Selasa, 15 Januari 2013

Semur Jagung Muda

“Sebuah naskah film perjuangan seorang anak SD yang ingin membahagiakan orang tuanya.”

Penyusun naskah : mang gugun
  
Namaku ikhsan, mempunyai keluarga yang lengkap itu sangat membahagikan, bisa berkumpul bersama, nonton televisi bersama, makan bersama, bercanda gurau bersama, pasti rasanya menyenangkan, itulah impianku. semenjak kecil aku selalu saja kena marah oleh bapakku, dia selalu saja memukuliku tiapkali aku berbuat salah, aku tak pernah diberi kesempatan untuk bicara sedikitpun, aku jadi malas belajar ketika rasa nyeri didalam tubuhku ini sering kali datang sendiri dan membuatku sedikit meringkih kesakitan, kehidupan keluarga kami tak seindah kehidupan teman-temanku sebaya baik dikampung maupun disekolah, mereka memiliki orang tua yang sayang pada anaknya, memiliki kakak yang selalu melindungi adiknya, memiliki ibu yang selalu memeluk anaknya ketika sedang sakit, memiliki rumah bagus yang layak dihuni dan ditempati, memiliki makanan yang enak setiap hari, memiliki mainan yang lengkap dan komplit, memiliki apa saja, kecuali aku. Tapi hidup harus disyukuri, ibuku selalu cerewt apa-apa sedikit aku kena marah, bapakku main tangan, salah sedikit suka asal pukul, kakakku penurunan dari bapakku, suka judi.
Babak 1
Tokoh : ikhsan, ibu, dan kakak
Tempat : dalam rumah
Waktu : pagi hari
Ibu : “ san, bangun!!! kamu itu niat sekolah nggak? Jam segini belum bangun, mau jadi apa kamu, kalo ngak bangun juga ibu siram kamu pakai air panas!!! ( itulah cara khusus membangunkanku setiap hari, rasa capek membuatku kadang tak sempat shalat subuh, karena semalam aku harus membungkusi jajan yang nanti aku titipkan dikoperasi sekolah)
Ikhsan : “ iya buk, sebentar, ini Ikhsan sudah bangun!”
Ibu : “ dasar kamu ya anak malas, cepat sana bersihkan halaman, ngepel lantai dan cuci piring!!!” ( itulah pekerjaan ku setiap pagi, ketika sang fajar masih asik dengan kegelapanya aku sudah mengeluarkan banyak keringat)
Ikhsan : “ capek buk, surah kakak aja, ikhsan masih ngantuk!”
Ibu : “ sudah berani mbantah ya sekarang kamu ha? Anak bandel? “
Ikhsan : ndak buk, setiap pagi juga aku terus yang kerjakan kan? Siapa yang mau? Ibuk? Nggak kan? Kakak? Apa dia sudah pulang jam segini? Mustahil buk, mungkin dia masih teler dipinggir jalan sana dengan teman-temanya! Pagi ini saja ya buk, aku sangat capek!”
Ibu : “ kecil-kecil udah ulung omong kamu ya, siapa yang ngajarin kamu mbantah! Cepat laksanakan!”
Ikhsan : “ ahh, capek buk, ibuk tau gak ikhsan capek, belum ulangan juga belum belajar, semalam ibuk tertidur pulas, aku nggak dibantuin!”
Ibu : “ kamu ya pagi-pagi udah buat ibu marah! Ayo..cepat kerjakan!”( sambil melototin aku yang duduk diatas kasurku)
Kakak : “ dasar anak malas, bisanya Cuma kayak anak perempuan saja, ngeles terus!”( kakak yang baru pulang, membuka pintu dan terus berkomentar, membuat aku jengkel kepadanya, ini  bukan yang pertama, sudah berkali-kali, akupun tak tahan)
Ikhsan : “ apa katamu kak? ikhsan sudah jengkel ya dengan kakak, setiap hari gak pernah pulang, eh baru pulang aja sudah main ngomong aja, orang mabok itu gak usah banyak tingkah!”
Kakak : ( sambil mengangkatku dan tangannya mengenggam kearah wajahku) apa kau bilang? Ha? Sekali lagi ? bilang apa kau tadi?
Ibu : “ Fer, sudah-sudah, lepaskan adikmu!, san cepat laksanakan!”
Ikhsan : terus belain kakak, apa dia mau membantu ibu disini, kerjaanya Cuma minta makan dan judi saja! Ibu selalu membela kakak! Ibu tidak adil, sama seperti bapak!”
Ibu: (plakk...) pukulan yang mungkin sudah keseribu kali mendarat dipipiku, rasa sakitpun menemani pagiku dan itu pun sering terjadi.” Kamu itu sama kayak bapakmu, cerewet ya, cepat kerjakan(dengan nada yang sangat marah) kamu membuat ibu naik darah ya pagi-pagi gini! Nanti tidak ada jatah sarapan!”
Ikhsan : (dalam hati) “ tuhan, izinkanlah ikhsan menangis ampunilah dosa ikhsan pagi ini, dan berikanlah ikhsan, ibuk, dan kakak kesabaran. Sudah cukup, kettika ikhsan mencoba berontak malah seperti ini, ketika ikhsan diam ikhsan sakit sendiri”
Ibu : “ lekas dikerjakan ikhsan, jangan bicara lagi, awas ya kalau kamu nanti telat dan ibu didatangi sama gurumu yang itu lagi, rasakan nanti kamu ya!”
Kupun bergegas melaksanakan rutinitasku setiap pagi, mulai dari nyuci piring dan tempat bekas membuat kue, menyapu halaman, mengepel rumah, tepatnya ruang tamu, menyapu lantai, dan masih banayak lagi. Bodoh sekali aku pagi ini memberontak, tapi apa mau dikata, hatiku sudah tak tahan lagi dengan semua ini. Setiap kali aku merasa ketidak adilan aku hanya bisa menangis, sudahlah jika ini memang suratan takdir, aku tak apa, tapi jika begini terus, apa aku kuat, lama sudah aku lupa caranya tersenyum, lama sudah aku lupa bagaimana membuat suasana hatiku bahagia, lama sudah aku berlari meninggalkan tawa. Sekarang aku sudah menjadi mumi yang hidup, tangisku semakin membanjiri hati, ketika melihat teman-temanku yang rumahnya berdekatan denganku mencium tangan bapak dan ibunya, tak kuasa aku meneteskan air mata dan selalu bertanya “ kapan aku bisa berbakti pada orang tua, kapan aku bisa mencium telapak tangan bapakku, ibuku” ah, khayalan semata, aku tak boleh menangis, toh itu juga tak mungkin terjadi.

Babak 2
Tempat : jalanan menuju sekolah
Waktu : pagi hari sekita pukul 06.30 WIB
Tokoh : Ikhsan, della, budi, indria, janet

