Senin, 29 April 2013

LELAH


Ketika mata mulai terpejam
Mencoba merasakan nadi yang silih berganti datang dan pergi
Bersimpangan tanpa ada kemacetan dalam tubuh
Aku mulai bertanya tentang apa yang akan ku tanyakan
Betapa rindu ini mati karena hati yang masih ditutup tutupi

Dia lebih beriman daripadaku
Ketia diperintah meneteskan air dari atap bumi
Dia teteskan satu persatu tanpa berhenti sebelum diminta
Langit


Dia lebih taat daripadaku
Ketika dia harus melepas satu yang menjadi panutan panutan yang lain
Ketika tangis mulai membasahi tubuh yang pagi
Dia lepaskan hingga terhempas ke tanah
Tangis yang lain pun terpecah ranting mulai menguning batang berbalik kebelakang
Daun

Dia lebih bertakwa daripadaku
Ketika dia datang dialah yang mampu member kehidupanku
Memberi rasa dan warna, perintahnya dia harus datang dan pergi tepat waktu
Tak boleh telat datang atau terlalu cepat pergi
Dia sangat taat terhdap perintah
Sinar terus memancar
Matahari

Aku tak ubahnya lebih hina daripadanya
Aku tak jauh berbeda dengan angin, aku tak  jauh berbeda dengan suara sumbang
Datang dan cepat hilang
Aku adalah manusia ke masa
Aku lelah
Alur masih betah
Aku pilu
Tapi hati masih merangkul ilmu
Aku duduk
Walau  kadang tak tunduk
Aku  tersipu
Melihat mereka begitu mampu
Aku  lelah
Aku lelah
Aku lelah
  
semarang, 30 April 2013
Mang gugun

Sekar dan Seno


aku adalah sekar
Gadis muda berparas laras
Rindu akan masa dimana pejuang menjual darahnya
Aku tumbuh diantara pohon pohon yang sudah tertata
Tak seperti dahulu, ketika setiap nafas mereka rasakan adalah penderitaan
Aku adalah sekar
Serindu kartini itulah nama yang orang tuaku berikan
Aku juga rindu wanita wanita pejuang
Bukan hanya hidup megah diatas kepala raja raja
Bukan hanya dengan mudah memperlihatkan paha apalagi dada
Aku adalah rindu, serindu kartini
Yang tak dengan mudah menjual harga diri
Akan kutumpas semua penjajah
Akan ku rampas kembali seluruh tanah yang telah terlepas
Akan ku minta kembali wanita wanita pemberani maju demi hari
Rusak bukan karena mati
Aku tak mampu menahan rasa untuk menunjukkan apa yang ada dalam bahasa
Tapi rindu akan keduniawian
Aku akan membawa emas emas bekas itu kembali pulang
Ku elap dengan kain perlahan
Agar mereka menjadi karini, wanita pemberani masa kini

Aku adalah seno
Kujemput kau dengan mata mata nestapa
Bukan aku merendahkan kau
Tapi kau memang seperti anai anai
Berterbangan tanpa busana
Aku adalah parodi
Aku adalah Serindu kartono
Tak ada yang tau, siapa aku
Siapa daku yang selalu mencoba mengerogoti waktu
Mencari belahan dada dan rengangan paha
Bukan maksudku nafsu
Tapi wanita memang tak ada harta
Tak ada harga
Ketika wanita wanita itu bersenada sepekat berkata terpaksa
Aku adalah durjana
Ketika nafas mulai membekas seperti bongkahan asap kereta

Tak kan kau temukan lagi mereka
Ketika aku datang dengan segenap tahta
Karena sesungguhnya aku adalah mulia tanpa celaka

Mereka memang tiada lagi
Jika hati sudah tak terlapisi besi
Dan aku hanya tinggal gigit jari
Melihat engkau dan wanita Nampak indah layaknya bidadari


Tema puisi ini adalah seorang karini muda yang berjuang untuk membawa wanita wanita masa kini kembali ke titahnya, menjaga kesucianya dan menjaga hijab(auratnya) dimana seorang karini muda akan merubah semua wanita yang dia temuinya dengan jalan dakweah secara perlahan. Sekar berasal dari akronim “serindu kartini” sedangkan seno berasal dari akronim “serindu katono” yang merupakan tokoh pahlawan khayalan. Dalam konteks ini seno adalah seorang laki laki yang wajar, seperti laki laik pada umumnya. Walaupun dia beriman dan bertaqwa tetapi yang namanya nafsu pasti datang. Seno mencari wanita wanita yang dengan mudah menjatuhkan harga dirinya sendiri, akan tetapi dia akan sangat menghargai wanita yang menjaga hatinya lisanya dan menjaga tubuhnya dari keterbukaan atau mengumbar aurat. Itulah peran karini saat ini, bukan lagi menjadi pilar utama dari penyamaan derajat kaum wanita. Karena wanita sudah disamakan derajatnya melalui perjuangan ibu kita R.A kartini pada masa perjuangan.








Minggu, 14 April 2013

Kuputuskan Cintaku di Paris


Itik-itikdisawah berbaris saling menundukkan kepala mencari makan menyusuri sepanjang ladangluas yang telah beberapa bulan lalu dipanen, potongan batang padi Nampak masihsegar-segar menancap disawah yang berair itu, bahkan ada yang tumbuh tunas lagidan sudah mengeluarkan biji padi muda. Tiba-tiba ketika aku lewat itik-itik itugaduh, dua pasang mata kanan kiri sekitar seratus itik memandangku dengan penuhtanda Tanya, mungkin aku boleh mengira pertanyaan mereka. Siapakah aku?  Ya mungkin itu pertanyaan mereka. Aku barusaja tiba dirumah nenek di daerah Kulon Progo-Jogjakarta.
Betapamelelahkannya perjalanan hari ini. Ya setelah ujian kenaikan kelas aku dimintabundaku untuk datang kerumah Nenek, disini yang masih hidup hanya Nenek dankakak-kakak serta adik bundaku, Kakeku meninggal waktu aku kelas dua SMP. Sedihrasanya bila ingat kejadian itu, aku adalah cucu kesayangan Kakekku daribeberapa cucunya yang lain, apa saja yang kuminta pasti dituruti, aku juga yangpaling manja saat itu. Kata kakek ditelepon juga ndak usah kesini dulu, wong cuma masuk angin dan kecapekansaja, tapi paginya aku ditelepon Nenek bahwa Kakek sudah meninggal. “Innalilahiwainnaillaihirojiun…” takkuasa tangisku meledak-ledak, bak penampungan air mata di dalam pelupukmatakupun tumpah dan mengalir dipipi hidung dan sekitarnya. Padahal pagi ituaku baru saja mau telepon Kakek. Dan aku juga sudah siap berangkat ke sekolah. Akusangat kecewa karena aku tidak bisa melihat jasadnya untuk yang terahir kali,karena waktu itu diperjalanan macet dan mobil Abah mogok waktu banjir diSemarang jadi sampai Jogja yang targetnya jam satu siang jadi molor jam empat.Sesampainya disana aku hanya menangis diatas pusara makan kakekku tercitna.
“Assalamualaikum Nek, ini Manisw Nek, cucu Nenek dari Pati!” maklum, Nenekkusudah usia 80 tahunan dan agak pelupa beliau, namun diusia setua itu beliaumasih bisa berjalan dengan tegap dan sehat.
“Waalaikumsalam, kapan datangnya?”
“Barusan Nek, tadi naik bus kesini!”
“Jam berapa dari rumah? Macet ndak? Sama siapa dating kesini?”
“ Jam delapan nek, Alhamdulillah tidak macet, kesini sendirian Nek, Abah sama Bundalagi ada urusan jadi ndak bisa ikut!”
“Ya sudah, sana minta sama tantemu suruh bikini minum, dan lekas istirahat!”
“Ndak usah Nek, nanti Manisw bikin sendiri, iya nek, aku mau kekamarku, sudahlama aku merindukan kamarku disini!”
Huft,capek rasanya perjalanan sejauh itu naik bus sendirian, apalagi ini pengalamanpertamaku naik bus dari Pati ke Jogja sendirian, aku masih Tanya sana sinikepada orang yang bisa ku tanyai waktu aku di Terminal, takutnya nyasar danakupun  memastikan apakah bus yangkutumpangi ini benar kearah Jogja atau bukan. Pengalaman yang menyenangkanpokoknya.
Tujuankudisini selain ingin liburan dan refreshing juga ingin melupakan semua bebanyang ku rasakan kemarin, oh iya aku kemarin dapat rangking tiga besar, melorotdari semester sebelumnya sih, tapi ndak apa lah, yang penting naik, soalnyapelajaranya semakin sulit dan aku juga ada masalah dengan ….ya tau sendirilahdengan siapa. Yang penting 10 beasr rangking dikelas dikuasai kaum Hawa, kaum Adamnggak ada yang mampu nembus 10 beasr, hahahaha
Beberapaminggu lagi aku akan kelas tiga, saat-saat yang paling mendebarkan danmeresahkan, aku harus memanfaatkan waktuku semaksimal mungkin untuk liburankali ini, tak ada Matematika, Bahasa Inggris, Geografi, Ekonomi, dll, terutamanggak ada Adi. Semenjak Ulangan Kenaikan Kelas sampai sekarang aku tak pernahberbincang-bincang lagi dengannya, mungkin dia jaga jarak denganku, ataumungkin dia takut bila ada yang tau bahwa kita sering jalan berdua dan sampaiketelingga orang tuanya, dia akan dibuang keluar Jawa. Sungguh kejam orang tuanya. Mungkin karena dia anak seorangyang ya… cukup intelek lah, bahkan dia diharuskan menikah diusia duapuluh enamsampai dengan duapuluh delapan tahunan dan sesuai dengan keinginan orang tuanya,huh, kayak jaman Siti Nurbaya saja.
“kenapa aku jadi mikirin dia ya? Tapi kangen sebenernya sama dia, kangen melihatsenja ditaman kota. Tapi kalau aku bisa ajak dia ke Jogja, dia akan lebih bisamelihat senja dengan jelas dibalik perbukitan belakang rumah Nenekku.”
Akupunbicara sendiri dalam hati sambil tiduran dan tertawa-tertawa sendiri, setelahtadi membereskan dan membersihkan kamarku, sudah dua dua tahunan aku tak tidurdisini, berdebu dan kotor, walau kata Tante sering dibersihkan. Yah namanya jugandak pernah ditempati, tadi pun aku yang ganti lampunya, karena sudah padam,eits, jangan salah, biar gini-gini aku jago lo ganti lampu kamar sendiri pakaitangga, hehehe.
KubukaHandphone dan kukabari Abah dan Bunda, bahwa putrinya tersayang sudah sampai dirumah nenek dengan selamat dan sehat. Eh ternyata ada SMS yang tak ku kenalnomernya.
assalamualaikum Manisw, gimanakabarnya?Sepi banget kontak masukku, gimana liburanya? Pasti menyenangkan, sekarang lagidimana nih? Kalau dirumah boleh dong mampir? aku ada rencana liburan seru nih,boleh ya…?” kupikir itu dari salah satu sobatku atau temenku perempuandisekolah, ternyata dari Adi. Yeeee, senengbanget deh di SMS lagi.
waalaikumsalam, ya aku sebagaiperempuan nunggu kamu SMS dulu dong, hehehe. Kabarku baik kok, kamu? iya Di,aku lagi di rumah Nenek, baru aja nyampe,wah jangan dulu ya kalau main kerumah, aku lagi nggak dirumah nih, dan awas,jangan main kerumahku, kasihan aku pasti dimarahin tau…!”
“Ya sudah, aku mau ke Jogja nih, ikut ndak? Ntar tak ajak kamu keliling Jogjadeh Manisw…!”
“(yah dia nggak tau kalau aku sudah di Jogja. Hehehe)” “ iya kamu saja liburansendiri, toh juga kamu ada keluarga kan!”
“Keluargaku sibuk semua, ndak ada yang mau diajak liburan, Abah ke Kalimantan,Ummiku ada tugas dinas, aku sendirian dirumah nih Manisw!”
“Iya kapan-kapan aku temenin deh, tapi bukan liburan kali ini ya, kita kan belumjadi apa-apa! Eh, hehehe”
“lakamu maunya kita jadi apa? Atau?”
“eh eh eh ndak-ndak, hehehe… bercanda kok!”
“Ya udah, aku mau mandi dulu Di,mungkin aku akan jarang SMS kamu, aku mau tenangin diriku dulu…I love uAdi….!!! (Eh? Yang terahir… jangan dulu, bisa ke GR-an tu bocah, biarkan diajadi anak baik-baik dulu aja, nanti bisa makin suka lagi dia sama aku! Hahaha)”segera kuhapus tiga kata di SMS terahirku yang bisa mengubah peradaban, hehehe(lebay) dan ku send ke dia! “Send…….!”
  “ Ya udah,aku mau mandi dulu Di, mungkin aku akan jarang SMS kamu, aku mau tenangindiriku dulu… jaga dirimu baik-baik, yang semangat ya hafalin Qur’an, besokkalau masuk aku minta diajarin lagi.AssalamualaikumAdi…!
Selepassalat magrib ku ajak Tanteku ke Malioboro untuk melihat-lihat dan membeli makanmalam disana, akan tetapi dia belum mau, hingga akhirnya kubujuk dan kurayu,belum tau rayuan mautku, siapapun tak kan menolak kemauanku jika kurayu,hehehehe. Selepas salat isya aku dan tanteku pergi ke Malioboro.
“welcome Malioboro, dua tahun yang lalu kita berjumpa, kau tak nampak berubahsedikitpun!”
 Aku membeli Gudeg, sebenarnya di Pati juga adagudek khas Jogja, tapi lebih afdholkalau belinya langsung disini, alunan nada indah pengamen jalanan mengiringimakan malamku bersama Tanteku, ketika aku menengok kebelakang…
astagfirullahaladzim Adi?” untungsuaraku ndak keras, jadi dia ndak dengar, segera kupercepat makanku dan kumintaTanteku yang bayarin dulu, karena Adiada didekat kasir. Akupun meninggalkan warteg perlahan-lahan.
            Sesampainya dirumah Nenek aku di SMSAdi, dia memberitahuku bahwa dia ada di Malioboro sekitar jam delapan, akutertawa sendirian dikamarku karena aku hampir saja ketahuan jajan ditempat yangsama denganya. Aku balas saja dengan nada yang menyenangkan sehingga dia takNampak curiga. Akupun mencoba untuk tidur setelah membalas beberapa SMSdarinya, kasihan juga aku kaalau tidak dibalas.
            Suara burung-burung malam danjangkrik membangunkanku dari sangkarku, membawa angin semilir yang masukmelalui celah jendela yang terbuat dari jati emas, menusuk-nusuk tulangku,sungguh udara disini sangat dingin, dua kali lipat dari dingin di Pati. disinisuasananya sangat nyaman, tak seperti di Pati, setiap detik terdengar suaramotor dan mobil-mobil besar yang lalu lalang, maklum rumahku di Pati dekatdengan jalur Pantura Jawa. Hari ini pun aku berhasil mengajak tanteku ke parangtritis (Paris), pantai yang indah danbesar ombaknya, aku menikmati segelas es degan dan roti yang kubeli daripedagang yang ada disekitar pantai, aku duduk di pasir putih dan menikmatisenja bersama Tanteku, tiba-tiba suara taka sing dating menghampiriku.
            “ Manisw? Apakabar? Lama tak jumpa!”
            “ Adi? Sejak kapan disini? Kokkamu…?”
“ Ditanya balik nanya, hehehe, ndak perlu kamu tahuaku sejak kapan, yang jelas aku menemukanmu saat di Malioboro!”
“ Jadi? Hehehehehe”
“ Kamu itu lo…eh, kita dipertemukan Allah disinidengan maksud tertentu lho?”
“ Emangnya apa Di?”
“ Mau nggak kamu jadi pacar aku? Biarlah aku nantidibuang kemana, yang jelas aku suka sama kamu, aku cinta sama kamu, aku inginkamu jadi pendampingku suatu saat nanti! Huwh lega…!”
            Aku hanya terdiam membisu, karenadisampingku masih ada Tanteku. “ Tante, aku tinggal sebentar ya?”
Akhirnyaaku pun mengandeng tangan Adi menjauh dari Tanteku. “kamu itu gila ya Di? Kamunggak tau ada Tanteku, aku benci kamu!” sambil berlari meninggalkanya.
Tapidia mengejarku dan berhasil memegang tanganku. “ aku sayang kamu Manisw, maukahkamu menjadi istriku?” sambil menyodorkan cincin emas bermatakan berlian.Diapun berlutut dihadapanku, momen yang indah banget pokoknya.
“inigila Di, aku masih SMA, kamu juga! Aku ndak mau kamu jauh dariku makanya akumenjauhimu, aku juga cinta sama kamu Di, aku juga sayang banget sama kamu, akujuga mau hidup denganmu. Tapi aku tak bisa sekarang Di… bila kita jodoh kitandak kemana kok, kita berteman saja ya, dan bukan teman tapi mesrah, lepaskantanganku! Cepat!”
Akupunmemintanya untuk berteman, mungkin ini yang terbaik bagi kami, tapi aku izinkandia memakaikan cincin itu dijari manisku, kamipun menikmati senja dan merapatketempat Tanteku sambil berkompromi menjelaskan semua ini. hehehehe
“ Manisw, I loveu!”
“ love u tooAdi…!”

Kupilih Bundaku Tercinta


Bulan sabit malam yangmasih samar dipojok langit menemaniku dalam kegembiraan sekaligus kesedihan  yang baru saja kudapat beberapa waktu yanglalu setelah senja berlalu.  Senja yangsangat indah pikirku, namun tak bertahan lama, sebenarnya aku ingin menikmatisenja lebih lama, mungkin 12 jam atau 24 jam. Apakah bisa? Hal itu mustahil,karena senja hanya diberi waktu sejenak untuk muncul dan menghilang. Aku sukasenja sejak aku mengenal Adi. Dia juga punya banyak sekali foto tentang senjadi galerinya, Adi juga seorang fotografer, mungkin masih amatiran, tapi hasiljepretanya sungguh luar biasa, aku sering menikmatinya di  akun flickrmiliknya.
Senja memberiku berjutainspirasi, karena aku sering menghabiskan senja bersama Adi yang masihberseragam sekolah, lalu kami pulang kerumah masing-masing. Ya itulah rutinitaskami setiap hari selama beberapa bulan ini, bundaku mulai curiga padaku, akupunharus pandai-pandai beralasan, sungguh ini sangat tidak aku inginkan,membohongi bundaku sendiri demi rasaku pada Adi.
“jam segini anak bundaselalu baru pulang? Sudah salat asar tadi sayang?” setiba dirumah setelahmengetuk pintu dan mengucapkan salam itulah yang selalu bunda ucapkan setiaphari, mungkin kali ini sudah jengkel.
“sudah bunda Alhamdulillah. Tepat waktu, berjamaah,dan di shaff pertama dimasjid sekolah!”
“masih sering rapat ya? rapat apa tho?”
Aku sedikit berfikirulang untuk menjawab pertanyaan bundaku kali ini, wajahnya serem dan melototpadaku, sepertinya bunda marah besar kali ini. “ rapat kegiatan buat besokbund, itu rapat mau mengadakan kemah.”
“ bunda boleh mintasesuatu nggak sama neng Manisw?”
“boleh kok bund, apasaja yang bunda minta insya allah Manisw Turutin kalau Manisw bisa bund!”sepertinya bunda memintaku untuk berhenti dari organisasi yang selama ini tidakpernah aku ikuti, aku memang nakal sekarang.
“ neng nggak usah ikutorganisasi itu lagi ya neng, Bunda cemasin neng, setiap hari jam segini barupulang, jalanan sudah sepi, apalagi neng jalan kaki lagi? Ya neng ya? Nengsaying kan sama bunda?”
Akupun segera mendekatibundaku dan memeluknya. “Kalau itu yang bunda mau, besok aku akan langsungberhenti bund, maafin Manisw ya bund, sudah bikin bunda kawatir setiapharinya.!”
Bunda pun mengencangkanpelukanya padaku dan berkata. “ anak bunda nggak boleh nakal, nggak bolehbohong dan nggak boleh manja ya? Sana ganti baju dan istirahat sayang!”
“ baik bund…!”
Akupun melepaspelukanku dan menuju kamarku dilantai dua, saat menaikki tangga kepalakupusing, tiba-tiba air mata ini menetes, sunnguh tega aku membohongi bunda.  Aku pun tak lantas ganti baju, aku sudahnggak kuat, kepalaku pusing  dan suhutubuhku meningkat, sepertinya aku terlalu banyak membohongi bunda, dan hal itumenjadi beban yang selama ini ku alami. Akupun tertidur pulas hingga akudibangunkan bunda.
“ Neng, bangun neng,sana mandi terus salat! Sudah mau magrib lo?”
“ iya bund, sepertinyaaku nggak enak badan!”
Bundakupun memegangikeningku, memegang leherku dan mengecek denyut nadiku. “ mungkin neng kecapekandan banyak pikiran? Apa yang neng pikirkan? Pasti soal organisasi tadi ya?Gimana kemahnya neng?”
“  ndak kok bund, hehehe…! Manisw sudahmemutuskan untuk tidak mengikuti organisasi itu lagi bund! Tadi neng sudah SMSpak ketuanya supaya neng berhenti selamanya!”
“ ya sudah, neng mandiya, sebentar lagi waktu magrib!”
Akupun segera menujukekamar mandi, kubasuh mukaku dan mandi, selepas mandi aku langsung menujumusola seperti biasa bersama abah dan bunda. Aku sedari tadi tak memeganghandphoneku, kemarin saja aku ke musola bawa handphone. Selepas salat magrib kuambil HPku dari almari tempatku menyimpanya, takut dilihat bunda sehingga akuumpetin ditempat yang aman didalam lemari, banyak sekali SMS yang masuk danPanggilan Tak Terjawab. 23 SMS masuk dan 8 panggilan tak terjawab, semua dariAdi.
“assalamualaikumManisw, lagi apa? Kok nggak balas?”
“sudah mandi belum? Eh senjanya baguslo, ditemani sama bulan sabit, maaf bila menganggu Manisw, tapi setidaknya akudikasih kabar dong kamu lagi ngapain?” Dan seterusnya, dia mencemaskanku, tapiaku mencemaskan diriku sendiri yang selalu harus berbohong pada bunda.
“maaf ndak ngabarinkamu Di, tadi badanku drop, tadi aku istirahat, iya tadi sebelum aku tidur jugalihat senja dibalik jendela.”  Danseterusnya kubalaslah satu per satu SMS darinya. Aku harus menghentikan semuaini.
***
“  Assalamualaikummanisw, nanti sepulang sekolah aku ingin bicara denganmu, boleh minta waktunyakan?” HPku bergetar dalam sakuku ketika jam terahir hampir usai. Hari ini pelajaranyaagak santai, tadi pagi bersih-bersih dan persiapan Ulangan kenaikan besoksiang. Mulai dari membersihkan kaca jendela, membersihkan papan tulis, menyapudan mengepel lantai, menyapu langit-langit kelas, hingga kelas tampak bersihdan kinclong.
“ oh iya Di, aku jugamau bicara banyak padamu! Ketemuan dimana?”
“ di taman kota sepertibiasa!”
“ tapi jangan lama-lamaya di, aku lagi nggak enak badan kok!”
“ teang saja, hehehepaling sepuluh sampai limabelas menit doing kok kali ini, aku juga ada urusandirumah!”
Akupun menantinya ditamansekitar jam tiga sore sepulang sekolah, dedaunan seolah menyapa, dan bicara denganku“ wah sang pendusta datang menemui pangeranya ini, sementara sang bundanyamenunggu kedatanganya dengan cemas didepan rumah.”  Ranting pun menyaut, “ eh iya nih, ada nengcantik yang datang sepeerti biasa dengan sejuta kebahagiaan dan kesedihan.”Lalu batang pohon pun membelaku “ sudah jangan dihina terus, neng Manisw sedangmenuju kedewasaan, dia juga bisa berfikir kok sekarang, mana yang baik dan manayang benar!” tau ah, kepalaku pusing. Aku melamun jauh dan merenungkan apa yangdikatakan benda-benda sekitarku.
“ hey? “ suara itumengagetkanku, tak biasanya dia menyuarakan itu, biasanya didahului dengansalam!
“kok melamun aja Maniswmelamun apa? Maaf agak lama tadi aku beli bensin dipom! Oh iya kamu sudah lamanggak disini? Maaf banget!”
“banyak banget  bukan maaf banget, aku mau jawab yang manadulu? Hehehehe”
“ iya, kamu nggak enakbadan, to the point aja, aku maubicara padamu Manisw, aku dulu apa kamu dulu nih? Hehehe”
“ ya udah kamu dulu ajadeh!” akupun menyuruhnya bicara duluan, rasanya senang sekali bisa bertemudengan dia lagi, bisa melihat wajahnya, tapi aku juga sedih, bundaku menunggukudirumah.
“ begini Manisw, aku sudahbeberapa bulan ini kenal denganmu, aku juga merasa nyaman denganmu, namun akutahu ini adalah hal yang tak mungkin bisa kita lakukan!”
“tunggu-tunggu,emangnya kita mau ngapain Di?” aku jadi semakin deg-degan.
“ sebentar, inipembukaanya belum selesai, hehehe. Aku lanjutin ya?”
“iya silahkan saja Di,cepet jangan buat aku semakin penasaran!”
“ aku suka padamuManisw!”
“Deg-deg-deg-deg-degdeg-deg……….(haberhenti?) deg-deg-deg deg...”
“Alhamdulillah…nyalalagi jantungku.” Rasanya tak bisa bergerak dan tak bisa ngomong. Bukan yangpertama ini ada seorang lelaki yang menyatakan cinta padaku, tapi kali inibegitu mengena dan membuatku mematung.
“kenapa kau Manisw?Jangan bilang serangan jantung! Hehehe”
Aku masih terdiam danmenunduk, ku keluarkan botol air mineral dari dalam tasku yang kebetulan sudahhabis. Dia tawarkan padaku sebotol air yang dia bawa, segera ku minum setelahmengucap basmallah. Angin seketikamenghembus dan menerbangkan dedaunan yang kering, berserakan ditanah, sepertidalam film-film drama romantis korea. Aku tak kan menjawab dan menanggapipernyataanya ini, karena akan semakin menyiksaku, tapi aku juga suka denganmuAdi, andai aku bisa mengungkapkanya, mungkin suatu saat aku akanmengunggkapkannya.
“tak perlu ku jawabkan? Karena kamu sudah tahu jawabanya Di?”
“aku tak memintamuuntuk berpacaran denganku Manisw, karena keluargakupun tak kan pernahmenyetujinya dan aku pasti langsung diusir dan dipondokkan lagi ditempat yangsebelumnya belum pernah ku tinggali, aku juga pernah suka dengan seorang gadiswaktu aku kelas satu SMA, ketika Romo dan Ummiku tau, aku langsung dipindahkanditempat yang jauh dan aku tersiksa walau aku suka dengan lingkungan pondok.”
“Iya, kau sudah pernahbercerita banyak tentang itu padaku!”
“sekarang giliranku, kamutahu kan kalau aku sering berbohong pada bundaku, gara-gara kita seringmenikmati senja bersama, aku kemarin malam sudah bilang kalau aku sudahberhenti dari organisasi, jadi aku tidak bisa menemanimu, dengan berat hati akuharus segera pulang setelah selesai les, kamu juga supaya tidak ketahuan orangtua kamu, lanjutkan saja ngajimu, bulatkan tekatmu mengafal Al Qur’an. Aku akansangat bangga bila kamu menjadi hafidz
“ kulanjutkan, jangandipotong dulu, jadi kita tetep bisa berteman seperti biasa, dan kta buktikansiapa yang lebih jago dalam bidang akademik, dan aku juga tetap minta diajarinngaji sama kamu, jadi kita bisa bersama sebentar ketika masih disekolah, mulaihari ini kita tak akan ada momen melihat senja lagi!”
“untuk sore ini saja?Terahir kalinya? Bolehkah?”
“tetap tidak boleh! Akusudah berjanji dengan bundaku!”
Akupun menjadi bimbang ketika dia terusmembujukku untuk melihat senja sore ini, ya allah, apakah yang kulakukan inibenar? Izinkan aku melihat senja dengannya sore ini, untuk yang terahir kalinyaya allah, buat supaya bunda tidak marah padaku.
Akupun pulang terlalupetang lagi kali ini. Pasti bunda marah, dan benar, aku dibentak bunda untukpertama kalinya, mungkin wujud rasa sayangnya padaku. Kujelaskan pada bunda,ini yang terahir bund, tadi perpisahan dengan teman-teman sambil ku teteskanair mata ini.
“ (bund ini terahirkali aku menipu bunda, tak akan ku ulangi lagi dosaku selama ini mulai besokbund, suatu saat aku akan memberitahukan pada bunda tentang semua ini.amin!)” 

Apa yang kulakukan ini benar?


Rintikhujan menetes dan membasahi setiap apa yang ia temui, tak memberi kesempatanpada embun untuk menampakkan dirinya pagi ini. Suasana pun menjadi ramai, hujandiluar sana berteriak-teriak ketika berbenturan dengan apa yang ia temui,terutama ketika ia menemui genting, sepertinya besar-besar hujannya. Angin yangberhembus melalui cela-cela jendela masuk dan menusuk tulang, membangunkankudari rasa malas dan rasa kantuk yang terus menyerangku sepanjang malam.  Ternyata sudah waktunya salat subuh, bukanwaktunya sih, sudah kelewat hampir satu jam yang lalu kata jam bekerku yangterus saja mengoceh. Kumatikan jam dan kubereskan tempat tidurku.
Hujanmasih menunjukkan dengan lantang kekuatanya diluar sana, Sepertinya akubenar-benar kesiangan kali ini, setelah ku ucapkan salam yang kedua jam bekerkukembali berdering. Oh iya, jam bekerku ini bisa ku seting beberapa kali deringan,yang pertama mungkin setiap senin kamis akan berdering jam tiga, terus jamempat lebih lima belas akan berdering kembali menginggatkanku salat subuh, jamsetengah enam berdering untuk menginggatkanku mandi, dan seterusnya.
Sepertinyahujan membujukku untuk tidak mandi pagi ini, tapi nanti gimana disekolah kata teman-temanku, pasti bau deh. Kulangkahkankaki perlahan ke dapur, kuletakkan panci diatas kompor gas dan kunyalakan biruapi untuk menghangatkan beberapa liter air didalamnya. Setelah menunggu sekitarlimabelas menit, kuangkat panci dengan dua sapu tangan dan kubawa ke kamarmandi, kutuangkan kedalam ember hitam dan kuberi air yang dingin, akhirnyamandi juga.
Istanakurumahku, entah kebalik, rumahku istanaku pagi ini menyediakan menu makan yanglezat sepertinya, sedari tadi bunda sudah sibuk didapur, mungkin sebelum akubangun tidur, hehehe. Aku perempuan tetapi belum bisa masak apa-apa, masak airsaja gosong pancinya, hahahaha. Entahlah aku ingin sekali dihari minggu atauhari yang luang minta diajari masak, terserahlah masak apa saja. Tapi aku takberani bilang ke bunda, takutnya dibilang “ eh anak bunda habis kesambet apaya?” hehehe. Kata-kata itu membuat pipiku yang tembem mancung kedepan danmemerah.
Selepassarapan aku siap-siap, kukenakan sepatuku yang berwarna putih, hari ini haribebas, biasanya hitam terus setiap hari, kecuali rabu dan kamis. Aku langsungmenuju ke garasi untuk bonceng abah atau bunda, kalau abah naik mobil, kalaubunda bawa motorKutemukan sepucuksurat diatas meja dekat garasi.
“Maniswatun Khasanah, abah dan bunda berangkat duluan ya, kamu lain kali kalautidur jangan larut malam, jadi bangunya tidak kesiangan, nanti jalan kaki sajaatau naik angkot, salam sayang. Abah-Bunda”
“ Astagfirullahaladzim….Abah sama Bunda ninggalin aku?”
Pastiini karena aku bangun kesiangan deh, terpaksa aku jalan kaki, walau jaraksekolah dan rumahku tidak lebih dari satu kilometer, daripada naik angkot,nanti aku takut diperkosa dan diculik seperti kisah temanku sekelas yangdigituin sama bapak-bapak supir angkit, hiii…ngeri. Tapi kalau hujan begini yapaling males jalan kaki. Kuambil mantel yang bergambarkan doraemon, oh iya akujuga sangat suka kartun doraemon, kucing lucu dari jepang, hehehe. Bismillah…berangkat sekolahhujan-hujanan. Tak apa lah sekali-kali menyatu dengan alam.
Ketikasampai di lampu merah dekat sekolah, aku hampir saja tertabrak mobil, saat akumenyebrang di zebra cross. Maklum aku orangnya ceroboh dan tak hati-hati,apalagi dijalan, dirumah saja sudah berapa lusin piring dan gelas yangkupecahkan, makanya aku tak pernah disuruh mencuci piring oleh bunda. Ya Allah innalillahi…..miris saja akuterserempet, kurang ajarnya lagi mobil itu tidak mau berhenti, ku usap dada inidan kukeluarkan air mineral dari tas sambil membuka jas hujanku. Sungguhperistiwa yang tidak akan pernah ku lupa pagi ini dan selamanya “M 1204 NG”itulah plat yang berhasil terjepret oleh pandanganku. Sepertinya plat itu bukanasli dari kota ini, karena setahuku plat nomor disini adalah “K” huruf awalnya.
Sampailahaku disekolah, dengan sepatu yang basah, bodohnya aku, kenapa tidak pakaisandal saja dulu tadi ya, saat berangkat. Kan jadinya nggak basah seperti inisepatunya. Sesampai dikelas aku segera buka lemari pribadiku, apakah aku pernahmeninggalkan sepatu disini, ternyata tidak. Aku risih dengan kondisi sepertiini, kalau ku copot pasti dimarahin guru walaupun alasanya kehujanan. Tiba-tibaada seorang lelaki yang baru saja ku lihat, mungkin dia murid baru, tapi kenapadia membuka rak milik salah satu temanku cowok, siapakah dia? Aku semakinpenasaran. Dia menawarkan aku sepatu cats berwarna biru hitam yang lucubentuknya.
“kenapa sepatunya? Basah ya? Pasti tidak nyaman kan? Ini tak pinjami sepatuku,aku bawa dua hari ini, tapi yang satu sepatu basket. Tak apa lah kau pakai yangini, biar aku memakai sepatu basket!”
“(siapa dia, baik bener, perasaan belum kenal, sok akrab, atau…?)” “ oh iyaterimakasih ya mas!”
Segeraaku beranjak dari tempat itu menuju bangkuku, dimana dia duduk? Kucari kursisiapa yang dia duduki, tapi tak kutemukan dia sesaat setelah bel berbunyi,apakah dia hantu? Jangan-jangan? Hantu beneran…! Hiii….! Aku terus membatindalam hati hingga sesaat Kepala Sekolah bersama BK dan Pak Handi tercinta…(gurumatematikaku yang tergalak) masuk kedalam kelas bersama dua orang asing, yang satumemakai seragam kotak-kotak warna merah, yang pak tua berkumis memakai jaswarna hitam. Sepertinya aku pernah melihat pak tua berkumis ini? Tapi dimanaya? Kembali aku membatin.
“ assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh, selamat pagi anak-anakku tercinta!” pak Kepsek mengawali pembicaraan padakesempatan kali ini dengan senyum khasnya.
waalaikum salam warohmatullahiwabarokatuh pak, selamat pagi…!” ku jawab dengan lantang dan bareng denganteman-temanku satu kelas.
“kedatanganbapak disini bermaksud memperkenalkan salah satu murid baru yang akan menjaditeman baru kalian selama kurang lebih setahun kedepan, dia bernama Rahmad AdiSusanto putra dari bapak Aji Susanto, dia disini melanjutkan studinya setelahpindah karena mengikuti bapaknya tugas disini, dikota kita tercinta ini.Silahkan nak Adi perkenalkan dirimu!”
“selamat pagi teman-teman, nama saya Rahmad Adi Susanto, saya ingin bertemandengan kalian semua disini, semoga kalian mau menerima saya dengan baik.Terimakasih.”
“itutadi perkenalan dari nak Adi, tunjukkan sikap ramah kalian dan kita disinisudah menjadi satu keluarga, bapak tinggal, silahkan nak Adi bisa dudukdisebelah nak Manisw untuk menerima pelajaran pertama pagi ini yaitumatematika, bukan begitu pak Hands?”
PakHands, nama sapaan dari pak handi pun menjawab pertanyaan dari pak kepalasekolah. Pelajaran paling membosankan itu pun dimulai.
***
Semenjakitu akupun berkenalan dengan Adi, rasa deg-degan sempat melandaku ketikapertama kali dia duduk disebelahku, sepertinya aku jatuh cinta pada pandanganke dua. Yang pertama tadi saat dia menawarkan sepatu padaku. Dia orangnya cukupbaik, ramah dan aku paling suka dengan dia, kerana dia walau anak orang kayabahkan anak pejabat, tetapi agamanya sangat bagus, suaranya saat melantunkanayat-ayat suci itu sangat merdu, setiap ada jam kosong dia sempatkan dimasjidsekolah untuk salat sunah, diam-diam aku selalu mengikutinya. Aku pernah mintadia untuk mengajariku membaca dengan lancar, dia beri aku contoh dengan ilmutajuwid yang benar, subhamallah….Suaranya membuatku merasa tentram, tenang, damai, dan nyaman, ya meski akusampai sekarang masih susah jika membaca dengan lancar. Tampangnya pun lebihtampan dari teman-temanku cowok yang sekelas, ah, jangan sampai aku jatuh hatipadanya, entahlah. Perasaan ini setiap pagi berbunga-bunga sejak sebelahandengan Adi. Dia itu seperti orang dewasa, pendiam namun bijaksana, sekaliberkata langsung banyak pengaruhnya. Dia itu seperti Ridho Rhoma. Ya mungkinsebelas duabelas dengan Ridho Rhoma putra dari penyanyi dangdut terkenal diIndonesia.
Akupunkini sering berkomunikasi dengan dia lewat sms setiap harinya, so sweet bangetdia perhatian banget denganku..! Aku jadi sering tertawa-tertawa sendirididepan handphoneku yang sebelum kenal dia belum pernah aku alami hal semacamini. Bunda pun pernah memergoki aku cengingisan sambil ngetik sms di atas kamar tidurku. Bunda pun semakin curiga dansuatu malam aku kepergok melakukan itu lagi.
“hayo anak bunda katanya mau tidur tadi? Katanya saat belajar ngantuk? Apakahanak bunda yang canti ini sudah pinter bohong ya?”
“ohndak bund! Ini aku mau tidur!” kukira bundaku tak tahu .
“tidur apa smsan sambil tertawa sendiri sampai larut malam?”
“loh bunda tau dari mana bund? aku terkejut.
“sudah, nggak perlu tahu  bunda tau dari mana, kamu sudah punya pacarya?” “ah bunda, belum kok, beneran bund, aku nggak bohong kali ini!”
“lalu yang bunda baca waktu itu apa? Saat kamu sudah tertidur pulas danhandphone mu masih diatas kasur, sudah bunda bilang kan, ndak baik tidurmalam-malam apalagi menaruh HP diatas ranjang, sudah tau bahayanya kan?”
“(matiaku, smsku dan Adi dibaca bunda)” “iya bund, maaf Manisw telah berbohong padabunda, manisw nggak kan ulangi lagi bund. Janji…!”
“satulagi, kamu ndak boleh pacaran, kalau kamu pacaran, nanti bunda home schoolingkan kamu! Cepat tidur!” bunda pun pergi meninggalkan kamarku setelah mematikanlampu utama dan menutup pintu dengan sedikit membanting. Mungkin bunda kesaldenganku.
***
Pagipunmengetuk pintu. Hari ini hari yang sangat menyenangkan, aku diajak Adiketemuan, ya meski setiap hari kami sudah bertemu dan duduk sebangku, tapi diabilang Cuma ingin berduaan denganku, dan akupun menemuinya, disebuah taman kotadekat SMA kami sepulang sekolah, aku diajak banyak bicara dengannya, dia jugasempat bertanya tentang namaku artinya apa, kesukaanku apa,hal yang paling kubenci, dan membicarakan hal-hal yang menyenangkan, seolah-olah dia inginmengetahui pribadiku lebih dalam. mungkin dia juga merasakan hal yang samadengan apa yang kurasakan saat ini. Aku ingin sekali lama-lama disini, tapihari tak terasa sudah hampir gelap ketika kami selesai menghabiskan dua bungkusmagnum gold yang sangat lezat dan enak, dia membelikannya untukku ketika diatahu kalau aku suka es krim. Dia juga menawariku untuk mengantar pulang, tapiaku menolak, aku takut aku dimarahi bundaku ketika bunda tau aku diboncengcowok sampai larut begini, aku saja binggung mau memberi alasan apa kali ini,karena aku sudah sering pulang sore ketika aku diajak jalan-jalan dengan Adi.Maafkan aku bundaku tersayang.
“(Adi, aku suka padamu, aku sangat suka padamu, aku ingin kamu temanihari-hariku)” dan aku hanya diam tersipu malu saat dia menatapku.

Suamiku Hadi, Bukan Adi


“Terukirindah kisah cinta kita, menjadi saksi pulangnya sang senja, mendawai rindu akankehadiranmu,  kiniku sendiri ditemani bayang-bayangilusi… tanpamu!”  lagu ciptaan kamiberdua saat menikmati senja.
“dimanasekarang kamu Di?  Apa kabarmu, akumerindukanmu Di, sekarang kamu kerja jadi apa Di sudah punya istri belum? Sudahpunya anak belum?”
Rasarindu ini tak tertahan lagi, enam tahun Adi meninggalkanku tanpa jejak,berbagai fikiran negatif tentangnya pun terlontar dipikiranku yang semakinberkecambuk, kau tinggalkan kisah cinta kita, kau buat aku mengenal cinta,namun kau jatuhkan cinta itu. Semenjak kisah kita ketahuan oleh Abahnya Adi dialangsung dibuang keluar Jawa, entah aku tak tau dia ada dimana, mungkinhandphone dan laptopnya juga disita, sayang sekali dia tak tau alamat rumahkudisini, karena kami tak pernah mempersiapkan hal terburuk yang akan kami alami.Facebooknya juga sudah tidak pernah aktif, percuma aku menangis sambilmenuliskan beberapa kalimat harapan agar dia membalas di inboxnya, sungguh inibenar-benar diluar dugaanku. Ya Allah berilah aku pertanda akan kehadiranya,supaya hati ini tentram, dan bila dia jodohku yang engkau pilihkan untukkudekatkanlah dia, namun bila dia bukan jodohku segeralah hapus dia dariingatanku ya Allah. Amin
Mungkinini karena dosa-dosaku yang begitu tega membohongi Bundaku tercinta, aku memangbelum pernah membohongi Bundaku sebelumnya, makanya hari ini aku akan jujurpada bundaku. Sudah enam tahun dosa itu tak terkuak, sejak aku lulus SMA, luluskuliah S1, dan sekarang menjadi tenaga pendidik disalah satu Sekolah Dasar. Akumengajari murid-muridku untuk tidak berbohong, terutama pada kedua orang tuadan teman, tapi aku pernah berbohong, sungguh jangal rasanya bila ingat hal tersebut.
Senjapunkembali menyapa, Abah dan Bunda sedang duduk berdua di beranda rumah menikmatimasa-masa yang sangat mereka sukai, Abah begitu sayang dengan Bunda, begitupula dengan Bunda, begitu setia menemani Abah saat sakit, senang, sedih, dansaat-saat genting lainnya. Setiap bakdamagrib aku, Abah dan Bunda selalu membaca Al Qur’an hingga beberapa kali Khatam. Hatikupun merasa ingin untukmembangun keluarga yang seperti itu, tapi bersama Adi. Kudekati Abah dan Bundakudan duduk diantara meraka.
“Tumben Neng duduk bersama Abah dan Bunda? Ada apa Neng?”
“Ndak bund, Cuma pengen disini saja, menikmati senja bersama Abah dan Bunda!” LaluAbah mulai memancing-mancing aku untuk segera mengakhiri lajangku, itu yangselalu Abah katakana, membuat aku semakin tersiksa, kalau Bunda sih terserahaku kapan mau nikahnya.
“Neng, usia neng sekarang udah berapa?” Tanya Abah nyindir.
“Iya-iya Bah, Manisw tau, sudah saatnya kan?”
“ Bukan maksud Abah ngusir Neng dari sini, karena Nengkan tau sendiri, Bundamu sudah pengen sekali mengendong cucu, Neng kansatu-satunya harapan Abah dan Bunda!”
Iyamenag satu-satunya, karena aku memang tak punya kakak dan tak punya adik, entahapa pikiran Abah dan Bunda. Dulu ketika aku masih kelas satu SD sering bangetminta adik, bahkan aku ndak mau pulang saat tetanggaku yang kebetulan jugatemanku yang seumuranku punya adik,  akusempat menginap beberapa bulan dirumah Rini, Rini adalah teman sekelaskusekaligus teman bermainku waktu SD tapi ketika SMP dan SMA kami tak pernah satusekolah lagi, namun tetap kami menjadi teman akrab, hal itu aku lakukan karenasaking pengenya punya adik, tapi apa, nihil. Sekarang apa? Aku semakin terpojokkalau seperti ini.
“ Lihat Neng, temenmu Rini sudah punya anak usiahampir dua tahun, sedangkan Neng?  Nengbelum punya suami. Calon saja belum!“
“ Ya tapi kan itu pilihanya Rini Abah menikah muda, tohdia juga sudah siap, dia kan tubuhnya besar, la aku kan masih seperti anakkecil bah…! Belum siap!”
“ Dilamar sama beberapa orang saja malah ditolak, Abahmalu lo waktu kemarin kamu nolak anaknya guru Abah, tapi ya semua terserah Neng!Sebenarnya ada orang yang sedang kamu tunggu ya Neng?”
“Kok Abah tau bah? Manisw sekalian mau cerita deh sama Abah dan Bunda!”
“ Gini Bah, Bund, maaf ni ya sebelumnya, Abah sama Bundamasih ingat ndak waktu Manisw sering pulang agak sorean bahkan sampai malamkan?”
“ Yang mana ya Neng, Abah lupa?” tiba-tiba Abahmenjawab duluan, ya pantes lah Abah lupa, saat itu Abah  masih sering tugas keluar kota.
“Bund? Ingat ndak Bunda sering memarahi Manisw saat itu?”
“Ya ingat, Neng tak suruh berhenti dari organisasi ekskul kan?”
“ Iya bund, tapi aku mau jujur ya sama Abah dan Bunda,tapi jangan marah ya?” mereka hanya mengangguk penasaran.
“ Gini Bah, Bund, duluwaktu ada murid baru disekolahku, namanya Adi, dia itu kharismatik banget, akujatuh hati pada pandangan pertama Bund, terus aku mulai berkenalan dengan diadan kami sering jalan berdua!”
“ La terus mana sekarang orangnya, suruh datang kesini,suruh melamarmu, atau kamu Abah nikahkan dengan anaknya Guru Abah!”
“ Sabar Bah, sabar, ceritanya belum selesai. Aku kandulu sering pulang larut kan, sebenernya itu ndak rapat tiap hari, aku jugandak pernah ikut apa-apa. Aku terpaksa bohong sama Bunda supaya aku bisamenikmati senja bersama Adi!”
Bundakupunmeneteskan air mata dan tak berkata apa-apa, lalu pergi dari tempat itu danmasuk kedalalm rumah, Abahpun kecewa dan akhirnya Abah marah.
“ Pokoknya mau ndak mau kamu harus nikah sama Hadi,putra Gurunya Abah. Tidak ada menolak, tidak ada tapi-tapian. Titik!”
Menyesalaku jujur sama Bunda, aku terpaksa menikah dengan pemuda yang tak pernahkukenal sebelumnya. Walau dia anak kyai besar, tapi aku tak cinta, cintakuhanya untuk Adi.
***
assalatu khairum minannaum… assalatu khairum minannaum…. suara khas adzan salat subuh itu menjadisaksiku saat dikamar, biasanya kamarku saat terdengar adzan berkumandang darimusola masih gelap, masih tidur bahkan aku, walau sudah dibangunin Abah dan Bundauntuk pergi musola, tapi tidak dengan pagi ini, aku sudah selesai mandi sedaritadi jam dua pagi dan melaksanakan serangkaian kegiatan yang sangatmenyenangkan, sebelum esok datang, menyenangkan bila calon suamiku adalah Adi.Tapi tidak kali ini, mungkin dia disana juga sudah menikah dengan wanitapilihan Abah dan Umminya, jadi inilah jalanku saat ini, dan aku harus kuat,doa-doaku yang panjang terjawab sudah hari ini dan seterusnya.
Aku akan melaksanakan Ijab Qobul sekaligus resepsi pernikahan denganlaki-laki yang tak pernah aku kenal bagaimana kepribadiannya dan aku belumakrab dengannya. Yang paling utama aku tak cinta.
Diluar kamar sudah lalu lalang saudara-saudara Abah dan Bunda yang sibukmempersiapkan semuanya. Suara check soundpun nyaring terdengar dari sini. Aku pasang wajah gembira dan senyum manis yangmempesona setiap mata yang melihat, hari ini aku terlihat cantik dengan gaunputih yang sangat indah berlapiskan butiran-butiran berlian. Segera kukenakansepatu hak tinggi sekitar lima centimeter dan selesailah riasan dikepalaku yangagak berat yang sedari tadi dipasangkan dikepalaku.
( “Adi, dimana kau berada, semoga kali ini kau hadir, aku tak akan lagimelarangmu datang kemari Di, dengarkan aku, datanglah dan bawa aku lari darisini, bukankah kau cinta padaku?”)
Akupun minta untuk ditiggal sendiri sebelum aku keluar dari kamar olehibu perias tua itu, aku hanya ingin memantapkan niatku beribadah tanpa terpaksahari ini.
“Di, maafkan aku harus menikah, aku tak tau kamu ada dimana? Aku jugatak tau kamu disana sudah beristri atau belum, sungguh aku bimbang Di, tanpaada kejelasan darimu, ini cincinmu masih kupakai kok Di, datang ya di, sebelumku lepaskan cincin ini, dulu kau pernah memasangkannya dijari manisku, tantekudi Jogja(Paris) saksinya Di, sekarangkamu dimana?”
Tiba-tiba bundakupun datang menagetkanku, sebelum detik ini bunda belum pernahmau bicara padaku, mungkin bunda marah padaku, ya aku tau kesalahanku amatfatal dimasa lalu, tapi setidaknya aku tak pantas mendapatkan ganjaran yangseperti ini atas perbuatanku.
“ Bund, maafkan Manisw, jika ini memang pilihan Abah dan Bunda, apa sihyang nggak buat Bunda kalau Manisw bisa lakukan, bunda tak perlu lagi meminta,Manisw tak akan lagi berbohong, Manisw sedih hari ini bund!”
Diusaplah air mata belas kasihanku yang mengalir melewati wajahku yangsekarang sudah agak tebal, Bundapun tak mengucap satu kata apa-apa, dia hanyatersenyum dan mengandeng tanganku menuju ruang tamu yang telah disulap menjadisangat megah dan indah, akupun mengikuti langkah bundaku menuruni anak tanggadan kulihat calon suamiku sudah disana. Menantiku dengan denuh gembira, akuharus menghapus air mata dan rasa sedihku, aku harus menunjukkan bahwa akugembira. abahku pun sudah ada disana tinggal aku yang siap atau tidak. Adi akuberharap kamu datang dan membatalkan pernikahan ini dengan satu kata, yaitu“tidak sah”
“ semua sudah siap? Pengantin laki-laki ulurkan tangan saudara!”
“bismillaahirrohmaanirroohiim,astagh firulloohal’adziim 3 x, asy hadu allaa ilaaha illallooh, wa asyhadu anna muhammadarrosuulullooh.
“ Saudara Hadi Sudipranoto bin Abdul Kodir, saya nikahkan dan sayakawinkan engkau dengan Maniswatun Khasannah, dengan mas kawin emas seberatduapuluh lima gram dan uang senilai dua puluh lima ribu dua rarus lima puluhrupiah, serta seperangkat alat salat dibayar tunai.”
“ Saya terima nikah dan kawinnya Maniswatun Khasannah binti Aji Sasongkodengan mas kwain tersebut, dibayar tunai.”
“apakah sah saudara-saudara sekalian?”
“ sah…!”
alhamdulillahirobbil alamin…”
Kucium tangan suamiku yang telah sah dan ku beri dia senyuman hangatsebagai ucapan selamat datang dikehidupan rumah tangga kita yang baru padanya.Tak ada tanda-tanda Adi disini, aku harus melupakannya mulai detik ini dan saatini juga aku harus hilangkan nama itu dari otakku. Akupun menuju ke mobil untukproses resepsi dirumah Mas Hadi, suamiku. Sebelum aku masuk mobil aku lihatsekitar kanan kiriku apakah Adi ada disini atau tidak, hanya memastikan sekalilagi. Ternyata memang tak ada tanda-tanda kehadirannya disini.
Ketika aku berada dijalan, sesaat setelah keluar dari pintu gerbangrumahku, kulihat dua orang berjalan. yang perempuan berjubah membawa anak danlaki-laki berkumis dan berjamban seperti Adi, dan benar itu Adi. Subhanallah tampan sekali wajahnya, tapisiapa wanita disampingny? Dia datang terlambat ya Allah. Semoga itu istrinyatercinta. Amin

Dalam Bingkai Manisw


Tetes demi tetes airmengalir memasuki gelas kosong yang terbuat dari kaca, putih, bening tanpa adayang ditutup-tutupi, kutuangkan air bersuhu tinggi dan “pyarrr!” gelas ituawalnya retak lalu pecah menjadi  dua bagianyang memisahkan sisi-sisi yang sebelumnya menyatu. Aku memang ceroboh, itumemang sifatku sejak kecil.
Kuambil lagi satu gelasterahir yang terbuat dari atom, kutuangkan air jernih dari kendi, airnya sangatdingin, namun sayang warnanya kenapa jadi hijau. Ketika kutumpahkan airtersebut ternyata bening kembali, lalu kucampur dengan beberapa daun teh yang mengeringdan kutambah sedikit gula. Itulah aku yang sekarang. Aku adalah air dan wadahakan menentukanku dan nasibku, warna adalah kenyataan yang ada.  Hari ini Abahnya suamiku datang kerumah barukami.
“ Sudah tiga harihubungan pernikahan kita Mas? Kenapa Mas belum mau juga menyentuhku? Mas kansuka denganku, Mas kan menaruh rasa denganku semenjak Manisw diajak Abah ke rumahMas waktu itu, mas minta nomer HPku melalui sepucuk surat? Mas masih ingat?”
“ Masih Dek, iya Masmemang suka, sayang sama Adek, cinta sama Adek, tapi adeknya seperti menolakkehadiran Mas disini, Mas menunggu saat yang tepat!”
“ Sejak awal kalau Maniswmenolak Manisw ndak akan mau nikah sama Mas, Manisw akan kabur dari rumah Mas!Cinta kan bisa hadir seiring berjalanya waktu, sayangkan bisa datang jika Masbisa membuatnya! Manisw sudah sah menjadi istri Mas kan? Meski Manisw belumcinta dab sayang sama Mas!”
“ Mas tau kamu adalaki-laki lain kan yang kamu cinta? Makanya Mas tidak memberanikan diri untukmelakukan itu padamu!”
“ Lalu bagaimana nantijika Abahnya Mas tanya soal itu pada kita Mas?”
“ Jawab saja sudah!Lagipula kenapa Abah Tanya-tanya?”
“ Ndak, Manisw ndak mauberbohong lagi Mas! Manisw takut kualat!”
“ Iya, kebohonganmumembawamu menikah denganku! Iya kan?”
“ Sudah-sudah, ndakakan ada habisnya jika Mas debat terus, tiga hari kita nikah, tiga hari kitadebat!” Akupun segera menuju ruang tamu untuk menyuguhkan secangkir teh manisyang hangat kepada Abah mertuaku. Mempersilahkannya meminum dengan sopan danbersikap lemah lembut seperti wayang yang harus bergerak dengan naskah yangditulis sutradaranya, ini perintah suamiku, aku harus menurutinya, dan aku jugatak mau berbohong.
Untung Abah mertuakutak menanyakan bagaimana keadaan kita, jadi aku tak perlu memakan buahsimalakama untuk kedua kalinya. Abah kesini hanya untuk mendoakan kita danmemberi nasehat-nasehat membangun rumah tangga yang baik dan benar meski belumada cinta dan kasih sayang, Abah mungkin sudah tau apa yang terjadi pada kami,dengan hanya melihat sorot mataku yang mungkin bagian inilah bagian antipenipuan. Abahpun tak berlama-lama disini dan segera pulang, selanjutnya masihbanyak dari keluargaku maupun keluarga suamiku yang datang kerumah kami untukmember ucapan selamat dan doa-doa yang membuat kami supaya merasa mantap.Akupun hanya tersenyum gembir ketika tamu-tamu datang. Tapi tidak denganhatiku. Ya, hari ini hari ketiga pernikahanku dengan mas Hadi, anak dari gurubesar Abahku.
“ Dek, Mas mau bicarasama adek, kita kan menikah secara baik-baik, bila adek ndak suka, kita bisabatalkan pernikahan ini kok, daripada adek menderita seperti ini!”     itulah percakapan Mas Hadi yang selaludiucap dalam kamar kami, malam ini dia ulang lagi dan aku sudah ndak tahandengan kata-kata itu, tiga hari semenjak malam pertama dia mengatakan itu terus,aku merasa jadi tak berbakti dan tak berguna, kali ini aku peringatkan dia.
“ Mohon maaf ya Mas,bukan maksud Manisw sepertyi itu pada Mas, Manisw masih cinta sama laki-lakilain, memang! Manisw masih tak percaya dengan pernikahan kita, memang! TapiManisw menghargai mas! Sebagai suami Manisw! Mohon maaf jika Manisw membentakmas! Malam ini Manisw tak mau berdebat dengan mas! Manisw capek, Manisw mautidur, kalau Mas ndak mau menyentuh Manisw malam ini, mungkin besok Manisw akanpulang kerumah Abah dan Bunda saja!”
Suamikupun serbabinggung, akupun binggung, tapi malam ini dia tak juga menyentuhku, jengkelrasanya, sudah jelas-jelas aku istrinya, tapi kenapa aku diperlakukan sepertiini. Malam ini dia hanya berani mencium keningku, setelah itu dia tidur di sofakamar seperti biasa.
Keesokan harinya akumemutuskan untuk pulang, sebelum pulangpun kami berdebat, sungguh aku takmenyangka menjalani keluarga yang seperti ini, aku tak mau mengecewakan Abahdan Bunda, aku juga tak mau pernikahanku gagal, karena dalam hidupku tak akanpernah ada pernikahan kedua, ketiga dan seterusnya.
“ Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh!” tiba-tiba sajaterdengar suara orang datang pagi-pagi kerumah kami.
“Waalaikumsalam!” kamipun menjawab dengan kompak, ndaksopan banget orang itu, jam tujuh belum ada sudah datang. Segera Mas Hadimembukakan pintu dan aku menuju dapur untuk mempersiapkan pembuatan teh.Walaupun kami sebelumnya debat, tapi kami mencoba kompak jika ada tamu. MasHadi pun kedapur, kutanya siapa yang datang dia tak menjawab, dan aku dimintamembuat dua cangkir kopi setelah itu dia minta aku untuk bersama-sama disana.Aku semakin penasaran. Mungkinkah Adi.? Ya, setelah aku sampai diruang tamu,itu Adi dan perempuan yang empat hari lalu aku temui dijalan saat aku beradadidalam mobil pengantin.
“ Alhamdulillah sekarang Manisw sudah berkeluarga ya, dengan suamiyang tampan, ganteng dan soleh. Apakabar Bapak? Manisw? Sehat-sehat semua kan?”
“ Alhamdulillah beginilah Pak, mohon maaf Bapak dan Ibu ini siapanyaistri saya?” suamiku penasaran dengan kedatangan Adi, dan aku deg-deganmelihatnya sedekat ini lagi setelah perpisahan enam tahun silam.
“ itu Adi Mas, orangyang selama ini aku cintai!” akupun tinggal menjawab saja dengan jujur apa yangaku rasakan, sepontanitas banget aku menjawabnya. Suamiku sepertinya agak kagetdan berdebar jantungnya. Terlihat dari genggaman tanganya pada tanganku.
subhanallah, akhirnya kitadipertemukan juga disini Pak!”
“Istri saya seringdebat masalah ini, ternyata Bapak orangnya, masyaallahluar biasa Bapak!” entak menyindir atau memuji. Tapi Adi sekarang sudah berubahdrastis, dia memakai kain jubah dan sorban dikepalanya, kumis dan jenggot yangpanjang beserta seorang perempuan bercadar dan seorang anak kecil.
“ hehehehe, Bapak bisasaja, nama saya Adi pak, temannya Manisw waktu SMA, hehehe ya seperti inilahkeadaan saya!”
“ keadaan Bapakbagaimana? Bisa diperjelas Pak?”
“ Sudah hampir enamtahun saya mencari cara untuk pulang ke Pati, sampai-sampai saya prustasi,karena Ayah saya tidak merestui saya pulang ke Jawa sebelum saya rampungkanhajat saya. Dan ternyata waktu kemarin saya datang kerumah Manisw, disana sudahada pesta pernikahan yang sangat bahagia! Sekali lagi saya ucapkan selamat ataspernikahan yang kalian bangun, semoga syakinah, mawadah, warohmah, danbarakallah dunia akherat pak! Amin ya Allah”
“ Sebenarnya pernikahankami ini tidak berjalan harmonis Pak, istri saya selalu mengajak saya debatsetiap malam karena menunggu Bapak datang mungkin! Kalau memang berkenan, sayaserahkan Manisw pada Bapak” akupun terkejut mendengar perkataan dari suamikuitu. Ndak biasanya dia pasrah.
“ Astagfirullah bukan pak! Alhamdulillahsaya ikhlas dengan apa yang terjadi, ini semua sudah kehendakNYA, jadi kalausaya menjadi penghambat rumah tanga ini saya mohon maaf beserta keluarga saya!Kedatangan saya kesini juga bermaksud ingin memantapkan hati Manisw supayamenjalin rumah tangga yang baik dan benar dengan Bapak. Amin.!”
“Adi, kalau boleh tau,Ibu disampingmu yang membawa anak itu siapa ya Di? Mohon maaf bu!” akupunpenasarandan bertanya langsung.
“ Manisw, didepansuamimu ini saya mau meluruskan beberapa hal, pertama jangan karena saya, kamujadi tidak patuh dengan suamimu, dan Bapak, juga harus menjadi suami yang baikbagi wanita secantik Manisw Pak, yang kedua memang kedatangan saya ke Jawa inibersama kakak saya tercinta ingin melamar Manisw, ternyata sudah didahuluiorang, hehehe. Yang ketiga juga saya mau bercerita pada Manisw bahwa mobil yangpernah mencoba menyerempetmu dulu saat masih SMA, itu mobil yang saya kendaraisaat itu. Saya mohon maaf. Hanya tiga perkara ditambah doa dari saya semogakeluarga kalian bahagia yang saya bawa kemari!”
Akupun menangisseketika itu didepan suamiku dan Adi, rasanya jadi tak tentu dan tak karuan,suamiku hanya menunduk kebawah dan pasrah sementara aku terus menangis danperlahan berbunyi tangisanku ini. Diusaplah air mataku oleh kakaknya Adi yangkebetulan berada disebelahku persis.
“ sudahlah, semua sudahmenjadi kehendak Allah, kita tetap bisa bersaudara untuk saat ini danseterusnya. Kalau masalah cinta dan sayang bisa di sesuaikan dengan kondisi,saya rasa terlalu lama saya menganggu disini, saya terus pamit pulang saja,Manisw tau rumah saya yang di sini, Kapan-kapan suamimu ajak mapir ya?” sepertinyaAdi menahan tangis. “ wasalamualaikumwarohmatullahi wabarokatuh!”
“( ya allah mungkin diabukan jodohku didunia ini, tapi persatukanlah hamba dengan Adi di akherat nantijika itu memang takdir untuk hamba.amin)” doa itu melepas kepergian Adi darirumah kami. Akupun seketika bersujud kepada suamiku beberapa saat setelah semuanyamenjadi tenang dan hening.
“ Mas Manisw ndak jadipulang kerumah Bunda, Manisw minta maaf ya Mas, Manisw empat hari ini memarahimas terus dan berusaha ceria padahal ceemberut, Manisw masih cinta dengan Adi Mas.Manisw masih sayang, beri Manisw kesempatan untuk mencintai dan menyayangi Mas!”
“ Aku juga minta maaf,sekarang semua sudah jelas kan, apa alasan utamaku tidak menggaulimu, karenaaku menunggu perkataan ikhlas dari masa lalumu yang memang sama-sama masihcinta denganmu dipagi ini.” Diapun mencium keningku dan memelukku hangat untukpertama kalinya. “Alhamdulillah….!”
“ Mas tadi agak cemburuya? Hehehehe!” kugoda suamiku untuk pertama kalinya ya allah. Alhamdulillahsemoga hati ini ikhlas menjalainkehidupan ini.
***
“Bismillahirohmanirohim….”Kamipunsekarang berusaha saling mengakrabkan diri, aku ndak terpaksa lagi dengan pernikahanini, karena Adi sering beberapa kali datang kesini dan meyakinkanku bahwa akuharus berjuang, aku dan suamikupun beberapa kali datang kerumahnya. Senangrasanya bisa bersaudara dengan Adi. Oh iya aku dan Mas Hadi sekarang sudahdikaruniai seorang Putra, Namanya “Erza Maharda Putra” yang berumur dua tahunsetengah, Adi kemarin juga baru saja melangsungkan pernikahannya dengan wanitapilihan ayahnya, jadi aku dan Adi sama-sama pernikahan model “Sitinurbaya”Barakallah. Semoga apa yang kulakukan dengan suamiku Mas Haditercinta dan tersayang diridhai Allah. aminya rabbal alamin.