November 2004
“Nang
kamu mbok ndak usah berangkat ngaji nang, wong diluar sedang hujan lebat gitu
kok, besok kan ya masih ada hari tho?”
“
ya ndak bisa tho mak, aku kan sudah hafalin halaman 44, hari ini aku ujian mak,
kalau bisa langsung naik jilid empat!”
“Iya
tapi diluar sana petir menyambar-nyambar nang, apa kamu ndak takut kesambar?
Kemarin kan tetangga kita ada yang mati kesambar petir ketika merumput disawah
nang?”
“insyaallah
ndak mak, kalau toh nanti aku kesambar, aku dalam perjalanan belajar, dan belajar
itu ibadah mak, minta doanya mak, semoga hari ini aku lancar, amin!”
“
amin nang, hati-hati ya ini ada uang lebih kamu buat jajan ya nang? Nanti beli
the hangat buat hangatin badan di warung!”
“Ndak
ah mak, buat adek saja, kan masih butuh susu mak!”
“sudah,
nanti dicarikan bapakmu uang lagi!”
Mak
ku memasukkan uang limaratus rupiah bergambar
orang utan kekantong saku batikku sambil mengelus-elus kepalaku. Akupun lekas berangkat menggunakan sepeda tua
yang dibelikan bapak tempo hari, sepeda mini ini selalu menemaniku kemanapun
aku berada, termasuk saat aku bersekolah di sekolah dasar maupun di taman
pendidikan Qiroati. Sepedakupun terus ku kayuh ditengah-tengah sinar yang lebih
menerangi darpiada matahari yang tertutup oleh awan hitam, beberapa detik kemudian
gemuruh dari langit pun datang
menyemangati perputaran roda sepedaku, mungkin ketakutan yang sedang ku rasakan
saat itu atau mulut yang tak berhenti menyebut namanya, yak arena ketakutan
lagi akan bahaya petir. Sesampainya di kelas aku sedikit basah kuyub karena
mantel pelindung hujanku pun ternyata telah berlubang, beberapa bulan yang lalu
bapak pernah berjanji akan membelikan yang baru jika aku berhasil naik jilid
lima, ya itulah salah satu semangatku menamatkan jilid empatku ini. Akupun
duduk dibangku yang paling belakang bersama teman-teman yang lain, yang sedang
menghafalkan juga untuk nantinya di uji Bu Rom didepan kebanyakan teman-temanku
adalah teman satu kelas dan kakak kelas di Sekolah dasar. Hari itu Bu rom
berhalangan hadir karena hujan yang sangat lebat, akhirnya tetap di ujikan oleh
pak kepala sekolah TPQ yaitu Pak Imron Rosyadi Badri, giliranku majupun tiba,
sungguh apa yang ada diotakku, semua yang sudah ku hafal hilang dan
huruf-hurufnya kabur, tajuwidnya ndak pas, dan ndak lancar, akhirnya aku harus
menggulang minggu depan untuk naik ke jilid lima sedangkan teman-temanku sudah berhasil lulus dengan
hasil L+, aku kecewa pada diriku sendiri. Mungkin benar kata mak, hari ini aku
ndak usah berangkat. Aku menangis dihadapan mak walau uiaku sudah kelas empat
sekolah dasar, aku meminta maaf didepannya Karena tidak menuruti kemauannya
hari itu, coba saja kalau aku tadi nurut mak, pasti ndak gini jadinya, uang
saku pun ku kembalikan pada mak karena aku gagal naik jilid.
Hari
beranjak hari, sebelum aku ujian jilid aku juga harus menghafalkan beberapa
surah pendek dan harus hafal, untuk itu aku minta diajarin mak, karena mak
pandai membaca Al-Quran. Akupun diajari beberapa surah pendek oleh mak, dua
hari menjelang ujian naik tingkat aku berangkat seperti biasa, kembali mak ku
melarangku untuk berangkat karena adik badanya sangat panas, aku diminta untuk
menemani adik dan menjaganya akan tetapi aku tidak mau, aku malahmarah-marak
pada mak, dan al hasil semuanya diluar dugaan, inginya hafal beberapa surah
yang di ujikan menguasai halaman empatpuluh empat dan menguasai jilid empat.
Namun aku dikerjani oleh kakak kelas diniyah ku, ada selembar karung ghoni yang
berisi bulu daun yang sangat gatal, yaitu tumbuhan rawe, rasanya sangat gatal
ketika terkena kulit, sekujur tubuhkupun mendadak membengkak dan rasanya sangat
panas, aku hanya bisa menangis dan akupun diantarkan pulang oleh dua orang
temanku mengaji, mak ku pun marah besar,
aku dilarang sekolah ngaji selama beberapa hari sebelum aku memohon-mohon
karena aku ingin ujian kenaikan jilid, disekolah pun aku diantar mak, mak
marah-marah dengan bapak kepala sekolah karena aku di buat menderita oleh
segelintir teman-temanku yang berniat iseng.
Akhirnya
akupun menyelesaikan jilid empatku hari itu juga, sungguh senang rasanya. Akan
tetapi teman-temanku sudah sampai jilid lima halaman sepuluhan, sementara aku
baru mengawali dengan bismillahirohmannirohim di halaman pertama, semoga
lancar, karena selepas pulang SD aku juga mempelajarinya. Dan Alhamdulillah hari
tiu aku dapat L, akan kususul teman-temanku yang lain. Jika aku berhasil
menyelesaikan jilid lima bapak kembali akan menhgadiahkanku sebuah sepeda baru.
Dan akupun seangat dalam menjalani hari hariku dalam mengaji.
Tak
terasa kelas lima sekolah dasar membuatku menjadi lelah dan gampang sakit, ini
pengalaman pertamaku asma yang sedari kecil kambuh seperti ini, kambuh dengan
parah, aku memang punya asma akan tetapi tak separah ini sebelumnya hingga
beberapa bulan sekitar enam bulan aku harus berhenti dahulu dari sekolah ngaji
dan fokus pada sekolah dasarku, tapi tinbul dalam benakku untuk melanjutkan
mengajiku, akan tetapi aku tak sempat menamatkan jilid limaku aku sudah kelas
enam sekolah dasar, akhirnya kupun keluar secara resmi dari madrasah tempatku
menuntut ilmu agama, tempatku belajar membaca kitab selama ini, tetapi bapak
tetap membelikaknku sepeda walau bukan yang baru. Akupun menyesal karena fisik
ini tak mampu kupaksakan untuk menuntut dua ilmu secara bersamaan, mungkin itu
hanya alam bawah sadarku yang mendoktrinku untuk merasakan ketidak kuatan ini,
akan tetapi itu menjalar kea lam nyata. Ya Allah, aku akan belajar membaca
ditempat lain, ridhoilah aku.amin
Februari
2006
Sudah
saatnya ujian tiba, siapa yang tak ingin berhasil dan mencapai nilai memuaskan,
pasti semua akan berusaha untuk mendapatkan hal tersebut, termasuk akuyang
merelakan sekolah mengajiku ku tinggalkan demi fokus pada ujian nasional. Aku
setiap malam bertahajud di rumah yang beralaskan tanah ini seraya terus memohon
untuk mendapatkan hidayah dan kekuatan yang selama ini aku yakini ada. Ya,
garis tanganku mungkin mampu ku genggam, namun ada beberapa garis yang tak
mungkin bisa tergenggam sepenuhnya. Itulah kekuatanku sedari dulu. Penyakitku
mungin terus-terusan kambuh hingga aku pernah empertanyakan keadilan, hingga
aku pernah tidak mempercayainya hingga aku merasa aku adalah manusia paling
tidak beruntung didunia. Namun semua salah, ketika apa yang ku harap itulah
yang terjawab, maha besar kekuatannya dan aku mendapatkan salah satu tetesan
embun paginya hari ini. Tepat dimana hari pengumuman kelulusanku waktu sekolah
dasar.
Hingga
beberapa bulan hampir enam bulan setelah itu aku sangat rajin beribadah, salat
wajib tepat waktu seperti nazarku salat tahajud dan doa-doa serta dzikir yang
terus mengalir dari dalam diriku. Menemani setiap detik nafas nafas dalam
hidupku, termasuk ketika aku kembali medapatkan sepeda baru dan masuk di salah
satu Sekolah menegah pertama terfaforit di daerahku, ketika berangkatpun ku
awali dengan basmallah dan sepanjang perjalanan mulut ini tak berhenti
berdzikir, saat pulang pun ku akhiri dengan hamdallah. Menjelang waktu duhur
pun aku pergi ke musola, akan tetapi beberapa bulan hampir setahun dari aku
bernadzar semua buyar, hampir aku tak pernah salat dalam seharian, seperti
orang yang liar, apalagi dengan kehidupan disekitarku yang mengiming-imingiku
dengan kehidupan yang indah, disinilah setan mulai merasuki tubuhku yang
sekarang adalah tulang dan daging serta darah yang tak berarti apa-apa yang
suatu saat bisa saja menjadi sampah yang lebih busuk dari sampah yang ada
dipasar juwana yang aku lewati setiap pagi dan tengah hari, kini mulut-mulut
dzikir tak lagi merapat dalam sanubariku, salat tak lagi menjadi penenangku,
tahajud tak lagi menjadi petunjukku, semua telah tergantikan dengan handphone
dan teman-teman yang mengajakku untuk bersenang-senang, hingga tak wajar tak
ada prestasi yang kuraih ketika aku duduk dibangku sekolah menenggah pertama,
bahkan sering sakit dan sering menempati ranging tengah-tengah bahkan bawah dan
aku juga tak sempat belajar kitab dan maknanya yang dulu di sekolah dasar sudah
kutarget aku mampu menghafalkan surah-surat pendek dan fasih dalam membaca
ayat-ayat suci Allah. Nazarku terbengkalai.
Mei
2009
Tobat
saat menjelang ujian nasional adalah salah satu hal yang sangat dinantikan saat
itu, entah taubatan nasuha atau kan kembali lagi pada keburukan-keburukan yang
telah dilakukan. Sekiranya lulus sekolah menengah pertama adalah sebuah hadiah
yang tak pantas bagiku karena aku telah berbulan-bulan bertahun-tahun
membengkalaikan nazarku. Maha besar
Allah yang masih memberiku sejuta kenikmatan ini. Aku sungguh mengalami
goncangan mental dan menjadi sangat diam, sering aku perang batin ketika ada
sesuatu yang sering berbisik kepadaku dan menakutiku. Aku butuh perlindungan,
aku butuh naungan aku butuh tempat yang mampu menenaangkan aku lagi.
“
hai nang, apa kabar? Kok ndak pernah melirik musola lagi? Atau masjid? Kok ndak
pernah pegang Quran lagi? Sekarang sudah semakin sombong ya? Sekarang sudah
banyak maksiat ya? Sekarang sudah punya pacar ya? Sekarang sudah banyak sms an
telepon-teleponan dan sekarang sudah punya motor ya? Setelah doa yang nang
minta baru saja kemarin? Kurang apa coba baiknya Allah sama kamu? Kurang apa? Sekarang
kamu sudah SMA nang, salat belum bisa, doa kunut saja ndak hafal, kemarin
hafal, saat ujian saja? Iya? Halo? Memangnya kamu hidup saat ujian saja? Berapa
kenikmatan yang kau dapatkan dan masih ingatkah nazarmu? Kamu akan celaka bila
kamu terus terus seperti ini, kamu akan musnah tak berbekas kalau seperti ini
terus nang, kamu bisa apa? Kemarin jatuh dari ajar naik motor, semua hancur,
walau motor sekend tapi kamu menambah beban orang tuamu, makmu bapakmu!”
Rasanya
tak mampu menjawab apa-apa atas semua pertanyaan ini, aku mulai mencoba
mendekatkan diri lagi pada Allah dan masih berharap lading ampunannya masih
boleh aku pijaki. Sekarang aku sudah beranjak dewasa, aku harus mulai
menentukan apa tujuan hidupku, berkali-kali ikut seminar ikut motivasi akan
tetapi semua nihil, ya Allah aku butuh ridhomu, bukankah engkau yang mampu,
yang hanya mampu membuat anak usia dua bulan sudah bicara ingin masuk islam, bukankah
engkau yang membuat anak usia tujuh tahun hafal ayatmu dan faham makna yang kau
sampaikan padaku, dan saudara-saudaraku? Aku mohon berilah aku ini kekuatan
seperti mereka, yang terus saja mencari ridhomu.
12
Juni 2012
Lamat
hari detik menit dan seiring komponen waktu berdetak aku semakin jauh dari yang
namanya Tuhan, aku semakin lupa siapa aku dan apa tujuanku diciptakan, namun
aku sangat binggung karena aku masih dipercaya untuk mengemban amanah menjadi
salah seorang ketuan dibeberapa ekstrakulikuler sekolah, ya aku juga berusaha
menjadi salah satu murid yang aktif di sekolah, walau kadang hasil yang kudapat
adalah rata-rata setara-rata teman sebiasanya dan sebisanya. Beberapa saat
menjelang akhir dari semua masa kepemimpinanku alias aku bertobat karena akan
melaksanakan ujian nasional di tingkat sekolah menengah atas menjadi agenda
rutinku sejak 2006 2009 dan 2012. Malam hari
sebelum ujian nasional beberapa bulan sebelum ujian nasional dan sebelum
sebelum dan sebelum aku meninggkatkan ibadahku dengan rajin salat wajib,
tahajud dan berdoa tak lupa dzikir, ternyata aku masih diberi kenikmatan dan
ketenangan yang dulu di sekolah dasar pernah aku dapatkan. Ini yang kucari
selama hampir enam tahun.
Aku
kembali melantunkan doa-doa pengharapan pada yang maha member harapan dan maha
mengabulkannya. Aku kembali memohon dengan isak tangis agar aku bisa lulus
ujian dan masuk diperguruan tinggi negeri pilihanku dengan keterangan sebagai
pelamar bidik misi. Tak lupa aku juga belajar sedikit-sedikit menggunakan al
Quran terjemahan untuk mendalami arti dari makna setiap ayat dalam kitab suci,
akan tetapi aku belum fasih dalam membacanya, mungkin sudah lupa atau
terlupakan atau sengaja terlupakan dan yah, kenyataanya aku sampai sekarang
belum bisa mengaji. Luar biasanya lagi, keajaiban itu datang lagi dalam
hidupku, aku lulus ujian dengan nilai yang rata-rata dan aku bisa diterima di
PTN yang aku inginkan ditambah aku lulus bidik misi. Aku belakangan ini tak
berani bernazar, karena nazarku waktu lulus SD belum bisa aku tepati menjelang
aku kuliah. Sungguh ironi dan keji terhadap diri sendiri.
Aku
hanya berdoa seraya pasrah mengharapkan sisa-sisa kasih sayang yang ada,
ternyata kasih sayang yang Allah berikan bukan lagi hanya sekedar sisa, tai
kasih sayang baru disetiap detiknya. Aku tak bisa berkata-kata.
10 Februari 2013
Aku
minta pada allah dan dikabulkan, lalu aku bernazar dan kadang kutepati dan
kadang tidak, apa arti dari semua ini? Aku sangat lemah seketika aku didekap
hangat sehangat pelukan dunia ini.
“Bertaubatlah
karena pintunya masih terbuka lebar padamu!”
“
keinginanku seperti itu, tapi kadang hawa nafsu mengalahkan segalanya, lalu aku
harus bagaimana?”
“
bukankah semua keturunan adam itu adalah tempatnya nafsu bersarang? Kecuali mereka
yang mau mendekatkan dirinya! Kamu sudah pernah merasakan rasa dekat sedekat
yang pernah kamu rasakan? Lalu kamu mau mensia-siakan kesempatan itu apakah
kamu tidak mau setiap hari didekap iman?”
“Aku
binggung, aku mau, akan tetapi?”
“Tetapi
apa lagi? Mau ku ungkit-ungkit masa lalumu?”
“Kamu
itu tiga tahun kemarin ngapain aja coba?”
“Aku
kecewa berat sama kamu, tiga tahun yang lalu kamu bilang kamu akan bisa, terus
sekarang kutagih janjimu kamu masih bilang “ dalam proses belajar?”
“Ndak
bisa ya? Hu…kasihan deh kamu?”
“
baca aja ndak lancar gimana mau tau maknanya? Gimana mau tahu artinya? Ngayal aja
kamu itu! Jagan ngayal deh”
“Dulu
siapa yang marah ketika kamu keluar dari kehidupan itu dan memilih kehidupan
yang sampai saat ini begitu banyak dimudahkan olehnya? Aku kan? Terus kamu
bilang kamu sibuk menyelesaikan inilah itulah…terus kamu enam tahun yang lalu
juga bilang “aku akan cari tempat yang lebih bisa mengajariku tentang hal itu.”
“Mana
buktinya sekarang? Ha? Kamu itu pembohong kelas kakap!”
“Untung
allah maha pengampun, tapi kamu kalau gini terus gebangetan banget deh rasanya!”
“Maaf”
“Apa
kamu bilang?”
“Maaf?
Sudah berapa ribu maaf kamu ucap kepadaku? Apalagi kepadaku? Sudah berapa ribu
maaf yang kau ucapkan pada orang lain? Dan berapa juta maaf yang kamu ucapkan
pada Allah? Mau tau? Ndak terhitung jumlahnya nang!”
“
apa maaf itu begitu murah ya bagimu? Maafmu sudah tiada artinya lagi buatku,
entah apa karena aku sudah sering mendengar atau nadanya sumbang, aku sudah
bosan dengan maafmu!”
“
kamu ndak ingat betapa gigihnya kamu berdoa?”
“
kamu nggak ingat betapa seriusnya kamu belajar mengaji, empat tahun ndak
membekas apa-apa dibenakmu? Naudzubillah….nang-nang!”
“ya
sudah lah sudah delapan belas tahun aku mendampingimu, kalau kamu begini aku ya
tinggal ikut saja! Sekarang semua terserah kamu!”
“Kamu
itu memang….se…!”
“Setiap
hari dihantui perasaan cemas dan kemalasan adalah rasa yang tak bisa aku lawan,
aku ingin selalu dalam perbaikan, akan tetapi tipu daya setan lebih dahsyat
mengerogoti imanku. Ya rabb… ampuni aku!”
revisi : semarang 11 maret 2013
Mang gugun