Selepas aku melaksanakan tugas-tugasku aku langsung berangkat  kesekolah, keringat ini rasanya belum kering, masih mengucur walau aku sudah mandi dan memnersihkan badanku, aku sangat ingin sekali sebuah sepeda, sejak dulu aku sangat bermimpi memiliki sepeda, pasti lebih cepat sampai jika aku punya, tapi itu mustahil.
Della : “ hai ikhsan selamat pagi..!” ( ketika aku melamun tiba-tiba datanglah Della, temanku sekelas yang sangat cantik, dia anak orang kaya, bapaknya salah satu komite sekolah)
Ikhsan : “ pagi della, tumben jalan kaki? Nggak capek tuh?”
Della : : “ah nggak, lagi pengen aja, lagian ban sepeda aku bocor, ayah juga berangkatnya lama, jadi aku tadi puruskan untuk jalan kaki, bareng ya?”
Ikhsan : “ lha ini kan udah bareng, hehehe”( kucoba untuk tersenyum, karena pagi ini aku diteman Della)
Della : “ oh iya ya, hehehe. Eh San udah belajar belum? Nanti ulangan matematika lho!”
Ikhsan : “ lha? Yang bener kamu Dell? O..iya ya..wah ikhsan lupa belajar malah.( padahal tidak demikian, tak ada waktu untuk belajar bagi ikhsan, ketika tadi pagi ikhsan mau belajarpun juga tak bisa, rasa capekku juga masih terasa) eh nanti ikhsan contek  kamu ya ?”
Della : “ bukanya kebalik San, wah kamu ngajak bercanda ya, kamukan yang pinter, masak minta contekan sama aku, ah kamu nggak belajar juga udah pinter kok!”
Ikhsan : “ya...tapikan materi kali ini ikhsan nggak faham Dell!”
Della : “udah lah aku percaya kamu bisa kok San... !”
Ikhsan : “ hmmm...ikhsan coba deh!”
Tiba tiba ada tiga orang datang, perasaanku sudah nggak enak nih, karena yang datang adalah budi, indria, dan janet. Mereka bertiga selalu ingin mengerjaiku dengan berbagai macam cara,  ya mereka selalu usil padaku.
Budi : “ eh-eh tumben si cupu ada temenya? Dapet dari mana ? ohh..Della ternyata, wah pasti sudah diapa-apain ni sama si cupu, sampai-sampai dia mau berangkat bareng!”
Indria : “iya iya, Dell ngapain kamu berangkat bareng sama dia, apa nggak malu? Lihat aja apa yang dibawa dia, dia itu penjual kue, bukan temen kita!”
Della : “ sudah-sudah, jangan pada ngejek, pagi-pagi udah bikin ribut,  Ikhsan juga temen kita kan!”
Janet : “ temen dari mana? Hongkong? Temen kayak gini ? terus gwe harus bilang waw gitu?hahahahaha”
Ikhsan : (mempercepat langkah kakinya) ( dalam hati ) “sudahlah daripada nanti malah bikin ribut mending ikhsan diam saja!”
Della : “ ayo San, cepet an dikit, sudah jangan hiraukan omongan mereka, nggak penting kok! Toh mereka juga nggak kan bisa sepertimu. Iya kan ?
Ikhsan : “ hehehe iya Dell, makasih!” ( jangan sampai mereka seperti ikhsan Dell,  cukup ikhsan saja yang merasakannya) ucap Ilhsan dalam hati.
Indria : “ ya iyalah, masa aku seperti si cupu, nggak banget!”
Kamipun sampai disekolah sebelum bel tanda msuk berbunyi, aku dan Della pun menuju ke kelas. Indria, Budi, dan Janet pun juga dibelakangku. Hari ini aku ulangan matematika, tetapi aku belum belajar, semoga saja lancar.amin
Babak 3 :
Tokoh : ikhsan, guru kelas, della, indria, janet, budi, ridho, dan teman 1 kelas yang lain.
Tempat : ruang kelas 6
Waktu : pagi hari sekira pukul 08.00 WIB

Suasana kelas pun sudah snagat ramai ketika aku datang, karena hari ini ada ulangan matematika, ya, biasanya jam segini masih sepi dan hanya berangkat beberapa orang yang sedang piket. Akupun segera meletakkan tasku dan mengambil buku catatan sebelum pak guru datang, ya..biasanya pak guru sangat disiplin, sebelum jam tujuh aja udah duduk didepan kelas, banyak yang sering keduluan pak guru masuknya, dan pasti yang dibelakang pak guru akan dapat hukuman.
Pak Guru : selamat pagi anak-anak, silahkan dipimpin berdoa! Hari ini kita ulangan matematika!
Ridho : tempat duduk siap grak. Berdoa mulai....selesai!”
Pak Guru : ya, silahkan dikeluarkan pulpen dan kertas ulanganya, semua buku dimasukkan dalam tas, tidak ada satupun buku yang berada diatas meja, semua contekan dimasukkan sebelum ketahuan, pastikan laci bersih, tas diletakkan didepan kelas, cepat kerjakan!”
Ikhsan : “ dho? Udah belajar belum?” (tanyaku lirih)
Ridho : “ sudah, tapi nggak faham-faham aku, kali ini bakalan sulit kayaknya.”
Ridho adalah ketua kelas 6, kelas yang saat ini aku tempati, yang sebentar lagi akan menghadapi Ujian Nasional.
Ikhsan : “ gimana ni dho? ikhsan juga belum belajar kok!”
Ridho : “ ah kau, biasanya yang paling rajin deh, kenapa sekarang jadi ikutan malas?”
Ikhsan : “nggak, ikhsan banyak tugas dirumah, disuruh ini itu ibu ikhsan dho!”
Ridho : “ ow...ayo cepat kerjakan sebisamu!”
Pak Guru : “ silahkan dikerjakan soal yang ada didepan kalian masing-masing, tidak boleh tenggok kanan atau tenggok kiri, sekali tengok kena hukuman, kalau tengok kanan pipi kiri dicoret pakai sepidol, kalau tengok kanan pipi kiri yang dicoret pakai sepidol, faham? Bapak menghendaki kalian jujur, berapaapun hasilnya bapak akan hargai daripada mencontek. Oke selamat mengerjakan, waktunya satu jam dari sekarang!”
Suasana pun heninig dan sangat tenang, tak ada satupun yang berani melanggar peraturan yang dibuat, akan tetapi aku tidak bisa mengerjakan soal ini, mau bagaimana lagi terpaksa harus nekat.
Ikhsan : (dalam hati) “ aduh, bagaimana ini sulit semua soalnya,  mana waktunya sudah hampir habis lagi, semua teman-teman pada anteng, mereka bisa apa memang tidak bisa tapi diaam saja ya, huh!”
Ikhsan : “ Dell-Dell, kasih jawaban dong? “
Della : (lirih) “ nggak ah, takut ketahuan!”
Ikhsan : “ nggak papa, tuh pak gurunya tidur, hehehe”
Della : “ ya udah, nih...cepetan ya...! buruan!”
Janet : ( tiba-tiba berbicara keras memecah keheningan) “ pak-pak, si Della sama Ikhsan contekan pak!”
Budi : (menambahkan) “ iya pak saya juga melihat!”
Indria : (memperkuat) “ saya punya gambarnya pak, mereka ketahuan nyontek, ni lihat teman-teman!
Pak guru : (sontak kaget dan bangun dari tidurnya) “ siapa yang membuat gaduh? Ada apa?”
Indria : “ saya pak, Della dan Ikhsan contekan pak, saya punya buktinya, lihat pak!”
Pak guru : “ ow, jadi kamu bawa HP kesekolah ya?
Indria : “ aduh...! mati aku! Lupa...malah ketahuan!”
Satu kelas : (menertawakan indriaa)
Pak guru : “ sini HP nya bapak minta, suruh orang tua kamu mengambilnya besok!”
Budi : “ tapi pak, indri kan Cuma mau memberitahukan bahwa si Della dan si Cupu saling contekan pak!”
Pak guru : “ kalian ini selalu membuat ribut kelas ini saja, Della, Ikhsan, indria, kalian keluar, dan tinggalkan ulangan bapak!”
Janet : “ saya juga keluar pak, karena saya merasa bapak tidak adil!”
Pak guru : “ ya silahkan ! kamu janet, tidak usah ikut ulangan bapak selamanya!”
Budi : “ ndak bisa begitu dong pak, kita kan Cuma membela kebenaran, yang salah ya harus dihukum, bapak aja tadi malah tidur, kita hanya memberitahukan bahwa mereka contekan, tapi kenapa malah Indria dan Janet yang bapak hukum!”
Ikhsan : (akupun hanya terdiam dan keluar meninggalkan kelas bersama dengan Della, sementara ketiga orang tadi masih berdebat dengan pak guru. bakal panjang ni urusanya kalau sudah begini, mereka memang selalu ingin menjatuhkanku sejak dari kelas dua SD)
Pak guru :  “ budi, kamu keluar, besok suruh orang tuamu datang kesekolah!”
Budi : “pak guru ini apa-apaan? Pantas saja hukum dinegeri ini carut marut, gurunya aja seperti ini, pantas murudnya kalau besar jadi penipu dan koruptar!”
Pak guru : “ kalian keluar!”
Suasana ulangan waktu itu pun menjadi mencekam, semua karena aku, ini semua salahku, beberapa hari berlalu teman-teman banyakl yang menjauhiku, ditambah lagi dengan orang tua kami semua yang harus dipanggil pak guru, jadi apa aku nanti dirumah, pasti kena marah besar dan pukulan-pukulan itu selalu aku bayangkan mendarat di seluruh tubuhku. Beberapa hari kemudian kami pun minta maaf pada pak guru dan tak akan membuat gaduh lagi ketika ulangan, tapi yang pasti nilai raporku akan dibawah KKM dan mungkin bisa Merah. Sungguh hari yang melelahkan untuk dikenang.
Babak 4
Tokoh : ikhsan dan della
Tempat : danau dan rumah Della
Waktu : minggu pagi

