Belajar Menjadi Guru SD di Bukit
Ilmu(UNNES)
Latar
Belakang
Menjadi
pengajar adalah cita-cita saya sejak kecil, disamping bercita-cita menjadi
sastrawan.Bukan karena guru ekarang gajinya banyak dan hidupnya sejahtera
tetapi karena memang panggilan dari lubuk hati yang terdalam, betapa senangnya
memiliki murid-murid yang kelak menjadi pemimpin bangsa yang adil dan
bijaksana.
Keinginan
ini semakin kuat ketika saya prihatin
dengan kondisi mental anak-anak jaman sekarang, terutama kalangan anak SD, saat
usia yang masih dini di era globalisasi ini mereka mudah terpengaruh dan
terpancing oleh hal-hal baru yang mereka belum cukup kuat mentalnya untuk
menerima hal baru tersebut. Banyak anak
SD yang sudah ter racuni oleh budaya remaja dan dewasa. Untuk itu sangat di
perlukan penanaman mental yang kuat sejak dini.Sehingga bukan hanya pandai
halam hal akademik, saja, namun juga pandai dalam memposisikan dirinya sendiri
kelak.
Di SMA Negeri 1 Juwana
Tiba
saatnya kelas tiga si SMA Negeri 1 Juwana, saya berusaha keras untuk belajar
agar bisa mewujudkan mimpi sebagai pemondasi mental anak SD, tentunya menjadi
guru SD. Saat semester dua dimulai inilah saat yang paling menentukan langkah
saya, kemana saya harus melangkah kali ini. Banyak perguruan tinggi baik negeri
maupun swasta yang datang ke SMA untuk memperkenalkan diri, hal ini membuat
saya binggung, saya konsultasiakn kepada
BK tentang minat,bakat, dan kemampuan saya, untuk mencari dimanakan Perguruan
tinggi yang pantas untuk saya dan akan mengambil jurusan apakah saya nantinya.
Dari perbincangan saya dengan bu Nur dan bu Pur, serta bimbingannya, saya
memutuskan untuk daftarkan diri saya di SNMPTN jalur undangan than 2012 yang
alhamdulillah saya masuk rekomendasi.saya mendaftar di UNNES dengan jueusan
pertama PGSD dan jurusan ke dua pendidikan sosiologi.
Diterima
SNMPTN Undangan dan Bidik Misi
Setelah menunggu dengan penuh doa dan tawakal akirnya mimpi saya
menjadi kenyataan,bebetapa takjubnya tapa besar kuasa tuhan atas diri saya, betapa
takjubnya saya melihat kenyataan yang ada. Terus terang kondisi ekonomi
keluarga saya saat ini kurang memadahi
untuk kuliah, untuk bersekolah di SMA saja masih banyak uang-uang yang saya
tunggak karena belum punya uang. Sampai baru pengambilan ijazah kemarin baru
saya lunasi karena baru di beri uang dari orang tua.Itu saja saya tahu uang
dari meminjam tetangga sebelah rumah saya.Saya sangat bealah runtung karena
semasa di SMA saya dapat beasiswa dan beberapa bantuan dari pihak sekolah
karena ddikasi dan perstasi saya di sekolah. Sebelumnya, tak ada harapan bagi
saya untuk kuliah, tapi Tuhan berkata lain.
Saya diterima di SNMPTN Undangan 2012 adalah hadiah terbesar saya di
tahun 2012 ini, dari puluhan ribu pendaftar jalur tersebut saya adalah salah satu
yang beruntung mendapatkan tempat istimewa itu, saya juga menjadi rajin
menggunjungi BK, dan mencari-cari niformasi terbaru mengenai pengumuman
selanjutnya dari UNNES.
Saya tidak boleh larut dalam euvoria kegembiraan terlebih dahulu,
orang tua saya sangan bersyukur dengan diterimanya saya di UNNES, tetapi saya dan orang tua juga merasa sangat
cemas, jikalau tidak di terima Bidik
Misi harus berbuat apa selanjutnya. Nyali saya sempat menciut ketika penantian
saya terhadap beasiswa bidik misi tak kunjung keluar hasilnya.Hingga kedatangan
tim survey bidik misi dari UNNES yang membuat saya sedikit lega, tetapi setelah
itu saya juga masih menanti hasil dari survey tersebut. Saya serahkan semua
hasilnya pada tuhan, ini lah usaha saya, niat saya tulus dan mulia melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.Setelah menunggu saya buka di web UNNES
saat saya mencari info-info sebelumnya. Di kamar kos guru sekaligus idolaku di
SMA Negeri 1 Juwana, Pak Mawahibbul
Anwar yang berbahagia dengan ibu Listiyaningsih. Saya memnijam laptop dan sayabaca
disana, pengumuman bidik misi. Ada nama saya disana tidak ya? gemetar tangan ini
mmegang mouse, ketika saya melihat nama saya tertera sebagai salah satu
penerima bidikmisi. Saya sudah tak bisa berkata apa-apa lagi, saya merasa tuhan
banyak skali membantu saya, sujud sukur dan air mata datang seketika itu juga
pada saya.Dengan sepenuh hati saya pulang kerumah, segera saya kabarka berita
ini pada orang tua saya.Tangis bahagia mereka hadir dalam pelukan
hangat.Alhamdulillah.
Jadi Guru SD atau Guru Bahasa Indonesia?
Beberapa hari sebelum saya mendaftarkan diri di jalur SNMPTN
undangan 2012 dengan melamar bidik misi, saya pergi ke kantor kecamatan wedari
jaksa untuk mengurus surat keterangan tidak mampu dari kecamatan, namun waktu
itu semua pegawai kantor sudah pulang, tak terkecuali petugas yang piket
disana, saya di ajak berbincang-bincang mengenai mau melanjutkan kuliah dimana.
Memang dari SD saya sudah bercita-cita menjadi guru SD, tetapi dalam perjalanan
hidup saya sempat berbelok arah ingin menjadi guru maple Bahasa
Indonesia.Karena saya juga menyukai dunia sastra.
Di dalam perbincangan itu saya seolah-olah diingatkan dan
disadarkan kembali oleh tuhan bahwa saya harus menjadi guru SD, beliau pak
penjaga kantor kecamatan berkata, banyak peluang jika saya mendaftarkan
diri sebagai guru SD. Karena empat
sampai lima tahun kedepan banyak guru SD yang akan purna jabatan atau pensiun.
Dari perbincangan itulah saya tersadar kembali dan mendaftarkan diri di UNNES
jurusan PGSD.
Peristiwa 12 Juni di Semarang
Hari itu adalah hari bersejarah dan penting dalam hidup saya dan
setiap calon maba UNNES, bertempat di gedung auditorium UNNES calon maba dari
FIP, FBS, FT, dan FIK di kumpulkan untuk mendapatkan pembekalan dan penyerahan berkas
yang sebelumnya sudah di persiapkan dari rumah.
11
juni, satu hari sebelum peristiwa itu terjadi, saya dan teman-teman rombongan
dari SMA Negeri 1 juwana memutuskan untuk berangkat bareng menggunakan travel
dengan biaya per orang Rp 50.000,00.
Dalam rombongan tersebut terdiri dari aryun, aguinda, dona, yuni, ika, alfian,
maulida, pas, ulil, putranto, fais, dan saya. Siang hari sebelum saya berangkat
sayamenyempatkan diri untuk tidur, agar dalam perjalanan bisa fit, sehat, dan
segar saat besok di gedung auditorium. Pukul 17.00 WIB saya diantarkan bapak
saya di tugu sukun, juwana. Mobil travel baru datang sekitar pukul 18.00 WIB.
Dari juwana kami beangkat, sebelumnya kami mapir di masjid pati untuk
menunaikan salat magrib, ditengah perjalanan kami ciptakan suasana yang hangat
dan melakukan hal-hal lucu dan konyol.Semisal ada hal yang belum pernah kami
lihat kami bicarakan dengan penuh candaan. Hal indah yang tak kan pernah
terlupa. Jam 22.00 WIB saya dan rombongan baru sampai di semarang, kami pun
menginap di rumah saudaranya maulida. Pukul 23.00 WIB tiba dirumah saudaranya
maulida dan bermalam disana. Sekitar pukul 03.00 WIB pagi kami sudah bangun
untuk bersiap-siap menuju UNNES di sekaran.Rumah saudaranya maulida ternyata
dekat dengan PGSD ngalian.Pukul 04.00 WIB kami berangkat dari rumah tersebut,
dengan suasana yang masih ngantuk sekitar pukul 05.00 WIB sampailah kami di
tempat tujuan.Kamipun salat subuh di masjid unnes dan sarapan pagi di warung
dekat kampus unnes di sekaran.
Pukul 08.00 WIB acara pembelalan pun
di mulai, kami satu rombongan dari SMA Negeri 1 Juwana memasuki auditorium,
nama kami sudah dipersiapkan dan sudah tertempel di masing-masing kursi yang
akan kami dudukki. Acara pun segera di mulai, kami diperkenalkan tentang UNNES
dan berbagai kegiatan yang ada di dalamnya oleh mahasiswa yang ada di sana. Ada
juga penjelasan dari pembantu rektor UNNES tentag keberadaan kita disana
sebagai orang-orang yang beruntung karena telah diterima jalur SNMPTN Undangan.
Sampai pukul 13.00 WIB acara pun
dilanjutkan penyerahan berkas, kegiatan pembekalan pun telah selesai. Tetapi
untuk calon maba yang mendaftarkan bidik misi pada pukul 14.00 WIBakan diadakan
semacam pembekalan dan pengarahan tentang Bidik Misi.
Sekitar pukul 16.00 WIB rombongan perjalanan dari SMA Negeri 1
Juwana melanjutkan perjalanan pulang setelah melakukan serangkaian kegiatan
pada hari ini. Kami sangat capek dengan kegiatan hari ini, tetapi ahl itu tidak
menyurutkan saya untuk mengajak bercanda temanteman saya di mobil travel. Di tengah perjalanan
kami semua gunakan waktu untuk beristirahat.Pukul 20.00 WIB kami sampai di
rumah masing-masing tengan perasaan hyang gembira.
Tragedi 19 Juni
Hari itu adalah hari dimana saya dan calon maba dari UNNES wajib
lapor diri, rangkaian acaranya saya piker ungkin sama dengan kegiatan
pembekalan, tetapi kami dari sebagian rombongan juwana terkena sedikit trobel.
Mulai dari mencari mobil travel yang sangat sulit, sampai teman-teman yang tak
mau di ajak kompak untuk berangkat bersama lagi. Satu hari sebelum hari itu,
saya sudah berusaha mencari mobil travel sampai nyasar ke adikku yang bernama
Tino Indra, dari hal inilah tragedi ini dimulai.Awlnya semua kegiatan kami
sudah terrencana dengan sempurna, tetapi sekitar pukul 04.00 WIB tiba-tiba kondisi berubah
100 persen ketika tino dilarang membawa mobil oleh bapaknya. Hati saya sudah
tidak karuan rasanya. Saya, Aryun, Mualida, Ulil, Aguinda dan Fais akirnya memutuskan
untuk naik motor menuju UNNES, kami menembus dinginya jarum-jarum fajar yang
menyiksatulsin ini.
Apalagi dari rumah saya belum sarapan dan
makan sejak dari kemarin sore, karena memikirkan bagaimana kita besok akan
berangkat hanya dengan enam orang. Walau sudah menggunakan jaket tetapi rasa
dingin tetap menembus tulang. Rasa bersalah pun selalu saya pikirkan dalam
perjalanan tersebut, teman-teman rombongan menjadi sedikit berubah terhadap
saya. Pasti mereka kecewa dengan saya. Dari Wedarijaksa kami berangkat pukul
05.00 WIB dan sampai di sekaran pukul 07.00 WIB dengan badan yang masih sangat kedinginan. Apalagi mata saya memerah dan tubuh saya terasa
kurang sehat, tak lupa kantuk pun
menemani saya karena
semalaman tidak tidur, kamipun sarapan pagi di dekat UNNES. Pukul 08.00 WIB
kami sudah sampai di gedung auditorium UNNES untuk melaksanakan verivikasi dan
lapor diri. Prosesnya tak seindah yang
kami bayangkan. Saya dan teman yang lain harus berdiri berjam-jam menunggu
giliran untuk duduk di beranda auditorium dan masuk satu per satu kedalam
auditorium.
Sungguh ini ujian bagi saya, karena tas yang saya bawa sangat berat
isinya, mulai dari baju ganti sampai buku-buku. Apalagi ditambah perut saya
yang tidak bersahabatsehingga saya harus tiga kali keluar dari antrean memasuki
gedung auditorium dan posisi saya tergeser oleh ratusan calon maba yang antre
juga. Sampai-sampai tubuh ini hamper tak kuat untuk berdiri dan mata pun
berkunang-kunang, namun inilah perjuangan, saya tak boleh menyerah hanya dengan
ujian yang seperti ini. Sekitar pukul 11.00 WIB saya baru bisa masuk dalam
auditorium dan melakukan serangkaian kegiatan verivikasi data dan pelaporan
diri, terdiri dari delapan pos dan ruang informasi tentang kemahasiswaan di
sayap kiri dan kanan auditorium yang harus saya datangi satu demi satu.
Pos yang pertama adalah verivikasi biodata sekaligus cetak nomor
induk mahasiswa, ini adalah pos pertama yang wajib di datangi oleh seluruh
calon maba, selanjutnya pos pemotretan
kartu mahasiswa, pos pengembalian berkas, pos tes kesehatan, pos ukur jaket,
pos pembelian buku paket, dan pos pembukaan rekening. Dalam setiap pos tersebut
saya juga harus antre lagi dengan maba yang lain. Seharian berdiri hanya
sarapan pagi dan minum segelas air putih kemasan yang disediakan panitia
membuat perut saya menderita. Rasanya sakit sekali. Antrean yang paling panjang
adalah pembukaan rekening bank dan pos tes kesehatan. Pukul 16.00 WIB saya baru
keluar dari gedung auditorium, pukul 16.30 WIB saya dan rombongan motor dari juwana
pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan lelah dan kecapekan. Sekitar
pukul 20.00 WIB kami semua tiba di rumah masing-masing dengan kondisi tubuh
yang sudah sangat lelah. Setiba dirumah saya pun langsung istirahat dan
merasakan hal yang campur aduk. Mulai dari lega, puas, lelah, senang, juga
susah, dan masih banyak lagi perasaan yang tak bias saya jelaskan dengan
kata-kata, perut saya sampai dua minggu setelah lapor diri baru berangsur pulih
dari rasa ssakit.
Inilah perjuangan yang bias saya kategorikan sebagai perjuangan
yang benar-benar perjuangan, atau apalah terserah. Hidup memang tidak mudah dan
tidak selamanya seperti yang kita inginkan. Terimakasih telah membaca ceritaku
yang bertema sekaligus berjudul “Belajar mewnjadi Guru SD di Bukit Ilmu (UNNES).
Tunggu kisah selanjutnya ya?
Dikarang
oleh mang Gugun nama pena dari Muharram Adruce Noor
Mahasisaw
baru fakultas ilmu pendidikan jurusan PGSD
Wedarijaksa, 06 Juli 2012
pukul 23.23WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar