Nama KUMANG
Bukan dari Mang Gugun
Nama Kumang, detak detik dan dentuman alarm jam tua
dipojokan ruang tamu mengugahku untuk sejenak merenungi apa yang terjadi selama
ini, aku baru saja terjaga dari sebuah mimpi yang elok. Namun aku juga harus
tahu diri, siapa aku! seperti manusia yang biasa ku jumpai dijalan, kurasa aku
sama seperti mereka, sama merasakan cinta, hangat kasih, sejuknya sayang dan
damainya hati. Sama mendedikasikan hidup ini untuk hal-hal yang disukai, aku
juga demikian. Gemerlap mulai redup, bolam kuning yang seolah menjerit-jerit
semalaman telah memutuskan untuk memberikan kegelapanya. Namun aku adalah aku,
bukan mengikuti kegelapan, bukan berjalan seiring dengan kedustaan, bukan
terpanah dengan kesombongan, karena aku tahu nasipku akan sama seperti bolam
yang baru saja meninggalkanku.
Beruntai tali kecil ku gapai rembulan dari balik
jendela, yang kata orang jauh hadirnya, bukan aku yang menghayal, tapi kalian
lah yang tak mau berusaha. Jangan
halangi aku. Karena kau tak akan ku hiraukan.akan kugapai kembali bulan itu, tak
kan kubiarkan aku jauh darinya.
“ hai kau, kembli…!”
“ Aku bukan gila!”
“ Aku bukan orang gila!”
“ Bedakan aku dengan mereka!”
“Kau pendusta. Dengarkan aku, kalian semua pendusta!”
“lihat sekitarmu! Diam kau, aku tak marah!
“aku tak menghujat, aku tak akan protes jika kau
berbuat sesukamu,karena aku tak punya kuasa atas kamu!”
“pergi...!”
“ terlambat!”
Nama Kumang, Rasa yang terus menghantuiku sejak
kejadian itu, semenjak semuanya diambil tak tersisa, dikuras habis, dimusnahkan
begitu saja, ditarik paksa dari hidupku. Ini tak adil bagiku, sungguh tak adil,
aku merasa bukan aku, ahh…aku belum gila. Keberuntungan tak lagi berpihak
padaku, kini aku tak bisa menerima semua ini. Tukang paksa tak akan mampu
mengeluarkanku dari rumah ini, biar bapak dan bundaku yang pergi. Tidak dengan
aku. Walaupun aku mati disini akan kulakukan. Itu pasti.
“ bapak terlalu ceroboh, bunda terlalu menghamburkan
uang yang selama ini bapak cari, lalu sekarang apa yang akan kita lakukan?”
“ apakah aku akan meninggalkan semua ini dan pergi
kedalam dunia yang tak ku kenal sebelumnya?”
“Pada siapa aku harus mengadu, ketika semua ini tidak
lagi jadi milikku, pada siapa aku harus meminta kembali, dunia sudah kiamat!”
Pagipun menjadi penantianku, karena kau akan melakukan
pemberontakan melawan penjajah yang akan datang satujam lagi, ya…mereka adalah
penjajah rumahku. Yang akan mengambil secara paksa rumahku dan seisinya,
mainanku, mobil-mobilanku, bahkan mobil bapakku pun akan diambil secara paksa.
Aku siapkan balok bata diatas daunpintu, aku siapkan minyak goreng dilantai
depan pintu, dan aku siapkan…semua telah aku siapkan. Tiba-tiba saja terdegar
suara orang jatuh, “bruk”. Kena kau,
aku berlari keluar kamar, menuruni tanga-tanga putih dan melihat siapa yang
sudah berhasil ku taklukkan, pasti para penjajah itu, sukurin, kena kau!
“ aduh, kenapa yang kena jadi bibik. Mati aku!!!”
“aden yang melakukan semua ini ya?” suara lirih mulai
pelan dan tak kedengaran, ternyata pingsan. “ aden!!!” suara itu mengagetkanku
dari lamunanku. Aku mulai berpikir, apa yang akan kulakukan selanjutnya.
“ kaburrr!!!” akupun lari kekamar bapak, dan memberi
tahu bahwa bibik telah tertimpa batu bata dikepalanya, tergelincir dari lantai
dan pingsan didepan pintu. Serentak bapak dan bundaku langsung bangun dari
tempat tidurnya dan bergegas menuju pintu depan rumah. Aku masih sendiri
dikamar, tampak pucat wajah bapak dan bundaku, matanya memerah dan katup
matanya menghitam. Aku takut kena marah lagi, jadi aku putuskan untuk diam
dikamar. Masalah satu belum selesai masalah yang lain bertambah lagi, kulihat
dari jendela kamar bapak dan bundaku mengantarkan bibik ke rumah sakit
terdekat, kurasa itu kali terahir mereka akan naik mobilnya sendiri. Ah…
Waktupu berlalu begitu cepat akupun kena marah
sepulang mereka dari rumah sakit, bibik yang sudah begitu setia pada keluarga
ini malah kena perangkapku, akupun meminta maaf pada bibik dengan sedikit
tangisan, palsu. Hehehe. Bibikpun orang yang keluar pertama dari rumah ini
dengan pesangon, mungkin aku, bapak dan bundaku akan keluar dari sini tanpa
pesangon satu sampai dua jam lagi.
“ pak, aku nggak mau pergi dari rumah kita!”
“bund, tolong lah bund, jangan hanya diam saja bund!”
Tiba-tiba aku terkejut dengan bentakan bapak yang
sangat keras! “ apa kamu bilang? Masih mau dimarahin lahi ! ha? Kamu bandel
ya,,sini bapak seret ke belakang, tak jeburin kolam kamu ya…! Pagi-pagi sudah
merepotkan orang tua, apa kamu nggak tau bapak lagi kesusahan! Ha?”sambil
memegang kaosku dan menyeret aku.
“ ampun pak, ampun, pak ampun, bunda…tolong aku bund,
tolong…!
Aku berontak dan berterak-teriak ketika diseret
bapakku menuju kolam renang, Aku menjerit-jerit minta tolong pun tak dihiraukan
oleh bunda, akupun tengelam dalam dinginya air pagi, entah siapa yang
menolongku, tau-tau aku sudah ada diatas kasur, dengan dengan bunda dan bapak
yang menemaniku disamping kanan dan kiri. Akupun meminta maaf dan menuruti
semua perkataan bunda dan bapakku, akhirna kami pun pindah dengan naik bus
kota, entah kemana aku juga belum tahu
ini mau kenama. Aku belum berani bertanya-tanya lagi, kulihat bapak masih
sedikit marah denganku.selamat tinggal rumahku selamat tinggal
kenangan-kenanganku bersamamu disana,a ku akan kembali suatu saat nanti, tunggu
aku datang. Selamat tinggal teman-temanku bermain, aldo, rifki, eko, hani,
siti, kang tole, mbak denok, dan yang lain.
“ kita akan ke Pati mang.” kata bundaku singkat, dan
mengawali pembicarranku ketika duduk berdesak-desakan dengan penumpang yang
lain.
“ Pati bund? Pati itu mana bund, jauh nggak bund?
Terus rumahnya segede rumah kita nggak bund? Ada mobil nggak bund?”
“diam!” bentakan bapakku kembali membuatku bisu.
Setelah kurang lebih perjalanan dari Jogjakarta menuju
ke Pati selama lima jam kamipun sampai dirumah nenek, tepatnya di Desa Bangsal
Rejo Wedarijaksa Pati, disana adalah rumah bapakku, yang semasa aku masih
berumur beberapa bulan, kata bunda aku pernah disini, entahlah apa yag ada
didalam pikiranku, semua fasilitas taka da yang layak, mau berontak juga tak
bisa, mau apa juga aku hanya anak kecil yang bisanya Cuma menangis, akupun
lebih memilih menangis dan diam, agar semuanya tak bertambah parah dan
merugikanku sendiri.
***
Nama Kumang, “berbicarralah
sebelum kau dilarang bicara, dengarlah sebelum kau tuli, rasakanlah sebelum kau
mati rasa, lihat lah sebelum kau buta, bentak terus aku, pegang aku jika kau
mampu!” Bentakan seorang gadis yang sangat cantik, pribumi Pati yang pertama
kali aku kenal, awalnya aku karab dengan dia, tetapi aku terus memanfaatkan
dia, karena kau masih belum terima dengan keadaanku yang sekarang, aku lebih
sering tinggal dirumahnya daripada tinggal dirumahku sendiri yang sekarang.
Banyak sekali hal-hal yang membuatku berubah dari dia,
aku setiap hari harus mulai tebiasa menyesuaikan diri dengan lingkungan disekitar
ku, aku harus menyapa tetangga yang lewat, aku harus selalu tersenyum ketika
aku bertemu dengan orang, aku harus ini aku harus itu aku harus begini dan aku
harus begitu dan seterusnya. Membosankan hidup didesa!
Apalah dayaku, kesombongankupun membuat dia pergi,
pergi meninggalkan aku dengan segenap kemarahan, aku harus berbuat apa
sekarang? Ah bodoh, aku akan mencari
seseorang lagi dalam hidupku untuk mengajariku hidu disini. Betapa tidak
nyamanya aku, ketika pergi kesekolah harus dengan sepeda, jikalau aku bosan,
capek dan kepanasan aku harus naik bus, semenjak aku dimarahi olehnya aku
sering murung, dan aku tak lagi dapat tebengan gratis naik mobil kesekolah.
Sungguh dia tidak memaafkanku. Ketidak tenangan hatiku membuatku terus gelisah
dan mencari-cari sesuatu yang membuat aku tenang, tapi apa yang ku temukan tak
semuanya memberiku ketenangan, hanya sesaat dan terus pergi, aku utuh sesuatu
yang pasti, aku butuh sesuatu yang membuat aku nyaman, nama Kumang.
***
Waktu itu aku sedang capek selepas olahraga, aku dduk
diteras musola SMP Negeri 1 Juwana Pati, aku melihat ada gadis cantik yang
berjilbab putih, mungkin aku bisa berkenalan denganya, lebih dekat dan
mengajariku agama, karena sudah 15 tahun aku hidup yang kutahu dari agamaku
hanyalah beberapa. Untuk ibadah akupun tak bisa, berinteraksi dengan tuhan pun
aku belum bisa, berdoa pun, ah kenapa semua tak bisa. Sementara yang lain sudah
fasih menghafal Al Qur’an, aku mulai ingin memperdalam agamaku dengan berteman
denganya. Dirumah aku tak pernah mendapat apa-apa, mungkin karena mereka sudah
jengkel denganku. Sempat aku disekolahan mengaji, tetapi aku sering bolos.
Kali ini aku benar-benar suka denganya, yah...dia bisa
mengajariku mengaji, salat dan yang lain, suaranya membuat hatiku bergetar
ketika melantunkan ayat-ayat suci, belum pernah kurasakan sebelumnya
ketenangan-ketenangan batin yang membuat aku merasa lebih hidup dari ini, Nama
Kumang. Aku tak bermaksud apa-apa, aku tak meminta lebih, tetapi sebagai
seorang remaja aku juga punya raa jatuh hati, aku juga sudah sadar diri dan
merasa tak pantas bila berdekat-dekatan denganya. Aku orang yang baru belajar
agama dan masih sangat sedikit sekali yang ku ketahui tentang agamaku,
semenrtara dia, berasal dari keluarga ulama terpandang, kaya dan lain-lain,
ahh…Nama Kumang.
“nay,”
begitulah kusebut namanya.
“Apa mang? jangan meminta lebih dariku, abahku
melarang aku pacaran mang. Aku nanti bisa-bisa dimarahi, maafkan aku ya mang.”
Dengan halus dia membujukku supaya berteman saja, dan aku mengiyakan hal tersebut.
“tidak nay, aku yang minta maaf, Terimakasih ya nay,
kamu sudah mengajarkan ku banyak hal, aku sering menganggumu, aku merasa tenang
ketika aku sudah bisa hafal gerakan salat, sudah hafal bacaanya, sudah tahu dan
sedikit membaca Al Qur’an. Aku adalah orang yang beruntung bertemu denganmu,
maafkan aku memanfaatkanmu untuk mengajari aku tentang agama. dengar-dengar kamu
mau melanjutkan sekolah di Kairo mengikuti kakakmu ya nay?”
“ aku merasa senang jika antum mau belajar lagi mang, aku tidak merasa antum manfaatkan, aku juga sering bercerita ke abahku tentang antum, semua buku-buku yang aku berikan
pada antum itu juga dibelikan abahku,
belajarlah walau tidak ada aku, belajarlah walau antum lelah, memang sulit mang, tapi antum harus bisa hafal Qur’an ketika aku kembali ke Indonesia
nantinya! Bila jodoh, aku akan mendampingimu kok mang. Jangan lupa selalu
ucapkan salam ketiak bertemu orang, biasakan itu ya mang?”
“apa? Mustahil nay, kamu nggak usah bercanda. tap..”
“Sudah, jangan ada tapi-tapian, aku yakin kamu bisa!
Mari masuk kelas, assalamualaikum
mang.”
“ tap tap….i! wa
waalaikum salam nay, apa yang bisa
kulakukan?aku belum bisa membacanya!”
Selepas lulus SMP, Naya melanjutkan sekolah kejenjang
yang lebih tinggi di Kairo, Mesir, katanya
sekalian nanti mau kuliah di Universitas yang sama dengan kakaknya, kakaknya
yang kuliah Universitas Al Azhar-Husein Kairo, kami pun berpisah dan kadang masih berkomunikasi
dengannya, informasi terahir yang kudengar dia sudah dilamar oleh orang asli
Husein, daerah tempat ia dan kakaknya tinggal. Mungkin aku memang tak pantas
dapatkan dia. Nama Kumang.
***
Nama Kumang. yang lalu biarlah berlalu, seolah tak
membekas apa-apa, apa yang kulalui hanyalah kenangan-kenangan indah yang hilang
ditelan waktu, setidaknya aku sadar diri sekarang, hidup penuh kesederhanaan
itu memang lebih nyaman, tetapi kadang juga harus prihatin, bapak dan bundaku
terus saja bekerja keras mencari nafkah untuk aku, sekarang mereka sudah mulai
perhatian lagi denganku, tak ada kemarahan yang berlebihan sampai aku dipukuli
dan lain-lain, tak ada kemanjaanku lagi, semasa SMA aku juga sering melakukan
pemberontakan-pemberontakan diri, aku sibukkan hari-hariku dengan organisasi
agar aku lupa dengan apa yang sedang kuhadapi, bukan bermaksud menjadikan pelampiasan
diri, awalnya memang demikian, tetapi lambat waktu aku mulai suka
bersosialisasi, tidak lagi menjadi mang yang pendiam, sombong, angkuh, cuek dan
lain-lain, aku mulai nyaman dan sabar dalam menjalani kehidupan walau kadang
kala aku masih sangat emosional ketika ada seseorang yang menganggu kelancaran
aktivitasku, aku mulai belajar menghargai diri sendiri, orang tua, orang lain, tak lagi melecehkan dan
merendahkan orang, mendekatkan diri pada tuhan yang memberiku segala sesuatu
yang baru dalam hidupku, bersyukur dan menyesali semua perbuatanku yang telah
kulalui. Semoga tak akan ku ulangi kembali.
Nama Kumang, sekarang usiaku adalah 18 tahun, kado
terbesarku adalah berada di Pati, banyak sekali kenangan-kenangan yang kulalui
dibumi Pati Minat Tani, bertemu dengan beberapa orang yang mampu
mengembalikanku ketitah, membuatku berjalan dijalan yang lurus, menjadikanku
manusia yang terus belajar, tempat ku bersandar ketika aku lelah, tempatku
berkreasi ketika aku terjaga, tempatku menjerit ketika aku tak terima, tempatku
dan tempatku. Berat rasanya harus pergi dari Pati walau sesekali aku bisa
pulang, tangan tuhan telah mengantarkan Mang menuju Semarang untuk menempuh
pendidikan lanjut.
Nama Kumang, kini aku menggebu-gebu untuk melakukanya.
Beruntai tali kecil ku gapai rembulan dari balik jendela, yang kata orang jauh
hadirnya, bukan aku yang menghayal, tapi kalian lah yang tak mau berusaha. Jangan halangi aku. Karena kau tak akan ku
hiraukan.akan kugapai kembali bulan itu, tak kan kubiarkan aku jauh darinya.
Dan bulan itu kini bukan bulan kegelapan yang ku kejar, tapi bulan yang
tersinari surya.
Dibuat
pada 12 Nopember 2012
Direfisi
pada 15 Nopember 2012