Kamis, 22 November 2012

Nama KUMANG


Nama KUMANG
Bukan dari Mang Gugun
Nama Kumang, detak detik dan dentuman alarm jam tua dipojokan ruang tamu mengugahku untuk sejenak merenungi apa yang terjadi selama ini, aku baru saja terjaga dari sebuah mimpi yang elok. Namun aku juga harus tahu diri, siapa aku! seperti manusia yang biasa ku jumpai dijalan, kurasa aku sama seperti mereka, sama merasakan cinta, hangat kasih, sejuknya sayang dan damainya hati. Sama mendedikasikan hidup ini untuk hal-hal yang disukai, aku juga demikian. Gemerlap mulai redup,  bolam kuning yang seolah menjerit-jerit semalaman telah memutuskan untuk memberikan kegelapanya. Namun aku adalah aku, bukan mengikuti kegelapan, bukan berjalan seiring dengan kedustaan, bukan terpanah dengan kesombongan, karena aku tahu nasipku akan sama seperti bolam yang baru saja meninggalkanku.
Beruntai tali kecil ku gapai rembulan dari balik jendela, yang kata orang jauh hadirnya, bukan aku yang menghayal, tapi kalian lah yang tak mau berusaha.  Jangan halangi aku. Karena kau tak akan ku hiraukan.akan kugapai kembali bulan itu, tak kan kubiarkan aku jauh darinya.
“ hai kau, kembli…!”
“ Aku bukan gila!”
“ Aku bukan orang gila!”
“ Bedakan aku dengan mereka!”
“Kau pendusta. Dengarkan aku, kalian semua pendusta!”
“lihat sekitarmu! Diam kau, aku tak marah!
“aku tak menghujat, aku tak akan protes jika kau berbuat sesukamu,karena aku tak punya kuasa atas kamu!”
“pergi...!”
“ terlambat!”
Nama Kumang, Rasa yang terus menghantuiku sejak kejadian itu, semenjak semuanya diambil tak tersisa, dikuras habis, dimusnahkan begitu saja, ditarik paksa dari hidupku. Ini tak adil bagiku, sungguh tak adil, aku merasa bukan aku, ahh…aku belum gila. Keberuntungan tak lagi berpihak padaku, kini aku tak bisa menerima semua ini. Tukang paksa tak akan mampu mengeluarkanku dari rumah ini, biar bapak dan bundaku yang pergi. Tidak dengan aku. Walaupun aku mati disini akan kulakukan. Itu pasti.
“ bapak terlalu ceroboh, bunda terlalu menghamburkan uang yang selama ini bapak cari, lalu sekarang apa yang akan kita lakukan?”
“ apakah aku akan meninggalkan semua ini dan pergi kedalam dunia yang tak ku kenal sebelumnya?”
“Pada siapa aku harus mengadu, ketika semua ini tidak lagi jadi milikku, pada siapa aku harus meminta kembali, dunia sudah kiamat!”
Pagipun menjadi penantianku, karena kau akan melakukan pemberontakan melawan penjajah yang akan datang satujam lagi, ya…mereka adalah penjajah rumahku. Yang akan mengambil secara paksa rumahku dan seisinya, mainanku, mobil-mobilanku, bahkan mobil bapakku pun akan diambil secara paksa. Aku siapkan balok bata diatas daunpintu, aku siapkan minyak goreng dilantai depan pintu, dan aku siapkan…semua telah aku siapkan. Tiba-tiba saja terdegar suara orang jatuh, “bruk”. Kena kau, aku berlari keluar kamar, menuruni tanga-tanga putih dan melihat siapa yang sudah berhasil ku taklukkan, pasti para penjajah itu, sukurin, kena kau!
“ aduh, kenapa yang kena jadi bibik. Mati aku!!!”
“aden yang melakukan semua ini ya?” suara lirih mulai pelan dan tak kedengaran, ternyata pingsan. “ aden!!!” suara itu mengagetkanku dari lamunanku. Aku mulai berpikir, apa yang akan kulakukan selanjutnya.
“ kaburrr!!!” akupun lari kekamar bapak, dan memberi tahu bahwa bibik telah tertimpa batu bata dikepalanya, tergelincir dari lantai dan pingsan didepan pintu. Serentak bapak dan bundaku langsung bangun dari tempat tidurnya dan bergegas menuju pintu depan rumah. Aku masih sendiri dikamar, tampak pucat wajah bapak dan bundaku, matanya memerah dan katup matanya menghitam. Aku takut kena marah lagi, jadi aku putuskan untuk diam dikamar. Masalah satu belum selesai masalah yang lain bertambah lagi, kulihat dari jendela kamar bapak dan bundaku mengantarkan bibik ke rumah sakit terdekat, kurasa itu kali terahir mereka akan naik mobilnya sendiri. Ah…
Waktupu berlalu begitu cepat akupun kena marah sepulang mereka dari rumah sakit, bibik yang sudah begitu setia pada keluarga ini malah kena perangkapku, akupun meminta maaf pada bibik dengan sedikit tangisan, palsu. Hehehe. Bibikpun orang yang keluar pertama dari rumah ini dengan pesangon, mungkin aku, bapak dan bundaku akan keluar dari sini tanpa pesangon satu sampai dua jam lagi.
“ pak, aku nggak mau pergi dari rumah kita!”
“bund, tolong lah bund, jangan hanya diam saja bund!”
Tiba-tiba aku terkejut dengan bentakan bapak yang sangat keras! “ apa kamu bilang? Masih mau dimarahin lahi ! ha? Kamu bandel ya,,sini bapak seret ke belakang, tak jeburin kolam kamu ya…! Pagi-pagi sudah merepotkan orang tua, apa kamu nggak tau bapak lagi kesusahan! Ha?”sambil memegang kaosku dan menyeret aku.
“ ampun pak, ampun, pak ampun, bunda…tolong aku bund, tolong…!
Aku berontak dan berterak-teriak ketika diseret bapakku menuju kolam renang, Aku menjerit-jerit minta tolong pun tak dihiraukan oleh bunda, akupun tengelam dalam dinginya air pagi, entah siapa yang menolongku, tau-tau aku sudah ada diatas kasur, dengan dengan bunda dan bapak yang menemaniku disamping kanan dan kiri. Akupun meminta maaf dan menuruti semua perkataan bunda dan bapakku, akhirna kami pun pindah dengan naik bus kota, entah kemana  aku juga belum tahu ini mau kenama. Aku belum berani bertanya-tanya lagi, kulihat bapak masih sedikit marah denganku.selamat tinggal rumahku selamat tinggal kenangan-kenanganku bersamamu disana,a ku akan kembali suatu saat nanti, tunggu aku datang. Selamat tinggal teman-temanku bermain, aldo, rifki, eko, hani, siti, kang tole, mbak denok, dan yang lain.
“ kita akan ke Pati mang.” kata bundaku singkat, dan mengawali pembicarranku ketika duduk berdesak-desakan dengan penumpang yang lain.
“ Pati bund? Pati itu mana bund, jauh nggak bund? Terus rumahnya segede rumah kita nggak bund? Ada mobil nggak bund?”
“diam!” bentakan bapakku kembali membuatku bisu.
Setelah kurang lebih perjalanan dari Jogjakarta menuju ke Pati selama lima jam kamipun sampai dirumah nenek, tepatnya di Desa Bangsal Rejo Wedarijaksa Pati, disana adalah rumah bapakku, yang semasa aku masih berumur beberapa bulan, kata bunda aku pernah disini, entahlah apa yag ada didalam pikiranku, semua fasilitas taka da yang layak, mau berontak juga tak bisa, mau apa juga aku hanya anak kecil yang bisanya Cuma menangis, akupun lebih memilih menangis dan diam, agar semuanya tak bertambah parah dan merugikanku sendiri.
***
Nama Kumang, berbicarralah sebelum kau dilarang bicara, dengarlah sebelum kau tuli, rasakanlah sebelum kau mati rasa, lihat lah sebelum kau buta, bentak terus aku, pegang aku jika kau mampu!” Bentakan seorang gadis yang sangat cantik, pribumi Pati yang pertama kali aku kenal, awalnya aku karab dengan dia, tetapi aku terus memanfaatkan dia, karena kau masih belum terima dengan keadaanku yang sekarang, aku lebih sering tinggal dirumahnya daripada tinggal dirumahku sendiri yang sekarang.
Banyak sekali hal-hal yang membuatku berubah dari dia, aku setiap hari harus mulai tebiasa menyesuaikan diri dengan lingkungan disekitar ku, aku harus menyapa tetangga yang lewat, aku harus selalu tersenyum ketika aku bertemu dengan orang, aku harus ini aku harus itu aku harus begini dan aku harus begitu dan seterusnya. Membosankan hidup didesa!
Apalah dayaku, kesombongankupun membuat dia pergi, pergi meninggalkan aku dengan segenap kemarahan, aku harus berbuat apa sekarang?  Ah bodoh, aku akan mencari seseorang lagi dalam hidupku untuk mengajariku hidu disini. Betapa tidak nyamanya aku, ketika pergi kesekolah harus dengan sepeda, jikalau aku bosan, capek dan kepanasan aku harus naik bus, semenjak aku dimarahi olehnya aku sering murung, dan aku tak lagi dapat tebengan gratis naik mobil kesekolah. Sungguh dia tidak memaafkanku. Ketidak tenangan hatiku membuatku terus gelisah dan mencari-cari sesuatu yang membuat aku tenang, tapi apa yang ku temukan tak semuanya memberiku ketenangan, hanya sesaat dan terus pergi, aku utuh sesuatu yang pasti, aku butuh sesuatu yang membuat aku nyaman, nama Kumang.
***
Waktu itu aku sedang capek selepas olahraga, aku dduk diteras musola SMP Negeri 1 Juwana Pati, aku melihat ada gadis cantik yang berjilbab putih, mungkin aku bisa berkenalan denganya, lebih dekat dan mengajariku agama, karena sudah 15 tahun aku hidup yang kutahu dari agamaku hanyalah beberapa. Untuk ibadah akupun tak bisa, berinteraksi dengan tuhan pun aku belum bisa, berdoa pun, ah kenapa semua tak bisa. Sementara yang lain sudah fasih menghafal Al Qur’an, aku mulai ingin memperdalam agamaku dengan berteman denganya. Dirumah aku tak pernah mendapat apa-apa, mungkin karena mereka sudah jengkel denganku. Sempat aku disekolahan mengaji, tetapi aku sering bolos.
Kali ini aku benar-benar suka denganya, yah...dia bisa mengajariku mengaji, salat dan yang lain, suaranya membuat hatiku bergetar ketika melantunkan ayat-ayat suci, belum pernah kurasakan sebelumnya ketenangan-ketenangan batin yang membuat aku merasa lebih hidup dari ini, Nama Kumang. Aku tak bermaksud apa-apa, aku tak meminta lebih, tetapi sebagai seorang remaja aku juga punya raa jatuh hati, aku juga sudah sadar diri dan merasa tak pantas bila berdekat-dekatan denganya. Aku orang yang baru belajar agama dan masih sangat sedikit sekali yang ku ketahui tentang agamaku, semenrtara dia, berasal dari keluarga ulama terpandang, kaya dan lain-lain, ahh…Nama Kumang.
“nay,”  begitulah kusebut namanya.
“Apa mang? jangan meminta lebih dariku, abahku melarang aku pacaran mang. Aku nanti bisa-bisa dimarahi, maafkan aku ya mang.” Dengan halus dia membujukku supaya berteman saja, dan aku mengiyakan hal tersebut.
“tidak nay, aku yang minta maaf, Terimakasih ya nay, kamu sudah mengajarkan ku banyak hal, aku sering menganggumu, aku merasa tenang ketika aku sudah bisa hafal gerakan salat, sudah hafal bacaanya, sudah tahu dan sedikit membaca Al Qur’an. Aku adalah orang yang beruntung bertemu denganmu, maafkan aku memanfaatkanmu untuk mengajari aku tentang agama. dengar-dengar kamu mau melanjutkan sekolah di Kairo mengikuti kakakmu ya nay?” 
“ aku merasa senang jika antum mau belajar lagi mang, aku tidak merasa antum manfaatkan, aku juga sering bercerita ke abahku tentang antum, semua buku-buku yang aku berikan pada antum itu juga dibelikan abahku, belajarlah walau tidak ada aku, belajarlah walau antum lelah, memang sulit mang, tapi antum harus bisa hafal Qur’an ketika aku kembali ke Indonesia nantinya! Bila jodoh, aku akan mendampingimu kok mang. Jangan lupa selalu ucapkan salam ketiak bertemu orang, biasakan itu ya mang?”
“apa? Mustahil nay, kamu nggak usah bercanda. tap..”
“Sudah, jangan ada tapi-tapian, aku yakin kamu bisa! Mari masuk kelas, assalamualaikum mang.”
“ tap tap….i! wa waalaikum salam nay,  apa yang bisa kulakukan?aku belum bisa membacanya!”
Selepas lulus SMP, Naya melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi  di Kairo, Mesir, katanya sekalian nanti mau kuliah di Universitas yang sama dengan kakaknya, kakaknya yang kuliah Universitas Al Azhar-Husein Kairo, kami pun berpisah dan kadang masih berkomunikasi dengannya, informasi terahir yang kudengar dia sudah dilamar oleh orang asli Husein, daerah tempat ia dan kakaknya tinggal. Mungkin aku memang tak pantas dapatkan dia. Nama Kumang.
***
Nama Kumang. yang lalu biarlah berlalu, seolah tak membekas apa-apa, apa yang kulalui hanyalah kenangan-kenangan indah yang hilang ditelan waktu, setidaknya aku sadar diri sekarang, hidup penuh kesederhanaan itu memang lebih nyaman, tetapi kadang juga harus prihatin, bapak dan bundaku terus saja bekerja keras mencari nafkah untuk aku, sekarang mereka sudah mulai perhatian lagi denganku, tak ada kemarahan yang berlebihan sampai aku dipukuli dan lain-lain, tak ada kemanjaanku lagi, semasa SMA aku juga sering melakukan pemberontakan-pemberontakan diri, aku sibukkan hari-hariku dengan organisasi agar aku lupa dengan apa yang sedang kuhadapi, bukan bermaksud menjadikan pelampiasan diri, awalnya memang demikian, tetapi lambat waktu aku mulai suka bersosialisasi, tidak lagi menjadi mang yang pendiam, sombong, angkuh, cuek dan lain-lain, aku mulai nyaman dan sabar dalam menjalani kehidupan walau kadang kala aku masih sangat emosional ketika ada seseorang yang menganggu kelancaran aktivitasku, aku mulai belajar menghargai diri sendiri, orang tua,  orang lain, tak lagi melecehkan dan merendahkan orang, mendekatkan diri pada tuhan yang memberiku segala sesuatu yang baru dalam hidupku, bersyukur dan menyesali semua perbuatanku yang telah kulalui. Semoga tak akan ku ulangi kembali.
Nama Kumang, sekarang usiaku adalah 18 tahun, kado terbesarku adalah berada di Pati, banyak sekali kenangan-kenangan yang kulalui dibumi Pati Minat Tani, bertemu dengan beberapa orang yang mampu mengembalikanku ketitah, membuatku berjalan dijalan yang lurus, menjadikanku manusia yang terus belajar, tempat ku bersandar ketika aku lelah, tempatku berkreasi ketika aku terjaga, tempatku menjerit ketika aku tak terima, tempatku dan tempatku. Berat rasanya harus pergi dari Pati walau sesekali aku bisa pulang, tangan tuhan telah mengantarkan Mang menuju Semarang untuk menempuh pendidikan lanjut.
Nama Kumang, kini aku menggebu-gebu untuk melakukanya. Beruntai tali kecil ku gapai rembulan dari balik jendela, yang kata orang jauh hadirnya, bukan aku yang menghayal, tapi kalian lah yang tak mau berusaha.  Jangan halangi aku. Karena kau tak akan ku hiraukan.akan kugapai kembali bulan itu, tak kan kubiarkan aku jauh darinya. Dan bulan itu kini bukan bulan kegelapan yang ku kejar, tapi bulan yang tersinari surya.
                                                           Dibuat pada 12 Nopember 2012
                                                           Direfisi pada 15 Nopember 2012
Kamis,        01 Muharram 1434 H