Setiap aku duka, aku selalu berada disini, inilah tempat faforitku melampiaskan semua kekelsalanku, membuang semua lelah dalam hidupku dan menyembuhkan luka-luka meskipun rasa sakit masih kurasakan, ditempat ini pertama kali aku kabur dari rumah dulu, kutemukan sebuah danau dipinggiran hutan dengan air terjun yang lumayan tinggi, pohon-pohon dan semak membuat tidak semua orang tahu tempat ini, aku seing menangis disini, merenung sendirian, menikmati sejuknya udara bebas, hidup bebas dan kicauan burung yang sangat merdu, tak ada satupun suara kemarahan, tak ada sedikitpun pukulan-pukulan yang kuterima dari sini, tak ada yang memikirkan besok mau makan apa, tak ada yang bisa menganggu aku disini, ditempat ini. Aku rindu bertemu dengan kebahagiaan, aku rindu bertemu dengan cinta dan kasih sayang orang tua, aku rindu pelukan, aku rindu saat-saat lebaran, punya baju baru, punya sandal baru, punya mainan baru, punya semua, diantara pohon-pohon disekitar danau, sudaha banyak sekali tertulis keinginanku. Bukan berarti aku beraharap pada pohon, aku masih punya tuhan, ya mungkin sebagai sebuah kenangan, semoga tidak akan hilang tulisan-tulisan ini ketika nanti aku besar.
Ikhsan : “ tuhan... apa kau tahu aku disini? Apa kau mendengar? Apa kau melihatku dengan jelas? Aku sangat membutuhkanmu...bantu aku untuk bisa hidup dengan nyaman... aku sudah tak tahan lagi... aaaaaaaaa.....!”
Sahabat sahabat berlari lari
Burung berkicau merdu lincah menari kepakkan jemari
Menghiasi sang hijau loncat kesana loncat kemari
Tak ada seorangpun yang halangi
Lihatlah sisiput jalan dengan santainya
Membawa makanan untuk yang tercinta
Air mengalir sejukkan mata menjadi sebuah kisah sempurna
Andai aku bisa mengadu akan ku adukan semua padamu
Andai kamu bisa bicara pastilah kan mendengar keluhku
Aku sangat rindu kasih dan sayang dari seorang ibu
Aku hanya ingin berada dalam dekapmu
Suara-suara rintih aku disini
Dengan seribu diam aku mulai bernyanyi
Menghibur diri ini
Melebur resah ini
Mengubur gundaah ini
Memaksa senyum ini
Untuk yang slalu dihati
Sayangi semua ini
Itulah lagu asal-asalan yang aku ciptakan dan aku nyanyikan ketika sampai didanau. Biarkan aku menari bersama pepohonan yang ikut menyuarakan bahasanya, biarkan angin menembus batas angan yang sedang ku gadang-gadangkan. Mungkin inilah hidupku yang sebenarnya.  Lupa akan semua, tiba-tiba hujan menguyur, entah mengapa, mungkin hujan seneng aku bernyanyi, tapi raga ini seolah menolak dan meloncat-loncat ingin pulang, akhirnya akupun lari dari danau, melewati hutan-hutan untuk pulang, rumah terdekat dari hutan adalah rumah Della, aku putuskan untuk beryteduh disana karena aku sudah mengigil kedinginan. Tiba-tiba dari jendela rumah terdengar suara.
Della : “ya allah Ikhsan, dari mana kamu? Basah kuyub begini! Sebentar-sebentar, aku tak keluar!”
Ikhsan : (hanya terdiam dan kedinginan)
Della : “ ini pakai handuknya, kamu dari mana? Kamu ganti baju aja ya? Baju kakak aku mungkin masih ada saat seusia kamu, ayo masuk, diluar dingin!”
Ikhsan : “ terimakasih ya Dell!”(sambil masuk kerumah dan didik dilantai)
Della :” ngapain kamu duduk disitu? Didik diatas aja, ngak papa kok!”
Ikhsan : “ brrrr.....basah Dell!”
Della : “ nih pakai, sana mandi sekalian, ganti baju, gak usah sungkan, ayah dan mama gak ada dirumah kok, hanya ada bi imas dan mbok jah! Gih cepetan!”
Akupun segera menuju kamar mandi dan menghangatkan badanku, kamar mandi Della bagus sekali, lebih bagus 10x lipat dari rumahku, mungkin harga rumahku dengan kamar mandinya Della mahalan harga kamar mandinya Della. Akupun kembali ke ruang tamu untuk menemui della.
Della : “ ya allah San, kamu itu ngapain aja, dari mana? Sampai basah kuyub begini?”
Iklhsan : “ emmm..dari....dari...dari...”
Della : “ dari mana? Itu diminum dulu susu hangatnya!”
Ikhsan : ( terakhir ikhsan minum susu kapan ya? Hehehe) (dalam hati) “ iya terimakasih dell.”
Della : (mengulangi pertanyaan) dari mana kamu. Tadi belum kamu jawab San? Ngapain sampai basah-basah begini, kalau kamu sakit gimana?”
Ikhsan : “ ya dari jalan-jalan Dell, tadi panas, tapi tiba-tiba hujan lebat datang, jadi aku kehujanan begini.”
Della : “ oww, nggak kabur dari rumah kan?”
Ikhsan : “ hehehe nggak kok.”
Akupun tak menceritakan kemana aku pergi pada Della, karena hanya aku saja yang boleh tahu keberadaan tempat itu, nanti jika ada orang lain yang tahu aku takut mereka akan merusak alam sekitranya, dan aku tak mau hal itu terjadi. Sudah cukup aku saja yang merawatnya, aku yakin aku mampu, biar aku yang menikmati keindahan itu sendiri tanpa harus aku membaginya dengan siapapun, termasuk dengan Della. Selepas hujan reda pun aku pulang kerumah, aku yakin disana aku pasti akan dimarahi lagi karena tadi pergi tidak pamit, apalagi tadi aku disuruh ibuk mengerjakan banyak sekali tugas, yah apa mau dikata, sudah terbiasa aku dengan kemarahan- kemarahan itu, rasanya sudah tidak asing lagi ditelinggaku, sudah tidak sakit lagi di tubuhku, mungkin sudah kebal, dan lama-lama aku bisa mati rasa.
Babak 5
Tempat : sekolah dan rumah
Waktu : jam sekolah anak sd
Pelaku : Ikhsan, pak guru, della,  ibu ikhsan, bapak ikhsan dan kaka ikhsan

