Rabu, 13 Februari 2013

Kupu-Kupu Siang


Menjadi seorang motivator dan trainer masalah HIV AIDS adalah keseharianku saat ini, banyak sekali yang aku rasakan, mulai dari sedih, haru, tangis, canda, tawa, dan juga rindu akan teman-teman yang membutuhkanku diluar sana. Aku tak peduli dengan masa laluku yang seorang pelacur, aku tak peduli lagi harus berbuat apa terhadap masa laluku, yang jelas aku bangkit karena aku ada niatan dan ada semangat untuk hidup.
Huft, hari ini pengalaman yang sangat melelahkan baagiku, ada dua jadwal yang diagendakan, pertana di sebuah Holel dan yang terahir di SMA, apakah kuat hari ini fisikku, aku meminta asistenku untuk mengatur jamnya. Akhirnya aku mengawali pagiku dengan  bismillah mengisi di SMA tersebut, masih sama tema yang sku ambil, yaitu tentang bahaya penyakit HIV AIDS dan berkisar antara masalah-masalah remaja yang berkaitan dengan hunungan/pacaran. Bersama dengan rekan-rekan kerjaku aku meyakinkan mereka dengan materi-materi yang ada, diakhir sesi aku berperan sebagai mantan seorang yang jahat, dan kuberikan kesaksian-kesaksian yang membuat mereka menangis, mungkin dengan cara inilah meraka akan jera, dan harapanku tak ada lagi yang mengikuti jejakku, banyak pula sms yang masuk seputar keluhan remaja-remaja putri seusia SMP dan SMA yang pernah ku beri penyuluhan, pasti selalu ku tinggalkan CP ku, entah itu nanti yang membalas aku, atau asistanku yang jelas pasti akan kubalas semua.  Dan aku sangat miris dengan pengakuan meraka, banyak yang sudah dijebol oleh kekasihnya terutama berawal pada hari valentin, dengan alasan melakukan sekali tak akan hamil, dengan alasan setahun sekali, dengan alasan kasih sayang. Aku menangis jika aku sendiri yang membalas sms tersebut, aku merasa tersiksa sekali, aku beri mereka semua solusi, bahkan sampai datang berbondong-bondong ke kantorku, usahaku adalah memisahkan meraka, itu usaha terakhirku dan mencoba jujur dengan orang tua. Aku sangat kecewa dengan diriku dimasa lalu. Dan aku akan menebusnya hari ini dan esok, sampai aku benar-benar mati.
Selepas makan siang aku melanjutkan seminar di hotel yang dihadiri oleh pejabat-pejabat tinggi negara, disana aku sangat terkejut dengan sambutan yang sangat meriah dari para petinggi negera, aku berharap lebih pada bapak-bapak dan ibu pemimpin yang ada diruangan ini, agar menjadi pemicu semangat generasi muda untuk berprestasi, bukan menghancurkan diri. Tapi sepertinya dari ratusan peserta sedari aku pertama duduk didepan sampai akhir tak henti-hentinya memandangiku, aku jadi agak sedikit ketakutan dengan bapak yang berdasi, sedikit tua, usianya sekitar 42 tahunan, sepertinya pernah kenal dan pernah melihat, apakah diseminar-seminar sebelumnya atau dimasa laluku, aku jadi sedikir berkeringat dingin rupanya, selepas acara selesai aku pun segera menuju ke sekertariat untuk mengambil honorku, aku dan tim tak pernah mematok harga, hanya mereka yang memberiku uang dengan nominal yang cukup banyak untuk ku bagi dengan rekan satu tim, pak supir dan asistenku, sekarang sukses bukan tujuan hidupku, mengabdi dan menyuarakan “ mari selamatkan generasi muda dari HIV AIDS” adalah suara hatiku yang terdalam, karena aku juga masih muda! Sebelum aku masuk mobil bapak yang sedari tadi memperhatikanku menghampiriku.
“nak ratih?” aku semakin berkeringat dingin.
“ iya pak, ada yang bisa saya bantu?”
“ oh tidak nak ratih, saya mengucapkan banyak terimakasih pada nak ratih, tapi bukan itu saja, nak ratih tentu masih ingat saya kan?”
Aduh, pasti ini ada hubunganya dengan masa laluku, “ em, mohon maaf bapak, saya benar-benar lupa dengan bapak!”
“ oh ya sudah, saya dahulu adalah salah sseorang yang pernah menikmati tubuh mbak ratih, mohon maaf. Saya juga yang memutar lagu kupu-kupu malam waktu saya dan mbak ratih bersenang-senang, ternyata mbak ratih sekarang sudah menjadi kupu-kupu siang yang sangat elok dan tersohor dimana-mana. Tak peduli orang mau berkata apa, tapi yang jelas kinerja mbak sudah menyelamatkan jutaan remaja selama dua atau tiga tahun ini.
Mati aku, ternyata bapak ini adalah salah satu pelanganku di masa laluku “ oh iya pak, terimakasih, saya juga memohn maaf atas kesalahan saya waktu itu, sekali lagi saya mohon maaf pak” air mataku kembali menetes, dan yah, aku pun menjadi drop seketika, inilah yang aku takutkan selama ini, tapi aku sudah bertekat, bukan hanya ini yang akan ku hadapi, tapi jutaan caci-maki.
“ ini nak ada sedikit uang, mungkin bisa menyambung nyawa nak ratih, bapak sekeluarga minta maaf!”
“ oh iya pak, saya ucapkan terimakasih banyak, sekali lagi saya mohon maaf ya pak!”
Bapak itupun pergi meninggalkan aku yang sedang menangis dan asistenku yang siap-siap berjaga dibelakangku jika sewaktu-waktu aku pingsan. Uangnya pun tak sedikit, kukira hanya satu, dua, atau tiga juta, uang limapuluh juta dalam ratusan ribuan ku terima. Alhamdulillahirabbil alamin ya allah.
Aku memang sangat suka denga lagu “kupu-kupu malam” yang dinyanyikan oleh ariel peterpan, itu adalah bagian dari masa laluku, lagu itu memiliki arti yang panjang dalam hidupku, selalu tetesan air mata yang membanjiri pipiku ketika lagu itu terdengar halus memalui udara yang terus bergerak. peterpan saat ini nama bandnya berubah jadi Noah. kemarin akhir bulan lalu juga Noah ada dikotaku, mereka sedang konser ditengah hujan yang lumayan deras, aku ingin sekali membeli tiket, foto bareng dan memberikan cerita ini pada mereka, tapi sayang, diwaktu yang bersamaan aku ada jadwal seminar, dan setelah itu aku pasti capek, apalagi seminarku bukan dikotaku, ku urungkan niat ini, semoga aku bisa bertemu dengan mereka satu panggung suatu saat nanti.amin
Tiga tahun yang lalu aku adalah seorang yang sangat hina, jangan salahkan diriku, semua orang memarahiku, mencaciku, dan memojokkanku dalam ruang sempit di tepi pojok bumi ini, yah itulah masa-masa sulit yang aku alami. Mulai dari keluarga, teman, sahabat, semua menjauh dariku, fikirku “sudah terlanjur basah, sekalian saja mandi sampai mati.” Memang tak mudah melupakan sakit setiap malam yang ku alami selepas melayani lelaki hidung belang itu, ada yang dari rakyat biasa, sampai-sampai aku pernah jadi bokingan wakil rakyat sekelas anggota DPR. Lelaki memang sama saja sebenarnya, sungguh itu adalah hal yang membuatku merasa menyesal jika mengingatnya.
Rupanya dalam kursi kerjaku ini aku sering melamun masa-masa itu, masa-masa dengan mudah mendapatkan uang dalam waktu satu malam, berkisar tiga juta, empat juta, sampai tujuh juta, apalagi aku pernah menjadi seorang pemain figuran dalam sebuah film waktu aku jadi PSK dan kuliah dulu, ceritanya aku punya kakak angkatan dikampus yang menawarkan aku bermain film, ya film indie sih, tapi laku terjual dibioskop, sampai dilirik produser ternama dikota itu, yah, akhirnya aku naik daun, tapi stetlah semua tahu bahwa aku seorang PSK atau ayam kampus, aku diberhentikan dari kontrak yang baru sebulan aku tanda tangani, niatan sih mau berhenti melacur, sepertinya dunia perfilman lebih menjanjikan, tapi ya mau gimana lagi, belum rejeki. Tapi tak apalah, setelah itu aku mampu merogoh kocek yang lebih dalam dari lelaki yang mencari kepuasan, minimal limabelas juta lah, ya itu semua karena aku pernah jadi artis dadakan, naik deh gajiku, hahaha
Huh, sungguh tak beralur ceritaku, memamng, seperti hidupku yang tak beralur pula, sempat merasa sedih ketika dikeluarkan dari civitas kampus, karena entah dari mana surat yang menyatakan aku positiv HIV AIDS  itu sampai juga ke tangan dekan, sampai rektor. Malang nasibku, padahal disana bukan Cuma aku, masih banyak teman-temanku yang berprofesi sebagai ayam kampus yang tak ketahuan, kalau aku mau, aku punya bukti, dan aku bisa menyeret lebih dari duapuluh mahasiswa keluar bersamaku, tapi itu bukan kode etik seorang ayam kampus, biar begini juga aku punya hati. Sudah susah mau ngajak-ajak orang yang senasib, jangan lah, memangnya aku penusuk dari belakang, oh tidak, meski aku hina itu bukan pekerjaanku, dan aku tak dibayar untuk menghancurkan masa depan teman senasib.
