayu Kinan yang kemarin ikut lomba menulis cerita anak desa pak, kebetulan saya memang benar benar dari desa dan saya baru pertama kali ini ada disemarang!”
“ stop! Bicaranya dilanjut nanti saja!” tiba-tiba dia memotong apa yang mau ku omongkan dan mengencangkan gas mobilnya sehingga kecepatanya bertambah kencang. Tibalah kami disebuah rumah makan yang bertuliskan Roket Chiken. Dia memarkirkan mobil dan memintaku untuk turun. Kemungkinan terburuk dalam pikiranku adalah aku diturunkan disini atau aku sangat beruntung ditraktir makan. Diapun memintaku untuk turun dan mengacungkan tangannya untuk masuk kedalam Roket chiken. Kamipun duduk berdua saling berhadap-hadapan dan dia memintaku untuk melanjutkan ceritanya.
Setelah makan dia mengajakku untuk ke kantornya yang saat itu seharusnya sudah tutup pukul 16.00 WIB. Dia memberiku sepuluh buah buku yang seharusnya aku hanya dapat dua eksemplar serta memberiku uang tujuh ratus ribu rupiah. Aku sangat senang dan gembira. Ternyata hari ini adalah keberuntunganku. Aku diminta untuk tinggal dikantor sementara menemani kariawanya yang jaga malam sementara besok pagi baru pulang ke Blora. Keesokan harinya pun aku pulang ke desa melewati rute yang sama setelah aku bertanya-tanya kepada penjaga kantor itu yang bernama pak hendro  tentang rute mana yang harus saya tempuh.
***
Akupun sekarang menjadi sering telepon bahkan SMSan seharian penuh dengan pak Parman. Hingga dia menjemputku jauh-jauh dari semarang menuju blora. Dia juga memintaku untuk datang kerumahnya. Dia juga yang sudah menyatakan cinta kepadaku, dialah lelaki pertama yang bilang cinta dan langsung ingin menikahiku. Aku menolaknya karena aku sadar perbedaan status social dan jarak juga. Aku sangat bahagia akan tetapi aku juga sedih bahwasanya orang tua mas parman tak setuju dengan rencana pernikahan kami. Kalau orang tuaku setuju dan mendukung saja. Akhirnya mas parman nekat menikahiku dengan saksi adalah paman dari mas Parman. Dia menikahiku dengan mas kawin buku yang berjudul “ Akulah Kembang Desa dari Blora” dan uang tunai sebesar tujuh ratus ribu rupiah. Hal yang sama dilakukan ketika malam itu dia menyerahkan hadian padaku. Orang tua mas Parman sempat datang sekali kerumah dan meminta tanda tangan mas Parman untuk mencabut dirinya dari hak waris, hal itu membuat kami terpukul. Itu artinya mas parman harus memulai hidupnya dari O lagi, namun demi cintanya padaku dia menandatangain surat itu dan seraya bersujut pada ayah dan ibunya meminta maaf dan doa restu, namun sepakan kaki dari mereka membuat hatiku teriris, betapa kejadian ini sudah ku duga sebelumnya, akupun hanya terus tertunduk. Orang tuakupun tak dapat berbuat apa-apa.
“ silahkan kamu hidup bersama keluarga barumu, bila kamu sudah sadar kembalilah nak, bapak dan ibu masih ingin kamu pulang! Aku sudah rela kalian menikah, toh juga jika aku melarang semua sudah terlanjur. Selamat menempuh hidup baru anakku satu satunya. Harta kita seluruhnya akan bapak kamu sumbangkan ke panti asuhan rintisan mu dulu.”
Itulah kata-kata dari ibu mertuaku yang sangat sinis melihat aku dan keluargaku serta pernikahan kami.  Ibuku hanya memeluk kami saat mereka pergi dengan menggunakan mobil yang dulu menjadi awal benih cintaku dengan mas Parman.
“sudahlah nduk, le, suatu hari nanti hati mereka akan luluh, maafkan aku nak parman, hidupmu jadi berantakan hanya karena menikahi anakku. Giatlah kamu dalam bekerja. Dulu kamu bisa, sekarangpun bisa!”
Akupun membangun kembali keluargaku yang kecil namun bahagia ini, mas Parman bercerita, bahwa dia tidak bahagia walau kaya, karena bapak ibunya lebih mementingkan bisnis daripada dirinya sejak kecil sampai saat dia menikah denganku pun orang tuanya tak peduli, tak mau tahu bahkan tak menyetujui hubungan kami tanpa alasan yang jelas. Beberapa bulan setelah pernikahan mas Parman kembali ke semarang dengan uang satujuta. Uang itu adalah uang mas kawan kami dan uang yang dulu dia berikan padaku di awal yang telah kupakai. Dia mencari pekerjaan disemarang selain di Gramdeia. Karena seluruh asetnya sudah diminta orang tuanya kembali. Dia diterima bekerja disebuah perusahaan keramik dengan gaji perbulan dua setengah juta. Mungkin itu cukup untuk kehidupanku kelak.
Kabar gembira menyelimutiku dengan kehamilanku, mas parman sangat senang sekali dengan berita ini sampai sampai dia meminta cuti tiga hari dan pulang ke Blora untuk menemaniku.
“kang, kalau anak kita lahir maunya perempuan apa laki?” celotehku ketika sedang berdaan dikamar.
“perempaun ya dik, aku ingin beri nama yang bagus, tapi belum tahu aku, mungkin bisa antika maharani, tokoh mu dalam novelmu “Akulah Kembang Dsea dari Blora” hehehe
“ ah akang bisa saja, aku manut lah kang!” bayi kamipun ternyata terlahir dengan selamat dan berjenis kelamin perempuan. Nama itupun tersandar menjadi milik putri pertamaku yang cantik dan lucu. Kamipun menjaganya dan terus member gizi yang cukup hingga mas Parman malah terkena musibah yaitu bangkrutnya perusahaan keramik yang selama ini menjadi tempatnya mencari nafkah. Uang persediaan kamipun mulai menipis dan ibu sering marah marah. Mas parman juga sudah usaha kerja serabutan disesa dengan mencangkul sawah orang lain.
Kehidupanku tak semulus novel yang aku tulis, dimana seorang kembang desa dari blora hidup bahagia denga laki laki yang dicintainya. Anakkupun tak segemuk yang aku ceritakan di novel sekarang, badanya mulai kurus karena aku hanya makan seadanya dan susunya pun hanya mengandalkan ASIku. Suamikupun tak seberuntung yang aku tulis. Dia menderita karena mencintaiku.

Semarang 1 juli 2013 23.23
Mang Gugun

aku hambar-hambar aku

Sungguh berat senapan yang kubawa

Walau tak mempertahankan merdekanya tanah beta

Lebih juang dari curamnya jurang
Yang membawa insane menuju lubang lubang
Aku adalah hewan piaraan
Manusia tempatku mencari kemurkaan
Kadang ada yang berbaik sangka sesaat dan hilang

Wahai penguasa alam jagat raya
Yang telah menghilangkan segala berhala
Kau utus seorang yang tak pernah kurupa
Umtuk mengenggam dunia
Tapi kenapa aku terlewatkan?

Aku ingin berhenti sampai disini
Biar tak banyak lagi taubat palsu
Biar tak susah lagi menderitakan diri
Biar tak mati lagi sepersatu waktu
Diriku ini sungguh hina
Lewat surat dan tangis pun hanya terjawab Tanya
Doakupun sampai ketelingga yang tak berrupa
Tergambar merah menganggah
Terkabulah sebuah ulah
Sungguh aku mati gaya
Sungguh mohon beri hamba ini petuah petuah yang akan berbuah
Seperti sujud yang menempel pada tanah
Jikalau tidak bisa memanah
Lekaskan aku menyatu dengan tanah

Mang gugun
07 juli 2013.03.03

telantarlah bunga


Teruntuk bunga disana

Maafkan aku tak pernah menyiramu

Apalagi menjengukmu
Aku terlalu lupa pada dirimu
Aku terlalu lupa tujuanku memilihmu
Aku terlalu lupa tujuanku menanammu
Lagipula kau sudah tahu
Tanpa surat kabar dan telephonku
Tanpa pesan dan telepatiku

Kau sudah jelas bahwa aku hanya menyiksamu
Kuharap kau bertahan disitu
Menungguku berubah jadi pompong yang tak menyentuhmu lagi
Menjadi pompon yang tak makan daunmu lagi
Menjadi pompon yang tak menghisap madumu lagi
Yang menjadi pompon yang tak minta kesucianmu lagi

Bungaku yang kucintai
Aku kini sedang terjatuh dalam tanah yang gersang
Tepat diatas akarmu aku menggeliat
Mencari makan yang tak pernah ku dapat

Inginku naik keatas sana lagi
Tapi aku malu
Walau izin sudah kau stempel dilembaran biru
Dimana aku akan menjadi kupu bila aku tak tahu arah dan waktu
Aku pernah bermimpi akan menjadi pelengkapmu
Ketika khalifah khalifah itu mengabadikan elok pesonamu
Aku ingin menjadi sesosok yang berharga bagimu
Tapi sayang
Aku ada ditanah yang tertindih karang

Mang gugun
07 Juli 2013 13:30

Hitam Merah (Kisah cinta penuh perbedaan)

“Hai, kau sedangapa disana?  Jangan nekat kau, hai dengaraku, kau tak boleh mengakhiri hidupmu? Hai, ja ja jangan…..!”

“ apa kau gila?Kenapa kamu berniat bunuh diri? Hidupmu masih panjang, apa yang kau lakukan itudosa besar. Kau itu sudah besar, kenapa kau tak bisa perpikir jernih? “
“ kenapa kauseperti itu? Jawab aku!” wanita itupun menangis didepanku yang sedang tertunduklesu, andai tidak ada wanita itu mungkin seluruh orang yang sayang padaku akankehilanganku.
“namaku Aya,maaf tadi aku memarahimu, kamu nggak boleh mengakhiri hidupmu ndengan mudahnya.siapa namamu?” akupun hanya diam membisu. Kemudian berlari meninggalkanya.
“ hai janganlari kau, jangan coba-coba bunuh diri lagi. Hai tunggu aku, aku wanita, kaulaki-laki seharusnya kau bertanggung jawab kepada ku kelak, bukan lari darimasalah. Berhenti kau?”
Dia pun terusmengejarku hingga aku sampai pada jurang yang terdalam didaerahku, dimanadibawah sana dunia kegelapan yang sangat mencekam, disanalah tempat yang seringmenjadi faforit orang-orang untuk mengakiri hidupnya.
“jangan nekatkau. Hei hei, didalam sana berbahaya, kau tak akan menemukan keluargamu lagi,kau tak akan bermain dengan teman kecilmu lagi, kau tak akan …..hei…kau banci…berhenti. Jika kau ingin mati akan kulempar kayu ini agar kau terjungkal daritempatmu berpijak!”
“Diam kau!”
“Ooo… ternyatakau laki-laki, berarti kau laki-laki pengecut, nekat mengakhiri hidupmu hanyakarena sebuah masalah. Bukankah nenek moyangmu melarangmu untuk berbuat jahatpada orang lain dan diri sendiri.”
“siapa kau? Apaurusanmu?”
“ aku adalahmalaikat mautmu yang sebentar lagi akan mengakhiri hidupmu! terima ini!”
Diapunmelempariku dengan sebuah kayu besar yang membuatku terjungkal hingga beradadibibir jurang, seperti kematian akan dekat dihadapanku.
“ kenapa kaumasih pegangan akar itu? Lepaskan, pengecut, katanya mau mati? Masih takut? Ayolepaskan! Dia berteriak tepat didepan mukaku yang membiru. “ atau aku yang akanmelepaskan akar itu dari genggamanmu? Bicaralah kau pengecut!”
“Jangan-jangan,tolong aku, bantu aku naik dari sini, aku tak mau mati!”
Diapunmembatuku naik keatas dan menamparku beberapa kali, “kau laki-laki?” itu yangselalu diucapnya ketika memandang wajahku.  Saat itu aku tahu bahwa dia inginmenyelamatkanku dengan caranya.walau aku sudah sperempat nyawa menghilang.Saking takutnya, apabila aku terjatuh kebawah sana, betapa malunya keluargaku,saudar-saudaraku, mungkin aku tak ikut merasakan, tapi mereka akan dianggap gagalmendidikku oleh sekitarku. Remaja seusiaku juga suda banyak yang melakukanperbuatan serupa ditempat ini juga. Alasanya banyak sekali, ada yang depresikarena kelaparan yang berkepanjangan, karena bapaknya mati dalam peperangan,atau hanya masalah sepele yang tak bisa diselesaikan sendiri.
Beberapasaat setelah kejadian itu aku hanya terdiam, dia terus menagataiku danmenasehatiku seperti ibuku, dia terus melotot ke arahku sembari aku dimintauntuk memandang matanya. Namun aku hanya tertunduk, aku sangat malu. Diabeberapa kali memukul-pukul pundakku sembari terus mengataiku. Aku membentaknyadengan kata “Diam!” dia pun terdiam dan duduk disampingku, sebelumnya diapunizin denganku, menanyakan apakah dia boleh duduk disampingku, sepertinya diagadis yang baik, gadis yang terbuka, ramah dan perhatian, namun sangat cerewet.Aku tetap saja diam tiba tiba dia mengeluarkan air mata yang membuatku sedikitbertanya-tanya.
Kuusap air mata itu dari pipinya, aku sedikit perhatian dengan gadis yang tak kukenal sama sekali itu. Kutanyakan kenapa kamu menangis, dia hanya terdiam, kinikita sama-sama membisu dalam heningnya suasana pagi. Burung-burung enganmenyuarakan rahasianya ketika gadis itu menangis, mungkinkah karena aku?Seketika seolah hutan yang hijau terasa sangat mencekam, mendung menyelimuti,aku menjadi takut apakah dia itu gadis sungguhan atau jadi-jadian, tiada sinarlagi yang mampu menembus lebatnya dedaunan dan semak, “ maafkan aku!”
“tiga tahun yang lalu, aku kehilangan orang yang sangat aku sayangi disini, akutak sempat menolongnya, dia tak berniat bubuh diri, dia terperosok danterjungkal dari tempat kita duduk, sebaiknya kita agak menjauh dari sini, sejakitulah aku sangat sedih, menjadi pemurung, sangat pemarah dan tak pernahtersenyum, bahkan hari ini ayahku mengadakan sayembara untuk membuatkutersenyum, tapi aku pergi meningglkan rumah, meningglkan desa sampai ke sini. Akuakan menangis setelah aku marah. Aku akan menyesal setelah aku marah.”
Akuhanya terdiam, dia gadis yang aneh, tak ku minta dia bercerita tapi diabercerita sendiri, aku sedikit simpati padanya, tapi hanya sedikit. Aku inginberkenalan denganya, tapi aku tak mau melakukan itu. Lagipula dia berkulitmerah.
“namaku Aya, siapa namamu?”
Akupunsemakin bertanya-tanya, apakah dia mampu membaca pikiran orang, sehingga diadengan cepat mengajakku berkenalan, aku berusaha tak menjawab, akan tetapi hatiini terasa tak tega. “ namaku Adri!”
“Maukahkau berteman dengankua Adri?”
Diapunmengajakku berteman, sungguh aku seperti tesihir, aku tak pernah punya temanwanita. Apalagi setelah ditinggal oleh seseorang yang sangat aku sayang. Akumenjadi semakin terdiam seribu bahasa. Dia memang lumayan cantik, sepertinyadia juga bukan dari rakyat biasa. Aku masih terdiam.
“kenapa kamu hanya terdiam pemuda? Ada yang salah dengan permintaanku? Kau sudahberhutang nyawa denganku!”
Akupunmasih terdiam, kita masih membisu, dia menangis lagi, aku semakin tak tega,karena tiap kali dia menangis, pohon, daun ranting bahkan lagit memberikansuasana yang berbeda.
“sudahlah,tak usah menangis, sebenarnya kenapa kamu disini?”
Segeradia menjawab dengan panjang lebar. “ aku disini bermaksud melarikan diri, akupernah punya teman yang sangat dekat hampir mirip sepertimu, aku mengajaknyaberjalan-jalan disini lalu aku memintanya untuk memetik buah yang ada diataskita, aku tahu pohon ini tak akan berbuah lagi, tapi ketika aku disini pohonini berbuah sangat manis. Dia mengambilkanya untukku, namun ketika dia hendakturun, dia terpelest dan masuk ke jurang ini. Hari ini tepat tiga tahunkejadian itu bermula. Aku bermaksud mengenangnya disini, tiba-tiba ada kamuyang hendak bunuh diri diseberang sana, aku langsung mengantarkanmu kemari daningin mencarikanmu tempat bunuh diri yang lebih langsung mematikan.”
Sungguhdia itu wanita yang sangat aneh, tiada angin tiada hujan ceritanya melanturkesana-kemari. Diapun terus melanjutkan ceritanya.
“kaumkumemang sudah sejak dulu membenci kaum hitam, kita saling bersaing dalam halmakanan, apalagi kepercayaan kita juga sangat berbeda, namun tak ada peperangansebelumnya, semua hanya membenci dalam batin, jika ada konflik hanya diselesaikanmelalui pengadilan. Tak ada kekerasan daon korban seperti ini, jika….”
Tiba-tibahujan turun sangat lebat, aku segera mengandengnya keluar dari jurang itumenuju tempat yang aman, takut jika terjadi longsor atau hal yang takdiinginkan, sepertinya dia sangat bersedih. Aku mengajaknya berlindung dibawahpohon talas yang masih kecil. Disana kita aman, walau tanah sudah basah,sepertinya hutan ini akan tergenang air, aku segera mengajaknya keatas pohonsebelum dia terseret menuju muara yaitu jurang.
DiaNampak kedinginan. Ku kalungkan syalku kelehernya, sedikit perhatian saja,karena kasihan, dia seorang wanita yang sedang disampingku. Berdua dengankuditengah hutan yang lebat, jauh dari rumah. Aku seharusnya membencinya. Banyakalasan aku harus membencinya dan menolak pertemanan itu. Pertama dia adalah kaumerah, kedua dia berusaha membunuhku dan menyelamatkanku, ketiga dia sangatcantik setelah agak lama aku berdua denganya. Aku takut jatuh hati padanya. Akusangat takut bila hal itu terjadi, ditengah lamunanku dia mengajukan pertanyaanyang sangat berat untuk ku jawab. “ bolehkah aku mendekat kamu? Aku sangatkedinginan. Tolong!”
Dengansangat terpaksa diapun ku izinkan untuk mendekat ke tubuhku, kepalanyabersandar ke pundakku, aku terbayang seseorang yang amat santa aku cintai,sebelum kejadian itu dia sering bersandar ke pundakku sembari melihat bintangbintang nan jauh disana, dan berkata “ kita memang kecil, tapi kita akanmerubah dunia, benar kan Dri?” Langsung saja kujawab “ kau tak lagi kecil bilaada aku yang menemaniku, tetaplah disampingku, lalu kita memanjatkan doa-doapada nenek moyang untuk mempersatukan kami.
Akuterjaga ketika dia hampir terjatuh dan dia tak sadarkan diri, ternyata diahipotermia, segeraa dengan segala upaya aku tolong dia, sesekali kupandang lagiwajahnya sangat cantik dan memikat hati, hingga hujan reda dia tak jugasadarkan diri, dengan sangat terpaksa aku memeluknya erat-erat. Belum pernahaku lakukan sama sekali pada siapapun hal ini, diapun tersadar perlahan setelahlama kupeluk, segera kulepaskan pelukan itu, dia masih lemah, “ antarkan akupulang!” aku tak mungkin mengantarkannya pulang, hal itu sama saja dengan akumembunuh diriku sendiri tanpa bunuh diri.
“kamu pulang sendiri ya?”
“aku tak kuat! Tolong aku!”
“ya… ya tapi aku akan mati disana!”
“kau berhutang nyawa padaku!”
“kau juga berhutang nyawa, jika kau tak ku selamatkan kau sudah terjatuh,terseret air dan masuk jurang!”
“kau laki-laki?”
Akupunterdiam, dan dengan sangat terpaksa mengantarkanya pulang dengan perasaan akuakan mati setelah ini, sudahlah, aku juga berniat mati, mungkin matiku akanlebih etis jika aku terbunuh oleh orang-orang merah daripada matiku masukjurang, aku melewati jurang itu dari pinggir, dengan tanah yang sesekalilongsor dan amat sangat licin, melewati hutan hingga sampai gerbang besar,sepertinay dia bukan anak rakyat biasa dan itu benar. Aku sampai digerbang yangsangat megah dan besar, ternyata dia anak seorang putri salah satu raja dikerajaan merah, aku hampir dibunuh oleh prajurit-prajuritnya hingga aku takpercaya dia bisa marah besar. “ antarkan pemuda ini sampai tengah hutan, jangansampai kamu membunuhnya, kalau tidak aku akan membunuh anak dan isterimu, prajurititupun hanya tertunduk sambil membawaku masuk hutan.
Perasaankusangat tidak enak, tapi aku tetap pada tekatku, aku akan lebh terhormat jikaaku dibunuh, tidak bunuh diri. Sesampainya didekat jurang dua pengawal itupunpergi meninggalkanku. Ternyata aku selamat. Sebelum mereka pergi akumendapatkan sepucuk surat yang ditulis langsung oleh purti itu.  “ ku harap kau bertemu lagi denganku besok ditempat yang sama, apa kau laki-laki?”
Akupunsegera bergegas pulang sebelum petang semakin pekat, mungkin keluargaku sudahmencariku kesana kemari. Hingga sesampainya dirumah berita kematian itu tiba,bukan aku yang mati, tapi bapakku dalam peperangan melawan kaum merah, akuberteriak marah besar. Sungguh biadap meraka yang membunuh bapakku. Tak akanpernah aku maafkan mereka. Semua harus berhenti sampai disini atau aku harusmembunuh mereka semua. Aku terus menempa diri siang malam, ibuku terusmencemaskan keadaanku yang semakin tak terurus. Gadis itu juga mungkin sudahsangat lama menungguku disana, tapi maaf aku tak bisa menemuinya lagi, itu samasaja menghianati kaumku.
Sampaitiba saatnya, akupun siap melakukan pepeangan yang amat sngat menentukan hidupmatinya kaumku ataupun kaum merah, kami sudah mempersiapkan semua, kami punmeminta bantuan serangga lain untuk membantu penyerangan kami. Anak-anakkecilpun turut dalam penyerangan kami. Hal ini kami lakukan karena kaum kamisemakin sedikit dan banyak yang terbunuh. Semua kaum merah yang memulai.Termasuk kakak kandungku sendiri, putra raja yang dibunuh oleh kaum meraka,sehinggga memunculkan peperangan ini, ada juga kaumku yang dengan sengaja dicatmerah oleh roh nenek moyang meraka dan menjadi kaum merah, bukan menjadi, tapidijadikan oleh mereka kaum merah. Kaum kami kaum hitam tak pernah memaksakan sedikitpunjika ada kaum mereka yang berpindah ke kaum hitam. Mereka cukup mengucapbeberapa kalimat, tidak perlu dicat roh nenek moyang mereka yang ingin seketikamenjadi kaum hitam akan berubah sendiri menjadi hitam seleuruh tubuhnya.Sudahlah. Itu kebiadapan meerka.
Kamipunmenyerang dari depan, samping dan belakang, tak lupa bantuan kumbang tanah daribawah dan belalang dari atas, kami berhasil memasuki istana dan membunuh semuayang ada tanpa terkecuali. Tinggal satu yang tak sempat aku bunuh, dan diapun melarikandiri ke hutan. Dia adalah Aya, gadis tempo hari yang menyelamatkanku. Perangpun berakhir dengan kemenangan kami, kami menebas semua kepala mereka danmerayakan kemenangan. Atau jika mereka ada yang dengan sukarela mereka mengucapbeberapa kalimat kemudian berubahlah mereka menjadi hitam.
Akupundidaulat menjadi raja dari kaumku karena akulah yang berhasil membunuh rajamerah serta ratu merah dengan tombakku, tombak yang digunakan untuk membunuhbapakku. Kehidupanku menjadi sangat menyenangkan, akan tetapi aku masih punyaganjalan dihati, suatu saat aku bermaksud pergi kehutan lebat, disana aku takmeminta prajurit untuk mengawalku. Aku membawa sepucuk surat yang beberapatahun silam ditulis oleh gadis itu, berharap dia memaafkanku. Karena sakit ituaku yakin tak akan pernah hilang, kakinya terluka oleh prajuritku waktu perang,ayah ibunya aku bunuh dan dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Diamemandangku dengan penuh kebencian sembari menyelamatkan diri menuju hutan.
Akuberharap hari ini dia datang kehutan ini, karena ada yang mau ku ungkapkan.Bahwa aku sangat menyukainya. Aku ingin menjadikan dia ratuku setekah dia ikutdenganku dan mengucap beberapa kalimat sebagai pernyataan dan dia akan menjadihitam.
Wajahnyasangat kusam, saat ku temui dia sedang menangis, ternyata sekarang dia tinggaldihutan ini, aku menemuinya dalam keadaan hujan, karena hampir setiap harihujan selalu turun, inikah yang menyebabkan hujan selalu turun, tangisan gadisitu?
Akumenyapanya. “ hai? Apakabar? “
Diatak menengok sedikitpun kepadaku! Mungkin kemarahan itu masih ada dan aku jugarela jika hari ini aku mati dibunuh olehnya. “ bolehkah aku duduk disampingmu?”
Diapunmasih terdiam, aku langsung duduk disampingnya sembari mengusap air matanya,seketika hujan mulai reda, namun setelah itu aku tak sadarkan diri, yang kurasaada pukulan benda tumpul ke punggungku, ada seseorang yang memukulku daribelakang lalu gadis itu berkata “ jangan….!”
Ketikaaku terbangun ada dia yang sedang mengelus-elus rambutku dengan lembut danseorang nenek yang sudah sangat tua, dia kaum merah yang tersisa dalampeperangan. Sesegera dia menyingkirkan tanganya dari kepalaku dan dudukdisebelahku.
“maafkan nenekku yang telah memukulmu tuan raja!”
“kautak perlu…uhuk…uhuk..memanggilku raja…uhuk! Ma…uhuk..afkan aku Aya!”
“ohkau masih ingat namaku ternyata tuan raja!”
“dia yang telah membunuh semua rakyatmu dan orang tuamu, bunuh saja dia!”tiba-tiba nenek itu membawa parang dan menjuju kearahku.
“jangannek, jangan membalas pembunuhan dengan pembunuhan!”
Hatinyasugguh mulia, tapi akulah penyebab kesedihan yang dia alami. Aku merasa sangatbersalah, aku berniat tinggal beberapa hari disini, dengan menangglkan semuagelar yang kudapat jika dia sedih karenaku. Tapi aku juga sedih.
“peperangantak akan menunjukkan seberapa hebat seseorang, pembunuhan juga tidak akanmenunjukkan siap kuat seseorang, setiap masalah yang datang akan menimbulkanmasalah lain, begitulah yang aku rasakan tuan Putri. Bapakku mati terbunuh olehkaummu, saudara-saudaraku, kakakku, adikku, semua tak ada yang tersisa, merekatak berdosa, kenapa kaummu membunuhnya? Apakah kau marah jika aku membunuhorang tuamu? Orang yang bertanggung jawab atas itu.ha? jawab aku?”
“tidak, kamu tidak salah!” dia semakin terlihat bijaksana, namun aku harus tetapwaspada. Dia tak seceria yang dulu, tak banyak kata yang dia keluarkan. Kamihanya berdua, diam dan membisu. Sama seperti dulu, diapun memulai bicara sambiltersenyum,
“kau sudah laki-laki sekarang!”
“apa maksudmu? Bunuh saja aku jika kau …! Dia memotong pembicaraanku mengarahkanjarinya hingga membisukan bibirku sembari memelukku.
“akusuka padamu, aku sayang padamu, aku cinta padamu, sudah lama aku berusahamembencimu, tapi aku tak mampu, sejak pertemuan itu aku jatuh hati padamu,setiap hari aku datang kehutan itu menunggumu berharap kau datang, tapi kau takjuga datang-datang, hingga aku mendengar berita kematian bapakmu dariprajuritku, dia terbunuh oleh pamanku sendiri ketika bapakmu hendak pulang darikerja. Saat itu juga aku sudah mengikhlaskan semua dan memaafkan semuaperbuatanmu sebelum kau berbuat apa-apa. Karena aku tahu kau akan balas dendampada kami.”
“sekali lagi maafkan aku, tuan putri, kau kehilangan orang tuamu dan akupunsama!”
“Tidaktuan raja, semua berawal dariku, jika aku tidak membunuh kakakmu, maka kaumkita tak akan pernah perang hingga seperti ini, aku kalah karena aku yangbersalah.”
“maksudmu?”
“Ya,waktu kita berbicara panjang lebar dan terpotong hujan, sebenarnya aku inginmengaku bahwa sebelum kamu dekat denganmu aku adalah kekasih kakakmu, akumengajaknya kejuirang itu dan memintanya mengambilkan buah. Akupun memotongoembicaraanya.
“Ooo..jadi kamu!” diapun memelukku kembali.
“jadisemua berita bahwa kakakku mati terbunuh salah satu prajurit dari kaummu itusalah? Jadi kamu pelakunya? Jadi semua itu hanya salah paham? Nenek moyangbantulah kami….!”
Semuasudah terlambat, maafkanlah aku tuan raja, akulah penyebab kehancuran ini.Seharusnya akulah yang menanggung dosa itu, diapun meloncat dari tempat duduknyakejurang, namun dengan segera aku menariknya keluar dan menghempaskan diaketanah, aku terjatuh dan dia masih berlari menuju jurang untuk menceburkandiri, aku lempar saja kayu ke kakinya hingga luka bekas peperangan itu berdarahkembali, diapun tak bisa bergerak dan kesakitan. Segera kutolong, kupeluk dankudekap, ku hentikan perdarahan itu.
“kau pikir dengan bunuh diri kau akan bahagia? Sudahlah, aku juga suka kamu, akusayang kamu, aku cinta kamu, aku datang kemari bermaksud menikahimu, aku inginhidup bahagia denganmum jangan kau lakukan hal konyol sepertiku waktu dulu. Akujuga tahu prajuritmu yang telah membunuh kekasihku. Aku juga tahu semua.Prajuritmulah yang membunuh bapakku, orang yang sama, yang mengantarkankusampai ke tengah hutan itu. Aku tahu semuanya. Jangan kau bunuh diri, aku akansangat kehilanganmu.”
Diapuntak sadarkan diri dan segera kubopong kerumahnya. Berharap ada pertolongan darinenek itu, karena kelihatanya dia pandai meramu. Sembari aku terus berdoa.
“kauapakan dia? Nenek itu  geram dan berusahamembunuhku lagi.
“dia ingin bunuh diri! Bukan aku yang membunuhnya! Tolong nek segera sembuhkandia. Setelah dia sembuh aku akan menikahinya! Kita saling cinta! Kita sudahlama bertemu dan kenal. Sebelum peperangan itu, sebelum semua hancur!”
Nenekitupun segera menolong Aya, dengan ramuan ramuan yang sangat berbau, tapiseketika lukanya sembuh dan tak berbekas. Diapun tersadarkan diri. Dia kembaliturun dari tempat tidurnya dan memelukku.
“maafsemua karenaku!” dia kembali menangis, dan hujan kembali menguyur denganlebatnya.
“maukah kau menikah denganku?  Maukah kauikut denganku? Tolong, hiduplah denganku?” aku menawarkan semua itu padanya.Namun  dia tak segera menjawab.
“apakahkau tak menerimaku apa adanya seperti ini? Apakah kau takut? Kau akan dibunuhrakyatmu sendiri demi aku?”
“tidakbegitu, kita tak akan sah bila kau tak ikut denganku, aku mohon? Kau sukadenganku kan? Aku uga sangat menyukaimu, walau akulah pembunuh orang tuamu,ikutlah denganku menjadi hitam? Aku mohon!”
“maaftuan raja, aku memang mencintaimu, tapi tolong terima aku apa adanya, akuselamanya akan menjadi merah, tak akan aku berubah jadi hitam!”
“akumohon!” akupun berlutut didepannya sembari meneteskan air mata penuh harap.Tapi dia menggelengkan kepalanya berkali-kali. Semakin kubujuk dan rayu semakindia kuat pada pendirianya. Dia sudah sangat percaya dan yakin dengankeberadaanya sebagai merah. Dan dia ditakdirkan sebabagi merah.
Tapitiba-tiba nenek itu berkata. Sebenarnya dahulu kau adalah hitam sayang, Ayahdan ibu angkatmu yang dulu masih rakyat biasa membawamu dari kaum hitam dankaulah yang pertama dijadikan merah, aku yang menyaksikanya sendiri. Ikuti katahatimu sayang, aku sudah dewasa.
“maafmas nikahi aku dengan keadaanku yang seperti ini!”
“tapi semut merah tak akan pernah menikah dengan semut hitam Aya!”

Wedarijaksa,15 Juli 2013, 09.56 WIB
MangGugun

surat untuk Baginda

Begitu panjang kisah hidupku, walau aku baru berusia 19 tahun, baru sedikit yang aku tahu walau aku sering menyebut namamu, engkau manusia sama seperti aku punya darah punya daging punya tulang dan juga punya nafsu, namun engkau berbeda dengan perjuanganmu, sedikit yang ku tahu tentang perjuanganmu, mungkin hanya cerita cerita dari guruku saat aku duduk disekolah dasar, di sekolah menengah pertama juga disinggung tentangmu dan segala tentangmu dengan durasi waktu tak lebih dari satu setengah jam. Bagaimana aku harus meminta tolong padamu dari segala masalah yang aku hadapi saat ini, katanya itu orang mati itu Cuma mati raganya, tapi nyawanya masih hidup dan bisa melihat segala aktivitas didunia. Kalau begitu engkau bisa kan melihat aku diantara umat-umatmu yang lain?” bukan aku minta dispesialkan. Karena banyak sekali orang yang bersalawat dan mengirimkan doa padamu berharap engkau menyampaikan pesan keinginan pada sesuatu yang maha berhak disana, sungguh ini keinginanku yang sangat berputar-putar. Seperti hidupku. Yang sampai saat ini terus berputar-putar. Aku harus mencari oenggalan kata demi kata untuk melengkapi puzzle yang mereka buat, salah satu dari umatmu atau umat yang tak mau mengakui kehadiranmu sebaga yang terakhir. Aku juga tak tahu sejarahnya dan aku juga tak tahu betapa perjuanganmu dimasa dulu demi meluruskan sesuatu yang sudah sangat bengkok. Aku juga tak tahu apakah semua cerita itu kejadianya samapersisi seperti yang dituliskan atau bukan, tapi aku meyakininya. Bukan sebuah sastra yang sering kutulis dengan latar belakangku yang masih minim sekali pengetahuan ini. Aku juga yakin pasti yang maha berhak tau jika aku menulis surat ini padamu. Semoga dengan doaku, doa orang yang setiap detiknya tak lepas dari maksiat ini sampai padamu. Kesabaranmu mungkin sangat tinggi, tak seperti aku yangsaat ini sudah tak sabar melihat siapa yang benar dan siapa yang salah, aku hanya bisa menangis dan terus menangis memohon tiada henti, namun apakah yang aku lakukan ini diterima, ketika aku merasa dekat memang benar aku sangat nyamana dengan keadaanku, tetapi mereka juga sangat nyaman dengan kedekatan mereka, siapa yang benar dan siapa yang agaknya kurang lurus. Apakah benar pegangan mereka telah dibengkokkan ataukan salah? Itu semua memang sudah tertera dalam kitab yang diwahyukan padamu jika aku mau memperlaajarinya, dahulu aku hanya sampai sebentyar saja dalam mempelajarinya, beegitu banyak cobaan dan halangan yang membuatku mempelajarinya. Engkau pasti tahu apa yang aku arsakan dahulu. Ketika pulang dari belajar tubuhku penuh dengan ulat, atau bulu ulat, dan rasanya sangat gatal, mungkin hak itu dirasakan juga oleh pasanganku aat ini yang sudah berseberangan denganku. Engkau pasti juga sudah melihat betapa takutnya aku terhadap petir petir itu, namun aku tetap berangkat menggunakan sepeda kecilku dan kukayuh dengan penuh suka cita, tapi saat sampai disana aku dapat hasil kurang lancar. Aku terima awalnya akan tetapi lama-lama aku tak betah juga, madrasah diniahku tak ku selesaikan. Mengajiku juga tak ku selesaikan. Aku sangat menyesal bila ingat hal itu, karena di sekolah menengah oertama dan atas aku tak lagi punya kesempatan untuk belajar, bukan tak punya kesempatan, akan tetapi disibukkan dengana berbagai macam persoalan dunia.aku sangat sedih melihat keadaanku yang sekarang, engkau juga pasti tahu itu kan, betapa enaknya menjadi kekasih yang maha berhak, aku juga ingin, akan tetapi untuk menuju kesana apakah aku diberi kesempatan untuk melakukanya. Dua malaikat saja yang meragukan keberadaan kami ketika jadi seperti kami juga terjerumus ke neraka yang maha berhak, apalagi saya? Adakah solusi untuk menghadapi semua ini? Karena dunia begitu fana, atau saya yang terlalu buta dan menutup mata. Wahai nama yang sering ku sebut namun sekarang ini juga jarang kusebut, apakah engkau bisa membantuku? Mungkin tidak langsung kun fayakun, tapi bisa jadi bila usaha saya lebih keras dari pada sekarang, tapi ketika dia hanya berkabar ria denganku saja aku sudah sangat…ya tau lah…aku malu mengungkapkanya.maaf karena bahasaku terlalu kasar, aku banyak dididk dan diberi kemudahan, aku tahu aku sangat tak bersyukur bila diukur dengan apa yang telah diberikan kepadaku, ya aku sering menggunakan fasilitas yang dipinjamkan padaku untuk b erbuat dosa, tak seperti dirimu, yang sejak kecil sudah dilindungi dari dosa, itu saja kamu selalu memohon ampun lebih dari ribuan kali, padahal sudah dijamin bebas dosa, yang saya tahu seperti itu, lalu betapa sombongnya saya yang setiap detik bebuat dosa dan tak mau memohon ampun. Sungguh lebih hinalah saya daripada binatang ternak saya sendiri, saya juga bertwernak kambing, saya juga menjadi buruh ternak kambing, terkadang saya jika pulang saya gembalakan kambing-kambing milik orang lain supaya saya berharap perutnya kenyang dan  gemuk-gemuk, saya juga masih ingat waktu kecil; tentang kisahmu yang diikuti oleh awan ketika panas mendera, saya juga pernah diikuti, lalu perasaan saya menangis, saya merasa tak pantas diperlakukan seperti itu. Tapi saya juga membutuhkan rasa nyaman saat itu. Saya juga bilang subhanallah ,,,dan bersalawat padamu kalau seingat saya, saya pernah melakukan itu ketika awan-awan itu mengikuti saya yang sedang mengembala. Saya tak ingin berhenti sampai disini, karena saya yakin yangmaha berhak tau apa yang ada dipikiran saya saat ini, serba binggung dan serba bagaimana. Berdoa pada yang maha berhak saja saya masih belepotan. Sampai 19 tahun saya bernafas, belum yang dalam kandungan saya masih sangat hina….sangat hina, saya bisa bliang demikian karena saya itu belum bisa apa-apa, saya hanya selalu mengikuti imam saja. Lalu apakah doa-doa saya ada yang mendengarkan jika kata yang pernah saya dengar bahwa doa itu bisa tak sampai karena dosa-dosa yang dibuat oleh sang pembuat doa. Padahal saya sadar betul dan bukannya sok taghu, amat sangta banyaklah dosa saya, yang sudah saya buatm baik diwaktu dekat ini maupun dimasa lampau, saya sempat tak mengakui keberadaan yang maha berhak ketika asma saya membuat saya hampir mati tak bisa bernafas didalam kasur yang berselambu dirumah yang penuh dengan kayu-kayu. Saya sempat marah besar pada yag berhak, saya nanti juga akan membuktikan bahwa semua yang saya lakukan didunia ini akan ditampilkan dihadapan orang banyak, seperti disuna saja.ada kasus atau adegan yang namanya rekonstruksi, itu saja buatan manusia, apalagi buaytan yang maha membuat, betapa malunmya saya ketika perbuatan perbuatan itu ditontonkan ke khalayak oraang banyak, dan sayalah hakim daripada diri saya sendiri yang akan mengadili diri saya. Tangan saya akan bersaksi, kaki saya akan bersaksi semua akan bersaksi. Mulut saya akan diam, itulah yang saya tahu, betapa sangat menderitanya saya bila masa itu tiba, Karena sejauh ini maksiat terus saya lakukan. Apalagi saya snagat prihatin melihat generasi sekarang yang seperti itu. Demi nama yang selalu saya sebut, dan demi sesuatu yang maha berhak, tolonglah saya. Saya ini orangnya tidak sabaran dan segera ingin membuktikan, betapa saya sangat beruntung, betapa air mata ini mengalir dengan derasnya ketika saya berusaha dekat, namun sekarang sangat jauh saya rasa, betapa saya dulu berjanji jika saya rangking 1 saya akan solat 5 waktu, ketika itu saya masih duduk disekolah dasar, betapa banyak hutang saya pada yang maha berhak, namun saya terus diberi kemudahan hingga saya lupa,,saya sedang berhutang, saya sering sibuk dengan rutinitas dunia ini, saya sering tertidur ketika saya harus membayar hutang saya dan sekaligus memenuhi kewajiban saya, sayan sangat sedih bila merasakan semua ini, betapa panas siksa api neraka yang akan saya rasakan kelak, tapi bagaimana dengan dia? Bapakku kemarin bercerita bahwa paman mu yang sangat engkau cintai yang melindungimu ketika menyebarkan ajaran yang maha berhak saja tak bisa membujuk pamanmu untuk mengikutimu, bgaimana dengan aku? Apakah aku bisa membujuknya untuk ikut denganku, apakah dia akan diberi hidayah oleh yang maha member hidayah. Sungguh hatiku sagat cemas, banyak kisah nyata yang terjadi yang member hidayah memberikan hidayahnya dengan jalan cinta, pernikahan dan perkawinan, apakah aku juga akan seberuntung itu setelah maksiat yang selalu aku lakukan? Hati ini panas ketika menulis surat ini mungkin syetan terus berbisik untuk menyuruhku tidur, mungkin kepala ini dubuat pusing, mungkin dan segala kemungkinan nyamuk- nyamuk menggangguku dalam penulisan surat ini.aku mulai kedinginan dan aku mulai merasakan tubuhku sangat kecil. Aku tak tahu lagi harus meminta bantuan pada siapa. Aku gagal selama hidupku ini,,, pintu taubat apakah masih terbuka dan apakah aku juga masih …aku sulit sekarang. Dimana pemikliranku masih sangat cetek dan dangkal untuk memikirkan sesuatu yang tidak bisa aku piker, namun sudah ada angan-angan untuk kesana, ya angan-angan belaka yang akan menjadi angin angin yang akan berterbangan jadi anai-anai. Aku sangat ngantuk dan capek, demi nama yang ku sebut, engkau mencontohkan padaku untuk selalu tidur tak lebih daripada jam 9 malam, padahal engkau dahulu menghadapi masalah yang berjuta milyar kali lipat lebih pelik daripada masalahku saat ini, bagaimana caranya? Kepada siapa aku harus belajar? Tolong tuntunlah langkahku dijalan yang mana memberi jalan.  Aku sayang kedua orang tuaku, aku sayang adik-adikku, aku sayang seseorang yang saat ini belum sayang padamu dan pada yang maha memberi kasih sayang.tolonglah aku.


suci yang terhina

tak akan lama lagi, kita akan pergi dan hilang...bersama-sama
tak akan ada lagi rasa yang mengeliati tubuhmu
kau akan mati rasa
setelah kau merasakan mati
aku hanyalah siksa bagimu
aku pembawa neraka bagimu
maaf
aku telalu lemah
dan tak ikuti katamu
bisikanmu terlalu halus
sedangkan setan lama membentak-bentakku
kita akan pergi

kau kesana dan aku didalam tanah,
tempat kembali sementara waktu


mang gugun

hamba sahaya mencari cinta illahi

kalau tengah malam tiba
aku adalah raja
kalau tengah malam beradu
aku mencoba mengadu nasibku
kalau tengah malam larut
aku mencoba untuk tak takut
kalau tengah malam ini aku mati
aku akan pergi

nafas-nafas mulai merindukan kedamaian
nyawa nyawa sejenak tak bertempat semula
ada kalanya terisak rindu yang membara
berusaha menembus dzat yang tak terraba
ketika tangan tuhan mulai menyapa
hamba-hamba sahaya membasahi mukanya

kalau tengah malam pergi
aku tak tau akan bangun lagi
mungkin sebentar saja
menyekutukan mata dengan suara-suara yang serupa
memaksa tangan dan kaki bergerak
dengan ini aku nyata

mang gugun

manusia itu manusia

kau awalnya membaca
kemudian kau berkata 
kau padukan dengan otakmu
yang isinya seribu satu
kau keluarkan kata-katamu
dari seteguk air yang kau minta dari seorang pengemis

kau tak berhak mencabik kalimat suci
dengan apa yang kau rasakan itu

kau manusia
jangan bertopeng
karena masih ada yang harus kau topang

bukan berbuat untuk kini
tapi berbuatlah kini
kau akan mengerti

mang gugun

wahai neraka

sejenak kubuka mata ini
ketika kemarin aku menutup diri
namun hanya memar yang kuterima
memerahlah semua darah-darah
ketakutanku menjadi nyata

tidak ada orang baik bila tiada orang jahat
kemudian membanggakan diri
padahal ilmu yang dimiliki belum sampai hati
tidak ada orang benar bila tiada yang disalahkan
lalu mengapa terus mengumpat
padahal benar

dunia ini hanya penuh logika
bagian dari kemapanan dahaga
dunia ini hanya permainan
teruntuk sang tunas dalam batang-batang segala usia
dunia ini adalah petuah
sesampainya diujung pepatah

lalu kenapa banyak yang merasa benar?
ketika yang sedikit menundukkan kepala dan terus diam dalam doa

lalu kenapa banyak yang merasa besar?
padahal hanya fatamorgana
kamuflase mata
tiang pun tiada
atap pun berserakan entah kemana
pondasipun malu dalam timbunan tanah

apa yang bisa dibanggakan?
wahai neraka

mag gugun

hanya aku manusia

aku hanya manusia
tak banyak yang bisa kulakukan
karena aku bukan ahli
tak banyak yang bisa ku bicarakan
karena aku bukan ahli
tak banyak yang bisa ku ungkapkan
namun aku tidaklah gagap seperti anggapanmu

mang gugun

rona wajah gulita

ini bukan soal sandiwara tanpa panggung
ini juga bukan urusan dialog tanpa epilog
apalagi tiada prolog

bukan tak menghargai improfisasi
tapi pertimbangkan masalah toleransi
karena aku tidak hidupm sendiri

syair syair merdu menjadi syiar
namun hatimu belum juga mekar
mungkin masih banyak jangkar

ini belum akhir dari cerita
karena setelah sandiwara ada kehidupan nyata
dan bersiaplah kembali padaNYA.

mang gugun

Senin, 29 April 2013

LELAH


Ketika mata mulai terpejam
Mencoba merasakan nadi yang silih berganti datang dan pergi
Bersimpangan tanpa ada kemacetan dalam tubuh
Aku mulai bertanya tentang apa yang akan ku tanyakan
Betapa rindu ini mati karena hati yang masih ditutup tutupi

Dia lebih beriman daripadaku
Ketia diperintah meneteskan air dari atap bumi
Dia teteskan satu persatu tanpa berhenti sebelum diminta
Langit


Dia lebih taat daripadaku
Ketika dia harus melepas satu yang menjadi panutan panutan yang lain
Ketika tangis mulai membasahi tubuh yang pagi
Dia lepaskan hingga terhempas ke tanah
Tangis yang lain pun terpecah ranting mulai menguning batang berbalik kebelakang
Daun

Dia lebih bertakwa daripadaku
Ketika dia datang dialah yang mampu member kehidupanku
Memberi rasa dan warna, perintahnya dia harus datang dan pergi tepat waktu
Tak boleh telat datang atau terlalu cepat pergi
Dia sangat taat terhdap perintah
Sinar terus memancar
Matahari

Aku tak ubahnya lebih hina daripadanya
Aku tak jauh berbeda dengan angin, aku tak  jauh berbeda dengan suara sumbang
Datang dan cepat hilang
Aku adalah manusia ke masa
Aku lelah
Alur masih betah
Aku pilu
Tapi hati masih merangkul ilmu
Aku duduk
Walau  kadang tak tunduk
Aku  tersipu
Melihat mereka begitu mampu
Aku  lelah
Aku lelah
Aku lelah
  
semarang, 30 April 2013
Mang gugun

Sekar dan Seno


aku adalah sekar
Gadis muda berparas laras
Rindu akan masa dimana pejuang menjual darahnya
Aku tumbuh diantara pohon pohon yang sudah tertata
Tak seperti dahulu, ketika setiap nafas mereka rasakan adalah penderitaan
Aku adalah sekar
Serindu kartini itulah nama yang orang tuaku berikan
Aku juga rindu wanita wanita pejuang
Bukan hanya hidup megah diatas kepala raja raja
Bukan hanya dengan mudah memperlihatkan paha apalagi dada
Aku adalah rindu, serindu kartini
Yang tak dengan mudah menjual harga diri
Akan kutumpas semua penjajah
Akan ku rampas kembali seluruh tanah yang telah terlepas
Akan ku minta kembali wanita wanita pemberani maju demi hari
Rusak bukan karena mati
Aku tak mampu menahan rasa untuk menunjukkan apa yang ada dalam bahasa
Tapi rindu akan keduniawian
Aku akan membawa emas emas bekas itu kembali pulang
Ku elap dengan kain perlahan
Agar mereka menjadi karini, wanita pemberani masa kini

Aku adalah seno
Kujemput kau dengan mata mata nestapa
Bukan aku merendahkan kau
Tapi kau memang seperti anai anai
Berterbangan tanpa busana
Aku adalah parodi
Aku adalah Serindu kartono
Tak ada yang tau, siapa aku
Siapa daku yang selalu mencoba mengerogoti waktu
Mencari belahan dada dan rengangan paha
Bukan maksudku nafsu
Tapi wanita memang tak ada harta
Tak ada harga
Ketika wanita wanita itu bersenada sepekat berkata terpaksa
Aku adalah durjana
Ketika nafas mulai membekas seperti bongkahan asap kereta

Tak kan kau temukan lagi mereka
Ketika aku datang dengan segenap tahta
Karena sesungguhnya aku adalah mulia tanpa celaka

Mereka memang tiada lagi
Jika hati sudah tak terlapisi besi
Dan aku hanya tinggal gigit jari
Melihat engkau dan wanita Nampak indah layaknya bidadari


Tema puisi ini adalah seorang karini muda yang berjuang untuk membawa wanita wanita masa kini kembali ke titahnya, menjaga kesucianya dan menjaga hijab(auratnya) dimana seorang karini muda akan merubah semua wanita yang dia temuinya dengan jalan dakweah secara perlahan. Sekar berasal dari akronim “serindu kartini” sedangkan seno berasal dari akronim “serindu katono” yang merupakan tokoh pahlawan khayalan. Dalam konteks ini seno adalah seorang laki laki yang wajar, seperti laki laik pada umumnya. Walaupun dia beriman dan bertaqwa tetapi yang namanya nafsu pasti datang. Seno mencari wanita wanita yang dengan mudah menjatuhkan harga dirinya sendiri, akan tetapi dia akan sangat menghargai wanita yang menjaga hatinya lisanya dan menjaga tubuhnya dari keterbukaan atau mengumbar aurat. Itulah peran karini saat ini, bukan lagi menjadi pilar utama dari penyamaan derajat kaum wanita. Karena wanita sudah disamakan derajatnya melalui perjuangan ibu kita R.A kartini pada masa perjuangan.