Hari ini adalah hari yang sangat aku tunggu-tunggu, bukan hanya aku, akan tetapi semua teman-temanku, karena kami akan mengadakan piknik bersama di taman wisata. Semua teman-temanku sejak kemarin sudah mempersiapkan baju dan mengepak serta membawa bekal-bekal untuk dibawa saat refreshing, menginggat sebulan lagi aku dan teman-temanku akan menghadapi Ujian nasional, maka pihak sekolah jauh-jauh hari sudah merencanakan program ini, akupun rajin menabung untuk bisa berangkat bersama teman-temanku.
Della : “ hay ikhsan, selamat pagi, ayo berangkat, sudah siap-siap belum?” Seperti biasa aku dihampiri oleh Della, kali ini dia menggunakan mobil, karena sepertinya dia pergi bersama dengan rombongan keluarganya.
Ikhsan : “iya tunggu, sebentar, duluan aja ya? ikhsan masih banyak yang harus dipersiapkan nih, kamu duluan aja Dell!”
Della : “ beneran? Ayo bareng, nanti kamu terlambat loh?”
Ikhsan : “ beneran, nanti kalau ikhsan terlambat bus nya juga lewat sini kok!”
Della : oke-oke, aku duluan ya san!”
Ikhsan : “ iya, sampai ketemu ya!”
Akupun sudah mempersiapkan semuanya, tas ku rasanya berat sekali, padahal hanya dua hari saja aku akan piknik, tetapi seperti mau pindah rumah saja! Bawaanku mungkin terlalu berat, hehehe akupun mengambil uang yang aku sembunyikan dibawah kasurku, mungkin nanti aku akan minta sedikit tambahan saku, sekitar seratus delapan puluh ribu sudah terkumpul, bayarnya hanya seratus lima puluh ribu. Yang tigapuluh ribu semoga cukup untuk makan dua hari dan semoga ibuk atau bapak menambahinya.
Ikhsan : “ buk-buk, tau uang ikhsan nggak?” ikhsan sangat panik ketika uangku tidak ada ditempatnya
Ibu : “ nggak tau san, uang apa? Ibu nggak pernah lihat!”
Ikhsan : “ beneran buk? Buk padahal ikhsan sudah mengumpulkanya sejak kelas tiga SD lho buk, tolong buk, bantu ikhsan mencari!” ikhsan pun panik dan menangis ketika uang ikhsan  tabungan tidak ada semua.
Ikhsan : (menangis tersedu) “heeeeeeeeee.....”
Bapak : “ uangmu kemarin bapak ambil untuk melunasi hutang bapak yang sudah ditagih-tagih san, waktu kamu merengek minta beli sepatu tas dan seragam baru, bapak itu hasil dari ngutang! Jadi kamu jangan nangis, nggak usah ikut piknik saja!”
Ikhsan : “ tapi pak? Bakap jahat sama ikhsan, ikhsan ingin sekali ikut piknik pak!”
Bapak : “ kamu ini orang miskin, mau bergaya seperti mereka orang orang kaya? Uang sekolahmu saja belum bapak bayar, bagaimana bulan depan  kamu mau ikut ujian ? ha? Anak nakal kamu ya!”
Ikhsan : “ heeee...tapi pak..ikhsan pengen sekali ikut! Ikhsan mohon pak, tolong ikhsan pak, ikhsan pengen ikut piknik pak, pak? Ikhsan berjanji akan bekerja untuk mendapatkan uang setelah lulus SD nanti pak, tolong ikhsan pak?”
Bapak : “ buat apa kamu menangis? Apa dengan kamu menangis uangnya keluar sendiri? Sudah bagus kamu bisa sekolah, kakakmu saja tidak sekolah!”
Ikhsan : “ bapak, ikhsan mau piknik pak, beri ikhsan uang pak, heeeee....ikhsan juga pengen seperti mereka pak, itu uang ikhsan pak, kenapa bapak ambil. Heeeee!”
Bapak : (mulai kasar dan keras) “ kamu itu ya anak tidak tau diuntung, sana pergi jauh-jauh, ndak bosan apa merepotkan bapak dan ibumu terus, lihat bapak tidak pernah bekerja!”
Kakak : “ sudahlah pak, biarkan saja, toh juga dia akan merengek terus1”
Ikhsan : “ apa kau? Pemabuk, tukang judi!”
Bapak : “ kamu makin kurang ajar ya!”(sambil memukuli ikhsan)
Ikhsan : “ ampun pak, heeeeee, ampun,,, maaf pak, ampun pak, aduh, ampun pak!”
Kakak: “ rasakan, masih kecil sudah banyak merepotkan saja!”
Ikhsan : “ ibuk, tolong ikhsan buk, beri ikhsan uang buk?” ibupun menangis melihat aku yang dipukuli bapak, tapi ibu hanya diam saja, tidak seperti biasanya ikut memarahiku.”  Buk nanti ikhsan ganti uangnya buk? Tolong ikhsan buk ?”
Ibu: “ hutang kita sama tetangga masih menumpuk san, maafkan ibu!”(dalam hati)
Akupun pergi kekamar dengan perasaan yang tidak menentu, kututup pintu kamarkau yang terbuat dari anyaman bambu, dan akhirnya malah dikunci sama bapak. Sudah hampir berangkat, nanti aku akan melihat teman-teman berangkat lewat depan rumahku, tangisku tak henti-hentinya mengalir, aku sunggh tak percaya dengan semua ini, akupun berfikiran pasti uang tabunganku dipakai judi bapak sama kakak, ya allah, apa salahku.
Bapak : “ awas ya jika kamu nanti bersuara ketika teman-temanmu menjemputmu! Bapak usir kamu dari rumah selamanya!”
Sudah tidask ada harapan lagi bagiku untuk pergi piknik bersama teman-temanku, padahal ini kesempatan terahirku untuk bisa senang-senang, refreshing dengan kepenatan yang telah ku alami dalam persiapan ujain nasional ini. Mungkin ini sudah suratan takdir, jalan yang harus ku tempuh seperti ini. Suara ketuak pintu itu terdengar juga, pasti salah satu bapak atau ibu guruku yang menjemputku.
Pak guru : “ assalamualaikum pak, buk!” (tok tok tok tok)
Bapak : “ waalaikum salam, eh pak hendra, silahkan masuk pak, ada yang bisa saya bantu, ada apa ikhsan disekolah apakah nakal lagi?”
Pak guru : “ tidak pak. Kedatangan saya kemari ingin menjemput ikhsan, karena dia harus mengikuti studi tour pak hari ini sampai dengan besok!”
Ikhsan : (menjerit dalam hati) “ pak guru ikhsan disini pak!”
Bapak : “ wah sayang sekali pak,  tadi pagi memang ikhsan sudah siap-siap, akan tetapi sakit asmanya kambuh, jadi tidak bisa ikut piknik hari ini, itu di kursi pak, bahkan ikhsan sangat semangat sekali semalam pakingnya, sampai-sampai tidak bisa tidur, dan tadi pagi malah asmanya kambuh!”
Ikhsan : “ bohong pak, ikhsan disini pak, dengar ikhsan pak! Ikhsan disini, didalam kamar, dikunci sama bapak ikhsan!” (masih menjertit dakam hati)
Bapak guru : “boleh saya tenggok sebentar ikhsan pak? Saoalnya saya juga tidak bisa lama-lama disini, memastikan keadaan dia baik-baik saja atau tidak?”
Bapak : “ mohon maaf pak ikhsanya sedang istirahat dalam kamar, kelihatanya dia susah nafas, setelah minum obat dia langsung tertidur pak!”
Bapak guru: “ oh begitu ya pak, ya sudah, sampaikan samalam saya pada ikhsan ya pak, sampaaikan pesan saya juga, kalau tidak ikut wisata, ikhsan harus mengumpulkan laporan penelitian atau laporan kegiatan atau laporan hasil baca buku sebagai syarat mengikuti ujian ya pak, kalau teman-temanya kan mengumpulkan laporan perjalanan wisata ini.!”
Bapak : “ oh iya pak, nanti akan saya sampaikan, ada lagi pak?”
Bapaak guru : tidak pak, kalau begitu saya pamit, semoga ikhsan cepat sembuh, nanti bair didoakan sama teman-temanya didalam bus. Saalalmualaikum pak, mari..!”
Bapak : “ ya silahkan pak. Wa alaikum salam!”
Ikhsan : (mengintip dari anyaman bambu yang rengang) “ bapak ikhsan disini, lihat kamar ikhsan pak, ikhsan sehat pak. ikhsan mau ikut piknik pak!”
Akhirnya pun semua berjalan sesuai kehendak bapak, aku tidak bisa mengikuti piknik tersbut, sungguh sangat menyedihkan, peristiwa yang hanya sekali seumur hidup telah terlewatkan begitu saja, akan ku kenanag selamanya peristiwa ini, tak akan pernah kulupa peristiwa ini, semoga allah mengampuni dosa bapak ibu dan ke,luargaku.amin

Babak 5
Tempat : dalam bus
Waktu : siang hari sekita pukul 11.00 WIB
Tokoh : della, pak guru, janet, budi, indria

Pak guru : “assalamualaikum anak-anakku semua, ini ada sedikit pengumuman, sebelum kita nanti menuju objek wisata kita akan makan siang terlebih dahulu ya! Pasti sudah pada kelaparan semua kan?”
Semua rombongan: (berteriak gembira) “yeeeeee.....!” tapi tidak dengan della, dia masih cemas dalam bus, keputusanya tidak ikut ayahnya dalam mobil pun sia-sia, karena bangku sebelahnya tetap kosong, ikhsan tidak ikut dalam rombongan ini.
Della : “ pak mau tanya, ikhsan kemana ya?”
Pak guru : “ oh iya bapak lupa. Tapi waktu bapak menjemput ikhsan dirumahnya dia tiba-tiba penyakit asmanya kambuh, jadi dia memilih untuk istirahaat dan tidak mengikuti piknik kita kali ini! Mohon doanya ya anak-anak pada ikhsan semoga ikhsan cepat sembuh dan bisa berkumpul bersama kita kembali esok hari! Berdoa dimulai!”
Della : (dalam hati) “ ha? Sakit? Tadi pagi aja sehat, ceria dan semangat, pasrti ada apa-apanya, Ikhsan, kamu kenapa? (mencemaskan Ikhsan)
Pak guru : “ berdoa selesai, semoga ikhsan cepat sembuh,amin!”
Semua rmbongan: “amin!!!”
Della : (dalam hati) “ aku yakin pasti telah terjadi sesuatu dengan ikhsan!” (mendekati pa guru dan bertanya) “ pak-pak apa benar ikhsan sakit asmanya kambuh?”
Pak guru: “ iya benar della, kenapa?”
Della : “ nggak papa pak, soalnya tadi pagi saya bertemu dengannya ceria banget dan terlihat sehat ketika paking pak!”
Pak guru : “ kata bapaknya ikhsan tadi memang dia sehat, tetapi tiba-tiba ikhsan asmanya kambuh setelah semalam tidak bisa tidur ketika memikirkan piknik!”
Della :” ooo..begitu ya pak, terimakasih pak!”
Janet : “ asik bakal seru abis nih, si cupu ndak ikut!”
Budi :  ‘” ya pasti ndak ikut lah, mau dapat uang dari mana dia, orang uang sekolah aja masih nunggak dari kelas lima!”
Janet : “ iya-iya, mustahil dia bisa ikut kita-kita!”
Indria : “ alasan yang dibuat juga kampungan banget, sakit asmanya kambuh? Hehehe mana ada? Orang tadi pagi aja aku lihat dia segar bugar, bahkan sudah siap-siap, pasti ketika meminta uang bapak ibunya ndak dikasih, hahahaha”
Budi : eh bener-bener tuh, si cupu nggak ikut piknik karena ngggak punya uang!”
Della : (menghampiri indria,janet, dan budi)” kalian ini malah begitu sama teman kalian sendiri, hausnya kalian ini membantu, bukan mengejeknya1 sungguh terlalu kalian!”
Budi, janet, indria: ( kompak) “ cie elah..kasian..kagak ada temanya!hahahaha!”
Della : pergi menjauhi mereka dan duduk kembali di kursinya(dalam hati) “ mungin ada benarnya kata mereka bertiga, ikhsan tidak bisa ikut bukan karena sakit, dia tidak punya uang! Kenapa dia tidak pernah bilang ke aku ya, dulu juga katanya dia maau menabung untuk bisa berangkat piknik. Atau...!”
Bapak guru : “anak-anak silahkan turun satu persatu leat pintu depan ya ! kita akan makan siang terlebih dahulu, della sudah ditunggu ayah didepan restoran! Ayo semua turun, bapak ibu, anak-anak!”
Babak 6
Tempat : danau dan perpus sekolah
Waktu : sore hari
Tokoh : ikhsan dan mas abid
Akupun berhasil kabur setelah lolos dari kamarku, anyaman bambu sebelah yang sudah mulai lapuk aku terobos dan akhirnya bisa keluar juga, dengan lari terbirit-birit aku melewati jalan tengah perkampungan, melewati jalan setapak menuju hutan, dan melewati semak belikar seperti biasa! Aku menuju danau! Dengan membawa tas yang berisi bekalku untuk piknik tadi pagi. Aku akan piknik disini sendiri selama dua hari, aku tak akan pulang kerumah selama dua hari, aku akan kemana saja selama dua hari, pokoknya aku tak mau pulang kerumah selama dua hari. Ketika sampai di danau aku lekas melepas semuaa bajuku keccuaali celana dalamku, lekas ku ceburkan tubuh ini agar semua amarahku menghilang, akan ku belah-belah air yang mengalir, akan ku hujam dengan tubuhku biar air itu merasakan sakitnya diriku.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa......byurrr.....!” akupun memecah ketenangan air yang mengalir, biar dia rasakan juga, ketika hatiku ini terpecah oleh kerasnya kehidupanku. Akupun kembali bernyanyi.
Sahabat sahabat berlari lari
Burung berkicau merdu lincah menari kepakkan jemari
Menghiasi sang hijau loncat kesana loncat kemari
Tak ada seorangpun yang halangi
Lihatlah sisiput jalan dengan santainya
Membawa makanan untuk yang tercinta
Air mengalir sejukkan mata menjadi sebuah kisah sempurna
Andai aku bisa mengadu akan ku adukan semua padamu
Andai kamu bisa bicara pastilah kan mendengar keluhku
Aku sangat rindu kasih dan sayang dari seorang ibu
Aku hanya ingin berada dalam dekapmu
Suara-suara rintih aku disini
Dengan seribu diam aku mulai bernyanyi
Menghibur diri ini
Melebur resah ini
Mengubur gundaah ini
Memaksa senyum ini
Untuk yang slalu dihati
Sayangi semua ini
“Lihat aku disini wahai sahabat-sahabatku, pasti kau sudah tahu apa yang aku alami, biarkan aku berteriak sesuka hatiku, biarkan aku merasakan rindu seorang ibu, biarkanlah aku merasakan pelukan seorang ibu, kasih sayang itu kudapat disini, kau dingin sekali air, tapi kau lebih menyenangkan daripada bapakku, kau keras sekali batu, tapi kau lebih keras dari ibuku, biarkan aku mengadu padamu, pada siapa aku harus mengadu kalau bukan padamu.  Aku akan lupa semua ketika berada didekatmu, buat aku lupa kali ini, buat aku kedinginan sore ini, dan buat aku tersenyum sore ini, karena hanya kalian lah sahabat-sahabatku yang mampu membuatku tersenyum dengan leluasa.”
“ kenapa aku tak seperti teman-temanku yang lain yang bisa bersenang-senang hari ini, kenapa nasibku seperti ini, kenapa dunia initerlalu pagi untuk memberiku ketidak adilan ini, apakah hanaya untuk mengoreskan kisah pahit masaku saat ini, ataukah kau bermaksud ingin membagikan kisahku ini dengan yang lain? Apa salahku? Kenapa aku terlahir dalam keadaan yang seperti ini? Kenapa bapak ibuku miskin? Banyakm hutang sana-sini. Bahkan rumah-rumah pun terpaksa menjadi jaminnanya, kenapa apakku pemabuk, kenapa bapakku tukang judi, kenapa kakakku sama sepeti bapakku, kenapa ibuku seperti itu kepadaku. Apakah ibuku juga kuat hidup seperti itu, atau dia lampiaskan semua keletihanya padaku, kenapa tidak oada kakakku, kenapa semua harus kepadaku? Apa salahku? Wahai sahabatku? Aku tak mau bertanya pada tuhan, karena dia tak mau menjawabnya, tapi aku percaya, kau diperintahkan tuhan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku, jawab aku sahabat-sahabatku? Kenapa kau hanya mengeluarkan desah suaramu, kenapa tubuhmu hanya kau gesek-gesekkan satu sama lain? Kenapa kau hanya menegeluarkan kicauan-kicauan burung? Apa salahku? Jawab?”
Segera aku menuju kje air terjun, disana mungkin snagat dalam dan aku tak akan bisa berenang, biar aku mati tenggelam, bukan mati konyol, tapi mati dalam kasih sayang sahabat-sahabatku. Entak apa yang terjadi aku berhasil menyebrang dan menuju ke air terjun. ..
“Silahkan hujani aku dari atas, silahkan, lempar aku dari atas, jangan berhenti, karena aku akan tetap berdiri sendiri, aku tak akan kedinginan walau kau turunkan suhumu, aku tak akan pergi walau kau berubah menjadi kristal batu, aku akan tetap disini walau ada sebatang kayu besar yang kau lemparkan padaku dari atas. Karena aku yakin kau tak akan tega melakukannya padaku, silahkan! Lakukan! Sesuka hatimu, seperti orang tuaku yang selalu memperlakukan aku sesuka hati mereka, tak menganggapku punya  hati nurani, punya rasa kecewa, mereka tak pernah memberiku kesempatan untuk mengungkapkan kemarahanku, berbeda dengan kau sahabatku! Kau sangat baik padaku.”
Senja pun menyapa, langit memerah, segera ku ambil handuk dan ku kenakan lagi pakaianku ini dan aku akan berjalan entah kemana aku pergi, biar langkah kaki ini yang menentukan. Akupun ingat dalam perjalanku yang sudah lumayan jauh meninggalkan sahabat-sahabatku, kemarin baru saja ada petugas perpus baru disekolaahku, aku yakin dia tidak akan lagsung diajak ikut piknik karena baru disana. Akupun segera menuju ke sekolahku untuk menemuinya, berkenalan dan sekaligus belajar, untuk mengerjakan tugas akhir sebagai syarat ujain, membuat laporan. Biar teman-teman yang lain senang-senanag tapi aku sudah selesai mengerjakanya.


Ikhsan : “ selamat sore mas, saya ikhsan, mau belajar disini, boleh?”
Mas penjaga perpus : “ selamat sore adek, ada yang bisa saya bantu? Tentu boleh, selama ada saya disini saya akan berjaga disini 24 jam. Kamu boleh main kesini kapan saja, tapi ingat, izin sama orang tua dulu!”
Ikhsan : “ mas baru ya disini?” (sambil meletakkan tasku diatas rak perus)
Mas penjaga perpus : “ iya baru seminggu yang lalu aku bekerja dan menetap disini, sebenarnya sudah lama aku melamar menjadi petugas perpus disini, tetapi baru kemarin aku dipanggil kepala dinas di provinsiku untuk ditugaskan disini. Oh iya nama kamu tadi siapa?”
Ikhsan : “ nama saya Ikhsan Benorinda mas!”
Mas penjaga perpus : “ wah namanya bagus sekali, kamu kelas berapa dek?”
Ikhsan : “ saya kelas enam mas!”
Mas penjaga perpus : (kaget) “ loh bukankah kamu seharusnya ikutan studi wisata dengan teman-temanmu yang lain?
Ikhasn : “ seharusnya begitu, tapi...!”
Mas penjaga perpus : “ sudah jangan bersedih, mau mendengar kisahku?”
Ikhsan : “ mau-mau mas, tapi sebelumnya nama mas siapa?
Mas penjaga perpus : “ oke, jangan nangis lagi ya, kelihatanya kamu habis nangis tadi sebelum kesini, namaku abidin restu aji kalau dulu teman-temanku sering memanggilku Arji, tetapi panggil saja aku abid.”
Ikhsan : “ mas abid, pasti mas dari pulau jawa ya? Hehehe”
Mas abid: “ kok tau? Wah kamu pandai menebak ya, dengarkan kisah hidupku hai ikhsan sang sobaat kecil.!”
Dahulu mas itu berasal dari keluarga yang kurang mampu sama seperti ikhsan, dulu SD mas masih berbayar, mas sering telat mendapaat rapor gara-gara mas ndak bisa membayar uang SPP dan Uang untuk beli buku yang diwajibkan sama guru SD mas, tapi alhamdulillah mas bisa lulus, dan ijazah mas juga senpat  ditahan gara-gara mas nunggak dari kelas empat sampai kelas enam. Tapi mas abid berjanji, akan mencari uang untuk membantu melunasi hutang-hutang orang tau mas terhadap sekolah, dulu mas ingin sekali langsung melanjutkan kesekloah yang lebih tinggi, karena rata-rata teman-teman mas itu setelah tamat SD langsung bekerja diladang kalau tidak ya menikah. Tapi hutang di SD mas saja belum terbayar, bagaimana mau melanjutkan sekolah, akhirnya mss harus fakum selama satu tahun, didalam kefakuman mas ssekolah, mas bekerja sebagai pengembala kambing dan sapi milik tetangga dan mencaarikan rumput untk pakan ternak disekitar rumah mas, alhamdulillah sapi-sapi dan kambing-kambing yang mas gembalakan cepat gemuk dan beranak, karena sistemnya bagi hasil, maka mas mendapatkan 1 anak sapi dari 3 induk sapi dan satu anak kambing dari 5 induk kambing, sambil terus mencari rumput mas besarkan deh sapi dan kambing yang mas punya sendiri, akhirnya setelah hampir setahun mas dapat uang banyak, sementara bapak mas yang penghasilanya pas-pasan juga ikut membantu mas dalam mengumpulkan uang,.
Bapak mas hanya sebagai petani musiman dek, kalau lagi musimnya ya panen, kalau tidak lagi musim tanam biasanya membuat anyaman bambu yang dijadikan sebagai penutup rumah-rumah. Walaupun saya telat setahun saya daftar di smp yang tidak begitu faforit di daerah saya,  disana saya belajar dan alhamdulillah tidak pernah nunggak, hehehe.
Ikhsan : “ nunggak itu apa mas?”
Mas abid: oh iya nunggak itu tingal kelas dek, hehehe!”
Saya lanjutkan ya, “ dulu mas mencobamendapatkan beasiswa dek di smp, alhamdulillah mas dulu juwara lomba matematikan dan sains, khususnya matematika seprofinsi juwara tiga dek, sehingga saya mulai kelas dua semester dua sampai lulus dibiayai sekolahan dan digratiskan dek, enak kan, waktu mau ujian nasiolal saya berhasil menjuarai lomba karya ilmiah tingkat SMP sederajat, hasilnya saya masuk 18 beasr nasional, dan saya kembali dibebaskan dari uang-uang SPP, uang gedung atau yang lainnya. Terus maskan nggak punya apa-apa ketika mau lulus SMP, fikiran mas sudahlah, berhenti setahun lagi saja seperti dulu, atau dua tahun juga bisa, soalnya biaya di SMA sederajat didaerah mas sangat mahal waktu itu, tapi mas tidak menyangka, hasil akkhir ujan mas dapat peringkat nomer 8 sekabupaten, akhirnya mas berhak memilih salah satu SMA faforit dikabupaten mas, masuklah mas kesana, selama tiga tahun pula mas menorehkan prestasi-prestasi yang membanggakan orang tua mas, bahkan mas juga gratis dek ketika sekolah di SMA,  bahkan saya mendapat pesangon dari beberapa guru dan kepala sekolah karena prestasi saya, hingga empat tahun yang lalu saya mendaftar di universitas ternaman yang jauh dari kota saya, sebenarnya saya mengambil jurusan pendidikan bahasa indonesia, tetapi saya disini mendaftarkan diri di perpustakaan, ibu guru kamu bu sujat, mungkin 3 tahun lagi baru akan pensiun, setelah itu akan mas gantikan, doakan ya dek! Kebetulan mas ikutan program yang divanangkan pemerintah, untuk berdedikasi didaerah-daerah tertinggal, terluar, dan terpencil. Makanya mas sekarang ada bersamamu dek! Hehehe gimana? Apakah kamu bisa merangkai cerita seperti saya?”
Ikhsan : (tercengang) “ apakah semua pendidikan mas gratis?”
Mas abid: “ ya gratis tis tis tis...!”
Ikhsan : yang bener mas? Memang bisa apa? Ndak bayar sedikitpun?
Mas abid: “ endak bayar, dibayari malah! Hehehe makanya kamu rajin belajar, bair kayak mas ya? Mau kan jadi orang sukses??”
Ikhsan : “ jadi nggak usah sedih ya! Kita orang miskin harus pandai-pandai bertahan hidup, karena kita lebih beruntung dari orang kaya, mereka dengan mudah mendapatkan sesuatu, sedangkan kita? Uaha keras dulu kan? Apa manfaatnya? Itu tidak akan pernah kamu lupa seumur hidup kamu dek!” (jadi menangis mas, bila ingat emak dan bapak mas dikampung, mereka adalaha pahlawan yang sebenarnya dalam hidup mas)
Ikhsan : (ikut menangis) “ mas mas mau tanya?
Mas abid: “ ya? Apa?hehehe jangan menangis dong, tadi kan mas sudah berpesan, jangan menangsi juga! Tetep menangsi!”
Ikhsan : “ apa mas dulu pernah ikut piknik?”
Mas abid: “ piknik apa dek?”
Ikhsan : “ piknik yang satu angkatan gitu mas, yang satu kelas bersama-sama? “
Mas abid : “ boleh cerita lagi?hehehe!”
Ikhsan : “ boleh-boleh mas, tapi jangan buat ikhsan menangis ya?”
Gini ceritanya, “dulu mas abid sejak SD, SMP, dan SMA tidak pernah ikut piknik yang satu angkatan bersama-sama, mau dapet uang dari mana coba? Nggak pernah terfikir mas untuk ikut, kepingin sih banget dek, tapi apa usaha mas  untuk mendapatkan uang sebanyak itu dalam sekejap? Ndak bisa kan? Nabung juga butuh watu tahunan kan!”
Ikhsan : (memotong pembicaraan) “ mas-mas, mas ikhlas nggak jika uang yang selama ini mas tabung mungkin tiga sampai empat tahun dipakai orang tua mas sementara mas mau pakai untuk piknik?”
Mas abid : “ wah pertanyaan mu susahh dek, hehehe gimana ya? Kalau lebih penting kebutuhan orang tua saya saya akan ikhlaskan kok, lagipula kapan-kapan kalau punya uang bisa piknik sendiri kan? Tak lanjutin ceritanya ya?hehehe”
“oh iya waktu itu mas punya uang tigaratus ribu, hasil nabung mas dari kelas dua SMA sampai mau piknik, kebetulan tempat piknik faforit sekolah mas itu dibali, bayarnya waktu itu kalau nggak salah sekitar empat ratus ribuan lebih sedikit, waktu itu adek mas sedang sakit, dan masuk rumah sakit pas mau piknik ke bali, mas sebelum adek mas masuk rumah sakir sudah mengebu gebu mengumpulkan uang, pas terahir hari pembayaran ternyata uang mas terkumpul 500 ribu, itu saja mas nggak pernah jajan selama satu tahun, uang saku mas semua mas tabung, eh malah adik mas masuk rumah sakit, sapi satu terjual masih kurang, akirnya ibuknya mas dengan berat hati meminta uang dari hasil mas nabung tadi, mas nangis dan sempat ngambek selama seminggu, tapi ketika melihat adik mas bisa tersenyum lagi, bali bukan apa-apanya, mas lebih bahagia melihat adik mas tersenyaum, mas berjanji akan mengajak adik mas pergi kebali suatu saat nanti, amin.”
“ mas piknik itu waktu kuliah dek, dibali juga, kan apa mas bilang, kalau rejeki nggak kemana, waktu itu adik mas dapat juara 2 lomba matematika juga tingkat nasional, dan adik mas dikasih uang saku sama pak mentri sekirat 3 juta, hasilnya apa? Mas diberi uang 1 juta untuk pergi kebali kan, bersama teman-teman mas, jadi tuhan itu sudah merencanakan semua kok dek, tinggal kita mau berusaha atau tidak. Pokoknya kamu semangat ya!”
Ikhsan : “ mas tissue nya sudah mas habiskan sendiri, hehehe!”
Mas abid: “ mas abid terbawa suasana dek ikhsan, kalau kamu kenapa? Tadi kok bertanya seperti itu?”
Ikhsan : “Ceritanya panjang mas, hehehe ceritanya laain kali saja ya? Ikhsan masih sedih, masih belum mau bercerita pada siapa-siapa, yang jelas mas abid membuat saya bahagia malam ini. oh iya mas, ikhsan dapat tugas membuat laporan, bantuian ikhsan ya mas?”
Mas abid : “ ow...suatu saat ikhsan akan bercerita sama seperti mas, mas yakin itu, amin. Iya laporan apa ikhsan?”
Ikhsan : “ lapora itu mas, sebagai syarat mengikuti ujian nasional, kalau teman-teman yang lain kan membuat laporan perjalanan, kalau ikhsan apa mas? Satu angkatan hanya ikhsan yang nggak ikut piknik mas!”
Mas abid: “ndak masalah, nih mas punya buku, sekilas tadi mas sudah cerita panjang lebar sama ikhsan kan, lebih lengkapnya kisah mas ada disana semua, kamu baca  dan kamu biat laporan, nanti tak bantu penyusunannya.oke?”
Ikhsan : “ beneran nih mas? Keren sudah punya buku sendiri? Ikhsan bisa ndak mas punya buku untuk ikhsan sendiri? Kisah-kisah ikhsan, ikhsan juga senang nulis mas! Bisa kan mas?”
Mas abid : “ mana tulisanmu, nanti tak bantu menerbitkan. Gampang kalau masalah itu, sekalian kamu belajar komputer, tuh latihaan ngetik, biar kamu ada di daerah terpencil tapi kamu nggaak boleh krtinggalan iptek! Oke?”
Ikhsan : “ ini beneran mas, ikhsan boleh menggunakan itu komputer? Ikhsan mau jadi penulsi seperti mas, bisa buat buku ikhsan sendiri, biar ibuk bangga, siapa tahu ibuk tak marah lagi pada ikhsan! Bapak juga! Kakak juga!”
Mas abid: “beneran!!! cepat ikhsan ambil tulisan ikhsan, mari kita buat bersama-sama! Ngomong-omong ikhsan ndak lapar? Beli makan malam mau? Sama mas? Ikhsan ndak pulang kan”
Ikhsan : “ ndak mas, ikhsan masih marah sama ibuk ikhsan, sama bapak ikhsandan sama kakak ikhsan!”
Mas abid : “ nanti kamu tak anterin pulang, sekalian ambil cerita kamu sekalian pamit, ikhsan nggak boleh jadi anak nakal! Haeus berbakti pada orang tau!”
Ikhsan : “tapi orang tua ikhsan jahat sama ikhsan mas!”
Mas abid : “ itu perasaan ikhsan saja, mereka sayang ikhsan lebih dari apapun! Kalau mau jadi teman mas, ikhsan harus nutut sama mas! Oke?”
Ikhsan : “ baiklah mas! Oke!”

Babak 7
Tempat : ruang kepala sekolah dan lingkungan sekolah
Waktu : menyesuaikan
Tokoh : ikhsan, jannet, budi,indria, della, rodho, pak guru, bapak ikhsan, ibu ikhsan, bapak della(bapak komite), bapak kepala sekolah, mas abid, dan seluruh pemeran figuran.

Tidak terasa sebual berlalu begitu cepat, esok adalah hari-hari penantanku, aku sekarang menjadi percaya diri dan semangat berkat kehadiran mas abid sebagai kakak angkat ku, yang jauh berberda dengaan kakak kandungku, hampir setiap hari aku tidak pulang dan selalu kena marak ketika pulang terlalu malam atau bahkan menginap di perpus bersama mas abid, disama aku belajar banyak hal, mulai dari ilmu-ilmu tentang pelajaran mata kuliah, buku-buku latihan menulis, dan ilmu-ilmu lain serta sejuta pengalaman yang ku baca ketika mas abdi memintaku untuk memperlajarinya, dan juga inisiatifku sendiri. Hari ini adalah hari ujianku. Rasanya deg-degan, tidak ada cium tangan, tidak ada doa restu seperti kebanyakan teman-temanku meminta itu pada orang tuanya, akan tetapi aku diajari optimis oleh mas  abid, pasti bapak ibuku sudah mendoakan aku, tapi dalam hatinya.
Della : “ cerah sekali kamu pagi ini san?”
Ikhsan : “ iya dong, ikhsan kan mau mengerjakan ujian dengan baik! Jadi soalnya harus dikasih senyum biar mudah!”
Della : “ ak kau bisa saja san, apa persiapanmu menghadapi ujian kita tiga hari kedepan, belajar bareng yuk? Eh udah ngumpulin tugas akhir belum? Laporan? “
Ikhsan : “ persiapan ikhsan belajar dengan mas abid di perpus, hehehe disana banyak buku pelajaran yang bagus, mas abid juga bersedia mengajariku sampai aku faham, mas abid juga sering mengajak ikhsan makan, hehe oh tentu ikhsan sudah, malah paling awal sendiri!”
Della : “ baguslah, semoga kamu yang terbaik nilainya.amin. ayo  masuk kelas?”
Ikhsan : “ ayo-ayo setengah jam lagi kita ujian rasa jantung ikhsan deg-degan!”
Budi : “ ikhsan, maafkan aku, indria dan janet yang selama ini selalu menjahili kamu, sebenarnya kami semua sayang sama kamu, tapi kami Cuma gengsi saja, jadi maafkan kami bertiga ikhsan!”
Tiba-tiba ketika aku dan della sedang belajar ketiga temanku itu mengulurkan tangan kepadaku, aku langsung berdiri dan memeluk budi, serta menyalami janet dan indria.
Ikhsan : (sambil memeluk budi) “iya sobat, tak apa, ikhsan sudah lupa semua, semoga kita semua bisa mengerjakan soal dengan baik!”
Satu kelas : “amin....!”
Ridho : iya amin, saya sebagai ketua kalian juga minta maaf apabila ada salah perbuatan, untuk difta, mohon maaf dulu saya yang ngerjain kamu soal permen karet, jendra, waktu itu celana kamu aku yang umpetin sehingga kamu nggak keluar-keluar dari wc, bima, kamu dulu pernah sakit perut, air minum kamu aku ganti dengan air kran, maaf, dan semua yang pernah saya jail i, sebagai ketua kelas saya minta maaf”
Satu kelas : “huuuu.....!” (mulai gaduh dan mengunjingkan ridho)
Ikhsan : “ tak apa tenam-teman, kisah ini akan ikhsan kenang selamanya, benar kata ridho, mari saling memaafkan, bukan saatnya balas dendam sekarang, besok setelah ujian ini kita tak akn bisa lagi berkumpul satu ruangan lagi, kerja sama dari teman-teman semua, bila bisa kerja sendiri, bial sulit saling membantu!”
Satu kelas :” hehehehehehe...”
Tiga hari pun berlalu begitu cepat, saat sepulang sekolah aku, indria, della, janet, ridho, budi, dan teman-teman satu kelas pergi keperpus untuk belajar bersama, kami semua jadi akrab dengan mas abid, dia orangnya sangat asik. Kami semua jadi faham materi-materi yang akan diujikan, sampai-sampai kami merencanakan hadiah untuk mas abid karena telah membantu kami dalam melaksanakan ujian nasional. Selepas ujian nasional kami masih ada tahap yang lain yaitu ujian sekolah, dengan beberapa mata pelajaran, mas abid pun setia bersama kami semua menemani kami sampai lulus, coba saja sejak dulu mas abid jadi petugas perpus, coba saja waktu itu aku ikut piknik, aku tak akan sedekat dan termotifasi seperti ini ketika menghadapi cobaan hidup, benar kata sahabat-sahabatku, semua ada hikmahnya.
Tak lupa pula bapak kepala memberi pengarahan seputar kelulusan kita semua, saat diadakan doa bersama setelah melaksanakan ujian nasional dan ujian sekolah pak kepala berpesan agar tetap melunasi administrasi akademik, sementara bapak dan ibu saja tak punya uang sedikitpun, aku berkonsultasi dengan mas abid secara pribadi, tetapi dia hanya diam saja, lalu dibocorkan kepadaku tentang hasil kelulusan, aku sangat terkejut ketika aku nomer satu di angkatanku kali ini, mengalahkan janet, della, ridho, budi, indria, dan difta yang dulu waktu kelas 1 sampai kelas enam mendapatkan rangking 1 juwara kelas terus. Ternyata aku juga bisa lebih daripada mereka, walaupun itu juga hasil dari kerja sama, sudah dipastikan angkatanku ini lulus semua, aku sujud syukur seketika ketika diperlihatkan mas abid tentang hasil ujianku, aku sama sekali tak menyangka, lalu aku berfikir, pasti ibuk dan bapakku yang selalu mendoakanku.
Ketika pengumuman tiba, aku dan teman-teman lain larut dalam euforia, hingga akupun tak sadar aku terbawa suasana suka, aku sangat berterimakasih pada semua, semua, dan semua. Inilah yang bisa ku persembakhak padamu dari Ikhsan Benorinda,  akhirnya kubawa della teman baikku ke danau tersebut, dan dia takjub dengan segala keinginanku sejak kecil sampai sekarang.
Della : “ waw...tempat apa ini san? Kenapa baru sekarang kau perlihatkan padaku!”
Ikhsan : (tertawa) “inilah tempat yang selalu menjadikan ikhsan tertawa ketika dalam duka!”
Della : “ semua tulisan-tulisan dipohon itu tulisanmu? Dibatu? Direbing? Kau meningglkan jejak yang terlalu banyak disini san! Tapi waw,,ini indah sekali!”
Ikhsan : (berteriak) “ wahai sahabat-sahabatku ini dia aku bawakan kau seorang temanku, dia baik, dia tidak merusak kalian, dia ingin berteman pula denganm kalian, apakah kalian mau menerimanya?”
Suara gemercik air dalam air terjun yang semakin deras dan angin yang bertiup sehingga menghasilakn bunyi-bunyian indah merupakan tanda persetujuan alam dengan kedatangan della, itulah anggapan ikhsan. Anak seumur jagung yang masih muda.
Haripun berganti, aku harus berpakaian rapi untuk menghadiri perpisahan angkatan kali ini, semoga ibu dan bapak datang hari ini, amin. Akupun merasa bahagia karena aku tahu akulah yang jadi jawara, rasa tak percayaku tak akan mengubahku jadi orang sombong, aku tetaplah aku, serangkaian sambutan dari bapak kepala sekolah pun sudah dilewati, sambutan dari pak komite(bapak dari della) pun sudah, ini dia saat yang paling ditunggu-tunggu sejak tadi, tapi kenapa bapak dan ibuku belum datang juga ya, kemana mereka, tuhan, tolonglah datangkan mereka kali ini saja, dengan kasih sayangmu tuhan...tak berapa lama kemudian pengumuman lulusan terbaik pun diumumkan. Mulai dari juwara enam sampai ke urutanku.
Pak kepala sekolah : “dan, untuk juwara 3 lulusan terbaik diraih oleh....Della riosanita!” tepuk tangan pun mewarnai muka della yang memerah, tak kusangka dia juwara tiga, mungkin harusnya aku yang juwara tiga...selanjutnay juwara dua lulusan terbaik diraih oleh.....(sedikit mengulur waktu membuat semua jantung teman-temanku dan orang tua murid merasa deg-degan, tetapi aku sudah tahu sebelumnya kalau aku juwara satunya).....janet sartanghi......selamat kepada kalian berua. Kini saatnya pengumuman juwara 1 nya, inilah sosok yang tak pernah dipandang oleh bapak ibu guru, namum mampu memberi gebrakan baru, sosok yang sering bermasalah, sosok yang sedikit hiper aktif disekolah, namun kali ini dia mampu menunjukkan bahwa dia bisa dan dia mampu...lulusan nagkatan terbaik tahun 2006 kali ini adalah....... Ikhsan Benorindaaaaaaaa.......selamat kepada ikhsan!”
Sorak sorayaa pun membahana kesana kemari, akupun dipeluk oleh teman satu kelas, dan diberi selamat oleh bapak ibu guru, pelukan dari mas abid sehangat hatiku dan hati mas abid yang menyatu, bapak ibuku yang baru dataang pun langsung aku kejar dan aku peluk.
Ikhsan : “ bapak aku nomer satu(tangisku pun pecah, tak kuasa aku menahan air mata ini) ibu, ini nomer satu buat ibuk yang selalu ada untuk ku, aku akaan berbakti padamu buk...( ibukupun menangis, inilah pelukan hangat pertamaku semenjak sekian lama, dan akupun menikmatinya, semua orang tua murid memberi selamat kepadaku) aku bapak dan ibuk semakin tak bisa menahan air mata ketika aku dibebaskan dari uang tunggakanku selama ini karena aku berhasil jadi juwara satu. Benar kata mas abid, tuhan itu maha adil. Akupun dipeluk hangat oleh kedua orang tuaku setelah ku cium tangan mereka untuk pertama kalinya.
Bapak : “ maafkan aku nak, maafkan bapakmu! Maafkan juga ibumu!”
Akupun tak kuasa menahan air mata, rasanya aku ingin menjerit dan melompat dari pinngir danau, kenapa tidak aku lakukan, setelah aku pulang dari sekolah dan dirumah aku kembali keluar untuk mengajak della, jannet, budi, ridho,dan indria untuk pegi ke danau.
Ikhsan : wahai sahabatku, aku bawakan lagi engkau teman-temanku yang tidak merusak, izinkan aku memasuki airmu. Kami berlima pun melompat secara bersamaan dan basah kuyup.inilah hidup. Aku, bapak ibukku, orang tuaku, saudara-saudaraku, dan terutama tuhanku. Terimakasih banyak,

Bersambung.....

Dibuat mulai 01 januari 2013 pukul 00.30 WIB selesai pada tanggal 16 januari 2013 pukul 04.18WIB.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar