Jumat, 01 Februari 2013

Maafkan aku mas


Menikah muda bukanlah pilihanku, apalagi dengan orang yang usianya sungguh jauh lebih tua dariku, terpaut sepuluh tahun dan sudah sangat dewasa, memang sangat enak dan sudah mapan, tapi apakah aku bisa mencintai mas ardi, suamiku yang sudah aku nikahi empat tahun lalu, dan kami sudah dikaruniai seorang putra bernama cahya yang berusia sekitar dua tahun, aku begitu sayang kepada anaku, sangat cinta, melebihi siapapun, termasuk suamiku. Empat tahun berlalu aku belum menemukan apa yang kucari, setiap detik aku merawat buah hati kita akan tetapi rasa cinta kepada suamiku tak kunjung tiba juga.
Semua bermula ketika aku lulus SMA, aku sangat ingin kuliah dengan prestasiku yang mungkin pas-pasan dibandingkan dengan teman-teman seangkatanku, aku sangat antusias sekali ketika ada program beasiswa yang diadakan oleh perguruan tinggi negeri, akan tetapi semua harapan itu pupus ketika orang tuaku tak menyetujui akan hal ini.  Mau makan apa kamu dijauh sana, mungkin orang tuaku mampu untuk membiayai kuliahku, tetapi biaya kehidupanku sehari-hari? Siapa yang akan menanggung.
Beberapa bulan ketika aku menanggalkan seragam SMA ku aku berusaha mencari pekerjaan agar aku tidak terus membebani bapak ibuku yang sudah tua dan harus lagi mengurus tiga adikku yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama dan SD. Akan tetapi sangat sulit sekali ijazah SMA yang aku lampirkan dalam stpomap warna cokelat yang ku bawa dan hampir seminggu ku ajak stopmapku jalan-jalan keliling pabrik, ada yang sudah penuh, ada yang minimal S1, ada yang hanay menerima kariawan laki-laki dan lain-lain. Aku sempat nangis dihadapan bapak ibuku ketika kami sedang nonton televisi. Akan tetapi beliau memberikan ku semangat untuk terus berjuang.
“ pak, dini sudah cari kerja kesana kemari tapi ndak ada jodoh pak?”
“Ya ndak apa-apa nduk, bapak sama ibuk minta maaf karena tidak bisa membekali kamu lebih dari ini, adik-adikmu juga masih sekolah semua!”
“ ndak apa-apa kok pak, saya sudah senang bisa bersekolah sampai tamat SMA, ya tapi kalau cari kerja memang agak sedikit sulit pak!”
“Coba terus ya nduk, jangan menyerah, bapak doakan kamu semua supaya jadi anak yang berguna, cepat kerja ringankan beban bapak yang hanaya serabutan, ringankan beban bapak, karena bapak sudah tua, adik-adikmu juga butuh seolah!”
Aku menghela nafas sejenak, dan mengelus dada ini, sungguh inilah yang dinamakan hidup, aku sangat beruntung memiliki bapak dan ibu yang sering memberi semangat dan meneteskan air mata pengharapan kepadaku, ah...hal itu juga menjadi beban buat ku untuk melangkah dalam semangat, apakah bisa seinstan ini, apakah bisa aku seperti di film-film telenovela mendapatkan pangeran tampan berduit tajir tujuh turunan tak habis-habis. Emang nggak pernah dipakai mungkin, hehe semangatku kembali membara ketika selesai sarapan, tak lupa aku cium tangan bapak ibuku untuk memberi contoh adik-adik ku dan berpamitan, akan tetapi sore hari ketika senja mulai merayap, wajah ceria itu menjadi murung, rasa capek bercampur dengan kekecewaan. Hampir jenuh aku berganti hari, minggu, dan bulan tak juga ku temukan sebuah pekerjaan, apapun itu yang penting halal.
Perasaanku semakin menjerit ketika bertemu dengan teman-temanku SMA, pertanyaan yang sangat sering ku dengar “ kuliah dimana din?”  lalu dilanjutkan pertanyaan selanjutnya “gimana lancar kan?” ya Cuma aku anggukkan kepalaku saja dengan sambil senyum dan diam seribu bahasa atau mengajak mereka membahas hal lain atau mengenang masa lalu kita dulu di SMA. Yah seperti inilah perjuangan hidup, yang suka terus bersyukur, yang duka, semoga tetap bersyukur.
Sore itu aku hampir prustasi menyusuri jalan pulang, tiba-tiba ku temukan sebuah kertas yang masih merekat dalam tembok berwarna putih yang agak kusam tertuliskan lowongan pekerjaan, SMA sederajat, wanita 17-28 tahun, tinggi 160 tahun, ditempatkan dalam bidang marketing dan promosi, pendaftaran mulai pukul 08.00WIB- 16.00 WIB. Sesegera aku pulang kerumah dan mempersiapkan diriku untuk esok hari, semoga esok hari adalah hari yang menyenangkan. Itu harapanku. Diterima kerja didekat rumahku.amin
Pagipun mendatangkan sinar-sinarnya yang tak bisa menembus jendela kamarku karena terhalang oleh pagar dari tanaman hidup yang sangat tebal. Aku sudah siap untuk melamar pekerjaan hari itu, singkat cerita aku diterima setelah beberapa jam wawancara dan rasanya sangat senanag sekali, aku diberi waktu satu minggu untuk masa percobaan, akan tetapi perusahaan akan tetap menggajiku selama seminggu itu, jika pekerjaan ku bagus, gaji bisa naik sesuai hasil yang ku perjuangkan.
Bagaimana rasanya gaji perama itu sangat menyenangkan, membuat suasana hati senang setelah berjuang kerasselama sebulan, ku traktir adik-adikku makan dan ku belikan bapak serta ib pakaian, tak terasa gajian sebulan sudah habis, itulah pengalamanku pertama gajian, sayang aku tak sempat mendapat gaji yang bulan ke dua, karena aku dilamar tetanggaku yang tak begitu akrab ku kenal, tetapi setahuku dia jarang dirumah, seorang pengusaha, kalau dirumah sering ke masjid solat berjamaah dan lain-lain, aku semula tak sependapat dengan orang tua, aku masih ingin bebas di usiaku saat ini, tetapi keadaan berkata lain, walau aku menangis darah orang tuaku terlanjur meng iyakan lamaran mas-mas itu. Benar-benar tak ada yang namanya pacaran, sebelum lamaran itupun aku juga hampir tidak pernah berinteraksi dengannya.
Tanggal pernikahan pun ditentukan, saat hari H akhirnya aku sekarang berstatus suami orang, aku sempat nangis, karena secara psikis aku belum siap menikah, secara fisik pun masih ingin bermain-main, akan tetapi tuhan berkata lain terhadapku. Aku tak pernah mencintainya sedikitpun, tak pernah sayang, tak pernah suka pada suamiku sedikitpun, hanya sering dia mengajakku mengakrabkan diri padaku, alangkah beruntungnya dia, datang disaat yang tepat, sehingga keluargaku pun dengan mudah bilang ya tanpa minta persetujuan dariku, kata mereka bahagia itu bisa belakangan, yang penting hidup nyaman dan tentram serba kecukupan, sudah cukup keluarga kita menderita kemiskinan akut. Aku mulai ada rasa simpati pada suamiku, ya karena biar bagaimanapun dia adalah suamiku, walau tak ku cintai tetapi dia sangat sayang aku, aku harus menghargai perasaanya, sempat aku mutung dan murung padanya, tapi tak berapa lama aku minta maaf, sepertinya dia adalah lelaki yang pasrah dan nurut, apa kataku pasti dituruti, entah ini trik dia atau apa yang suatu saat bisa berubah akan tetapi empa tahun berjalan dia masih saja seperti itu, aku mulai menaruh rasa ini kepadanya, benar kata bapak, cinta itu bisa belakangan, yang enting mapan dulu, bukan berarti matre.. tapi ini realita kehidupan. Aku sering menghargai lebih suamiku dengan memberi perhatian ketika dia pulang kerja, ku buatkan kopi, ku siapkan makan, yang dulu semua ia lakukan sendiri, karena dia tau aku tak cinta denganya.
“ dek, aku mau minta waktu malam ini bisa?” setelah menyantap makanan yang ku buat dia mengajakku entah mau apa.
“ kemana mas? Aku capek hari ini mas, tidur saja ya? Lagipula aku lagi halangan!”
“ bukan masalah itu dek, ya udah kamu tidur aja, ntar mas bangunin ngak apa-apa ya?”
“Iya sudah mas,  dini nurut saja sama mas, tapi kalau dini nggak bangun ngak apa-apa kan mas?
“ iya ngak apa-apa kok, biasanya juga nggak pernah bangun setiap kali aku minta bangun!”
“Yee...nyindir..hehehehe!”
aku mulai ketawa ketika dengan polosnya dia bilang seperti itu, aku sudah bangun sebenarnya, tapi sangat malas untuk beranjak dari tempat tidurku, ya karena aku mungkin tak sepenuh hati melakukan aktivitasku berumah tangga bersamanya. Akan tetapi aku sangat heran, selama ini dia tak pernah memarahiku sedikitpun, dan ketika aku selalu menolak dia hanya tersenyum kecil sambil menatap sayup wajahku, dengan sabar dia berusaha menumbuhkan rasa cinta yang sudah mati ini untuk dihidupkan lagi.
Tapi sepertinya aku sudah menutup rapat-rapat rasaku padanya, apalagi kemarin siang aku melihat seorang lelaki yang sangat aku cintai ketika di SMA baru saja diangkat jadi direktur di perusahaan tempatku bekerja dulu sebelum aku dinikahkan paksa. Rasanya sangat ingin memeluknya, akan tetapi ada suamiku disampingku, aku terus saja menjaga pandanganku dari mas idham, karena suamiku adalah salah satu manajer pelaksananya mas idham.
Kembali aku menaikkan selimutku karena aku diminta untuk tidur dan menhapus semua pikiran-pikiran dan andai-andai yang semakin tak terkendali, baru saja sejenak aku memejamkan mata ini, rutinitas yang membuatku kadang jengkel hadir dimalam itu, anaku menangis karena ngompol dan minta disusuhi, yah kalau sudah begini aku akan tifur alam dan sulit bangun, padahal rencanaku ini adalah kali pertama aku menghargainya sebagai suamiku, semoga aku bisa bangun nantinya. Setelah anakku diam aku kembali melanjutkan tidurku. Suamiku tak pernah aku beri kesempatan untuk melakukan apa-apa, karena aku memang tak mau, aku sering tidur saling bertolak belakang dengan suamiku. Diapun masih sabar, mungkin tidak ada lelaki yang sehebat ini, akan tetapi aku tak cinta dengan dia.
Pagi pun menyambut, sekitar pukul 03.00 WIB, aku sudah berada di lantai paling atas rumahku, entah kapan aku dibopong yang jelas aku tidak merasakan apa-apa sebelimnya.
“ dek-dek, bangun ya? Mas mau bicara?”
“ahhh..apa tho mas, ngantuk banget aku, ndak lihat apa tadi sampai jam berapa anakmu rewel?” takupun tidur lagi, sebenarnya aku sudah sadar dimana tempatku berada, ini bukan kamar kami, ini tempat bersantai keluarga, udara sejuk terus menembus tulangku karena memang agak terbuka ruanganya, disinilah biasanya aku menangis, melepas rindu dengan orang tua dan adik-adikku.
“ dek. Mas minta dong bangun ya?”
“Nggak mas, capek, ngantuk aku!” ku lanjutkan tidurku dan dia masih duduk menungguiku.
Akupun membuka sedikit mataku, kulihat dia menangis, air matanya membasahi kakiku dan menetes pelan-pelan, ini bukan pertama kalinya aku melihat dia menangis, sudah ber ratus-ratus kali, ketika malam pertama dia tak dapat apa-apa dariku, sampai saat ini, hatiku kali ini terenyuh, rasanya ada yang beda, ahh nggak mungkin aku jatuh hati padanya, jangan lah!
Mau nggak mau aku terjaga dari tidurku, dan mengusap air mata suamiku, aku nggak tega sekarang, aku berusaha meredam emosinya mungkin, kalau dia punya emosi, karena selama ini ku rasa dia mati emosi, jadi kita sama-sama mati. Aku mati rasa, dia mati emosi.
“ mas, kenapa nangis?” seolah-olah aku tak pernah melihat dia menangis selama ini, ku tanya saja dengan nada polos sembari terus mengusap air matanya yang masih berlinanag.
“ nggak apa-apa dek, mas sayang banget sama adek!”dia pun menjawab lirih
“ tapi aku nggak pernah sayang dengan mas lo sampai saat ini!”
“ iya, aku juga merasakan ittu kok dek, tidak apa-apa, mas masih punya waktu untuk merubah itu kan?”
“Sepertinya tidak mas, sudah berapa kali mas menanyakan ini dan jawabanku sama kan?’
Diapun terdiam, hatiku sebagai perempuan luluh juga akhirnya, empat tahun mungkin dia menahan semua, kembali dia meneteskan air mata dan kali ini disertai dengan suara lirih tangisan dari suamiku. Akupun tak bisa menahan air mataku, biasanya aku yang judes hancur sudah semua. Ku peluk tubuh suamiku yang sebelumnya tak oernah ku lakukan, ku beri dia sebuag ciuman kecil dikenangnya.
“ mas, maafkan aku, sudah menjadi istri yang buruk bagimu!”
“ kamu istriku yang terbaik dek, pertama dan terahir bagiku.” Akupun semakin mempererat pelukanku pada tubuhnya dari belakang. Tak kuasa aku memangis.
“ kenapa sih mas kamu tak menceraikan aku sejak dulu? kenapa sih mas kamu tak pernah memarahiku? Kenapa sih mas kamu itu hanya diam saja ketika aku bentak? Kenapa sih mas  kamu itu selalu mengalah ? kenapa sih mas kamu itu begitu baik padaku? Ha? Jawab mas?”
“ apakah mas mau menambah deritaku? Apakah mas mau mempermainkan perasaanku? Jawab mas?”
Tak kusangka entah darimana dia memperoleh keberanian, dia berbalik badan dan memelukku erat-erat sambil terus menangis, getaran itu getaran cinta yang tulus, rasa ikhlas, pasrah, kasih sayang tanpa pamrih, wanita mana yang tak luluh dan meneteskan air mata.
“ selamat hari ulang tahun pernikahan kita dek, sudah empat tahun kita bersama, semoga keluarga kita sakinah mawadah dan warohmah, selalu diberi kesehatan, lindungan allah, berkah yang melimpah dan rizki yag halal.”
Aku semakin tak kuasa menahan tangisku, baru pertama kali ini aku menangis setelah empat tahun lebih aku tidak menanagis sehebat ini, terahir aku memangis ketika dirias ketika akan melakukan pernikahan, setelaah itu tak lagi.
“ tapi mas ? aku belum bisa mencintai mas dan menyayangi mas!”
“ ngak apa-apa kok dek, besok kita pergi kerumah ibu ya? Aku sudah kangen, neneknya cahya juga pasti rindu dengan cahya!”
Lalu suamiku menyodorkan kue ulang tahun dan kami pun meniup bersama kue tersebut, disinilah aku mulai menaruh simpati pada suamiku, setelah empat tahun aku buta rasa, mati rasa atau apalah terserah. Setelah melakukan selamatan kecil-kecilan kamipun kembali kekamar untuk tidur bersama, besok pagi-pagi sekali kami harus mempersiapkan diri ke rumah ibu.
Pagi pun berjalan menyinari mobil BMW yang kami tumpangi bertiga, melaju kencang menuju desa yang asri nan indah, disanalah aku dibesarkan dan dihidupi , terahir aku kedesa ketika peresmian mas idaham menjadi dirut dan suamiku menjadi manajer pelaksana umum, aku sudah tak sabar ingin bertemu dengan ibu dan bapak serta adik-adiku yang sekarang sudah kuliah semester satu dan ada yang baru kelas 1 SMA, rasanya ini adalah kado terindah di pernikahan kami yang ke empat, bukan terindah senebarnya, karena hampir setiap tahun suamiku melakukan kejutan-kejutan seperti ini, akan tetapi baru kali ini bisa terwujud.
Sesampainya dirumahku aku langsung cium tangan ibu dan bapak, sambil mengendong cahya, suamiku pun mencium tangan kedua orang tuaku. Tak lama kemudian cahya di minta oleh ibu untuk digendong dan kami diminta istiraha di kamarku, kamar tempatku akan bunuh diri ketika aku dipaksa untuk menikah, tapi semua tak terjadi.
Aku langsung beristirahat dan membaringkat tubuhku disamping suamiku, biasanya kami sok mesrah dan romamtis agar tak menunjukkan ketidak sukaanku, biasanya aku juga paling malas diajak pulang walau sudah kangen karena aku harus bermain peran, tapi kali ini tidak lagi. Aku cium kening  suamiku yang sedari tadi memejamkan matanya, mungkin capek menyetir sendiri dalam perjalanan jauh.
Malam pun tiba, kejutan dari suamikupun tak berhenti sampai disini, karena suamiku meminta izin untuk mengkuliahkan aku, ya itulah cita-citaku selama ini, ingin kuliah dan menjadi sarjana yang bisa berwira usaha. Akupun tak menyangka dengan kejutan itu, aku semakin punya rasa dengan suamiku. Malam itu juga aku bilang “ aku sayang kamu mas. Terimakasih ya!” lalu ku cium keningnya didepan orang tuaku dan adik-adikku. Yan mereka yang sekolah dan kuliah juga dikuliahkan suamiku. Ini benar-benar kado terindah hari ulang tahun ku sekaligus hari pernikahan kami 12 Desember 2011.
***
Pagi-pagi aku diantar suamiku pergi ke kampus yang kebetulan kampus dengan kantor sama, tapi jauhan kampusku. Aku dan suamiku sekarang semakin mesra dan romantis, kami sering jalan berdua, menghabiskan waktu bersama dan bercengkrama ketika ada waktu luang saat aku tak ada tugas dari dosen. Teman-temanku mahasiswa pun juga usianya terpaut empat tahun dariku, seharusnya aku hari ini sudah bergelar S 1, ya tak apa lah, mungkin ini jalan terbaik yang sudah digariskan, aku dapat suami yang sangat baik serta abisa kuliah. Nyaman sekali hidupku saat ini. Aku serasa tak menjadi wanita yang paling sial didunia seperti dulu lagi.
Sekarang aku sekampus dengan adik-adiku dan mereka lebih pandai datriku, maklum sudah empat tahun aku tak pernah melajar apapun soal dunia perkuliahan, paling yang selalu kubaca adalah novel yang selalu dibelikan suamiku karena aku senanag sekali dengan buku-buku fiksi yang bergenre drama dan roman atau cerita cinta remana. Walaupun aku sudah tak remaja lagi, tapi koleksi novel ku kebanyakan tentang remaja, aku juga berencana membuat novel kehidupanku, akan tetapi kau juga harus mengurus waktu, sehingga aku ka bisa berlama-lama didepan komputer kerja suamiku dirumah.
Ketika aku memasuki semester baru yaitu semester genap, aku merasa puas dengan hasilku, semua penilaian dari dosen adalah A minimal AB, itu sangat diluar dugaanku, ya mungkin karena faktor usia, aku lebih berpengalaman daripada teman-temanku yang notabenya terpaut antara 3 sampai 4 tahun. Hal itu tak ku manfaatkan dengan sia-sia, aku selalu aktif dalam berbagai diskusi dalam perkuliahan. Ketika aku mau ikut salah satu organisasi di kampus atau UKM, suamiku ta mengizikan, aku juga menurutinya dengan senanag hati.
Seletah semester dua berjalan sekitar bulan januari 2012 aku mulai memasuki perkuliahan seperti biasa, akan tetapi aku sangat terkejut ketika ada salah seorang mahasiswa yang wajahnya sudah tak asing lagi bagiku, karena aku bisa mengambil SKS lebih banyak aku bisa bersama dengan mahasiswa semester 4, sementara aku baru semester 2.  Ya, benar sekali dia adalah rio, mantan ku terahir di SMA 5 tahun yang lalu. Ternyata dia baru semester 4 inikarena sering cuti kuliah akibat tuntutan profesinya sebagai artis dan berkecimpung di dunia modeling.
“ rio? Ini beneran kamu?”
“emmm...siapa ya? Aku lupa-lupa ingat?”
Maak lupa? Hehehe ayo tebak siapa aku?”
Beneran deh lupa aku, tapi sepertinya kita oernah dekat sebelum ini kan?”
“ emang sudah berapa gadis yang kau pacari sehingga kau lupa padaku rio?”
“ apakah kamu pernah menjadi pacarku? Kapan? Saat masih SMA atau sudah kuliah?”
Dasar kau tetap saja playboy! Hahahaha” sambil ku tepuk pundaknya.
“ Aku dini, mantan kamu yang pertama, dulu diSMA katamu, tapi aku tak percaya kalau aku cinta pertamamu alias mantan yang oertama bagimu, playboy! Hehehe”
“oohh, ternyata kamu? Ya aku lupa banget lah,,,dulu tu ya kamu tiu kurus banget, lihat sekarang ? sejahtera dan sukses!”
“ ah biasa aja! Hehehe”
Kami pun melanjutkan mengobrol dikantin kampus setelah selesai kuliah, sampai berlarut-larut dan membincangkan segala hal, akupun dengan enjoy menceritakan seluruh kejadian yang ku alami tetapi tidak sampai ke prifasiku. Aku juga memberitahukan bahwa aku sudah menikah dan beranak satu, suamiku pengusaha dan lain lain tentang diriku sesuai dengan apa yang ditanyakan, akupun ditraktir makan sore itu sampai sampai kekenyangan dan ngantuk. Tak sadar suamiku telah lama menunggu, aku memintanya jam setengah empat, sedangkan ini sudah jam lima, HP ku juga mati karena tadi ku pakai buat ngedengerin musik pas lagi jenuh. Bisa gawat ini, alasan apa ya nanti.
“ eh mau kemana? Aku masih kangen din?”
“ tak bisa rio, aku sudah ditunggu suamiku, terimakasih traktiranya hari ini ya!”
“Besok kita ketemu lagi kan?”
“ insya allah kalau ada jam kuliah yang sama aja ya?” sa,bil berlari meninggalkan kantin menuju parkiran mobil. Kutemukan suamiku sudah ada disana, aku merasa sangat bersalah dan akirnya harus berbohong pada orang yang tak pernah membohongiku, maafkan aku mas.
“mas, ayo pulang!”
“Dari mana kok lama?”
“Oh tadi, ada tugas portopolio dari dosen, aku cari referensi di perpus mas, maaf ya, sudah lama mas?”
“ nggak kok, baru aja aku nyampe sini, tapdi aku pulang sebentar, nyiapin kejutan buat kamu dek!”
“ apaan mas, tancap gas, aku sudah lapar...!” padahal perut ini sudah terasa nggak mau dimuati lagi.
Ternyata dirumah suamiku memasak untukku karena semester lalu berhasil jadi terbaik, aduh, bisa meledak ini perut, mana sudah ada isinya lagi. Bahaya kalau seperti ini. Akupun terpaksa memakan makanan yang dibuat suamiku sendiri karena aku berprestasi, aku juga positiv hamil. Rasanya sangat mendesak sekali..perutku kekeknyangan, hampir sejam aku berada di wc untuk menuntaskan hasil kinerja yang secara alami. Rasa perutku pun sakit sekali seperti kram, aku takut terjadi apa-apa pada janinku.
Aku dan mantanku pun semakin akrab, aku pelan-pelan mulai jatuh hati lagi dengan rio, akan tetapi aku sudah punya suami yang sebaik itu padaku, aku menjadi bingung saat ini karena sering berbohong pada suamiku, ketika aku pulang terlalu malam berarti itu aku sedang jalan bersama rio. Suamiku pun tak pernah meraruh rasa curiga padaku, meskipun ketika aku sadar bahwa ini adalah salah, tetapi aku merasa lebih nyaman bersama rio, maafkan aku mas, aku telah mencoba berhianat padamu, aku minta waktu untuk mengentikan semua ini tanpa kau tahu. Terimakasih aku ucapkan karena telah mengkuliahkanku, tapi aku mengecewakanmu mas.maaf...!!!

Buah karya : mang gugun

Semarang, 01 Februari 2013
23.34-00.58 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar