"sudahlah, ngapain kamu ngikutin aku terus, aku sudah bosan dengan mu, bisa ndak kamu pergi jauh-jauh dariku, silahkan adukan saja pada semua orang, lewat facebook, lewat twittermu, lewat blogmu, lewat puisi-puisimu, lewat cerpenmu, lewat novelmu, atau lewat apalah yang kamu suka. aku sudah tak peduli lagi padamu, jangan memanfaatkan aku untuk kamu eksploitasi kisah-kisahku, jangan kamu pedulikan aku, jauhi aku atau kamu akan mati bersamaku, usiaku tak akan lama lagi, jadi kamu tenang saja, kamu nggak akan berurusan lagi denganku kamu nggak akan susah payah berurusan dengan orang hima seperti aku!"
" pergi kamu, pergi...!"
" aku tak mau bertemu kamu lagi !"
itulah kalimat terahir yang selalu terniang ditelingaku ketika mbak Ratih memarahiku di kosnya, ya semenjak malam itu aku mencoba akrab dengannya, mencoba mendekatinya dan mencoba menyadarkanya. tapi apa, baru beberapa hari saja aku sudah mendapat banyak sekali pelajaran yang berharga dan alasan yang awlnya tak pernah bisa aku terima. " bukan begini caranya Mbak !!!"Sepipun mengusik keseharianku, ketika kabar dari mbak Ratih tak kudengar sejauh ini, masihkah dia bertahan hidup, masihkah dia melakukan itu semua, masihkah hari-harinya dipenuhi dengan kegilaan duniawi.
Sejenak aku merenung didepan kamar, ditemani secangkir kopi luwak yang hangatkan suasana pagiku, dengan butiran-butiran mocca yang semakin memantapkan rasa. Aku tak habis fikir, kenapa tuhan membiarkan semua ini terjadi, kenapa ada begitu banyak orang yang dengan mudah menghasilkan uang, akan tetapi tak sedkikt orang yang kesusahan, bahkan menghalalkan segala cara. Aku sudah tak bisa bertingkah masa bodoh lagi. Ada seseorang yang membutuhkanku saat ini, meski dia bilang dia tak membutuhkanku, tetapi aku akan membantunya.
“ wah sudah jam 8, bisa telat masuk kelas nih, mana dosenya killer pula!”
Akupun sampai lupa waktu, karena sering memikirkan kejadian waktu itu, sulit aku nalar, sulit aku terima dengan akal, sampai hati gadis sealim mbak Ratih ternyata pekerjaannya menjijikan. Mungkin aku yang tak terlalu banyak mengetahui pergaulan dikampus, ayam-ayam kampus dan lainnya.
Hari ini aku telat untuk yang kesekian kalinya pada dosen yang sama pula, "rasanya seperti minum coffe good day yang ditambahin garam satu karung, hehe“ hari ini kamu ada peningkatan, minggu lalu kamu telah 35 menit, sekarang kamu telat 50 menit, hampir satu jam, mata kuliah saya hampir habis. Silahkan kamu keluar, tunggu saya diluar !”Pasti bakal seru nih kejadinaya, menyebalkan, pasti ditumpuki dengan tugas-tugas yang segunung, semester lalu yang paling rajin saja nilainya c, apalagi aku, menggulang taun depan mungkin, ya, tapi aku perjuangkan lah. Siapa tahu ada keajaiban, hehe“ em, nak aryo, ikut bapak ke ruangan !”
“ ba ba ba baik pak...!” akupun terjaga dari lamunanku didepan kelas. Akupun mengikuti pak dosen menuju ruangannya untuk menyelesaikan masalahku. “nak aryo...!”
“iya pak, saya.”
“ sudah berapa kali kamu telat dan mbolos di mata kuliah saya?”
“lupa pak, sudah banyak!”
“ lalu kenapa hari ini nak aryo ulangi lagi? Tugas minggu kemarin sudah?”
“ sudah pak? Ini, mohon maaf pak baru hari ini saya selesaikan!”
“Coba tak lihat isinya?”
“Silahkan pak, mohon koreksinya?”
“ nak aryo?”
“ya pak, ada yang salah?”
“Tidak, saya Cuma mau mengajukan dua pertanyaan saja dari hasil penelitian kamu ini tolong dijawab jujur!”“aduhh....!” (dalam hati) “ iya pak, silahkan!”
“ berapa hari kamu menyelesaikan makalah ini dan apakah benar ini pekerjaanmu sendiri?”
“I...i...iya pak, saya yang mengerjakanya, dihari itu juga saya mengadakan penelitian terhadap pola perilaku mahasiswa pak, dan saya menyebar angket, lalu saya tunggu sampai dua hari setelah penyebaran tersebut, dari limapuluh angket yang saya sebar secara acak, hanya kembali sejumlah 43 pak, dan itu hasil stastistiknya, yang tidak kembali saya masukan kedalam data acuh tak acuh. Iya pak ini saya sendiri yang membuat! Terimakasih.”
“Baiklah, tugasmu sampai minggu depan kamu survey gaya hidup teman-temanmu dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari saat di kos atau kontrakan! Mengerti? Hangan telat lagi, karena sejak semester satu kamu paling banyak mengumpulkan penelitian pada saya!”
“Baik pak, saya permisi pamit pulang dulu!”
“ ya silahkan!”
“Huft...selamat-selamat!”( dalam hati) ketika aku keluar dari pintu dosen killer itu hari ini, tumben beliau tak marah padaku, mungkin karena beliau sudah capek memarahiku, terlihat juga sebuah tumpukan makalah setinggi kurang lebih 20 cm semua atas namaku, baru semseter kedua, sudah seperti tebalnya skripsi, wah ternyata aku punya bakat hebat ya, hahaha, ngarang!
Selepas aku keluar dari kantor memalui lorong sebelah yang langsung menuju masjid kampus aku lihat mbak Ratih baru saja selesai sholat, akupun tak mensia-siakan kesempatan ini, aku sudah rindu, tapi sebelum aku menghampirinya aku sangat kaget sekali melihat temanya mengkata-katai mbak Ratih.
“ ow... sudah tobat kamu? Apa hanya sebagai kedok? Biar dimata kami kamu itu seorang yang alim? Alah pakai sholat segala, dasar Pe****r!”
Astagfirullah, mbak ratih pun hanya tersenyum kepadanya, orang yang telah mengkata-katainya, sungguh aku makin terkagum denganya, atau dia memang sudah pasrah dengan hidupnya, wajahnya terlihat pucat, tak sesegar semester lalu.“mbak Ratih...!”Lalu dia bergegas pergi meninggalkanku, akupun mengejarnya sampai ke depan gerbang dengan langkah yang sedikit cepat, mbak ratih tunggu aku, aku mau bicara dengan mbak, mbak jangan bergegas pergi, tolong mbak dengarkan aku bicara dulu, mbak! Diapun menghentikan langkahnya dan aku lekas bicara padanya walaupun tanggapanya dingin sekali.
“ mbak, mbak kemana aja nggak pernah ngabarin aku?”Akan tetapi dia tak menjawab pertanyaanku, dia tetap diam, aku tak tau apa yang dia rasakan, tetapi aku terkejut ketika tubuhnya langsung tersungkur dan ditangkap tanah, aku dan mbak ratih pun jadi pusat perhatian mahasiswa yang lewat disekitar gerbang kampus bagian depan atau pintu utama masuk kampus.
" ada apa ini, ada apa ini? kenapa pingsan, cepat ditolong, ah itu pel****r, ah biarin aja yuk paling juga kelelahan habis bekerja semalaman, ah....!"
suara-suara kumbang pun ku dengar dari mulut-mulut berbisa mereka, sungguh aku tak pernah menyangka mereka hanya bisa memfonis tanpa tau sebab akibatnya, itulah intelek muda di indonesia saat ini, bukan seluruhnya, tapi sebagian besar seperti itu, hanya mengandalkan nafsu saja. akupun segera membawanya ke puskesmas kampus untuk segera ditangani, namun dokter yang jaga hari itu menyarankanku untuk membawanya kerumah sakit, badanya sudah dingin sekali, tak sadarkan diri dan lemah agak kaku, aku mulai banyak berfikir yang tidak-tidak, jangan sampai aku membunuhnya hari ini, sungguh aku akan sangat menyesal jika hal itu terjadi.
" suster cepat bantu saya suster....!" dari teras rumah sakit sesegera aku berteriak, terlihat beberapa perawat keluar membawa ........ dan segera mbak ratuh pun dibopong menuju UGD, akupun mengejar kereta derek yang membawanya lari dengan cepat segera dari bilik sebelum masuk ruang UGD dokterpun datang dengan lari kecil, aku berbisik pada dokter itu sambil ikut berlari,
" dok dia HIV positiv, tolong tangani semampu dokter"
pintu UGD pun tertutup rapat, seolah pintu hidup dan matinya, mulutku tak henti-hentinya berdoa pada sang pencipta berdzikir memohon pertolongan untuk mbak ratih,
" ya allah aku tak tahu apa yang ku anggap baik bagiku adalah buruk dan apa yang ku anggap buruk bagiku adalah baik, jika kau beri aku kesempatan detik ini aku akan menjaganya." sekian lama aku menunggu hampir satu jam, akhirnya dokter keluar dari ruag maut tersebut, membawa berita seperti dalam telenovela
" alhamdulillah, nyawanya berhasil terselamatkan!"
tak kuasa aku menangis juga, seperti benar-benar kisah dalam FTV, tak pernah tahu siapa yang ku tolong, tak pernah ada hubungan dengan yang ku tolong, tapi bedanya aku tak lantas menghubungi keluarganya seperti aktor-aktor FTV, yang jelas aku menjadi aktor dalam menyelamatkan nyawanya siang ini.
sudahlah tak perlu berbangga, aku hanya berkesempatan saja, jika tidak ya tak mungkin ku lakukan, tak kusadari lamunanku terjaga setelah ditepuk oleh suster yang memintaku untuk melakukan registrasi terlebih dahulu. akupun segera bergegas registrasi, antrinya panjang bener, aku nanti jam dua ada jam kuliah lagi, akhirnya ku terobos antrean yang sangat sesak," maaf pak buk saya terburu-buru sambil meletakkan tas ku yang akak berat diatas kepalaku, sehingga membuat yang lain memberi jalan padaku, agak kurang baik akan tetapi ini demi kelancaranku juga, jam setengah dua aku beranjak dari rumah sakit meninggalkan mbak ratih sendirian di sana, sementara jarak RS dan kampus kira-kira 10 KM, belum lagi macet di jalan pantura, huh, semoga tak telat.amin
***
sudah seminggu ini mbak ratih dipindahkan dari UGD menuju ruang cempaka 12, ruang yang cukup megah, ada TV nya ada kulkasnya satu pasien dan dengan berbagai macam peralatan medis yang canggih didalam kamar, tak lupa ada gambar pancasila serta presiden dan wakilnya, entah aku tak tahu apa fungsinya." mbak, apa kabar, sudah semingggu lo mbak tak sadarkan diri, mbak, aku bawakan bubur kesukaan mbak, bangun ya, temeni aku makan mbak. masa mbak kuat nggak makan selama seminggu, nanti jalan-jalan deh mbak kalau mbak siuman. mbak... mbak?" sudah seminggu, hampir seminggu mbak ratih koma melawan virus yang saat ini ada ditubuhnya, daya tahanya setiap hari semakin memburuk semenjak di UGD siang itu, setiap dua hari sekali aku menjenguknya karena jam kuliahku padat, aku sudah meminta suster khusus untuk menjaganya, uangku bulan ini agak terkuras, pasti ayahku akan menanyakan apa saja yang kulakukan sehingga tagihan ATM semakin membengkak.
ah tak usah ku fikir, ini juga demi kemanusiaan. kedatanganku hari inipun nihil, dia tak juga bangun, sungguh aku bisa tak makan kalau begini caranya. akupun tertidur disamping ranjangnya karena aku sangat capek, hari ini memang tak ada perkuliahan tetapi tugas dari dosen untuk presentasi besok pagi sungguh menguras fikiranku, tiga mata kuliah tiga sks semua harus maju presentasi besok, sungguh terlalu! rambutku pun tak kurasa ketika terbelai perlahan, terahir aku dibelai seperti ini oleh ibuku eman tahun yang lalu, ketika beliau tak sesibuk sekarang, kukira aku bermimpi, ternyata mbak ratih siuman, Alhamdulillahirobbil alamin... . selamat datang mbak, bagaimana kabar? akupun segera memencet lonceng dan dokter segera datang ke tempat ku duduk sekarang, memeriksa bagaimana kondisi mbak ratih.
" adik saudara sudah siuman, sepertinya kondisinya membaik, dan ini adalah mukzizat!"
kata dokter, ya dokter irwan namanya, aku kenal karena dialah yang merawat mbak ratih seminggu ini. sepertinya aku pernah melihat adegan ini sebelumnya, dan aku sempat menangis, tapi dimana ya. hehe oh iya aku ingat sekarang, waktu itu aku lihat FTV yang adeganya persis seperti ini, tapi ini nangis beneran lo...alhamdulillahnya ya beneran, bukan akting, hehe
"makasih ya Yo."
ucapnya membuatku lega, lekas sembuh ya mbak aku besok makan apa kalau mbak ndak segera keluar dari sini, hehehe (dalam hati)" sudah mbak nggak usah banyak gerak nggak usah banyak omong dulu, dibawa istirahat saja ya mbak!"" ndak Yo, aku mau pulang hari ini."
" eh? kok hari ini mbak? (alhamdulillahirobbil alamin. hehehe) jangan mbak? belum sembuh lho?"
" ndak Yo, mbak udah terlalu banyak ngrepotin kamu!"
dia pun segera melepaskan selangnya dari hidung mungil itu. dan segera bergegas ke ruang lobi, lalu ku kejaar mbak ratih untuk masuk ke ruang dokter. akhirnya dia di izinkan pulang, dan diberi resep untuk satu minggu kedepan. aku waktu itu naik motor, jadi didepan rumah sakit ku temani dia menunggu taksi, setelah dapat taksi blue bird berplah H sekian sekian sekian. aku pun menuliskan alamat kosnya,
" pak, mbak ini antarkan ke alamat ini, kemanapun dia minta pokoknya alamat ini ya. terimakasih"
pak supir pun menjawab " baik pak! "
sesampainya di kos mbak ratih, semua penghuni terdiam, semula mereka asik bercanda ria, akan tetapi setelah kedatanganku membopongnya suasana jadi hening, ya aku tahu penyebabnya. sambil basa basi salah satu dari mereka menanyakan keadaan mbak ratih, memang orang indonesia seperti itu, huh.
***
sekarang mbak ratih harus meminum suplemen dan antibodi yang cukup untuk menjaga daya tahan tubuhnya yang rentan, ya dia harus bekerja untuk mendapatkan kesehatanya itu, entah berapa lama ia akan bertahan yang jelas tugasku sudah selesai, hampir selesai disini, dia sudah bangkit dan bertemu orang-orang yang memotifasinya. sekarang dia bekerja disalah satu restoran padang yang cukup besar dekat simpang lima, setiap akhir pekan aku antar dia kesana, ya, mulai hari kamis jumat sabtu dia kerja, karena senin selasa rabu dia ada jam kuliah, dia adalah wanita smart, aku tahu itu sejak dulu. 24 sks dihabisinya dalam 3 hari selala seminggu, dan nilainya kebanyakan A untuk semester lalu dengan beban psikologis yang di deritanya aku bilang itu sangat luar biasa, sekarang mbak ratih juga menjadi salah satu aktivis kepalang merahan di kota ini, menjadi bagian yang aku kurang faham, intinya aktivis anti HIV AIDS, kiprahnya sebagai narasumber dan motivator juga lumayan sukses. itulah mbak ratih.
rasa itupun ada dan mulaai menjalar disekujur tubuhku, ketika aku diajak pualng kekampung untuk dikenalkan ke orang tuanya, dia juga sempat menceritakan kepada adik-adiknya bahwa akulah yang menolongnya dari maut ODA, keluarganya pun menerima dengan perasaan yang sempat terpukul keras, tak menyangka mbak ratih bisa terjebak dalam lubang hitam, namun lebih baik jujur daripada dipendam, itulah yang selalu ku bisikkan ke dia agar mau jujur pada keluarganya, biar bagaimanapun mereka harus tahu, pahit dan manis itu adalah resiko, diterima kembali atau ditolak itu adalah tanggungan, "mbak aku suka, mulai suka padamu." (tidak-tidak tidak) kisah ini mungkin dialami banyak orang diluar sana, dan tak seberuntung mbak ratih, tapi aku berharap tak akan ada mbak ratih selanjutnya yang mengalami nasib yang sama, pesanku kepada seluruh mahasiswa, jadilah kau penerus bangsa, yang intelek, bukan penghancur diri sendiri dan masa depanya dan bangsanya.
wedarijaksa, 09 februari 2013
recicle : maut diujung garpu ODA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar