Minggu, 30 Desember 2012

Gang Janur Kuning


ketika sunyi membaur dengan tangis yang tak kunjung reda diluar jendela terdengar gemercik air hujan yang bersaut sautan menciptakan irama dan nada sumbang, tentang kabar pujaan hatinya yang tak kunjung datang. 
sudah lima tahun dia menunggu, apakah masih pantas untuk ditunggu, sementara desakan ibu terus saja membersitkan sedikit keraguan dihati adikku, mulai mengerogoti keyakinan akan kedatangan sang pujaan hati. beberapa pemuda yang melamar adikku pun pulang dengan tangan hampa, hanya meninggalkan jajanan-jajanan lamaran yang tak dibawa kembali, serta titipan cincin dari orang yang begitu setia menunggu adikku. berharap pujaan hati adkiku mati.

***
Semua memang salahku sejak awal dan akhir adalah salahku, akulah yang mengenalkanya pada seorang anak SMA sebaya dengannya waktu itu, ya karena dia sangat pandai. Pikirku dia akan mengubah derajat keluarga kami, karena aku saja hanya lulusan SMP,  aku mengenal Amang sebagai sesosok lelaki yang tumbuh dewasa dan cerdas didesaku, dialah yang mengubah beberapa keyakinan didesa ini yang masih menganut aliran animisme dan dinamisme, yang kadang masih sering digunakan. Walau saat itu usianya baru menginjak 16 Tahun, dia adalah kumbang desa, kucoba untuk membuat dia suka dengan adikku, Anida. Ya adik semata wayangku.
Kami bertiga sering jalan-jalan selepas pulang dari kebun, menantikan senja yang terbenam bersama dengan datangnya gelap, aku mulai menyadari ada tanda-tanda suka dihati Amang terhadap adikku. Ya, dari cara dia  memandang adikku sudah beda dari pertama bertemu. Sempat beberapa kali aku memergoki dia menatap adikku,
“ hayo dek ngapa curi-curi pandang?”
“Ora mbak, tidak..aku rak curi-curi pandang kok! Beneran, jujur, suer!” dengan wajah yang mulai gemetaran dan memandang ke tanah.
Lalu adikku menyaut pembicaraan “ mbak iki ngopo tho?  Wong mas Amang ki wes sue kekancan karo aku, yo ben tho nek arep ndeleng aku!”
“ iyo mbak, aku rak ono hubungan opo-opo karo Ani!” mempertegas pernyataan adikku, oh iya Amang sering memanggil adikku dengan nama Ani.
“iyo-iyo mbak percoyo karo kalian cah ayu wong bagus! Ayo balik rak ? wes bengi iki!”
“ iyo mbak...ya ayo tha balik!” adikku dan Amang menjawab bareng dan kompak, lalu aku sedikit goda lagi mereka.
“cie...sehati tho? Mbak bilang opo? Kalian ki serasi!” sembari mengayuh sepeda kami, aku memboncengkan Anida dan Amang naik sepeda sendiri milik alm. Bapaknya.
“ Mang? Arep neruske nang di?” tanyaku sambil memperhatikan jalan yang berbatu dan terjal.
“embuh mbak, ibuk rak jelas, paling mbantu-mbantu ibuk ning sawah? Ana apa tho mbak?”
“ orak...mbak mung takon!”
“ow, la Ani rep nang ndi mbak?”
Ku jawab dengan sedikit menggoda “ lha mbuh, tekon dewe kono karo wong e. Malah tekon aku, rak ngerti-rak ngerti. Hehehe”
Dia beranikan bertanya dengan adikku, padahal sebelum ini mereka saling akrab dan bersahabat, mungkin karena ada rasa yang berbeda dan belum berani mengungkapkanya.
“An, neruske nang ndi?”
“ padha kok Mas, paling mung mbantu-mbantu mbak karo ibuk ngurus kebon!”
“ow? Rak kuliah po?”
Adikku menjawab “ wong Mas wae orak, apa meneh aku Mas!”
“ uwes- uwes, rak lah debat, malah debat, wes  ndipek, kw ndang jablas o dek!” aku dan adikku sudah sampai rumah. Sementara rumah Amang masih agak jauh dari rumahku.
