Rabu, 04 Desember 2013

untukmu pengemis kecil tiada dosa

masih kutatap mata ini
mata ini didalam kaca yang basah penuh air mata
air mata turun dari langit hitam selimuti mimpi mimpi anak jalanan
anak jalanan masih sangup berkeliaran
berkeliaran menantang dingin yang menusuk tulang
mereka adalah tulang tulang penghidup bapak ibunya
bapak ibunya tega melepas diri tiada basa basi
soal basi makanan tiap hari ekonomi jangan ditanya lagi
lagi lagi mata masih mau menetes
menetes kan rindu ini salah siapa
siapa siapa saja yang tak punya malu demi uang yang masih dibelenggu
sungguh nista sungguh dusta sungguh tak berdaya

disudut sana digendong anak balita
menjerit seolah tiada yang mampu menenangkan
hanya berteman seorang pria kecil belum genap giginya
aduh kasian aduh kasian
tertelan hujan katanya sudah biasa
hanya tawa kecil yang penuh ketulusan
ketika limaratusan menelapak ditangan
apalagi jikadisambut dengan penuh keramahan
sunguh bahagia dia hari ini

lidah oh lidah lidah
banyak gunjing sana sini gunjing kayak anjing
mereka tak tau kerasnya hidup yang terus meredup
putih merah tak pernah dia kenal apalagi makan bangku sekolah
hanya tetes air mata yang sesegera diusap
dari pipi yang kini penuh asap
ketika melihat anak ibu bergandeng penuh syahdu
aduh kasihan aduh kasihan aduh duh malang
nasipmu memang seperti palang kereta
nasipmu memang harus terlindas roda bus kota
nasipmu memang harus jadi peminta minta
nasipmu memang tiada cita cita
nasipmu memang sudah menjadi bertia
sekedar berita
yang tiada tanggap dari aparat negara
aduh kasian duh duh kasian
hidup tanpa pekerjaan yang membanggakan.

inspired by Terboyo. terminal bus semarang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar