Senin, 06 Juli 2015

Tulisan Tak Bermakna

rindu yang masih tak bersambut
ketika selaput mata masih mengatup
membawa dua dunia menjadi satu pada sebuah raga
itulah keindahan yang tak akan bertahan lama
berkali diingatkan dalam surat kecil
namun tak pernah sampai pada hati 
ujung dari melodi yang tak aka terus dimainkan
berhentinya seketika
hilang selamanya

banyak pemikiran yang tak dirindukan
dimana kebaikan tak bertahan lama
karena memamng itu adanya

banyak tulisan tertulis dari otak buta
banyak panduan terpandu dari tangan hampa

rasa rindu kini hanya bisa dibalas dengan sendiri
sendu menghadap sudut yang bermacam rupa
tanpa kawan tanpa manusia lain yang tahu

semua kata hanya mengarah kepada lelucon
membuat semua orang tertawa tanpa arah adalah tujuan utama
sehingga semua menjadi hampa
ketika tawa semakin jadi
dimana-mana



Kamis, 04 September 2014

ketika ayam bersua


kalau aku sekumpulan darah
beri jalan aku untuk lewat
kalau aku sekumpulan daging
biarkan aku yang memadati rindu
kalau aku sekumpulan tulang
bolehlah aku menegakkan yang tegak
kalau aku bukan sekumpulan itu
terbangkanlah aku kemana-mana
biar aku hanya patuh saja apa maumu
tanpa harus tau apa mauku
biarkanlah aku hanya terlihat oleh suara ayam
sedangkan aku terlelap bisu
kelaparan diantara samudera makanan
kehausan ditepi sungai yang engkau muarakan dikakiku
kalau aku adalah akalku
maka dunia ini adalah nafsumu

Rabu, 04 Desember 2013

Resensi Dua Darah


Sebuah Novel singkat pertama karya Muharram Adruce Noor dengan nama pena Mang Gugun. Novel ini dipersembahkan untuk seluruh warga Indonesia pada umumnya dan pada seorang yang sepesial dihati yang sedang menantiku penuh cemas, serta keluarga yang ada disana bapak, Emak serta kedua adikku yang mulai tumbuh dewasa Yussa dan Nurul Aida.  Tujuan utama pembuatan novel ini  adalah dakwah melalui media sastra. Penulis menceritakan kisah-kisah perjuangan hidup dengan bahasa keseharian yang ringan. Terinspirasi pada kisah kisah yang pernah didengar dibaca dan dirasakan oleh penulis.
Terdiri dari 15 bagian dari sisi kehidupan mulai dari munculnya tokoh pertama seorang pria tampan yang bernama Andi lulusan sarjana muda di universitas ternama di Indonesia bidang arsitektur yang menikah dengan gadis cantik bernama Andriena peraih kejuaraan modeling tingkat nasiolan yang berakhir dengan pernikahan. Keduanya menikah dengan bahagia serta dikaruniai  seorang anak putera bernama aren yang sangat lucu dan menggemaskan.  Saat masa kehamilan sang isteri Andi selalu menyayangi lebih daripada sebelumnya. Setiap harinya sepulang kerja pryoek Andi selalu menyempatkan waktu pulang. Walaupun jarak Jakarta Semarang harus ditempuh Andi setiap harinya dengan Mobil Picanto merah kesukaan Andi.
Saat usia kehamilan tua Andi memutuskan untuk mengajak isterinya ke kampung halamanya Karena takut tak ada yang mengurusi. Dirumah asalnya semarang dia masih punya orang tua yang lengkap. Mungkin ayah bunda Andi bisa membantu memberikan pengarahan pada isterinya.
Saat kelahiran Andi sangat cemas dan panik, karena sudah dua hari sang jabang bayi tak mau keluar dari rahim isterinya. Akihirnya pilihan terahir operasi sesar pun dijalani dengan penuh pengambilan risiko yang tinggi, Andi takut jika terjadi apa apa dengan sang isteri dan anaknya. Hingga kelap kelip lampu merah di UGD pun berhenti. Tim dokter bersalin dan pembantu dokter membawa angin duka dengan raut wajah penuh tangis. “ mohon maaf pak, kami hanya berhasil menyelamatkan bayi bapak!” seraya ibu dari Andriena  pun pingsan melihat anaknya meninggal dalam proses persalinan yang pertama. Andi tak bisa berbuat apa-apa kecuali menggengam  erat selonjor besi penyangga tempat duduk dengan erat dan mata yang lama tertutup. Tak berpikir panjang seluruh keluargapun masuk ruangan kecuali Andi yang masih Hilang akal sehatnya.
Ketika semua masih dalam keadaan berduka Andi mau tak mau harus membesarkan Aren sendirian dengan segala kesibukannya. Tak terpikir olehnya saat itu mencari isteri lagi. Karena sungguh cinta Andi terhadap almarhum isterinya sangat dalam. Jika ia mau kenapa tidak, is masih muda. Rumah hampri disetiap kota besar di jawa ada semua. Proyek dan tendernya berhasil dimana mana. Akan tetapi tak ada niatan mencari isteri lagi. Mumpung Aren masih kecil.
Dengan diberi air susu botolan Aren balita tak mau meminumnya hingga akhirnya dia kurus. Bobot kelahiranya yang mencapai  4,3 kg  kini semakin  susut jika dibandingkan dengan tambahnya usia. Ada seorang tetangga rumah orang tua Andi yang juga sedang melahirkan seorang bayi. Akhirnya dengan dibantu dalam urusan keunagan. Keluarga itu mau menyusuhi Aren kecil.
Dalam kehidupan Aren ia tak pernah menemukan kasih sayang seorang ibu, hingga timbul desakan oleh orang tua almarhum mantan isterinya untuk menikahi adik dari almarhum isterinya yaitu indri yang wajahnya hampir mirip dengan almarhum isterinya. Ketika Aren berusia empat tahun Indri baru saja menyelesaikan studinay dibidang Riset dan Pangan di Den Haag Belanda, sebulan di Indonesia Indri kemudian menikah dengan Andi  atas persetujuan kedua orang tua. Akhirnya sekarang Aren pun mempunyai seorang ibu, yang menyayangi Aren walau bukan ibunya sendiri.
Kehidupan rumah tangga Andi dan Indri adik dari almarhum isterinya sangat bahagia, dua tahun menikah Aren memiliki adik yang bernama Cindi, ketika itu Aren berusia enam tahun. Aren sangat menyayangi Cindi walau dia tak tahu bahwa itu bukan adik kandungnya. Setiap hari bersama Indri Cindi dan Aren kini jalan jalan di sebuah taman di “ kota delta mas”  Bekasi. Kini mereka dari semarang pindah ke Bekasi karena Mengikuti proyek yang sedang dijalankan oleh ayah dari Aren dan cindi.
Sampai diusia dewasa mereka berdua adalah kakak adik yang sangat tidak akur, setiap hari selalu bertengkar gara gara masalah sepele seperti rebutan Chanel televise, rebutan kamar mandi, padahal dalam rumah ada enam kamar mandi sampai rebutan motor untuk berangkat sekolah atau kuliahnya Aren, padahal ada mobil dan beberapa motor matik di garasi. Hingga akirnya Andi memindahkan kembali Aren ke semarang karena mereka berdua tidak pernah akur.
Dalam sebuah cengkrama malam Andi bersama indri sebelum tidur seperti biasa menikmati secangkir teh hijau hangat.  Indri memulai perbincangan malam itu. Indri mengatakan bahwa dia dan Alm. Andriena (isteri pertama Andi) memang sedari dulu juga tak pernah akur, makanya dia disekolahkan Alm. Ayahnya ke belanda sedangkan kakaknya menjadi model. Setiap apa-apa pasti selalu rebutan. Akan tetapi saat mereka jauh beberapa hari sempat saling kangen dan menangis menggunakan kecanggihan teknologi hinga bisa berkomunikasi langsung dua arah melalui vidieo. Hingga beberapa bulan kemudian ia di kabari bahwa ia akan menikah dengan Andi, seorang pemuda lulusan Arsitekutr. Yang sekarang juga menjadi isteri Indri. Akhirnya mereka bernostagia sambil memadu kasih, tangispun terpecah di masing masihg dua orang yang saling berusaha menemukan cinta ini. Karena saat malam itu juga mereka jujur rumah tangga yang sudah dibangun selama 15 tahun ini belum ada cinta sepenuhnya . Andi masih sangat mencintai Alm.Isterinya. Indri juga demikian harus terpisah dengan warga keturunan Indonesia yang tinggal dan menetap di Belanda. Esok paginya mereka pergi ke makam Alm. Andriena ibu dari Aren. Aren selama ini tak tahu bahwa ibu kandungnya sudah tidak ada.  Andi dan Indri pun mengajak cindi. Cindi merasa kebingungan karena sebelumnya belum pernah menengok makam ini, walau makam ini berada disebelah makam kakeknya. “almarhum Andriena siapa mah?” Cindi merasa aneh dan bertanya-tanya akan tetapi orang tuanya hanya berlalu sembari meneteskan air mata.
Setelah cindi Lulus kuliah akhirnya Aren menikah dengan gadis semarang, yang menjadi seorang direktur di salah satu bank muamalah di Semarang. Pernikahan mereka Berlangsung tanpa sepengetahuan kedua belah pihak orang tua, karena orang tua dari gadis yang bernama Hasari telah tiada, sedangkan Andi dan Indri sedang kebelanda untuk urusan Pekerjaan. Mereka pun menikah dengan di saksikan oleh wali dari kedua belah pihak, dengan mengabari Ayah dan ibunya yang ada di belanda melalui telekonfren, pernikahan mereka bisa disaksikan oleh Cindi Andi dan Inri dari belanda.
Tak disadari waktu cepat berlalu, pernikahan mereka hampir memasuki usia setahun setengah, Hasari kini mengandung anak dari buah cintanya dengan Aren. Akan tetapi beberapa kali mengalami sebuah keanehan terhadap kandunganya. Berbagai alternative dn pengobatan medis pun telah dilakukan untuk mengetahui apa keanehan yang tejadi pada calon cucu dari Andi dan indri, akan tetapi tidak ada jawaban. Hingga prosesi kelahiran pun terjadi, Andi bersama Aren saling memelukkan tubuhnya ketiang sangga ruang depan UGD mereka melakukan hal yang sama, hal itu membuat Indri dan cindi heran, mereka melakukan hal yang sama disaat saat yang genting, Andi teringa duapuluh delapan tahun yang lalu dia berada diruang yang sama dengan perasaan yang sama menantikan kelahiran seorang  anak pertama.  Kini anaknya Aren juga harus merasakan hal yang sama. Doa doa terus mereka panjatkan. “ ya allah, kau boleh mengambil isteriku duapuluh delapan tahun lalu, tapi jangan pada cucuku atau menantuku” itulah yang terus dibatin oleh Andi, yang kini rambutnya memutih namun ketampanannya masih tetap terpancar.
Disaat bel ruang UGD berbunyi tanda selesai operasi, dua lelaki anak bapak itu langsung lari kearah pintu dan Andi melihat ekspresi yang sama dengan dokter yang sama seperti duapuluh delapan tahun silam, Andi sudah berkecil hati. “ selamat pak, kami berhasil menyelamatkan anak dan isteri bapak!” Aren langsung menuju ke tempat isterinya dan Andi menegadahkan tanganya tepat didada dan menasuh dimuka sembari berkata “ terimakasih ya allah!”
Namun  Hasari masih menangis sedari tadi, karena anaknya tak mau membuka mata dan menanggis. Hasari takut jika anaknya cacat. Kemudia seorang wanita paruh baya datang menjenguk Hasari dan terkejut melihat yang ada disini seperti perkumpulan orang yang sedang memainkan drama.
Ibu Ipah namanya, beliau bertanya kepada Andi siapa ayah dari anak yang dibopong Hasari. Dijawablah dengan penuh kesedihan Aren. Lalu beliau mengucap dengan lantang, terkutuklh kalian berdua. Sesungguhnya kalian ini adalah sedarah. Almarhum ibumu Ren, dia telah tiada semenjak kamu lahir disni, duapuluh delapan tahun silam, dan kamu sedari usia dua minggu sampai usia empat tahun disusui oleh ibunya Hasari, kalian seharusnya tak boleh menikah, atau akan terjadi malapetaka yang akan datang. Serentak keadaan didalam ruangan itupun menjadi panas dan tak karuan. Andi merasakan pemnyesalan yang begitu dalam bersama istrinya dan Cindi, Karena tak hadir langsung di pernikahan yang sacral itu. Nasi sudah menjadi bubur, beliau berpesan setelah ini beliau harap Aren dan Hasari segera bercerai. Akan tetapi mereka sudah saling cinta.

Semarang, 1 juni 2013

untukmu pengemis kecil tiada dosa

masih kutatap mata ini
mata ini didalam kaca yang basah penuh air mata
air mata turun dari langit hitam selimuti mimpi mimpi anak jalanan
anak jalanan masih sangup berkeliaran
berkeliaran menantang dingin yang menusuk tulang
mereka adalah tulang tulang penghidup bapak ibunya
bapak ibunya tega melepas diri tiada basa basi
soal basi makanan tiap hari ekonomi jangan ditanya lagi
lagi lagi mata masih mau menetes
menetes kan rindu ini salah siapa
siapa siapa saja yang tak punya malu demi uang yang masih dibelenggu
sungguh nista sungguh dusta sungguh tak berdaya

disudut sana digendong anak balita
menjerit seolah tiada yang mampu menenangkan
hanya berteman seorang pria kecil belum genap giginya
aduh kasian aduh kasian
tertelan hujan katanya sudah biasa
hanya tawa kecil yang penuh ketulusan
ketika limaratusan menelapak ditangan
apalagi jikadisambut dengan penuh keramahan
sunguh bahagia dia hari ini

lidah oh lidah lidah
banyak gunjing sana sini gunjing kayak anjing
mereka tak tau kerasnya hidup yang terus meredup
putih merah tak pernah dia kenal apalagi makan bangku sekolah
hanya tetes air mata yang sesegera diusap
dari pipi yang kini penuh asap
ketika melihat anak ibu bergandeng penuh syahdu
aduh kasihan aduh kasihan aduh duh malang
nasipmu memang seperti palang kereta
nasipmu memang harus terlindas roda bus kota
nasipmu memang harus jadi peminta minta
nasipmu memang tiada cita cita
nasipmu memang sudah menjadi bertia
sekedar berita
yang tiada tanggap dari aparat negara
aduh kasian duh duh kasian
hidup tanpa pekerjaan yang membanggakan.

inspired by Terboyo. terminal bus semarang

Gara-Gara “Akulah Kembang Desa dari Blora”

“buka pintunya kang sinah mau masuk kang,sinah mau bicara sama akang, akang jangan marah ya, ndak usah dengerin omonganya ibu, ibu memang gitu ceplas ceplos kang. Buka dong kang!”

“ sudah kalau ndak mau bukain ya udah suruh dia pergi saja memangnya ini rumah dia, ini rumah kamu nduk!”
“Ibu, jangan ngomong seperti itu kasihan mas Parman, biar bagaimanapun dia suami aku bu!”
Akupun terkaget melihat mas Parman membanting pintu kamar kami dan meninggalkan rumah beranjak langkah seribu menuju pintu luar, aku berusaha menahan langkahnya namun aku tak sekuat dan sekeras batu, suamiku pergi meninggalkanku dengan perasaan marah dan dendam, sudah sejak mas Parman di PHK dari kerjaanya di kota ibuku sering sinis dan memarahi mas Parman. Padahal sebelumnya ibuku begitu gambar gembor membanggakan suamiku didepan semua warga desa karena hanya dialah yang berpendidikan tinggi dan mampu bekerja dikota karena dia dari kota juga. Keadaan memprihatinkan memang terjadi didesaku, desa Dalangan kecamatan Todanan kabupaten Blora. tak hanya desaku, tiga desa berturut-turut didaerah puncak ini juga belum teraliri oleh listrik, yang ada hanya di desa menggunakan disel ketika ada pertandingan bulu tangkis atau sepak bola.
Puncaknya pada hari ini, ketika keluarga kami sudah hampir kehabisan uang untk biaya kehidupan sehari-hari dan persediaan kebutuhan pokok mulai menipis, tak jarang anakku dan mas Parman jadi sasaran keganasan ibuku yang sifat aslinya keluar.
Hari gelap, sepertinya langit akan meruntuhkan bangunannya dan menumpahkan semua material lunak jika terkena tubuh ini, aku sangat cemas mas Parman pergi kemana, untuk mencapai kekota hanya ada sepeda tua milik Almarhum Bapakku yang terkuci gembok dengan tiang rumah yang terbuat dari kayu pohon kelapa.  Ndak mungkin mas Parman pulang ke rumahnya karena untuk sampai kesana dibutuhkan waktu kurang lebih empat jam. Dan tak mungkin mas Parman kembali kerumahnya. Aku semakin cemas ketika petir-petir menunjukkan taringnya yang tajam dan runcing sehingga pohon-pohon terkoyak merebah ketika disambutnya.  Mas semoga mas cepat kemabali karena aku sangat mencemaskan keadaannya, sementara anakku yang baru berusia satu tahun lebih sedikit masih tertidur pulas, aku cemas di beranda rumah, ibu juga sepertinya tanpa dosa, padahal rumahku dulunya dari kayu reot sekarang sudah dibangun mas Parman bagus, berkreamik dan tembok, hanya dapurnya saja yang masih seperti rumah yang dulu.
Hal ini jauh berbeda ketika aku datang kerumah mas Parman di kota, dia anak orang kaya, dia akan orang serba kecukupan. Mau minta apa saja pasti dipenuhi, memilih wanita siapa saja pasti dilamarkan, kecuali aku, wanita yang dia cintai, itu kata mas Parman padaku ketika berusaha meyakinkanku. Aku menolak keras, karena dulu aku hanyalah seorang anak dari desa yang nyasar ke kota kebetulan dia temukan aku kebinggungan. Aku sempat ,merasa ketakutan ketika dia mendekati aku dan menyentuh pundakku dan menanyakan padaku sedang apa disini dan mencari siapa. Aku masih ingat masa-masa itu.

***
Saat saat dimana bahagia datang melanda kehidupanku, tak pernah kusangka aku mendapatkan seorang suami yang tampan lagi kaya. Kata tetangga-tetangga sih barokah namanya, ada yang bilang beruntung tanggal lahirnya/wetonya dan lain-lain. Saat itu aku baru saja datang ke kota turun disebuah terminal Terboyo Semarang dengan maksud mengambil buku ceritaku yang kemudian termuat dalam sebuah penerbitan ternama. Aku harus mengambil buku dan honorku di kantornya. Akan tetapi seumur-umur yang namanya kota semarang saja aku hanyabisa aku lihat dan dengar dari televisi dan radio. Keluargaku belum pernah sebelumnya ada  yang datang ke semarang.
Kami bertemu dijalan dekat toko buku Gramedia Semarang saat aku  menangis dipinggir jalan depan Gramedia. Mas Parman turun dari mobil BMW  berwarna merah tua dengan jas hitam dan celana hitam dan sepatu yang mengkilap tak ketinggalan dasi datik warna cokelat yang semakin menambah kegagahn suamiku itu.
“ sedang apa mbak disini, kok sendirian, dari tadi saya perhatikan mbak kebinggungan?” dia mendekati dan bertanya padaku. Akupun sempat takut dan mencoba lari, tapi aku terdiam dahulu sebelum dia bereaksi lebih. Aku takut jika aku diculik seperti yang ditelevisi-televisi itu.
“ ini ada sedikit uang untuk beli makan!” aku dikira pengemis, karena memang pakaianku saat itu seperti orang-orang lain yang berprofesi sebagai pengemis.
“kurang ajar kamu ya, kamu pikir saya serendah itu apa? Kamu mau membeli saya dengan duapuluh ribu?” aku nyolot dan meninggikan badanku kehadapannya.
“ bukan begitu mbak, maaf jika…”
“jika apa? Kamu piker saya pengemis? Peminta-minta, bukan pak! Saya memang dari desa, tapi saya tak serendah itu!”
Diapun meninggalkan saya yang sendirian ini kembali masuk mobil dan memarkirkan mobilnya di dalam, diapun masuk Gramedia. Aku masih merasa ketakutan, mau beranjak dari tempat rasanya sangat berat. Aku tak punya  saudara dan tak tahu arah disini. Mau makan juga aku mengandalkan uang honor tulisanku yang sampai saat ini belum kutemukan juga kantornya. Tak terasa akupun terlelap dalam teriknya matahari yang menunjukkan suhu 42 derajat celcius yang kulihat didekat kantor pos pengamanan polisi yang terpampang diatas lampu lalu lintas. Akupun mulai kelaparan ketika terjaga, namun tak ada uang sedikitpun yang ku kantongi. Mungkin jika aku menrima uang dari orang tadi aku bisa makan siang. Tak lemas lunglai seperti ini. Ketika aku kembali terbangun, matahari sudah condong dan suhu sudah tak sepanas tadi siang. Sepertinya hari mulai gelap. Aku harus segera menemukan kantor itu atau pulang saja, itu yang ada dalam pikiranku. Ku tengok parkiran mobil masih terlihat banyak mobil. Kuamati mobil-mobil itu ternyata masih ada mobil yang tadi. Kuharap diamau membantuku untuk kali ini saja. Kutunggu dia sampai keluar dari Gramedia. Agak lama. Akan tetapi penantianku terkabul juga. Aku segera mendekat kea rah pintu mobilnya sebelum dia membuka pintu mobilnya dan pergi.
“mohon maaf mas, menganggu sebentar!” sapaku pelan dengan wajah tertunduk.
“ kamu kan yang tadi pagi. Mau apa kamu?” sahutnya dengan nada keras.
“ saya mau minta bantuan boleh mas?” dengan nada merengek dan memelas.
“ minta bantuan apa? Kamu pengemis kan? Pengemis saja sombong!” dia semakin mengeraskan suaranya. Lalu kuinjak kakinya dan masuk kedalam mobilnya. Karena kurasa dia adalah seorang lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Yah hanya filing. Semoga saja benar.
“ hey, keluar kamu dari mobilku. Jangan-jangan kamu wanita gila? Pengemis? Keluar kamu!” aku tak mau keluar dan hanya terdiam serta menanggis. Seketika banyak yang memperhatikan dan diapun masuk mobil dengan diam serta mulai menjalankan mobilnya, aku sangat takut. Tapi entahlah. Apapun yang terjadi padaku. Ini lebih baik darpiada harus berdirian yang tak tahu sampai kapan aku didepan Gramedia.
“ kamu itu sebenarnya mau apa dari saya? Mbak? Tadi pagi kamu marah-marah pada saya dan saat ini kamu menumpang dimobil saya dan saya tak tahu harus berbuat apa pada kamu!” akupun hanya terdiam dan tak berkata apa-apa sambil terus menutup wajah dengan kedua tangan karena dari tadi dia memperhatikanku dari sepion.
“ kalau kamu ndak mau jawab tak turunin disini loh mbak?” aku melihat disekeliling sepertinya serem, jalanan tampak sepi dan hanya bongkahan batu batu jalanan kota yang mulai tergenang air serta gedung gedung besar yang catnya mulai kusam bahkan banyak tembok yang kulitnya hancur.
“dimana aku ini, kalau aku diturunin disini bisa mati aku!” (dalam batin)
“ mbak, tolong jawab pertanyaan saya, karena tidak mungkin anda saya bawa pulang! Saya masih banyak tugas dan urusan. Tolong mengerti saya, lagipula saya tidak kenal siapa mbak dan darimana mbak! Oke?”
“ mas tolong bantu saya ke alamat ini!” saya mulai angkat bicara dan menyodorkan alamat penerbitan itu kepadanya yang sedang menyetir pelan-pelan.
“ ada urusan apa mbak dengan alamat ini, itu kantor saya dan saya pemiliknya!”
“ alhamduilillahirobbil alamin… akupun kegirangan dalam mobil dan seperti diselamatkan oleh spiderman dalam sebuah gedung yang hampir roboh karena kebakaran. Hehehe
“ begini pak, nama saya Sinah pak, Sinah Ayu Kinan yang kemarin ikut lomba menulis cerita anak desa pak, kebetulan saya memang benar benar dari desa dan saya baru pertama kali ini ada disemarang!”
“ stop! Bicaranya dilanjut nanti saja!” tiba-tiba dia memotong apa yang mau ku omongkan dan mengencangkan gas mobilnya sehingga kecepatanya bertambah kencang. Tibalah kami disebuah rumah makan yang bertuliskan Roket Chiken. Dia memarkirkan mobil dan memintaku untuk turun. Kemungkinan terburuk dalam pikiranku adalah aku diturunkan disini atau aku sangat beruntung ditraktir makan. Diapun memintaku untuk turun dan mengacungkan tangannya untuk masuk kedalam Roket chiken. Kamipun duduk berdua saling berhadap-hadapan dan dia memintaku untuk melanjutkan ceritanya.
Setelah makan dia mengajakku untuk ke kantornya yang saat itu seharusnya sudah tutup pukul 16.00 WIB. Dia memberiku sepuluh buah buku yang seharusnya aku hanya dapat dua eksemplar serta memberiku uang tujuh ratus ribu rupiah. Aku sangat senang dan gembira. Ternyata hari ini adalah keberuntunganku. Aku diminta untuk tinggal dikantor sementara menemani kariawanya yang jaga malam sementara besok pagi baru pulang ke Blora. Keesokan harinya pun aku pulang ke desa melewati rute yang sama setelah aku bertanya-tanya kepada penjaga kantor itu yang bernama pak hendro  tentang rute mana yang harus saya tempuh.
***
Akupun sekarang menjadi sering telepon bahkan SMSan seharian penuh dengan pak Parman. Hingga dia menjemputku jauh-jauh dari semarang menuju blora. Dia juga memintaku untuk datang kerumahnya. Dia juga yang sudah menyatakan cinta kepadaku, dialah lelaki pertama yang bilang cinta dan langsung ingin menikahiku. Aku menolaknya karena aku sadar perbedaan status social dan jarak juga. Aku sangat bahagia akan tetapi aku juga sedih bahwasanya orang tua mas parman tak setuju dengan rencana pernikahan kami. Kalau orang tuaku setuju dan mendukung saja. Akhirnya mas parman nekat menikahiku dengan saksi adalah paman dari mas Parman. Dia menikahiku dengan mas kawin buku yang berjudul “ Akulah Kembang Desa dari Blora” dan uang tunai sebesar tujuh ratus ribu rupiah. Hal yang sama dilakukan ketika malam itu dia menyerahkan hadian padaku. Orang tua mas Parman sempat datang sekali kerumah dan meminta tanda tangan mas Parman untuk mencabut dirinya dari hak waris, hal itu membuat kami terpukul. Itu artinya mas parman harus memulai hidupnya dari O lagi, namun demi cintanya padaku dia menandatangain surat itu dan seraya bersujut pada ayah dan ibunya meminta maaf dan doa restu, namun sepakan kaki dari mereka membuat hatiku teriris, betapa kejadian ini sudah ku duga sebelumnya, akupun hanya terus tertunduk. Orang tuakupun tak dapat berbuat apa-apa.
“ silahkan kamu hidup bersama keluarga barumu, bila kamu sudah sadar kembalilah nak, bapak dan ibu masih ingin kamu pulang! Aku sudah rela kalian menikah, toh juga jika aku melarang semua sudah terlanjur. Selamat menempuh hidup baru anakku satu satunya. Harta kita seluruhnya akan bapak kamu sumbangkan ke panti asuhan rintisan mu dulu.”
Itulah kata-kata dari ibu mertuaku yang sangat sinis melihat aku dan keluargaku serta pernikahan kami.  Ibuku hanya memeluk kami saat mereka pergi dengan menggunakan mobil yang dulu menjadi awal benih cintaku dengan mas Parman.
“sudahlah nduk, le, suatu hari nanti hati mereka akan luluh, maafkan aku nak parman, hidupmu jadi berantakan hanya karena menikahi anakku. Giatlah kamu dalam bekerja. Dulu kamu bisa, sekarangpun bisa!”
Akupun membangun kembali keluargaku yang kecil namun bahagia ini, mas Parman bercerita, bahwa dia tidak bahagia walau kaya, karena bapak ibunya lebih mementingkan bisnis daripada dirinya sejak kecil sampai saat dia menikah denganku pun orang tuanya tak peduli, tak mau tahu bahkan tak menyetujui hubungan kami tanpa alasan yang jelas. Beberapa bulan setelah pernikahan mas Parman kembali ke semarang dengan uang satujuta. Uang itu adalah uang mas kawan kami dan uang yang dulu dia berikan padaku di awal yang telah kupakai. Dia mencari pekerjaan disemarang selain di Gramdeia. Karena seluruh asetnya sudah diminta orang tuanya kembali. Dia diterima bekerja disebuah perusahaan keramik dengan gaji perbulan dua setengah juta. Mungkin itu cukup untuk kehidupanku kelak.
Kabar gembira menyelimutiku dengan kehamilanku, mas parman sangat senang sekali dengan berita ini sampai sampai dia meminta cuti tiga hari dan pulang ke Blora untuk menemaniku.
“kang, kalau anak kita lahir maunya perempuan apa laki?” celotehku ketika sedang berdaan dikamar.
“perempaun ya dik, aku ingin beri nama yang bagus, tapi belum tahu aku, mungkin bisa antika maharani, tokoh mu dalam novelmu “Akulah Kembang Dsea dari Blora” hehehe
“ ah akang bisa saja, aku manut lah kang!” bayi kamipun ternyata terlahir dengan selamat dan berjenis kelamin perempuan. Nama itupun tersandar menjadi milik putri pertamaku yang cantik dan lucu. Kamipun menjaganya dan terus member gizi yang cukup hingga mas Parman malah terkena musibah yaitu bangkrutnya perusahaan keramik yang selama ini menjadi tempatnya mencari nafkah. Uang persediaan kamipun mulai menipis dan ibu sering marah marah. Mas parman juga sudah usaha kerja serabutan disesa dengan mencangkul sawah orang lain.
Kehidupanku tak semulus novel yang aku tulis, dimana seorang kembang desa dari blora hidup bahagia denga laki laki yang dicintainya. Anakkupun tak segemuk yang aku ceritakan di novel sekarang, badanya mulai kurus karena aku hanya makan seadanya dan susunya pun hanya mengandalkan ASIku. Suamikupun tak seberuntung yang aku tulis. Dia menderita karena mencintaiku.

Semarang 1 juli 2013 23.23
Mang Gugun

aku hambar-hambar aku

Sungguh berat senapan yang kubawa

Walau tak mempertahankan merdekanya tanah beta

Lebih juang dari curamnya jurang
Yang membawa insane menuju lubang lubang
Aku adalah hewan piaraan
Manusia tempatku mencari kemurkaan
Kadang ada yang berbaik sangka sesaat dan hilang

Wahai penguasa alam jagat raya
Yang telah menghilangkan segala berhala
Kau utus seorang yang tak pernah kurupa
Umtuk mengenggam dunia
Tapi kenapa aku terlewatkan?

Aku ingin berhenti sampai disini
Biar tak banyak lagi taubat palsu
Biar tak susah lagi menderitakan diri
Biar tak mati lagi sepersatu waktu
Diriku ini sungguh hina
Lewat surat dan tangis pun hanya terjawab Tanya
Doakupun sampai ketelingga yang tak berrupa
Tergambar merah menganggah
Terkabulah sebuah ulah
Sungguh aku mati gaya
Sungguh mohon beri hamba ini petuah petuah yang akan berbuah
Seperti sujud yang menempel pada tanah
Jikalau tidak bisa memanah
Lekaskan aku menyatu dengan tanah

Mang gugun
07 juli 2013.03.03

telantarlah bunga


Teruntuk bunga disana

Maafkan aku tak pernah menyiramu

Apalagi menjengukmu
Aku terlalu lupa pada dirimu
Aku terlalu lupa tujuanku memilihmu
Aku terlalu lupa tujuanku menanammu
Lagipula kau sudah tahu
Tanpa surat kabar dan telephonku
Tanpa pesan dan telepatiku

Kau sudah jelas bahwa aku hanya menyiksamu
Kuharap kau bertahan disitu
Menungguku berubah jadi pompong yang tak menyentuhmu lagi
Menjadi pompon yang tak makan daunmu lagi
Menjadi pompon yang tak menghisap madumu lagi
Yang menjadi pompon yang tak minta kesucianmu lagi

Bungaku yang kucintai
Aku kini sedang terjatuh dalam tanah yang gersang
Tepat diatas akarmu aku menggeliat
Mencari makan yang tak pernah ku dapat

Inginku naik keatas sana lagi
Tapi aku malu
Walau izin sudah kau stempel dilembaran biru
Dimana aku akan menjadi kupu bila aku tak tahu arah dan waktu
Aku pernah bermimpi akan menjadi pelengkapmu
Ketika khalifah khalifah itu mengabadikan elok pesonamu
Aku ingin menjadi sesosok yang berharga bagimu
Tapi sayang
Aku ada ditanah yang tertindih karang

Mang gugun
07 Juli 2013 13:30