***
Itulah percakapan yang masih sangat ku ingat senja itu, menyusuri kebun jagung dengan lagit yang malu-malu memerah pipinya. Ada lagi kisah yang tak kan pernah aku lupa antara aku adikku dan Amang. Pengumuman kelulusan pun sudah didepan mata setelah beberapa minggu adikku dan si Amang menempuh Ujian Nasional. Sebuah tahap yang sangat ditakuti semua siswa se Indonesia, apalagi SMA Negeri 1 Bangsal,  yang notabenya sekloah menengah atas yang baru saja kemarin berdiri, diangkatan pertama separuh dari siswa kelas tiga tidak lulus dan banyak yang prustasi, adikku dan Amang adalah angkatan kedua, ya. Memang sekloah ini sangat baru, tenaga pendidiknya pun masih sedikit, apalagi dengan fasilitasnya, jauh sekali tersentuh oleh negara.  Beberapa kali memang datang bantuan dari pemda setempat berupa buku, papan tulis dan meja kursi, tetapi kualitas barangnya sangat murahan sekali, dan itu sempat diprotes banyak wali murid.
Adikku tidak lulus, dan itu merupakan pukulan yang sangat berat baginya, setelah tiga tahun dia bersekolah apa yang terjadi, dia tidak bisa menamatkan jenjang pendidikan SMA nya, sementara Amang lulus walau nilainya pas-pasan. Adikku beberapa hari sempat murung dan ditemani oleh amang dirumahku, diajak bermain, kesawah dan diajak melakukan hal yang paling kami suka pun dia masih tetap sedih.
Dipematang ladang jagung sore itu amang merubah suasana hati adikku.
“ dek, aku ada kabar gembira buat kamu lho!”
“iya mas.” Dengan ekspresi yang sangat datar, padahal sudah seminggu lebih dari hari pengumuman kelulusanya, mungkin adikku belum menerima kenyataan tidak lulus.
“kok gitu jawabe tho dek?” Amang selalu mencoba menghibur adikku.
“iya mas? Apa kabar gembiranya? “ dengan sedikit senyum palsu.
“aku mau kamu senyum dulu? Yang ikhlas!”
Iya iya..hiiiii..sudah senyum kan?”
“itu bukan senyum dek, tapi mringis!hehehe” akhirnya adikku ketawa ringan juga sore itu.
“gini, aku kan sebelum kelulusan daftar nek perguruan tinggi negeri semarang a dek, aku hari ini pengumuman! mau ditempelke nek papan mading sekolah pas aku mampir!”
“Terus hasile mas? “ dengan nada penasaran. Dan melihat mimik muka Amang.
“Kok cemberut mas? Mas juga gagal?  Jawab mas? Berarti diantara kita tidak ada yang berhasil? Aku sudah ndak lulus, mas yo rak ketompo? Iyo? Jawab mas? Aja mung memeng wae tho?”
“ kok kowe sepanik iki dek?hehe alhamdulillah aku ketompo ning UNNES dek!”
“tenanan mas? Yakin kowe? UNEES seng terkenal kuwi? Seng panggone nek semarang kuwi? Seng wingi survei nek keluargamu kuwi mas? Jakete kuning? Iyo?”
“iyo...wah selamet yo mas! Sepontan adikku memeluk Amang, ya akupun memeluknya dan ikut merasa senang dengan berita tersebut.
“ selamet yo le, sekolah o seng pinter, ndang lulus, terus gampang golek gawean, terus gampang leh mu gloek duwet dang lamaro adekku. ups...keceplosan!hehehe”
“amin!” dengan cepat Amang menyaut.
“ eh eh eh..mbak iki apa-apaan? Ngawur wae!” raut wajah adikku memerah
“ An, aku ya arep jujur ro kowe kok?”
“ehem-ehem, tak tinggal pek ya? “ akupun pergi berpura-pura meninggalkan mereka dan mencoba mendengarkan pembicaraan mereka dari balik semak batang jambu yang berdaun lebat.
“ aku ki tresno ro kw an? Wes kawet kowe kelas siji aku seneng kowe, gelem rak kowe dadi bacutaning atiku? Aku ngarep banget An!”
Kudengar lirih suara adikku yang mukanya pucat gemetaran dan ku tertawakan kecil daro persembunyianku.
“mas, be...be...beneran seneng karo Ani?” Dengan gugup dan groginya dia menjawab.
“tapi mas, bapak ibune mas pen rak ngentokke, mergakke mas dilarang pacaran! Yo kan? Wong tuwane mas ngertine aku kancamu mas!”
“Iyo wes iku gampang, iso diator, seng penting kowe gelem rak dadi calonku mbesok?”
“Maksude mas?”
Kelihatanya semakin seru perbincangan bocah-bocah ini dalam memadu kasih, tidak tahu kalau ada aku, rasanya jadi iri, karena kau belum pernah sekalipun di gitukan oleh lelaki manapun, maklum aku menutup diri, setelah disakiti oleh seseorang, kenapa jadi curcol, lanjut keceritanya.
“ kowe, gelem rak? Nikah karo aku? Aku ngerti kowe tresno karo aku?”
Wajah adikku semakin memerah dan menunduk kebawah terus. “ mas e serius? Ah mas e sok tau, hehehe”
“ iyo..tenan cah ayu...lintang kemukusku.hehehe”
“Ho mas e ngerayu aku tho...!”
“ tapi mas, mas kan arep kuliah? Pirang tahun mas?”
“Ya, kira-kira patang taun lulus, rong taun golek kerjo, ya doane wae lah dek? Py siap nunggu aku?”
“Dak sedeng tuo aku mas? Emoh ah...!”
“Lho kok ngunu tho kowe karo aku An?” kelihatanya mereka semakin asik bercengkrama membuatku tidak tahan ingin tertawa dan memergokinya.
“ iyo-iyo mas, guyon aku kok, asal mas nek kono ora macem-macem karo wong wadon liya.awas wae ya..!”
“dadi kene wes resmi pacaran dek? Tapi rahasiakno teko bapak ibukku, mbakyumu, pokoke hanya kita berdua seng reti?oke?eh ngomong-omong mbakmu ning ndi? Ojo-ojo awake dhewe ditinggal balik An?”
“ mbuh mas, paling dak ra iyo wes bailk tho, wong wes kawet mau, rak mungkin kan nek ijeh ning kene ndhelik terus ndungokke omongane kita. njeh mas, mator suwun, aku ya tresno mas wes suwe kok, nanging ya piye meneh, keluargane mas agamis memegang teguh prinsip, garis kaku, sekali ora sampek mati yo ora, gak iso di owah-owah kok mas.”
Wah, kok pembicaraan mereka semakin dewasa ya, hehehe seru juga, jadi pengen rasanya, bair mereka tidak curiga aku mending pulang jala kali sajalah, biar mereka pulang bareng, yang aku ingat hari itu adalah hari minggu, 12 agustus 2007, hari jadian mereka dan hari ikrar mereka.
Sesampainya dirumah ternyata ada banyak hal yang tidak aku tahu selama perjalanan mereka pulang, aku coba tanya jujur pada adikku.
“dek, balik-balik kok sumringgah ono apa?
“orak popo mbak, mau tau aja, hehehehe!”
“Cerito karo mbak kene dek?” sembari kulambaikan tanganku mengundang adikku untuk datang.
“ ngko dipek tho mbak, aku rung ados, aku rung nyapu, nek wes bar kabeh ya mbak?”
“yo kono laksanakan pek perintahe ibuk! Kae kowe wes diundang bengak-bengok, cepet moro ning ibuk!”
“njeh buk, sekedap, njeh buk!” sambil berlari meninggalkanku menuju ibuk.
Yah itu masa lalu, 5 tahun yang lalu.
***
Masih ku ingat betul secara detali hal-hal indah yang dialami adikku bersama Amang, semenjak kepergian Amang dari desa ke Semarang dia jarang pulang, paling hanya  tiga bahkan enam bulan sekali dia pulang, dan bertemu dengan adikku tercinta, kelasihnya yang senantiasa mendoakanya dalam segala hal, ketika dia pulang adikku pasti seharian ditemani oleh Amang dirumah ini, yah, mereka melepas rasa rindu antara dua sejoli yang saling mengasihi. Amang pun tak terasa melangsungkan wisuda gelar S1 nya yang hanya dia tempuh 3,5 tahun lulus dengan IPK cumloade 3,91. Kami sekeluarga bahkan sekampung datang ke UNNES menggunakan bis carteran dari dana pak kades untuk menyambut putra daerah tiba di desa, karena hanya Amang Sulistiantiko putra Pak Hatjdoe Disasoengkoe lah yang bergelar S1 didesa kami.
Alangkah bangganya Adikku memiliki calon suami sepandai setampan dan seberuntung Amang, dihari bahagia itu dia rayakan bersama sekaligus memberitahukan bahwa adikku adalah calon dari Amang ke orang taunya.tetapi terjadi sedikit konflik disana.aku yang ikut menemani adikku pun merasakan betapa sedihnya hati ini.
“ ibuk bapak, niki wonten estri namine bapak ibuk mpun ngertos, aku tersno akro Anida buk, pak, nyuwun doa restunipun nggeh?”
“ aku rak menging kowe karo sopo wae le cah bagus, nanging mbok yo luru bojo iku seng sepadan karo kowe,aku wes nganggep nak Ani iki anaku dhewe, wong yo gawene  dolan rene!” sahut ibu dari Amang.
“ bapak yo semono uga karo ibumu nak, aku ora iso mekso kowe arep karo sopo, seng penting kowe gloek gawean dipik, mapan, terus gowo calonmu ndene meneh.”
“Njeh pak, buk, mator suwun aku badhe ngeterake Anida mulih riyen pak, buk, monggo.Asslamualaikum...
Aku hanya bisa tertunduk lemah ditengah perjalanan bersama mereka, ya, wajah Adikku kelihatanya murung lagi, sembari memecah kebisuan aku coba menghibur mereka.
“kok padha meneng kenapa?”
“toh nek kalian emang wes jodho ki rak bakal iso dipisahke, termasuk goro-goro status sosial, ngerti? Dek, seneng karo Amang kan? Dek Amang, seneng karo Ani kan? Wes... ngopo dipiker susah? Saiki luru o gawean seng trep, nggo siapke omah-omahe wong loro, yo?”
“ tapi mbak, buke ki nek sekali orak tetep orak yo?”
“ wes lah dipiker mburi...! ayo mlaku!” sembari berjalan menuju rumahku.
Adikku terdiam dan sesekali tertawa ringan ketika dirangkul oleh Amang, dia kelihatan shock dan kaget sekali mendengar penolakan halus dari orang tua Amang, selepas amang pulang pun dia masih sangat murung dibahu ibuk sambil meneteskan air mata, penantian tiga setengah taun meresmikan ikrar mereka pupus hari ini jumat, 12 agustus 2011.
 Akupun mencoba menenagkan adikku dengan membuatkan secangkir teh manis hangat kesukaan dia, akan tetapi gula ditpoles sudah habis, aku mencari dompetku tidak ketemu0-ketemu, akirnya aku baru teringat bahwa dompetku tertinggal diteras rumah Amang, akupun kesana dengan terburu-buru dan menemukan dompetku masihg aman, ketika aku mau mengetuk pintu rumah Amang aku dengar perbincangan yang menggunakan nada agak keras. Aku urungkan niatku dan mencoba mendengarkan pembicaraan itu.
“ kowe iki yo le, disekolahke duwur-duwur seleramu kok rendah banget?”
“Nanging aku sayang buk, aku tresno, lan perlu ibuk ngertos aku tresno karo Anida niku mpun wiwit SMA buk, dadi wes ora iso diowah-owah memeh keputusanku!”
“Opo? Wiwit SMA? Berarti kowe rahasiakno iki saka bapak ibu mu le? He? Kowe anak kurang ajar !  he? Ora ndenger diuntung!”
“ora sudi aku duwe mantu koyok pilihanmu kuwi, nek muk anggep adhi aku iseh terimo, nanging nek dadi bojomu aku rak setuju le.”
“wes buk wes, anak lagi teko pirang dino wes muk amuki terus, ora saake po kowe, ben sak mileh-mileh e awake tho, wong yo wes gedhe, iso miker!” bapak Amang sepertinya berusaha melerai antara Amang dan Ibunya.
“Kowe ki yo le le tak sekolahke ning semarang ben melek, ben reti kehidupan baru, ben reti wadon seng ayu sitik, pinter, berpendidikan, jelas bibit bebet lan bobote, malah mileh wong sak deso? Opo yo rak ngisin-isini ibumu? Bapakmu?”
“buk...!ora...”
“Wes meneng cep le, pokoke ibu rak setuju! Rak ono restu, nek sedulur iseh iso, neh bojomu. Luru o wong semarang, kenalno ibuk sok yen kowe wes bar kerjo, sukses!”
“ mulai saiki adoh i Anida, nek ora malah tak pedot sedulurane keluarga iki karo keluargane dekne! wes  ibuk rep turu. Sakarepmu kowe meh nang ndi, asal ojo ning umahe Anida meneh! Ayo pak!”
Akhirnya aku pulang tanpa pamit keluarga Amang, aku merasa sangat sakit hati sekali dengan pembicaraan itu, akupun tak jadi pergi kewarung, akupun berlari kerumah dan menghampiri ibuk dan adikku yang masih memeluk ibu, aku pun memeluk mereka dengan erat. Sambil ku batin “ alangkah susahe yo buk, dek dadi wong susah, dilecehke kene kono koyo menungso tanpo guna, aku rak kuat buk, dek!” aku tidak akan memberitahukan percakapan itu pada siapapun jikalau hanya akan menambah beban semuanya.
“Mbak ngopo nanges? Mbak teko ngendi? Kok mau di undang ibuk rak nyaut-nyaut?”
“ rak popo dek, mbak mau ning Wc, sikile mbak kesleo, loru banget, mulane mbak nanges, hehehe saiki wes gak popo kok mbak!” aku kembali memeluk mereka dan kupejamkan mataku, aku berharap ketika aku membuka mata ini banyak keajaiban datang dan menghapus sedih ku ini.
***
Minggu, 12 Agustus 2012, setelah hampir empat tahun tidak ada kabar, setelah mereka bertemu kembali dan dihadapkan pada kenyataan pahit ketika ibu dari Amang tidak menyetujui hubungan mereka, dan Amang harus menuruti kata ibunya untuk menjauhi adikku. Adikku kembali dalam penantian hingga kini, Amang menitipkan surat pada adikku agar dia menunggu, tetapi setelah kedatangan orang tua Amang untuk memperingatkan Adikku agar tidak menikahi Amang semua jadi buyar, semua jadi serba salah. Amang pergi untuk mencari nafkah, membangun rumah untuk adikku dan memutuskan hidup tberdua tanpa restu dari orang tuanya, itulah janji amang yang tertera dalam surat yang setiap detik adikku bawa seperti orang yang kebinggungan.

Kanggo : Anida Laraswatiku tersayang,

Mas arep lunggo adoh, wes ngerti kan kotot e ibuk koyo mengkono, aku rak iso yen pisah karo kowe cah ayu, aku rak sangup, mung sliramu kang bisa madhangno bulaning atiku kan peteng sadurunge, ra ono wadon liyo ana ing sajroning atiku kejobo sliramu, cah ayu, entenono tekanku ya, aku ngejak sesarengan urip bangun rumah tangga tanpo restu wong tuaku, tulung cah ayu aku saiki lunggo bakal balik marang kowe. Aku tersno sliramu cah ayu.

Mas Amanng  kang tansah cah ayu enteni



***
Sudah banyak lamaran yang ditolak oleh adikku, tapi semua ditolak hanya demi  menunggu Amang yang sudah setahun lebih meninggalkan adikku tanpa kabar. Ya, kabar terahir hanya surat cinta yang ditulis Amang dengan terburu-buru karena tulisanya sedikit kurang rapi, beda dengan tulisan Amang yang biasanya. Akhirnya ada tawaran ibu dari Amamng untuk menikahkan Adikku dengan seorang pemuda yang juga suka dengan Adikku, semua biaya pernikahan akan ditanggung orang  tau Amang dan hidup selama 10 tahun pernikahan akan ditanggung oleh mereka, semula adikku menolak keras, akan tetapi sempat juga terjadi penculikkan terhadap adikku, keluarga kamipun akhirnya sepakat dengan tawaran dari keluarganya Amang.

Rabu, 12 Desember 2012 merupakan hari dimana dilangsungkan akat nikah sekaligus pesta pernikahan besar-besaran antara Anida dengan Galih sucipto, anak kepala desa Bangsal yang juga sudah lama  suka dengan Anida. Amang tak mengetahui hal ini, tetapi Adikku berharap hari ini juga dia akan pulang menyelamatkan adikku dari semua ini, batinya tersiksa,adikku sudah seperti orang gila, robot hidup yang diatur-atur oleh orang tua Amang. Dalam ruang riasnya adikku berkali-kali meneteskan air mata dan ku usapi air mata yang menetes pelan-pelan dipipi merahnya karena make up.

“mbak, apa kabeh bar koyo ngene? Ning endi saiki dkne mbak? Aku ndonga marang gusti mben wengy jen dkne lekas balik marang aku, opo rak jutul doaku mbak? Opo aku lan dkne wes rak duweni ikatan batin apa-apa mbak? Aku tersno mas Amang mbak. Heeeeeeeee...”
“ wes-wes cup, cah gede rak ntok nanges, arep nikahan barang kok, kabeh wes digaris sayang, wes dilakoni wae, ojo miker seng ora-ora, ojo miker minggat, ojo kendhat, Amang bakal gede amarahe yen kowe nglakoni kabeh hal elek mau.”
“mbak, undangke Mas Amang, dkne wes cedhak mbak, aku iso ngrasakke dkne ning kene, wes cedak mbak! Tenan wes cedak!”
“Wes, ayo ngadek, kae wes dinteni mobil, ayo ndang nang mesjid! Ngadek o cah ayu!”
“Mbak? Tapi mbak?”
Akupun membawanya keluar dari kamar rias, masih jelas bekas air mata yang mengalir di make up nya, aku minta perias untuk menghilangkan bekas  air mata itu dengan mengulangi lagi riasanya dan melarangnya menangis.
“dia akan bahagia bila kamu bahagia sayang, percaya sama mbak ya?”
Akhirnya adikku pun naik mobil menuju masjid, tak disangka ditenmgah jalan menuju masjid aku berpapasan dengan Amang, dia sudah kaya sekarang, tapi didalam mobil tadi aku lihat ada seorang wanita cantik yang duduk disebelahnya. Akupun tak memberitahu adikku.
Sampailah kami dimasjid, pak penghulu dan calon pengantin laki-laki sudah sedikit lama menunggu, kamipun akan melangsungkan akat pernikahan yang diwalikan oleh pamanku, pengganti alm. Bapakku.
Mungkin Amang akan melihat janur kuning telah melengkung di gang rumahku, dan mungkin sebentar lagi dia akan sampai masjid ini, mungkin pernikahan ini akan gagal, pikiranku melayang-layang tak tentu arah. Ternyata dugaanku benar, tetapi yang datang bukan amang, tapi  tukang kebun orang tua Amang yang memberitahukan bahwa Amang terkena serangan jantung di depan gang rumah Anida ketika kaget Anida menikah,sontak anida pun berlari meninggalkan calon pasangan laki-lakinya, senpat terjdi tarikan untuk mencegah anida kabur tetapi adikku berhasil lolos, ya. Dia berlari kearah rumahnya, disana sudah terbaring Amang didampingi sekretarisnya yang cemas memikirkan bosnya.
Orang tua Amang pun segera datang ke rumah Anida yang masih ramai dengan aktifitas orang punya hajat serta keramaian Amang yang terkena serangan jantung. Sebelum Amang menghembuskan nafas terhir Anida menikahi Amang, dan amang berkata “aku bahagia hari ini dan selamanya...” setelah itu dia pergi utnuk selamanya. Ibu amang sangat sedih dan menyesal telah merencanakan semua hal ini, dia rela mengeluarkan harta bendanya hanya untuk membunuh anaknya sendiri, jeritan ibunda Amang pun semakin tak tertahan dan akhirnya ibunda Amang pun pingsan bersamaan dengan adikku. Tak kuasa aku menahan air mata ini.akupun menjeritkan sesal, kenapa aku tadi tak memberitahu adikku waktu aku berpapasan dengan dia, sungguh bersdosa diriku. Tuhan...maafkan aku.

     Goresan Keyboard: Mang Gugun
    Semarang, 22 desember 2012 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar