Rabu, 04 Desember 2013

Hitam Merah (Kisah cinta penuh perbedaan)

“Hai, kau sedangapa disana?  Jangan nekat kau, hai dengaraku, kau tak boleh mengakhiri hidupmu? Hai, ja ja jangan…..!”

“ apa kau gila?Kenapa kamu berniat bunuh diri? Hidupmu masih panjang, apa yang kau lakukan itudosa besar. Kau itu sudah besar, kenapa kau tak bisa perpikir jernih? “
“ kenapa kauseperti itu? Jawab aku!” wanita itupun menangis didepanku yang sedang tertunduklesu, andai tidak ada wanita itu mungkin seluruh orang yang sayang padaku akankehilanganku.
“namaku Aya,maaf tadi aku memarahimu, kamu nggak boleh mengakhiri hidupmu ndengan mudahnya.siapa namamu?” akupun hanya diam membisu. Kemudian berlari meninggalkanya.
“ hai janganlari kau, jangan coba-coba bunuh diri lagi. Hai tunggu aku, aku wanita, kaulaki-laki seharusnya kau bertanggung jawab kepada ku kelak, bukan lari darimasalah. Berhenti kau?”
Dia pun terusmengejarku hingga aku sampai pada jurang yang terdalam didaerahku, dimanadibawah sana dunia kegelapan yang sangat mencekam, disanalah tempat yang seringmenjadi faforit orang-orang untuk mengakiri hidupnya.
“jangan nekatkau. Hei hei, didalam sana berbahaya, kau tak akan menemukan keluargamu lagi,kau tak akan bermain dengan teman kecilmu lagi, kau tak akan …..hei…kau banci…berhenti. Jika kau ingin mati akan kulempar kayu ini agar kau terjungkal daritempatmu berpijak!”
“Diam kau!”
“Ooo… ternyatakau laki-laki, berarti kau laki-laki pengecut, nekat mengakhiri hidupmu hanyakarena sebuah masalah. Bukankah nenek moyangmu melarangmu untuk berbuat jahatpada orang lain dan diri sendiri.”
“siapa kau? Apaurusanmu?”
“ aku adalahmalaikat mautmu yang sebentar lagi akan mengakhiri hidupmu! terima ini!”
Diapunmelempariku dengan sebuah kayu besar yang membuatku terjungkal hingga beradadibibir jurang, seperti kematian akan dekat dihadapanku.
“ kenapa kaumasih pegangan akar itu? Lepaskan, pengecut, katanya mau mati? Masih takut? Ayolepaskan! Dia berteriak tepat didepan mukaku yang membiru. “ atau aku yang akanmelepaskan akar itu dari genggamanmu? Bicaralah kau pengecut!”
“Jangan-jangan,tolong aku, bantu aku naik dari sini, aku tak mau mati!”
Diapunmembatuku naik keatas dan menamparku beberapa kali, “kau laki-laki?” itu yangselalu diucapnya ketika memandang wajahku.  Saat itu aku tahu bahwa dia inginmenyelamatkanku dengan caranya.walau aku sudah sperempat nyawa menghilang.Saking takutnya, apabila aku terjatuh kebawah sana, betapa malunya keluargaku,saudar-saudaraku, mungkin aku tak ikut merasakan, tapi mereka akan dianggap gagalmendidikku oleh sekitarku. Remaja seusiaku juga suda banyak yang melakukanperbuatan serupa ditempat ini juga. Alasanya banyak sekali, ada yang depresikarena kelaparan yang berkepanjangan, karena bapaknya mati dalam peperangan,atau hanya masalah sepele yang tak bisa diselesaikan sendiri.
Beberapasaat setelah kejadian itu aku hanya terdiam, dia terus menagataiku danmenasehatiku seperti ibuku, dia terus melotot ke arahku sembari aku dimintauntuk memandang matanya. Namun aku hanya tertunduk, aku sangat malu. Diabeberapa kali memukul-pukul pundakku sembari terus mengataiku. Aku membentaknyadengan kata “Diam!” dia pun terdiam dan duduk disampingku, sebelumnya diapunizin denganku, menanyakan apakah dia boleh duduk disampingku, sepertinya diagadis yang baik, gadis yang terbuka, ramah dan perhatian, namun sangat cerewet.Aku tetap saja diam tiba tiba dia mengeluarkan air mata yang membuatku sedikitbertanya-tanya.
Kuusap air mata itu dari pipinya, aku sedikit perhatian dengan gadis yang tak kukenal sama sekali itu. Kutanyakan kenapa kamu menangis, dia hanya terdiam, kinikita sama-sama membisu dalam heningnya suasana pagi. Burung-burung enganmenyuarakan rahasianya ketika gadis itu menangis, mungkinkah karena aku?Seketika seolah hutan yang hijau terasa sangat mencekam, mendung menyelimuti,aku menjadi takut apakah dia itu gadis sungguhan atau jadi-jadian, tiada sinarlagi yang mampu menembus lebatnya dedaunan dan semak, “ maafkan aku!”
“tiga tahun yang lalu, aku kehilangan orang yang sangat aku sayangi disini, akutak sempat menolongnya, dia tak berniat bubuh diri, dia terperosok danterjungkal dari tempat kita duduk, sebaiknya kita agak menjauh dari sini, sejakitulah aku sangat sedih, menjadi pemurung, sangat pemarah dan tak pernahtersenyum, bahkan hari ini ayahku mengadakan sayembara untuk membuatkutersenyum, tapi aku pergi meningglkan rumah, meningglkan desa sampai ke sini. Akuakan menangis setelah aku marah. Aku akan menyesal setelah aku marah.”
Akuhanya terdiam, dia gadis yang aneh, tak ku minta dia bercerita tapi diabercerita sendiri, aku sedikit simpati padanya, tapi hanya sedikit. Aku inginberkenalan denganya, tapi aku tak mau melakukan itu. Lagipula dia berkulitmerah.
“namaku Aya, siapa namamu?”
Akupunsemakin bertanya-tanya, apakah dia mampu membaca pikiran orang, sehingga diadengan cepat mengajakku berkenalan, aku berusaha tak menjawab, akan tetapi hatiini terasa tak tega. “ namaku Adri!”
“Maukahkau berteman dengankua Adri?”
Diapunmengajakku berteman, sungguh aku seperti tesihir, aku tak pernah punya temanwanita. Apalagi setelah ditinggal oleh seseorang yang sangat aku sayang. Akumenjadi semakin terdiam seribu bahasa. Dia memang lumayan cantik, sepertinyadia juga bukan dari rakyat biasa. Aku masih terdiam.
“kenapa kamu hanya terdiam pemuda? Ada yang salah dengan permintaanku? Kau sudahberhutang nyawa denganku!”
Akupunmasih terdiam, kita masih membisu, dia menangis lagi, aku semakin tak tega,karena tiap kali dia menangis, pohon, daun ranting bahkan lagit memberikansuasana yang berbeda.
“sudahlah,tak usah menangis, sebenarnya kenapa kamu disini?”
Segeradia menjawab dengan panjang lebar. “ aku disini bermaksud melarikan diri, akupernah punya teman yang sangat dekat hampir mirip sepertimu, aku mengajaknyaberjalan-jalan disini lalu aku memintanya untuk memetik buah yang ada diataskita, aku tahu pohon ini tak akan berbuah lagi, tapi ketika aku disini pohonini berbuah sangat manis. Dia mengambilkanya untukku, namun ketika dia hendakturun, dia terpelest dan masuk ke jurang ini. Hari ini tepat tiga tahunkejadian itu bermula. Aku bermaksud mengenangnya disini, tiba-tiba ada kamuyang hendak bunuh diri diseberang sana, aku langsung mengantarkanmu kemari daningin mencarikanmu tempat bunuh diri yang lebih langsung mematikan.”
Sungguhdia itu wanita yang sangat aneh, tiada angin tiada hujan ceritanya melanturkesana-kemari. Diapun terus melanjutkan ceritanya.
“kaumkumemang sudah sejak dulu membenci kaum hitam, kita saling bersaing dalam halmakanan, apalagi kepercayaan kita juga sangat berbeda, namun tak ada peperangansebelumnya, semua hanya membenci dalam batin, jika ada konflik hanya diselesaikanmelalui pengadilan. Tak ada kekerasan daon korban seperti ini, jika….”
Tiba-tibahujan turun sangat lebat, aku segera mengandengnya keluar dari jurang itumenuju tempat yang aman, takut jika terjadi longsor atau hal yang takdiinginkan, sepertinya dia sangat bersedih. Aku mengajaknya berlindung dibawahpohon talas yang masih kecil. Disana kita aman, walau tanah sudah basah,sepertinya hutan ini akan tergenang air, aku segera mengajaknya keatas pohonsebelum dia terseret menuju muara yaitu jurang.
DiaNampak kedinginan. Ku kalungkan syalku kelehernya, sedikit perhatian saja,karena kasihan, dia seorang wanita yang sedang disampingku. Berdua dengankuditengah hutan yang lebat, jauh dari rumah. Aku seharusnya membencinya. Banyakalasan aku harus membencinya dan menolak pertemanan itu. Pertama dia adalah kaumerah, kedua dia berusaha membunuhku dan menyelamatkanku, ketiga dia sangatcantik setelah agak lama aku berdua denganya. Aku takut jatuh hati padanya. Akusangat takut bila hal itu terjadi, ditengah lamunanku dia mengajukan pertanyaanyang sangat berat untuk ku jawab. “ bolehkah aku mendekat kamu? Aku sangatkedinginan. Tolong!”
Dengansangat terpaksa diapun ku izinkan untuk mendekat ke tubuhku, kepalanyabersandar ke pundakku, aku terbayang seseorang yang amat santa aku cintai,sebelum kejadian itu dia sering bersandar ke pundakku sembari melihat bintangbintang nan jauh disana, dan berkata “ kita memang kecil, tapi kita akanmerubah dunia, benar kan Dri?” Langsung saja kujawab “ kau tak lagi kecil bilaada aku yang menemaniku, tetaplah disampingku, lalu kita memanjatkan doa-doapada nenek moyang untuk mempersatukan kami.
Akuterjaga ketika dia hampir terjatuh dan dia tak sadarkan diri, ternyata diahipotermia, segeraa dengan segala upaya aku tolong dia, sesekali kupandang lagiwajahnya sangat cantik dan memikat hati, hingga hujan reda dia tak jugasadarkan diri, dengan sangat terpaksa aku memeluknya erat-erat. Belum pernahaku lakukan sama sekali pada siapapun hal ini, diapun tersadar perlahan setelahlama kupeluk, segera kulepaskan pelukan itu, dia masih lemah, “ antarkan akupulang!” aku tak mungkin mengantarkannya pulang, hal itu sama saja dengan akumembunuh diriku sendiri tanpa bunuh diri.
“kamu pulang sendiri ya?”
“aku tak kuat! Tolong aku!”
“ya… ya tapi aku akan mati disana!”
“kau berhutang nyawa padaku!”
“kau juga berhutang nyawa, jika kau tak ku selamatkan kau sudah terjatuh,terseret air dan masuk jurang!”
“kau laki-laki?”
Akupunterdiam, dan dengan sangat terpaksa mengantarkanya pulang dengan perasaan akuakan mati setelah ini, sudahlah, aku juga berniat mati, mungkin matiku akanlebih etis jika aku terbunuh oleh orang-orang merah daripada matiku masukjurang, aku melewati jurang itu dari pinggir, dengan tanah yang sesekalilongsor dan amat sangat licin, melewati hutan hingga sampai gerbang besar,sepertinay dia bukan anak rakyat biasa dan itu benar. Aku sampai digerbang yangsangat megah dan besar, ternyata dia anak seorang putri salah satu raja dikerajaan merah, aku hampir dibunuh oleh prajurit-prajuritnya hingga aku takpercaya dia bisa marah besar. “ antarkan pemuda ini sampai tengah hutan, jangansampai kamu membunuhnya, kalau tidak aku akan membunuh anak dan isterimu, prajurititupun hanya tertunduk sambil membawaku masuk hutan.
Perasaankusangat tidak enak, tapi aku tetap pada tekatku, aku akan lebh terhormat jikaaku dibunuh, tidak bunuh diri. Sesampainya didekat jurang dua pengawal itupunpergi meninggalkanku. Ternyata aku selamat. Sebelum mereka pergi akumendapatkan sepucuk surat yang ditulis langsung oleh purti itu.  “ ku harap kau bertemu lagi denganku besok ditempat yang sama, apa kau laki-laki?”
Akupunsegera bergegas pulang sebelum petang semakin pekat, mungkin keluargaku sudahmencariku kesana kemari. Hingga sesampainya dirumah berita kematian itu tiba,bukan aku yang mati, tapi bapakku dalam peperangan melawan kaum merah, akuberteriak marah besar. Sungguh biadap meraka yang membunuh bapakku. Tak akanpernah aku maafkan mereka. Semua harus berhenti sampai disini atau aku harusmembunuh mereka semua. Aku terus menempa diri siang malam, ibuku terusmencemaskan keadaanku yang semakin tak terurus. Gadis itu juga mungkin sudahsangat lama menungguku disana, tapi maaf aku tak bisa menemuinya lagi, itu samasaja menghianati kaumku.
Sampaitiba saatnya, akupun siap melakukan pepeangan yang amat sngat menentukan hidupmatinya kaumku ataupun kaum merah, kami sudah mempersiapkan semua, kami punmeminta bantuan serangga lain untuk membantu penyerangan kami. Anak-anakkecilpun turut dalam penyerangan kami. Hal ini kami lakukan karena kaum kamisemakin sedikit dan banyak yang terbunuh. Semua kaum merah yang memulai.Termasuk kakak kandungku sendiri, putra raja yang dibunuh oleh kaum meraka,sehinggga memunculkan peperangan ini, ada juga kaumku yang dengan sengaja dicatmerah oleh roh nenek moyang meraka dan menjadi kaum merah, bukan menjadi, tapidijadikan oleh mereka kaum merah. Kaum kami kaum hitam tak pernah memaksakan sedikitpunjika ada kaum mereka yang berpindah ke kaum hitam. Mereka cukup mengucapbeberapa kalimat, tidak perlu dicat roh nenek moyang mereka yang ingin seketikamenjadi kaum hitam akan berubah sendiri menjadi hitam seleuruh tubuhnya.Sudahlah. Itu kebiadapan meerka.
Kamipunmenyerang dari depan, samping dan belakang, tak lupa bantuan kumbang tanah daribawah dan belalang dari atas, kami berhasil memasuki istana dan membunuh semuayang ada tanpa terkecuali. Tinggal satu yang tak sempat aku bunuh, dan diapun melarikandiri ke hutan. Dia adalah Aya, gadis tempo hari yang menyelamatkanku. Perangpun berakhir dengan kemenangan kami, kami menebas semua kepala mereka danmerayakan kemenangan. Atau jika mereka ada yang dengan sukarela mereka mengucapbeberapa kalimat kemudian berubahlah mereka menjadi hitam.
Akupundidaulat menjadi raja dari kaumku karena akulah yang berhasil membunuh rajamerah serta ratu merah dengan tombakku, tombak yang digunakan untuk membunuhbapakku. Kehidupanku menjadi sangat menyenangkan, akan tetapi aku masih punyaganjalan dihati, suatu saat aku bermaksud pergi kehutan lebat, disana aku takmeminta prajurit untuk mengawalku. Aku membawa sepucuk surat yang beberapatahun silam ditulis oleh gadis itu, berharap dia memaafkanku. Karena sakit ituaku yakin tak akan pernah hilang, kakinya terluka oleh prajuritku waktu perang,ayah ibunya aku bunuh dan dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Diamemandangku dengan penuh kebencian sembari menyelamatkan diri menuju hutan.
Akuberharap hari ini dia datang kehutan ini, karena ada yang mau ku ungkapkan.Bahwa aku sangat menyukainya. Aku ingin menjadikan dia ratuku setekah dia ikutdenganku dan mengucap beberapa kalimat sebagai pernyataan dan dia akan menjadihitam.
Wajahnyasangat kusam, saat ku temui dia sedang menangis, ternyata sekarang dia tinggaldihutan ini, aku menemuinya dalam keadaan hujan, karena hampir setiap harihujan selalu turun, inikah yang menyebabkan hujan selalu turun, tangisan gadisitu?
Akumenyapanya. “ hai? Apakabar? “
Diatak menengok sedikitpun kepadaku! Mungkin kemarahan itu masih ada dan aku jugarela jika hari ini aku mati dibunuh olehnya. “ bolehkah aku duduk disampingmu?”
Diapunmasih terdiam, aku langsung duduk disampingnya sembari mengusap air matanya,seketika hujan mulai reda, namun setelah itu aku tak sadarkan diri, yang kurasaada pukulan benda tumpul ke punggungku, ada seseorang yang memukulku daribelakang lalu gadis itu berkata “ jangan….!”
Ketikaaku terbangun ada dia yang sedang mengelus-elus rambutku dengan lembut danseorang nenek yang sudah sangat tua, dia kaum merah yang tersisa dalampeperangan. Sesegera dia menyingkirkan tanganya dari kepalaku dan dudukdisebelahku.
“maafkan nenekku yang telah memukulmu tuan raja!”
“kautak perlu…uhuk…uhuk..memanggilku raja…uhuk! Ma…uhuk..afkan aku Aya!”
“ohkau masih ingat namaku ternyata tuan raja!”
“dia yang telah membunuh semua rakyatmu dan orang tuamu, bunuh saja dia!”tiba-tiba nenek itu membawa parang dan menjuju kearahku.
“jangannek, jangan membalas pembunuhan dengan pembunuhan!”
Hatinyasugguh mulia, tapi akulah penyebab kesedihan yang dia alami. Aku merasa sangatbersalah, aku berniat tinggal beberapa hari disini, dengan menangglkan semuagelar yang kudapat jika dia sedih karenaku. Tapi aku juga sedih.
“peperangantak akan menunjukkan seberapa hebat seseorang, pembunuhan juga tidak akanmenunjukkan siap kuat seseorang, setiap masalah yang datang akan menimbulkanmasalah lain, begitulah yang aku rasakan tuan Putri. Bapakku mati terbunuh olehkaummu, saudara-saudaraku, kakakku, adikku, semua tak ada yang tersisa, merekatak berdosa, kenapa kaummu membunuhnya? Apakah kau marah jika aku membunuhorang tuamu? Orang yang bertanggung jawab atas itu.ha? jawab aku?”
“tidak, kamu tidak salah!” dia semakin terlihat bijaksana, namun aku harus tetapwaspada. Dia tak seceria yang dulu, tak banyak kata yang dia keluarkan. Kamihanya berdua, diam dan membisu. Sama seperti dulu, diapun memulai bicara sambiltersenyum,
“kau sudah laki-laki sekarang!”
“apa maksudmu? Bunuh saja aku jika kau …! Dia memotong pembicaraanku mengarahkanjarinya hingga membisukan bibirku sembari memelukku.
“akusuka padamu, aku sayang padamu, aku cinta padamu, sudah lama aku berusahamembencimu, tapi aku tak mampu, sejak pertemuan itu aku jatuh hati padamu,setiap hari aku datang kehutan itu menunggumu berharap kau datang, tapi kau takjuga datang-datang, hingga aku mendengar berita kematian bapakmu dariprajuritku, dia terbunuh oleh pamanku sendiri ketika bapakmu hendak pulang darikerja. Saat itu juga aku sudah mengikhlaskan semua dan memaafkan semuaperbuatanmu sebelum kau berbuat apa-apa. Karena aku tahu kau akan balas dendampada kami.”
“sekali lagi maafkan aku, tuan putri, kau kehilangan orang tuamu dan akupunsama!”
“Tidaktuan raja, semua berawal dariku, jika aku tidak membunuh kakakmu, maka kaumkita tak akan pernah perang hingga seperti ini, aku kalah karena aku yangbersalah.”
“maksudmu?”
“Ya,waktu kita berbicara panjang lebar dan terpotong hujan, sebenarnya aku inginmengaku bahwa sebelum kamu dekat denganmu aku adalah kekasih kakakmu, akumengajaknya kejuirang itu dan memintanya mengambilkan buah. Akupun memotongoembicaraanya.
“Ooo..jadi kamu!” diapun memelukku kembali.
“jadisemua berita bahwa kakakku mati terbunuh salah satu prajurit dari kaummu itusalah? Jadi kamu pelakunya? Jadi semua itu hanya salah paham? Nenek moyangbantulah kami….!”
Semuasudah terlambat, maafkanlah aku tuan raja, akulah penyebab kehancuran ini.Seharusnya akulah yang menanggung dosa itu, diapun meloncat dari tempat duduknyakejurang, namun dengan segera aku menariknya keluar dan menghempaskan diaketanah, aku terjatuh dan dia masih berlari menuju jurang untuk menceburkandiri, aku lempar saja kayu ke kakinya hingga luka bekas peperangan itu berdarahkembali, diapun tak bisa bergerak dan kesakitan. Segera kutolong, kupeluk dankudekap, ku hentikan perdarahan itu.
“kau pikir dengan bunuh diri kau akan bahagia? Sudahlah, aku juga suka kamu, akusayang kamu, aku cinta kamu, aku datang kemari bermaksud menikahimu, aku inginhidup bahagia denganmum jangan kau lakukan hal konyol sepertiku waktu dulu. Akujuga tahu prajuritmu yang telah membunuh kekasihku. Aku juga tahu semua.Prajuritmulah yang membunuh bapakku, orang yang sama, yang mengantarkankusampai ke tengah hutan itu. Aku tahu semuanya. Jangan kau bunuh diri, aku akansangat kehilanganmu.”
Diapuntak sadarkan diri dan segera kubopong kerumahnya. Berharap ada pertolongan darinenek itu, karena kelihatanya dia pandai meramu. Sembari aku terus berdoa.
“kauapakan dia? Nenek itu  geram dan berusahamembunuhku lagi.
“dia ingin bunuh diri! Bukan aku yang membunuhnya! Tolong nek segera sembuhkandia. Setelah dia sembuh aku akan menikahinya! Kita saling cinta! Kita sudahlama bertemu dan kenal. Sebelum peperangan itu, sebelum semua hancur!”
Nenekitupun segera menolong Aya, dengan ramuan ramuan yang sangat berbau, tapiseketika lukanya sembuh dan tak berbekas. Diapun tersadarkan diri. Dia kembaliturun dari tempat tidurnya dan memelukku.
“maafsemua karenaku!” dia kembali menangis, dan hujan kembali menguyur denganlebatnya.
“maukah kau menikah denganku?  Maukah kauikut denganku? Tolong, hiduplah denganku?” aku menawarkan semua itu padanya.Namun  dia tak segera menjawab.
“apakahkau tak menerimaku apa adanya seperti ini? Apakah kau takut? Kau akan dibunuhrakyatmu sendiri demi aku?”
“tidakbegitu, kita tak akan sah bila kau tak ikut denganku, aku mohon? Kau sukadenganku kan? Aku uga sangat menyukaimu, walau akulah pembunuh orang tuamu,ikutlah denganku menjadi hitam? Aku mohon!”
“maaftuan raja, aku memang mencintaimu, tapi tolong terima aku apa adanya, akuselamanya akan menjadi merah, tak akan aku berubah jadi hitam!”
“akumohon!” akupun berlutut didepannya sembari meneteskan air mata penuh harap.Tapi dia menggelengkan kepalanya berkali-kali. Semakin kubujuk dan rayu semakindia kuat pada pendirianya. Dia sudah sangat percaya dan yakin dengankeberadaanya sebagai merah. Dan dia ditakdirkan sebabagi merah.
Tapitiba-tiba nenek itu berkata. Sebenarnya dahulu kau adalah hitam sayang, Ayahdan ibu angkatmu yang dulu masih rakyat biasa membawamu dari kaum hitam dankaulah yang pertama dijadikan merah, aku yang menyaksikanya sendiri. Ikuti katahatimu sayang, aku sudah dewasa.
“maafmas nikahi aku dengan keadaanku yang seperti ini!”
“tapi semut merah tak akan pernah menikah dengan semut hitam Aya!”

Wedarijaksa,15 Juli 2013, 09.56 WIB
MangGugun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar