Begitu panjang kisah hidupku, walau aku baru berusia 19 tahun, baru sedikit yang aku tahu walau aku sering menyebut namamu, engkau manusia sama seperti aku punya darah punya daging punya tulang dan juga punya nafsu, namun engkau berbeda dengan perjuanganmu, sedikit yang ku tahu tentang perjuanganmu, mungkin hanya cerita cerita dari guruku saat aku duduk disekolah dasar, di sekolah menengah pertama juga disinggung tentangmu dan segala tentangmu dengan durasi waktu tak lebih dari satu setengah jam. Bagaimana aku harus meminta tolong padamu dari segala masalah yang aku hadapi saat ini, katanya itu orang mati itu Cuma mati raganya, tapi nyawanya masih hidup dan bisa melihat segala aktivitas didunia. Kalau begitu engkau bisa kan melihat aku diantara umat-umatmu yang lain?” bukan aku minta dispesialkan. Karena banyak sekali orang yang bersalawat dan mengirimkan doa padamu berharap engkau menyampaikan pesan keinginan pada sesuatu yang maha berhak disana, sungguh ini keinginanku yang sangat berputar-putar. Seperti hidupku. Yang sampai saat ini terus berputar-putar. Aku harus mencari oenggalan kata demi kata untuk melengkapi puzzle yang mereka buat, salah satu dari umatmu atau umat yang tak mau mengakui kehadiranmu sebaga yang terakhir. Aku juga tak tahu sejarahnya dan aku juga tak tahu betapa perjuanganmu dimasa dulu demi meluruskan sesuatu yang sudah sangat bengkok. Aku juga tak tahu apakah semua cerita itu kejadianya samapersisi seperti yang dituliskan atau bukan, tapi aku meyakininya. Bukan sebuah sastra yang sering kutulis dengan latar belakangku yang masih minim sekali pengetahuan ini. Aku juga yakin pasti yang maha berhak tau jika aku menulis surat ini padamu. Semoga dengan doaku, doa orang yang setiap detiknya tak lepas dari maksiat ini sampai padamu. Kesabaranmu mungkin sangat tinggi, tak seperti aku yangsaat ini sudah tak sabar melihat siapa yang benar dan siapa yang salah, aku hanya bisa menangis dan terus menangis memohon tiada henti, namun apakah yang aku lakukan ini diterima, ketika aku merasa dekat memang benar aku sangat nyamana dengan keadaanku, tetapi mereka juga sangat nyaman dengan kedekatan mereka, siapa yang benar dan siapa yang agaknya kurang lurus. Apakah benar pegangan mereka telah dibengkokkan ataukan salah? Itu semua memang sudah tertera dalam kitab yang diwahyukan padamu jika aku mau memperlaajarinya, dahulu aku hanya sampai sebentyar saja dalam mempelajarinya, beegitu banyak cobaan dan halangan yang membuatku mempelajarinya. Engkau pasti tahu apa yang aku arsakan dahulu. Ketika pulang dari belajar tubuhku penuh dengan ulat, atau bulu ulat, dan rasanya sangat gatal, mungkin hak itu dirasakan juga oleh pasanganku aat ini yang sudah berseberangan denganku. Engkau pasti juga sudah melihat betapa takutnya aku terhadap petir petir itu, namun aku tetap berangkat menggunakan sepeda kecilku dan kukayuh dengan penuh suka cita, tapi saat sampai disana aku dapat hasil kurang lancar. Aku terima awalnya akan tetapi lama-lama aku tak betah juga, madrasah diniahku tak ku selesaikan. Mengajiku juga tak ku selesaikan. Aku sangat menyesal bila ingat hal itu, karena di sekolah menengah oertama dan atas aku tak lagi punya kesempatan untuk belajar, bukan tak punya kesempatan, akan tetapi disibukkan dengana berbagai macam persoalan dunia.aku sangat sedih melihat keadaanku yang sekarang, engkau juga pasti tahu itu kan, betapa enaknya menjadi kekasih yang maha berhak, aku juga ingin, akan tetapi untuk menuju kesana apakah aku diberi kesempatan untuk melakukanya. Dua malaikat saja yang meragukan keberadaan kami ketika jadi seperti kami juga terjerumus ke neraka yang maha berhak, apalagi saya? Adakah solusi untuk menghadapi semua ini? Karena dunia begitu fana, atau saya yang terlalu buta dan menutup mata. Wahai nama yang sering ku sebut namun sekarang ini juga jarang kusebut, apakah engkau bisa membantuku? Mungkin tidak langsung kun fayakun, tapi bisa jadi bila usaha saya lebih keras dari pada sekarang, tapi ketika dia hanya berkabar ria denganku saja aku sudah sangat…ya tau lah…aku malu mengungkapkanya.maaf karena bahasaku terlalu kasar, aku banyak dididk dan diberi kemudahan, aku tahu aku sangat tak bersyukur bila diukur dengan apa yang telah diberikan kepadaku, ya aku sering menggunakan fasilitas yang dipinjamkan padaku untuk b erbuat dosa, tak seperti dirimu, yang sejak kecil sudah dilindungi dari dosa, itu saja kamu selalu memohon ampun lebih dari ribuan kali, padahal sudah dijamin bebas dosa, yang saya tahu seperti itu, lalu betapa sombongnya saya yang setiap detik bebuat dosa dan tak mau memohon ampun. Sungguh lebih hinalah saya daripada binatang ternak saya sendiri, saya juga bertwernak kambing, saya juga menjadi buruh ternak kambing, terkadang saya jika pulang saya gembalakan kambing-kambing milik orang lain supaya saya berharap perutnya kenyang dan gemuk-gemuk, saya juga masih ingat waktu kecil; tentang kisahmu yang diikuti oleh awan ketika panas mendera, saya juga pernah diikuti, lalu perasaan saya menangis, saya merasa tak pantas diperlakukan seperti itu. Tapi saya juga membutuhkan rasa nyaman saat itu. Saya juga bilang subhanallah ,,,dan bersalawat padamu kalau seingat saya, saya pernah melakukan itu ketika awan-awan itu mengikuti saya yang sedang mengembala. Saya tak ingin berhenti sampai disini, karena saya yakin yangmaha berhak tau apa yang ada dipikiran saya saat ini, serba binggung dan serba bagaimana. Berdoa pada yang maha berhak saja saya masih belepotan. Sampai 19 tahun saya bernafas, belum yang dalam kandungan saya masih sangat hina….sangat hina, saya bisa bliang demikian karena saya itu belum bisa apa-apa, saya hanya selalu mengikuti imam saja. Lalu apakah doa-doa saya ada yang mendengarkan jika kata yang pernah saya dengar bahwa doa itu bisa tak sampai karena dosa-dosa yang dibuat oleh sang pembuat doa. Padahal saya sadar betul dan bukannya sok taghu, amat sangta banyaklah dosa saya, yang sudah saya buatm baik diwaktu dekat ini maupun dimasa lampau, saya sempat tak mengakui keberadaan yang maha berhak ketika asma saya membuat saya hampir mati tak bisa bernafas didalam kasur yang berselambu dirumah yang penuh dengan kayu-kayu. Saya sempat marah besar pada yag berhak, saya nanti juga akan membuktikan bahwa semua yang saya lakukan didunia ini akan ditampilkan dihadapan orang banyak, seperti disuna saja.ada kasus atau adegan yang namanya rekonstruksi, itu saja buatan manusia, apalagi buaytan yang maha membuat, betapa malunmya saya ketika perbuatan perbuatan itu ditontonkan ke khalayak oraang banyak, dan sayalah hakim daripada diri saya sendiri yang akan mengadili diri saya. Tangan saya akan bersaksi, kaki saya akan bersaksi semua akan bersaksi. Mulut saya akan diam, itulah yang saya tahu, betapa sangat menderitanya saya bila masa itu tiba, Karena sejauh ini maksiat terus saya lakukan. Apalagi saya snagat prihatin melihat generasi sekarang yang seperti itu. Demi nama yang selalu saya sebut, dan demi sesuatu yang maha berhak, tolonglah saya. Saya ini orangnya tidak sabaran dan segera ingin membuktikan, betapa saya sangat beruntung, betapa air mata ini mengalir dengan derasnya ketika saya berusaha dekat, namun sekarang sangat jauh saya rasa, betapa saya dulu berjanji jika saya rangking 1 saya akan solat 5 waktu, ketika itu saya masih duduk disekolah dasar, betapa banyak hutang saya pada yang maha berhak, namun saya terus diberi kemudahan hingga saya lupa,,saya sedang berhutang, saya sering sibuk dengan rutinitas dunia ini, saya sering tertidur ketika saya harus membayar hutang saya dan sekaligus memenuhi kewajiban saya, sayan sangat sedih bila merasakan semua ini, betapa panas siksa api neraka yang akan saya rasakan kelak, tapi bagaimana dengan dia? Bapakku kemarin bercerita bahwa paman mu yang sangat engkau cintai yang melindungimu ketika menyebarkan ajaran yang maha berhak saja tak bisa membujuk pamanmu untuk mengikutimu, bgaimana dengan aku? Apakah aku bisa membujuknya untuk ikut denganku, apakah dia akan diberi hidayah oleh yang maha member hidayah. Sungguh hatiku sagat cemas, banyak kisah nyata yang terjadi yang member hidayah memberikan hidayahnya dengan jalan cinta, pernikahan dan perkawinan, apakah aku juga akan seberuntung itu setelah maksiat yang selalu aku lakukan? Hati ini panas ketika menulis surat ini mungkin syetan terus berbisik untuk menyuruhku tidur, mungkin kepala ini dubuat pusing, mungkin dan segala kemungkinan nyamuk- nyamuk menggangguku dalam penulisan surat ini.aku mulai kedinginan dan aku mulai merasakan tubuhku sangat kecil. Aku tak tahu lagi harus meminta bantuan pada siapa. Aku gagal selama hidupku ini,,, pintu taubat apakah masih terbuka dan apakah aku juga masih …aku sulit sekarang. Dimana pemikliranku masih sangat cetek dan dangkal untuk memikirkan sesuatu yang tidak bisa aku piker, namun sudah ada angan-angan untuk kesana, ya angan-angan belaka yang akan menjadi angin angin yang akan berterbangan jadi anai-anai. Aku sangat ngantuk dan capek, demi nama yang ku sebut, engkau mencontohkan padaku untuk selalu tidur tak lebih daripada jam 9 malam, padahal engkau dahulu menghadapi masalah yang berjuta milyar kali lipat lebih pelik daripada masalahku saat ini, bagaimana caranya? Kepada siapa aku harus belajar? Tolong tuntunlah langkahku dijalan yang mana memberi jalan. Aku sayang kedua orang tuaku, aku sayang adik-adikku, aku sayang seseorang yang saat ini belum sayang padamu dan pada yang maha memberi kasih sayang.tolonglah aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar