Rabu, 04 Desember 2013

Gara-Gara “Akulah Kembang Desa dari Blora”

“buka pintunya kang sinah mau masuk kang,sinah mau bicara sama akang, akang jangan marah ya, ndak usah dengerin omonganya ibu, ibu memang gitu ceplas ceplos kang. Buka dong kang!”

“ sudah kalau ndak mau bukain ya udah suruh dia pergi saja memangnya ini rumah dia, ini rumah kamu nduk!”
“Ibu, jangan ngomong seperti itu kasihan mas Parman, biar bagaimanapun dia suami aku bu!”
Akupun terkaget melihat mas Parman membanting pintu kamar kami dan meninggalkan rumah beranjak langkah seribu menuju pintu luar, aku berusaha menahan langkahnya namun aku tak sekuat dan sekeras batu, suamiku pergi meninggalkanku dengan perasaan marah dan dendam, sudah sejak mas Parman di PHK dari kerjaanya di kota ibuku sering sinis dan memarahi mas Parman. Padahal sebelumnya ibuku begitu gambar gembor membanggakan suamiku didepan semua warga desa karena hanya dialah yang berpendidikan tinggi dan mampu bekerja dikota karena dia dari kota juga. Keadaan memprihatinkan memang terjadi didesaku, desa Dalangan kecamatan Todanan kabupaten Blora. tak hanya desaku, tiga desa berturut-turut didaerah puncak ini juga belum teraliri oleh listrik, yang ada hanya di desa menggunakan disel ketika ada pertandingan bulu tangkis atau sepak bola.
Puncaknya pada hari ini, ketika keluarga kami sudah hampir kehabisan uang untk biaya kehidupan sehari-hari dan persediaan kebutuhan pokok mulai menipis, tak jarang anakku dan mas Parman jadi sasaran keganasan ibuku yang sifat aslinya keluar.
Hari gelap, sepertinya langit akan meruntuhkan bangunannya dan menumpahkan semua material lunak jika terkena tubuh ini, aku sangat cemas mas Parman pergi kemana, untuk mencapai kekota hanya ada sepeda tua milik Almarhum Bapakku yang terkuci gembok dengan tiang rumah yang terbuat dari kayu pohon kelapa.  Ndak mungkin mas Parman pulang ke rumahnya karena untuk sampai kesana dibutuhkan waktu kurang lebih empat jam. Dan tak mungkin mas Parman kembali kerumahnya. Aku semakin cemas ketika petir-petir menunjukkan taringnya yang tajam dan runcing sehingga pohon-pohon terkoyak merebah ketika disambutnya.  Mas semoga mas cepat kemabali karena aku sangat mencemaskan keadaannya, sementara anakku yang baru berusia satu tahun lebih sedikit masih tertidur pulas, aku cemas di beranda rumah, ibu juga sepertinya tanpa dosa, padahal rumahku dulunya dari kayu reot sekarang sudah dibangun mas Parman bagus, berkreamik dan tembok, hanya dapurnya saja yang masih seperti rumah yang dulu.
Hal ini jauh berbeda ketika aku datang kerumah mas Parman di kota, dia anak orang kaya, dia akan orang serba kecukupan. Mau minta apa saja pasti dipenuhi, memilih wanita siapa saja pasti dilamarkan, kecuali aku, wanita yang dia cintai, itu kata mas Parman padaku ketika berusaha meyakinkanku. Aku menolak keras, karena dulu aku hanyalah seorang anak dari desa yang nyasar ke kota kebetulan dia temukan aku kebinggungan. Aku sempat ,merasa ketakutan ketika dia mendekati aku dan menyentuh pundakku dan menanyakan padaku sedang apa disini dan mencari siapa. Aku masih ingat masa-masa itu.

***
Saat saat dimana bahagia datang melanda kehidupanku, tak pernah kusangka aku mendapatkan seorang suami yang tampan lagi kaya. Kata tetangga-tetangga sih barokah namanya, ada yang bilang beruntung tanggal lahirnya/wetonya dan lain-lain. Saat itu aku baru saja datang ke kota turun disebuah terminal Terboyo Semarang dengan maksud mengambil buku ceritaku yang kemudian termuat dalam sebuah penerbitan ternama. Aku harus mengambil buku dan honorku di kantornya. Akan tetapi seumur-umur yang namanya kota semarang saja aku hanyabisa aku lihat dan dengar dari televisi dan radio. Keluargaku belum pernah sebelumnya ada  yang datang ke semarang.
Kami bertemu dijalan dekat toko buku Gramedia Semarang saat aku  menangis dipinggir jalan depan Gramedia. Mas Parman turun dari mobil BMW  berwarna merah tua dengan jas hitam dan celana hitam dan sepatu yang mengkilap tak ketinggalan dasi datik warna cokelat yang semakin menambah kegagahn suamiku itu.
“ sedang apa mbak disini, kok sendirian, dari tadi saya perhatikan mbak kebinggungan?” dia mendekati dan bertanya padaku. Akupun sempat takut dan mencoba lari, tapi aku terdiam dahulu sebelum dia bereaksi lebih. Aku takut jika aku diculik seperti yang ditelevisi-televisi itu.
“ ini ada sedikit uang untuk beli makan!” aku dikira pengemis, karena memang pakaianku saat itu seperti orang-orang lain yang berprofesi sebagai pengemis.
“kurang ajar kamu ya, kamu pikir saya serendah itu apa? Kamu mau membeli saya dengan duapuluh ribu?” aku nyolot dan meninggikan badanku kehadapannya.
“ bukan begitu mbak, maaf jika…”
“jika apa? Kamu piker saya pengemis? Peminta-minta, bukan pak! Saya memang dari desa, tapi saya tak serendah itu!”
Diapun meninggalkan saya yang sendirian ini kembali masuk mobil dan memarkirkan mobilnya di dalam, diapun masuk Gramedia. Aku masih merasa ketakutan, mau beranjak dari tempat rasanya sangat berat. Aku tak punya  saudara dan tak tahu arah disini. Mau makan juga aku mengandalkan uang honor tulisanku yang sampai saat ini belum kutemukan juga kantornya. Tak terasa akupun terlelap dalam teriknya matahari yang menunjukkan suhu 42 derajat celcius yang kulihat didekat kantor pos pengamanan polisi yang terpampang diatas lampu lalu lintas. Akupun mulai kelaparan ketika terjaga, namun tak ada uang sedikitpun yang ku kantongi. Mungkin jika aku menrima uang dari orang tadi aku bisa makan siang. Tak lemas lunglai seperti ini. Ketika aku kembali terbangun, matahari sudah condong dan suhu sudah tak sepanas tadi siang. Sepertinya hari mulai gelap. Aku harus segera menemukan kantor itu atau pulang saja, itu yang ada dalam pikiranku. Ku tengok parkiran mobil masih terlihat banyak mobil. Kuamati mobil-mobil itu ternyata masih ada mobil yang tadi. Kuharap diamau membantuku untuk kali ini saja. Kutunggu dia sampai keluar dari Gramedia. Agak lama. Akan tetapi penantianku terkabul juga. Aku segera mendekat kea rah pintu mobilnya sebelum dia membuka pintu mobilnya dan pergi.
“mohon maaf mas, menganggu sebentar!” sapaku pelan dengan wajah tertunduk.
“ kamu kan yang tadi pagi. Mau apa kamu?” sahutnya dengan nada keras.
“ saya mau minta bantuan boleh mas?” dengan nada merengek dan memelas.
“ minta bantuan apa? Kamu pengemis kan? Pengemis saja sombong!” dia semakin mengeraskan suaranya. Lalu kuinjak kakinya dan masuk kedalam mobilnya. Karena kurasa dia adalah seorang lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Yah hanya filing. Semoga saja benar.
“ hey, keluar kamu dari mobilku. Jangan-jangan kamu wanita gila? Pengemis? Keluar kamu!” aku tak mau keluar dan hanya terdiam serta menanggis. Seketika banyak yang memperhatikan dan diapun masuk mobil dengan diam serta mulai menjalankan mobilnya, aku sangat takut. Tapi entahlah. Apapun yang terjadi padaku. Ini lebih baik darpiada harus berdirian yang tak tahu sampai kapan aku didepan Gramedia.
“ kamu itu sebenarnya mau apa dari saya? Mbak? Tadi pagi kamu marah-marah pada saya dan saat ini kamu menumpang dimobil saya dan saya tak tahu harus berbuat apa pada kamu!” akupun hanya terdiam dan tak berkata apa-apa sambil terus menutup wajah dengan kedua tangan karena dari tadi dia memperhatikanku dari sepion.
“ kalau kamu ndak mau jawab tak turunin disini loh mbak?” aku melihat disekeliling sepertinya serem, jalanan tampak sepi dan hanya bongkahan batu batu jalanan kota yang mulai tergenang air serta gedung gedung besar yang catnya mulai kusam bahkan banyak tembok yang kulitnya hancur.
“dimana aku ini, kalau aku diturunin disini bisa mati aku!” (dalam batin)
“ mbak, tolong jawab pertanyaan saya, karena tidak mungkin anda saya bawa pulang! Saya masih banyak tugas dan urusan. Tolong mengerti saya, lagipula saya tidak kenal siapa mbak dan darimana mbak! Oke?”
“ mas tolong bantu saya ke alamat ini!” saya mulai angkat bicara dan menyodorkan alamat penerbitan itu kepadanya yang sedang menyetir pelan-pelan.
“ ada urusan apa mbak dengan alamat ini, itu kantor saya dan saya pemiliknya!”
“ alhamduilillahirobbil alamin… akupun kegirangan dalam mobil dan seperti diselamatkan oleh spiderman dalam sebuah gedung yang hampir roboh karena kebakaran. Hehehe
“ begini pak, nama saya Sinah pak, Sinah Ayu Kinan yang kemarin ikut lomba menulis cerita anak desa pak, kebetulan saya memang benar benar dari desa dan saya baru pertama kali ini ada disemarang!”
“ stop! Bicaranya dilanjut nanti saja!” tiba-tiba dia memotong apa yang mau ku omongkan dan mengencangkan gas mobilnya sehingga kecepatanya bertambah kencang. Tibalah kami disebuah rumah makan yang bertuliskan Roket Chiken. Dia memarkirkan mobil dan memintaku untuk turun. Kemungkinan terburuk dalam pikiranku adalah aku diturunkan disini atau aku sangat beruntung ditraktir makan. Diapun memintaku untuk turun dan mengacungkan tangannya untuk masuk kedalam Roket chiken. Kamipun duduk berdua saling berhadap-hadapan dan dia memintaku untuk melanjutkan ceritanya.
Setelah makan dia mengajakku untuk ke kantornya yang saat itu seharusnya sudah tutup pukul 16.00 WIB. Dia memberiku sepuluh buah buku yang seharusnya aku hanya dapat dua eksemplar serta memberiku uang tujuh ratus ribu rupiah. Aku sangat senang dan gembira. Ternyata hari ini adalah keberuntunganku. Aku diminta untuk tinggal dikantor sementara menemani kariawanya yang jaga malam sementara besok pagi baru pulang ke Blora. Keesokan harinya pun aku pulang ke desa melewati rute yang sama setelah aku bertanya-tanya kepada penjaga kantor itu yang bernama pak hendro  tentang rute mana yang harus saya tempuh.
***
Akupun sekarang menjadi sering telepon bahkan SMSan seharian penuh dengan pak Parman. Hingga dia menjemputku jauh-jauh dari semarang menuju blora. Dia juga memintaku untuk datang kerumahnya. Dia juga yang sudah menyatakan cinta kepadaku, dialah lelaki pertama yang bilang cinta dan langsung ingin menikahiku. Aku menolaknya karena aku sadar perbedaan status social dan jarak juga. Aku sangat bahagia akan tetapi aku juga sedih bahwasanya orang tua mas parman tak setuju dengan rencana pernikahan kami. Kalau orang tuaku setuju dan mendukung saja. Akhirnya mas parman nekat menikahiku dengan saksi adalah paman dari mas Parman. Dia menikahiku dengan mas kawin buku yang berjudul “ Akulah Kembang Desa dari Blora” dan uang tunai sebesar tujuh ratus ribu rupiah. Hal yang sama dilakukan ketika malam itu dia menyerahkan hadian padaku. Orang tua mas Parman sempat datang sekali kerumah dan meminta tanda tangan mas Parman untuk mencabut dirinya dari hak waris, hal itu membuat kami terpukul. Itu artinya mas parman harus memulai hidupnya dari O lagi, namun demi cintanya padaku dia menandatangain surat itu dan seraya bersujut pada ayah dan ibunya meminta maaf dan doa restu, namun sepakan kaki dari mereka membuat hatiku teriris, betapa kejadian ini sudah ku duga sebelumnya, akupun hanya terus tertunduk. Orang tuakupun tak dapat berbuat apa-apa.
“ silahkan kamu hidup bersama keluarga barumu, bila kamu sudah sadar kembalilah nak, bapak dan ibu masih ingin kamu pulang! Aku sudah rela kalian menikah, toh juga jika aku melarang semua sudah terlanjur. Selamat menempuh hidup baru anakku satu satunya. Harta kita seluruhnya akan bapak kamu sumbangkan ke panti asuhan rintisan mu dulu.”
Itulah kata-kata dari ibu mertuaku yang sangat sinis melihat aku dan keluargaku serta pernikahan kami.  Ibuku hanya memeluk kami saat mereka pergi dengan menggunakan mobil yang dulu menjadi awal benih cintaku dengan mas Parman.
“sudahlah nduk, le, suatu hari nanti hati mereka akan luluh, maafkan aku nak parman, hidupmu jadi berantakan hanya karena menikahi anakku. Giatlah kamu dalam bekerja. Dulu kamu bisa, sekarangpun bisa!”
Akupun membangun kembali keluargaku yang kecil namun bahagia ini, mas Parman bercerita, bahwa dia tidak bahagia walau kaya, karena bapak ibunya lebih mementingkan bisnis daripada dirinya sejak kecil sampai saat dia menikah denganku pun orang tuanya tak peduli, tak mau tahu bahkan tak menyetujui hubungan kami tanpa alasan yang jelas. Beberapa bulan setelah pernikahan mas Parman kembali ke semarang dengan uang satujuta. Uang itu adalah uang mas kawan kami dan uang yang dulu dia berikan padaku di awal yang telah kupakai. Dia mencari pekerjaan disemarang selain di Gramdeia. Karena seluruh asetnya sudah diminta orang tuanya kembali. Dia diterima bekerja disebuah perusahaan keramik dengan gaji perbulan dua setengah juta. Mungkin itu cukup untuk kehidupanku kelak.
Kabar gembira menyelimutiku dengan kehamilanku, mas parman sangat senang sekali dengan berita ini sampai sampai dia meminta cuti tiga hari dan pulang ke Blora untuk menemaniku.
“kang, kalau anak kita lahir maunya perempuan apa laki?” celotehku ketika sedang berdaan dikamar.
“perempaun ya dik, aku ingin beri nama yang bagus, tapi belum tahu aku, mungkin bisa antika maharani, tokoh mu dalam novelmu “Akulah Kembang Dsea dari Blora” hehehe
“ ah akang bisa saja, aku manut lah kang!” bayi kamipun ternyata terlahir dengan selamat dan berjenis kelamin perempuan. Nama itupun tersandar menjadi milik putri pertamaku yang cantik dan lucu. Kamipun menjaganya dan terus member gizi yang cukup hingga mas Parman malah terkena musibah yaitu bangkrutnya perusahaan keramik yang selama ini menjadi tempatnya mencari nafkah. Uang persediaan kamipun mulai menipis dan ibu sering marah marah. Mas parman juga sudah usaha kerja serabutan disesa dengan mencangkul sawah orang lain.
Kehidupanku tak semulus novel yang aku tulis, dimana seorang kembang desa dari blora hidup bahagia denga laki laki yang dicintainya. Anakkupun tak segemuk yang aku ceritakan di novel sekarang, badanya mulai kurus karena aku hanya makan seadanya dan susunya pun hanya mengandalkan ASIku. Suamikupun tak seberuntung yang aku tulis. Dia menderita karena mencintaiku.

Semarang 1 juli 2013 23.23
Mang Gugun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar