Minggu, 24 Februari 2013

HanTUHANtuhanTU

hantuhantuhantuhantuhantuhan
tuhantuhantuhantuhantuhantu
tutututututututututututututututu
hahahahahahahahahahahahahahahan
tu
han
tutu
han han
tututututututututututututututututututuh
anananananananananananana
han tu han tu han tu han tu han
tuhan tu hantu hantu han tuhan tu hantu han tuhan tuhan
t u h a n
u h a n t
h a n t u
a n t u h
n t u h a
t u h a n
u h a n t
h a n t u
a n t u h
n t u h a
t u h a n

tuhantuhantuhantuhantu...
hantuhantuhantuhantu...

tuhan tetap tuhan
hantu tetap hantu
tuhan ada hantu ada
hantu ada tuhan ada

temukan tuhan dalam hati hati tanpa hantu hantu
karena tuhan adalah tuhan
karena hantu adalah hantu

Senin, 18 Februari 2013

Kesempatan yang Kau Sia-Siakan


 Dinginya fajar mampu mengusikku dari ranjang putih yang menyelimutiku semalam penuh, mengawali penderitaan-penderitaan panjang yang membawaku ke sudut kebodohan, kobohongan, dan kehancuran.  Aku masih tak lupa akan kaca yang masih tertancap dijendela, aku juga tak dusta bila kamarku masih berpintu. Keras, kokoh, dan tahan lama. Namun apa daya, angin tetap masuk dan menggulung apa yang dia hadapi didepanya. Tak sabar dengan apa yang baru ditemuinya dan merasuki apa yang telah dia gulung. Rindu akan kesabarankupun lenyap hingga aku beranjak dari ranjang dan kubasuh segenap wajahku yang dikata orang berbentuk Heart. Kubasahi rambutku dengan beberapa tetes air yang terus mengalir menuju ke dalam ruang yang tak kan pernah terkira batasnya. Rasa malas membuatku merasakan ingin menikmati segenap kehangatan yang telah tercuri, ah, tidur lagi.
Aku masih tak percaya sang fajar yang mampu membangunkanku telah melewatkanku dari rindu yang amat panjang, terlambat memang bukan keseharianku, karena semalam aku memang menahan tangis hingga larut dan terpulas. Sekarang bukan lagi aku yang dulu. Merindukan penghargaan dan prestasi serta rajin dalam mengayuh sepeda yang masih tergolong baru ini. Mungkin rantainya telah putus, atau bagian as, gir, ragangan dan yang lain telah patah. Ah apalah, segera ku ambil mukenaku dan mencoba mengkhusykkan diri. Beberapa menit aku berdiri masih bisa aku bertahan, akan tetapi perasaanku yan terus menderu membuatku kembali harus mengalirkan resah ini, Ah sesingkat itukah aku harus hidup.
Ku bawa tubuh ini keperaduanya, lalu ku arahkan kedepan layar yang memotret tak berbekas gambaran diriku yang sekarang, kulihat sekilas dan ku menunduk kembali, aku tak tega melihatnya, kulangkahkan kaki ini perlahan-lahan, melihat-lihat apakah masih ada kesucian yang tersisa yang mau membasahiku, yang bisa mengembalikan rasa rinduku, yang mampu membangkitkan semangatku, yang mampu membilas semua sesalku.  kurasa walau satu bak ku guyurkan tak kan pernah mampu membalikkan telapak tanganku, semua memang sudah terlampau jauh, ah aku melangkah.
Kemana lagi aku harus pergi dan mengakhiri setiap setapak ini, sudah terlalu kotor nan berdebu, rumput-rumput liarpun tak mau kalah beradu, sudah lama aku tak menyusuri setapak ini, biasanya aku dibawa oleh seorang raja dengan empat pengawalnya naik kereta kerajaan melewati setapak ini, akupun tak usah memperhatikan sekitarku, karena ada raja disampingku, ini bukan dongeng. ah tetap melangkah menahan derasnya air mata yang menalir dalam bak penampungannya di pelupuk sebelah hidung, Berharap tidak penuh dan meluap.  Sepatu yang ku kenakan hari ini pernah melangkahkan kakiku dan menghipnotisku kedalam kegelapan, ya karena memang sudah gelap, mungkin lampu pijar dipinggir jalan yang dibangun Pemda beberapa tahun yang lalu telah mati, dan tak pernah diganti. Dan mungkin tak kan pernah bisa diganti, sampailah aku kesekolah. ah gelap.
Kutemui sesosok lelaki yang sangat ku cintai, awalnya memang sulit mencintainya, suka padanya, menyayanginya, selalu rindu padanya, dan yang paling penting awalnya aku tak mau mencintainya. Duduk sendiri melamun didepan kelas sembari terus memegang handphonenya. Kutegur dia dengan senyum ringan yang begitu membawa kebahagiaan semu.
“  selamat pagi, bolehkah aku duduk disebelahmu?”
ia hanya mengangguk terdiam sambil terus menghabiskan waktunya untuk senam  jari, tak memberikan ruang sedikitpun untukku bicara, ia hanya terdiam, tak seperti dulu, datang kerumahku pagi buta, menjemputku dari istana, bahkan menyelamatkanku dari menara, menara yang digunakan nenek sihir untuk mengurung “ Rapuncel”.  Ya aku pernah dikurung disana, bersama Rapuncel juga, dia begitu cantik, anggun, dan rambut emasnya yang panjang membuatku terkesan, akupun sempat bicara dengan dia, aku ajak bercanda juga, “ hai Rapuncel  kau akan lebih cantik bila kau tutup kepalamu seperti aku!” diapun semakin penasaran “ah yang benar?” . hey ini bukan khayalan orang yang sedang galau, ini serius. Dan akhirnya kamipun bertukar pikiran, entahlah aku sudah lupa semuanya. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang berteriak dari bawah,
“permaisuriku…..!”
kamipun segera menenggok kebawah. Rapuncel mengira itu pangeran yang akan menyelamatkanya, oh ternyata itu pangeranku, akupun meninggalkan Rapuncel setelah dibantu turun dari menara dengan rambutnya, ku tinggalkan sehelai kain yang tadi ku demonstrasikan bagaimana cara menutup kepala dengan benar, tak lupa ku ucapkan terimakasih. mungkin sekarang di kartun, difilmnya rapuncel sudah berjilbab, hahahaha, ah ngak jelas!
Ia masih terdiam, kenapa ia terdiam, ya karena memang ia ingin diam, dikeluarkannya headset mini yang langsung diletakkan ditelinga kanan dan kirinya. Kucoba untuk sabar, mungkin menunggu sejenak tak apa, mungkin!
“kenapa kau diam dan tak mendengarkanku?”
dia masih terdiam, sedikit sakit rasanya, tapi ya mau bagaimana lagi. Aku harus berbaik hati agar dia tetap mau denganku, sekarang aku yang sangat mengharapkanya, membutuhkanya dan menginginkanya. Ah ini gila.
Bel masuk pun berdering memecah suasana diam, sementara yang lain masih lalu lalang didepanku dan kekasihku sedari tadi duduk denganku di teras, memperhatikan keanehanku, seperti berbicara dengan patung, ya dia mematug tak bergerak, andai ada truk pengangkut marerial lewat dijalan, akan kukutuk dia menjadi batu, lalu ku guyur dia dengan semen cepat kering.
"Eh jangan. Kasihan dia, nanti yang sayang sama aku siapa dong?"
Aku duduk dibangku tengah bersama dengan sahabatku yang cantik, namun saying semenjak aku bersama kekasihku dia menjauh dariku, andai aku tau kalau jadinya begini, ku ikhlaskan aja kekasihku padanya. Sungguh menyesal itu tidak pernah diawal.  Ah bodoh.
Lagu Indonesia raya mengawali pagiku yang cerah ini, dengan jiwa yang sepi, begitu terang untuk cinta yang mati. Ini bukan lagu, ya memang lagu sih, tapi ini yang sedang ku alami. Detik ini, pagi ini. Kembali ke lagu Indonesia raya. Biasanya aku menjadi Dirigen, namun pagi ini aku bad mood, sebelahkupun berdiri dan memimpin didepan kelas, sesekali aku menengok kebelakang sebelum menyanyikan lagu Indonesia raya. Kupastikan apakah dia sudah tersenyum ataukan masih cemberut. Dirigen pun memulai ambil suara, lagu Indonesia Raya menjadi semangat pagiku kali ini, kunyanyikan agak keras disbanding teman-teman yang lain, karena dalam diam ini aku ingin berteriak sekencang mungkin,  kalau  bisa sampai kaca-kaca pecah, pintu roboh dan sekolah ini roboh melebihi dasyatnya jurus aungan singga di film Kung Fu Hustle, pasti kita diliburkan semua dalam jangka panjang deh, hehehehe ah semakin nggak jelas.
Saat pelajaran dimulai pun aku tak konsen, gambar-gambar pahlawan seolah diam dan sinis padaku, dan berkata “ hai kau orang hina, jangan duduk disitu, segera pergi dari sini, cepat atau lambat kau akan menderita. Ingat itu.” padahal aku dipercaya minggu depan mewakili sekolahku di kejuaraan matematika di salah satu universitas ternama di Indonesia ini, ah pusing.
Suasana kelas kembali gaduh seperti hari-hari yang lalu, dengan berbagai aktivitas teman-temanku didalam kelas, ada yang keluar jajan, ada yang ke wc, ada yang ke perpus, ada yang ke kelas lain yang juga kosong dan lain-lain, sehingga kelas Nampak agak kosong, guru bahasa Indonesia ditugasi kepsek untuk membenahi soal try out UN. Akupun mendekati kekasihku dan berusaha mengakrabkan diri lagi.
“ boleh aku duduk disebelahmu?”
dia hanya mengangguk, akupun sedikit menggeser kursiku lebih dekat denganya, itu yang sering dia lakukan padaku dulu, ketika masih mendekatiku. Yah itu dulu, bak wanita terindah yang dimanja dan diperhatikan penuh oleh seorang lelaki. Aku sebenarnya jijik dan tak tertarik pacaran sama sekali. Sungguh aku menyesal menyesal dan menyesal.
“ kenapa kau perlakukan aku seperti ini sekarang?”
aku mulai protes perlahan padanya, tapi dia masih membisu, diam seribu bahasa, aku mulai kehabisan kata-kata, aku mulai muak dengan semua ini, lebih baik ku ungkapkan saja apa yang aku alami sekarang setelah kejadian tempo hari. Aku merasa akan dicampakan dan ditinggalkan, seperti memakan sebuah roti, isinya akan dimakan dan bungkusnya terbuang menotori bumi ini, menjadi sampah dan mencemari lingkingan, sama halnya denganku. Ah putus asa.
Selepas bel pulang sekolah aku menuju bangkunya, mencoba mengeringkan kapuk-kapuk yang telah basah karena banjir, memadamkan air yang telah tergenangi api, semua serasa melelahkan, sekarang siapa yang butuh siapa yang mendekat, aku mulai berfikir, dulu aku jual mahal, dulu aku membuat dia mengemis didepan semua orang, didepan semua teman-temanku sekelas, dia memang gila, tak punya rasa malu waktu itu, demi cinta dia rela mempermalukan dirinya sendiri. Dan kini aku yang dipermalukan, dihina, dan dibuang.
“ tunggu sebentar ya, aku mau bicara!”
diapun tetap berdiri dan meninggalkan kursinya.
“ hey kau dengar aku tidak, tunggu sebentar, kamu itu jadi cowok nggak bertanggung jawab bener ya? “
dia masih melanjutkan langkahnya yang agak pelan, mungin dia kasihan melihatku terus mengemis padanya.
“ hey apakah kau balas dendam padaku? Apa salahku? Kau hancurkan masa depanku? Lelaki macam apa kau, mengatas namakan cinta untuk mendapatkan apa saja dariku, setelah itu kau tinggal aku! Berhenti kau!”
diapun menhentikan langkahnya.
“ berbaliklah, seperti dulu kau yang sering memandaangmu hingga kau tak bisa menahan nafsumu, siapa yang mau pacaran denganmu? Kukura kau lelaki baik-baik, keluarga orang berada dan tersohor, keluarga ulama besar! Aku malu jika jadi kamu!”
kemaraahanku semakin memuncak, kukeluarkan besi-besi dan baja pemukul dari mulutku untuk mengentikan langkahnya, dan kulemparkan bola dari semen yang keluar juga dari mulutku untuk membaalikkan badanya.
“ diam kau!”
hanya itu yang dia ucapkan, wajahnya semakindekat denganku, dan aku menyingkirkan tubuhnya jauh dari tubuhku. “ apa kau laki-laki bre****k! tega kau menodaiku, kau harus tanggung jawab menikahiku! Aku sudah dua bulan!”  kupukul-pukul kepalanya, pundaknya dan kujambak-jambak rambutnya, dia pun hanya diam saja dan menunduk. akupun mengungkapkanya siang itu juga padanya, sungguh aku merasa lega, sedikit lega.
“ gugurkan!”
 satu kata yang membuatku merasa seperti ingin mati saja, ah kau lelaki tak bertanggung jawab.
***
Setelah beberapa hari dia tidak masuk sekolah, kudatangi rumahnya. Mau lari kemana dia, dia tak kan pernah bisa lari dariku, karena dunia itu bulat, sebulat tekatku meminta pertanggung jawaban darinya, ku sapa rumah megah nan mewah itu, beberapa kali tak ada sahutan akhirnya datang seorang penjual sayur yang memberitahukanku bahwa mereka semua sudah pindah sejak dua hari yang lalu, ketika aku bertanya dimana pindahnya bapak itupun tak tahu. Sungguh aku terhina dan kecewa, kutak kuat lagi berdiri, kusandarkan tubuh ini didepan pagar hitam tinggi, kucoba menghela nafas, mengatur sirkulasi darahku agar aku kuat berjalan pulang. Ini memang gila, dia kabur tanpa pamit, handphonenya pun tak aktif. Rindu ini semakin sirna, langit sore itupun marah, air-air dari langit pun mulai turun perlahan, aku segera berlari menuju tanah lapang meninggalkan rumah biadap itu dan berteriak sekeras mungkin.
“ hai kau petir, sambutlah aku disini, bawalah aku menuju kehancuran yang nyata, dan aku tak ingin lagi membuka mataku"
ternyata petir pun memberi harapan palsu padaku. Tak ada sengatan apa-apa pada tubuhku, aku ingin sekali mati disini, darah segar mengalir dari dalam rok panjangku menetes memerahkan rumput yang hijau setelah kupukul-pukul perut ini, biar sakit sekarang, darpiada sakit belakangan. Aku pun tak sadarkan diri, dan ternyata permintaanku tak terkabulkan. Kubuka mata dan kulihat ayah bunda. ini disurga?
" bukan Ratih...!"

Recycle cerpen  " kesempatan yang kau sia-siakan"
Semarang, 18 Februari 2013
Mang Gugun

Rabu, 13 Februari 2013

Kupu-Kupu Siang


Menjadi seorang motivator dan trainer masalah HIV AIDS adalah keseharianku saat ini, banyak sekali yang aku rasakan, mulai dari sedih, haru, tangis, canda, tawa, dan juga rindu akan teman-teman yang membutuhkanku diluar sana. Aku tak peduli dengan masa laluku yang seorang pelacur, aku tak peduli lagi harus berbuat apa terhadap masa laluku, yang jelas aku bangkit karena aku ada niatan dan ada semangat untuk hidup.
Huft, hari ini pengalaman yang sangat melelahkan baagiku, ada dua jadwal yang diagendakan, pertana di sebuah Holel dan yang terahir di SMA, apakah kuat hari ini fisikku, aku meminta asistenku untuk mengatur jamnya. Akhirnya aku mengawali pagiku dengan  bismillah mengisi di SMA tersebut, masih sama tema yang sku ambil, yaitu tentang bahaya penyakit HIV AIDS dan berkisar antara masalah-masalah remaja yang berkaitan dengan hunungan/pacaran. Bersama dengan rekan-rekan kerjaku aku meyakinkan mereka dengan materi-materi yang ada, diakhir sesi aku berperan sebagai mantan seorang yang jahat, dan kuberikan kesaksian-kesaksian yang membuat mereka menangis, mungkin dengan cara inilah meraka akan jera, dan harapanku tak ada lagi yang mengikuti jejakku, banyak pula sms yang masuk seputar keluhan remaja-remaja putri seusia SMP dan SMA yang pernah ku beri penyuluhan, pasti selalu ku tinggalkan CP ku, entah itu nanti yang membalas aku, atau asistanku yang jelas pasti akan kubalas semua.  Dan aku sangat miris dengan pengakuan meraka, banyak yang sudah dijebol oleh kekasihnya terutama berawal pada hari valentin, dengan alasan melakukan sekali tak akan hamil, dengan alasan setahun sekali, dengan alasan kasih sayang. Aku menangis jika aku sendiri yang membalas sms tersebut, aku merasa tersiksa sekali, aku beri mereka semua solusi, bahkan sampai datang berbondong-bondong ke kantorku, usahaku adalah memisahkan meraka, itu usaha terakhirku dan mencoba jujur dengan orang tua. Aku sangat kecewa dengan diriku dimasa lalu. Dan aku akan menebusnya hari ini dan esok, sampai aku benar-benar mati.
Selepas makan siang aku melanjutkan seminar di hotel yang dihadiri oleh pejabat-pejabat tinggi negara, disana aku sangat terkejut dengan sambutan yang sangat meriah dari para petinggi negera, aku berharap lebih pada bapak-bapak dan ibu pemimpin yang ada diruangan ini, agar menjadi pemicu semangat generasi muda untuk berprestasi, bukan menghancurkan diri. Tapi sepertinya dari ratusan peserta sedari aku pertama duduk didepan sampai akhir tak henti-hentinya memandangiku, aku jadi agak sedikit ketakutan dengan bapak yang berdasi, sedikit tua, usianya sekitar 42 tahunan, sepertinya pernah kenal dan pernah melihat, apakah diseminar-seminar sebelumnya atau dimasa laluku, aku jadi sedikir berkeringat dingin rupanya, selepas acara selesai aku pun segera menuju ke sekertariat untuk mengambil honorku, aku dan tim tak pernah mematok harga, hanya mereka yang memberiku uang dengan nominal yang cukup banyak untuk ku bagi dengan rekan satu tim, pak supir dan asistenku, sekarang sukses bukan tujuan hidupku, mengabdi dan menyuarakan “ mari selamatkan generasi muda dari HIV AIDS” adalah suara hatiku yang terdalam, karena aku juga masih muda! Sebelum aku masuk mobil bapak yang sedari tadi memperhatikanku menghampiriku.
“nak ratih?” aku semakin berkeringat dingin.
“ iya pak, ada yang bisa saya bantu?”
“ oh tidak nak ratih, saya mengucapkan banyak terimakasih pada nak ratih, tapi bukan itu saja, nak ratih tentu masih ingat saya kan?”
Aduh, pasti ini ada hubunganya dengan masa laluku, “ em, mohon maaf bapak, saya benar-benar lupa dengan bapak!”
“ oh ya sudah, saya dahulu adalah salah sseorang yang pernah menikmati tubuh mbak ratih, mohon maaf. Saya juga yang memutar lagu kupu-kupu malam waktu saya dan mbak ratih bersenang-senang, ternyata mbak ratih sekarang sudah menjadi kupu-kupu siang yang sangat elok dan tersohor dimana-mana. Tak peduli orang mau berkata apa, tapi yang jelas kinerja mbak sudah menyelamatkan jutaan remaja selama dua atau tiga tahun ini.
Mati aku, ternyata bapak ini adalah salah satu pelanganku di masa laluku “ oh iya pak, terimakasih, saya juga memohn maaf atas kesalahan saya waktu itu, sekali lagi saya mohon maaf pak” air mataku kembali menetes, dan yah, aku pun menjadi drop seketika, inilah yang aku takutkan selama ini, tapi aku sudah bertekat, bukan hanya ini yang akan ku hadapi, tapi jutaan caci-maki.
“ ini nak ada sedikit uang, mungkin bisa menyambung nyawa nak ratih, bapak sekeluarga minta maaf!”
“ oh iya pak, saya ucapkan terimakasih banyak, sekali lagi saya mohon maaf ya pak!”
Bapak itupun pergi meninggalkan aku yang sedang menangis dan asistenku yang siap-siap berjaga dibelakangku jika sewaktu-waktu aku pingsan. Uangnya pun tak sedikit, kukira hanya satu, dua, atau tiga juta, uang limapuluh juta dalam ratusan ribuan ku terima. Alhamdulillahirabbil alamin ya allah.
Aku memang sangat suka denga lagu “kupu-kupu malam” yang dinyanyikan oleh ariel peterpan, itu adalah bagian dari masa laluku, lagu itu memiliki arti yang panjang dalam hidupku, selalu tetesan air mata yang membanjiri pipiku ketika lagu itu terdengar halus memalui udara yang terus bergerak. peterpan saat ini nama bandnya berubah jadi Noah. kemarin akhir bulan lalu juga Noah ada dikotaku, mereka sedang konser ditengah hujan yang lumayan deras, aku ingin sekali membeli tiket, foto bareng dan memberikan cerita ini pada mereka, tapi sayang, diwaktu yang bersamaan aku ada jadwal seminar, dan setelah itu aku pasti capek, apalagi seminarku bukan dikotaku, ku urungkan niat ini, semoga aku bisa bertemu dengan mereka satu panggung suatu saat nanti.amin
Tiga tahun yang lalu aku adalah seorang yang sangat hina, jangan salahkan diriku, semua orang memarahiku, mencaciku, dan memojokkanku dalam ruang sempit di tepi pojok bumi ini, yah itulah masa-masa sulit yang aku alami. Mulai dari keluarga, teman, sahabat, semua menjauh dariku, fikirku “sudah terlanjur basah, sekalian saja mandi sampai mati.” Memang tak mudah melupakan sakit setiap malam yang ku alami selepas melayani lelaki hidung belang itu, ada yang dari rakyat biasa, sampai-sampai aku pernah jadi bokingan wakil rakyat sekelas anggota DPR. Lelaki memang sama saja sebenarnya, sungguh itu adalah hal yang membuatku merasa menyesal jika mengingatnya.
Rupanya dalam kursi kerjaku ini aku sering melamun masa-masa itu, masa-masa dengan mudah mendapatkan uang dalam waktu satu malam, berkisar tiga juta, empat juta, sampai tujuh juta, apalagi aku pernah menjadi seorang pemain figuran dalam sebuah film waktu aku jadi PSK dan kuliah dulu, ceritanya aku punya kakak angkatan dikampus yang menawarkan aku bermain film, ya film indie sih, tapi laku terjual dibioskop, sampai dilirik produser ternama dikota itu, yah, akhirnya aku naik daun, tapi stetlah semua tahu bahwa aku seorang PSK atau ayam kampus, aku diberhentikan dari kontrak yang baru sebulan aku tanda tangani, niatan sih mau berhenti melacur, sepertinya dunia perfilman lebih menjanjikan, tapi ya mau gimana lagi, belum rejeki. Tapi tak apalah, setelah itu aku mampu merogoh kocek yang lebih dalam dari lelaki yang mencari kepuasan, minimal limabelas juta lah, ya itu semua karena aku pernah jadi artis dadakan, naik deh gajiku, hahaha
Huh, sungguh tak beralur ceritaku, memamng, seperti hidupku yang tak beralur pula, sempat merasa sedih ketika dikeluarkan dari civitas kampus, karena entah dari mana surat yang menyatakan aku positiv HIV AIDS  itu sampai juga ke tangan dekan, sampai rektor. Malang nasibku, padahal disana bukan Cuma aku, masih banyak teman-temanku yang berprofesi sebagai ayam kampus yang tak ketahuan, kalau aku mau, aku punya bukti, dan aku bisa menyeret lebih dari duapuluh mahasiswa keluar bersamaku, tapi itu bukan kode etik seorang ayam kampus, biar begini juga aku punya hati. Sudah susah mau ngajak-ajak orang yang senasib, jangan lah, memangnya aku penusuk dari belakang, oh tidak, meski aku hina itu bukan pekerjaanku, dan aku tak dibayar untuk menghancurkan masa depan teman senasib.
Ya, masih ingat dengan aryo, adik kelas aku di SMA, dan adik angakatanku di kampus, eh mantan kampusku, mungkin saat ini dia sudah widusa, karena kemarin terahir SMS aku dia lagi kejar skripsi, wah enak banget ya, sebentar lagi bergelar S1. Tak seperti aku, sangat diharapkan orang tua menjadi satu-satunya harapan malah sangat mengecewakan. Oh iya, tak usah bernostagialah, kembali pada aryo. Dia adalah pemuda tampan, kaya, dan terkenal di kampus yang membuat aku masih hidup sampai detik ini, walau harus menelan hampir 10 butir pil penambah daya tahan tubuh agar tak mudah terserang penyakit, yah setidaknya memperpanjang usiaku sebelum usai.
Waktu itu dia membokingku untuk menemaninya semalam, tetapi karena aku sudah profesional dan dia masih abangan, aku kerjain saja, akan tetapi hasilnya sampai saat ini dia lah malaikat penyelamatku. Tiga tahun yang lalu aku sakau, hampir mati dan hampir tak bisa menebus dosa-dosaku. Tiga tahun lalu aku dibawanya kerumah sakit tempatku sekarang mengabdi, sebagai duta. Duta nya bukan duta biasa, menurutku melebihi duta indonesia di ajang Miss Univers.  Ketika aku sedang duduk santai dikantor selepas mengisi acara di salah satu R SMA BI ternama, aryo menelefonku, nada dering kupu-kupu malam yang dipopulerkan oleh ariel peterpan pun memecah kesunyian ruangakn yang ber AC ini.
“ halo, assalamualaikum mbak ratih, apakabar nih?”
“ waalaikum salam. iya aryo, baik. Ada perlu apa? Ada job lagi?”
“ oh ndak mbak, Cuma mau mengabari, aku baru saja keluar dari ruang dosen pembimbingku, beliau berkata aku akan wisuda bulan oktober nanti!”
“oh ya? Selamat ya, akhirnya kamu bisa membanggakan mbak juga!”
“Terimakasih mbak, jam lima sore tak tunggu di tempat biasa ya, sekalian ada yang mau aku kenalin sama mbak!”
“Wah siapa tuh? Jadi penasaran!”
“ya pokoknya tak tunggu ya mbak, met siang, assalamualaikum..!”
“Waalaikum salam. Sampai ketemu sayang!”
Sejak aku diselamatkan olehnya aku sangat akrab denganya, dia sudah ku anggap adik sendiri, beberapa kali dia juga menginab dirumahku yang berada di kampung, selalu dia pasti bercerita masalah apa saja yang ingin dia ceritakan padaku, kami sudah seperti saudara kandung walau bukan saudara kandung.
Yah sejenak aku mengela nafas panjang, ketika mengingat kejadian dua tahun yang lalu waktu aku masih sering check kesehatan di dokter pribadinya, selepas aku pulang dari rumahnya aku diajak kesalah satu resto yang ada di kampung, lumayan sederhana, tapi juga sangat megah bagiku, dia sodorkan cincin emas dan perak sebagai tanda keseriusanya mencintaiku, namun aku tak mungkin bisa menerinamnya, aku ODA, sedangkan dia lelaki normal, baik dan rasanya tak pantas mendapatkannya, walau dihati ini menginginkan dan menantikan hal itu terjadi, namun aku tetaplah ODA, dan dia penyelamat ODA, jadi aku minta dia buat memikirkanya dahulu sebelum bertindak.
Ini masalah masa depan yang panjang, bukan setahun dua tahun tiga tahun, bosan-tinggal, bosan-buang, bosan-selingkuh, bosan-jajan seperti yang dulu pernah ku tanyakan pada orang-orang yang menikmati tubuhku, kenapa mas/ bapak melakukan semua ini, apa tak kasian sama anak istri, aku tak mau nantinya aryo melakukan itu padaku, walaupun aku adalah wanita penghancur rumah tangga orang. Aku tak mau keturunan keluarganya dia ada yang menderita penyakit yang harus menelan biaya hampir dua juta setiap bulanya, dan entah sampai kapan tubuh ini akan bertahan aku juga tak tahu, “aku sudah terlalu hina bagimu yo! Terimakasih atas tulusnya cinta kasihmu padaku, tapi aku tak pantas kamu cinta dan kamu sayang, apalagi kamu menilahiku hanya karena dasar kasihan, itu tak kan bertahan lama yo!”
Akhirnya diapun berfikir ulang untuk menikahiku, yah itulah yang terbaik bagi kamu dan memang yang terbaik, dia adalah orang baik, sedangkan aku adalah orang yang ingin baik lagi, beda konteksnya kan. Lamunanku membuat lantunan “kupu-kupu malam” pun berdering kembali.
“halo, assalamualaikum mbak, ayo, sudah pulang belum, kalau belum tak jemput saja di rumah sakit!”
“oh iya maaf yo, waalaikum salam. mbak tadi istirahat, kecapekan. Oke jemput mbak di RS aja ya!”
Mobil yang dulu aku tunggangi empat tahun silam, ini dia, sudah ada didepan mata, jadi teringat kebut-kebutan malam itu, jadi teringat keringat aryo yang keluar mengucur malam itu, jadi teringat kumis palsu itu, jadi teringat jaket kulit dan topi gelap yang menutupi separuh muka aryo. “ mbak, ngapain benggong, ayo masuk!” segera aku masuk, dan merasakan apa yang kurasakan saat ini.
“selamat ya yo, oh iya pak aryo S.Pd. sekarang, hehehe”
“ ah mbak bisa aja, belum resmi lo, jangan dulu mbak. Hehehe”
“yo….!”
“heem, ya mbak, ada apa?”
“ kok pakai mobil ini, terahir kamu pakai dan aku lihat empat tahun yang lalu yo!”
“hehehe, kenapa mbak? Masih ingat kah mbak? “
“Wah ya ingat banget lah yo, dengan Cuma-Cuma kamu ngasih uang ke mbak tanpa susah payah lo..hehe”
“eh, iya, sini kembalikan uangku mbak? Wah …hahaha!”
“ iya setelah mbak kembalikan, besoknya kamu layat dirumah mbak ya!”
“ nggak-nggak mbak, bercanda kok, oh iya cukupkan mbak bulan ini? Obatnya masih banyak? Ayah aku kemarin dari luar negeri itu ngecek proyek thunder, dan membelikan aku suplemen yang lebih murah untuk daya tahan tubuh deh mbak,  tapi dari hongkong kayaknya ramuan itu!”
“halal nggak? Hehehe ah nggak ah, nanti kalau aku ketagihan gimana? Yang ini aja deh!”
“ hehehehe, oke mbak, coba aja dulu ya!”
“ nggak, kamu itu sudah terlalu banyak mbak repotkan, mbak berhutang banyak nyawa padamu!”
“ ah mbak biasa aja kali, bisa aja, semua karena aku ada kesempatan mbak, maka waspadalah-waspadalah! Loh, hehehe!”
“ ah kamu itu bercanda melulu, eh tadi ditelefon kamu mau kenalin aku ke siapa?”
“Tunggu saja mbak, kita hampir sampai!”
Segera mobil balap yang tiada duanya itu melejit kesebuah resto yang biasa kami kunjungi berdua, tapi kali ini dia nggak sendiri kayaknya, hehehe selepas aku turun dari mobil kulihat sebuah mobil mercedes pink berplat nomor yang tak asing lagi bagiku, aku masih ingat betul, itu adalah mobil bosku waktu aku jadi ayam kampus, segera ku pastikan apakah itu benar apa tidak, ada lecet dibagian bawah dekat lampu mobil bagian belakang, ternyata benar, wah pasti mantan bos ku ada disini. Aku segera waspada dan memberi tahu aryo, kalau terjadi apa-apa aku minta tolong padanya lindungi aku.
Setelah kami berdua duduk dimeja nomer 12 kami segera memesan makanan yang paling kami suka untuk merayakan wisudanya aryo beberapa minggu lagi, yah aku diminta untuk makan sepuasnuya sampai kenyang, pokoknya aku ditraktir sepuasnya sore ini, bungkus juga boleh, hehehe, ketika aku tanya siapa yang akan dia kenalkan kepadaku, kenapa orangnya tak kunjung tiba, dia memintaku bersabar. Setelah lama menunggu seseorang yang mau dikenalkan aryo padaku dari toilet akhirnya muncul juga. Aku sangat terkejut dan kaget melihat wajah yang tak kan pernah aku lupa dan tak asing lagi bagiku.
“Astagfirullah, itukan? Kamu kan?”
“kumohon yo, jangan yang ini!” ketika masih tampak dari kejauhan aku segera berkata pelan pada aryo. akupun berlari meninggalkan restoran itu tanpa pamit, dan aryo pun mengejarku dan berusaha meminta penjelasan dariku.

 Karya : mang gugun
 Wedarijaksa, 14 februari 2013
Say no to valentine. Apapun agamanya dan siapapun pribadinya.
Say no to free seks. Karena tubuh kita itu mahal harganya.
Akan lebih bermakna jika disentuh sah oleh pendamping sah hidup kita.

Sabtu, 09 Februari 2013

cempaka 12

 "sudahlah, ngapain kamu ngikutin aku terus, aku sudah bosan dengan mu, bisa ndak kamu pergi jauh-jauh dariku, silahkan adukan saja pada semua orang, lewat facebook, lewat twittermu, lewat blogmu, lewat puisi-puisimu, lewat cerpenmu, lewat novelmu, atau lewat apalah yang kamu suka. aku sudah tak peduli lagi padamu, jangan memanfaatkan aku untuk kamu eksploitasi kisah-kisahku, jangan kamu pedulikan aku, jauhi aku atau kamu akan mati bersamaku, usiaku tak akan lama lagi, jadi kamu tenang saja, kamu nggak akan berurusan lagi denganku kamu nggak akan susah payah berurusan dengan orang hima seperti aku!"
" pergi kamu, pergi...!"
" aku tak mau bertemu kamu lagi !"
itulah kalimat terahir yang selalu terniang ditelingaku ketika mbak Ratih memarahiku di kosnya, ya semenjak malam itu aku mencoba akrab dengannya, mencoba mendekatinya dan mencoba menyadarkanya. tapi apa, baru beberapa hari saja aku sudah mendapat banyak sekali pelajaran yang berharga dan alasan yang awlnya tak pernah bisa aku terima. " bukan begini caranya Mbak !!!"Sepipun mengusik keseharianku, ketika kabar dari mbak Ratih tak kudengar sejauh ini, masihkah dia bertahan hidup, masihkah dia melakukan itu semua, masihkah hari-harinya dipenuhi dengan kegilaan duniawi. 
Sejenak aku merenung didepan kamar, ditemani secangkir kopi luwak yang hangatkan suasana pagiku, dengan butiran-butiran mocca yang semakin memantapkan rasa. Aku tak habis fikir, kenapa tuhan membiarkan semua ini  terjadi, kenapa ada begitu banyak orang yang dengan mudah menghasilkan uang, akan tetapi tak sedkikt orang yang kesusahan, bahkan menghalalkan segala cara. Aku sudah tak bisa bertingkah masa bodoh lagi. Ada seseorang yang membutuhkanku saat ini, meski dia bilang dia tak membutuhkanku, tetapi aku akan membantunya.
“ wah sudah jam 8, bisa telat masuk kelas nih, mana dosenya killer pula!”
Akupun sampai lupa waktu, karena sering memikirkan kejadian waktu itu, sulit aku nalar, sulit aku terima dengan akal, sampai hati gadis sealim mbak Ratih ternyata pekerjaannya menjijikan. Mungkin aku yang tak terlalu banyak mengetahui pergaulan dikampus, ayam-ayam kampus dan lainnya. 
Hari ini aku telat untuk yang kesekian kalinya pada dosen yang sama pula, "rasanya seperti minum coffe good day yang ditambahin garam satu karung, hehe“ hari ini kamu ada peningkatan, minggu lalu kamu telah 35 menit, sekarang kamu telat 50 menit, hampir satu jam, mata kuliah saya hampir habis. Silahkan kamu keluar, tunggu saya diluar !”Pasti bakal seru nih kejadinaya, menyebalkan, pasti ditumpuki dengan tugas-tugas yang segunung, semester lalu yang paling rajin saja nilainya c, apalagi aku, menggulang taun depan mungkin, ya, tapi aku perjuangkan lah. Siapa tahu ada keajaiban, hehe“ em, nak aryo, ikut bapak ke ruangan !”
“ ba ba ba baik pak...!” akupun terjaga dari lamunanku didepan kelas. Akupun mengikuti pak dosen menuju ruangannya untuk menyelesaikan masalahku. “nak aryo...!”
“iya pak, saya.” 
“ sudah berapa kali kamu telat dan mbolos di mata kuliah saya?”
“lupa pak, sudah banyak!”
“ lalu kenapa hari ini nak aryo ulangi lagi? Tugas minggu kemarin sudah?”
“ sudah pak? Ini, mohon maaf pak baru hari ini saya selesaikan!”
“Coba tak lihat isinya?”
“Silahkan pak, mohon koreksinya?”
“ nak aryo?”
“ya pak, ada yang salah?”
“Tidak, saya Cuma mau mengajukan dua pertanyaan saja dari hasil penelitian kamu ini tolong dijawab jujur!”“aduhh....!” (dalam hati) “ iya pak, silahkan!”
“ berapa hari kamu menyelesaikan makalah ini dan apakah benar ini pekerjaanmu sendiri?”
“I...i...iya pak, saya yang mengerjakanya, dihari itu juga saya mengadakan penelitian terhadap pola perilaku mahasiswa pak, dan saya menyebar angket, lalu saya tunggu sampai dua hari setelah penyebaran tersebut, dari limapuluh angket yang saya sebar secara acak, hanya kembali sejumlah 43 pak, dan itu hasil stastistiknya, yang tidak kembali saya masukan kedalam data acuh tak acuh. Iya pak ini saya sendiri yang membuat! Terimakasih.”
“Baiklah, tugasmu sampai minggu depan kamu survey gaya hidup teman-temanmu dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari saat di kos atau kontrakan! Mengerti? Hangan telat lagi, karena sejak semester satu kamu paling banyak mengumpulkan penelitian pada saya!”
“Baik pak, saya permisi pamit pulang dulu!”
“ ya silahkan!”
 “Huft...selamat-selamat!”( dalam hati) ketika aku keluar dari pintu dosen killer itu hari ini, tumben beliau tak marah padaku, mungkin karena beliau sudah capek memarahiku, terlihat juga sebuah tumpukan makalah setinggi kurang lebih 20 cm semua atas namaku, baru semseter kedua, sudah seperti tebalnya skripsi, wah ternyata aku punya bakat hebat ya, hahaha, ngarang! 
Selepas aku keluar dari kantor memalui lorong sebelah yang langsung menuju masjid kampus aku lihat mbak Ratih baru saja selesai sholat, akupun tak mensia-siakan kesempatan ini, aku sudah rindu, tapi sebelum aku menghampirinya aku sangat kaget sekali melihat temanya mengkata-katai mbak Ratih.
“ ow... sudah tobat kamu? Apa hanya sebagai kedok? Biar dimata kami kamu itu seorang yang alim? Alah pakai sholat segala, dasar Pe****r!”
Astagfirullah, mbak ratih pun hanya tersenyum kepadanya, orang yang telah mengkata-katainya, sungguh aku makin terkagum denganya, atau dia memang sudah pasrah dengan hidupnya, wajahnya terlihat pucat, tak sesegar semester lalu.“mbak Ratih...!”Lalu dia bergegas pergi meninggalkanku, akupun mengejarnya sampai ke depan gerbang dengan langkah yang sedikit cepat, mbak ratih tunggu aku, aku mau bicara dengan mbak, mbak jangan bergegas pergi, tolong mbak dengarkan aku bicara dulu, mbak! Diapun menghentikan langkahnya dan aku lekas bicara padanya walaupun tanggapanya dingin sekali.
“ mbak, mbak kemana aja nggak pernah ngabarin aku?”Akan tetapi dia tak menjawab pertanyaanku, dia tetap diam, aku tak tau apa yang dia rasakan, tetapi aku terkejut ketika tubuhnya langsung tersungkur dan ditangkap tanah, aku dan mbak ratih pun jadi pusat perhatian mahasiswa yang lewat disekitar gerbang kampus bagian depan atau pintu utama masuk kampus.
" ada apa ini, ada apa ini? kenapa pingsan, cepat ditolong, ah itu pel****r, ah biarin aja yuk paling juga kelelahan habis bekerja semalaman, ah....!" 
suara-suara kumbang pun ku dengar dari mulut-mulut berbisa mereka, sungguh aku tak pernah menyangka mereka hanya bisa memfonis tanpa tau sebab akibatnya, itulah intelek muda di indonesia saat ini, bukan seluruhnya, tapi sebagian besar seperti itu, hanya mengandalkan nafsu saja. akupun segera membawanya ke puskesmas kampus untuk segera ditangani, namun dokter yang jaga hari itu menyarankanku untuk membawanya kerumah sakit, badanya sudah dingin sekali, tak sadarkan diri dan lemah agak kaku, aku mulai banyak berfikir yang tidak-tidak, jangan sampai aku membunuhnya hari ini, sungguh aku akan sangat menyesal jika hal itu terjadi.
" suster cepat bantu saya suster....!" dari teras rumah sakit sesegera aku berteriak, terlihat beberapa perawat keluar membawa ........ dan segera mbak ratuh pun dibopong menuju UGD, akupun mengejar kereta derek yang membawanya lari dengan cepat segera dari bilik sebelum masuk ruang UGD dokterpun datang dengan lari kecil, aku berbisik pada dokter itu sambil ikut berlari, 
" dok dia HIV positiv, tolong tangani semampu dokter"
pintu UGD pun tertutup rapat, seolah pintu hidup dan matinya, mulutku tak henti-hentinya berdoa pada sang pencipta berdzikir memohon pertolongan untuk mbak ratih,
" ya allah aku tak tahu apa yang ku anggap baik bagiku adalah buruk dan apa yang ku anggap buruk bagiku adalah baik, jika kau beri aku kesempatan detik ini aku akan menjaganya." sekian lama aku menunggu hampir satu jam, akhirnya dokter keluar dari ruag maut tersebut, membawa berita seperti dalam telenovela
" alhamdulillah, nyawanya berhasil terselamatkan!" 
tak kuasa aku menangis juga, seperti benar-benar kisah dalam FTV, tak pernah tahu siapa yang ku tolong, tak pernah ada hubungan dengan yang ku tolong, tapi bedanya aku tak lantas menghubungi keluarganya seperti aktor-aktor FTV, yang jelas aku menjadi aktor dalam menyelamatkan nyawanya siang ini.
sudahlah tak perlu berbangga, aku hanya berkesempatan saja, jika tidak ya tak mungkin ku lakukan, tak kusadari lamunanku terjaga setelah ditepuk oleh suster yang memintaku untuk melakukan registrasi terlebih dahulu. akupun segera bergegas registrasi, antrinya panjang bener, aku nanti jam dua ada jam kuliah lagi, akhirnya ku terobos antrean yang sangat sesak," maaf pak buk saya terburu-buru sambil meletakkan tas ku yang akak berat diatas kepalaku, sehingga membuat yang lain memberi jalan padaku, agak kurang baik akan tetapi ini demi kelancaranku juga, jam setengah dua aku beranjak dari  rumah sakit meninggalkan mbak ratih sendirian di sana, sementara jarak RS dan kampus kira-kira 10 KM, belum lagi macet di jalan pantura, huh, semoga tak telat.amin
*** 
sudah seminggu ini mbak ratih dipindahkan dari UGD menuju ruang cempaka 12, ruang yang cukup megah, ada TV nya ada kulkasnya satu pasien dan dengan berbagai macam peralatan medis yang canggih didalam kamar, tak lupa ada gambar pancasila serta presiden dan wakilnya, entah aku tak tahu apa fungsinya." mbak, apa kabar, sudah semingggu lo mbak tak sadarkan diri, mbak, aku bawakan bubur kesukaan mbak, bangun ya, temeni aku makan mbak. masa mbak kuat nggak makan selama seminggu, nanti jalan-jalan deh mbak kalau mbak siuman. mbak... mbak?" sudah seminggu, hampir seminggu mbak ratih koma melawan virus yang saat ini ada ditubuhnya, daya tahanya setiap hari semakin memburuk semenjak di UGD siang itu, setiap dua hari sekali aku menjenguknya karena jam kuliahku padat, aku sudah meminta suster khusus untuk menjaganya, uangku bulan ini agak terkuras, pasti ayahku akan menanyakan apa saja yang kulakukan sehingga tagihan ATM semakin  membengkak. 
ah tak usah ku fikir, ini juga demi kemanusiaan. kedatanganku hari inipun nihil, dia tak juga bangun, sungguh aku bisa tak makan kalau begini caranya. akupun tertidur disamping ranjangnya karena aku sangat capek, hari ini memang tak ada perkuliahan tetapi tugas dari dosen untuk presentasi besok pagi sungguh menguras fikiranku, tiga mata kuliah tiga sks semua harus  maju presentasi besok, sungguh terlalu! rambutku pun tak kurasa ketika terbelai perlahan, terahir aku dibelai seperti ini oleh ibuku eman tahun yang lalu, ketika beliau tak sesibuk sekarang, kukira aku bermimpi, ternyata mbak ratih siuman, Alhamdulillahirobbil alamin... . selamat datang mbak, bagaimana kabar? akupun segera memencet lonceng dan dokter segera datang ke tempat ku duduk sekarang, memeriksa bagaimana kondisi mbak ratih.
" adik saudara sudah siuman, sepertinya kondisinya membaik, dan ini adalah mukzizat!" 
kata dokter, ya dokter irwan namanya, aku kenal karena dialah yang merawat mbak ratih seminggu ini. sepertinya aku pernah melihat adegan ini sebelumnya, dan aku sempat menangis, tapi dimana ya. hehe oh iya aku ingat sekarang, waktu itu aku lihat FTV yang adeganya persis seperti ini, tapi ini nangis beneran lo...alhamdulillahnya ya beneran, bukan akting, hehe
"makasih ya Yo.
ucapnya membuatku lega, lekas sembuh ya mbak aku besok makan apa kalau mbak ndak segera keluar dari sini, hehehe (dalam hati)" sudah mbak nggak usah banyak gerak nggak usah banyak omong dulu, dibawa istirahat saja ya mbak!"" ndak Yo, aku mau pulang hari ini."
" eh? kok hari ini mbak? (alhamdulillahirobbil alamin. hehehe) jangan mbak? belum sembuh lho?"
" ndak Yo, mbak udah terlalu banyak ngrepotin kamu!" 
dia pun segera melepaskan selangnya dari hidung mungil itu. dan segera bergegas ke ruang lobi, lalu ku kejaar mbak ratih untuk masuk ke ruang dokter. akhirnya dia di izinkan pulang, dan diberi resep untuk satu minggu kedepan. aku waktu itu naik motor, jadi didepan rumah sakit ku temani dia menunggu taksi, setelah dapat taksi blue bird berplah H sekian sekian sekian. aku pun menuliskan alamat kosnya, 
" pak, mbak ini antarkan ke alamat ini, kemanapun dia minta pokoknya alamat ini ya. terimakasih" 
pak supir pun menjawab " baik pak! "
sesampainya di kos mbak ratih, semua penghuni terdiam, semula mereka asik bercanda ria, akan tetapi setelah kedatanganku membopongnya suasana jadi hening, ya aku tahu penyebabnya. sambil basa basi salah satu dari mereka menanyakan keadaan mbak ratih, memang orang indonesia seperti itu, huh.
***
sekarang mbak ratih harus meminum suplemen dan antibodi yang cukup untuk menjaga daya tahan tubuhnya yang rentan, ya dia harus bekerja untuk mendapatkan kesehatanya itu, entah berapa lama ia akan bertahan yang jelas tugasku sudah selesai, hampir selesai disini, dia sudah bangkit dan bertemu orang-orang yang memotifasinya. sekarang dia bekerja disalah satu restoran padang yang cukup besar dekat simpang lima, setiap akhir pekan aku antar dia kesana, ya, mulai hari kamis jumat sabtu dia kerja, karena senin selasa rabu dia ada jam kuliah, dia adalah wanita smart, aku tahu itu sejak dulu. 24 sks dihabisinya dalam 3 hari selala seminggu, dan nilainya kebanyakan A untuk semester lalu dengan beban psikologis yang di deritanya aku bilang itu sangat luar biasa, sekarang mbak ratih juga menjadi salah satu aktivis kepalang merahan di kota ini, menjadi bagian yang aku kurang faham, intinya aktivis anti HIV AIDS, kiprahnya sebagai narasumber dan motivator juga lumayan sukses. itulah mbak ratih.
rasa itupun ada dan mulaai menjalar disekujur tubuhku, ketika aku diajak pualng kekampung untuk dikenalkan ke orang tuanya, dia juga sempat menceritakan kepada adik-adiknya bahwa akulah yang menolongnya dari maut ODA, keluarganya pun menerima dengan perasaan yang sempat terpukul keras, tak menyangka mbak ratih bisa terjebak dalam lubang hitam, namun lebih baik jujur daripada dipendam, itulah yang selalu ku bisikkan ke dia agar mau jujur pada keluarganya, biar bagaimanapun mereka harus tahu, pahit dan manis itu adalah resiko, diterima kembali atau ditolak itu adalah tanggungan, "mbak aku suka, mulai suka padamu." (tidak-tidak tidak) kisah ini mungkin dialami banyak orang diluar sana, dan tak seberuntung mbak ratih, tapi aku berharap tak akan ada mbak ratih selanjutnya yang mengalami nasib yang sama, pesanku kepada seluruh mahasiswa, jadilah kau penerus bangsa, yang intelek, bukan penghancur diri sendiri dan masa depanya dan bangsanya.  

 wedarijaksa, 09 februari 2013
recicle : maut diujung garpu ODA 

Jumat, 01 Februari 2013

Maafkan aku mas


Menikah muda bukanlah pilihanku, apalagi dengan orang yang usianya sungguh jauh lebih tua dariku, terpaut sepuluh tahun dan sudah sangat dewasa, memang sangat enak dan sudah mapan, tapi apakah aku bisa mencintai mas ardi, suamiku yang sudah aku nikahi empat tahun lalu, dan kami sudah dikaruniai seorang putra bernama cahya yang berusia sekitar dua tahun, aku begitu sayang kepada anaku, sangat cinta, melebihi siapapun, termasuk suamiku. Empat tahun berlalu aku belum menemukan apa yang kucari, setiap detik aku merawat buah hati kita akan tetapi rasa cinta kepada suamiku tak kunjung tiba juga.
Semua bermula ketika aku lulus SMA, aku sangat ingin kuliah dengan prestasiku yang mungkin pas-pasan dibandingkan dengan teman-teman seangkatanku, aku sangat antusias sekali ketika ada program beasiswa yang diadakan oleh perguruan tinggi negeri, akan tetapi semua harapan itu pupus ketika orang tuaku tak menyetujui akan hal ini.  Mau makan apa kamu dijauh sana, mungkin orang tuaku mampu untuk membiayai kuliahku, tetapi biaya kehidupanku sehari-hari? Siapa yang akan menanggung.
Beberapa bulan ketika aku menanggalkan seragam SMA ku aku berusaha mencari pekerjaan agar aku tidak terus membebani bapak ibuku yang sudah tua dan harus lagi mengurus tiga adikku yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama dan SD. Akan tetapi sangat sulit sekali ijazah SMA yang aku lampirkan dalam stpomap warna cokelat yang ku bawa dan hampir seminggu ku ajak stopmapku jalan-jalan keliling pabrik, ada yang sudah penuh, ada yang minimal S1, ada yang hanay menerima kariawan laki-laki dan lain-lain. Aku sempat nangis dihadapan bapak ibuku ketika kami sedang nonton televisi. Akan tetapi beliau memberikan ku semangat untuk terus berjuang.
“ pak, dini sudah cari kerja kesana kemari tapi ndak ada jodoh pak?”
“Ya ndak apa-apa nduk, bapak sama ibuk minta maaf karena tidak bisa membekali kamu lebih dari ini, adik-adikmu juga masih sekolah semua!”
“ ndak apa-apa kok pak, saya sudah senang bisa bersekolah sampai tamat SMA, ya tapi kalau cari kerja memang agak sedikit sulit pak!”
“Coba terus ya nduk, jangan menyerah, bapak doakan kamu semua supaya jadi anak yang berguna, cepat kerja ringankan beban bapak yang hanaya serabutan, ringankan beban bapak, karena bapak sudah tua, adik-adikmu juga butuh seolah!”
Aku menghela nafas sejenak, dan mengelus dada ini, sungguh inilah yang dinamakan hidup, aku sangat beruntung memiliki bapak dan ibu yang sering memberi semangat dan meneteskan air mata pengharapan kepadaku, ah...hal itu juga menjadi beban buat ku untuk melangkah dalam semangat, apakah bisa seinstan ini, apakah bisa aku seperti di film-film telenovela mendapatkan pangeran tampan berduit tajir tujuh turunan tak habis-habis. Emang nggak pernah dipakai mungkin, hehe semangatku kembali membara ketika selesai sarapan, tak lupa aku cium tangan bapak ibuku untuk memberi contoh adik-adik ku dan berpamitan, akan tetapi sore hari ketika senja mulai merayap, wajah ceria itu menjadi murung, rasa capek bercampur dengan kekecewaan. Hampir jenuh aku berganti hari, minggu, dan bulan tak juga ku temukan sebuah pekerjaan, apapun itu yang penting halal.
Perasaanku semakin menjerit ketika bertemu dengan teman-temanku SMA, pertanyaan yang sangat sering ku dengar “ kuliah dimana din?”  lalu dilanjutkan pertanyaan selanjutnya “gimana lancar kan?” ya Cuma aku anggukkan kepalaku saja dengan sambil senyum dan diam seribu bahasa atau mengajak mereka membahas hal lain atau mengenang masa lalu kita dulu di SMA. Yah seperti inilah perjuangan hidup, yang suka terus bersyukur, yang duka, semoga tetap bersyukur.
Sore itu aku hampir prustasi menyusuri jalan pulang, tiba-tiba ku temukan sebuah kertas yang masih merekat dalam tembok berwarna putih yang agak kusam tertuliskan lowongan pekerjaan, SMA sederajat, wanita 17-28 tahun, tinggi 160 tahun, ditempatkan dalam bidang marketing dan promosi, pendaftaran mulai pukul 08.00WIB- 16.00 WIB. Sesegera aku pulang kerumah dan mempersiapkan diriku untuk esok hari, semoga esok hari adalah hari yang menyenangkan. Itu harapanku. Diterima kerja didekat rumahku.amin
Pagipun mendatangkan sinar-sinarnya yang tak bisa menembus jendela kamarku karena terhalang oleh pagar dari tanaman hidup yang sangat tebal. Aku sudah siap untuk melamar pekerjaan hari itu, singkat cerita aku diterima setelah beberapa jam wawancara dan rasanya sangat senanag sekali, aku diberi waktu satu minggu untuk masa percobaan, akan tetapi perusahaan akan tetap menggajiku selama seminggu itu, jika pekerjaan ku bagus, gaji bisa naik sesuai hasil yang ku perjuangkan.
Bagaimana rasanya gaji perama itu sangat menyenangkan, membuat suasana hati senang setelah berjuang kerasselama sebulan, ku traktir adik-adikku makan dan ku belikan bapak serta ib pakaian, tak terasa gajian sebulan sudah habis, itulah pengalamanku pertama gajian, sayang aku tak sempat mendapat gaji yang bulan ke dua, karena aku dilamar tetanggaku yang tak begitu akrab ku kenal, tetapi setahuku dia jarang dirumah, seorang pengusaha, kalau dirumah sering ke masjid solat berjamaah dan lain-lain, aku semula tak sependapat dengan orang tua, aku masih ingin bebas di usiaku saat ini, tetapi keadaan berkata lain, walau aku menangis darah orang tuaku terlanjur meng iyakan lamaran mas-mas itu. Benar-benar tak ada yang namanya pacaran, sebelum lamaran itupun aku juga hampir tidak pernah berinteraksi dengannya.
Tanggal pernikahan pun ditentukan, saat hari H akhirnya aku sekarang berstatus suami orang, aku sempat nangis, karena secara psikis aku belum siap menikah, secara fisik pun masih ingin bermain-main, akan tetapi tuhan berkata lain terhadapku. Aku tak pernah mencintainya sedikitpun, tak pernah sayang, tak pernah suka pada suamiku sedikitpun, hanya sering dia mengajakku mengakrabkan diri padaku, alangkah beruntungnya dia, datang disaat yang tepat, sehingga keluargaku pun dengan mudah bilang ya tanpa minta persetujuan dariku, kata mereka bahagia itu bisa belakangan, yang penting hidup nyaman dan tentram serba kecukupan, sudah cukup keluarga kita menderita kemiskinan akut. Aku mulai ada rasa simpati pada suamiku, ya karena biar bagaimanapun dia adalah suamiku, walau tak ku cintai tetapi dia sangat sayang aku, aku harus menghargai perasaanya, sempat aku mutung dan murung padanya, tapi tak berapa lama aku minta maaf, sepertinya dia adalah lelaki yang pasrah dan nurut, apa kataku pasti dituruti, entah ini trik dia atau apa yang suatu saat bisa berubah akan tetapi empa tahun berjalan dia masih saja seperti itu, aku mulai menaruh rasa ini kepadanya, benar kata bapak, cinta itu bisa belakangan, yang enting mapan dulu, bukan berarti matre.. tapi ini realita kehidupan. Aku sering menghargai lebih suamiku dengan memberi perhatian ketika dia pulang kerja, ku buatkan kopi, ku siapkan makan, yang dulu semua ia lakukan sendiri, karena dia tau aku tak cinta denganya.
“ dek, aku mau minta waktu malam ini bisa?” setelah menyantap makanan yang ku buat dia mengajakku entah mau apa.
“ kemana mas? Aku capek hari ini mas, tidur saja ya? Lagipula aku lagi halangan!”
“ bukan masalah itu dek, ya udah kamu tidur aja, ntar mas bangunin ngak apa-apa ya?”
“Iya sudah mas,  dini nurut saja sama mas, tapi kalau dini nggak bangun ngak apa-apa kan mas?
“ iya ngak apa-apa kok, biasanya juga nggak pernah bangun setiap kali aku minta bangun!”
“Yee...nyindir..hehehehe!”
aku mulai ketawa ketika dengan polosnya dia bilang seperti itu, aku sudah bangun sebenarnya, tapi sangat malas untuk beranjak dari tempat tidurku, ya karena aku mungkin tak sepenuh hati melakukan aktivitasku berumah tangga bersamanya. Akan tetapi aku sangat heran, selama ini dia tak pernah memarahiku sedikitpun, dan ketika aku selalu menolak dia hanya tersenyum kecil sambil menatap sayup wajahku, dengan sabar dia berusaha menumbuhkan rasa cinta yang sudah mati ini untuk dihidupkan lagi.
Tapi sepertinya aku sudah menutup rapat-rapat rasaku padanya, apalagi kemarin siang aku melihat seorang lelaki yang sangat aku cintai ketika di SMA baru saja diangkat jadi direktur di perusahaan tempatku bekerja dulu sebelum aku dinikahkan paksa. Rasanya sangat ingin memeluknya, akan tetapi ada suamiku disampingku, aku terus saja menjaga pandanganku dari mas idham, karena suamiku adalah salah satu manajer pelaksananya mas idham.
Kembali aku menaikkan selimutku karena aku diminta untuk tidur dan menhapus semua pikiran-pikiran dan andai-andai yang semakin tak terkendali, baru saja sejenak aku memejamkan mata ini, rutinitas yang membuatku kadang jengkel hadir dimalam itu, anaku menangis karena ngompol dan minta disusuhi, yah kalau sudah begini aku akan tifur alam dan sulit bangun, padahal rencanaku ini adalah kali pertama aku menghargainya sebagai suamiku, semoga aku bisa bangun nantinya. Setelah anakku diam aku kembali melanjutkan tidurku. Suamiku tak pernah aku beri kesempatan untuk melakukan apa-apa, karena aku memang tak mau, aku sering tidur saling bertolak belakang dengan suamiku. Diapun masih sabar, mungkin tidak ada lelaki yang sehebat ini, akan tetapi aku tak cinta dengan dia.
Pagi pun menyambut, sekitar pukul 03.00 WIB, aku sudah berada di lantai paling atas rumahku, entah kapan aku dibopong yang jelas aku tidak merasakan apa-apa sebelimnya.
“ dek-dek, bangun ya? Mas mau bicara?”
“ahhh..apa tho mas, ngantuk banget aku, ndak lihat apa tadi sampai jam berapa anakmu rewel?” takupun tidur lagi, sebenarnya aku sudah sadar dimana tempatku berada, ini bukan kamar kami, ini tempat bersantai keluarga, udara sejuk terus menembus tulangku karena memang agak terbuka ruanganya, disinilah biasanya aku menangis, melepas rindu dengan orang tua dan adik-adikku.
“ dek. Mas minta dong bangun ya?”
“Nggak mas, capek, ngantuk aku!” ku lanjutkan tidurku dan dia masih duduk menungguiku.
Akupun membuka sedikit mataku, kulihat dia menangis, air matanya membasahi kakiku dan menetes pelan-pelan, ini bukan pertama kalinya aku melihat dia menangis, sudah ber ratus-ratus kali, ketika malam pertama dia tak dapat apa-apa dariku, sampai saat ini, hatiku kali ini terenyuh, rasanya ada yang beda, ahh nggak mungkin aku jatuh hati padanya, jangan lah!
Mau nggak mau aku terjaga dari tidurku, dan mengusap air mata suamiku, aku nggak tega sekarang, aku berusaha meredam emosinya mungkin, kalau dia punya emosi, karena selama ini ku rasa dia mati emosi, jadi kita sama-sama mati. Aku mati rasa, dia mati emosi.
“ mas, kenapa nangis?” seolah-olah aku tak pernah melihat dia menangis selama ini, ku tanya saja dengan nada polos sembari terus mengusap air matanya yang masih berlinanag.
“ nggak apa-apa dek, mas sayang banget sama adek!”dia pun menjawab lirih
“ tapi aku nggak pernah sayang dengan mas lo sampai saat ini!”
“ iya, aku juga merasakan ittu kok dek, tidak apa-apa, mas masih punya waktu untuk merubah itu kan?”
“Sepertinya tidak mas, sudah berapa kali mas menanyakan ini dan jawabanku sama kan?’
Diapun terdiam, hatiku sebagai perempuan luluh juga akhirnya, empat tahun mungkin dia menahan semua, kembali dia meneteskan air mata dan kali ini disertai dengan suara lirih tangisan dari suamiku. Akupun tak bisa menahan air mataku, biasanya aku yang judes hancur sudah semua. Ku peluk tubuh suamiku yang sebelumnya tak oernah ku lakukan, ku beri dia sebuag ciuman kecil dikenangnya.
“ mas, maafkan aku, sudah menjadi istri yang buruk bagimu!”
“ kamu istriku yang terbaik dek, pertama dan terahir bagiku.” Akupun semakin mempererat pelukanku pada tubuhnya dari belakang. Tak kuasa aku memangis.
“ kenapa sih mas kamu tak menceraikan aku sejak dulu? kenapa sih mas kamu tak pernah memarahiku? Kenapa sih mas kamu itu hanya diam saja ketika aku bentak? Kenapa sih mas  kamu itu selalu mengalah ? kenapa sih mas kamu itu begitu baik padaku? Ha? Jawab mas?”
“ apakah mas mau menambah deritaku? Apakah mas mau mempermainkan perasaanku? Jawab mas?”
Tak kusangka entah darimana dia memperoleh keberanian, dia berbalik badan dan memelukku erat-erat sambil terus menangis, getaran itu getaran cinta yang tulus, rasa ikhlas, pasrah, kasih sayang tanpa pamrih, wanita mana yang tak luluh dan meneteskan air mata.
“ selamat hari ulang tahun pernikahan kita dek, sudah empat tahun kita bersama, semoga keluarga kita sakinah mawadah dan warohmah, selalu diberi kesehatan, lindungan allah, berkah yang melimpah dan rizki yag halal.”
Aku semakin tak kuasa menahan tangisku, baru pertama kali ini aku menangis setelah empat tahun lebih aku tidak menanagis sehebat ini, terahir aku memangis ketika dirias ketika akan melakukan pernikahan, setelaah itu tak lagi.
“ tapi mas ? aku belum bisa mencintai mas dan menyayangi mas!”
“ ngak apa-apa kok dek, besok kita pergi kerumah ibu ya? Aku sudah kangen, neneknya cahya juga pasti rindu dengan cahya!”
Lalu suamiku menyodorkan kue ulang tahun dan kami pun meniup bersama kue tersebut, disinilah aku mulai menaruh simpati pada suamiku, setelah empat tahun aku buta rasa, mati rasa atau apalah terserah. Setelah melakukan selamatan kecil-kecilan kamipun kembali kekamar untuk tidur bersama, besok pagi-pagi sekali kami harus mempersiapkan diri ke rumah ibu.
Pagi pun berjalan menyinari mobil BMW yang kami tumpangi bertiga, melaju kencang menuju desa yang asri nan indah, disanalah aku dibesarkan dan dihidupi , terahir aku kedesa ketika peresmian mas idaham menjadi dirut dan suamiku menjadi manajer pelaksana umum, aku sudah tak sabar ingin bertemu dengan ibu dan bapak serta adik-adiku yang sekarang sudah kuliah semester satu dan ada yang baru kelas 1 SMA, rasanya ini adalah kado terindah di pernikahan kami yang ke empat, bukan terindah senebarnya, karena hampir setiap tahun suamiku melakukan kejutan-kejutan seperti ini, akan tetapi baru kali ini bisa terwujud.
Sesampainya dirumahku aku langsung cium tangan ibu dan bapak, sambil mengendong cahya, suamiku pun mencium tangan kedua orang tuaku. Tak lama kemudian cahya di minta oleh ibu untuk digendong dan kami diminta istiraha di kamarku, kamar tempatku akan bunuh diri ketika aku dipaksa untuk menikah, tapi semua tak terjadi.
Aku langsung beristirahat dan membaringkat tubuhku disamping suamiku, biasanya kami sok mesrah dan romamtis agar tak menunjukkan ketidak sukaanku, biasanya aku juga paling malas diajak pulang walau sudah kangen karena aku harus bermain peran, tapi kali ini tidak lagi. Aku cium kening  suamiku yang sedari tadi memejamkan matanya, mungkin capek menyetir sendiri dalam perjalanan jauh.
Malam pun tiba, kejutan dari suamikupun tak berhenti sampai disini, karena suamiku meminta izin untuk mengkuliahkan aku, ya itulah cita-citaku selama ini, ingin kuliah dan menjadi sarjana yang bisa berwira usaha. Akupun tak menyangka dengan kejutan itu, aku semakin punya rasa dengan suamiku. Malam itu juga aku bilang “ aku sayang kamu mas. Terimakasih ya!” lalu ku cium keningnya didepan orang tuaku dan adik-adikku. Yan mereka yang sekolah dan kuliah juga dikuliahkan suamiku. Ini benar-benar kado terindah hari ulang tahun ku sekaligus hari pernikahan kami 12 Desember 2011.
***
Pagi-pagi aku diantar suamiku pergi ke kampus yang kebetulan kampus dengan kantor sama, tapi jauhan kampusku. Aku dan suamiku sekarang semakin mesra dan romantis, kami sering jalan berdua, menghabiskan waktu bersama dan bercengkrama ketika ada waktu luang saat aku tak ada tugas dari dosen. Teman-temanku mahasiswa pun juga usianya terpaut empat tahun dariku, seharusnya aku hari ini sudah bergelar S 1, ya tak apa lah, mungkin ini jalan terbaik yang sudah digariskan, aku dapat suami yang sangat baik serta abisa kuliah. Nyaman sekali hidupku saat ini. Aku serasa tak menjadi wanita yang paling sial didunia seperti dulu lagi.
Sekarang aku sekampus dengan adik-adiku dan mereka lebih pandai datriku, maklum sudah empat tahun aku tak pernah melajar apapun soal dunia perkuliahan, paling yang selalu kubaca adalah novel yang selalu dibelikan suamiku karena aku senanag sekali dengan buku-buku fiksi yang bergenre drama dan roman atau cerita cinta remana. Walaupun aku sudah tak remaja lagi, tapi koleksi novel ku kebanyakan tentang remaja, aku juga berencana membuat novel kehidupanku, akan tetapi kau juga harus mengurus waktu, sehingga aku ka bisa berlama-lama didepan komputer kerja suamiku dirumah.
Ketika aku memasuki semester baru yaitu semester genap, aku merasa puas dengan hasilku, semua penilaian dari dosen adalah A minimal AB, itu sangat diluar dugaanku, ya mungkin karena faktor usia, aku lebih berpengalaman daripada teman-temanku yang notabenya terpaut antara 3 sampai 4 tahun. Hal itu tak ku manfaatkan dengan sia-sia, aku selalu aktif dalam berbagai diskusi dalam perkuliahan. Ketika aku mau ikut salah satu organisasi di kampus atau UKM, suamiku ta mengizikan, aku juga menurutinya dengan senanag hati.
Seletah semester dua berjalan sekitar bulan januari 2012 aku mulai memasuki perkuliahan seperti biasa, akan tetapi aku sangat terkejut ketika ada salah seorang mahasiswa yang wajahnya sudah tak asing lagi bagiku, karena aku bisa mengambil SKS lebih banyak aku bisa bersama dengan mahasiswa semester 4, sementara aku baru semester 2.  Ya, benar sekali dia adalah rio, mantan ku terahir di SMA 5 tahun yang lalu. Ternyata dia baru semester 4 inikarena sering cuti kuliah akibat tuntutan profesinya sebagai artis dan berkecimpung di dunia modeling.
“ rio? Ini beneran kamu?”
“emmm...siapa ya? Aku lupa-lupa ingat?”
Maak lupa? Hehehe ayo tebak siapa aku?”
Beneran deh lupa aku, tapi sepertinya kita oernah dekat sebelum ini kan?”
“ emang sudah berapa gadis yang kau pacari sehingga kau lupa padaku rio?”
“ apakah kamu pernah menjadi pacarku? Kapan? Saat masih SMA atau sudah kuliah?”
Dasar kau tetap saja playboy! Hahahaha” sambil ku tepuk pundaknya.
“ Aku dini, mantan kamu yang pertama, dulu diSMA katamu, tapi aku tak percaya kalau aku cinta pertamamu alias mantan yang oertama bagimu, playboy! Hehehe”
“oohh, ternyata kamu? Ya aku lupa banget lah,,,dulu tu ya kamu tiu kurus banget, lihat sekarang ? sejahtera dan sukses!”
“ ah biasa aja! Hehehe”
Kami pun melanjutkan mengobrol dikantin kampus setelah selesai kuliah, sampai berlarut-larut dan membincangkan segala hal, akupun dengan enjoy menceritakan seluruh kejadian yang ku alami tetapi tidak sampai ke prifasiku. Aku juga memberitahukan bahwa aku sudah menikah dan beranak satu, suamiku pengusaha dan lain lain tentang diriku sesuai dengan apa yang ditanyakan, akupun ditraktir makan sore itu sampai sampai kekenyangan dan ngantuk. Tak sadar suamiku telah lama menunggu, aku memintanya jam setengah empat, sedangkan ini sudah jam lima, HP ku juga mati karena tadi ku pakai buat ngedengerin musik pas lagi jenuh. Bisa gawat ini, alasan apa ya nanti.
“ eh mau kemana? Aku masih kangen din?”
“ tak bisa rio, aku sudah ditunggu suamiku, terimakasih traktiranya hari ini ya!”
“Besok kita ketemu lagi kan?”
“ insya allah kalau ada jam kuliah yang sama aja ya?” sa,bil berlari meninggalkan kantin menuju parkiran mobil. Kutemukan suamiku sudah ada disana, aku merasa sangat bersalah dan akirnya harus berbohong pada orang yang tak pernah membohongiku, maafkan aku mas.
“mas, ayo pulang!”
“Dari mana kok lama?”
“Oh tadi, ada tugas portopolio dari dosen, aku cari referensi di perpus mas, maaf ya, sudah lama mas?”
“ nggak kok, baru aja aku nyampe sini, tapdi aku pulang sebentar, nyiapin kejutan buat kamu dek!”
“ apaan mas, tancap gas, aku sudah lapar...!” padahal perut ini sudah terasa nggak mau dimuati lagi.
Ternyata dirumah suamiku memasak untukku karena semester lalu berhasil jadi terbaik, aduh, bisa meledak ini perut, mana sudah ada isinya lagi. Bahaya kalau seperti ini. Akupun terpaksa memakan makanan yang dibuat suamiku sendiri karena aku berprestasi, aku juga positiv hamil. Rasanya sangat mendesak sekali..perutku kekeknyangan, hampir sejam aku berada di wc untuk menuntaskan hasil kinerja yang secara alami. Rasa perutku pun sakit sekali seperti kram, aku takut terjadi apa-apa pada janinku.
Aku dan mantanku pun semakin akrab, aku pelan-pelan mulai jatuh hati lagi dengan rio, akan tetapi aku sudah punya suami yang sebaik itu padaku, aku menjadi bingung saat ini karena sering berbohong pada suamiku, ketika aku pulang terlalu malam berarti itu aku sedang jalan bersama rio. Suamiku pun tak pernah meraruh rasa curiga padaku, meskipun ketika aku sadar bahwa ini adalah salah, tetapi aku merasa lebih nyaman bersama rio, maafkan aku mas, aku telah mencoba berhianat padamu, aku minta waktu untuk mengentikan semua ini tanpa kau tahu. Terimakasih aku ucapkan karena telah mengkuliahkanku, tapi aku mengecewakanmu mas.maaf...!!!

Buah karya : mang gugun

Semarang, 01 Februari 2013
23.34-00.58 WIB