Minggu, 30 Desember 2012

Gang Janur Kuning


ketika sunyi membaur dengan tangis yang tak kunjung reda diluar jendela terdengar gemercik air hujan yang bersaut sautan menciptakan irama dan nada sumbang, tentang kabar pujaan hatinya yang tak kunjung datang. 
sudah lima tahun dia menunggu, apakah masih pantas untuk ditunggu, sementara desakan ibu terus saja membersitkan sedikit keraguan dihati adikku, mulai mengerogoti keyakinan akan kedatangan sang pujaan hati. beberapa pemuda yang melamar adikku pun pulang dengan tangan hampa, hanya meninggalkan jajanan-jajanan lamaran yang tak dibawa kembali, serta titipan cincin dari orang yang begitu setia menunggu adikku. berharap pujaan hati adkiku mati.

***
Semua memang salahku sejak awal dan akhir adalah salahku, akulah yang mengenalkanya pada seorang anak SMA sebaya dengannya waktu itu, ya karena dia sangat pandai. Pikirku dia akan mengubah derajat keluarga kami, karena aku saja hanya lulusan SMP,  aku mengenal Amang sebagai sesosok lelaki yang tumbuh dewasa dan cerdas didesaku, dialah yang mengubah beberapa keyakinan didesa ini yang masih menganut aliran animisme dan dinamisme, yang kadang masih sering digunakan. Walau saat itu usianya baru menginjak 16 Tahun, dia adalah kumbang desa, kucoba untuk membuat dia suka dengan adikku, Anida. Ya adik semata wayangku.
Kami bertiga sering jalan-jalan selepas pulang dari kebun, menantikan senja yang terbenam bersama dengan datangnya gelap, aku mulai menyadari ada tanda-tanda suka dihati Amang terhadap adikku. Ya, dari cara dia  memandang adikku sudah beda dari pertama bertemu. Sempat beberapa kali aku memergoki dia menatap adikku,
“ hayo dek ngapa curi-curi pandang?”
“Ora mbak, tidak..aku rak curi-curi pandang kok! Beneran, jujur, suer!” dengan wajah yang mulai gemetaran dan memandang ke tanah.
Lalu adikku menyaut pembicaraan “ mbak iki ngopo tho?  Wong mas Amang ki wes sue kekancan karo aku, yo ben tho nek arep ndeleng aku!”
“ iyo mbak, aku rak ono hubungan opo-opo karo Ani!” mempertegas pernyataan adikku, oh iya Amang sering memanggil adikku dengan nama Ani.
“iyo-iyo mbak percoyo karo kalian cah ayu wong bagus! Ayo balik rak ? wes bengi iki!”
“ iyo mbak...ya ayo tha balik!” adikku dan Amang menjawab bareng dan kompak, lalu aku sedikit goda lagi mereka.
“cie...sehati tho? Mbak bilang opo? Kalian ki serasi!” sembari mengayuh sepeda kami, aku memboncengkan Anida dan Amang naik sepeda sendiri milik alm. Bapaknya.
“ Mang? Arep neruske nang di?” tanyaku sambil memperhatikan jalan yang berbatu dan terjal.
“embuh mbak, ibuk rak jelas, paling mbantu-mbantu ibuk ning sawah? Ana apa tho mbak?”
“ orak...mbak mung takon!”
“ow, la Ani rep nang ndi mbak?”
Ku jawab dengan sedikit menggoda “ lha mbuh, tekon dewe kono karo wong e. Malah tekon aku, rak ngerti-rak ngerti. Hehehe”
Dia beranikan bertanya dengan adikku, padahal sebelum ini mereka saling akrab dan bersahabat, mungkin karena ada rasa yang berbeda dan belum berani mengungkapkanya.
“An, neruske nang ndi?”
“ padha kok Mas, paling mung mbantu-mbantu mbak karo ibuk ngurus kebon!”
“ow? Rak kuliah po?”
Adikku menjawab “ wong Mas wae orak, apa meneh aku Mas!”
“ uwes- uwes, rak lah debat, malah debat, wes  ndipek, kw ndang jablas o dek!” aku dan adikku sudah sampai rumah. Sementara rumah Amang masih agak jauh dari rumahku.
***
Itulah percakapan yang masih sangat ku ingat senja itu, menyusuri kebun jagung dengan lagit yang malu-malu memerah pipinya. Ada lagi kisah yang tak kan pernah aku lupa antara aku adikku dan Amang. Pengumuman kelulusan pun sudah didepan mata setelah beberapa minggu adikku dan si Amang menempuh Ujian Nasional. Sebuah tahap yang sangat ditakuti semua siswa se Indonesia, apalagi SMA Negeri 1 Bangsal,  yang notabenya sekloah menengah atas yang baru saja kemarin berdiri, diangkatan pertama separuh dari siswa kelas tiga tidak lulus dan banyak yang prustasi, adikku dan Amang adalah angkatan kedua, ya. Memang sekloah ini sangat baru, tenaga pendidiknya pun masih sedikit, apalagi dengan fasilitasnya, jauh sekali tersentuh oleh negara.  Beberapa kali memang datang bantuan dari pemda setempat berupa buku, papan tulis dan meja kursi, tetapi kualitas barangnya sangat murahan sekali, dan itu sempat diprotes banyak wali murid.
Adikku tidak lulus, dan itu merupakan pukulan yang sangat berat baginya, setelah tiga tahun dia bersekolah apa yang terjadi, dia tidak bisa menamatkan jenjang pendidikan SMA nya, sementara Amang lulus walau nilainya pas-pasan. Adikku beberapa hari sempat murung dan ditemani oleh amang dirumahku, diajak bermain, kesawah dan diajak melakukan hal yang paling kami suka pun dia masih tetap sedih.
Dipematang ladang jagung sore itu amang merubah suasana hati adikku.
“ dek, aku ada kabar gembira buat kamu lho!”
“iya mas.” Dengan ekspresi yang sangat datar, padahal sudah seminggu lebih dari hari pengumuman kelulusanya, mungkin adikku belum menerima kenyataan tidak lulus.
“kok gitu jawabe tho dek?” Amang selalu mencoba menghibur adikku.
“iya mas? Apa kabar gembiranya? “ dengan sedikit senyum palsu.
“aku mau kamu senyum dulu? Yang ikhlas!”
Iya iya..hiiiii..sudah senyum kan?”
“itu bukan senyum dek, tapi mringis!hehehe” akhirnya adikku ketawa ringan juga sore itu.
“gini, aku kan sebelum kelulusan daftar nek perguruan tinggi negeri semarang a dek, aku hari ini pengumuman! mau ditempelke nek papan mading sekolah pas aku mampir!”
“Terus hasile mas? “ dengan nada penasaran. Dan melihat mimik muka Amang.
“Kok cemberut mas? Mas juga gagal?  Jawab mas? Berarti diantara kita tidak ada yang berhasil? Aku sudah ndak lulus, mas yo rak ketompo? Iyo? Jawab mas? Aja mung memeng wae tho?”
“ kok kowe sepanik iki dek?hehe alhamdulillah aku ketompo ning UNNES dek!”
“tenanan mas? Yakin kowe? UNEES seng terkenal kuwi? Seng panggone nek semarang kuwi? Seng wingi survei nek keluargamu kuwi mas? Jakete kuning? Iyo?”
“iyo...wah selamet yo mas! Sepontan adikku memeluk Amang, ya akupun memeluknya dan ikut merasa senang dengan berita tersebut.
“ selamet yo le, sekolah o seng pinter, ndang lulus, terus gampang golek gawean, terus gampang leh mu gloek duwet dang lamaro adekku. ups...keceplosan!hehehe”
“amin!” dengan cepat Amang menyaut.
“ eh eh eh..mbak iki apa-apaan? Ngawur wae!” raut wajah adikku memerah
“ An, aku ya arep jujur ro kowe kok?”
“ehem-ehem, tak tinggal pek ya? “ akupun pergi berpura-pura meninggalkan mereka dan mencoba mendengarkan pembicaraan mereka dari balik semak batang jambu yang berdaun lebat.
“ aku ki tresno ro kw an? Wes kawet kowe kelas siji aku seneng kowe, gelem rak kowe dadi bacutaning atiku? Aku ngarep banget An!”
Kudengar lirih suara adikku yang mukanya pucat gemetaran dan ku tertawakan kecil daro persembunyianku.
“mas, be...be...beneran seneng karo Ani?” Dengan gugup dan groginya dia menjawab.
“tapi mas, bapak ibune mas pen rak ngentokke, mergakke mas dilarang pacaran! Yo kan? Wong tuwane mas ngertine aku kancamu mas!”
“Iyo wes iku gampang, iso diator, seng penting kowe gelem rak dadi calonku mbesok?”
“Maksude mas?”
Kelihatanya semakin seru perbincangan bocah-bocah ini dalam memadu kasih, tidak tahu kalau ada aku, rasanya jadi iri, karena kau belum pernah sekalipun di gitukan oleh lelaki manapun, maklum aku menutup diri, setelah disakiti oleh seseorang, kenapa jadi curcol, lanjut keceritanya.
“ kowe, gelem rak? Nikah karo aku? Aku ngerti kowe tresno karo aku?”
Wajah adikku semakin memerah dan menunduk kebawah terus. “ mas e serius? Ah mas e sok tau, hehehe”
“ iyo..tenan cah ayu...lintang kemukusku.hehehe”
“Ho mas e ngerayu aku tho...!”
“ tapi mas, mas kan arep kuliah? Pirang tahun mas?”
“Ya, kira-kira patang taun lulus, rong taun golek kerjo, ya doane wae lah dek? Py siap nunggu aku?”
“Dak sedeng tuo aku mas? Emoh ah...!”
“Lho kok ngunu tho kowe karo aku An?” kelihatanya mereka semakin asik bercengkrama membuatku tidak tahan ingin tertawa dan memergokinya.
“ iyo-iyo mas, guyon aku kok, asal mas nek kono ora macem-macem karo wong wadon liya.awas wae ya..!”
“dadi kene wes resmi pacaran dek? Tapi rahasiakno teko bapak ibukku, mbakyumu, pokoke hanya kita berdua seng reti?oke?eh ngomong-omong mbakmu ning ndi? Ojo-ojo awake dhewe ditinggal balik An?”
“ mbuh mas, paling dak ra iyo wes bailk tho, wong wes kawet mau, rak mungkin kan nek ijeh ning kene ndhelik terus ndungokke omongane kita. njeh mas, mator suwun, aku ya tresno mas wes suwe kok, nanging ya piye meneh, keluargane mas agamis memegang teguh prinsip, garis kaku, sekali ora sampek mati yo ora, gak iso di owah-owah kok mas.”
Wah, kok pembicaraan mereka semakin dewasa ya, hehehe seru juga, jadi pengen rasanya, bair mereka tidak curiga aku mending pulang jala kali sajalah, biar mereka pulang bareng, yang aku ingat hari itu adalah hari minggu, 12 agustus 2007, hari jadian mereka dan hari ikrar mereka.
Sesampainya dirumah ternyata ada banyak hal yang tidak aku tahu selama perjalanan mereka pulang, aku coba tanya jujur pada adikku.
“dek, balik-balik kok sumringgah ono apa?
“orak popo mbak, mau tau aja, hehehehe!”
“Cerito karo mbak kene dek?” sembari kulambaikan tanganku mengundang adikku untuk datang.
“ ngko dipek tho mbak, aku rung ados, aku rung nyapu, nek wes bar kabeh ya mbak?”
“yo kono laksanakan pek perintahe ibuk! Kae kowe wes diundang bengak-bengok, cepet moro ning ibuk!”
“njeh buk, sekedap, njeh buk!” sambil berlari meninggalkanku menuju ibuk.
Yah itu masa lalu, 5 tahun yang lalu.
***
Masih ku ingat betul secara detali hal-hal indah yang dialami adikku bersama Amang, semenjak kepergian Amang dari desa ke Semarang dia jarang pulang, paling hanya  tiga bahkan enam bulan sekali dia pulang, dan bertemu dengan adikku tercinta, kelasihnya yang senantiasa mendoakanya dalam segala hal, ketika dia pulang adikku pasti seharian ditemani oleh Amang dirumah ini, yah, mereka melepas rasa rindu antara dua sejoli yang saling mengasihi. Amang pun tak terasa melangsungkan wisuda gelar S1 nya yang hanya dia tempuh 3,5 tahun lulus dengan IPK cumloade 3,91. Kami sekeluarga bahkan sekampung datang ke UNNES menggunakan bis carteran dari dana pak kades untuk menyambut putra daerah tiba di desa, karena hanya Amang Sulistiantiko putra Pak Hatjdoe Disasoengkoe lah yang bergelar S1 didesa kami.
Alangkah bangganya Adikku memiliki calon suami sepandai setampan dan seberuntung Amang, dihari bahagia itu dia rayakan bersama sekaligus memberitahukan bahwa adikku adalah calon dari Amang ke orang taunya.tetapi terjadi sedikit konflik disana.aku yang ikut menemani adikku pun merasakan betapa sedihnya hati ini.
“ ibuk bapak, niki wonten estri namine bapak ibuk mpun ngertos, aku tersno akro Anida buk, pak, nyuwun doa restunipun nggeh?”
“ aku rak menging kowe karo sopo wae le cah bagus, nanging mbok yo luru bojo iku seng sepadan karo kowe,aku wes nganggep nak Ani iki anaku dhewe, wong yo gawene  dolan rene!” sahut ibu dari Amang.
“ bapak yo semono uga karo ibumu nak, aku ora iso mekso kowe arep karo sopo, seng penting kowe gloek gawean dipik, mapan, terus gowo calonmu ndene meneh.”
“Njeh pak, buk, mator suwun aku badhe ngeterake Anida mulih riyen pak, buk, monggo.Asslamualaikum...
Aku hanya bisa tertunduk lemah ditengah perjalanan bersama mereka, ya, wajah Adikku kelihatanya murung lagi, sembari memecah kebisuan aku coba menghibur mereka.
“kok padha meneng kenapa?”
“toh nek kalian emang wes jodho ki rak bakal iso dipisahke, termasuk goro-goro status sosial, ngerti? Dek, seneng karo Amang kan? Dek Amang, seneng karo Ani kan? Wes... ngopo dipiker susah? Saiki luru o gawean seng trep, nggo siapke omah-omahe wong loro, yo?”
“ tapi mbak, buke ki nek sekali orak tetep orak yo?”
“ wes lah dipiker mburi...! ayo mlaku!” sembari berjalan menuju rumahku.
Adikku terdiam dan sesekali tertawa ringan ketika dirangkul oleh Amang, dia kelihatan shock dan kaget sekali mendengar penolakan halus dari orang tua Amang, selepas amang pulang pun dia masih sangat murung dibahu ibuk sambil meneteskan air mata, penantian tiga setengah taun meresmikan ikrar mereka pupus hari ini jumat, 12 agustus 2011.
 Akupun mencoba menenagkan adikku dengan membuatkan secangkir teh manis hangat kesukaan dia, akan tetapi gula ditpoles sudah habis, aku mencari dompetku tidak ketemu0-ketemu, akirnya aku baru teringat bahwa dompetku tertinggal diteras rumah Amang, akupun kesana dengan terburu-buru dan menemukan dompetku masihg aman, ketika aku mau mengetuk pintu rumah Amang aku dengar perbincangan yang menggunakan nada agak keras. Aku urungkan niatku dan mencoba mendengarkan pembicaraan itu.
“ kowe iki yo le, disekolahke duwur-duwur seleramu kok rendah banget?”
“Nanging aku sayang buk, aku tresno, lan perlu ibuk ngertos aku tresno karo Anida niku mpun wiwit SMA buk, dadi wes ora iso diowah-owah memeh keputusanku!”
“Opo? Wiwit SMA? Berarti kowe rahasiakno iki saka bapak ibu mu le? He? Kowe anak kurang ajar !  he? Ora ndenger diuntung!”
“ora sudi aku duwe mantu koyok pilihanmu kuwi, nek muk anggep adhi aku iseh terimo, nanging nek dadi bojomu aku rak setuju le.”
“wes buk wes, anak lagi teko pirang dino wes muk amuki terus, ora saake po kowe, ben sak mileh-mileh e awake tho, wong yo wes gedhe, iso miker!” bapak Amang sepertinya berusaha melerai antara Amang dan Ibunya.
“Kowe ki yo le le tak sekolahke ning semarang ben melek, ben reti kehidupan baru, ben reti wadon seng ayu sitik, pinter, berpendidikan, jelas bibit bebet lan bobote, malah mileh wong sak deso? Opo yo rak ngisin-isini ibumu? Bapakmu?”
“buk...!ora...”
“Wes meneng cep le, pokoke ibu rak setuju! Rak ono restu, nek sedulur iseh iso, neh bojomu. Luru o wong semarang, kenalno ibuk sok yen kowe wes bar kerjo, sukses!”
“ mulai saiki adoh i Anida, nek ora malah tak pedot sedulurane keluarga iki karo keluargane dekne! wes  ibuk rep turu. Sakarepmu kowe meh nang ndi, asal ojo ning umahe Anida meneh! Ayo pak!”
Akhirnya aku pulang tanpa pamit keluarga Amang, aku merasa sangat sakit hati sekali dengan pembicaraan itu, akupun tak jadi pergi kewarung, akupun berlari kerumah dan menghampiri ibuk dan adikku yang masih memeluk ibu, aku pun memeluk mereka dengan erat. Sambil ku batin “ alangkah susahe yo buk, dek dadi wong susah, dilecehke kene kono koyo menungso tanpo guna, aku rak kuat buk, dek!” aku tidak akan memberitahukan percakapan itu pada siapapun jikalau hanya akan menambah beban semuanya.
“Mbak ngopo nanges? Mbak teko ngendi? Kok mau di undang ibuk rak nyaut-nyaut?”
“ rak popo dek, mbak mau ning Wc, sikile mbak kesleo, loru banget, mulane mbak nanges, hehehe saiki wes gak popo kok mbak!” aku kembali memeluk mereka dan kupejamkan mataku, aku berharap ketika aku membuka mata ini banyak keajaiban datang dan menghapus sedih ku ini.
***
Minggu, 12 Agustus 2012, setelah hampir empat tahun tidak ada kabar, setelah mereka bertemu kembali dan dihadapkan pada kenyataan pahit ketika ibu dari Amang tidak menyetujui hubungan mereka, dan Amang harus menuruti kata ibunya untuk menjauhi adikku. Adikku kembali dalam penantian hingga kini, Amang menitipkan surat pada adikku agar dia menunggu, tetapi setelah kedatangan orang tua Amang untuk memperingatkan Adikku agar tidak menikahi Amang semua jadi buyar, semua jadi serba salah. Amang pergi untuk mencari nafkah, membangun rumah untuk adikku dan memutuskan hidup tberdua tanpa restu dari orang tuanya, itulah janji amang yang tertera dalam surat yang setiap detik adikku bawa seperti orang yang kebinggungan.

Kanggo : Anida Laraswatiku tersayang,

Mas arep lunggo adoh, wes ngerti kan kotot e ibuk koyo mengkono, aku rak iso yen pisah karo kowe cah ayu, aku rak sangup, mung sliramu kang bisa madhangno bulaning atiku kan peteng sadurunge, ra ono wadon liyo ana ing sajroning atiku kejobo sliramu, cah ayu, entenono tekanku ya, aku ngejak sesarengan urip bangun rumah tangga tanpo restu wong tuaku, tulung cah ayu aku saiki lunggo bakal balik marang kowe. Aku tersno sliramu cah ayu.

Mas Amanng  kang tansah cah ayu enteni



***
Sudah banyak lamaran yang ditolak oleh adikku, tapi semua ditolak hanya demi  menunggu Amang yang sudah setahun lebih meninggalkan adikku tanpa kabar. Ya, kabar terahir hanya surat cinta yang ditulis Amang dengan terburu-buru karena tulisanya sedikit kurang rapi, beda dengan tulisan Amang yang biasanya. Akhirnya ada tawaran ibu dari Amamng untuk menikahkan Adikku dengan seorang pemuda yang juga suka dengan Adikku, semua biaya pernikahan akan ditanggung orang  tau Amang dan hidup selama 10 tahun pernikahan akan ditanggung oleh mereka, semula adikku menolak keras, akan tetapi sempat juga terjadi penculikkan terhadap adikku, keluarga kamipun akhirnya sepakat dengan tawaran dari keluarganya Amang.

Rabu, 12 Desember 2012 merupakan hari dimana dilangsungkan akat nikah sekaligus pesta pernikahan besar-besaran antara Anida dengan Galih sucipto, anak kepala desa Bangsal yang juga sudah lama  suka dengan Anida. Amang tak mengetahui hal ini, tetapi Adikku berharap hari ini juga dia akan pulang menyelamatkan adikku dari semua ini, batinya tersiksa,adikku sudah seperti orang gila, robot hidup yang diatur-atur oleh orang tua Amang. Dalam ruang riasnya adikku berkali-kali meneteskan air mata dan ku usapi air mata yang menetes pelan-pelan dipipi merahnya karena make up.

“mbak, apa kabeh bar koyo ngene? Ning endi saiki dkne mbak? Aku ndonga marang gusti mben wengy jen dkne lekas balik marang aku, opo rak jutul doaku mbak? Opo aku lan dkne wes rak duweni ikatan batin apa-apa mbak? Aku tersno mas Amang mbak. Heeeeeeeee...”
“ wes-wes cup, cah gede rak ntok nanges, arep nikahan barang kok, kabeh wes digaris sayang, wes dilakoni wae, ojo miker seng ora-ora, ojo miker minggat, ojo kendhat, Amang bakal gede amarahe yen kowe nglakoni kabeh hal elek mau.”
“mbak, undangke Mas Amang, dkne wes cedhak mbak, aku iso ngrasakke dkne ning kene, wes cedak mbak! Tenan wes cedak!”
“Wes, ayo ngadek, kae wes dinteni mobil, ayo ndang nang mesjid! Ngadek o cah ayu!”
“Mbak? Tapi mbak?”
Akupun membawanya keluar dari kamar rias, masih jelas bekas air mata yang mengalir di make up nya, aku minta perias untuk menghilangkan bekas  air mata itu dengan mengulangi lagi riasanya dan melarangnya menangis.
“dia akan bahagia bila kamu bahagia sayang, percaya sama mbak ya?”
Akhirnya adikku pun naik mobil menuju masjid, tak disangka ditenmgah jalan menuju masjid aku berpapasan dengan Amang, dia sudah kaya sekarang, tapi didalam mobil tadi aku lihat ada seorang wanita cantik yang duduk disebelahnya. Akupun tak memberitahu adikku.
Sampailah kami dimasjid, pak penghulu dan calon pengantin laki-laki sudah sedikit lama menunggu, kamipun akan melangsungkan akat pernikahan yang diwalikan oleh pamanku, pengganti alm. Bapakku.
Mungkin Amang akan melihat janur kuning telah melengkung di gang rumahku, dan mungkin sebentar lagi dia akan sampai masjid ini, mungkin pernikahan ini akan gagal, pikiranku melayang-layang tak tentu arah. Ternyata dugaanku benar, tetapi yang datang bukan amang, tapi  tukang kebun orang tua Amang yang memberitahukan bahwa Amang terkena serangan jantung di depan gang rumah Anida ketika kaget Anida menikah,sontak anida pun berlari meninggalkan calon pasangan laki-lakinya, senpat terjdi tarikan untuk mencegah anida kabur tetapi adikku berhasil lolos, ya. Dia berlari kearah rumahnya, disana sudah terbaring Amang didampingi sekretarisnya yang cemas memikirkan bosnya.
Orang tua Amang pun segera datang ke rumah Anida yang masih ramai dengan aktifitas orang punya hajat serta keramaian Amang yang terkena serangan jantung. Sebelum Amang menghembuskan nafas terhir Anida menikahi Amang, dan amang berkata “aku bahagia hari ini dan selamanya...” setelah itu dia pergi utnuk selamanya. Ibu amang sangat sedih dan menyesal telah merencanakan semua hal ini, dia rela mengeluarkan harta bendanya hanya untuk membunuh anaknya sendiri, jeritan ibunda Amang pun semakin tak tertahan dan akhirnya ibunda Amang pun pingsan bersamaan dengan adikku. Tak kuasa aku menahan air mata ini.akupun menjeritkan sesal, kenapa aku tadi tak memberitahu adikku waktu aku berpapasan dengan dia, sungguh bersdosa diriku. Tuhan...maafkan aku.

     Goresan Keyboard: Mang Gugun
    Semarang, 22 desember 2012 

Sabtu, 29 Desember 2012

Aku Akan Lupa


Aku lupa kapan terahir aku melihat berita
Dan aku lupa kapan aku terahir menangis
Semoga aku lupa kenapa aku ikut berduka
Karena aku lupa akan laut merah yang pindah ke palestina
Biarkan aku lupa akan luka-luka
Dengan aku lupa pun semua tak kan berubah
Seperti bermain dalam game
Tapi itu nyata!
Itu nyawa
Itu basah darah
Itu manusia
Itu balita
Itu... ? Siapa kau ?
Oh...kau pelakunya.

Aku tak pandai merangkai kata
Aku hanya pandai menangisi mereka
Aku akan berjalan menyusuri bebatuan tempat berjalan
Aku akan orasikan yang kupunya
Dan aku akan lupakan berita kematian
Aku akan lupa ketika aku dalam keramaian
Aku akan lupa mimpiku pergi kesana
Aku akan duka bila aku tak segera lupa

Disana banyak penjara
Disana banyak neraka
Disana aku lupa ada banyak tentara
Andai Andai andai Andai andai andai...
Hanya bisa mengandai-andai
Ya Rabb ketika aku terjaga dari lupa
Aku ingin mereka sudah merdeka
Aku ingin mereka tak bermandikan darah lagi
Aku ingin mereka tak bermain main dengan panasnya peluru
Aku ingin tak ada ronta balita yang sakaratul maut
Aku ingin mereka hidup bersama
Sama seperti aku yang ada disisimu

Buah pena : mang gugun
puisi untuk palestina
 Pati, 28 Desember 2012

Jumat, 21 Desember 2012

bu bu i i

masih ku ingat doa yang melepaskanku dari pelukmu
masih kurasa malam ini
bukan hanya sekedar detik detik peringatan
aku masih menangis ketika merindukan
ku coba merabah kekuatan yang tak ku mampu
berharap seraya meneteskan air mata
disini aku merindukan senyuman itu
tanganmu keras sekeras kehidupanmu
aku masih ingat betul gamparan gamparan itu melayang ditubuh mungilku
aku masih ingat kata kata yang tak seharusnya kau ucap keluar dari mulut penhu sabda
aku juga masih ingat ketika semua membiarkanku kaulah yang memelukku dan menjadikan detak jantungku lebih tenag
apa lagi yang tak ku ingat
aku ingin menjerit ditengah sepinya kontrakan kecil ini
mengabarkan pada malam angin yang akan kuharapkan sampai ditelingamu
kasar...ya berkali kali kau ajariku sopan santun
tapi apa aku membelotnya
dendam
jangan
aku tak mau lagi membuatmu kecewa
entahlah
karena surga ada ditelapak kakimu
aku ingin menumpiki dosaku dengan baktiku padamu
rindu aku
rimdumu
ibu

semarang, 22 desember 2012; 00.14 wib

Minggu, 02 Desember 2012

PRPOPSALKU UNTUK TUHAN

Malam ini aku persembahkan jutaan harapan
Tak peduli mau kau berikan yang mana dulu padaku 
Larut malampun membelengguku untuk diam
Sebanyak ini apakah mampu kau wujudkan
tumpukan kertas kusam tiada lagi ku lihat
Bukan ku maksud ragu
Hanya ku rasa tak pantas, angkuh

Lupa akan jeritan kemaksiatan yang kulakukan
Lupa akan heningnya iman dalam dada
Sungguh ku hanya berpengharapan
Tiada lain tiada bukan

kemarin kucoba lari
ternyata kau selalu mengejarku
datangkan  iblis iblis yang menganggu
lalu aku datang padamu berharap lindung
tanpa ada rasa bingung
ku bukan priyayi
ku bukan penyanyi
ku bukan penari
ku bukan pemimpi
ku pandang pelangi dalam gelap
ketika semua telah terlelap

Masih mencoba merangkai apa yang ku mau
Gelap hingga tak peduli waktu
Masih saja ku tak punya malu
Maunya ini dan itu
Bolehlah aku minta satu
 Kupastikan itu yang terahir dariku
Matikan aku...

bukan Mang Gugun
semarang, 2 Desember 2012

Kamis, 22 November 2012

Nama KUMANG


Nama KUMANG
Bukan dari Mang Gugun
Nama Kumang, detak detik dan dentuman alarm jam tua dipojokan ruang tamu mengugahku untuk sejenak merenungi apa yang terjadi selama ini, aku baru saja terjaga dari sebuah mimpi yang elok. Namun aku juga harus tahu diri, siapa aku! seperti manusia yang biasa ku jumpai dijalan, kurasa aku sama seperti mereka, sama merasakan cinta, hangat kasih, sejuknya sayang dan damainya hati. Sama mendedikasikan hidup ini untuk hal-hal yang disukai, aku juga demikian. Gemerlap mulai redup,  bolam kuning yang seolah menjerit-jerit semalaman telah memutuskan untuk memberikan kegelapanya. Namun aku adalah aku, bukan mengikuti kegelapan, bukan berjalan seiring dengan kedustaan, bukan terpanah dengan kesombongan, karena aku tahu nasipku akan sama seperti bolam yang baru saja meninggalkanku.
Beruntai tali kecil ku gapai rembulan dari balik jendela, yang kata orang jauh hadirnya, bukan aku yang menghayal, tapi kalian lah yang tak mau berusaha.  Jangan halangi aku. Karena kau tak akan ku hiraukan.akan kugapai kembali bulan itu, tak kan kubiarkan aku jauh darinya.
“ hai kau, kembli…!”
“ Aku bukan gila!”
“ Aku bukan orang gila!”
“ Bedakan aku dengan mereka!”
“Kau pendusta. Dengarkan aku, kalian semua pendusta!”
“lihat sekitarmu! Diam kau, aku tak marah!
“aku tak menghujat, aku tak akan protes jika kau berbuat sesukamu,karena aku tak punya kuasa atas kamu!”
“pergi...!”
“ terlambat!”
Nama Kumang, Rasa yang terus menghantuiku sejak kejadian itu, semenjak semuanya diambil tak tersisa, dikuras habis, dimusnahkan begitu saja, ditarik paksa dari hidupku. Ini tak adil bagiku, sungguh tak adil, aku merasa bukan aku, ahh…aku belum gila. Keberuntungan tak lagi berpihak padaku, kini aku tak bisa menerima semua ini. Tukang paksa tak akan mampu mengeluarkanku dari rumah ini, biar bapak dan bundaku yang pergi. Tidak dengan aku. Walaupun aku mati disini akan kulakukan. Itu pasti.
“ bapak terlalu ceroboh, bunda terlalu menghamburkan uang yang selama ini bapak cari, lalu sekarang apa yang akan kita lakukan?”
“ apakah aku akan meninggalkan semua ini dan pergi kedalam dunia yang tak ku kenal sebelumnya?”
“Pada siapa aku harus mengadu, ketika semua ini tidak lagi jadi milikku, pada siapa aku harus meminta kembali, dunia sudah kiamat!”
Pagipun menjadi penantianku, karena kau akan melakukan pemberontakan melawan penjajah yang akan datang satujam lagi, ya…mereka adalah penjajah rumahku. Yang akan mengambil secara paksa rumahku dan seisinya, mainanku, mobil-mobilanku, bahkan mobil bapakku pun akan diambil secara paksa. Aku siapkan balok bata diatas daunpintu, aku siapkan minyak goreng dilantai depan pintu, dan aku siapkan…semua telah aku siapkan. Tiba-tiba saja terdegar suara orang jatuh, “bruk”. Kena kau, aku berlari keluar kamar, menuruni tanga-tanga putih dan melihat siapa yang sudah berhasil ku taklukkan, pasti para penjajah itu, sukurin, kena kau!
“ aduh, kenapa yang kena jadi bibik. Mati aku!!!”
“aden yang melakukan semua ini ya?” suara lirih mulai pelan dan tak kedengaran, ternyata pingsan. “ aden!!!” suara itu mengagetkanku dari lamunanku. Aku mulai berpikir, apa yang akan kulakukan selanjutnya.
“ kaburrr!!!” akupun lari kekamar bapak, dan memberi tahu bahwa bibik telah tertimpa batu bata dikepalanya, tergelincir dari lantai dan pingsan didepan pintu. Serentak bapak dan bundaku langsung bangun dari tempat tidurnya dan bergegas menuju pintu depan rumah. Aku masih sendiri dikamar, tampak pucat wajah bapak dan bundaku, matanya memerah dan katup matanya menghitam. Aku takut kena marah lagi, jadi aku putuskan untuk diam dikamar. Masalah satu belum selesai masalah yang lain bertambah lagi, kulihat dari jendela kamar bapak dan bundaku mengantarkan bibik ke rumah sakit terdekat, kurasa itu kali terahir mereka akan naik mobilnya sendiri. Ah…
Waktupu berlalu begitu cepat akupun kena marah sepulang mereka dari rumah sakit, bibik yang sudah begitu setia pada keluarga ini malah kena perangkapku, akupun meminta maaf pada bibik dengan sedikit tangisan, palsu. Hehehe. Bibikpun orang yang keluar pertama dari rumah ini dengan pesangon, mungkin aku, bapak dan bundaku akan keluar dari sini tanpa pesangon satu sampai dua jam lagi.
“ pak, aku nggak mau pergi dari rumah kita!”
“bund, tolong lah bund, jangan hanya diam saja bund!”
Tiba-tiba aku terkejut dengan bentakan bapak yang sangat keras! “ apa kamu bilang? Masih mau dimarahin lahi ! ha? Kamu bandel ya,,sini bapak seret ke belakang, tak jeburin kolam kamu ya…! Pagi-pagi sudah merepotkan orang tua, apa kamu nggak tau bapak lagi kesusahan! Ha?”sambil memegang kaosku dan menyeret aku.
“ ampun pak, ampun, pak ampun, bunda…tolong aku bund, tolong…!
Aku berontak dan berterak-teriak ketika diseret bapakku menuju kolam renang, Aku menjerit-jerit minta tolong pun tak dihiraukan oleh bunda, akupun tengelam dalam dinginya air pagi, entah siapa yang menolongku, tau-tau aku sudah ada diatas kasur, dengan dengan bunda dan bapak yang menemaniku disamping kanan dan kiri. Akupun meminta maaf dan menuruti semua perkataan bunda dan bapakku, akhirna kami pun pindah dengan naik bus kota, entah kemana  aku juga belum tahu ini mau kenama. Aku belum berani bertanya-tanya lagi, kulihat bapak masih sedikit marah denganku.selamat tinggal rumahku selamat tinggal kenangan-kenanganku bersamamu disana,a ku akan kembali suatu saat nanti, tunggu aku datang. Selamat tinggal teman-temanku bermain, aldo, rifki, eko, hani, siti, kang tole, mbak denok, dan yang lain.
“ kita akan ke Pati mang.” kata bundaku singkat, dan mengawali pembicarranku ketika duduk berdesak-desakan dengan penumpang yang lain.
“ Pati bund? Pati itu mana bund, jauh nggak bund? Terus rumahnya segede rumah kita nggak bund? Ada mobil nggak bund?”
“diam!” bentakan bapakku kembali membuatku bisu.
Setelah kurang lebih perjalanan dari Jogjakarta menuju ke Pati selama lima jam kamipun sampai dirumah nenek, tepatnya di Desa Bangsal Rejo Wedarijaksa Pati, disana adalah rumah bapakku, yang semasa aku masih berumur beberapa bulan, kata bunda aku pernah disini, entahlah apa yag ada didalam pikiranku, semua fasilitas taka da yang layak, mau berontak juga tak bisa, mau apa juga aku hanya anak kecil yang bisanya Cuma menangis, akupun lebih memilih menangis dan diam, agar semuanya tak bertambah parah dan merugikanku sendiri.
***
Nama Kumang, berbicarralah sebelum kau dilarang bicara, dengarlah sebelum kau tuli, rasakanlah sebelum kau mati rasa, lihat lah sebelum kau buta, bentak terus aku, pegang aku jika kau mampu!” Bentakan seorang gadis yang sangat cantik, pribumi Pati yang pertama kali aku kenal, awalnya aku karab dengan dia, tetapi aku terus memanfaatkan dia, karena kau masih belum terima dengan keadaanku yang sekarang, aku lebih sering tinggal dirumahnya daripada tinggal dirumahku sendiri yang sekarang.
Banyak sekali hal-hal yang membuatku berubah dari dia, aku setiap hari harus mulai tebiasa menyesuaikan diri dengan lingkungan disekitar ku, aku harus menyapa tetangga yang lewat, aku harus selalu tersenyum ketika aku bertemu dengan orang, aku harus ini aku harus itu aku harus begini dan aku harus begitu dan seterusnya. Membosankan hidup didesa!
Apalah dayaku, kesombongankupun membuat dia pergi, pergi meninggalkan aku dengan segenap kemarahan, aku harus berbuat apa sekarang?  Ah bodoh, aku akan mencari seseorang lagi dalam hidupku untuk mengajariku hidu disini. Betapa tidak nyamanya aku, ketika pergi kesekolah harus dengan sepeda, jikalau aku bosan, capek dan kepanasan aku harus naik bus, semenjak aku dimarahi olehnya aku sering murung, dan aku tak lagi dapat tebengan gratis naik mobil kesekolah. Sungguh dia tidak memaafkanku. Ketidak tenangan hatiku membuatku terus gelisah dan mencari-cari sesuatu yang membuat aku tenang, tapi apa yang ku temukan tak semuanya memberiku ketenangan, hanya sesaat dan terus pergi, aku utuh sesuatu yang pasti, aku butuh sesuatu yang membuat aku nyaman, nama Kumang.
***
Waktu itu aku sedang capek selepas olahraga, aku dduk diteras musola SMP Negeri 1 Juwana Pati, aku melihat ada gadis cantik yang berjilbab putih, mungkin aku bisa berkenalan denganya, lebih dekat dan mengajariku agama, karena sudah 15 tahun aku hidup yang kutahu dari agamaku hanyalah beberapa. Untuk ibadah akupun tak bisa, berinteraksi dengan tuhan pun aku belum bisa, berdoa pun, ah kenapa semua tak bisa. Sementara yang lain sudah fasih menghafal Al Qur’an, aku mulai ingin memperdalam agamaku dengan berteman denganya. Dirumah aku tak pernah mendapat apa-apa, mungkin karena mereka sudah jengkel denganku. Sempat aku disekolahan mengaji, tetapi aku sering bolos.
Kali ini aku benar-benar suka denganya, yah...dia bisa mengajariku mengaji, salat dan yang lain, suaranya membuat hatiku bergetar ketika melantunkan ayat-ayat suci, belum pernah kurasakan sebelumnya ketenangan-ketenangan batin yang membuat aku merasa lebih hidup dari ini, Nama Kumang. Aku tak bermaksud apa-apa, aku tak meminta lebih, tetapi sebagai seorang remaja aku juga punya raa jatuh hati, aku juga sudah sadar diri dan merasa tak pantas bila berdekat-dekatan denganya. Aku orang yang baru belajar agama dan masih sangat sedikit sekali yang ku ketahui tentang agamaku, semenrtara dia, berasal dari keluarga ulama terpandang, kaya dan lain-lain, ahh…Nama Kumang.
“nay,”  begitulah kusebut namanya.
“Apa mang? jangan meminta lebih dariku, abahku melarang aku pacaran mang. Aku nanti bisa-bisa dimarahi, maafkan aku ya mang.” Dengan halus dia membujukku supaya berteman saja, dan aku mengiyakan hal tersebut.
“tidak nay, aku yang minta maaf, Terimakasih ya nay, kamu sudah mengajarkan ku banyak hal, aku sering menganggumu, aku merasa tenang ketika aku sudah bisa hafal gerakan salat, sudah hafal bacaanya, sudah tahu dan sedikit membaca Al Qur’an. Aku adalah orang yang beruntung bertemu denganmu, maafkan aku memanfaatkanmu untuk mengajari aku tentang agama. dengar-dengar kamu mau melanjutkan sekolah di Kairo mengikuti kakakmu ya nay?” 
“ aku merasa senang jika antum mau belajar lagi mang, aku tidak merasa antum manfaatkan, aku juga sering bercerita ke abahku tentang antum, semua buku-buku yang aku berikan pada antum itu juga dibelikan abahku, belajarlah walau tidak ada aku, belajarlah walau antum lelah, memang sulit mang, tapi antum harus bisa hafal Qur’an ketika aku kembali ke Indonesia nantinya! Bila jodoh, aku akan mendampingimu kok mang. Jangan lupa selalu ucapkan salam ketiak bertemu orang, biasakan itu ya mang?”
“apa? Mustahil nay, kamu nggak usah bercanda. tap..”
“Sudah, jangan ada tapi-tapian, aku yakin kamu bisa! Mari masuk kelas, assalamualaikum mang.”
“ tap tap….i! wa waalaikum salam nay,  apa yang bisa kulakukan?aku belum bisa membacanya!”
Selepas lulus SMP, Naya melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi  di Kairo, Mesir, katanya sekalian nanti mau kuliah di Universitas yang sama dengan kakaknya, kakaknya yang kuliah Universitas Al Azhar-Husein Kairo, kami pun berpisah dan kadang masih berkomunikasi dengannya, informasi terahir yang kudengar dia sudah dilamar oleh orang asli Husein, daerah tempat ia dan kakaknya tinggal. Mungkin aku memang tak pantas dapatkan dia. Nama Kumang.
***
Nama Kumang. yang lalu biarlah berlalu, seolah tak membekas apa-apa, apa yang kulalui hanyalah kenangan-kenangan indah yang hilang ditelan waktu, setidaknya aku sadar diri sekarang, hidup penuh kesederhanaan itu memang lebih nyaman, tetapi kadang juga harus prihatin, bapak dan bundaku terus saja bekerja keras mencari nafkah untuk aku, sekarang mereka sudah mulai perhatian lagi denganku, tak ada kemarahan yang berlebihan sampai aku dipukuli dan lain-lain, tak ada kemanjaanku lagi, semasa SMA aku juga sering melakukan pemberontakan-pemberontakan diri, aku sibukkan hari-hariku dengan organisasi agar aku lupa dengan apa yang sedang kuhadapi, bukan bermaksud menjadikan pelampiasan diri, awalnya memang demikian, tetapi lambat waktu aku mulai suka bersosialisasi, tidak lagi menjadi mang yang pendiam, sombong, angkuh, cuek dan lain-lain, aku mulai nyaman dan sabar dalam menjalani kehidupan walau kadang kala aku masih sangat emosional ketika ada seseorang yang menganggu kelancaran aktivitasku, aku mulai belajar menghargai diri sendiri, orang tua,  orang lain, tak lagi melecehkan dan merendahkan orang, mendekatkan diri pada tuhan yang memberiku segala sesuatu yang baru dalam hidupku, bersyukur dan menyesali semua perbuatanku yang telah kulalui. Semoga tak akan ku ulangi kembali.
Nama Kumang, sekarang usiaku adalah 18 tahun, kado terbesarku adalah berada di Pati, banyak sekali kenangan-kenangan yang kulalui dibumi Pati Minat Tani, bertemu dengan beberapa orang yang mampu mengembalikanku ketitah, membuatku berjalan dijalan yang lurus, menjadikanku manusia yang terus belajar, tempat ku bersandar ketika aku lelah, tempatku berkreasi ketika aku terjaga, tempatku menjerit ketika aku tak terima, tempatku dan tempatku. Berat rasanya harus pergi dari Pati walau sesekali aku bisa pulang, tangan tuhan telah mengantarkan Mang menuju Semarang untuk menempuh pendidikan lanjut.
Nama Kumang, kini aku menggebu-gebu untuk melakukanya. Beruntai tali kecil ku gapai rembulan dari balik jendela, yang kata orang jauh hadirnya, bukan aku yang menghayal, tapi kalian lah yang tak mau berusaha.  Jangan halangi aku. Karena kau tak akan ku hiraukan.akan kugapai kembali bulan itu, tak kan kubiarkan aku jauh darinya. Dan bulan itu kini bukan bulan kegelapan yang ku kejar, tapi bulan yang tersinari surya.
                                                           Dibuat pada 12 Nopember 2012
                                                           Direfisi pada 15 Nopember 2012
Kamis,        01 Muharram 1434 H


Senin, 08 Oktober 2012

PGSD


                                             PGSD
Bata serak         ber guling     reruntuhan      bangun     
Taba resaktan   ah                  tak                    nya   man
Abat kares         di  da  lam    indah juga       sem   rawut
Atab                    ju       rang    de         kat       long  sor
Daun                   kering ber     tebar an di      ja    lan

        Deng           ber                 te          lah                 ki     
        Arkan      ju  ang                su      sah             ta      agar
        Maha   lah      bang                 pa               sukses        lah
        Siswa   demiorangtua           yah              yang kita  raih
Tercinta      me          reka           untuk            dan           maju


Mang aruba di malahan tuk kaman
Sapan kat rukan simah taberankan
Sendo ringes sokong kanmening anperliku
Tangike russehanya dadiakan idpuskam nekare dahsu kalay
Ajay sahterpi dnisenri irad UNNES satpu
Toberok lanbu KESAKTIAN PANCASILA
Mangseat MAHASISWA ruseha bultim ilag idar ajiw
Rima nganja ijad MAHASISWA kupu-kupu

Jas Kuning


Jas Kuning
By : Mang Gugun

Dengan rindu berlalu lah rasa perjuangan yang dulu ada
Pemuda menari dalam deruan rindu
Tiada tujuan untuk melirik keresahan
Tertua mulai gundah nan prustasi membawa sepucuk harapan

Kini semua larut dalam asa karena hanya duduk yang bisa dialakukan
Sisa-sisa meomri masih tampak semangat mengobarkan cerita masa silam
Hanya angukan dan kata “iya” yang dapat kau beri wahai anak muda
Tak peduli raja pun bersama permaisuri mengumbar janji-janji

Wahai kau pemuda yang sedang tidur buka matau
Wahai kau pemuda yang sedang bangun tegakkan badanmu
Wahau kau penuda yang sedang duduk walau berduri berdirilah
Wahai kau pemuda yang sedang berdiri walau depanmu jurang lewatilah
Wahai kau pemuda yang sudah berlari ajak temanmu berjanji

Totalitas perjuanganmu hanya dalam lagu
Citamu hanya dengan kata kata tak berwujud
Tujuanmu hanya ada dibalik figura
Suaramu hanya dalam hati
Jika kau tak punya aksi apa-apa…
Nyalakan lilin dan bakar dirimu dengan sebotol premium…
Karena kau hanya beban bagi keluarga
Jika kau hanya menjadi mahasiswa tak berdaya
Ini saatnya kau tahu…dan  jas merah itu harus kau beli
Jas kuning harus kau pakai
Jangan sekali kali kuliah niat nebeng
Hiduplah pemuda Indonesia mahasiswa Indonesia
Masa depan dihati kita


Senin, 17 September 2012

risalah malam

bukan
mencoba memenangkan jiwa
meraba tubuh yang telah terkuasai iblis
nafsu dan setan saling berkuasa silih berganti
menikmati tubuh yang lelah
telah terisi damainya jiwa
hilang seketika

raga yang masih bertanya
tuan dan tuhan itu ada
kenapa hanya dia yang dijaga
terjagadari semua lara

siapa yang tak ingin jua
teriris ketika pagi mengingat dan siang pun sirna
juga terhadap ucapan
lisan
qalbu...
tuhan..aku boleh kan menjerit?
sekuat
tenaga raga
sukma
jiwa

sejenak ingin kan lepas nyawa
dan bertemu denganNYA
ter lihat betapa indah dan binasanya disana
kan terkabarkan pada mereka sekali lagi
1001 jiwa akan terbawa air yang mengalir
ke arah hilir mulia...

ketika malam membasahi jari dan hati teringat lagi

mencba terus menggores
tak peduli senja telah lama sirna
mencoba untuk tetap menetes
meski tak ada setitik embun dimalam ini
mencoba melakukan apa saja
meski harus berontak terhadap sunyi
seperti sang penjunjung yang pernah resah hati
ketika ketiadilan menyelinap dalam perjuangan

luka....
buka...
hampa....
tersisa...

lihat sekitar dan tertawa ringan
kuadalah peenerus perjuangannya
kuadalah penumpas mata
apa yang aku akui?
lupa?

masih terus menggambarkan malam
penuh mimpi ketika pati mendatang i nyawa
dan berahir seperti rumput kering tampa penyejuk da gurun pasor
aku menunggu tanganmu merengkuh jemariku
meski aku tak se .....kebanyakan orang
tapi ku akan terus bermimpi...
dalam sadar

ng ng ng ng ng

ang
ing
ung
bang
bing
bung

dang
ding
dung
eng
ing
ung

ang ing ung bang bing bung
dang ding dung eng ing ung

pang
ping
pung
pong

osang
isang
usang
jarang
lang

tang
teng
tung
tingzang
zeng
zung

tonge tunga tengo tange tinge tanga
ga gi gu ge go...

Rabu, 08 Agustus 2012

Belajar Menjadi Guru SD di Bukit Ilmu(UNNES)


Belajar Menjadi Guru SD di Bukit Ilmu(UNNES)
Latar Belakang
Menjadi pengajar adalah cita-cita saya sejak kecil, disamping bercita-cita menjadi sastrawan.Bukan karena guru ekarang gajinya banyak dan hidupnya sejahtera tetapi karena memang panggilan dari lubuk hati yang terdalam, betapa senangnya memiliki murid-murid yang kelak menjadi pemimpin bangsa yang adil dan bijaksana.
Keinginan ini semakin kuat ketika  saya prihatin dengan kondisi mental anak-anak jaman sekarang, terutama kalangan anak SD, saat usia yang masih dini di era globalisasi ini mereka mudah terpengaruh dan terpancing oleh hal-hal baru yang mereka belum cukup kuat mentalnya untuk menerima hal baru tersebut. Banyak  anak SD yang sudah ter racuni oleh budaya remaja dan dewasa. Untuk itu sangat di perlukan penanaman mental yang kuat sejak dini.Sehingga bukan hanya pandai halam hal akademik, saja, namun juga pandai dalam memposisikan dirinya sendiri kelak.
Di SMA Negeri 1 Juwana
Tiba saatnya kelas tiga si SMA Negeri 1 Juwana, saya berusaha keras untuk belajar agar bisa mewujudkan mimpi sebagai pemondasi mental anak SD, tentunya menjadi guru SD. Saat semester dua dimulai inilah saat yang paling menentukan langkah saya, kemana saya harus melangkah kali ini. Banyak perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang datang ke SMA untuk memperkenalkan diri, hal ini membuat saya binggung, saya  konsultasiakn kepada BK tentang minat,bakat, dan kemampuan saya, untuk mencari dimanakan Perguruan tinggi yang pantas untuk saya dan akan mengambil jurusan apakah saya nantinya. Dari perbincangan saya dengan bu Nur dan bu Pur, serta bimbingannya, saya memutuskan untuk daftarkan diri saya di SNMPTN jalur undangan than 2012 yang alhamdulillah saya masuk rekomendasi.saya mendaftar di UNNES dengan jueusan pertama PGSD dan jurusan ke dua pendidikan sosiologi.
Diterima SNMPTN Undangan dan Bidik Misi
Setelah menunggu dengan penuh doa dan tawakal akirnya mimpi saya menjadi kenyataan,bebetapa takjubnya tapa besar kuasa tuhan atas diri saya, betapa takjubnya saya melihat kenyataan yang ada. Terus terang kondisi ekonomi keluarga  saya saat ini kurang memadahi untuk kuliah, untuk bersekolah di SMA saja masih banyak uang-uang yang saya tunggak karena belum punya uang. Sampai baru pengambilan ijazah kemarin baru saya lunasi karena baru di beri uang dari orang tua.Itu saja saya tahu uang dari meminjam tetangga sebelah rumah saya.Saya sangat bealah runtung karena semasa di SMA saya dapat beasiswa dan beberapa bantuan dari pihak sekolah karena ddikasi dan perstasi saya di sekolah. Sebelumnya, tak ada harapan bagi saya untuk kuliah, tapi Tuhan berkata lain.
Saya diterima di SNMPTN Undangan 2012 adalah hadiah terbesar saya di tahun 2012 ini, dari puluhan ribu pendaftar jalur tersebut saya adalah salah satu yang beruntung mendapatkan tempat istimewa itu, saya juga menjadi rajin menggunjungi BK, dan mencari-cari niformasi terbaru mengenai pengumuman selanjutnya dari UNNES.
Saya tidak boleh larut dalam euvoria kegembiraan terlebih dahulu, orang tua saya sangan bersyukur dengan diterimanya saya di UNNES,  tetapi saya dan orang tua juga merasa sangat cemas,  jikalau tidak di terima Bidik Misi harus berbuat apa selanjutnya. Nyali saya sempat menciut ketika penantian saya terhadap beasiswa bidik misi tak kunjung keluar hasilnya.Hingga kedatangan tim survey bidik misi dari UNNES yang membuat saya sedikit lega, tetapi setelah itu saya juga masih menanti hasil dari survey tersebut. Saya serahkan semua hasilnya pada tuhan, ini lah usaha saya, niat saya tulus dan mulia melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.Setelah menunggu saya buka di web UNNES saat saya mencari info-info sebelumnya. Di kamar kos guru sekaligus idolaku di SMA Negeri 1 Juwana,  Pak Mawahibbul Anwar yang berbahagia dengan ibu Listiyaningsih. Saya memnijam laptop dan sayabaca disana,  pengumuman bidik misi. Ada  nama saya disana tidak ya? gemetar tangan ini mmegang mouse, ketika saya melihat nama saya tertera sebagai salah satu penerima bidikmisi. Saya sudah tak bisa berkata apa-apa lagi, saya merasa tuhan banyak skali membantu saya, sujud sukur dan air mata datang seketika itu juga pada saya.Dengan sepenuh hati saya pulang kerumah, segera saya kabarka berita ini pada orang tua saya.Tangis bahagia mereka hadir dalam pelukan hangat.Alhamdulillah.
Jadi Guru SD atau Guru Bahasa Indonesia?
Beberapa hari sebelum saya mendaftarkan diri di jalur SNMPTN undangan 2012 dengan melamar bidik misi, saya pergi ke kantor kecamatan wedari jaksa untuk mengurus surat keterangan tidak mampu dari kecamatan, namun waktu itu semua pegawai kantor sudah pulang, tak terkecuali petugas yang piket disana, saya di ajak berbincang-bincang mengenai mau melanjutkan kuliah dimana. Memang dari SD saya sudah bercita-cita menjadi guru SD, tetapi dalam perjalanan hidup saya sempat berbelok arah ingin menjadi guru maple Bahasa Indonesia.Karena saya juga menyukai dunia sastra.
Di dalam perbincangan itu saya seolah-olah diingatkan dan disadarkan kembali oleh tuhan bahwa saya harus menjadi guru SD, beliau pak penjaga kantor kecamatan berkata, banyak peluang jika saya mendaftarkan diri  sebagai guru SD. Karena empat sampai lima tahun kedepan banyak guru SD yang akan purna jabatan atau pensiun. Dari perbincangan itulah saya tersadar kembali dan mendaftarkan diri di UNNES jurusan PGSD.
Peristiwa 12 Juni di Semarang
            Hari itu adalah hari bersejarah dan penting dalam hidup saya dan setiap calon maba UNNES, bertempat di gedung auditorium UNNES calon maba dari FIP, FBS, FT, dan FIK di kumpulkan untuk mendapatkan pembekalan dan penyerahan berkas yang sebelumnya sudah di persiapkan dari rumah.
11 juni, satu hari sebelum peristiwa itu terjadi, saya dan teman-teman rombongan dari SMA Negeri 1 juwana memutuskan untuk berangkat bareng menggunakan travel dengan biaya per orang Rp  50.000,00. Dalam rombongan tersebut terdiri dari aryun, aguinda, dona, yuni, ika, alfian, maulida, pas, ulil, putranto, fais, dan saya. Siang hari sebelum saya berangkat sayamenyempatkan diri untuk tidur, agar dalam perjalanan bisa fit, sehat, dan segar saat besok di gedung auditorium. Pukul 17.00 WIB saya diantarkan bapak saya di tugu sukun, juwana. Mobil travel baru datang sekitar pukul 18.00 WIB. Dari juwana kami beangkat, sebelumnya kami mapir di masjid pati untuk menunaikan salat magrib, ditengah perjalanan kami ciptakan suasana yang hangat dan melakukan hal-hal lucu dan konyol.Semisal ada hal yang belum pernah kami lihat kami bicarakan dengan penuh candaan. Hal indah yang tak kan pernah terlupa. Jam 22.00 WIB saya dan rombongan baru sampai di semarang, kami pun menginap di rumah saudaranya maulida. Pukul 23.00 WIB tiba dirumah saudaranya maulida dan bermalam disana. Sekitar pukul 03.00 WIB pagi kami sudah bangun untuk bersiap-siap menuju UNNES di sekaran.Rumah saudaranya maulida ternyata dekat dengan PGSD ngalian.Pukul 04.00 WIB kami berangkat dari rumah tersebut, dengan suasana yang masih ngantuk sekitar pukul 05.00 WIB sampailah kami di tempat tujuan.Kamipun salat subuh di masjid unnes dan sarapan pagi di warung dekat kampus unnes di sekaran.
            Pukul 08.00 WIB acara pembelalan pun di mulai, kami satu rombongan dari SMA Negeri 1 Juwana memasuki auditorium, nama kami sudah dipersiapkan dan sudah tertempel di masing-masing kursi yang akan kami dudukki. Acara pun segera di mulai, kami diperkenalkan tentang UNNES dan berbagai kegiatan yang ada di dalamnya oleh mahasiswa yang ada di sana. Ada juga penjelasan dari pembantu rektor UNNES tentag keberadaan kita disana sebagai orang-orang yang beruntung karena telah diterima jalur SNMPTN Undangan. Sampai pukul 13.00 WIB  acara pun dilanjutkan penyerahan berkas, kegiatan pembekalan pun telah selesai. Tetapi untuk calon maba yang mendaftarkan bidik misi pada pukul 14.00 WIBakan diadakan semacam pembekalan dan pengarahan tentang Bidik Misi.
Sekitar pukul 16.00 WIB rombongan perjalanan dari SMA Negeri 1 Juwana melanjutkan perjalanan pulang setelah melakukan serangkaian kegiatan pada hari ini. Kami sangat capek dengan kegiatan hari ini, tetapi ahl itu tidak menyurutkan saya untuk mengajak bercanda temanteman  saya di mobil travel. Di tengah perjalanan kami semua gunakan waktu untuk beristirahat.Pukul 20.00 WIB kami sampai di rumah masing-masing tengan perasaan hyang gembira.
Tragedi 19 Juni
Hari itu adalah hari dimana saya dan calon maba dari UNNES wajib lapor diri, rangkaian acaranya saya piker ungkin sama dengan kegiatan pembekalan, tetapi kami dari sebagian rombongan juwana terkena sedikit trobel. Mulai dari mencari mobil travel yang sangat sulit, sampai teman-teman yang tak mau di ajak kompak untuk berangkat bersama lagi. Satu hari sebelum hari itu, saya sudah berusaha mencari mobil travel sampai nyasar ke adikku yang bernama Tino Indra, dari hal inilah tragedi ini dimulai.Awlnya semua kegiatan kami sudah terrencana dengan sempurna, tetapi sekitar pukul 04.00 WIB tiba-tiba kondisi berubah 100 persen ketika tino dilarang membawa mobil oleh bapaknya. Hati saya sudah tidak karuan rasanya. Saya, Aryun, Mualida, Ulil, Aguinda dan Fais akirnya memutuskan untuk naik motor menuju UNNES, kami menembus dinginya jarum-jarum fajar yang menyiksatulsin ini.
Apalagi dari rumah saya belum sarapan dan makan sejak dari kemarin sore, karena memikirkan bagaimana kita besok akan berangkat hanya dengan enam orang. Walau sudah menggunakan jaket tetapi rasa dingin tetap menembus tulang. Rasa bersalah pun selalu saya pikirkan dalam perjalanan tersebut, teman-teman rombongan menjadi sedikit berubah terhadap saya. Pasti mereka kecewa dengan saya. Dari Wedarijaksa kami berangkat pukul 05.00 WIB dan sampai di sekaran pukul 07.00 WIB dengan badan yang masih sangat kedinginan. Apalagi mata saya memerah dan tubuh saya terasa kurang  sehat, tak lupa kantuk pun menemani saya karena semalaman tidak tidur, kamipun sarapan pagi di dekat UNNES. Pukul 08.00 WIB kami sudah sampai di gedung auditorium UNNES untuk melaksanakan verivikasi dan lapor diri.  Prosesnya tak seindah yang kami bayangkan. Saya dan teman yang lain harus berdiri berjam-jam menunggu giliran untuk duduk di beranda auditorium dan masuk satu per satu kedalam auditorium.
Sungguh ini ujian bagi saya, karena tas yang saya bawa sangat berat isinya, mulai dari baju ganti sampai buku-buku. Apalagi ditambah perut saya yang tidak bersahabatsehingga saya harus tiga kali keluar dari antrean memasuki gedung auditorium dan posisi saya tergeser oleh ratusan calon maba yang antre juga. Sampai-sampai tubuh ini hamper tak kuat untuk berdiri dan mata pun berkunang-kunang, namun inilah perjuangan, saya tak boleh menyerah hanya dengan ujian yang seperti ini. Sekitar pukul 11.00 WIB saya baru bisa masuk dalam auditorium dan melakukan serangkaian kegiatan verivikasi data dan pelaporan diri, terdiri dari delapan pos dan ruang informasi tentang kemahasiswaan di sayap kiri dan kanan auditorium yang harus saya datangi satu demi satu.
Pos yang pertama adalah verivikasi biodata sekaligus cetak nomor induk mahasiswa, ini adalah pos pertama yang wajib di datangi oleh seluruh calon maba,  selanjutnya pos pemotretan kartu mahasiswa, pos pengembalian berkas, pos tes kesehatan, pos ukur jaket, pos pembelian buku paket, dan pos pembukaan rekening. Dalam setiap pos tersebut saya juga harus antre lagi dengan maba yang lain. Seharian berdiri hanya sarapan pagi dan minum segelas air putih kemasan yang disediakan panitia membuat perut saya menderita. Rasanya sakit sekali. Antrean yang paling panjang adalah pembukaan rekening bank dan pos tes kesehatan. Pukul 16.00 WIB saya baru keluar dari gedung auditorium, pukul 16.30 WIB saya dan rombongan motor dari juwana pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan lelah dan kecapekan. Sekitar pukul 20.00 WIB kami semua tiba di rumah masing-masing dengan kondisi tubuh yang sudah sangat lelah. Setiba dirumah saya pun langsung istirahat dan merasakan hal yang campur aduk. Mulai dari lega, puas, lelah, senang, juga susah, dan masih banyak lagi perasaan yang tak bias saya jelaskan dengan kata-kata, perut saya sampai dua minggu setelah lapor diri baru berangsur pulih dari rasa ssakit.
Inilah perjuangan yang bias saya kategorikan sebagai perjuangan yang benar-benar perjuangan, atau apalah terserah. Hidup memang tidak mudah dan tidak selamanya seperti yang kita inginkan. Terimakasih telah membaca ceritaku yang bertema sekaligus berjudul “Belajar mewnjadi Guru SD di Bukit Ilmu (UNNES). Tunggu kisah selanjutnya ya?

Dikarang oleh mang Gugun nama pena dari Muharram Adruce Noor
Mahasisaw baru fakultas ilmu pendidikan jurusan PGSD
Wedarijaksa, 06 Juli 2012
pukul 23.23WIB