Senin, 17 September 2012

risalah malam

bukan
mencoba memenangkan jiwa
meraba tubuh yang telah terkuasai iblis
nafsu dan setan saling berkuasa silih berganti
menikmati tubuh yang lelah
telah terisi damainya jiwa
hilang seketika

raga yang masih bertanya
tuan dan tuhan itu ada
kenapa hanya dia yang dijaga
terjagadari semua lara

siapa yang tak ingin jua
teriris ketika pagi mengingat dan siang pun sirna
juga terhadap ucapan
lisan
qalbu...
tuhan..aku boleh kan menjerit?
sekuat
tenaga raga
sukma
jiwa

sejenak ingin kan lepas nyawa
dan bertemu denganNYA
ter lihat betapa indah dan binasanya disana
kan terkabarkan pada mereka sekali lagi
1001 jiwa akan terbawa air yang mengalir
ke arah hilir mulia...

ketika malam membasahi jari dan hati teringat lagi

mencba terus menggores
tak peduli senja telah lama sirna
mencoba untuk tetap menetes
meski tak ada setitik embun dimalam ini
mencoba melakukan apa saja
meski harus berontak terhadap sunyi
seperti sang penjunjung yang pernah resah hati
ketika ketiadilan menyelinap dalam perjuangan

luka....
buka...
hampa....
tersisa...

lihat sekitar dan tertawa ringan
kuadalah peenerus perjuangannya
kuadalah penumpas mata
apa yang aku akui?
lupa?

masih terus menggambarkan malam
penuh mimpi ketika pati mendatang i nyawa
dan berahir seperti rumput kering tampa penyejuk da gurun pasor
aku menunggu tanganmu merengkuh jemariku
meski aku tak se .....kebanyakan orang
tapi ku akan terus bermimpi...
dalam sadar

ng ng ng ng ng

ang
ing
ung
bang
bing
bung

dang
ding
dung
eng
ing
ung

ang ing ung bang bing bung
dang ding dung eng ing ung

pang
ping
pung
pong

osang
isang
usang
jarang
lang

tang
teng
tung
tingzang
zeng
zung

tonge tunga tengo tange tinge tanga
ga gi gu ge go...