Sebuah Novel singkat pertama karya Muharram Adruce Noor dengan nama pena Mang Gugun. Novel ini dipersembahkan untuk seluruh warga Indonesia pada umumnya dan pada seorang yang sepesial dihati yang sedang menantiku penuh cemas, serta keluarga yang ada disana bapak, Emak serta kedua adikku yang mulai tumbuh dewasa Yussa dan Nurul Aida. Tujuan utama pembuatan novel ini adalah dakwah melalui media sastra. Penulis menceritakan kisah-kisah perjuangan hidup dengan bahasa keseharian yang ringan. Terinspirasi pada kisah kisah yang pernah didengar dibaca dan dirasakan oleh penulis.
Terdiri dari 15 bagian dari sisi kehidupan mulai dari munculnya tokoh pertama seorang pria tampan yang bernama Andi lulusan sarjana muda di universitas ternama di Indonesia bidang arsitektur yang menikah dengan gadis cantik bernama Andriena peraih kejuaraan modeling tingkat nasiolan yang berakhir dengan pernikahan. Keduanya menikah dengan bahagia serta dikaruniai seorang anak putera bernama aren yang sangat lucu dan menggemaskan. Saat masa kehamilan sang isteri Andi selalu menyayangi lebih daripada sebelumnya. Setiap harinya sepulang kerja pryoek Andi selalu menyempatkan waktu pulang. Walaupun jarak Jakarta Semarang harus ditempuh Andi setiap harinya dengan Mobil Picanto merah kesukaan Andi.
Saat usia kehamilan tua Andi memutuskan untuk mengajak isterinya ke kampung halamanya Karena takut tak ada yang mengurusi. Dirumah asalnya semarang dia masih punya orang tua yang lengkap. Mungkin ayah bunda Andi bisa membantu memberikan pengarahan pada isterinya.
Saat kelahiran Andi sangat cemas dan panik, karena sudah dua hari sang jabang bayi tak mau keluar dari rahim isterinya. Akihirnya pilihan terahir operasi sesar pun dijalani dengan penuh pengambilan risiko yang tinggi, Andi takut jika terjadi apa apa dengan sang isteri dan anaknya. Hingga kelap kelip lampu merah di UGD pun berhenti. Tim dokter bersalin dan pembantu dokter membawa angin duka dengan raut wajah penuh tangis. “ mohon maaf pak, kami hanya berhasil menyelamatkan bayi bapak!” seraya ibu dari Andriena pun pingsan melihat anaknya meninggal dalam proses persalinan yang pertama. Andi tak bisa berbuat apa-apa kecuali menggengam erat selonjor besi penyangga tempat duduk dengan erat dan mata yang lama tertutup. Tak berpikir panjang seluruh keluargapun masuk ruangan kecuali Andi yang masih Hilang akal sehatnya.
Ketika semua masih dalam keadaan berduka Andi mau tak mau harus membesarkan Aren sendirian dengan segala kesibukannya. Tak terpikir olehnya saat itu mencari isteri lagi. Karena sungguh cinta Andi terhadap almarhum isterinya sangat dalam. Jika ia mau kenapa tidak, is masih muda. Rumah hampri disetiap kota besar di jawa ada semua. Proyek dan tendernya berhasil dimana mana. Akan tetapi tak ada niatan mencari isteri lagi. Mumpung Aren masih kecil.
Dengan diberi air susu botolan Aren balita tak mau meminumnya hingga akhirnya dia kurus. Bobot kelahiranya yang mencapai 4,3 kg kini semakin susut jika dibandingkan dengan tambahnya usia. Ada seorang tetangga rumah orang tua Andi yang juga sedang melahirkan seorang bayi. Akhirnya dengan dibantu dalam urusan keunagan. Keluarga itu mau menyusuhi Aren kecil.
Dalam kehidupan Aren ia tak pernah menemukan kasih sayang seorang ibu, hingga timbul desakan oleh orang tua almarhum mantan isterinya untuk menikahi adik dari almarhum isterinya yaitu indri yang wajahnya hampir mirip dengan almarhum isterinya. Ketika Aren berusia empat tahun Indri baru saja menyelesaikan studinay dibidang Riset dan Pangan di Den Haag Belanda, sebulan di Indonesia Indri kemudian menikah dengan Andi atas persetujuan kedua orang tua. Akhirnya sekarang Aren pun mempunyai seorang ibu, yang menyayangi Aren walau bukan ibunya sendiri.
Kehidupan rumah tangga Andi dan Indri adik dari almarhum isterinya sangat bahagia, dua tahun menikah Aren memiliki adik yang bernama Cindi, ketika itu Aren berusia enam tahun. Aren sangat menyayangi Cindi walau dia tak tahu bahwa itu bukan adik kandungnya. Setiap hari bersama Indri Cindi dan Aren kini jalan jalan di sebuah taman di “ kota delta mas” Bekasi. Kini mereka dari semarang pindah ke Bekasi karena Mengikuti proyek yang sedang dijalankan oleh ayah dari Aren dan cindi.
Sampai diusia dewasa mereka berdua adalah kakak adik yang sangat tidak akur, setiap hari selalu bertengkar gara gara masalah sepele seperti rebutan Chanel televise, rebutan kamar mandi, padahal dalam rumah ada enam kamar mandi sampai rebutan motor untuk berangkat sekolah atau kuliahnya Aren, padahal ada mobil dan beberapa motor matik di garasi. Hingga akirnya Andi memindahkan kembali Aren ke semarang karena mereka berdua tidak pernah akur.
Dalam sebuah cengkrama malam Andi bersama indri sebelum tidur seperti biasa menikmati secangkir teh hijau hangat. Indri memulai perbincangan malam itu. Indri mengatakan bahwa dia dan Alm. Andriena (isteri pertama Andi) memang sedari dulu juga tak pernah akur, makanya dia disekolahkan Alm. Ayahnya ke belanda sedangkan kakaknya menjadi model. Setiap apa-apa pasti selalu rebutan. Akan tetapi saat mereka jauh beberapa hari sempat saling kangen dan menangis menggunakan kecanggihan teknologi hinga bisa berkomunikasi langsung dua arah melalui vidieo. Hingga beberapa bulan kemudian ia di kabari bahwa ia akan menikah dengan Andi, seorang pemuda lulusan Arsitekutr. Yang sekarang juga menjadi isteri Indri. Akhirnya mereka bernostagia sambil memadu kasih, tangispun terpecah di masing masihg dua orang yang saling berusaha menemukan cinta ini. Karena saat malam itu juga mereka jujur rumah tangga yang sudah dibangun selama 15 tahun ini belum ada cinta sepenuhnya . Andi masih sangat mencintai Alm.Isterinya. Indri juga demikian harus terpisah dengan warga keturunan Indonesia yang tinggal dan menetap di Belanda. Esok paginya mereka pergi ke makam Alm. Andriena ibu dari Aren. Aren selama ini tak tahu bahwa ibu kandungnya sudah tidak ada. Andi dan Indri pun mengajak cindi. Cindi merasa kebingungan karena sebelumnya belum pernah menengok makam ini, walau makam ini berada disebelah makam kakeknya. “almarhum Andriena siapa mah?” Cindi merasa aneh dan bertanya-tanya akan tetapi orang tuanya hanya berlalu sembari meneteskan air mata.
Setelah cindi Lulus kuliah akhirnya Aren menikah dengan gadis semarang, yang menjadi seorang direktur di salah satu bank muamalah di Semarang. Pernikahan mereka Berlangsung tanpa sepengetahuan kedua belah pihak orang tua, karena orang tua dari gadis yang bernama Hasari telah tiada, sedangkan Andi dan Indri sedang kebelanda untuk urusan Pekerjaan. Mereka pun menikah dengan di saksikan oleh wali dari kedua belah pihak, dengan mengabari Ayah dan ibunya yang ada di belanda melalui telekonfren, pernikahan mereka bisa disaksikan oleh Cindi Andi dan Inri dari belanda.
Tak disadari waktu cepat berlalu, pernikahan mereka hampir memasuki usia setahun setengah, Hasari kini mengandung anak dari buah cintanya dengan Aren. Akan tetapi beberapa kali mengalami sebuah keanehan terhadap kandunganya. Berbagai alternative dn pengobatan medis pun telah dilakukan untuk mengetahui apa keanehan yang tejadi pada calon cucu dari Andi dan indri, akan tetapi tidak ada jawaban. Hingga prosesi kelahiran pun terjadi, Andi bersama Aren saling memelukkan tubuhnya ketiang sangga ruang depan UGD mereka melakukan hal yang sama, hal itu membuat Indri dan cindi heran, mereka melakukan hal yang sama disaat saat yang genting, Andi teringa duapuluh delapan tahun yang lalu dia berada diruang yang sama dengan perasaan yang sama menantikan kelahiran seorang anak pertama. Kini anaknya Aren juga harus merasakan hal yang sama. Doa doa terus mereka panjatkan. “ ya allah, kau boleh mengambil isteriku duapuluh delapan tahun lalu, tapi jangan pada cucuku atau menantuku” itulah yang terus dibatin oleh Andi, yang kini rambutnya memutih namun ketampanannya masih tetap terpancar.
Disaat bel ruang UGD berbunyi tanda selesai operasi, dua lelaki anak bapak itu langsung lari kearah pintu dan Andi melihat ekspresi yang sama dengan dokter yang sama seperti duapuluh delapan tahun silam, Andi sudah berkecil hati. “ selamat pak, kami berhasil menyelamatkan anak dan isteri bapak!” Aren langsung menuju ke tempat isterinya dan Andi menegadahkan tanganya tepat didada dan menasuh dimuka sembari berkata “ terimakasih ya allah!”
Namun Hasari masih menangis sedari tadi, karena anaknya tak mau membuka mata dan menanggis. Hasari takut jika anaknya cacat. Kemudia seorang wanita paruh baya datang menjenguk Hasari dan terkejut melihat yang ada disini seperti perkumpulan orang yang sedang memainkan drama.
Ibu Ipah namanya, beliau bertanya kepada Andi siapa ayah dari anak yang dibopong Hasari. Dijawablah dengan penuh kesedihan Aren. Lalu beliau mengucap dengan lantang, terkutuklh kalian berdua. Sesungguhnya kalian ini adalah sedarah. Almarhum ibumu Ren, dia telah tiada semenjak kamu lahir disni, duapuluh delapan tahun silam, dan kamu sedari usia dua minggu sampai usia empat tahun disusui oleh ibunya Hasari, kalian seharusnya tak boleh menikah, atau akan terjadi malapetaka yang akan datang. Serentak keadaan didalam ruangan itupun menjadi panas dan tak karuan. Andi merasakan pemnyesalan yang begitu dalam bersama istrinya dan Cindi, Karena tak hadir langsung di pernikahan yang sacral itu. Nasi sudah menjadi bubur, beliau berpesan setelah ini beliau harap Aren dan Hasari segera bercerai. Akan tetapi mereka sudah saling cinta.
Semarang, 1 juni 2013
Saat usia kehamilan tua Andi memutuskan untuk mengajak isterinya ke kampung halamanya Karena takut tak ada yang mengurusi. Dirumah asalnya semarang dia masih punya orang tua yang lengkap. Mungkin ayah bunda Andi bisa membantu memberikan pengarahan pada isterinya.
Saat kelahiran Andi sangat cemas dan panik, karena sudah dua hari sang jabang bayi tak mau keluar dari rahim isterinya. Akihirnya pilihan terahir operasi sesar pun dijalani dengan penuh pengambilan risiko yang tinggi, Andi takut jika terjadi apa apa dengan sang isteri dan anaknya. Hingga kelap kelip lampu merah di UGD pun berhenti. Tim dokter bersalin dan pembantu dokter membawa angin duka dengan raut wajah penuh tangis. “ mohon maaf pak, kami hanya berhasil menyelamatkan bayi bapak!” seraya ibu dari Andriena pun pingsan melihat anaknya meninggal dalam proses persalinan yang pertama. Andi tak bisa berbuat apa-apa kecuali menggengam erat selonjor besi penyangga tempat duduk dengan erat dan mata yang lama tertutup. Tak berpikir panjang seluruh keluargapun masuk ruangan kecuali Andi yang masih Hilang akal sehatnya.
Ketika semua masih dalam keadaan berduka Andi mau tak mau harus membesarkan Aren sendirian dengan segala kesibukannya. Tak terpikir olehnya saat itu mencari isteri lagi. Karena sungguh cinta Andi terhadap almarhum isterinya sangat dalam. Jika ia mau kenapa tidak, is masih muda. Rumah hampri disetiap kota besar di jawa ada semua. Proyek dan tendernya berhasil dimana mana. Akan tetapi tak ada niatan mencari isteri lagi. Mumpung Aren masih kecil.
Dengan diberi air susu botolan Aren balita tak mau meminumnya hingga akhirnya dia kurus. Bobot kelahiranya yang mencapai 4,3 kg kini semakin susut jika dibandingkan dengan tambahnya usia. Ada seorang tetangga rumah orang tua Andi yang juga sedang melahirkan seorang bayi. Akhirnya dengan dibantu dalam urusan keunagan. Keluarga itu mau menyusuhi Aren kecil.
Dalam kehidupan Aren ia tak pernah menemukan kasih sayang seorang ibu, hingga timbul desakan oleh orang tua almarhum mantan isterinya untuk menikahi adik dari almarhum isterinya yaitu indri yang wajahnya hampir mirip dengan almarhum isterinya. Ketika Aren berusia empat tahun Indri baru saja menyelesaikan studinay dibidang Riset dan Pangan di Den Haag Belanda, sebulan di Indonesia Indri kemudian menikah dengan Andi atas persetujuan kedua orang tua. Akhirnya sekarang Aren pun mempunyai seorang ibu, yang menyayangi Aren walau bukan ibunya sendiri.
Kehidupan rumah tangga Andi dan Indri adik dari almarhum isterinya sangat bahagia, dua tahun menikah Aren memiliki adik yang bernama Cindi, ketika itu Aren berusia enam tahun. Aren sangat menyayangi Cindi walau dia tak tahu bahwa itu bukan adik kandungnya. Setiap hari bersama Indri Cindi dan Aren kini jalan jalan di sebuah taman di “ kota delta mas” Bekasi. Kini mereka dari semarang pindah ke Bekasi karena Mengikuti proyek yang sedang dijalankan oleh ayah dari Aren dan cindi.
Sampai diusia dewasa mereka berdua adalah kakak adik yang sangat tidak akur, setiap hari selalu bertengkar gara gara masalah sepele seperti rebutan Chanel televise, rebutan kamar mandi, padahal dalam rumah ada enam kamar mandi sampai rebutan motor untuk berangkat sekolah atau kuliahnya Aren, padahal ada mobil dan beberapa motor matik di garasi. Hingga akirnya Andi memindahkan kembali Aren ke semarang karena mereka berdua tidak pernah akur.
Dalam sebuah cengkrama malam Andi bersama indri sebelum tidur seperti biasa menikmati secangkir teh hijau hangat. Indri memulai perbincangan malam itu. Indri mengatakan bahwa dia dan Alm. Andriena (isteri pertama Andi) memang sedari dulu juga tak pernah akur, makanya dia disekolahkan Alm. Ayahnya ke belanda sedangkan kakaknya menjadi model. Setiap apa-apa pasti selalu rebutan. Akan tetapi saat mereka jauh beberapa hari sempat saling kangen dan menangis menggunakan kecanggihan teknologi hinga bisa berkomunikasi langsung dua arah melalui vidieo. Hingga beberapa bulan kemudian ia di kabari bahwa ia akan menikah dengan Andi, seorang pemuda lulusan Arsitekutr. Yang sekarang juga menjadi isteri Indri. Akhirnya mereka bernostagia sambil memadu kasih, tangispun terpecah di masing masihg dua orang yang saling berusaha menemukan cinta ini. Karena saat malam itu juga mereka jujur rumah tangga yang sudah dibangun selama 15 tahun ini belum ada cinta sepenuhnya . Andi masih sangat mencintai Alm.Isterinya. Indri juga demikian harus terpisah dengan warga keturunan Indonesia yang tinggal dan menetap di Belanda. Esok paginya mereka pergi ke makam Alm. Andriena ibu dari Aren. Aren selama ini tak tahu bahwa ibu kandungnya sudah tidak ada. Andi dan Indri pun mengajak cindi. Cindi merasa kebingungan karena sebelumnya belum pernah menengok makam ini, walau makam ini berada disebelah makam kakeknya. “almarhum Andriena siapa mah?” Cindi merasa aneh dan bertanya-tanya akan tetapi orang tuanya hanya berlalu sembari meneteskan air mata.
Setelah cindi Lulus kuliah akhirnya Aren menikah dengan gadis semarang, yang menjadi seorang direktur di salah satu bank muamalah di Semarang. Pernikahan mereka Berlangsung tanpa sepengetahuan kedua belah pihak orang tua, karena orang tua dari gadis yang bernama Hasari telah tiada, sedangkan Andi dan Indri sedang kebelanda untuk urusan Pekerjaan. Mereka pun menikah dengan di saksikan oleh wali dari kedua belah pihak, dengan mengabari Ayah dan ibunya yang ada di belanda melalui telekonfren, pernikahan mereka bisa disaksikan oleh Cindi Andi dan Inri dari belanda.
Tak disadari waktu cepat berlalu, pernikahan mereka hampir memasuki usia setahun setengah, Hasari kini mengandung anak dari buah cintanya dengan Aren. Akan tetapi beberapa kali mengalami sebuah keanehan terhadap kandunganya. Berbagai alternative dn pengobatan medis pun telah dilakukan untuk mengetahui apa keanehan yang tejadi pada calon cucu dari Andi dan indri, akan tetapi tidak ada jawaban. Hingga prosesi kelahiran pun terjadi, Andi bersama Aren saling memelukkan tubuhnya ketiang sangga ruang depan UGD mereka melakukan hal yang sama, hal itu membuat Indri dan cindi heran, mereka melakukan hal yang sama disaat saat yang genting, Andi teringa duapuluh delapan tahun yang lalu dia berada diruang yang sama dengan perasaan yang sama menantikan kelahiran seorang anak pertama. Kini anaknya Aren juga harus merasakan hal yang sama. Doa doa terus mereka panjatkan. “ ya allah, kau boleh mengambil isteriku duapuluh delapan tahun lalu, tapi jangan pada cucuku atau menantuku” itulah yang terus dibatin oleh Andi, yang kini rambutnya memutih namun ketampanannya masih tetap terpancar.
Disaat bel ruang UGD berbunyi tanda selesai operasi, dua lelaki anak bapak itu langsung lari kearah pintu dan Andi melihat ekspresi yang sama dengan dokter yang sama seperti duapuluh delapan tahun silam, Andi sudah berkecil hati. “ selamat pak, kami berhasil menyelamatkan anak dan isteri bapak!” Aren langsung menuju ke tempat isterinya dan Andi menegadahkan tanganya tepat didada dan menasuh dimuka sembari berkata “ terimakasih ya allah!”
Namun Hasari masih menangis sedari tadi, karena anaknya tak mau membuka mata dan menanggis. Hasari takut jika anaknya cacat. Kemudia seorang wanita paruh baya datang menjenguk Hasari dan terkejut melihat yang ada disini seperti perkumpulan orang yang sedang memainkan drama.
Ibu Ipah namanya, beliau bertanya kepada Andi siapa ayah dari anak yang dibopong Hasari. Dijawablah dengan penuh kesedihan Aren. Lalu beliau mengucap dengan lantang, terkutuklh kalian berdua. Sesungguhnya kalian ini adalah sedarah. Almarhum ibumu Ren, dia telah tiada semenjak kamu lahir disni, duapuluh delapan tahun silam, dan kamu sedari usia dua minggu sampai usia empat tahun disusui oleh ibunya Hasari, kalian seharusnya tak boleh menikah, atau akan terjadi malapetaka yang akan datang. Serentak keadaan didalam ruangan itupun menjadi panas dan tak karuan. Andi merasakan pemnyesalan yang begitu dalam bersama istrinya dan Cindi, Karena tak hadir langsung di pernikahan yang sacral itu. Nasi sudah menjadi bubur, beliau berpesan setelah ini beliau harap Aren dan Hasari segera bercerai. Akan tetapi mereka sudah saling cinta.
Semarang, 1 juni 2013