Ya, masih ingat dengan aryo, adik kelas aku di SMA, dan adik angakatanku di kampus, eh mantan kampusku, mungkin saat ini dia sudah widusa, karena kemarin terahir SMS aku dia lagi kejar skripsi, wah enak banget ya, sebentar lagi bergelar S1. Tak seperti aku, sangat diharapkan orang tua menjadi satu-satunya harapan malah sangat mengecewakan. Oh iya, tak usah bernostagialah, kembali pada aryo. Dia adalah pemuda tampan, kaya, dan terkenal di kampus yang membuat aku masih hidup sampai detik ini, walau harus menelan hampir 10 butir pil penambah daya tahan tubuh agar tak mudah terserang penyakit, yah setidaknya memperpanjang usiaku sebelum usai.
Waktu itu dia membokingku untuk menemaninya semalam, tetapi karena aku sudah profesional dan dia masih abangan, aku kerjain saja, akan tetapi hasilnya sampai saat ini dia lah malaikat penyelamatku. Tiga tahun yang lalu aku sakau, hampir mati dan hampir tak bisa menebus dosa-dosaku. Tiga tahun lalu aku dibawanya kerumah sakit tempatku sekarang mengabdi, sebagai duta. Duta nya bukan duta biasa, menurutku melebihi duta indonesia di ajang Miss Univers.  Ketika aku sedang duduk santai dikantor selepas mengisi acara di salah satu R SMA BI ternama, aryo menelefonku, nada dering kupu-kupu malam yang dipopulerkan oleh ariel peterpan pun memecah kesunyian ruangakn yang ber AC ini.
“ halo, assalamualaikum mbak ratih, apakabar nih?”
“ waalaikum salam. iya aryo, baik. Ada perlu apa? Ada job lagi?”
“ oh ndak mbak, Cuma mau mengabari, aku baru saja keluar dari ruang dosen pembimbingku, beliau berkata aku akan wisuda bulan oktober nanti!”
“oh ya? Selamat ya, akhirnya kamu bisa membanggakan mbak juga!”
“Terimakasih mbak, jam lima sore tak tunggu di tempat biasa ya, sekalian ada yang mau aku kenalin sama mbak!”
“Wah siapa tuh? Jadi penasaran!”
“ya pokoknya tak tunggu ya mbak, met siang, assalamualaikum..!”
“Waalaikum salam. Sampai ketemu sayang!”
Sejak aku diselamatkan olehnya aku sangat akrab denganya, dia sudah ku anggap adik sendiri, beberapa kali dia juga menginab dirumahku yang berada di kampung, selalu dia pasti bercerita masalah apa saja yang ingin dia ceritakan padaku, kami sudah seperti saudara kandung walau bukan saudara kandung.
Yah sejenak aku mengela nafas panjang, ketika mengingat kejadian dua tahun yang lalu waktu aku masih sering check kesehatan di dokter pribadinya, selepas aku pulang dari rumahnya aku diajak kesalah satu resto yang ada di kampung, lumayan sederhana, tapi juga sangat megah bagiku, dia sodorkan cincin emas dan perak sebagai tanda keseriusanya mencintaiku, namun aku tak mungkin bisa menerinamnya, aku ODA, sedangkan dia lelaki normal, baik dan rasanya tak pantas mendapatkannya, walau dihati ini menginginkan dan menantikan hal itu terjadi, namun aku tetaplah ODA, dan dia penyelamat ODA, jadi aku minta dia buat memikirkanya dahulu sebelum bertindak.
Ini masalah masa depan yang panjang, bukan setahun dua tahun tiga tahun, bosan-tinggal, bosan-buang, bosan-selingkuh, bosan-jajan seperti yang dulu pernah ku tanyakan pada orang-orang yang menikmati tubuhku, kenapa mas/ bapak melakukan semua ini, apa tak kasian sama anak istri, aku tak mau nantinya aryo melakukan itu padaku, walaupun aku adalah wanita penghancur rumah tangga orang. Aku tak mau keturunan keluarganya dia ada yang menderita penyakit yang harus menelan biaya hampir dua juta setiap bulanya, dan entah sampai kapan tubuh ini akan bertahan aku juga tak tahu, “aku sudah terlalu hina bagimu yo! Terimakasih atas tulusnya cinta kasihmu padaku, tapi aku tak pantas kamu cinta dan kamu sayang, apalagi kamu menilahiku hanya karena dasar kasihan, itu tak kan bertahan lama yo!”
Akhirnya diapun berfikir ulang untuk menikahiku, yah itulah yang terbaik bagi kamu dan memang yang terbaik, dia adalah orang baik, sedangkan aku adalah orang yang ingin baik lagi, beda konteksnya kan. Lamunanku membuat lantunan “kupu-kupu malam” pun berdering kembali.
“halo, assalamualaikum mbak, ayo, sudah pulang belum, kalau belum tak jemput saja di rumah sakit!”
“oh iya maaf yo, waalaikum salam. mbak tadi istirahat, kecapekan. Oke jemput mbak di RS aja ya!”
Mobil yang dulu aku tunggangi empat tahun silam, ini dia, sudah ada didepan mata, jadi teringat kebut-kebutan malam itu, jadi teringat keringat aryo yang keluar mengucur malam itu, jadi teringat kumis palsu itu, jadi teringat jaket kulit dan topi gelap yang menutupi separuh muka aryo. “ mbak, ngapain benggong, ayo masuk!” segera aku masuk, dan merasakan apa yang kurasakan saat ini.
“selamat ya yo, oh iya pak aryo S.Pd. sekarang, hehehe”
“ ah mbak bisa aja, belum resmi lo, jangan dulu mbak. Hehehe”
“yo….!”
“heem, ya mbak, ada apa?”
“ kok pakai mobil ini, terahir kamu pakai dan aku lihat empat tahun yang lalu yo!”
“hehehe, kenapa mbak? Masih ingat kah mbak? “
“Wah ya ingat banget lah yo, dengan Cuma-Cuma kamu ngasih uang ke mbak tanpa susah payah lo..hehe”
“eh, iya, sini kembalikan uangku mbak? Wah …hahaha!”
“ iya setelah mbak kembalikan, besoknya kamu layat dirumah mbak ya!”
“ nggak-nggak mbak, bercanda kok, oh iya cukupkan mbak bulan ini? Obatnya masih banyak? Ayah aku kemarin dari luar negeri itu ngecek proyek thunder, dan membelikan aku suplemen yang lebih murah untuk daya tahan tubuh deh mbak,  tapi dari hongkong kayaknya ramuan itu!”
“halal nggak? Hehehe ah nggak ah, nanti kalau aku ketagihan gimana? Yang ini aja deh!”
“ hehehehe, oke mbak, coba aja dulu ya!”
“ nggak, kamu itu sudah terlalu banyak mbak repotkan, mbak berhutang banyak nyawa padamu!”
“ ah mbak biasa aja kali, bisa aja, semua karena aku ada kesempatan mbak, maka waspadalah-waspadalah! Loh, hehehe!”
“ ah kamu itu bercanda melulu, eh tadi ditelefon kamu mau kenalin aku ke siapa?”
“Tunggu saja mbak, kita hampir sampai!”
Segera mobil balap yang tiada duanya itu melejit kesebuah resto yang biasa kami kunjungi berdua, tapi kali ini dia nggak sendiri kayaknya, hehehe selepas aku turun dari mobil kulihat sebuah mobil mercedes pink berplat nomor yang tak asing lagi bagiku, aku masih ingat betul, itu adalah mobil bosku waktu aku jadi ayam kampus, segera ku pastikan apakah itu benar apa tidak, ada lecet dibagian bawah dekat lampu mobil bagian belakang, ternyata benar, wah pasti mantan bos ku ada disini. Aku segera waspada dan memberi tahu aryo, kalau terjadi apa-apa aku minta tolong padanya lindungi aku.
Setelah kami berdua duduk dimeja nomer 12 kami segera memesan makanan yang paling kami suka untuk merayakan wisudanya aryo beberapa minggu lagi, yah aku diminta untuk makan sepuasnuya sampai kenyang, pokoknya aku ditraktir sepuasnya sore ini, bungkus juga boleh, hehehe, ketika aku tanya siapa yang akan dia kenalkan kepadaku, kenapa orangnya tak kunjung tiba, dia memintaku bersabar. Setelah lama menunggu seseorang yang mau dikenalkan aryo padaku dari toilet akhirnya muncul juga. Aku sangat terkejut dan kaget melihat wajah yang tak kan pernah aku lupa dan tak asing lagi bagiku.
“Astagfirullah, itukan? Kamu kan?”
“kumohon yo, jangan yang ini!” ketika masih tampak dari kejauhan aku segera berkata pelan pada aryo. akupun berlari meninggalkan restoran itu tanpa pamit, dan aryo pun mengejarku dan berusaha meminta penjelasan dariku.

 Karya : mang gugun
 Wedarijaksa, 14 februari 2013
Say no to valentine. Apapun agamanya dan siapapun pribadinya.
Say no to free seks. Karena tubuh kita itu mahal harganya.
Akan lebih bermakna jika disentuh sah oleh pendamping sah hidup kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar