Semilir angin menghembus heningnya jalanan yang sedang tidur lelap, seharian penuh ia dilindas-lindas berjuta jiwa manusia. Hari terlalu larut untuk aku pulang ke kontrakanku, mungkin aku tak akan pulang malam ini, karena aku sudah berkali-kali pulang larut malam, pikirku. Disana pasti ibu kos selalu memarahiku. aku kemalaman selepas aku mengerjakan tugas dirumah teman. yah, saat ini aku adalah seorang mahasiswa disebuah universitas negeri ternama di kota yang lumayan besar, tak kalah dengan kota kembang maupun kota metropolitan. aku menyusuri jalan yang redup diterangi oleh lampu kota. tak tau mau kemana, ban mobilku bocor, akupun tak membawa serep yang biasanya ku taruh dibagasi belakang, aku sudah berjalan jauh mencari tukang tambal ban yang mungkin masih menyediakan layanan sampai tengah malam. tapi belum ku temukan sampai saat ini. banyak sekali disana orang-orang mangkal, sampai aku geli melihatnya, bukan geli, tapi juga kasihan. mereka harus menjajakan diri disana, aku semula tak mau melirik, akan tetapi aku mengenal salah satu diantara ratusan wanita berpakaian minim yang ku temui.
" ha? itu kan....? ”
Dalam hati aku berbisik, sepertinya aku tak asing dengan wajah itu, sepertinya aku sudah mengenalnya dalam bentuk lain sosok wanita muda yang berdiri disana, sepertinya aku tahu siapa dia, sepertinya dia adalah... .tak lama aku berjalan sambil berbicara sendiri akhirnya kutemukan penolong malamku, alhamdulillah akhirnya masih ada juga, tukang tambal ban jam segini yang masih keliling. Segera ku ajak pak tukang tambal ban ke arah mobilku, dari persimpangan ku dengan wanita itu ketika aku berjalan dari arah yang berlawanan dari arahku tadi, aku melihat dengan jelas siapa dia.
“ Astagfirullahaladzim mbak.....!”
Selepas mobilku bisa berjalan lagi lekas ku hampiri mbak-mbak tadi yang masih berdiri ditepi jalan, sementara yang lain sudah mulai pergi dijemput dengan mobil-mobil yang mewah, bahkan ku temukan juga mobil yang berplat nomor yang tak asing bagiku, pemimpin-pemimpin itu! Ternyata! Sungguh terlalu!
Aku lekas memakai jas besar yang sering kupakai ketika aku kedinginan, segera ku pakai kacamata dan kumis buatan yang kemarin aku iseng-iseng untuk membelinya. Yah, akupun dengan segera menghentikan mobilku tepat disamping tubuh wanita itu berdiri, ada dua mobil yang bersaing denganku, mereka turun dan berebut ingin memasukkan mbak itu kedalam mobil, namun nasib berkata lain, yah, mbak itu masuk ke mobilku ketika dua lelaki itu sedang cek-cok, yah, sudah menjadi kodrat alam bila mbak itu memilih memasuki mobilku, siapa yang tak kenal dengan Maybach Landaulet,mobil sport masa depan terbaru keluaran swedia yang harganya selangit. Yah, beruntunglah aku memiliki ayah yang kaya raya . sementara mobil yang lain hanyaSedan dan Toyota pabrikan Indoneisa. Kunyalakan mobilku yang mati secara otomatis dalam jangka waktu tertentu, langsung kutancap gas ketika mereka sedang berkelahi pinggir jalan. Mereka sempat mengejarku, akan tetapi dengan mudah ku pergi karena kecepatan mobil mereka adalah satu banding sembilan dengan mobilku. Setelah ngedrive selama setengah jam ku mulai perbincanganku dengan mbak-mbak yang sedari tadi duduk disampingku, ya kursi dalam mobilku hanya ada dua, yang ku duduki dan yang diduduki oleh mbak-mbak yang ketakutan.
“ mbak, kita mau kemana?”
“ terserah bapak...!” jawabnya dengan senyuman manis pada saya!”
“ mbak tadi ngapain disitu!” tanyaku memancing.
“ lha bapak tadi berhenti ngapain disana, kalau nggak ya turunin saja saya disini pak!”
“ beneran ni mbak diturunin? Nggak mau makan malam dengan saya?”: aku terus memancingnya untuk sedikit penasaran dengan kemisteriusanku.
“ oh iya nama mbak siapa?”
“ saya Ratih pak..!”
“ sudah lama jadi beginian?”
“ maksudnya pak?” sejenak dia berfikir tentang pertanyaanku lalu kembali menjawab.
“ cukup lama pak!”
Sudah berapa lelaki yang tidur denganmu mbak?” wajahnya mulai tersinggung karena dia sedari tadi seperti ku introgasi. Yah, akupun deg-degan rasanya, belum pernah aku mengajak seorang wanita kedalam mobilku ini, apalagi status wanita itu adalah wanita penghibur, dulu waktu ayah membelikan aku tunggangan ini berpesan, jangan sekali-kali aku untuk menaik turunkan wanita kecuali istriku kelak. Akupun kembali terdiam dan terfikir untuk memberi sejumlah uang dar sakuku dan menurunkannya di jalan yang amat sepi, namun aku tak tega, akupun binggung, apa yang harus aku lakukan dengan mbak-mbak ini, sementara aku masih terdiam dan berfikir dalam penyamaranku, dia mulai kegatelan dengan mendekatkan tubuhnya padaku, wah keterlaluan ini.
“ jangan dimobil ini mbak!” tegasku dengan nada pelan. Diapun menjauhkan tubuhnya dari ku lebih jauh daripada beberapa detik yang lalu.
“ kita mau kemana pak?” sempat aku kaget dan terbata dalam menjawabnya. Aku tak tahu dimana tempatnya begitu-begituan, aku tak punya pengalaman apa-apa tentang hal yang satu ini, karena aku juga tak mau tahu tentang hal ini.
“emmm...enaknya kemana ya?” sudah cukup lama aku mempermainkan pita suaraku, suara yang sedikit ketua-tuaan sedari tadi aku lontarkan sehingga membuat tenggorokanku gatal, yah...akhirnya diapun menjawab dengan banyak sekali alternatif pilihan tempat yang paling sederhana hingga yang paling mahal dikota itu untuk menghabiskan malam dengan kencan. Lalu ku jawab dengan nada sedikit lirih.
“ emmm... tempat yang paling mahal saja, letaknya sebelah mana ya? “
“ oh, yang mana pak? Mau hotel (......) atau hotel (......) yang dekat simpang lima?
“ ya terserah kamulah, pokoknya puaskan aku malam ini !” dengan nada yang sedikit deg-degan dan jantung ini berpacu kencang. Akhirnya kubawa mobil ini keholtel berbintang kelas internasional yang dia mau, akupun check in disana, prosedurnya pun cukup mudah, tak perlu menunjukkan surat-surat pernikahan dan lain sebagainya, mungkin hotel ini sudah terbiasa dengan hal-hal semacam ini, aku jadi tau, berapa harga yang harus ku keluarkan untuk memesan hotel selama semalam saja untuk kegiatan terselubung, resepsionisnya sudah mengetahui apa yang mau aku dan mbak Ratih lakukan, resepsionis itu menawarkan beberapa paket yang sangat melambung jauh dari harga umum ketika aku biasa menginap dihotel untuk beristirahat.
Segera aku menuju kamar A.512 yang telah kupesan setelah melunasi pembayaran dan meninggalkan berkas-berkas yang harus aku lengkapi, termsuk uang gelap yang harus aku bayarkan, di lorong menuju kamar, mbak Ratih berusaha memegang tanganku, akan tetapi aku menolaknya sembari beralasan bukan disini tempatnya, jangan dulu, nanti dulu ya, sebentar belum masuk kamar dan lain-lain. Perasaanku semakin deg-degan, apakah nafsuku kuat menghadapi semua itu ataukah aku bisa menyadarkanya malam ini, biar bagaimana pun dia kakak angkatanku di kampus, aku baru semester satu sedangkan dia sudah semester tiga, walau postur tubuhnya kecil tetapi dia tetap kakak angkatanku.
Yah aku berharap misiku ini berhasil seperti yang pernah aku lihat ditelevisi, seorang ustad mengajak wanita-wanita yang seperti mbak Ratih, lalu dikamar tersebut ustadnya ceramah mengenai agama dan mencoba menyadarkan secara perlahan namun pasti. Akan tetapi aku tak pandai agama, aku tak bisa apa-apa, aku masih sangat cetek sekali dalam urusan aqidah, pengetahuan, maupun ilmunya. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Sementara mbak Ratih sudah mulai melepas beberapa helai pakaian yang melekat ditubuhnya, aku semakin panik dan tak berfikir panjang, aku pun izin ke kamar mandi sebentar.
“ apa yang harus kulakukan, mengapa aku mengajaknya kesini dan sudah menghabiskan banyak biaya, apa yang kan terjadi bila nafsuku tak bisa terkendali, sengan beberapa bagian tubuhnya yang mulai terlihat, semua lelaki yang tak kuat imanya pasti juga akan nafsu, aku bukan ustad, aku tak pandai apa-apa!”
Kubasuh mukaku dan lekas aku berwudhu, kebetulan ada sebuah tempat lorong kecil, disana aku melaksanakan shalat untuk meminta petunjuk. Biarlah malam ini menjadi malam terahirku seperti ini, rasanya sudah tak tentu, maunya menyadarkan, akan tetapi aku tak tahu apa yang harus ku katakan, ya Allah, tolonglah aku,dan maafkan aku karena telah mensia-siakan uangku untuk melakukan hal ini. Mudahkanlah niatku. Amin.
“ pak, kok lama sekali, sedang apa pak? Apa saya perlu menyusul bapak?” teriakan mbak Ratih membuat aku semakin tak karuan.
“ ya sebentar, tunggu disana saja, kamu siap- saja! Sebentar kok!”
Ketika aku keluar dari kamar mandi terlihat mbak Ratih sudah berada di atas ranjang tanpa busana, serentak libidoku pun naik drastis, akupun segera menuruhnya untuk menutupi tubuhnya dengan selimut. Setelah aman akupun mendekatinya dan duduk disampingnya yang berbaring.
“ mbak, Mbak masih mahasiswa ya?”
“ tidak pak, saya sudah lama putus sekolah!”
“ ow, pendidikan terahir apa mbak?”
“ Saya tamat SMA pak!”
“ apakah dulu di SMA mbak juga seperti ini?”
“ tidak pak, saya melakukan semua ini karena saya terpaksa dan saya sudah kotor!”
“maksudnya mbak? Gini ya mbak, mbak kenakan dulu pakaian mbak, saya mau dengar cerita mbak dulu, nanti baru kita bersenang-senang. Boleh mbak? “
“ bapak ini sebenarnya mau apa dengan saya dan tujuanya apa?” mbak Ratih sdikit curiga denganku dan akupun bergegas meyakinkanya.
“ tenang saja mbak, biasanya mbak untuk semalam berapa? Sahutku dengan nada menantang.
“nanti akan saya bayar mbak tiga kali lipat, saya ingin menciptakan kemistri hubungan dulu dengan mbak, baru nanti saya bisa bersenag-senang dengan mbak, boleh kan?
“ iya pak!”
Diapun membuka selimutnya dan memakai pakaiannya didepan mataku, Serentak aku langsung menutup mataku erat-erat dan berbalik badan.
“ Jangan disini mbak, sana di kamar mandi, mbak mandi dulu sekalian, bau badan mbak tidak enak, saya tidak mau kalau seperti ini!”
Seperti tuhan yang berkuasa atas raga manusia, akupun dengan sesuka hati memerintahnya, itulah ciptaanmu ya Allah, dengan profesinya yang sangat ia banggakan dan sangat ia andalkan, kenapa engkau membiarkan semua itu terjadi? Kenapa engaku menggiringku untuk mengalami semua ini? Apakah ini kehendakmu? Apakah ini kehendakku? Sempat aku meneteskan air mata diatas ranjang,innalilahi wa inna ilaihi rojiun... begitu banyak rejeki yang ada diluaran sana, mengapa banyak juga yang mengais rejeki dari menjual tubuhnya, mungkin aku tak pernah mengalami yang namanya kesusahan, karena ketika aku kecil sudah terlahir dalam keadaan kaya raya, sampai kini aku berusia 20 tahun, aku tak pernah hidup susah, namun aku tak tega ketika melihat mereka yang hidup suasah, pikiranku terus berkecambuk dan memacu, tanpa sadar mbak Ratih sudah memelukku dari belakang. Akupun kaget dan beranjak dari tempat lamunanku.
“ astagfirullahaladzim....la illa ha illallah...!”
“ hahahahahahaha, bapak bisa saja? Apa barusan yang tadi bapak ucap?” sahut mbak Ratih dari refleks yang telah kuberikan.
“ pasti bapak mau menceramahiku ya nanti ya? Pasti bapak mau menyadarkanku ya nanti ya? Sudah banyak pak yang seperti itu, tetapi apa? Ah cemen..gak ada yang mempan semua pak, bahkan beberapa ustad yang mau menyadarkanku, akhirnya tertidur pulas dan puas denganku pak, jadi urungkan niat bapak jika bapak ingin menyadarkanku!”
“mati aku!” dalam hatiku semakin bingung dan berkecambuk, sudah tamat riwayatku sampai disini, akhirnya ku keluarkan sejumlah uang dari sakuku dan kuberikan semua pada mbak Ratih.
“ ini ada uang, ambil saja, saya mau pulang!”
“ hahahahaha, sejak awal aku sudah tahu gerak-gerik bapak kok, jadi memang ini yang aku mau, tanpa susah payah aku sudah menghasilkan banyak uang! Memangnya aku anak kemarin sore? Yang mudah bapak tipu, sudah banyak pak. Hahahahaha Terimakasih ya pak!”
Seketika itu juga aku mencopot jaketku, mencopot kacamata tuaku yang menempel sedari tadi sebagai asesoris samaran, mencopot kumis palsuku dan mencopot baju hem ku, mencopot celana tua ku dan semua asesoris yang membuat aku kelihatan seperti bapak-bapak, aku kembali menjadi aku yang menggunakan pakaian santai. Seketika itu juga dia terkejut. Dan melepaskan uang dari genggamanya.
“Ar ? Ar ? Aryo? Kamu aryo kan?”
“ iya mbak, saya Aryo...adik kelas mbak dulu di SMA, dan sekarang aku juga adik angkatan mbak di kampus, aku selalu memperhatikan mbak, aku selalu saja melihat mbak ketika dikampus, kebetulan jadwal kita hampir sama masuknya.”
“sekarang mbak mau apa?” aku beberkan ke semua orang bahwa mbak itu pelacur atau bagaimana? Kenapa mbak melakukan semua ini? Ha? “
Seketika itu juga aku ditampar oleh mbak Ratih,
“ plakkk...! keterlaluan kamu ya, kurang ajar ya kamu sama mbak? Ha? Masih kecil sudah berani menipu mbak ya! Ha? Nakal kamu ya!”
Sembari dia berusaha untuk mendorongku dan membawaku keranjang untuk diajak melayaninya lagi, aku dipaksa, di cium dan di tindih i tubuhnya, namun karena aku lelaki diapun berhasil aku singkirkan sadri tubuhku hingga Mbak Ratih terusngkur karena aku terlalu keras mendorongnya.
“mbak-mbak? Ndak kenapa-kenapa kan mbak?” akupun panik dan segera membawanya ke atas ranjang, sudah lebih dari limabelas menit mbak Ratih belum bangun juga, kubawakan segelas air dingan darilemari pendingin dan ku kibas-kibaskan tanganku ke arahnya, hingga diapun tersadar.
“ mbak, kenapa mbak begini? Apakah orang tua mbak tidak malu ketika dikampung, dulu saat aku lewat depan rumah mbak, orang tua mbak begitu membanggakan mbak, tetangga-tetanga mbak menyambut kehadiran mbak disana, karena mbak berhasil mengangkat derajat keluarga mbak dimata tetangga-tetangga mbak? Tapi apa kenyataan yang aku lihat saat ini mbak? Apa jadinya jika adik-adik mbak tahu hal itu, aku cukup mengenal adik-adik mbak, Nurin, dia teman aku sekelas sejak kelas satu SMA hingga kelas tiga, aku juga punya nomernya, aku bisa menelvon dia saat ini juga dan bilang kalau ternyata selama ini mbak nya menghidupi keluarganya denagn jalan melacur? Iya mbak? “
Diapun hanya menangis, ya Mbak Ratih ( sebuah nama samaran) dia adalah tetanggaku didesa, hanya aku dan mbak Ratih yang mampu kuliah di Universitas ini, kalau aku dengan jalan uang, kalau Mbak Ratih benar-benar dengan jalan kepandaianya sendiri. Akan tetapi semua seperti mimpi, aku tak percaya hal ini terjadi. Akhirnya aku mencoba mencari tahu apa penyebabnya. Dan diapun mau bercerita.
“ dulu ketika di SMA, aku pernah sekali pacaran, dan hanya itu saja aku berpacaran, itu juag karena dia memohonku dan membujukku selama dua tauh, akupun bosan, aku juga mulai ada rasa dengannya setelah tantanganku kepadanya dia penuhi, yaitu berada di atasku atau sejajar atau dibawahku satu tingkat dalam hal prestasi, kupikir dia orang baik-baik, sejak awal kami pacaran dia banyak berjanji padaku, sejak awal kami pacaran dia sudah berkomitmen untuk tidak akan menyentuh apa-apa sebelum akat nikah, namun seiring berjalanya waktu, dia mulai berani memegang tanganku, berlanjut dia mulai berani membelai-belai rambutku, setelah itu dia mulai berani memeluk aku, keluarga kamipun juga dulu sempat sudah sangat akrab, hingga dia berani memegang daerah-daerah sensitifku dan meneytbuhiku, hingga akupun minta dilamar, diapun melamarku, namun diwaktu yang bersamaan ada seorang wanita yang minta pertanggung jawaban dari dia, sehingga diapun harus menikahinya dan meninggalkanku, dan kamu tahu? Aku sudah mengugurkan kandunganku hasil dari hubunganku dengan dia, dan kamu tahu? Ha? Rasa sakit ini membuatku membenci kaum laki-laki. Ha? Tau kamua? Tau apa kamu? Ha? Akan kecil kamu!”
Kubiarkan dia memeluk tubuhku yang bisu ini, lalu sejenak aku lepaskan, aku sudah tak mampu berucap apa-apa melihat dia menangis gemetaran, aku pun tak henti hentinya meneteskan iar mata ketika mendengarkan kata-kata itu terus mengiris-iris mataku. Aku hanya mampu terkapar lemas, dia sudah seperti orang gila.
“ kau fikir hidup ini segampang kamu? Ha? Enak ya kamu sejak kecil semua ada, sejak kamu baru lahir semua tercukupi, sedangkan aku? Bapak ku meninggal sejak aku SD, dan aku harus menghidupi empat orang adikku beserta ibuku, dan mereka makan semua, mereka sekolah semua, dapat uang dari mana bila tidak seperti ini?”
Dengan sigap aku menjawab “ tapi mbak cara lain kan ya masih banyak, yang halal, kan ya tidak harus seperti ini mbak?”
“ Ngomong apa kamu anak kecil? Yakin kamu bisa seperti aku? Kamu juga akan menjadi gigolo jika posisi kamu seprti aku, kamu hanya bisa bicara, kamu nggak pernah bisa merasakan apa yang aku rasakan!” sambil terus menagis dan memukul-mukul tubuhku.
“ haaaaaaaaaaaaaa, apa salahku? Apa salah bapakku? Apa salah ibuku? Sehingga kami miskin? Apa salah adik-adikku? Hingga kami pernah tak makan? Apa salahku? Bisa kau menjawab ha? Coba jawab......! haaaaaaaa....!
Apa yang bisa aku lakukan sekarang, aku semakin bisu dan kaku, aku semakin biru dan menghitam, darajku beku sekarang, mulai berhenti memompa, aku memang telah selamat dari p[erbuatan zina, akan tetapi aku menjadi robot yang seolah-olah sedang diganti otaknya.
“ apakah kuliahku juga segampang kuliahmu? Aku memang pandai, tapi uangmu lebih banyak bicara, lebih bisa mengendalikan semua, sampai-sampai aku harus menunjukkan bagian dari tubuhku untuk memperlancar ujainku!” ha? Apa kamu tahu? Jangan asal bicara segampang itu anak kecil....kamu belum merasakannya!”
Ya, beberapa hari yang lalu selepas aku ujian mata kuliah kesenian dia berpakaian minim sekali berjalan keluar dari kampus, ternyata dia mencoba merayu dosen untuk dimudahkan ujiannya.
“sekarang apa maumu? Ha? Mau memberi tahukan semua orang bahwa aku seorang pelacur? Percuma, karena aku akan tetap menjadi seperti ini selamanya! Dan kamu nggak berhak mengatur aku dengan uangmu ini. Ini hanya cukup untuk hidup keluargaku selama sebulan. Lalu bulan berikutnya mereka mau makan apa?”
“astagfirullah mbak, istigfar...mereka mbak beri makan uang haram, uang hasil zina mbak!”
“ tau apa kamu? Mau ceramah didepanku?hahahahaha silahkan saja ceramah sampai mulutmu berbusa pun aku juga tak akan pernah dengar satu huruf pun anak kecil! Aku tak percaya tuhan, dimana dia dimana doa-doaku dimana semuanya? Kenapa dia mengambil bapakku? Dimana dia ketika aku diperkosa dan dicabuli, dimana dia ketika kami tak bisa makna?”
Akupun lelah, mataku sudah berkantung sebesar jambu mete, akupun memutuskan utnuk tidur disofa, biar mbak Ratih tidur di ranjang. Sudah terlalu banyak hatiku terkelupas, mbak Ratihpun sudah sangat kaku, mungkin bukan malam ini aku akan menyadarkannya. Biar waktu yang akan menjawab semua doa-doaku, ampunilah mbak Ratih Ya Allah, Ampunilah aku karena mendekati zina, ampunilah semua perbuatanku malam ini.
Amin amin amin ya rabbal alamin.
Mentari pun bersinar,namun masih belum mampu mengeringkan air mata yang terus mengalir dari sumbernya. kulihat dalam tas mbak Ratih, terlihat sepucuk surat medis yang menyatakan bahwa dia positiv HIV AIDS.
Goresan ketik: Mang Gugun
Kota Terkenal, 05 januari 2013
Terinspirasi dari kisah seorang sahabat yang berjuang di alam rimba.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar