Dinginya fajar mampu mengusikku dari ranjang putih yang menyelimutiku semalam penuh, mengawali penderitaan-penderitaan panjang yang membawaku ke sudut kebodohan, kobohongan, dan kehancuran. Aku masih tak lupa akan kaca yang masih tertancap dijendela, aku juga tak dusta bila kamarku masih berpintu. Keras, kokoh, dan tahan lama. Namun apa daya, angin tetap masuk dan menggulung apa yang dia hadapi didepanya. Tak sabar dengan apa yang baru ditemuinya dan merasuki apa yang telah dia gulung. Rindu akan kesabarankupun lenyap hingga aku beranjak dari ranjang dan kubasuh segenap wajahku yang dikata orang berbentuk Heart. Kubasahi rambutku dengan beberapa tetes air yang terus mengalir menuju ke dalam ruang yang tak kan pernah terkira batasnya. Rasa malas membuatku merasakan ingin menikmati segenap kehangatan yang telah tercuri, ah, tidur lagi.
Aku masih tak percaya sang fajar yang mampu membangunkanku telah melewatkanku dari rindu yang amat panjang, terlambat memang bukan keseharianku, karena semalam aku memang menahan tangis hingga larut dan terpulas. Sekarang bukan lagi aku yang dulu. Merindukan penghargaan dan prestasi serta rajin dalam mengayuh sepeda yang masih tergolong baru ini. Mungkin rantainya telah putus, atau bagian as, gir, ragangan dan yang lain telah patah. Ah apalah, segera ku ambil mukenaku dan mencoba mengkhusykkan diri. Beberapa menit aku berdiri masih bisa aku bertahan, akan tetapi perasaanku yan terus menderu membuatku kembali harus mengalirkan resah ini, Ah sesingkat itukah aku harus hidup.
Ku bawa tubuh ini keperaduanya, lalu ku arahkan kedepan layar yang memotret tak berbekas gambaran diriku yang sekarang, kulihat sekilas dan ku menunduk kembali, aku tak tega melihatnya, kulangkahkan kaki ini perlahan-lahan, melihat-lihat apakah masih ada kesucian yang tersisa yang mau membasahiku, yang bisa mengembalikan rasa rinduku, yang mampu membangkitkan semangatku, yang mampu membilas semua sesalku. kurasa walau satu bak ku guyurkan tak kan pernah mampu membalikkan telapak tanganku, semua memang sudah terlampau jauh, ah aku melangkah.
Kemana lagi aku harus pergi dan mengakhiri setiap setapak ini, sudah terlalu kotor nan berdebu, rumput-rumput liarpun tak mau kalah beradu, sudah lama aku tak menyusuri setapak ini, biasanya aku dibawa oleh seorang raja dengan empat pengawalnya naik kereta kerajaan melewati setapak ini, akupun tak usah memperhatikan sekitarku, karena ada raja disampingku, ini bukan dongeng. ah tetap melangkah menahan derasnya air mata yang menalir dalam bak penampungannya di pelupuk sebelah hidung, Berharap tidak penuh dan meluap. Sepatu yang ku kenakan hari ini pernah melangkahkan kakiku dan menghipnotisku kedalam kegelapan, ya karena memang sudah gelap, mungkin lampu pijar dipinggir jalan yang dibangun Pemda beberapa tahun yang lalu telah mati, dan tak pernah diganti. Dan mungkin tak kan pernah bisa diganti, sampailah aku kesekolah. ah gelap.
Kutemui sesosok lelaki yang sangat ku cintai, awalnya memang sulit mencintainya, suka padanya, menyayanginya, selalu rindu padanya, dan yang paling penting awalnya aku tak mau mencintainya. Duduk sendiri melamun didepan kelas sembari terus memegang handphonenya. Kutegur dia dengan senyum ringan yang begitu membawa kebahagiaan semu.
“ selamat pagi, bolehkah aku duduk disebelahmu?”
ia hanya mengangguk terdiam sambil terus menghabiskan waktunya untuk senam jari, tak memberikan ruang sedikitpun untukku bicara, ia hanya terdiam, tak seperti dulu, datang kerumahku pagi buta, menjemputku dari istana, bahkan menyelamatkanku dari menara, menara yang digunakan nenek sihir untuk mengurung “ Rapuncel”. Ya aku pernah dikurung disana, bersama Rapuncel juga, dia begitu cantik, anggun, dan rambut emasnya yang panjang membuatku terkesan, akupun sempat bicara dengan dia, aku ajak bercanda juga, “ hai Rapuncel kau akan lebih cantik bila kau tutup kepalamu seperti aku!” diapun semakin penasaran “ah yang benar?” . hey ini bukan khayalan orang yang sedang galau, ini serius. Dan akhirnya kamipun bertukar pikiran, entahlah aku sudah lupa semuanya. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang berteriak dari bawah,
“permaisuriku…..!”
kamipun segera menenggok kebawah. Rapuncel mengira itu pangeran yang akan menyelamatkanya, oh ternyata itu pangeranku, akupun meninggalkan Rapuncel setelah dibantu turun dari menara dengan rambutnya, ku tinggalkan sehelai kain yang tadi ku demonstrasikan bagaimana cara menutup kepala dengan benar, tak lupa ku ucapkan terimakasih. mungkin sekarang di kartun, difilmnya rapuncel sudah berjilbab, hahahaha, ah ngak jelas!
Ia masih terdiam, kenapa ia terdiam, ya karena memang ia ingin diam, dikeluarkannya headset mini yang langsung diletakkan ditelinga kanan dan kirinya. Kucoba untuk sabar, mungkin menunggu sejenak tak apa, mungkin!
“kenapa kau diam dan tak mendengarkanku?”
dia masih terdiam, sedikit sakit rasanya, tapi ya mau bagaimana lagi. Aku harus berbaik hati agar dia tetap mau denganku, sekarang aku yang sangat mengharapkanya, membutuhkanya dan menginginkanya. Ah ini gila.
Bel masuk pun berdering memecah suasana diam, sementara yang lain masih lalu lalang didepanku dan kekasihku sedari tadi duduk denganku di teras, memperhatikan keanehanku, seperti berbicara dengan patung, ya dia mematug tak bergerak, andai ada truk pengangkut marerial lewat dijalan, akan kukutuk dia menjadi batu, lalu ku guyur dia dengan semen cepat kering.
"Eh jangan. Kasihan dia, nanti yang sayang sama aku siapa dong?"
Aku duduk dibangku tengah bersama dengan sahabatku yang cantik, namun saying semenjak aku bersama kekasihku dia menjauh dariku, andai aku tau kalau jadinya begini, ku ikhlaskan aja kekasihku padanya. Sungguh menyesal itu tidak pernah diawal. Ah bodoh.
Lagu Indonesia raya mengawali pagiku yang cerah ini, dengan jiwa yang sepi, begitu terang untuk cinta yang mati. Ini bukan lagu, ya memang lagu sih, tapi ini yang sedang ku alami. Detik ini, pagi ini. Kembali ke lagu Indonesia raya. Biasanya aku menjadi Dirigen, namun pagi ini aku bad mood, sebelahkupun berdiri dan memimpin didepan kelas, sesekali aku menengok kebelakang sebelum menyanyikan lagu Indonesia raya. Kupastikan apakah dia sudah tersenyum ataukan masih cemberut. Dirigen pun memulai ambil suara, lagu Indonesia Raya menjadi semangat pagiku kali ini, kunyanyikan agak keras disbanding teman-teman yang lain, karena dalam diam ini aku ingin berteriak sekencang mungkin, kalau bisa sampai kaca-kaca pecah, pintu roboh dan sekolah ini roboh melebihi dasyatnya jurus aungan singga di film Kung Fu Hustle, pasti kita diliburkan semua dalam jangka panjang deh, hehehehe ah semakin nggak jelas.
Saat pelajaran dimulai pun aku tak konsen, gambar-gambar pahlawan seolah diam dan sinis padaku, dan berkata “ hai kau orang hina, jangan duduk disitu, segera pergi dari sini, cepat atau lambat kau akan menderita. Ingat itu.” padahal aku dipercaya minggu depan mewakili sekolahku di kejuaraan matematika di salah satu universitas ternama di Indonesia ini, ah pusing.
Suasana kelas kembali gaduh seperti hari-hari yang lalu, dengan berbagai aktivitas teman-temanku didalam kelas, ada yang keluar jajan, ada yang ke wc, ada yang ke perpus, ada yang ke kelas lain yang juga kosong dan lain-lain, sehingga kelas Nampak agak kosong, guru bahasa Indonesia ditugasi kepsek untuk membenahi soal try out UN. Akupun mendekati kekasihku dan berusaha mengakrabkan diri lagi.
“ boleh aku duduk disebelahmu?”
dia hanya mengangguk, akupun sedikit menggeser kursiku lebih dekat denganya, itu yang sering dia lakukan padaku dulu, ketika masih mendekatiku. Yah itu dulu, bak wanita terindah yang dimanja dan diperhatikan penuh oleh seorang lelaki. Aku sebenarnya jijik dan tak tertarik pacaran sama sekali. Sungguh aku menyesal menyesal dan menyesal.
“ kenapa kau perlakukan aku seperti ini sekarang?”
aku mulai protes perlahan padanya, tapi dia masih membisu, diam seribu bahasa, aku mulai kehabisan kata-kata, aku mulai muak dengan semua ini, lebih baik ku ungkapkan saja apa yang aku alami sekarang setelah kejadian tempo hari. Aku merasa akan dicampakan dan ditinggalkan, seperti memakan sebuah roti, isinya akan dimakan dan bungkusnya terbuang menotori bumi ini, menjadi sampah dan mencemari lingkingan, sama halnya denganku. Ah putus asa.
Selepas bel pulang sekolah aku menuju bangkunya, mencoba mengeringkan kapuk-kapuk yang telah basah karena banjir, memadamkan air yang telah tergenangi api, semua serasa melelahkan, sekarang siapa yang butuh siapa yang mendekat, aku mulai berfikir, dulu aku jual mahal, dulu aku membuat dia mengemis didepan semua orang, didepan semua teman-temanku sekelas, dia memang gila, tak punya rasa malu waktu itu, demi cinta dia rela mempermalukan dirinya sendiri. Dan kini aku yang dipermalukan, dihina, dan dibuang.
“ tunggu sebentar ya, aku mau bicara!”
diapun tetap berdiri dan meninggalkan kursinya.
“ hey kau dengar aku tidak, tunggu sebentar, kamu itu jadi cowok nggak bertanggung jawab bener ya? “
dia masih melanjutkan langkahnya yang agak pelan, mungin dia kasihan melihatku terus mengemis padanya.
“ hey apakah kau balas dendam padaku? Apa salahku? Kau hancurkan masa depanku? Lelaki macam apa kau, mengatas namakan cinta untuk mendapatkan apa saja dariku, setelah itu kau tinggal aku! Berhenti kau!”
diapun menhentikan langkahnya.
“ berbaliklah, seperti dulu kau yang sering memandaangmu hingga kau tak bisa menahan nafsumu, siapa yang mau pacaran denganmu? Kukura kau lelaki baik-baik, keluarga orang berada dan tersohor, keluarga ulama besar! Aku malu jika jadi kamu!”
kemaraahanku semakin memuncak, kukeluarkan besi-besi dan baja pemukul dari mulutku untuk mengentikan langkahnya, dan kulemparkan bola dari semen yang keluar juga dari mulutku untuk membaalikkan badanya.
“ diam kau!”
hanya itu yang dia ucapkan, wajahnya semakindekat denganku, dan aku menyingkirkan tubuhnya jauh dari tubuhku. “ apa kau laki-laki bre****k! tega kau menodaiku, kau harus tanggung jawab menikahiku! Aku sudah dua bulan!” kupukul-pukul kepalanya, pundaknya dan kujambak-jambak rambutnya, dia pun hanya diam saja dan menunduk. akupun mengungkapkanya siang itu juga padanya, sungguh aku merasa lega, sedikit lega.
“ gugurkan!”
satu kata yang membuatku merasa seperti ingin mati saja, ah kau lelaki tak bertanggung jawab.
***
Setelah beberapa hari dia tidak masuk sekolah, kudatangi rumahnya. Mau lari kemana dia, dia tak kan pernah bisa lari dariku, karena dunia itu bulat, sebulat tekatku meminta pertanggung jawaban darinya, ku sapa rumah megah nan mewah itu, beberapa kali tak ada sahutan akhirnya datang seorang penjual sayur yang memberitahukanku bahwa mereka semua sudah pindah sejak dua hari yang lalu, ketika aku bertanya dimana pindahnya bapak itupun tak tahu. Sungguh aku terhina dan kecewa, kutak kuat lagi berdiri, kusandarkan tubuh ini didepan pagar hitam tinggi, kucoba menghela nafas, mengatur sirkulasi darahku agar aku kuat berjalan pulang. Ini memang gila, dia kabur tanpa pamit, handphonenya pun tak aktif. Rindu ini semakin sirna, langit sore itupun marah, air-air dari langit pun mulai turun perlahan, aku segera berlari menuju tanah lapang meninggalkan rumah biadap itu dan berteriak sekeras mungkin.
“ hai kau petir, sambutlah aku disini, bawalah aku menuju kehancuran yang nyata, dan aku tak ingin lagi membuka mataku"
ternyata petir pun memberi harapan palsu padaku. Tak ada sengatan apa-apa pada tubuhku, aku ingin sekali mati disini, darah segar mengalir dari dalam rok panjangku menetes memerahkan rumput yang hijau setelah kupukul-pukul perut ini, biar sakit sekarang, darpiada sakit belakangan. Aku pun tak sadarkan diri, dan ternyata permintaanku tak terkabulkan. Kubuka mata dan kulihat ayah bunda. ini disurga?
" bukan Ratih...!"
Recycle cerpen " kesempatan yang kau sia-siakan"
Semarang, 18 Februari 2013
Mang Gugun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar